You are currently viewing Rahmat yang Menggapai Hamba

Rahmat yang Menggapai Hamba

Rahmat yang Menggapai Hamba

Oleh SiS Antarkita

“Ya Allah, jika amal saya tidak layak untuk menggapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu yang layak menggapai saya.”

Kalimat doa ini lahir dari hati seorang hamba yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Hamba yang sadar bahwa dirinya penuh keterbatasan, penuh kekurangan, penuh dosa, dan penuh kelalaian. Sekaligus sadar bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Sering kali manusia terjebak dalam dua keadaan yang sama-sama berbahaya.

Keadaan pertama adalah merasa cukup dengan amalnya.

Ia merasa banyak salatnya, banyak sedekahnya, banyak puasanya, banyak ilmunya, dan banyak ibadahnya. Sedikit demi sedikit muncul perasaan bahwa dirinya layak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Keadaan kedua adalah merasa terlalu banyak dosanya.

Ia melihat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan lalu berputus asa. Ia merasa tidak pantas lagi mendekat kepada Allah SWT. Ia merasa pintu ampunan telah tertutup baginya.

Padahal keduanya sama-sama lupa kepada rahmat Allah SWT.

Yang pertama terlalu percaya kepada amalnya.

Yang kedua terlalu fokus kepada dosanya.

Sementara keduanya lupa bahwa keselamatan seorang hamba berada dalam rahmat Allah SWT.

Sesungguhnya, jika seluruh amal kita dikumpulkan sejak lahir hingga meninggal dunia, tetap tidak akan mampu membayar satu nikmat penglihatan yang Allah SWT berikan.

Tidak akan mampu membayar nikmat pendengaran.

Tidak akan mampu membayar nikmat kesehatan.

Tidak akan mampu membayar nikmat udara yang setiap saat kita hirup tanpa harus membelinya.

Bahkan kemampuan untuk beribadah pun merupakan karunia dari Allah SWT.

Lalu dengan amal yang mana kita merasa mampu menggapai rahmat-Nya?

Untuk memahami hal ini, bayangkan seekor sapi yang terperosok ke dalam sebuah sumur yang sangat dalam.

Sapi itu terjatuh dan tidak mampu keluar.

Ia mencoba berdiri.

Ia mencoba melompat.

Ia berusaha mencari pijakan.

Ia mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya.

Namun dinding sumur terlalu tinggi.

Terlalu licin.

Terlalu sulit untuk dipanjat.

Semakin lama sapi itu semakin lelah.

Semakin terlihat bahwa kemampuan dirinya tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Lalu datanglah beberapa orang yang melihat keadaan tersebut.

Mereka merasa iba.

Mereka menyiapkan tali.

Mereka mengikat tubuh sapi tersebut.

Kemudian mereka bersama-sama menariknya ke atas hingga akhirnya sapi itu keluar dari sumur dan selamat.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menyelamatkan sapi itu?

Apakah tenaganya sendiri?

Tidak.

Apakah kecerdasannya?

Tidak.

Apakah kemampuannya?

Tidak.

Ia selamat karena ada pertolongan yang datang dari atas.

Ia selamat karena ada kasih sayang dari pihak yang lebih kuat darinya.

Demikian pula keadaan manusia di hadapan Allah SWT.

Kita semua seperti berada dalam “sumur” kelemahan, keterbatasan, hawa nafsu, kelalaian, dan dosa.

Kita memang diperintahkan untuk berusaha.

Kita diperintahkan untuk salat.

Kita diperintahkan untuk berpuasa.

Kita diperintahkan untuk bersedekah.

Kita diperintahkan untuk berzikir.

Kita diperintahkan untuk memperbanyak amal saleh.

Semua itu adalah bentuk ikhtiar seorang hamba.

Namun pada hakikatnya amal-amal tersebut bukanlah kekuatan yang cukup untuk mengangkat kita menuju kemuliaan Allah SWT.

Sebagaimana sapi yang tidak mampu keluar dari sumur dengan kekuatannya sendiri, manusia juga tidak akan mampu menggapai rahmat Allah SWT hanya dengan mengandalkan amalnya.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Rahmat Allah SWT yang turun menggapai manusia.

Rahmat Allah SWT yang membimbing manusia menuju kebaikan.

Rahmat Allah SWT yang menggerakkan hati manusia untuk bertobat.

Rahmat Allah SWT yang membuka pintu hidayah.

Rahmat Allah SWT yang menutupi aib-aib hamba-Nya.

Rahmat Allah SWT yang mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.

Rahmat Allah SWT yang menerima amal-amal yang penuh kekurangan.

Bahkan ketika seseorang tergerak untuk salat, itu karena rahmat Allah SWT.

Ketika seseorang menangis dalam doa, itu karena rahmat Allah SWT.

Ketika seseorang mampu meninggalkan maksiat, itu karena rahmat Allah SWT.

Ketika seseorang mendapatkan hidayah setelah sekian lama tersesat, itu karena rahmat Allah SWT.

Sejak awal hingga akhir, kehidupan seorang hamba selalu berada dalam naungan rahmat Allah SWT.

Karena itu para ulama dan orang-orang saleh tidak pernah membanggakan amal mereka.

Semakin tinggi ilmu mereka, semakin mereka merasa kecil.

Semakin banyak ibadah mereka, semakin banyak istigfar mereka.

Semakin dekat kepada Allah SWT, semakin besar harapan mereka terhadap rahmat-Nya.

Mereka sadar bahwa amal mereka tidak pernah sempurna.

Salat mereka masih kurang khusyuk.

Puasa mereka masih kurang menjaga hati.

Sedekah mereka masih bercampur dengan riya yang samar.

Zikir mereka masih diselingi kelalaian.

Tetapi mereka tidak putus asa.

Karena mereka mengenal Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Penyayang.

Mereka berharap bukan kepada kesempurnaan amal mereka.

Mereka berharap kepada kesempurnaan rahmat Allah SWT.

Inilah yang melahirkan keseimbangan dalam hidup seorang mukmin.

Ia tidak sombong karena amalnya.

Dan ia tidak putus asa karena dosanya.

Ia terus beramal karena itu adalah kewajiban.

Ia terus bertobat karena itu adalah kebutuhan.

Ia terus berharap karena rahmat Allah SWT tidak pernah terbatas.

Ketika melihat amalnya, ia merasa masih sangat kurang.

Ketika melihat rahmat Allah SWT, ia merasa memiliki harapan yang sangat besar.

Maka jangan pernah merasa suci karena amal.

Dan jangan pernah merasa binasa karena dosa.

Selama Allah SWT masih membuka pintu rahmat-Nya, selalu ada harapan bagi setiap hamba.

Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, rahmat Allah SWT lebih besar.

Seluas apa pun kesalahan yang pernah terjadi, ampunan Allah SWT lebih luas.

Setinggi apa pun cita-cita menuju surga, jalan menuju surga tetap harus ditempuh dengan amal dan pengharapan kepada rahmat Allah SWT.

Karena pada akhirnya, bukan amal kita yang mengantarkan kita kepada Allah SWT.

Melainkan rahmat Allah SWT yang mengangkat dan menggapai kita.

Sebagaimana sapi yang tidak mampu keluar dari sumur kecuali dengan pertolongan yang datang dari atas, demikian pula manusia tidak akan mampu mencapai keselamatan kecuali dengan rahmat Allah SWT yang turun kepadanya.

Ya Allah, kami datang kepada-Mu dengan amal yang sedikit, dengan hati yang penuh kekurangan, dengan dosa yang tak terhitung jumlahnya. Kami tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan di hadapan-Mu. Maka jangan lihat sedikitnya amal kami, jangan lihat banyaknya dosa kami, tetapi lihatlah luasnya rahmat-Mu. Jika langkah kami terlalu pendek untuk menggapai-Mu, maka ulurkanlah rahmat-Mu untuk menggapai kami. Karena sesungguhnya kami hidup, bertobat, beribadah, dan berharap hanya karena rahmat-Mu semata.

“Ya Allah, jika amal kami tidak layak untuk menggapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu yang layak menggapai kami.” Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan