Ketika Manusia Berkompetisi dengan Ciptaan Sendiri: Tantangan Dunia Pendidikan di Era AI
Selamat dan tahniah kepada Ustadz Nur Khasbi, S.H.I., M.M. atas amanah baru mengomandani sekolah kader Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah 1 Purwojati. Amanah ini hadir bukan di zaman biasa, tetapi di sebuah fase sejarah yang menentukan arah masa depan manusia dan pendidikan.
Hari ini dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah dialami peradaban manusia sebelumnya. Perubahan tidak lagi linear, tetapi meloncat secara eksponensial. Teknologi berkembang bukan sekadar menjadi alat bantu, melainkan mulai mengambil alih peran-peran inti manusia. Kita hidup di era ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu membaca, menulis, menghitung, mendiagnosis, memprediksi, bahkan “berpikir” dalam hitungan detik—melampaui kemampuan rata-rata manusia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia tidak hanya berkompetisi dengan sesamanya, tetapi berkompetisi dengan ciptaannya sendiri.
AI mampu mengerjakan tugas-tugas kognitif dengan kecepatan, akurasi, dan konsistensi yang sulit ditandingi manusia. Profesi-profesi yang selama ini dianggap prestisius dan aman—akuntan, analis, jurnalis, desainer, programmer, bahkan dokter—perlahan mulai tergeser. Banyak pekerjaan akan hilang, lebih banyak lagi akan berubah secara radikal.
Di titik ini, pertanyaan mendasar bagi dunia pendidikan menjadi sangat serius:
Untuk apa kita mendidik anak-anak hari ini?
Jika tujuan pendidikan hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, unggul dalam hafalan, cepat mengerjakan soal, atau terampil secara teknis, maka pendidikan sedang menyiapkan generasi untuk berhadapan langsung dengan mesin yang hampir pasti lebih unggul. AI tidak lelah, tidak emosional, tidak bosan, tidak lalai, dan terus belajar tanpa batas usia.
Maka, menciptakan manusia yang “lebih pintar” dari AI adalah ilusi.
Menciptakan manusia yang “lebih cepat” dari mesin adalah kemustahilan.
Di sinilah paradigma pendidikan harus berubah secara fundamental.
Apa yang Tidak Dimiliki AI?
AI diciptakan dari data, algoritma, dan logika.
Ia cerdas, tetapi tidak sadar.
Ia tahu, tetapi tidak memahami makna.
Ia mampu meniru emosi, tetapi tidak pernah merasakannya.
AI tidak memiliki ruh.
Ia tidak memiliki nurani.
Ia tidak mengenal nilai, dosa, pahala, tanggung jawab moral, dan hubungan dengan Tuhan.
Manusia, sebaliknya, diciptakan dengan ruh Ilahi. Di sanalah letak keunggulan sejatinya. Kecerdasan manusia yang paling bernilai di era AI bukan lagi sekadar IQ, melainkan kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan maknawi.
Kemampuan merasakan empati.
Kemampuan membangun relasi.
Kemampuan memahami makna hidup.
Kemampuan memilih yang benar meski tidak menguntungkan.
Kemampuan menjalani peran hidup sesuai fitrah yang Allah tetapkan.
Semua itu tidak bisa digantikan oleh mesin.
Tantangan Baru Pendidikan: Menemukan Fitrah Manusia
Karena itu, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan menciptakan manusia serba bisa, melainkan mengantarkan setiap anak menemukan siapa dirinya di hadapan Allah dan perannya di tengah dunia.
Di era AI, anak-anak yang tidak mengenal fitrahnya akan sangat rentan:
Terombang-ambing oleh tuntutan zaman
Tertekan oleh standar kesuksesan semu
Terjebak pada kompetisi yang tidak sesuai dengan dirinya
Kehilangan makna, arah, dan tujuan hidup
Sebaliknya, anak yang menemukan fitrahnya akan tetap relevan di zaman apa pun. Ia tidak sibuk mengalahkan mesin, tetapi mengisi ruang-ruang kemanusiaan yang tidak bisa disentuh mesin.
Di sinilah pendidikan Muhammadiyah menemukan relevansinya yang paling hakiki.
Pelantikan Kepala Sekolah sebagai Momentum Tajdid Pendidikan
Pelantikan Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati periode 2025–2029 oleh Ketua PDM Banyumas di Aula BMT Surya Mandiri Purwojati, Rabu (31/12/2025), bukan sekadar pergantian kepemimpinan administratif. Ia adalah peneguhan tajdid pendidikan—ikhtiar memperbarui cara, tanpa meninggalkan nilai.
Kepala sekolah yang baru, Nur Khasbi, memaknai kepemimpinan sebagai ruang kaderisasi dan pengabdian. Penguatan akidah dan akhlak ditegaskan sebagai fondasi utama, disertai sinergi lintas jenjang MI–SD–SMP Muhammadiyah dan kolaborasi dengan seluruh elemen Persyarikatan. Tantangan era digital dan AI, menurutnya, tidak cukup dijawab dengan fasilitas teknologi, tetapi dengan karakter yang kokoh dan kepemimpinan kolektif.
Pesan purnatugas Tri Murniati, S.Pd. mengingatkan bahwa sekolah akan hidup jika berani menghadirkan pembeda. Inovasi pembelajaran, akselerasi digitalisasi, dan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus berjalan seiring, agar sekolah tetap unggul, relevan, dan bermakna.
Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PDM Banyumas, H. Asep Saeful Anwar, menegaskan bahwa tajdid bukan memutus tradisi, melainkan memperbarui metode agar nilai tetap hidup di tengah perubahan zaman yang ekstrem.
Sekolah Muhammadiyah di Era AI
Dalam sambutannya, Ketua PDM Banyumas menegaskan bahwa kepala sekolah Muhammadiyah adalah penjaga nilai dan penggerak perubahan. “Sekolah Muhammadiyah harus tumbuh seperti pohon jati—berakar kuat, berdiri kokoh, dan memberi manfaat.” Akar itu adalah ideologi, akhlak, dan spiritualitas. Tanpa akar, sekolah akan tumbang oleh badai zaman.
Nuansa pelantikan—tilawah Al-Qur’an, Tari Saman, Lagu Indonesia Raya, dan Mars Sang Surya—menegaskan identitas pendidikan Muhammadiyah: religius tanpa kehilangan nasionalisme, modern tanpa tercerabut dari akhlak, progresif tanpa kehilangan adab.
Penutup
Ketika manusia berkompetisi dengan ciptaannya sendiri, pendidikan tidak boleh kehilangan arah.
Di tengah gempuran AI, algoritma, dan mesin, pendidikan harus kembali kepada fitrah manusia.
Bukan sekadar mencetak pekerja,
tetapi menumbuhkan manusia seutuhnya.
Dari ruang kelas hingga ruang kehidupan, Muhammadiyah terus menyalakan pelita—
mendidik generasi yang beriman, berakal, berakhlak, dan berkemajuan,
siap menyapa masa depan tanpa kehilangan jati diri.
Oleh: SiS, Antarkita