Antarkita

Kuliner

Kuliner

Sate Promil: Ikhtiar Sehat dari Sate Kelinci Kang Dako

Sate Promil: Ikhtiar Sehat dari Sate Kelinci Kang Dako Di tengah menjamurnya kuliner populer seperti sate ayam dan sate kambing, ada satu pilihan yang masih terbilang langka di Purwokerto: sate kelinci. Bukan sekadar langka, sate ini juga kerap hanya dipandang sebagai kuliner unik yang memancing rasa penasaran. Namun di tangan Kang Dako, sate kelinci justru menemukan makna yang lebih dalam—bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal harapan. Lebih dari lima tahun Kang Dako menekuni kuliner yang tidak banyak dilirik orang. Bertahan di ceruk pasar yang sempit tentu bukan perkara mudah. Banyak yang bertanya, mengapa masih bertahan menjual sate kelinci, ketika pasar sate ayam dan kambing jauh lebih besar? Jawabannya ternyata sederhana, tapi sarat makna. Hampir 70 persen pelanggan Kang Dako adalah pasangan yang sedang menjalani program hamil (promil). Dari sinilah lahir sebutan yang kini melekat kuat: Sate Promil. Dari Hewan Menggemaskan, Menjadi Sumber Gizi Siapa sangka, hewan yang dikenal lucu dan menggemaskan ini menyimpan manfaat luar biasa bagi kesehatan. Daging kelinci memang belum sepopuler ayam atau sapi, namun dari sisi gizi, ia justru unggul. Tekstur dagingnya menyerupai ayam, dengan rasa yang gurih dan ringan. Diolah menjadi sate, daging kelinci menjadi santapan lezat sekaligus bernutrisi. Tak heran jika perlahan ia memiliki penggemar setia, terutama mereka yang peduli pada kesehatan dan perencanaan kehamilan. Kaya Protein, Rendah Lemak Daging kelinci dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan berkualitas, serta mudah dicerna tubuh. Kandungan lemaknya pun jauh lebih rendah dibandingkan daging merah lainnya. Dalam 100 gram daging kelinci, hanya terdapat sekitar 3,5 gram lemak, jauh di bawah daging sapi yang mencapai hampir 20 gram. Inilah yang membuat daging kelinci cocok dikonsumsi bagi mereka yang ingin menjaga berat badan, tanpa harus mengorbankan asupan protein harian. Manfaat Nyata untuk Program Hamil (Promil) Manfaat sate kelinci untuk promil bukan sekadar mitos turun-temurun. Daging kelinci mengandung berbagai mineral esensial seperti potasium, selenium, zat besi, kalsium, dan vitamin B12. Potasium dan selenium berperan dalam membantu produksi sperma. Zat besi mendukung pembentukan sel darah merah. Kalsium penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Vitamin B12 berperan besar dalam menjaga kesehatan otak dan sistem saraf. Asam lemak omega-3 membantu menjaga kesehatan jantung dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Bahkan, sebuah penelitian dari International Journal of Pharmacy & Biomedical Research menyebutkan bahwa daging kelinci memiliki nilai gizi yang setara dengan ikan, sekaligus rendah kalori dan kolesterol. Meluruskan Mitos yang Salah Kaprah Di masyarakat masih beredar mitos bahwa mengonsumsi daging kelinci dapat menyebabkan bayi lahir dengan bibir sumbing atau celah langit-langit. Faktanya, tidak ada satu pun penelitian ilmiah yang membuktikan klaim tersebut. Bibir sumbing terjadi akibat gangguan proses fusi jaringan embrio pada usia kehamilan 3–8 minggu, yang dipengaruhi faktor genetik, infeksi virus, obat-obatan, gangguan hormon, defisiensi nutrisi, hingga pencemaran lingkungan—bukan karena konsumsi daging kelinci. Sebaliknya, daging kelinci justru mudah dicerna, rendah kolesterol, kaya lesitin, zat penting bagi perkembangan jaringan saraf dan otak, sehingga aman dan baik dikonsumsi, termasuk oleh ibu hamil. Bertahan dengan Keyakinan dan Pelanggan Setia Kini, Kang Dako tidak hanya mengandalkan penjualan offline. Sebagian besar pesanan datang melalui jalur online, membuktikan bahwa kuliner sehat berbasis kepercayaan dan manfaat nyata memiliki pasarnya sendiri. Sate kelinci mungkin belum menjadi konsumsi harian masyarakat luas. Namun bagi mereka yang sedang berikhtiar menghadirkan kehidupan baru, Sate Promil Kang Dako bukan sekadar makanan—melainkan bagian dari doa, usaha, dan harapan. SiS, Antarkita

Info Wisata, Kabarkita, Kuliner, Ruang Kita

Wedang Banteng, Minuman Herbal Penjaga Daya Tahan Tubuh dari Banyumas

Wedang Banteng, Minuman Herbal Penjaga Daya Tahan Tubuh dari Banyumas Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, manusia modern sering kali lupa bahwa kesehatan sejatinya bersumber dari alam. Ketika pola hidup instan mulai menggerus keseimbangan tubuh, kesadaran untuk kembali pada rempah-rempah Nusantara pun tumbuh kembali. Minuman botanikal—sebagaimana didefinisikan oleh BPOM RI sebagai minuman yang dihasilkan dari pencampuran air minum dengan bagian tanaman atau sari herba—kini menjelma bukan hanya sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai solusi kesehatan masa kini. Dari lereng-lereng perdesaan Banyumas, tepatnya di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, lahirlah sebuah produk herbal yang menggabungkan tradisi, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi lokal: Wedang Banteng. Produk ini dirintis oleh Dasilah Rachmawati, seorang pelaku UMKM perempuan yang dengan ketekunan dan visi panjang mampu mengangkat kekayaan rempah Banyumas ke tingkat yang lebih bermartabat. Dari Dapur Rumah ke Ikhtiar Kesehatan Masyarakat Wedang Banteng mulai diproduksi sejak tahun 2017. Awalnya, usaha ini berangkat dari kebutuhan sederhana: menyediakan minuman herbal yang aman, berkhasiat, dan dapat dikonsumsi setiap hari oleh keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, Bu Dasilah melihat peluang yang lebih besar. Rempah-rempah lokal yang melimpah, jika diolah dengan baik, bukan hanya menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka lapangan usaha dan memperkuat ekonomi desa. Nama “Wedang Banteng” dipilih sebagai simbol kekuatan, ketahanan, dan semangat pantang menyerah. Sebuah filosofi yang sejalan dengan harapan produknya: menjaga daya tahan tubuh dan memberi energi bagi siapa pun yang mengonsumsinya. Ragam Produk: Tradisi yang Dikemas Modern Wedang Banteng menghadirkan dua jenis minuman herbal utama, yakni Wedang Uwuh dan Teh Celup Herbal, yang keduanya diracik dari sembilan jenis rempah pilihan. Jumlah ini menjadikan Wedang Banteng lebih kaya rasa dan khasiat dibandingkan produk herbal sejenis. 1. Wedang Uwuh Wedang Banteng Wedang Uwuh diproduksi dalam berbagai kemasan, menyesuaikan kebutuhan konsumen: Cup Pouch Plastik Goody bag Setiap kemasan Wedang Uwuh sudah dilengkapi gula batu, sehingga praktis dan siap seduh. Perpaduan rempah-rempah menghasilkan rasa hangat, segar, dan menenangkan, cocok dikonsumsi di berbagai suasana. 2. Teh Celup Herbal Wedang Banteng Teh herbal ini dikemas dalam bentuk tea bag berisi lima gram rempah halus. Setiap tea bag kemudian dikemas dalam aluminium foil untuk menjaga kesegaran, dimasukkan ke box karton, dan disampul plastik pres agar lebih rapi dan higienis. Dari Petani Lokal hingga Produk Bernilai Tinggi Salah satu keunggulan utama Wedang Banteng terletak pada rantai pasoknya yang berkeadilan. Seluruh bahan rempah diperoleh langsung dari petani-petani lokal di sekitar Desa Sumbang. Pola ini tidak hanya menjamin kualitas bahan baku, tetapi juga menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguatkan. “Dengan mengambil rempah langsung dari petani, kami bisa memesan bahan yang sudah cukup umur. Rempah yang cukup umur akan menghasilkan rasa lebih kuat dan segar jika diolah secara higienis,” ungkap Bu Dasilah. Setelah rempah datang, proses produksi dilakukan secara berlapis dan penuh kehati-hatian. Rempah ditimbang, dicuci bersih, dirajang, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga kering sempurna. Untuk memastikan higienitas, rempah-rempah kemudian dioven sebelum disimpan dalam toples-toples sesuai jenisnya. Racikan Tradisional, Nilai Modern Peracikan Wedang Banteng mempertahankan cara-cara tradisional yang diwariskan turun-temurun. Khusus untuk teh celup herbal, sembilan jenis rempah dicampur dan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu. Proses manual ini diyakini mampu menjaga karakter rasa dan aroma alami rempah. Rempah halus kemudian ditimbang secara presisi, masing-masing lima gram, dimasukkan ke kantong teh celup, direkatkan dengan sealer, lalu dikemas berlapis hingga siap dipasarkan. Seluruh tahapan dilakukan secara higienis, menggabungkan kearifan lokal dengan standar produksi modern. Pemasaran: Dari Banyumas ke Dunia Meski berakar kuat di Banyumas, Wedang Banteng tidak membatasi langkahnya hanya di pasar lokal. Produk ini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, hingga ke luar Jawa. Bahkan, menurut pengakuan Bu Dasilah, Wedang Banteng mulai dilirik oleh calon suplier dari negara-negara Eropa yang tertarik pada produk herbal alami berbasis rempah Nusantara. Untuk memperluas jangkauan, Wedang Banteng juga dipasarkan secara daring melalui platform e-commerce seperti Shopee dan Blibli, sehingga mudah diakses oleh konsumen dari berbagai wilayah. Saat ini, kapasitas produksi Wedang Banteng mencapai sekitar 3.000 pcs untuk masing-masing produk Wedang Uwuh dan Teh Celup Herbal. Dengan dukungan peralatan produksi yang lebih modern, kapasitas ini diharapkan dapat terus ditingkatkan. Harga, Daya Simpan, dan Legalitas Wedang Uwuh: Rp 60.000 per pack (isi 10 bungkus) Teh Celup Herbal: Rp 42.500 per dus (isi 10 tea bags) Diproses secara tradisional namun higienis, Wedang Banteng memiliki masa simpan hingga satu tahun atau lebih, tanpa mengurangi cita rasa dan khasiatnya. Sebagai produk yang bertanggung jawab, Wedang Banteng telah mengantongi dokumen legalitas lengkap, mulai dari NIB, PIRT, Sertifikat Halal, hingga BPOM, sehingga aman dan terpercaya bagi konsumen. Menyemai Kesehatan, Menumbuhkan Harapan Bagi Bu Dasilah, Wedang Banteng bukan sekadar usaha. Ia adalah medium dakwah kesehatan, pemberdayaan ekonomi desa, dan pelestarian warisan rempah Nusantara. Dengan rasa yang segar, manis alami, dan berkhasiat, Wedang Banteng diharapkan mampu menarik minat generasi muda agar kembali mencintai minuman herbal sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Dari tangan-tangan petani Banyumas, rempah diolah dengan cinta dan ketekunan. Dari dapur sederhana, lahir minuman herbal yang menghangatkan tubuh dan menguatkan daya tahan. Wedang Banteng membuktikan bahwa usaha lokal, jika dikelola dengan visi, mampu berdiri sejajar di pasar nasional bahkan global. Alamat Produksi Wedang Banteng: Jl. Kyai Panumbang,Desa Sumbang,Kecamatan Sumbang,Banyumas, Jawa Tengah

Kuliner, Prespektif, Ruang Kita

Muhammadiyah Luncurkan MieMu: Ikhtiar Peradaban Menuju Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Umat

Muhammadiyah Luncurkan MieMu: Ikhtiar Peradaban Menuju Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Umat Ketergantungan umat Islam terhadap suplai kebutuhan hidup dari pihak luar masih menjadi persoalan serius hingga hari ini. Mulai dari produk kebutuhan dapur sebagai penopang pangan keluarga, kebutuhan sumur dan sanitasi yang berkaitan dengan kamar mandi, hingga kebutuhan sekunder dan tersier lainnya, sebagian besar masih bergantung pada sistem produksi dan distribusi yang tidak sepenuhnya dikuasai umat sendiri. Ketergantungan ini bukan sekadar persoalan konsumsi, tetapi menyangkut kemandirian ekonomi, daya tawar sosial, dan arah masa depan umat. Ketika kebutuhan paling dasar—makan, kebersihan, dan kesehatan—dikendalikan pihak lain, maka umat berada pada posisi yang rentan dan mudah terombang-ambing oleh kepentingan pasar. Muhammadiyah membaca persoalan ini sebagai tantangan peradaban. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak hanya hadir dalam dakwah lisan, pendidikan, dan pelayanan sosial, tetapi juga menjadikan kemandirian ekonomi sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan. Karena dakwah yang kuat membutuhkan fondasi ekonomi yang kokoh, dan peradaban yang berdaulat hanya mungkin terwujud jika umat mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Dari Dapur Umat Menuju Kedaulatan Pangan Di tengah pesatnya inovasi dan persaingan industri mi instan, sebuah kesadaran baru lahir: pangan tidak boleh hanya dikuasai oleh logika pasar semata, tetapi harus berpihak pada kesehatan, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Dari kesadaran inilah Muhammadiyah melangkah lebih jauh. Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surakarta meluncurkan MieMu, produk mi instan yang membawa misi lebih besar dari sekadar bisnis. MieMu hadir sebagai upaya nyata membangun kedaulatan pangan umat, dimulai dari produk dapur yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Berbeda dengan mi instan pada umumnya, MieMu menggunakan bahan dasar tepung singkong atau modified cassava flour (mocaf). Pilihan ini mencerminkan keberpihakan pada pangan lokal dan kesehatan konsumen. Mocaf dikenal lebih rendah gula, bebas gluten, dan lebih ramah bagi tubuh, sekaligus menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor. Ketua MEK PDM Surakarta, Umar Hasyim, menyampaikan bahwa kebutuhan akan mi sehat semakin luas seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. “Keinginan menyediakan pangan yang sehat, berkualitas, dan terjangkau untuk masyarakat inilah yang menjadi dasar pemikiran awal lahirnya MieMu,” ujarnya. MieMu: Bisnis Bernilai, Dakwah Nyata Sekretaris Pelaksana sekaligus PIC MieMu, Nurul Khawari, menjelaskan bahwa ide bisnis ini berangkat dari kegelisahan kolektif di masa pandemi COVID-19. Saat banyak sektor ekonomi melemah, Muhammadiyah justru memikirkan usaha produktif yang mampu menghidupkan jejaring ekonomi umat dan memberi harapan baru. “Proses lahirnya MieMu cukup panjang, lebih dari enam bulan. Dimulai dari uji rasa bersama pimpinan Muhammadiyah, lalu perumusan model bisnis, produksi, hingga jaringan distribusi,” jelas Nurul. MieMu lahir bukan dari keputusan instan, melainkan dari proses kolektif yang matang dan terukur. Respons pasar pun di luar dugaan. Meski masih dalam tahap soft launching, permintaan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Lebih dari 2.000 orang mendaftar sebagai agen, dan sekitar 1.500 di antaranya telah aktif. Minat juga datang dari Sudan, Amerika, Malaysia, dan beberapa negara Afrika. Namun, MEK PDM Surakarta memilih langkah bertahap. Distribusi awal difokuskan di Solo Raya dan Jawa Tengah, kemudian diperluas ke Pulau Jawa sebelum menjangkau wilayah lain. Prinsipnya jelas: membangun fondasi produksi dan jaringan bisnis yang sehat, tertata, dan berkelanjutan. Dari Mi Instan ke Ekosistem Kebutuhan Umat Saat ini, MieMu tersedia dalam tiga varian—mi goreng, mi rebus rasa soto mi, dan mi rebus rasa ayam bawang—tanpa MSG, sehingga lebih aman dikonsumsi, termasuk oleh anak-anak. Namun MieMu sejatinya adalah pintu masuk menuju visi yang lebih besar. Muhammadiyah berharap, ke depan akan lahir berbagai produk lain untuk memenuhi kebutuhan dapur, kebutuhan sumur dan sanitasi yang berkaitan dengan kamar mandi, hingga kebutuhan sekunder dan tersier umat. Semua dibangun dalam satu ekosistem ekonomi yang berkeadilan, sehat, dan berpihak pada kemaslahatan bersama. MieMu bukan sekadar mi instan. Ia adalah simbol bahwa kemandirian itu mungkin, bahwa umat mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan bahwa dari dapur sederhana bisa tumbuh kekuatan ekonomi yang menopang dakwah dan peradaban. Karena kedaulatan pangan bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi tentang siapa yang menguasai produksi, dan untuk siapa kemakmuran itu diperjuangkan. SiS, Antarkita

Info Wisata, Kabarkita, Kuliner, Prespektif, Ruang Kita

Kesehatan dan Kenangan: Mandi Uap Ala Kuda di Baturraden

Kesehatan dan Kenangan: Mandi Uap Ala Kuda di Baturraden Perjalanan menuju Baturraden selalu menyimpan cerita. Di antara deretan pepohonan dan lalu lintas yang mengalir menuju kawasan wisata, berdiri sebuah patung kuda di pinggir jalan raya. Tepatnya sekitar seratus meter di selatan Kantor Kecamatan dan Polsek Baturraden. Satu-satunya patung kuda di sepanjang jalur ini, sekaligus penanda sebuah tempat terapi yang telah menjadi bagian dari ingatan banyak orang: Mandi Uap Ala Kuda. Patung kuda itu bukan sekadar penunjuk lokasi, melainkan simbol dari sebuah ikhtiar kesehatan yang berpijak pada kearifan lokal. Di tempat inilah mandi uap dilakukan dengan cara yang berbeda. Bukan sauna modern dengan mesin dan ruang tertutup rapat, melainkan mandi uap yang memanfaatkan rebusan rempah-rempah alami. Uap hangat yang mengepul membawa aroma herbal, menghadirkan rasa tenang dan kehangatan yang menyelimuti tubuh. Berbicara soal manfaat, mandi uap ala Kuda dikenal luas oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya untuk vertigo dan diabetes, terapi ini juga dipercaya membantu meredakan berbagai keluhan lain, seperti stroke, darah tinggi, asam urat, gangguan ginjal, hingga keluhan vitalitas. Namun lebih dari itu, tempat ini menyimpan nilai sosial. Ia hadir bukan semata untuk keuntungan, tetapi sebagai ruang berbagi harapan bagi mereka yang datang dengan tubuh letih dan pikiran penuh beban. Terapi ini terbuka untuk semua usia. Bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga mereka yang telah sepuh dipersilakan menjalani mandi uap dengan pendampingan. Banyak kisah sederhana yang tumbuh di sini. Anak-anak yang batuk atau masuk angin, misalnya, sering kali merasa lebih baik setelah mandi uap dan diberi rempah. “Alhamdulillah sembuh,” begitu ungkapan syukur yang kerap terdengar. Pak Sugeng, sang pemilik, selalu mengingatkan bahwa semua kesembuhan tetaplah atas pertolongan Allah SWT. Selain fasilitas mandi uap, Pak Sugeng juga menyediakan aneka minuman rempah untuk menunjang kesehatan para pengunjung. Ada susu jahe yang menghangatkan tubuh, wedang uwuh dengan aroma khas, hingga jamu khusus perempuan. Semua rempah diracik sendiri, berasal dari tumbuhan alami, dan dikeringkan dengan panas matahari. Dari tangannya lahir sebelas jenis rempah, sebagian digunakan sebagai minuman kesehatan, sebagian lainnya menjadi bahan utama mandi uap. “Ini semua hasil produk saya sendiri, dan di sini ada sebelas macam,” tutur Pak Sugeng dengan nada sederhana, namun penuh keyakinan. Tata cara mandi uap pun dijaga dengan disiplin. Sebelas rempah direbus hingga menghasilkan uap, lalu uap tersebut diratakan ke seluruh tubuh pelanggan. Proses ini tidak boleh berlangsung lebih dari lima menit. Setelah waktu terpenuhi, penjaga akan mengingatkan pelanggan untuk keluar dari ruang mandi uap demi menjaga keamanan dan kenyamanan. Menariknya, tempat terapi ini menyatu dengan warung makan bernama Godong Suwek. Warung berbentuk joglo ini menghadirkan suasana seperti ruang keluarga dan ruang tamu. Duduk lesehan, hangat, dan akrab, sangat cocok untuk makan bersama keluarga maupun teman. Tersedia pula bangunan joglo lain dengan panggung lesehan yang terasa lebih santai, menjadikannya ruang ideal untuk beristirahat setelah terapi. Perpaduan antara tempat terapi dan rumah makan keluarga menjadikan Mandi Uap Ala Kuda lebih dari sekadar destinasi kesehatan. Ia adalah ruang rehat, ruang kenangan, dan ruang kebersamaan. Di sanalah orang-orang berhenti sejenak, menghangatkan tubuh, berbagi cerita, dan pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Di tengah jalur Baturraden yang terus bergerak, Mandi Uap Ala Kuda hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan tidak selalu harus rumit. Kadang, ia cukup datang dari uap rempah, kesederhanaan, dan kehangatan yang ditawarkan dengan tulus. SiS Antarkita Reservasi 0851-2262-5529

Kuliner

Pisang Kembung Gus Pur, Camilan yang Bikin Gak Berhenti Ngunyah

Pisang Kembung Gus Pur, Camilan yang Bikin Gak Berhenti Ngunyah Ada kalanya kita hanya ingin camilan sederhana, tapi rasanya bisa bikin senyum muncul tanpa sadar. Pisang Kembung Gus Pur hadir dari dapur rumahan dengan rasa manis dan gurih yang pas, menghadirkan sensasi renyah di luar namun lembut di dalam. Sekali gigit, tangan rasanya ingin terus mengambil potongan berikutnya. Camilan ini pas dinikmati di berbagai suasana. Saat sore santai, menemani obrolan keluarga, atau jadi teman setia saat rebahan. Rasanya ringan, tidak bikin enek, tapi justru bikin sulit berhenti mengunyah. Inilah kelezatan jajanan tradisional yang tetap relevan di segala zaman. Pisang kembung juga menjadi pilihan tepat bagi pecinta olahan pisang yang praktis dan tidak ribet. Dengan resep yang sederhana dan antigagal, siapa pun sebenarnya bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah. Namun, bagi kamu yang sedang mager atau ingin langsung menikmati tanpa repot, Gus Pur siap melayani pesanan secara online.   Menariknya, Pisang Kembung Gus Pur hadir dengan banyak pilihan rasa. Mulai dari original, cokelat, keju, tiramisu, hingga matcha. Ada juga varian spesial dua topping serta pilihan custom sesuai selera, jadi setiap orang bisa menemukan rasa favoritnya. Soal harga, tak perlu khawatir. Dengan harga mulai 7 ribu rupiah, camilan nikmat ini ramah di kantong siapa saja. Jika ingin datang langsung, kamu bisa menemukan Pisang Kembung Gus Pur di 📍 Perumahan Kedungwaringin Blok B No. 123 Atau lebih praktis lagi, lakukan delivery order secara online melalui: 👉 antarkita.com Pisang Kembung Gus Pur bukan sekadar camilan, tapi teman kecil yang menghadirkan rasa hangat di setiap momen. 🍌✨

Scroll to Top