You are currently viewing Keinginan Milik Kita, Ketetapan Milik Allah SWT

Keinginan Milik Kita, Ketetapan Milik Allah SWT

Keinginan Milik Kita, Ketetapan Milik Allah SWT

Oleh SiS Antarkita

Sejak manusia dilahirkan, Allah SWT telah menanamkan berbagai keinginan dalam dirinya.

Kita ingin hidup sehat. Kita ingin memiliki keluarga yang bahagia. Kita ingin rezeki yang lapang. Kita ingin usaha berhasil. Kita ingin dihormati. Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan sukses.

Bahkan hampir setiap hari muncul keinginan-keinginan baru yang memenuhi pikiran kita.

Memiliki keinginan bukanlah sebuah kesalahan. Keinginan adalah fitrah manusia. Dengan adanya keinginan, manusia terdorong untuk belajar, bekerja, berusaha, berdoa, dan terus memperbaiki diri.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan.

Kita hanya memiliki keinginan, sedangkan yang menentukan adalah Allah SWT.

Sering kali kita mengira bahwa keberhasilan bergantung pada kecerdasan, pengalaman, relasi, modal, atau kerja keras. Padahal semua itu hanyalah sebab yang Allah SWT ciptakan. Hasil akhirnya tetap berada dalam ilmu, hikmah, dan kehendak-Nya.

Bila Allah SWT menghendaki, sesuatu yang tampak mustahil dapat menjadi kenyataan.

Sebaliknya, bila Allah SWT belum menghendaki, sesuatu yang tampaknya sudah berada di depan mata pun dapat hilang dalam sekejap.

Karena itulah seorang mukmin tidak menggantungkan kebahagiaannya pada tercapai atau tidaknya keinginan, tetapi menggantungkan hatinya kepada Allah SWT.

1. Bersyukurlah ketika keinginan kita dikabulkan.

Saat doa dikabulkan, usaha berhasil, atau cita-cita tercapai, jangan biarkan hati merasa bahwa semua itu adalah hasil kemampuan diri semata.

Betapa banyak orang yang lebih pintar tetapi belum berhasil. Betapa banyak orang yang lebih kuat berusaha tetapi belum memperoleh hasil.

Semua keberhasilan adalah rahmat Allah SWT.

Syukur akan menjaga nikmat menjadi keberkahan.

Syukur akan melahirkan kerendahan hati.

Syukur akan membuat kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah SWT, kita tidak memiliki apa-apa.

2. Bersyukurlah ketika keinginan kita tidak dikabulkan.

Inilah bentuk syukur yang paling sulit. Ketika doa belum terjawab. Ketika usaha belum berhasil.Ketika harapan belum menjadi kenyataan.

Saat itulah iman benar-benar diuji.

Kita harus yakin bahwa Allah SWT tidak pernah salah memilihkan jalan bagi hamba-Nya.

Boleh jadi kita meminta sesuatu yang tampak baik, padahal di baliknya terdapat keburukan yang tidak kita ketahui.

Boleh jadi Allah SWT menunda karena sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik.

Boleh jadi Allah SWT mengganti keinginan kita dengan pahala, ampunan, perlindungan dari musibah, atau derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya.

Sebagai hamba, kita tidak mengetahui masa depan. Tetapi Allah SWT mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

Karena itu, ketika keinginan tidak terkabul, jangan kecewa kepada Allah SWT.

Tetaplah bersyukur karena pilihan Allah SWT selalu lebih sempurna daripada pilihan manusia.

3. Bersyukurlah atas rahmat Allah SWT hari ini.

Manusia sering sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.

Padahal jauh lebih banyak nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Masih bisa bernapas.Masih diberi iman. Masih diberi kesempatan bertaubat. Masih memiliki keluarga. Masih bisa bekerja. Masih mampu bersujud.

Semua itu adalah rahmat yang tidak ternilai.

Lihatlah mereka yang sedang diuji lebih berat.

Ada yang kehilangan penglihatan. Ada yang kehilangan keluarga. Ada yang bertahun-tahun berjuang melawan penyakit. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang hidup dalam peperangan dan kelaparan.

Bukan untuk membandingkan penderitaan, tetapi agar hati tidak kufur terhadap nikmat yang masih Allah SWT limpahkan.

Semakin banyak bersyukur, semakin tenang hati menerima kehidupan.

4. Teruslah berharap kepada rahmat Allah SWT yang tidak terbatas.

Jangan pernah mengatakan, “Hidupku sudah terlambat.”

Jangan pernah berkata, “Tidak ada harapan lagi.”

Selama napas masih ada, rahmat Allah SWT masih terbuka.

Rahmat Allah SWT lebih besar daripada dosa. Lebih luas daripada kegagalan. Lebih tinggi daripada rasa takut. Lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

Pertolongan Allah SWT bisa datang melalui jalan yang sama sekali tidak pernah kita rencanakan.

Karena itu, jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti berikhtiar. Jangan berhenti memperbaiki diri. Dan jangan pernah berhenti berharap kepada Allah SWT.

5. Kembalilah kepada tujuan utama manusia diciptakan.

Kesalahan terbesar manusia adalah menjadikan keinginan sebagai tujuan hidup. Padahal Allah SWT tidak menciptakan manusia untuk mengejar dunia.

Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.

Pekerjaan adalah ibadah. Keluarga adalah ibadah. Belajar adalah ibadah.Mencari nafkah adalah ibadah. Menolong sesama adalah ibadah.

Bahkan kesabaran dalam menghadapi ujian pun merupakan ibadah.

Jika tujuan hidup adalah ibadah, maka setiap keadaan menjadi bernilai.

Saat berhasil, kita bersyukur. Saat gagal, kita bersabar. Saat kaya, kita berbagi. Saat sempit, kita tetap bertawakal.

Seluruh hidup berubah menjadi ladang amal.

6. Mewujudkan keinginan bukanlah sebuah kewajiban.

Allah SWT tidak akan bertanya mengapa semua cita-cita kita tidak tercapai.

Yang Allah SWT tanyakan adalah bagaimana kita menjalani prosesnya.

Apakah kita jujur? Apakah kita menjaga kehalalan? Apakah kita tetap shalat? Apakah kita tetap sabar? Apakah kita tetap berbuat baik kepada sesama?

Keberhasilan bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah SWT.

Ketaatanlah yang menjadi ukuran.

Karena itu, jangan merasa gagal hanya karena keinginan belum menjadi kenyataan.

Selama kita berada di jalan yang Allah SWT ridhai, sesungguhnya kita sedang menuju keberhasilan yang hakiki.

7. Luruskan niat dalam setiap keinginan.

Setiap keinginan hendaknya diawali dengan pertanyaan,

“Apakah keinginan ini akan mendekatkanku kepada Allah SWT?”

Jika jawabannya ya, maka lanjutkan dengan ikhtiar terbaik.

Jika hanya untuk memuaskan hawa nafsu, mengejar pujian manusia, atau membanggakan diri, maka luruskan kembali niat tersebut.

Jadikan setiap impian sebagai jalan untuk memperbanyak manfaat.

Menjadi kaya agar lebih banyak bersedekah.

Menjadi pemimpin agar lebih banyak melayani.

Menjadi berilmu agar lebih banyak mengajarkan kebaikan.

Menjadi sehat agar lebih banyak beribadah.

Dengan niat seperti itu, setiap langkah akan bernilai ibadah, bahkan sebelum keinginan itu tercapai.

Penutup

Pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa banyak keinginan yang berhasil kita wujudkan.

Hidup adalah tentang seberapa baik kita menjalankan amanah sebagai hamba Allah SWT.

Keinginan boleh banyak. Ikhtiar harus maksimal. Doa harus terus dipanjatkan.

Tetapi hati tetap ridha kepada setiap keputusan Allah SWT.

Karena seorang mukmin tidak hidup untuk memaksa takdir mengikuti keinginannya.

Seorang mukmin hidup untuk menjadikan setiap takdir sebagai jalan menuju ridha Allah SWT.

Semoga kita menjadi hamba yang selalu bersyukur ketika diberi, tetap bersyukur ketika ditahan, tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT, senantiasa meluruskan niat dalam setiap ikhtiar, dan mengakhiri kehidupan dengan sebaik-baik akhir, yaitu husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Penutup

“Keinginan adalah milik manusia, tetapi ketetapan adalah milik Allah SWT. Tugas kita bukan memastikan keinginan terwujud, melainkan memastikan setiap keinginan, ikhtiar, dan hasilnya menjadi jalan ibadah menuju ridha-Nya.”

 

Tinggalkan Balasan