Sadar Diri

Sadar Diri

Oleh SiS Antarkita

Banyak orang berbicara tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Berbagai buku, seminar, pelatihan, dan motivasi mengajarkan bagaimana seseorang harus memahami potensi, karakter, kelebihan, dan kekurangannya.

Semua itu baik dan bermanfaat.

Namun ada satu bentuk pengenalan diri yang jauh lebih mendasar, jauh lebih penting, dan menjadi fondasi dari seluruh kehidupan manusia, yaitu mengenal diri sebagai makhluk Allah SWT.

Ironisnya, banyak manusia mengenal hampir segala sesuatu tentang dirinya, tetapi tidak mengenal hakikat dirinya.

Ia tahu siapa orang tuanya.

Ia tahu riwayat pendidikannya.

Ia tahu pekerjaannya.

Ia tahu status sosialnya.

Ia tahu berapa penghasilannya.

Ia tahu bagaimana orang lain memandang dirinya.

Tetapi ia lupa menjawab pertanyaan yang paling mendasar:

“Siapakah aku di hadapan Allah SWT?”

Akibatnya, banyak manusia menjalani kehidupan hanya berdasarkan ukuran-ukuran dunia.

Mereka menilai dirinya berdasarkan jabatan.

Mereka menilai dirinya berdasarkan kekayaan.

Mereka menilai dirinya berdasarkan popularitas.

Mereka menilai dirinya berdasarkan pengakuan manusia.

Ketika mendapatkan pujian, mereka merasa besar.

Ketika mendapatkan penghormatan, mereka merasa istimewa.

Ketika mendapatkan kedudukan, mereka merasa lebih tinggi daripada yang lain.

Sebaliknya, ketika kehilangan pekerjaan, kehilangan harta, kehilangan jabatan, atau kehilangan penghargaan dari manusia, mereka merasa dirinya tidak lagi berharga.

Semua itu terjadi karena mereka mengenal dirinya hanya sebagai manusia dalam pandangan manusia.

Mereka lupa bahwa sebelum menjadi apa pun di dunia ini, mereka adalah makhluk Allah SWT.

Padahal kesadaran sebagai makhluk Allah adalah sumber ketenangan yang luar biasa.

Allah SWT berfirman:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menjelaskan tujuan utama keberadaan manusia. Kita tidak diciptakan untuk mengejar pujian manusia. Kita tidak diciptakan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya penghargaan dunia.

Kita diciptakan untuk menjadi hamba Allah.

Ketika seseorang lupa bahwa dirinya adalah hamba dan makhluk Allah, maka ia mudah terjatuh pada dua penyakit hati yang berlawanan tetapi sama berbahayanya: takabur saat mendapatkan nikmat dan putus asa saat mendapatkan musibah.

Takabur Ketika Mendapatkan Kenikmatan

Ketika bisnis berkembang, ia merasa itu semata-mata karena kecerdasannya.

Ketika karier naik, ia merasa itu semata-mata karena kerja kerasnya.

Ketika hidupnya lebih baik daripada orang lain, ia merasa lebih hebat daripada orang lain.

Sedikit demi sedikit, rasa syukur berubah menjadi kesombongan.

Ia lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah.

Padahal sebelum sukses, ia tidak mampu menentukan di keluarga mana ia lahir.

Ia tidak mampu menentukan kecerdasan yang dimilikinya.

Ia tidak mampu menentukan kesehatan yang dimilikinya.

Ia tidak mampu menentukan kesempatan yang datang kepadanya.

Semua itu adalah pemberian Allah SWT.

Allah berfirman:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).”

(QS. An-Nahl: 53)

Orang yang sadar dirinya sebagai makhluk Allah tidak akan mudah sombong.

Semakin besar nikmat yang diterimanya, semakin besar pula rasa syukurnya.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin sadar bahwa dirinya hanyalah penerima amanah dari Allah.

Putus Asa Ketika Mendapatkan Musibah

Sebaliknya, ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan, banyak manusia terjatuh ke jurang keputusasaan.

Mereka merasa masa depannya sudah berakhir.

Mereka merasa tidak ada lagi jalan keluar.

Mereka merasa Allah telah meninggalkan mereka.

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka terlalu bergantung kepada kemampuan dirinya sendiri.

Ketika sandaran itu runtuh, mereka ikut runtuh.

Orang yang sadar dirinya sebagai makhluk Allah tidak akan mudah putus asa.

Bukan karena hidupnya lebih mudah.

Bukan karena masalahnya lebih sedikit.

Tetapi karena ia mengenal Rabb yang disembahnya.

Ia yakin bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada masalah yang sedang dihadapinya.

Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Yusuf: 87)

Bagi seorang mukmin, jalan keluar mungkin belum terlihat, tetapi pertolongan Allah selalu ada.

Harapan boleh tertunda, tetapi rahmat Allah tidak pernah berhenti.

Sadar Diri Sebagai Makhluk Allah

Ketika seseorang benar-benar sadar bahwa dirinya adalah makhluk Allah, maka cara pandangnya terhadap kehidupan berubah.

Ia menyadari bahwa dirinya lemah, sehingga ia banyak berdoa.

Ia menyadari bahwa dirinya terbatas, sehingga ia banyak bertawakal.

Ia menyadari bahwa dirinya penuh kekurangan, sehingga ia banyak beristighfar.

Ia menyadari bahwa dirinya menerima banyak nikmat, sehingga ia banyak bersyukur.

Ia tidak lagi merasa paling hebat ketika berhasil.

Ia juga tidak merasa paling malang ketika gagal.

Karena ia memahami bahwa hidup ini bukan tentang dirinya semata, melainkan tentang hubungan dirinya dengan Allah SWT.

Merasa Selalu Dalam Penjagaan Allah

Kesadaran sebagai makhluk Allah melahirkan perasaan yang menenangkan hati.

Ia merasa selalu dilindungi Allah.

Bukan berarti hidupnya bebas dari ujian, tetapi ia yakin tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa izin Allah.

Ia merasa selalu diberi hidayah.

Setiap kali tersesat, Allah membukakan jalan kembali.

Setiap kali salah, Allah membuka pintu taubat.

Ia merasa selalu diawasi Allah.

Karena itu ia berusaha menjaga perkataan, menjaga amanah, dan menjaga perbuatannya.

Ia merasa selalu dijaga Allah.

Saat manusia meninggalkannya, Allah tetap bersamanya.

Saat manusia tidak memahami dirinya, Allah mengetahui isi hatinya.

Saat manusia tidak mampu menolongnya, Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas.

Ia merasa selalu dijamin Allah.

Bukan dijamin menjadi kaya.

Bukan dijamin selalu mudah.

Tetapi dijamin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang beriman kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”

(QS. At-Talaq: 3)

Penutup

Sadar diri bukan sekadar mengetahui kelebihan dan kekurangan diri.

Sadar diri yang paling hakiki adalah menyadari bahwa kita adalah makhluk Allah SWT.

Makhluk yang hidup karena rahmat-Nya.

Makhluk yang bernapas karena izin-Nya.

Makhluk yang berjalan karena pertolongan-Nya.

Makhluk yang tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang Allah titipkan kepadanya.

Ketika kesadaran itu tumbuh, kita tidak akan sombong ketika diberi nikmat.

Kita juga tidak akan putus asa ketika diuji.

Karena kita memahami bahwa hidup ini seluruhnya berada dalam genggaman Allah SWT.

Maka selama Allah masih menjadi tempat bergantung, selama Allah masih menjadi tempat berharap, selama Allah masih menjadi tujuan hidup, tidak ada alasan untuk takabur ketika lapang dan tidak ada alasan untuk putus asa ketika sempit.

Sadarilah siapa diri kita. Kita hanyalah makhluk Allah. Dan justru dalam kesadaran itulah terdapat kemuliaan, ketenangan, dan kebahagiaan yang sejati.

Tinggalkan Balasan