Antarkita

Uncategorized

Uncategorized

DARI JAMAAH SHOLAT MENJADI JAMAAH MASJID

DARI JAMAAH SHOLAT MENJADI JAMAAH MASJID Merenungkan kembali gagasan almarhum Ustadz K.H. Muhammad Jazir ASP Oleh SiS Antarkita Siang tadi kita serentak menjalankan ibadah sholat Jumat. Masjid-masjid penuh. Bahkan di banyak tempat, jamaah sampai membludak. Ruang utama tidak mampu menampung, serambi penuh, halaman dipenuhi jamaah, bahkan sebagian harus sholat di jalan. Sebuah pemandangan yang tentu saja menggembirakan. Alhamdulillah. Kita patut bersyukur bahwa masjid masih menjadi tempat yang dirindukan umat. Tetapi setelah sholat selesai, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan lebih dalam. Apakah jamaah yang memenuhi masjid setiap Jumat sudah menjadi jamaah masjid? Pertanyaan ini mengingatkan saya pada gagasan yang pernah disampaikan oleh almarhum Ustadz K.H. Muhammad Jazir ASP tentang konsep jamaah sholat dan jamaah masjid. Dua istilah yang sekilas terdengar sama. Tetapi sesungguhnya memiliki makna yang berbeda. Jamaah sholat Jamaah sholat adalah orang-orang yang datang ke masjid karena memenuhi panggilan ibadah. Datang. Sholat bersama. Mendengarkan khutbah. Kemudian pulang. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan sholat berjamaah adalah amal yang sangat mulia. Namun pertanyaannya: Apakah hubungan kita dengan masjid berhenti ketika salam selesai diucapkan? Atau justru dari sanalah hubungan kita sebagai jamaah seharusnya dimulai? Jamaah masjid Jamaah masjid memiliki makna yang jauh lebih luas. Mereka bukan hanya orang-orang yang datang untuk sholat. Mereka adalah orang-orang yang saling mengenal, saling peduli, saling membantu dan membangun kehidupan bersama di sekitar masjid. Ketika ada jamaah sakit, jamaah lainnya mengetahui. Ketika ada jamaah yang kehilangan pekerjaan, ada yang ikut memikirkan. Ketika ada keluarga yang kesulitan ekonomi, ada kepedulian. Ketika ada anak jamaah yang kesulitan biaya pendidikan, ada yang membantu mencarikan jalan keluar. Ketika ada jamaah yang memiliki usaha tetapi kesulitan pemasaran, jamaah lainnya ikut membeli dan mempromosikan. Ketika ada anak muda yang menganggur, masjid tidak hanya menyuruhnya bersabar, tetapi ikut mencarikan peluang, keterampilan dan pekerjaan. Inilah yang mungkin dimaksud dengan menghidupkan jamaah masjid. MASJID KITA SEMAKIN BAGUS Hari ini kita patut bersyukur. Banyak masjid kita sudah sangat bagus. Tidak ada lagi atap yang bocor. Lantainya bersih. Karpetnya nyaman. Sound system-nya bagus. Tempat wudhunya semakin representatif. Bahkan tidak sedikit masjid yang berdiri megah dan menjadi kebanggaan masyarakat. Setiap Jumat kita juga sering mendengar laporan saldo kas masjid. Ada yang beberapa juta. Ada yang puluhan juta. Bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah. Sekali lagi: Alhamdulillah. Itu semua menunjukkan adanya kekuatan umat. Ada orang-orang yang mau berinfak. Ada jamaah yang mau bersedekah. Ada orang-orang yang mewakafkan hartanya. Ada kepedulian yang luar biasa terhadap masjid. Tetapi justru karena itulah muncul sebuah pertanyaan: «Kalau masjid kita semakin bagus, mengapa kehidupan sebagian jamaah masih begitu berat?» Masjidnya semakin megah. Tetapi ada jamaah yang masih kesulitan membayar sekolah anak. Kas masjid bertambah. Tetapi ada keluarga jamaah yang masih bingung membeli kebutuhan pokok. Kegiatan masjid berjalan. Tetapi masih ada anak muda di sekitar masjid yang menganggur. Masjid ramai. Tetapi UMKM jamaahnya masih berjuang mencari pembeli. Di sinilah kita perlu melakukan refleksi. MASJID JANGAN HANYA MENJADI TEMPAT BERKUMPULNYA ORANG YANG SUDAH MAMPU Masjid seharusnya bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah baik kehidupannya. Masjid justru harus menjadi tempat di mana orang yang sedang kesulitan menemukan harapan. Orang miskin tidak merasa malu datang. Orang yang sedang menganggur tidak merasa sendirian. Anak muda yang belum menemukan masa depannya mendapatkan pendampingan. Pelaku usaha kecil mendapatkan akses pasar. Anak-anak mendapatkan pendidikan. Dan keluarga yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan perhatian. Karena Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah. Islam juga mengajarkan hubungan manusia dengan manusia. Sholat membangun hubungan vertikal. Tetapi nilai-nilai sholat seharusnya melahirkan kepedulian horizontal. Kita berdiri dalam satu shaf. Kaya dan miskin berdiri berdampingan. Pejabat dan rakyat berdiri sejajar. Pengusaha dan buruh berdiri dalam barisan yang sama. Tidak ada perbedaan status ketika menghadap Allah. Maka setelah keluar dari masjid, semangat kesetaraan dan persaudaraan itu seharusnya tetap hidup. DARI KAS MASJID MENUJU KEKUATAN JAMAAH   Mungkin kita perlu mengubah cara pandang. Jangan melihat masjid hanya dari berapa saldo kasnya. Tetapi lihat juga: Berapa banyak jamaah yang ekonominya berhasil kita kuatkan? Berapa orang yang mendapatkan pekerjaan? Berapa UMKM jamaah yang tumbuh? Berapa anak jamaah yang berhasil menyelesaikan pendidikan? Berapa keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan? Berapa aset wakaf yang berhasil menjadi produktif? Berapa orang yang sebelumnya menjadi penerima bantuan kemudian mampu menjadi pemberi? Itulah mungkin ukuran lain dari kemakmuran masjid. Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang bangunannya megah. Tetapi masjid yang mampu memakmurkan kehidupan jamaahnya. DARI MUSTAHIK MENJADI MUZAKKI Bayangkan jika sebuah masjid memiliki jamaah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan orang. Di antara mereka ada pengusaha. Ada pedagang. Ada profesional. Ada guru. Ada petani. Ada dokter. Ada kontraktor. Ada pemilik usaha kecil. Ada anak muda yang memiliki kemampuan digital. Ada orang yang memiliki tanah. Ada yang memiliki jaringan bisnis. Ada yang memiliki modal. Ada yang memiliki ilmu. Ada yang memiliki waktu. Ada yang memiliki tenaga. Semuanya berada dalam satu ekosistem. Masjid. Kalau seluruh potensi itu dapat dihubungkan dan dikelola dengan baik, sesungguhnya kekuatan ekonominya luar biasa. Maka persoalannya bukan semata-mata “berapa banyak uang yang ada di kas masjid?” Tetapi: «”Berapa besar potensi jamaah yang sudah berhasil kita hubungkan?”» Karena bisa jadi, kekayaan terbesar masjid bukan berada di dalam kotak infak. Tetapi berada pada jamaahnya. MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN Dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat sholat. Masjid menjadi tempat bertemunya manusia. Tempat belajar. Tempat bermusyawarah. Tempat membangun kepedulian. Tempat menyelesaikan persoalan umat. Tempat membangun solidaritas. Tempat lahirnya berbagai gagasan dan gerakan. Karena itu, membangun masjid sesungguhnya bukan hanya membangun gedung. Membangun masjid adalah membangun manusia. Gedungnya boleh indah. Tetapi yang lebih penting adalah manusianya juga tumbuh. Karakter jamaahnya tumbuh. Ilmunya tumbuh. Ekonominya tumbuh. Kepeduliannya tumbuh. Kemandiriannya tumbuh. Dan akhirnya, masyarakat di sekitar masjid ikut tumbuh. BISAKAH MASJID MENJADI PUSAT PEMBERDAYAAN UMAT? Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban bersama. Bukan berarti kas masjid kemudian digunakan sembarangan untuk kegiatan ekonomi. Bukan pula berarti masjid harus berubah menjadi perusahaan. Semua harus tetap memperhatikan amanah, syariah, aturan organisasi, peruntukan dana, transparansi dan akuntabilitas. Tetapi kita dapat mulai membangun ekosistemnya. Misalnya: Jamaah punya usaha → jamaah lain menjadi pasar. Jamaah punya keahlian → jamaah lain menjadi pengguna jasanya. Jamaah punya aset → dikelola secara produktif sesuai ketentuan. […]

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Sadar Diri

Sadar Diri Oleh SiS Antarkita Banyak orang berbicara tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Berbagai buku, seminar, pelatihan, dan motivasi mengajarkan bagaimana seseorang harus memahami potensi, karakter, kelebihan, dan kekurangannya. Semua itu baik dan bermanfaat. Namun ada satu bentuk pengenalan diri yang jauh lebih mendasar, jauh lebih penting, dan menjadi fondasi dari seluruh kehidupan manusia, yaitu mengenal diri sebagai makhluk Allah SWT. Ironisnya, banyak manusia mengenal hampir segala sesuatu tentang dirinya, tetapi tidak mengenal hakikat dirinya. Ia tahu siapa orang tuanya. Ia tahu riwayat pendidikannya. Ia tahu pekerjaannya. Ia tahu status sosialnya. Ia tahu berapa penghasilannya. Ia tahu bagaimana orang lain memandang dirinya. Tetapi ia lupa menjawab pertanyaan yang paling mendasar: “Siapakah aku di hadapan Allah SWT?” Akibatnya, banyak manusia menjalani kehidupan hanya berdasarkan ukuran-ukuran dunia. Mereka menilai dirinya berdasarkan jabatan. Mereka menilai dirinya berdasarkan kekayaan. Mereka menilai dirinya berdasarkan popularitas. Mereka menilai dirinya berdasarkan pengakuan manusia. Ketika mendapatkan pujian, mereka merasa besar. Ketika mendapatkan penghormatan, mereka merasa istimewa. Ketika mendapatkan kedudukan, mereka merasa lebih tinggi daripada yang lain. Sebaliknya, ketika kehilangan pekerjaan, kehilangan harta, kehilangan jabatan, atau kehilangan penghargaan dari manusia, mereka merasa dirinya tidak lagi berharga. Semua itu terjadi karena mereka mengenal dirinya hanya sebagai manusia dalam pandangan manusia. Mereka lupa bahwa sebelum menjadi apa pun di dunia ini, mereka adalah makhluk Allah SWT. Padahal kesadaran sebagai makhluk Allah adalah sumber ketenangan yang luar biasa. Allah SWT berfirman: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Ayat ini menjelaskan tujuan utama keberadaan manusia. Kita tidak diciptakan untuk mengejar pujian manusia. Kita tidak diciptakan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya penghargaan dunia. Kita diciptakan untuk menjadi hamba Allah. Ketika seseorang lupa bahwa dirinya adalah hamba dan makhluk Allah, maka ia mudah terjatuh pada dua penyakit hati yang berlawanan tetapi sama berbahayanya: takabur saat mendapatkan nikmat dan putus asa saat mendapatkan musibah. Takabur Ketika Mendapatkan Kenikmatan Ketika bisnis berkembang, ia merasa itu semata-mata karena kecerdasannya. Ketika karier naik, ia merasa itu semata-mata karena kerja kerasnya. Ketika hidupnya lebih baik daripada orang lain, ia merasa lebih hebat daripada orang lain. Sedikit demi sedikit, rasa syukur berubah menjadi kesombongan. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah. Padahal sebelum sukses, ia tidak mampu menentukan di keluarga mana ia lahir. Ia tidak mampu menentukan kecerdasan yang dimilikinya. Ia tidak mampu menentukan kesehatan yang dimilikinya. Ia tidak mampu menentukan kesempatan yang datang kepadanya. Semua itu adalah pemberian Allah SWT. Allah berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53) Orang yang sadar dirinya sebagai makhluk Allah tidak akan mudah sombong. Semakin besar nikmat yang diterimanya, semakin besar pula rasa syukurnya. Semakin tinggi kedudukannya, semakin sadar bahwa dirinya hanyalah penerima amanah dari Allah. Putus Asa Ketika Mendapatkan Musibah Sebaliknya, ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan, banyak manusia terjatuh ke jurang keputusasaan. Mereka merasa masa depannya sudah berakhir. Mereka merasa tidak ada lagi jalan keluar. Mereka merasa Allah telah meninggalkan mereka. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka terlalu bergantung kepada kemampuan dirinya sendiri. Ketika sandaran itu runtuh, mereka ikut runtuh. Orang yang sadar dirinya sebagai makhluk Allah tidak akan mudah putus asa. Bukan karena hidupnya lebih mudah. Bukan karena masalahnya lebih sedikit. Tetapi karena ia mengenal Rabb yang disembahnya. Ia yakin bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada masalah yang sedang dihadapinya. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87) Bagi seorang mukmin, jalan keluar mungkin belum terlihat, tetapi pertolongan Allah selalu ada. Harapan boleh tertunda, tetapi rahmat Allah tidak pernah berhenti. Sadar Diri Sebagai Makhluk Allah Ketika seseorang benar-benar sadar bahwa dirinya adalah makhluk Allah, maka cara pandangnya terhadap kehidupan berubah. Ia menyadari bahwa dirinya lemah, sehingga ia banyak berdoa. Ia menyadari bahwa dirinya terbatas, sehingga ia banyak bertawakal. Ia menyadari bahwa dirinya penuh kekurangan, sehingga ia banyak beristighfar. Ia menyadari bahwa dirinya menerima banyak nikmat, sehingga ia banyak bersyukur. Ia tidak lagi merasa paling hebat ketika berhasil. Ia juga tidak merasa paling malang ketika gagal. Karena ia memahami bahwa hidup ini bukan tentang dirinya semata, melainkan tentang hubungan dirinya dengan Allah SWT. Merasa Selalu Dalam Penjagaan Allah Kesadaran sebagai makhluk Allah melahirkan perasaan yang menenangkan hati. Ia merasa selalu dilindungi Allah. Bukan berarti hidupnya bebas dari ujian, tetapi ia yakin tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa izin Allah. Ia merasa selalu diberi hidayah. Setiap kali tersesat, Allah membukakan jalan kembali. Setiap kali salah, Allah membuka pintu taubat. Ia merasa selalu diawasi Allah. Karena itu ia berusaha menjaga perkataan, menjaga amanah, dan menjaga perbuatannya. Ia merasa selalu dijaga Allah. Saat manusia meninggalkannya, Allah tetap bersamanya. Saat manusia tidak memahami dirinya, Allah mengetahui isi hatinya. Saat manusia tidak mampu menolongnya, Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Ia merasa selalu dijamin Allah. Bukan dijamin menjadi kaya. Bukan dijamin selalu mudah. Tetapi dijamin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang beriman kepada-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. At-Talaq: 3) Penutup Sadar diri bukan sekadar mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Sadar diri yang paling hakiki adalah menyadari bahwa kita adalah makhluk Allah SWT. Makhluk yang hidup karena rahmat-Nya. Makhluk yang bernapas karena izin-Nya. Makhluk yang berjalan karena pertolongan-Nya. Makhluk yang tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang Allah titipkan kepadanya. Ketika kesadaran itu tumbuh, kita tidak akan sombong ketika diberi nikmat. Kita juga tidak akan putus asa ketika diuji. Karena kita memahami bahwa hidup ini seluruhnya berada dalam genggaman Allah SWT. Maka selama Allah masih menjadi tempat bergantung, selama Allah masih menjadi tempat berharap, selama Allah masih menjadi tujuan hidup, tidak ada alasan untuk takabur ketika lapang dan tidak ada alasan untuk putus asa ketika sempit. Sadarilah siapa diri kita. Kita hanyalah makhluk Allah. Dan justru dalam kesadaran itulah terdapat kemuliaan, ketenangan, dan kebahagiaan yang sejati.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Ruang Kosong

Ruang Kosong Oleh SiS Antarkita Dua pekan yang lalu saya berkesempatan mengikuti pertemuan di PDM Banyumas dalam agenda rapat rutin pimpinan yang dilaksanakan setiap hari Jumat. Salah satu materi yang dibahas adalah rencana pembangunan pondok untuk ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Awalnya suasana rapat cukup santai. Bahkan sempat muncul candaan, “Lha wong ngurus orang normal saja susah, kok mau ngurus orang yang kurang normal?” Semua yang hadir tertawa. Memang terdengar lucu, tetapi di balik candaan itu tersimpan sebuah kenyataan bahwa mengurus manusia dalam kondisi apa pun bukanlah perkara mudah. Namun semakin lama pembahasan berlangsung, suasana berubah menjadi serius. Bahkan terasa haru. Para penggagas menyampaikan alasan mengapa mereka merasa perlu menghadirkan tempat yang layak bagi ODGJ. Mereka berbicara bukan hanya berdasarkan teori, tetapi berdasarkan kenyataan yang mereka lihat sendiri di lapangan. Ada begitu banyak ODGJ yang hidup tanpa perhatian yang cukup. Sebagian ditelantarkan keluarga karena keterbatasan ekonomi. Sebagian kehilangan tempat pulang. Sebagian lagi hidup berpindah-pindah tanpa arah dan tanpa pendampingan yang memadai. Yang membuat hati semakin tersentuh adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari mereka adalah saudara-saudara kita sesama Muslim. Mereka lahir dari keluarga Muslim. Mereka tumbuh di lingkungan Muslim. Mereka mengucapkan kalimat syahadat seperti kita. Namun ketika mereka mengalami gangguan jiwa dan membutuhkan pertolongan, ternyata belum banyak lembaga berbasis Islam yang secara khusus hadir untuk mendampingi mereka. Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya dirawat di panti atau yayasan yang dikelola oleh pihak non-Muslim. Tentu ini bukan persoalan salah atau benar. Mereka justru patut diapresiasi karena telah menghadirkan pelayanan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan yang menggugah hati. Jika mereka mampu menghadirkan pelayanan untuk saudara-saudara kita yang terlantar, mengapa kita yang mengaku memiliki jumlah umat terbesar justru masih sangat terbatas dalam memberikan perhatian kepada kelompok yang paling lemah ini? Ke mana yayasan-yayasan Islam? Ke mana lembaga-lembaga sosial Islam? Ke mana ormas-ormas Islam? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan ini lebih tepat ditujukan kepada diri kita sendiri. Mungkin selama ini perhatian kita terlalu banyak tersita pada hal-hal yang tampak besar dan megah. Kita sibuk memperdebatkan perbedaan. Kita sibuk membahas siapa yang paling benar. Kita sibuk mengomentari apa yang dilakukan orang lain. Sementara di sudut-sudut kehidupan, masih ada manusia-manusia yang menunggu uluran tangan. Masih ada anak yatim yang membutuhkan pendidikan. Masih ada lansia yang hidup sendirian. Masih ada keluarga miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Masih ada penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan. Masih ada ODGJ yang membutuhkan tempat berlindung dan diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat. Semua itu adalah ruang kosong. Ruang kosong yang menunggu untuk diisi. Bukan dengan perdebatan. Bukan dengan kemarahan. Bukan dengan saling menyalahkan. Tetapi dengan karya nyata. Sering kali kita mengeluhkan keadaan umat. Kita merasa umat tertinggal. Kita merasa umat kurang maju. Kita merasa banyak masalah yang belum terselesaikan. Padahal mungkin Allah SWT tidak sedang menunggu kita menjadi pengkritik terbaik. Allah SWT sedang menunggu kita menjadi bagian dari solusi. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin organisasi. Tidak semua orang harus menjadi tokoh besar. Tidak semua orang harus tampil di depan publik. Tetapi setiap orang bisa mengisi satu ruang kosong sesuai kemampuan yang dimiliki. Ada yang mengisi dengan tenaga. Ada yang mengisi dengan ilmu. Ada yang mengisi dengan waktu. Ada yang mengisi dengan jaringan. Ada yang mengisi dengan doa. Ada yang mengisi dengan harta. Yang terpenting adalah jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang sibuk mengomentari, sementara ruang kosong itu tetap kosong. Pertemuan di PDM Banyumas hari itu mengajarkan sebuah pelajaran berharga kepada saya. Ternyata masih banyak pekerjaan besar yang menunggu untuk dikerjakan. Ternyata masih banyak ladang amal yang belum tergarap. Ternyata masih banyak ruang kosong yang membutuhkan kehadiran orang-orang yang mau peduli. Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, “Siapa yang salah?” Tetapi, “Ruang kosong apa yang bisa saya isi hari ini?” Karena pada akhirnya, ukuran kebermanfaatan hidup bukanlah seberapa banyak kita berdebat, melainkan seberapa banyak ruang kosong kehidupan yang berhasil kita isi dengan manfaat bagi sesama. Masihkah kita memiliki waktu untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak penting, sementara begitu banyak ruang kosong di sekitar kita yang menunggu untuk diisi dengan amal, kepedulian, dan cinta kepada sesama?

Uncategorized

MUST TO DO, Bukan NICE TO DO

MUST TO DO, Bukan NICE TO DO Jangan Sibuk yang Mudah, Tapi Abaikan yang Penting Oleh SiS Antarkita Banyak orang terlihat sibuk, tetapi tidak semuanya bergerak menuju tujuan. Banyak yang lelah, tetapi tidak semuanya menghasilkan perubahan. Banyak yang penuh aktivitas, tetapi diam-diam sedang berjalan di tempat. Mengapa? Karena sering kali kita terlalu sibuk mengerjakan yang “nice to do”, tetapi melupakan yang “must to do.” Nice to do adalah sesuatu yang terasa menyenangkan untuk dilakukan, terlihat keren, terlihat sibuk, terlihat progresif, tetapi belum tentu berdampak langsung terhadap tujuan hidup atau bisnis kita. Sedangkan must to do adalah sesuatu yang kadang terasa berat, tidak populer, tidak banyak tepuk tangan, tetapi justru menentukan masa depan. Dalam bisnis misalnya: Banyak orang sibuk membuat logo, branding, seminar, festival, konten tanpa henti, tampil sana-sini, pencitraan di media sosial. Semua terlihat hebat. Semua terlihat hidup. Tapi pertanyaannya: Apakah cash flow sehat? Apakah produk benar-benar punya value? Apakah ada penjualan nyata? Apakah ada sistem yang berjalan? Kalau belum, bisa jadi kita sedang terjebak dalam aktivitas nice to do. 🧭 Mengenali Peta Jalan Kehidupan Hidup bukan tentang sibuk, tetapi tentang arah. Orang yang tahu peta jalan kehidupannya akan lebih mudah menentukan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Ia tidak mudah tergoda oleh tren. Tidak mudah FOMO. Tidak mudah latah melihat orang lain berhasil di bidang tertentu lalu ikut-ikutan tanpa memahami genetika dirinya sendiri. Karena tidak semua yang bagus untuk orang lain, bagus juga untuk kita. Burung tidak perlu iri kepada ikan karena tidak bisa menyelam. Ikan tidak perlu iri kepada burung karena tidak bisa terbang. Keduanya akan hebat ketika mengenali habitat dan kekuatannya masing-masing. ⚠️ Jangan Menjadi Korban Kesibukan Di era digital ini, terlalu banyak orang yang: sibuk for nothing, kreatif for nothing, ambisius for nothing, pencitraan for nothing, bahkan berjejaring for nothing. Terlihat bergerak, padahal kehilangan arah. Terlihat ramai, padahal kosong hasilnya. Bukan berarti kita tidak boleh melakukan hal-hal baik di luar prioritas. Tetap lakukan kebaikan, membantu sesama, berbagi, menolong orang lain. Karena itu adalah investasi spiritual — bisnis dengan Allah SWT yang hitung-hitungannya berbeda. Namun untuk urusan capaian dunia, kita perlu terukur. Jangan kalap. Jangan semua ingin dilakukan sekaligus. 🎯 Fokuslah Pada Yang Menentukan Hasil Tanyakan kepada diri sendiri: Apa satu hal paling penting yang jika dilakukan hari ini akan membawa perubahan terbesar? Itulah must to do. Kerjakan itu dulu. Konsisten. Terukur. Tuntas. Karena masa depan tidak ditentukan oleh seberapa sibuk kita, tetapi oleh seberapa tepat kita mengerjakan hal yang memang harus dilakukan. Fokus pada yang penting. Jangan tenggelam pada yang sekadar menarik. ✍️ SiS Antarkita

Uncategorized

AMBIL PERAN

AMBIL PERAN Oleh SiS Antarkita, Jum’at, 15 Mei 2026 Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Supeno No. 42 Yogyakarta Kadang sebuah perubahan besar datang tidak dengan suara gaduh. Tidak selalu terasa mengagetkan. Tahu-tahu… sudah ada di depan mata. Dulu orang tidak membayangkan belanja tanpa datang ke toko. Hari ini? Cukup buka HP. Dulu orang tidak membayangkan rapat tanpa bertemu fisik. Hari ini? Zoom meeting jadi hal biasa. Dulu orang menganggap kendaraan listrik cuma mimpi mahal. Hari ini? Sudah mulai lalu-lalang di jalan raya. Dan mungkin… beberapa tahun lagi kita akan melihat sesuatu yang sekarang masih terasa baru: mobil listrik menjadi pemandangan biasa. Itulah salah satu tema menarik dalam Bimbingan Teknis bersama Kyai Khafid Sirotudin, Ketua LPUMKM PWM Jawa Tengah, di Kantor PP Muhammadiyah Jl. Supeno No. 42 Yogyakarta, Jum’at 15 Mei 2026. Suasananya tidak terlalu formal. Walaupun forum resmi. Bahasanya tidak rumit. Tidak terlalu akademis. Lebih terasa seperti: ngobrol serius tapi santai. Kadang peserta tertawa. Kadang manggut-manggut. Kadang terdiam. Karena beberapa kalimat terasa: “nusuk tapi benar.” Tema besarnya sederhana: Muhammadiyah jangan terlambat membaca perubahan zaman. *PERUBAHAN ITU KENISCAYAAN, BUKAN PILIHAN* 🌍 Di awal pemaparan, Kyai Khafid membuka dengan satu kalimat yang sangat sederhana: *“Perubahan itu nggak perlu ditunggu.”* *“Karena perubahan sudah berjalan.”* Kalimat sederhana. Tapi dalam. Karena sering kali kita berpikir: nanti saja kalau sudah ramai. Padahal saat ramai… sering kali kesempatan terbaik sudah diambil orang lain. Beliau lalu mengajak peserta melihat perubahan di sekitar. Dulu orang kirim surat. Hari ini? Chat WhatsApp. Dulu promosi pakai brosur. Hari ini? Konten digital. Dulu toko harus punya ruko besar. Hari ini? Banyak bisnis cukup modal HP. Lalu beliau bertanya: “Transportasi menurut panjenengan berubah nggak?” Peserta serempak menjawab: “Berubah…” Beliau tersenyum. “Nah… kendaraan listrik itu bagian dari perubahan.” Motor listrik mulai tumbuh. Mobil listrik mulai hadir. Pabrik kendaraan listrik mulai masuk Indonesia. Charging station mulai dibangun. Ekosistem perlahan mulai bergerak. Beliau berkata lagi: “Mau suka atau nggak suka…” “Perubahan tetap datang.” Nah ini menarik. Karena kadang kita terlalu sibuk: mendebat perubahan. Padahal seharusnya: bersiap menghadapi perubahan.   *MUHAMMADIYAH PUNYA DNA PELOPOR* 🚀 Obrolan lalu masuk ke sejarah Muhammadiyah. Dan di sinilah suasana mulai terasa menggelitik pikiran. Kyai Khafid berkata: “Muhammadiyah itu punya Gen pelopor.” Bukan Gen pengikut. Bukan Gen penonton. Tapi:Gen pembuka jalan. Beliau mengingatkan sejarah. Di saat pendidikan masih konservatif… Muhammadiyah hadir dengan: pendidikan modern. Di saat layanan kesehatan belum banyak menjangkau rakyat… Muhammadiyah membangun: rumah sakit. Di saat anak yatim sering terpinggirkan… Muhammadiyah mendirikan: panti asuhan. Dan sekarang: KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Sebuah lompatan pemikiran besar. Beliau tersenyum lalu berkata: “Pelopor itu sering dianggap aneh di awal.” Peserta tertawa. Karena memang benar. Orang yang berjalan lebih dulu: sering belum dipahami. Tapi sejarah membuktikan: pelopor biasanya baru dipahami belakangan.   *SPKLMU: BERANI SELANGKAH LEBIH MAJU* ⚡ Lalu masuk pada pembahasan yang menjadi inti. Tentang: SPKLMU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah) Kyai Khafid bertanya: “Kalau kendaraan listrik makin banyak…” “Muhammadiyah mau jadi penonton?” Ruangan mulai serius. Karena memang pertanyaannya dalam. Beliau melanjutkan: “Kalau kita tahu kendaraan listrik akan datang…” “Kenapa tidak bersiap dari sekarang?” Benar juga. Karena: kendaraan listrik tanpa charging station tidak bisa jalan. Persis seperti kendaraan BBM tanpa SPBU. Artinya: SPKL adalah infrastruktur dasar masa depan. Dan Muhammadiyah memilih: bersiap lebih awal. Bukan menunggu semua ramai. Karena: pelopor memang berjalan duluan.   *PEKA TERHADAP PERUBAHAN* 🌱 SPKL Muhammadiyah bukan cuma urusan teknologi. Bukan cuma urusan charger. Tapi juga: simbol organisasi yang hidup, yang peka terhadap perubahan zaman. Karena organisasi besar tidak cukup hanya bangga masa lalu. Kalau hanya nostalgia sejarah… bisa tertinggal. Yang penting adalah: tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir di mimbar. Tapi juga harus hadir: di pendidika, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur publik masa depan.   *SPKL-MU:  MENGAMBIL PERAN  LAYANAN PUBLIK* 🎯 Kyai Khafid lalu berkata: “Tanpa SPKL…” “Mobil listrik cuma jadi pajangan.” Peserta tertawa. Tapi benar. Mobil listrik butuh energi. Motor listrik butuh charging. Artinya: SPKL adalah urat nadi kendaraan listrik. Dan Muhammadiyah hadir: ambil peran. Bukan sekadar ikut tren. Tapi: memberi solusi publik. Karena semakin banyak kendaraan listrik: semakin besar kebutuhan charging station. Maka SPKL Muhammadiyah bisa menjadi: bagian dari pelayanan masyarakat.   *SPKL-MU, LOKOMOTIF PENGGERAK UMKM* 🚂🍛 Nah… Bagian ini membuat suasana makin hidup. Kyai Khafid berkata: “Jangan lihat SPKL cuma charger.” Karena orang ngecas itu: nunggu. Dan saat nunggu: ekonomi bergerak. Bayangkan. Orang berhenti 1 jam. Apa yang terjadi? ☕ beli kopi 🍜 makan 🛍️ beli oleh-oleh 📱 kerja online 🕌 salat Artinya: SPKL adalah titik ekonomi baru. Di sekitar SPKL-MU bisa tumbuh: ✅ warung UMKM Muhammadiyah ✅ retail warga ✅ pusat kuliner ✅ jasa servis ringan ✅ mini coworking space ✅ pusat komunitas Kyai Khafid lalu berkata: “Kalau satu titik hidup…” “Bayangkan seribu titik.” Ruangan mendadak senyap. Karena semua mulai membayangkan: betapa besarnya dampaknya. SPKL bukan sekadar charger. Tapi: lokomotif penggerak ekonomi umat.   *STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIK MUHAMMADIYAH* 📢 Lalu masuk pembahasan yang menurut saya menarik. Bahwa SPKL Muhammadiyah juga menjadi: strategi komunikasi publik yang cerdas. Karena publik akan makin mengenal Muhammadiyah. Bayangkan orang berhenti ngecas di: SPKL Muhammadiyah Lalu melihat: 🏫 sekolah Muhammadiyah 🏥 rumah sakit Muhammadiyah 🎓 kampus Muhammadiyah 🕌 masjid Muhammadiyah 🛍️ produk UMKM Muhammadiyah Tanpa sadar: branding Muhammadiyah berjalan alami. Tidak perlu ceramah panjang. Tidak perlu promosi berlebihan. Karena: orang mengenal dari manfaat nyata.   *RAHMATAN LIL ‘ALAMIN* ❤️🕌 Yang paling menyentuh adalah saat Kyai Khafid berkata: “SPKL Muhammadiyah itu bukan buat Muhammadiyah saja.” Karena: ini fasilitas publik. Semua boleh menggunakan. Siapa pun. Tanpa melihat golongan. Tanpa melihat organisasi. Karena Muhammadiyah sejak awal lahir membawa semangat: Rahmatan Lil ‘Alamin Memberi manfaat untuk semua. Melayani siapa saja. Mempermudah kehidupan masyarakat.   *AMBIL PERAN* 🔥 Di akhir sesi, Kyai Khafid menyampaikan satu pesan sederhana: “Kalau nggak bisa ambil semua…” Beliau berhenti sebentar. “Ambil sebagian.” “Walaupun kecil.” Karena dunia tidak menunggu kita siap. Perubahan tidak bertanya: “Sudah siap belum?” Ia tetap datang. Dan pertanyaannya tinggal satu: Muhammadiyah mau jadi penonton perubahan? Atau ikut mengambil peran? Karena sejarah satu abad Muhammadiyah membuktikan: Muhammadiyah besar bukan karena ikut arus. Tapi karena berani membuka jalan. ⚡🕌🚗

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Momentum Muhammadiyah sebagai Uswah dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia

Momentum Muhammadiyah sebagai Uswah dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia Menjalankan Amanah UUD 1945 Pasal 33, Menghadirkan Keadilan Sosial, Kemandirian Dakwah, dan Peradaban Berkemajuan Oleh SiS Antarkita Tidak semua momentum hadir sebagai kesempatan. Ada momentum yang hadir sekaligus sebagai ujian. Ujian terhadap gagasan. Ujian terhadap keberanian. Dan ujian terhadap konsistensi nilai. Hari ini, Muhammadiyah sedang berada pada salah satu titik penting perjalanan sejarahnya. Sebuah momentum besar ketika Muhammadiyah mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia, termasuk melalui hak konsesi tambang. Sebagian orang mungkin melihat ini sekadar peluang ekonomi. Namun jika dilihat dengan kacamata dakwah dan sejarah, ini jauh lebih besar dari sekadar urusan bisnis. Ini adalah: momentum Muhammadiyah untuk membuktikan bahwa Islam mampu menghadirkan tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan rakyat. Indonesia Kaya, Tetapi Mengapa Rakyat Belum Sepenuhnya Makmur? Indonesia bukan negeri miskin. Allah SWT menganugerahkan kekayaan luar biasa kepada negeri ini. Gunung menyimpan emas, nikel, tembaga, dan batu bara. Laut menyimpan kekayaan hayati. Hutan menyediakan kehidupan. Tanah subur menopang pertanian. Tetapi pertanyaan besar bangsa ini belum selesai: Mengapa negeri kaya masih menyisakan kemiskinan? Mengapa daerah kaya tambang masih banyak jalan rusak? Mengapa masyarakat sekitar kawasan pertambangan masih kesulitan pendidikan dan kesehatan? Mengapa yang sering tertinggal justru: lubang tambang, hutan rusak, sungai tercemar, konflik sosial, ketimpangan ekonomi Di sinilah kita harus jujur: Selama ini pengelolaan sumber daya alam Indonesia lebih dominan berorientasi pada: eksplorasi dan eksploitasi. Yang menjadi ukuran sering kali adalah: berapa ton hasil tambang diperoleh, berapa besar investasi masuk, berapa tinggi keuntungan dihasilkan. Tetapi pertanyaan moralnya sering tertinggal: sebesar apa rakyat menikmati manfaatnya? Dalam banyak kasus, pengelolaan sumber daya alam tampak lebih dominan menguntungkan: segelintir elit politik dan bisnis, dibanding masyarakat luas. Sementara rakyat di sekitar lokasi sering kali hanya menerima residu persoalan. Padahal sumber daya alam bukan milik kelompok tertentu. Sumber daya alam adalah milik bangsa Indonesia. Pembukaan UUD 1945: Negara untuk Keadilan Sosial Para pendiri bangsa sesungguhnya telah meletakkan fondasi moral yang sangat kuat. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa negara Indonesia dibentuk untuk: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…” Kemudian ditegaskan lagi tujuan besarnya: “mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Kalimat ini bukan sekadar formalitas konstitusi. Ini adalah visi besar bangsa Indonesia. Artinya: Negara tidak boleh dikelola untuk kepentingan segelintir kelompok. Ekonomi tidak boleh hanya dinikmati elit. Kekayaan alam tidak boleh berhenti di tangan pemilik modal semata. Karena tujuan akhirnya adalah: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pasal 33 UUD 1945: Jalan Konstitusional Pengelolaan SDA Jika Pembukaan UUD memberi arah moral, maka Pasal 33 memberi arah operasional. Pasal 33 menegaskan: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Kalimat ini mengandung makna yang sangat revolusioner. Bahwa: 1. Sumber Daya Alam adalah Amanah Bukan objek eksploitasi tanpa batas. Alam adalah titipan yang harus dijaga. Dalam perspektif Islam, manusia adalah: khalifah fil ardh (pengelola bumi) Bukan penghancur bumi. Karena itu, pengelolaan SDA harus menjaga keseimbangan: ekonomi — sosial — lingkungan. 2. Kemakmuran Rakyat adalah Tujuan Keberhasilan pengelolaan tambang tidak boleh hanya dilihat dari laba. Tetapi harus menjawab: Apakah rakyat sekitar lebih sejahtera? Apakah pendidikan meningkat? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah kualitas kesehatan membaik? Apakah kemiskinan berkurang? 3. Lingkungan Adalah Investasi Peradaban Kemajuan ekonomi tidak boleh meninggalkan kehancuran ekologis. Karena bumi bukan warisan nenek moyang. Tetapi titipan anak cucu. Muhammadiyah: Organisasi yang Terbiasa Menjawab Tantangan Zaman Kalau membaca sejarah Muhammadiyah selama lebih dari satu abad, kita akan menemukan satu karakter besar: Muhammadiyah selalu hadir sebagai solusi. Ketika pendidikan modern sulit diakses, Muhammadiyah membangun sekolah. Ketika layanan kesehatan terbatas, Muhammadiyah mendirikan rumah sakit. Ketika umat membutuhkan media dakwah, lahirlah Suara Muhammadiyah. Ketika umat membutuhkan tata kelola zakat modern, Muhammadiyah memelopori kelembagaannya. Ketika umat memerlukan kepastian kalender global, Muhammadiyah menghadirkan: KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) Artinya: Muhammadiyah punya DNA: DNA pembaharu. DNA pelopor. DNA pemberi solusi. Kini Sejarah Bertanya kepada Muhammadiyah Hari ini sejarah seperti mengetuk pintu Muhammadiyah: “Kalau kalian diberi kesempatan mengelola sumber daya alam, apa yang akan kalian lakukan?” Apakah akan mengikuti pola lama? Ataukah berani menghadirkan model baru? Model pengelolaan yang: ✔ ramah lingkungan ✔ berpihak pada rakyat ✔ transparan ✔ profesional ✔ berbasis ilmu pengetahuan ✔ menghadirkan manfaat jangka panjang Muhammadiyah punya kesempatan menjadi: Uswah hasanah dalam tata kelola sumber daya alam Indonesia. Pekerjaan Rumah Internal Persyarikatan Tetapi kita juga harus jujur membaca rumah sendiri. Karena keteladanan harus dimulai dari keberanian menghadapi kenyataan. 1. Kesejahteraan Guru Muhammadiyah Masih banyak guru: TK/ABA Muhammadiyah SD Muhammadiyah SMP Muhammadiyah SMA/SMK Muhammadiyah MA Muhammadiyah yang kesejahteraannya masih memprihatinkan. Padahal mereka adalah: penjaga peradaban Muhammadiyah. Mereka mencerdaskan bangsa. Mereka menanamkan akhlak. Mereka membentuk masa depan Indonesia. Maka tidak berlebihan jika pengelolaan SDA Muhammadiyah diarahkan untuk: dana abadi kesejahteraan guru Muhammadiyah. 2. Kehidupan Organisasi di Tingkat Ranting dan Cabang Banyak ranting dan cabang Muhammadiyah masih hidup dengan keterbatasan. Masjid belum makmur. Program minim. Gerakan kurang hidup. Pendanaan terbatas. Padahal: ranting adalah akar Muhammadiyah. Cabang adalah mesin gerakan. Jika akar kuat, pohon akan kokoh. Bayangkan jika hasil SDA Muhammadiyah mampu: menghidupkan ranting, membangun usaha produktif, menguatkan kaderisasi, mendukung dakwah lokal Bukankah itu akan menjadi: gerakan kemandirian dakwah? Dari Eksploitasi Menuju Kemaslahatan Muhammadiyah memiliki peluang besar menghadirkan paradigma baru: “Pengelolaan sumber daya alam berbasis kemaslahatan.” Bukan hanya menggali hasil bumi. Tetapi juga: 🌱 menggali kesejahteraan rakyat 🌱 membangun pendidikan 🌱 menghidupkan ranting dan cabang 🌱 meningkatkan kualitas guru 🌱 menjaga lingkungan 🌱 memperkuat dakwah Tambang tidak meninggalkan luka. Tetapi meninggalkan: peradaban. Penutup Momentum ini bukan sekadar peluang. Ini adalah: ujian sejarah Muhammadiyah abad kedua. Ujian apakah Muhammadiyah mampu membuktikan: bahwa Islam Berkemajuan bukan hanya konsep, tetapi sistem nyata yang menghadirkan solusi. Bahwa dakwah tidak hanya berbicara di mimbar. Tetapi hadir di kebijakan, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan keadilan sosial. Dan jika ini berhasil, sejarah akan mencatat: Muhammadiyah bukan hanya pelopor pendidikan dan kesehatan. Tetapi juga: Uswah dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia sesuai amanah UUD 1945 Pasal 33. Menghadirkan solusi. Menunjukkan keteladanan. Menguatkan dakwah. Mewujudkan keadilan sosial.  

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

MASALAH MEMBAWA BERKAH

MASALAH MEMBAWA BERKAH Oleh SiS Antarkita MANUSIA SERING MEMANDANG MASALAH SEBAGAI MUSIBAH Dalam kehidupan, hampir semua manusia punya keinginan yang sama: hidup tenang, nyaman, serba cukup, dan jauh dari masalah. Kalau bisa, semuanya ingin jalan hidup yang lurus tanpa tikungan. Usaha lancar. Keluarga harmonis. Ekonomi aman. Kesehatan terjaga. Hubungan dengan manusia baik-baik saja. Tetapi kenyataannya, hidup tidak pernah seperti itu. Kadang ketika ekonomi mulai membaik, kesehatan justru diuji. Ketika pekerjaan terasa aman, keluarga menghadapi persoalan. Ketika usaha berkembang, muncul orang-orang yang tidak suka. Seolah-olah kehidupan selalu punya cara menghadirkan ujian. Lalu manusia mulai bertanya: “Kenapa hidup saya penuh masalah?” “Kenapa ujian tidak selesai-selesai?” Dan yang lebih menyedihkan, kadang manusia mulai berprasangka buruk kepada Allah SWT. Merasa seolah-olah Allah SWT tidak adil. Padahal masalah tidak selalu berarti musibah. Kadang masalah adalah undangan Allah SWT agar manusia naik kelas kehidupan. Kadang masalah adalah bentuk kasih sayang Allah SWT yang belum dipahami manusia. Karena sering kali manusia baru berubah ketika hidup sedang sulit. Saat semuanya nyaman, manusia mudah terlena. Saat semuanya lancar, manusia mudah lupa siapa pemberi nikmat. Tetapi saat hidup terguncang… Baru manusia sadar betapa kecil dirinya. MASALAH MEMBUAT MANUSIA DEKAT DENGAN ALLOH SWT Mari kita jujur kepada diri sendiri. Saat hidup nyaman, berapa banyak doa yang benar-benar sungguh-sungguh kita panjatkan? Berapa banyak sujud panjang yang dilakukan dengan penuh penghayatan? Berapa banyak air mata yang jatuh karena takut kepada Allah SWT? Tetapi saat masalah datang… Doa menjadi lebih khusyuk. Tahajud mulai rutin. Dzikir mulai diperbanyak. Masjid terasa lebih dekat. Sajadah terasa lebih nyaman. Masalah sering kali menjadi jalan manusia kembali mengenal Tuhannya. Saat ekonomi sempit, manusia mulai yakin bahwa rezeki bukan sekadar hasil kerja keras, tetapi karunia Allah SWT. Saat sakit, manusia sadar bahwa sehat adalah nikmat mahal. Saat kehilangan, manusia sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Karena itu jangan buru-buru membenci masalah. Bisa jadi masalah sedang menarik kita agar lebih dekat kepada Allah SWT. Sebab tidak ada keberkahan terbesar selain hati yang kembali hidup bersama Allah SWT. MASALAH MEMBUAT MANUSIA MENJADI LEBIH KUAT Manusia sering ingin hidup nyaman. Tetapi ironisnya, manusia kuat justru lahir dari ketidaknyamanan. Besi menjadi kuat karena dibakar dan ditempa. Emas menjadi indah karena melalui proses panjang. Begitu pula manusia. Orang yang tidak pernah diuji sering kali rapuh. Sedikit masalah langsung menyerah. Sedikit kritik langsung marah. Sedikit kegagalan langsung kehilangan harapan. Tetapi orang yang terbiasa menghadapi badai biasanya lebih kuat. Lebih tenang. Lebih matang. Lebih bijaksana mengambil keputusan. Karena masalah melatih kesabaran. Masalah melatih mental. Masalah mengajarkan bagaimana bangkit setelah jatuh. Coba lihat orang-orang hebat. Jarang ada yang sukses tanpa luka. Jarang ada yang berhasil tanpa air mata. Jarang ada yang besar tanpa pernah jatuh. Karena kehidupan memang mendidik manusia lewat ujian. MASALAH MEMBUAT MANUSIA LEBIH RENDAH HATI Kadang saat hidup terlalu nyaman, manusia mulai merasa hebat. Merasa sukses karena kemampuan sendiri. Merasa pintar karena ilmunya. Merasa kuat karena relasinya. Lalu tanpa sadar, kesombongan mulai tumbuh. Padahal Allah SWT tidak suka kesombongan. Kemudian masalah datang. Usaha turun. Kesehatan terganggu. Jabatan berubah. Keadaan tidak lagi sama. Dan manusia mulai sadar… Ternyata dirinya lemah. Ternyata selama ini terlalu percaya diri. Ternyata semua yang dimiliki bisa hilang kapan saja. Di situlah masalah sedang mendidik manusia. Agar tidak terlalu tinggi memandang dirinya. Agar kembali rendah hati. Agar sadar bahwa manusia hanyalah mahluk lemah yang selalu membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena kadang manusia baru mau sujud lama ketika hidup sedang dihantam masalah. MASALAH MEMBUKA PINTU REZEKI DAN PELUANG BARU Tidak sedikit orang sukses justru lahir dari masalah. Ada orang kehilangan pekerjaan lalu akhirnya membangun usaha sendiri. Ada orang bangkrut lalu menemukan jalan hidup baru. Ada orang sakit lalu menemukan misi hidup membantu sesama. Kadang Allah SWT menutup satu pintu agar manusia berhenti terlalu nyaman di zona lama. Kemudian Allah SWT membuka pintu baru yang jauh lebih besar. Masalah sering menjadi titik balik kehidupan. Tetapi karena manusia terlalu fokus pada rasa sakitnya, akhirnya gagal melihat peluangnya. Padahal tidak semua kehilangan itu buruk. Kadang kehilangan adalah cara Allah SWT mengosongkan tangan manusia agar siap menerima sesuatu yang lebih baik. MASALAH MEMBUAT MANUSIA BELAJAR BERSYUKUR Lucunya manusia… Saat sehat sering lupa menjaga tubuh. Ketika sakit baru sadar mahalnya kesehatan. Saat masih bersama keluarga sering bertengkar. Ketika kehilangan baru sadar berharganya kebersamaan. Saat punya penghasilan sering merasa kurang. Ketika kehilangan pekerjaan baru sadar nikmatnya penghasilan. Masalah membuka mata manusia. Mengajarkan bahwa banyak nikmat selama ini dianggap biasa. Padahal luar biasa. Karena manusia sering baru menghargai sesuatu setelah kehilangan. Di situlah masalah mengajari manusia arti syukur. MASALAH MEMBUAT MANUSIA BELAJAR SABAR DAN TAWAKAL Semua orang ingin hasil cepat. Ingin doa segera terkabul. Ingin masalah cepat selesai. Tetapi Allah SWT sering kali mendidik manusia melalui proses. Karena kesabaran tidak lahir dalam kenyamanan. Kesabaran lahir saat keadaan tidak sesuai harapan. Tawakal juga tidak lahir saat hidup mudah. Tawakal lahir saat manusia sudah berusaha maksimal lalu tetap percaya kepada keputusan Allah SWT. Masalah mengajarkan manusia untuk berkata: “Ya Allah, saya sudah berusaha. Sekarang saya berserah kepada-Mu.” Dan di situlah hati mulai menemukan ketenangan. Karena tidak semua hal harus kita kontrol. Ada bagian yang memang harus diserahkan kepada Allah SWT. MASALAH ADALAH JALAN NAIK KELAS KEHIDUPAN Dalam sekolah, untuk naik kelas harus ada ujian. Tidak mungkin naik kelas tanpa diuji. Begitu pula kehidupan. Allah SWT sering menaikkan kualitas manusia lewat ujian. Orang yang sabar naik kelas. Orang yang tetap jujur saat sulit naik kelas. Orang yang tetap sholat saat susah naik kelas. Orang yang tetap berbuat baik meski disakiti naik kelas. Kadang manusia mengira masalah adalah hukuman. Padahal bisa jadi itu promosi kehidupan dari Allah SWT. Allah SWT sedang membentuk mental lebih kuat. Iman lebih matang. Hati lebih lapang. Cara berpikir lebih dewasa. Karena manusia yang tidak pernah diuji sering kali tidak tahu kualitas dirinya sendiri. LIHATLAH MASALAH DENGAN CARA PANDANG YANG BERBEDA Mulai hari ini, jangan langsung bertanya: “Kenapa saya diuji?” Tetapi cobalah bertanya: “Pelajaran apa yang Allah SWT ingin saya pahami?” “Hikmah apa yang sedang disiapkan?” “Bagian mana dari diri saya yang harus diperbaiki?” Karena cara pandang menentukan kekuatan hidup. Kalau masalah dilihat sebagai hukuman, hidup terasa berat. […]

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

SPKL Muhammadiyah, Lokomotif Penggerak UMKM

SPKL Muhammadiyah, Lokomotif Penggerak UMKM (Ngobrol Bareng Kyai Khafid Sirotudin di Baturraden) Oleh SiS Antarkita Baturraden, Sabtu malam, 25 April 2026 Udara dingin khas Baturraden mulai menusuk tulang. Kabut tipis turun perlahan. Selepas Isya, kawasan sekitar Masjid Wisata Baturraden masih tampak hidup. Saya sedang mengikuti kegiatan Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Jawa Tengah di kawasan wisata Baturraden. Semua atas kehendak Allah SWT, malam itu saya dipertemukan dengan Khafid Sirotudin. Tidak ada ruang rapat. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada meja konferensi. Kami justru duduk lesehan di trotoar depan masjid wisata, ditemani wedang ronde hangat dan sate kelinci. Saya sempat bercanda dalam hati: “Ini salah satu hikmah beliau tidak jadi pejabat negara, hehehe…” Kalau jadi pejabat mungkin ngobrol harus dijadwalkan dulu. Ada ajudan. Ada protokoler. Ada ruang VIP. Padahal sering kali gagasan besar lahir justru bukan dari hotel berbintang. Tapi dari: warung kopi, pinggir jalan, obrolan santai, dan orang-orang yang sedang memikirkan masa depan umat. Dan malam itu saya merasa sedang menikmati “kuliah ekonomi umat” versi trotoar Baturraden.   OBROLAN RANDOM YANG BIKIN GAYENG 😄 Seperti obrolan orang Indonesia pada umumnya, awalnya tema ngalor-ngidul. Tidak langsung bicara ekonomi. Tidak langsung bicara bisnis. Apalagi bicara kendaraan listrik. Malah pembukanya tema yang bikin sebagian orang Muhammadiyah mungkin senyum-senyum sendiri: poligami. Tema yang kadang terasa sensitif. Jarang dibahas terbuka. Padahal dalam sejarah, praktik itu juga pernah dicontohkan oleh Ahmad Dahlan. Saya kadang berpikir lucu juga. Kalau bicara sekolah Muhammadiyah, semangat. Kalau bicara rumah sakit Muhammadiyah, semangat. Kalau bicara sejarah Kyai Dahlan, semangat. Tapi kalau bicara poligami… Mendadak banyak yang pura-pura batuk 🤭 Di tengah obrolan santai itu, Kyai Khafid bercerita sambil tertawa kecil. “Mas, saya dengar ada ide IPM gaya baru…” Spontan kami penasaran. “IPM gaya baru itu apa, Kyai?” Beliau tersenyum lebar. “Bukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah…” Beliau berhenti sebentar. “Tapi Ikatan Poligami Muhammadiyah…” Kami langsung tertawa pecah. Suasana makin cair. Gayeng. Dan tanpa saya harus bertanya banyak, rasa penasaran saya tentang pandangan beliau terhadap poligami juga terjawab. Beliau bicara terbuka tentang praktik dan sikap hidupnya. Tidak defensif. Tidak menggurui. Santai saja. Saya malah berpikir: Kadang keterbukaan lebih sehat daripada kepura-puraan.   DARI POLIGAMI KE MASA DEPAN EKONOMI UMAT 🚀 Setelah obrolan ringan itu, arah diskusi mulai berubah. Dari urusan rumah tangga menuju urusan ekonomi umat. Tiba-tiba Kyai Khafid membuka tema yang menurut saya sangat menarik: transformasi bisnis akibat kendaraan listrik Beliau menyeruput wedang ronde. Lalu berkata pelan: “Mas, kendaraan listrik itu jangan dilihat cuma kendaraan.” Saya langsung tertarik. “Maksudnya bagaimana, Kyai?” Beliau tersenyum. “Kalau orang cuma melihat motor listrik atau mobil listrik, berarti cara berpikirnya masih level produk.” Beliau berhenti sebentar. Lalu melanjutkan: “Padahal yang sedang berubah itu ekosistem bisnis.” Kalimat itu membuat saya langsung diam. Karena memang benar. Selama ini orang sibuk berdebat: baterai tahan berapa lama, charging cepat atau tidak mobil listrik kuat nanjak atau tidak Padahal ada perubahan yang jauh lebih besar sedang bergerak. struktur ekonomi sedang berubah.   DARI POMPA BENSIN KE KABEL LISTRIK 🔌   Kyai Khafid memberi analogi sederhana. “Mas, dulu orang ke SPBU ngapain?” “Isi bensin.” “Berapa lama?” “Paling tiga menit.” Beliau mengangguk. “Nah selesai. Isi bensin, bayar, pergi.” “Tapi kendaraan listrik?” Beliau tersenyum. “Orang harus nunggu.” Motor listrik mungkin 10–20 menit. Mobil listrik bisa sampai satu jam lebih. Lalu beliau bertanya: “Nah, selama nunggu itu orang ngapain?” Saya spontan menjawab: “Ngopi, makan, buka HP…” Beliau tertawa kecil. “Nah… di situlah ekonomi baru lahir.” Saya mulai paham. Berarti yang berubah bukan sekadar kendaraan. Tapi: perilaku ekonomi manusia.   “MAS, SPKL ITU BUKAN TEMPAT CAS…” ⚡   Ada satu kalimat beliau malam itu yang sangat menancap di kepala saya. “Mas, SPKL itu jangan dilihat cuma charger kendaraan.” “Kalau Muhammadiyah masuk SPKL cuma mikir pasang alat cas…” Beliau tersenyum. “Itu terlalu kecil berpikirnya.” Saya langsung serius. Beliau melanjutkan: “SPKL itu titik ekonomi.” Saya diam. Beliau menjelaskan. Bayangkan satu mobil listrik datang. Cas satu jam. Selama satu jam itu orang pasti melakukan sesuatu. ☕ beli kopi, 🍜 makan, 🛒 belanja kecil, 🕌 shalat, 📱 buka laptop, 📶 kerja online Lalu beliau berkata: “Kerumunan manusia itu ekonomi.” Kalimat sederhana. Tapi dalam sekali. Karena memang dalam dunia bisnis: tempat orang berkumpul = peluang transaksi   MUHAMMADIYAH PUNYA MODAL BESAR   Obrolan makin serius. Kyai Khafid lalu berkata: “Muhammadiyah ini sebenarnya kaya aset.” Saya langsung tertawa kecil. “Kadang yang sadar malah orang luar ya, Kyai…” Beliau ikut tertawa. Lalu mulai menghitung satu per satu. Muhammadiyah punya: ✅ sekolah ✅ kampus ✅ rumah sakit ✅ masjid ✅ tanah strategis ✅ kantor persyarikatan ✅ jamaah besar Lalu beliau bertanya: “Tapi sudah belum semua itu jadi ekosistem ekonomi?” Nah. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan halus. Karena memang selama ini banyak aset berjalan sendiri-sendiri. Padahal kalau dikoneksikan: kekuatan ekonominya bisa luar biasa.   SPKL MUHAMMADIYAH BISA JADI LOKOMOTIF UMKM 🚂   Lalu muncullah ide besar itu. SPKL-MU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah) Beliau menjelaskan dengan antusias. Bayangkan satu SPKL Muhammadiyah dipasang di: rumah sakit Muhammadiyah sekolah Muhammadiyah kampus Muhammadiyah masjid besar Muhammadiyah Lalu kendaraan listrik datang. Cas satu jam. Apa yang terjadi? Orang mulai: ☕ ngopi di UMKM binaan Muhammadiyah 🍛 makan di kantin warga 🛍️ beli produk UMKM 🕌 shalat di masjid 📶 memakai wifi Artinya: SPKL tidak hanya menghasilkan uang dari listrik. Tapi menciptakan: perputaran ekonomi. Dan ekonomi itu bisa dinikmati oleh: warga Muhammadiyah, jamaah, pedagang kecil, UMKM binaan, komunitas lokal Beliau lalu berkata: “SPKL Muhammadiyah itu bisa jadi lokomotif UMKM.” Saya langsung suka istilah itu. Karena memang seperti lokomotif kereta. Saat mesin bergerak: gerbong-gerbong ekonomi ikut berjalan.   BELAJAR DARI VINFAST DAN V-GREEN 🚗⚡ Obrolan lalu masuk pada contoh nyata. Kyai Khafid menjelaskan bagaimana VinFast dan V-Green bergerak cepat. Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka membangun charging station dulu. Battery swap dulu. Kemitraan dulu. Beliau berkata: “Yang kuat itu bukan cuma yang punya produk.” Beliau berhenti sebentar. “Tapi yang menguasai sistem.” Nah. Kalimat ini mahal sekali. Karena sering kali yang paling untung bukan penjual barang. Tapi: pemilik ekosistem.   MOMENTUM HARUS DIAMBIL 🔥 Menjelang malam semakin larut. Kabut makin turun. Wedang ronde tinggal kuahnya. Kyai Khafid lalu berkata pelan: “Perubahan itu nggak nunggu […]

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Momentum Harus Diambil

Momentum Harus Diambil Oleh SiS Antarkita Baturraden, Sabtu 25 April 2026 Selepas Isya kami bertemu dengan Kyai Khafid Sirotudin, ketua LPUMKM PWM Jawa Tengah. Semua atas kehendak Allah SWT. Kebetulan malam itu saya sedang mengikuti acara Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Jawa Tengah dengan lokasi yang sama, yaitu di kawasan wisata Baturraden. Pertemuan kami tidak di ruang rapat formal. Kami duduk lesehan di trotoar depan Masjid Wisata Baturraden, sambil menikmati wedang ronde dan sate kelinci. Udara dingin khas Baturraden membuat suasana semakin hangat oleh obrolan yang mengalir tanpa protokoler. Ini salah satu hikmah beliau tidak menjadi pejabat negara, hehehe… Sehingga masih bisa bebas ngobrol di mana saja dan kapan saja tanpa jadwal resmi. Tidak ada meja panjang, tidak ada mikrofon, tidak ada notulen. Hanya trotoar, tikar sederhana, dan obrolan yang jujur dari hati ke hati. ☕ Ngobrol santai, tapi tema yang dibahas justru berat: bagaimana umat tidak hanya bertahan, tetapi mampu menangkap peluang perubahan zaman. Obrolan Random yang Bikin Gayeng 😄 Tema yang dibahas malam itu benar-benar random. Dan salah satu tema yang cukup jarang dibahas secara terbuka—bahkan jarang dipraktikan—adalah tema poligami. Padahal secara sejarah, praktik itu pernah dicontohkan oleh Kyai Ahmad Dahlan, namun dalam percakapan sehari-hari seolah menjadi topik yang disimpan di ruang sunyi. Tema poligami menjadi pembuka obrolan yang bikin suasana langsung cair. Kyai Khafid bercerita bahwa beliau mendengar ada gagasan dari seorang sesepuh pimpinan pusat Muhammadiyah yang ingin mendirikan IPM gaya baru. Serentak kami penasaran. “Apa itu IPM gaya baru, Kyai?” Beliau menjawab sambil tertawa: “Bukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah… tapi Ikatan Poligami Muhammadiyah… ha ha ha…” Suasana langsung pecah oleh tawa. Di tengah dinginnya Baturraden, obrolan terasa hangat dan akrab. Dari obrolan ringan itu saya belajar satu hal: bahwa keterbukaan dalam berdiskusi seringkali menjadi pintu masuk menuju kedewasaan berpikir. Dan tanpa bertanya panjang, saya juga mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya terhadap sikap beliau. Beliau menyampaikan dengan terang bahwa pilihan hidup harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekadar wacana. Dari Poligami ke Transformasi Bisnis Setelah obrolan ringan itu, arah diskusi pelan-pelan berubah. Dari tema keluarga, kami masuk ke tema yang jauh lebih strategis: transformasi ekonomi dan perubahan ekosistem bisnis. Tema yang kami bahas adalah tema yang sebelumnya juga sering muncul dalam diskusi-diskusi kami: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik. Perubahan transportasi dari bahan bakar minyak menuju kendaraan listrik bukan sekadar perubahan teknologi. Ini adalah perubahan ekosistem bisnis. Dan setiap perubahan ekosistem selalu melahirkan peluang baru. VinFast: Sinyal Bahwa Perubahan Sudah Datang 🚗⚡ Salah satu contoh nyata perubahan itu adalah langkah besar dari VinFast. Mereka telah meresmikan pabrik kendaraan listrik seluas 171 hektar di Subang pada 15 Desember 2025, dengan investasi awal sekitar Rp 4,8 triliun, dari total rencana investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Mulai April 2026, mereka menargetkan: Produksi 50.000 unit kendaraan per tahun Menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja Membangun rantai industri baru Ini bukan sekadar pembangunan pabrik. Ini adalah tanda bahwa gelombang perubahan sudah tiba di Indonesia. Dan gelombang itu tidak bisa dihentikan. Belajar dari V-Green: Ekosistem Itu Dibangun, Bukan Ditunggu Kami kemudian membahas langkah strategis dari V-Green, bagian dari ekosistem besar Vingroup. Yang menarik bukan hanya produknya. Yang menarik adalah cara berpikirnya. Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka tidak menunggu masyarakat membeli kendaraan listrik. Mereka justru membangun infrastrukturnya lebih dulu. Bayangkan skalanya: 80.000 Battery Swap Station 25.000 Charging Station Ini bukan proyek kecil. Ini adalah strategi besar. Karena mereka memahami satu prinsip penting: Ekosistem itu dibangun, bukan ditunggu. Perubahan Ekosistem Bisnis: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik 🔌 Di sinilah percakapan kami menjadi semakin serius. Dulu: Bisnis energi identik dengan pompa bensin. Ke depan: Bisnis energi akan identik dengan kabel listrik. Dulu: Orang berhenti di SPBU selama 3 menit. Ke depan: Orang berhenti di SPKLU selama 30–90 menit. Perbedaan waktu ini menciptakan peluang ekonomi baru. Karena ketika orang menunggu, maka muncul kebutuhan: makan minum belanja bekerja bersosialisasi Artinya: SPKLU bukan sekadar tempat isi listrik. SPKLU adalah pusat ekonomi baru. Bagaimana dengan Industri Mobil BBM dan Bisnis SPBU BBM? Pertanyaan ini pasti muncul. Apakah mobil BBM akan hilang? Apakah SPBU akan mati? Jawabannya: Tidak hilang. Tapi berubah. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan: Kereta kuda tidak hilang ketika mobil muncul Wartel tidak hilang ketika handphone muncul Toko tidak hilang ketika marketplace muncul Yang berubah adalah bentuk bisnisnya. Begitu juga SPBU. Ke depan, SPBU akan berubah menjadi: SPBU + SPKLU pusat layanan kendaraan pusat ritel dan kuliner rest area modern pusat komunitas Dengan kata lain: yang tidak berubah akan tertinggal. yang mau berubah akan memimpin. Urgensi bagi LP-UMKM: Jangan Hanya Jadi Penonton Di sinilah kami melihat urgensi bagi LP-UMKM Muhammadiyah Jawa Tengah dan DIY. Karena perubahan ini bukan sekadar isu teknologi. Ini adalah isu ekonomi umat. Kalau kita hanya melihat, kita menjadi penonton. Kalau kita masuk, kita menjadi pelaku. Karena sesungguhnya: SPKL bukan sekadar fasilitas. SPKL adalah peluang usaha. SPKL-MU: Infrastruktur sebagai Simpul Ekonomi Baru SPKL sering dilihat sebagai fasilitas teknis tempat mengisi daya kendaraan listrik. Padahal kalau kita lihat lebih dalam, ini adalah: titik ekonomi. Satu SPKL-MU bisa menjadi tempat orang berhenti cukup lama: 10 menit untuk sepeda motor 60–90 menit untuk mobil listrik Dalam waktu itu, kebutuhan ekonomi muncul. Di sekitar SPKL-MU bisa tumbuh: warung makan kedai kopi minimarket bengkel jasa cuci kendaraan ruang istirahat komunitas UMKM Dengan kata lain: SPKL-MU adalah simpul ekonomi baru. Kalau kita mampu masuk ke sektor ini, maka kita tidak hanya menjadi pelaku UMKM. Kita menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi masa depan. Literasi Sejarah: Muhammadiyah Terbiasa Mengambil Risiko Kalau membaca sejarah satu abad Muhammadiyah, kita sebenarnya sudah terbiasa mengambil langkah besar. Kita pernah: Mengoreksi arah kiblat Mendirikan media Suara Muhammadiyah Membangun ribuan sekolah Mendirikan perguruan tinggi Mengembangkan rumah sakit Mengelola zakat dan filantropi Menetapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal Semua itu tidak lahir dari kenyamanan. Semua itu lahir dari keberanian. Artinya: secara kelembagaan, kita punya pengalaman perubahan. Dan benar kata pepatah: pengalaman adalah guru terbaik. Momentum Harus Diambil 🔥 Perubahan sedang terjadi. Mobil listrik sedang masuk. Energi listrik sedang berkembang. Ekosistem bisnis sedang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi: Apakah perubahan ini akan terjadi? Karena perubahan itu sudah terjadi. Pertanyaannya […]

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

MPM PWM Jawa Tengah Selenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026 Regional Banyumas

MPM PWM Jawa Tengah Selenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026 Regional Banyumas Menyiapkan “Kader yang Dirindukan” untuk Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Baturraden, 24 April 2026 Muhammadiyah di abad kedua terus memperluas bidang dakwah yang langsung menyentuh permasalahan rakyat. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi umat. Dalam kerangka tersebut, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menjadi salah satu ujung tombak gerakan dakwah Muhammadiyah yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat serta pengentasan berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat, Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Regional Banyumas Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Minggu, tanggal 24–26 April 2026, dengan pembukaan kegiatan dilaksanakan pada Jum’at, 24 April 2026, pukul 13.30 hingga 17.00 WIB, bertempat di Gedung Eduwisata Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Kabupaten Banyumas. Tantangan Kaderisasi dalam Program Pemberdayaan Dalam sambutannya, Ketua MPM PWM Jawa Tengah, Fathur Rahman, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat saat ini adalah masih terbatasnya jumlah kader yang bersedia terlibat secara aktif dalam kegiatan pemberdayaan. Menurut beliau, hingga saat ini masih cukup sulit menemukan kader Muhammadiyah yang siap terjun langsung dalam program pemberdayaan masyarakat, meskipun kebutuhan pendampingan masyarakat semakin meningkat. Beliau juga mencontohkan bahwa dalam pelaksanaan rapat kerja wilayah MPM Jawa Tengah, tingkat kehadiran peserta masih belum optimal, meskipun pertemuan telah dilaksanakan secara daring (online) yang seharusnya memberikan kemudahan bagi peserta dari berbagai daerah untuk hadir dan berpartisipasi. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bersama bahwa keberhasilan program pemberdayaan masyarakat sangat ditentukan oleh komitmen kader dalam menghadiri kegiatan, mengikuti proses pembelajaran, serta terlibat secara aktif dalam pendampingan masyarakat. Latar Belakang Penyelenggaraan SEKAM 2026 Kurangnya keterlibatan kader dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu latar belakang diselenggarakannya Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai program kaderisasi yang bertujuan menyiapkan kader-kader pemberdayaan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, serta komitmen untuk mendampingi masyarakat secara berkelanjutan. Menurut Fathur Rahman, MPM merupakan misi dakwah yang sangat strategis, karena menyentuh langsung permasalahan kehidupan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bentuk dakwah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat hampir tidak menimbulkan perdebatan khilafiyah, karena persoalan kemiskinan dan kesejahteraan merupakan persoalan universal yang membutuhkan solusi bersama. Pelaksanaan di Lingkungan Eduwisata BBPTUHPT Baturraden Pelaksanaan SEKAM Regional Banyumas Tahun 2026 memiliki keunikan tersendiri karena diselenggarakan tidak di gedung milik Muhammadiyah, melainkan di lingkungan Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden. Pemilihan lokasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual kepada peserta, khususnya dalam memahami potensi sektor riil yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti peternakan, pertanian, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Peserta dari Empat Daerah di Wilayah Banyumas Raya Kegiatan SEKAM 2026 Regional Banyumas diikuti oleh 47 peserta yang berasal dari empat daerah pimpinan Muhammadiyah di wilayah Banyumas Raya, yaitu: Kabupaten Banjarnegara Kabupaten Purbalingga Kabupaten Cilacap Kabupaten Banyumas Para peserta merupakan kader Muhammadiyah yang diharapkan mampu menjadi penggerak program pemberdayaan masyarakat di wilayah masing-masing. Harapan: Lahirnya Kader Pemberdayaan yang Siap Terjun ke Masyarakat Melalui kegiatan SEKAM 2026, MPM PWM Jawa Tengah berharap dapat melahirkan kader-kader pemberdayaan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan pendampingan, serta komitmen untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di akhir sambutannya, Fathur Rahman menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak kekurangan program pemberdayaan masyarakat. Namun, keberhasilan program tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan kader yang siap terjun langsung ke masyarakat. “Muhammadiyah membutuhkan kader yang mau hadir, mau belajar, dan mau bekerja bersama masyarakat,” tegasnya. Kegiatan SEKAM 2026 Regional Banyumas diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting dari dakwah Muhammadiyah di abad kedua.

Scroll to Top