Antarkita

Info Wisata

Info Wisata, Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Duta Wisata Antarkita

Duta Wisata Antarkita Penggerak Wisata dan Ekonomi UMKM Banyumas Pariwisata Banyumas bukan hanya soal keindahan alam, kekayaan budaya, atau agenda festival. Ia adalah tentang perjalanan manusia, tentang bagaimana seseorang disambut, dilayani, dan dikenalkan pada kehidupan lokal sebuah daerah. Dalam pariwisata modern, pengalaman wisata tidak dimulai di lokasi tujuan, melainkan sejak interaksi pertama terjadi—di jalanan, di kendaraan, di obrolan sederhana sepanjang perjalanan. Di ruang inilah Duta Wisata Antarkita mengambil peran strategis. Duta Wisata Antarkita adalah para driver online yang selama ini berada di jantung mobilitas Banyumas. Mereka hadir setiap hari di ruang publik: menjemput wisatawan dari stasiun, mengantar ke penginapan, menemani perjalanan menuju destinasi, kuliner, dan sentra UMKM. Mereka adalah wajah pertama Banyumas yang ditemui wisatawan—sering kali juga wajah terakhir yang diingat. Dari Mobilitas ke Identitas Selama ini, driver online diposisikan hanya sebagai bagian dari sistem transportasi. Program Duta Wisata Antarkita mengubah paradigma tersebut. Driver tidak lagi dipandang semata sebagai pengantar, tetapi sebagai subjek pembangunan pariwisata dan ekonomi daerah. Dengan pendekatan ini, mobilitas berubah menjadi identitas. Setiap perjalanan menjadi ruang pengenalan Banyumas—tentang alamnya, manusianya, budayanya, dan denyut ekonomi rakyatnya. Driver menjadi duta lokal yang hidup, autentik, dan dipercaya. Penguatan Kapasitas: Fondasi Utama Duta Wisata Antarkita dibangun melalui penguatan kapasitas manusia. Para driver dibekali secara bertahap dan berkelanjutan dengan: Literasi Wisata Banyumas Pengetahuan menyeluruh tentang destinasi alam, budaya, religi, edukasi, desa wisata, dan event daerah. Hospitality dan Etika Pelayanan Sikap ramah, profesional, inklusif, dan berorientasi pada kenyamanan wisatawan. Storytelling Lokal Kemampuan menyampaikan cerita Banyumas secara sederhana, jujur, dan berkesan—tentang kuliner, tradisi, sejarah, dan kearifan lokal. Literasi UMKM dan Ekonomi Lokal Pemahaman tentang peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah, serta bagaimana wisata dapat menggerakkannya. Literasi Digital Dasar Pemanfaatan ulasan digital, peta destinasi, dan media sosial sebagai pendukung promosi wisata yang etis. Dengan bekal ini, driver tidak hanya bekerja lebih profesional, tetapi juga lebih bermakna. Ada peningkatan keterampilan, kepercayaan diri, dan kebanggaan terhadap profesi. Wisata sebagai Mesin Penggerak UMKM Salah satu tujuan utama Duta Wisata Antarkita adalah menjadikan pariwisata sebagai stimulus nyata bagi ekonomi UMKM Banyumas. Selama ini, UMKM sering berada di pinggir arus wisata—produk bagus, tetapi minim akses pasar. Melalui peran driver sebagai duta, wisatawan diarahkan secara alami ke: kuliner khas Banyumas, warung rakyat dan kopi lokal, sentra kerajinan dan oleh-oleh, desa wisata dan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Setiap rekomendasi adalah perputaran ekonomi. Setiap kunjungan adalah keberlanjutan usaha rakyat. Wisata tidak lagi terkonsentrasi pada destinasi besar, tetapi menyebar hingga ke akar masyarakat. Peningkatan Penghasilan dan Kesejahteraan Driver Duta Wisata Antarkita dirancang berdampak langsung pada kesejahteraan driver. Layanan yang bernilai tambah menciptakan: kepercayaan wisatawan, loyalitas pelanggan, peluang perjalanan lanjutan, serta potensi kerja sama etis dengan pelaku UMKM dan pengelola wisata. Driver tidak lagi bergantung sepenuhnya pada volume order, tetapi pada kualitas layanan dan jejaring ekonomi yang dibangun bersama. Ini menciptakan pendapatan yang lebih stabil dan bermartabat. Membangun Ekosistem Wisata Inklusif Keunggulan Duta Wisata Antarkita terletak pada pendekatan ekosistem. Program ini menjahit kepentingan berbagai pihak dalam satu visi bersama: driver online sebagai penggerak lapangan, UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, pengelola destinasi sebagai penguat daya tarik, komunitas budaya sebagai penjaga identitas, pemerintah daerah sebagai fasilitator kebijakan. Kolaborasi ini melahirkan pariwisata yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Tidak elitis, tidak eksploitatif, dan tidak terputus dari masyarakatnya. Branding Banyumas yang Autentik Citra Banyumas dibangun dari pengalaman nyata, bukan sekadar slogan. Wisatawan akan mengingat Banyumas karena: keramahan orang-orangnya, cerita yang mereka dengar di perjalanan, rasa kuliner lokal, dan interaksi hangat dengan UMKM. Duta Wisata Antarkita menjadikan branding Banyumas hidup, manusiawi, dan autentik—promosi paling kuat yang tumbuh dari interaksi sehari-hari. Wisata Berbasis Manusia dan Nilai Pada akhirnya, Duta Wisata Antarkita adalah tentang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Wisata tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi kualitas dampak. Tidak hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi pemerataan manfaat. Dari jalanan Banyumas, dari kursi pengemudi, dari percakapan sederhana—lahir gerakan wisata yang menguatkan ekonomi rakyat, meningkatkan martabat kerja, dan membangun kebanggaan daerah. Karena wisata yang berkelanjutan bukan hanya tentang destinasi yang indah, tetapi tentang manusia yang menghidupkannya dengan nilai, hati, dan keberpihakan pada rakyatnya sendiri. SiS, Antarkita

Info Wisata, Kabarkita, Kuliner, Ruang Kita

Wedang Banteng, Minuman Herbal Penjaga Daya Tahan Tubuh dari Banyumas

Wedang Banteng, Minuman Herbal Penjaga Daya Tahan Tubuh dari Banyumas Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, manusia modern sering kali lupa bahwa kesehatan sejatinya bersumber dari alam. Ketika pola hidup instan mulai menggerus keseimbangan tubuh, kesadaran untuk kembali pada rempah-rempah Nusantara pun tumbuh kembali. Minuman botanikal—sebagaimana didefinisikan oleh BPOM RI sebagai minuman yang dihasilkan dari pencampuran air minum dengan bagian tanaman atau sari herba—kini menjelma bukan hanya sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai solusi kesehatan masa kini. Dari lereng-lereng perdesaan Banyumas, tepatnya di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, lahirlah sebuah produk herbal yang menggabungkan tradisi, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi lokal: Wedang Banteng. Produk ini dirintis oleh Dasilah Rachmawati, seorang pelaku UMKM perempuan yang dengan ketekunan dan visi panjang mampu mengangkat kekayaan rempah Banyumas ke tingkat yang lebih bermartabat. Dari Dapur Rumah ke Ikhtiar Kesehatan Masyarakat Wedang Banteng mulai diproduksi sejak tahun 2017. Awalnya, usaha ini berangkat dari kebutuhan sederhana: menyediakan minuman herbal yang aman, berkhasiat, dan dapat dikonsumsi setiap hari oleh keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, Bu Dasilah melihat peluang yang lebih besar. Rempah-rempah lokal yang melimpah, jika diolah dengan baik, bukan hanya menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka lapangan usaha dan memperkuat ekonomi desa. Nama “Wedang Banteng” dipilih sebagai simbol kekuatan, ketahanan, dan semangat pantang menyerah. Sebuah filosofi yang sejalan dengan harapan produknya: menjaga daya tahan tubuh dan memberi energi bagi siapa pun yang mengonsumsinya. Ragam Produk: Tradisi yang Dikemas Modern Wedang Banteng menghadirkan dua jenis minuman herbal utama, yakni Wedang Uwuh dan Teh Celup Herbal, yang keduanya diracik dari sembilan jenis rempah pilihan. Jumlah ini menjadikan Wedang Banteng lebih kaya rasa dan khasiat dibandingkan produk herbal sejenis. 1. Wedang Uwuh Wedang Banteng Wedang Uwuh diproduksi dalam berbagai kemasan, menyesuaikan kebutuhan konsumen: Cup Pouch Plastik Goody bag Setiap kemasan Wedang Uwuh sudah dilengkapi gula batu, sehingga praktis dan siap seduh. Perpaduan rempah-rempah menghasilkan rasa hangat, segar, dan menenangkan, cocok dikonsumsi di berbagai suasana. 2. Teh Celup Herbal Wedang Banteng Teh herbal ini dikemas dalam bentuk tea bag berisi lima gram rempah halus. Setiap tea bag kemudian dikemas dalam aluminium foil untuk menjaga kesegaran, dimasukkan ke box karton, dan disampul plastik pres agar lebih rapi dan higienis. Dari Petani Lokal hingga Produk Bernilai Tinggi Salah satu keunggulan utama Wedang Banteng terletak pada rantai pasoknya yang berkeadilan. Seluruh bahan rempah diperoleh langsung dari petani-petani lokal di sekitar Desa Sumbang. Pola ini tidak hanya menjamin kualitas bahan baku, tetapi juga menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguatkan. “Dengan mengambil rempah langsung dari petani, kami bisa memesan bahan yang sudah cukup umur. Rempah yang cukup umur akan menghasilkan rasa lebih kuat dan segar jika diolah secara higienis,” ungkap Bu Dasilah. Setelah rempah datang, proses produksi dilakukan secara berlapis dan penuh kehati-hatian. Rempah ditimbang, dicuci bersih, dirajang, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga kering sempurna. Untuk memastikan higienitas, rempah-rempah kemudian dioven sebelum disimpan dalam toples-toples sesuai jenisnya. Racikan Tradisional, Nilai Modern Peracikan Wedang Banteng mempertahankan cara-cara tradisional yang diwariskan turun-temurun. Khusus untuk teh celup herbal, sembilan jenis rempah dicampur dan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu. Proses manual ini diyakini mampu menjaga karakter rasa dan aroma alami rempah. Rempah halus kemudian ditimbang secara presisi, masing-masing lima gram, dimasukkan ke kantong teh celup, direkatkan dengan sealer, lalu dikemas berlapis hingga siap dipasarkan. Seluruh tahapan dilakukan secara higienis, menggabungkan kearifan lokal dengan standar produksi modern. Pemasaran: Dari Banyumas ke Dunia Meski berakar kuat di Banyumas, Wedang Banteng tidak membatasi langkahnya hanya di pasar lokal. Produk ini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, hingga ke luar Jawa. Bahkan, menurut pengakuan Bu Dasilah, Wedang Banteng mulai dilirik oleh calon suplier dari negara-negara Eropa yang tertarik pada produk herbal alami berbasis rempah Nusantara. Untuk memperluas jangkauan, Wedang Banteng juga dipasarkan secara daring melalui platform e-commerce seperti Shopee dan Blibli, sehingga mudah diakses oleh konsumen dari berbagai wilayah. Saat ini, kapasitas produksi Wedang Banteng mencapai sekitar 3.000 pcs untuk masing-masing produk Wedang Uwuh dan Teh Celup Herbal. Dengan dukungan peralatan produksi yang lebih modern, kapasitas ini diharapkan dapat terus ditingkatkan. Harga, Daya Simpan, dan Legalitas Wedang Uwuh: Rp 60.000 per pack (isi 10 bungkus) Teh Celup Herbal: Rp 42.500 per dus (isi 10 tea bags) Diproses secara tradisional namun higienis, Wedang Banteng memiliki masa simpan hingga satu tahun atau lebih, tanpa mengurangi cita rasa dan khasiatnya. Sebagai produk yang bertanggung jawab, Wedang Banteng telah mengantongi dokumen legalitas lengkap, mulai dari NIB, PIRT, Sertifikat Halal, hingga BPOM, sehingga aman dan terpercaya bagi konsumen. Menyemai Kesehatan, Menumbuhkan Harapan Bagi Bu Dasilah, Wedang Banteng bukan sekadar usaha. Ia adalah medium dakwah kesehatan, pemberdayaan ekonomi desa, dan pelestarian warisan rempah Nusantara. Dengan rasa yang segar, manis alami, dan berkhasiat, Wedang Banteng diharapkan mampu menarik minat generasi muda agar kembali mencintai minuman herbal sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Dari tangan-tangan petani Banyumas, rempah diolah dengan cinta dan ketekunan. Dari dapur sederhana, lahir minuman herbal yang menghangatkan tubuh dan menguatkan daya tahan. Wedang Banteng membuktikan bahwa usaha lokal, jika dikelola dengan visi, mampu berdiri sejajar di pasar nasional bahkan global. Alamat Produksi Wedang Banteng: Jl. Kyai Panumbang,Desa Sumbang,Kecamatan Sumbang,Banyumas, Jawa Tengah

Info Wisata

Destinasi Unggulan Pokdarwis Kemutug Lor Baturraden, Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor

Destinasi Unggulan Pokdarwis Kemutug Lor Baturraden,Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang tak pernah habis untuk dikagumi. Di kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Baturraden, Kabupaten Banyumas, keindahan itu hadir dalam wujud yang sederhana namun memikat: Curug Pinang dan Embung Wisata Kemutug Lor. Dua destinasi ini menjadi kebanggaan sekaligus unggulan Pokdarwis Kemutug Lor, menghadirkan pengalaman wisata alam yang menyegarkan raga, menenangkan jiwa, dan sarat nilai edukasi. Curug Pinang Baturraden: Air Terjun Ramah Keluarga di Tepi Jalan Tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan hijau, Curug Pinang Baturraden hadir sebagai oase alami yang menenangkan. Air terjun dengan ketinggian sekitar 6–7 meter ini mengalir tenang, jernih, dan dikelilingi vegetasi hijau yang asri. Gemericik air yang jatuh seolah menjadi musik alam yang menyambut setiap pengunjung yang datang. Berbeda dengan kebanyakan curug yang mengharuskan pengunjung berjalan jauh dan melewati jalur terjal, Curug Pinang justru memiliki keunggulan lokasi yang mudah dijangkau. Terletak di Dusun II, Karangsalam, Baturraden, curug ini berada tepat di tepi jalan, menjadikannya destinasi yang ramah untuk semua kalangan, termasuk keluarga dengan anak-anak. Curug Pinang memiliki dua area kolam alami. Bagian yang dangkal aman untuk anak-anak bermain air, sementara bagian yang lebih dalam berada di dekat pancuran air terjun dan biasa dimanfaatkan oleh pengunjung dewasa untuk berenang atau sekadar berendam. Airnya yang sejuk dan tenang menjadikan aktivitas bermain air di sini terasa menyenangkan sekaligus menyegarkan. Tak hanya menawarkan keindahan alam, Curug Pinang juga menghadirkan berbagai aktivitas seru. Pengunjung bisa berenang, berendam, bermain air, hingga bersantai di area tepi curug yang teduh. Bagi pecinta fotografi, spot-spot alami di sekitar air terjun menjadi latar sempurna untuk mengabadikan momen. Setelah puas bermain air, pengunjung dapat menikmati aneka kuliner lokal yang tersedia di sekitar lokasi. Mulai dari mie hangat, tempe mendoan khas Banyumas, hingga berbagai minuman segar, semuanya siap memanjakan lidah. Tersedia pula bangku dan meja beratap payung di tepi curug, menciptakan suasana yang adem dan cocok untuk healing. Harga tiket masuk Curug Pinang terbilang sangat terjangkau. Wisata ini buka setiap hari pukul 06.00–17.00 WIB dengan tiket masuk sekitar Rp10.000, parkir motor Rp2.000, serta fasilitas tambahan seperti sewa ban, tikar, celana, dan perlengkapan bermain air dengan harga ramah di kantong. Bagi pengunjung yang memiliki kemampuan berenang, area bawah air terjun juga kerap dimanfaatkan untuk belajar menyelam. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena dasar kolam berbatu dan licin. Keselamatan tetap menjadi prioritas agar keindahan alam bisa dinikmati dengan aman. Embung Wisata Kemutug Lor “Jelita”: Teduh, Tenang, dan Edukatif   Tak jauh dari Curug Pinang, Embung Wisata Kemutug Lor “Jelita” hadir sebagai destinasi alternatif yang menawarkan ketenangan dan refleksi. Terletak di lereng Gunung Slamet, embung ini menyuguhkan panorama alam hijau dengan udara pegunungan yang sejuk dan bersih. Diresmikan pada 6 Maret 2024, embung ini masih terbilang baru namun langsung menarik perhatian wisatawan. Dengan luas sekitar 27.736 meter persegi, kawasan embung menjadi ruang terbuka yang ideal untuk berjalan santai, piknik, atau sekadar duduk menikmati semilir angin sambil memandangi hamparan alam. Lebih dari sekadar tempat rekreasi, Embung Kemutug Lor memiliki fungsi vital bagi warga sekitar. Embung ini menjadi cadangan air, menjaga pasokan air tanah, serta mendukung irigasi lahan pertanian seluas kurang lebih 3 hektar. Di sinilah nilai edukasi wisata hadir—pengunjung diajak memahami pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan masa depan desa. Tiket masuk embung pun sangat terjangkau, yakni Rp5.000 untuk umum, Rp2.000 bagi warga lokal, dan parkir motor Rp2.000. Dengan biaya yang ringan, pengunjung bisa menikmati suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Embung Wisata Kemutug Lor menjadi bukti bahwa pariwisata tidak harus selalu mewah. Keindahan alam, keteduhan, dan pesan pelestarian lingkungan justru menjadi daya tarik utamanya. Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin berwisata sambil belajar, menenangkan diri, dan kembali menghargai alam. Dua Destinasi, Satu Cerita: Alam, Edukasi, dan Kebersamaan Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor adalah dua wajah wisata alam yang saling melengkapi. Yang satu menghadirkan kesegaran dan keceriaan, yang lain menawarkan ketenangan dan refleksi. Keduanya menjadi bukti nyata peran Pokdarwis Kemutug Lor dalam mengelola potensi desa secara berkelanjutan, menggabungkan keindahan alam dengan manfaat sosial dan edukatif. Jika kamu berkunjung ke Baturraden, pastikan kedua destinasi ini masuk dalam daftar perjalananmu. Datanglah, nikmati alamnya, rasakan ketenangannya, dan pulanglah dengan cerita serta kesadaran baru tentang pentingnya menjaga alam bersama. SiS, Antarkita

Info Wisata, Kabarkita, Kuliner, Prespektif, Ruang Kita

Kesehatan dan Kenangan: Mandi Uap Ala Kuda di Baturraden

Kesehatan dan Kenangan: Mandi Uap Ala Kuda di Baturraden Perjalanan menuju Baturraden selalu menyimpan cerita. Di antara deretan pepohonan dan lalu lintas yang mengalir menuju kawasan wisata, berdiri sebuah patung kuda di pinggir jalan raya. Tepatnya sekitar seratus meter di selatan Kantor Kecamatan dan Polsek Baturraden. Satu-satunya patung kuda di sepanjang jalur ini, sekaligus penanda sebuah tempat terapi yang telah menjadi bagian dari ingatan banyak orang: Mandi Uap Ala Kuda. Patung kuda itu bukan sekadar penunjuk lokasi, melainkan simbol dari sebuah ikhtiar kesehatan yang berpijak pada kearifan lokal. Di tempat inilah mandi uap dilakukan dengan cara yang berbeda. Bukan sauna modern dengan mesin dan ruang tertutup rapat, melainkan mandi uap yang memanfaatkan rebusan rempah-rempah alami. Uap hangat yang mengepul membawa aroma herbal, menghadirkan rasa tenang dan kehangatan yang menyelimuti tubuh. Berbicara soal manfaat, mandi uap ala Kuda dikenal luas oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya untuk vertigo dan diabetes, terapi ini juga dipercaya membantu meredakan berbagai keluhan lain, seperti stroke, darah tinggi, asam urat, gangguan ginjal, hingga keluhan vitalitas. Namun lebih dari itu, tempat ini menyimpan nilai sosial. Ia hadir bukan semata untuk keuntungan, tetapi sebagai ruang berbagi harapan bagi mereka yang datang dengan tubuh letih dan pikiran penuh beban. Terapi ini terbuka untuk semua usia. Bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga mereka yang telah sepuh dipersilakan menjalani mandi uap dengan pendampingan. Banyak kisah sederhana yang tumbuh di sini. Anak-anak yang batuk atau masuk angin, misalnya, sering kali merasa lebih baik setelah mandi uap dan diberi rempah. “Alhamdulillah sembuh,” begitu ungkapan syukur yang kerap terdengar. Pak Sugeng, sang pemilik, selalu mengingatkan bahwa semua kesembuhan tetaplah atas pertolongan Allah SWT. Selain fasilitas mandi uap, Pak Sugeng juga menyediakan aneka minuman rempah untuk menunjang kesehatan para pengunjung. Ada susu jahe yang menghangatkan tubuh, wedang uwuh dengan aroma khas, hingga jamu khusus perempuan. Semua rempah diracik sendiri, berasal dari tumbuhan alami, dan dikeringkan dengan panas matahari. Dari tangannya lahir sebelas jenis rempah, sebagian digunakan sebagai minuman kesehatan, sebagian lainnya menjadi bahan utama mandi uap. “Ini semua hasil produk saya sendiri, dan di sini ada sebelas macam,” tutur Pak Sugeng dengan nada sederhana, namun penuh keyakinan. Tata cara mandi uap pun dijaga dengan disiplin. Sebelas rempah direbus hingga menghasilkan uap, lalu uap tersebut diratakan ke seluruh tubuh pelanggan. Proses ini tidak boleh berlangsung lebih dari lima menit. Setelah waktu terpenuhi, penjaga akan mengingatkan pelanggan untuk keluar dari ruang mandi uap demi menjaga keamanan dan kenyamanan. Menariknya, tempat terapi ini menyatu dengan warung makan bernama Godong Suwek. Warung berbentuk joglo ini menghadirkan suasana seperti ruang keluarga dan ruang tamu. Duduk lesehan, hangat, dan akrab, sangat cocok untuk makan bersama keluarga maupun teman. Tersedia pula bangunan joglo lain dengan panggung lesehan yang terasa lebih santai, menjadikannya ruang ideal untuk beristirahat setelah terapi. Perpaduan antara tempat terapi dan rumah makan keluarga menjadikan Mandi Uap Ala Kuda lebih dari sekadar destinasi kesehatan. Ia adalah ruang rehat, ruang kenangan, dan ruang kebersamaan. Di sanalah orang-orang berhenti sejenak, menghangatkan tubuh, berbagi cerita, dan pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Di tengah jalur Baturraden yang terus bergerak, Mandi Uap Ala Kuda hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan tidak selalu harus rumit. Kadang, ia cukup datang dari uap rempah, kesederhanaan, dan kehangatan yang ditawarkan dengan tulus. SiS Antarkita Reservasi 0851-2262-5529

Scroll to Top