DARI JAMAAH SHOLAT MENJADI JAMAAH MASJID

DARI JAMAAH SHOLAT MENJADI JAMAAH MASJID

Merenungkan kembali gagasan almarhum Ustadz K.H. Muhammad Jazir ASP

Oleh SiS Antarkita

Siang tadi kita serentak menjalankan ibadah sholat Jumat. Masjid-masjid penuh.

Bahkan di banyak tempat, jamaah sampai membludak. Ruang utama tidak mampu menampung, serambi penuh, halaman dipenuhi jamaah, bahkan sebagian harus sholat di jalan.

Sebuah pemandangan yang tentu saja menggembirakan.

Alhamdulillah.

Kita patut bersyukur bahwa masjid masih menjadi tempat yang dirindukan umat.

Tetapi setelah sholat selesai, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan lebih dalam.

Apakah jamaah yang memenuhi masjid setiap Jumat sudah menjadi jamaah masjid?

Pertanyaan ini mengingatkan saya pada gagasan yang pernah disampaikan oleh almarhum Ustadz K.H. Muhammad Jazir ASP tentang konsep jamaah sholat dan jamaah masjid.

Dua istilah yang sekilas terdengar sama.

Tetapi sesungguhnya memiliki makna yang berbeda.

Jamaah sholat

Jamaah sholat adalah orang-orang yang datang ke masjid karena memenuhi panggilan ibadah.

Datang. Sholat bersama. Mendengarkan khutbah. Kemudian pulang. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan sholat berjamaah adalah amal yang sangat mulia.

Namun pertanyaannya: Apakah hubungan kita dengan masjid berhenti ketika salam selesai diucapkan? Atau justru dari sanalah hubungan kita sebagai jamaah seharusnya dimulai?

Jamaah masjid

Jamaah masjid memiliki makna yang jauh lebih luas. Mereka bukan hanya orang-orang yang datang untuk sholat.

Mereka adalah orang-orang yang saling mengenal, saling peduli, saling membantu dan membangun kehidupan bersama di sekitar masjid.

Ketika ada jamaah sakit, jamaah lainnya mengetahui.

Ketika ada jamaah yang kehilangan pekerjaan, ada yang ikut memikirkan.

Ketika ada keluarga yang kesulitan ekonomi, ada kepedulian.

Ketika ada anak jamaah yang kesulitan biaya pendidikan, ada yang membantu mencarikan jalan keluar.

Ketika ada jamaah yang memiliki usaha tetapi kesulitan pemasaran, jamaah lainnya ikut membeli dan mempromosikan.

Ketika ada anak muda yang menganggur, masjid tidak hanya menyuruhnya bersabar, tetapi ikut mencarikan peluang, keterampilan dan pekerjaan.

Inilah yang mungkin dimaksud dengan menghidupkan jamaah masjid.

MASJID KITA SEMAKIN BAGUS

Hari ini kita patut bersyukur.

Banyak masjid kita sudah sangat bagus. Tidak ada lagi atap yang bocor. Lantainya bersih. Karpetnya nyaman. Sound system-nya bagus. Tempat wudhunya semakin representatif.

Bahkan tidak sedikit masjid yang berdiri megah dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Setiap Jumat kita juga sering mendengar laporan saldo kas masjid. Ada yang beberapa juta. Ada yang puluhan juta. Bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah.

Sekali lagi: Alhamdulillah.

Itu semua menunjukkan adanya kekuatan umat. Ada orang-orang yang mau berinfak. Ada jamaah yang mau bersedekah. Ada orang-orang yang mewakafkan hartanya. Ada kepedulian yang luar biasa terhadap masjid.

Tetapi justru karena itulah muncul sebuah pertanyaan:

«Kalau masjid kita semakin bagus, mengapa kehidupan sebagian jamaah masih begitu berat?»

Masjidnya semakin megah. Tetapi ada jamaah yang masih kesulitan membayar sekolah anak.

Kas masjid bertambah. Tetapi ada keluarga jamaah yang masih bingung membeli kebutuhan pokok.

Kegiatan masjid berjalan. Tetapi masih ada anak muda di sekitar masjid yang menganggur.

Masjid ramai. Tetapi UMKM jamaahnya masih berjuang mencari pembeli.

Di sinilah kita perlu melakukan refleksi.

MASJID JANGAN HANYA MENJADI TEMPAT BERKUMPULNYA ORANG YANG SUDAH MAMPU

Masjid seharusnya bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah baik kehidupannya.

Masjid justru harus menjadi tempat di mana orang yang sedang kesulitan menemukan harapan.

Orang miskin tidak merasa malu datang. Orang yang sedang menganggur tidak merasa sendirian.

Anak muda yang belum menemukan masa depannya mendapatkan pendampingan. Pelaku usaha kecil mendapatkan akses pasar. Anak-anak mendapatkan pendidikan. Dan keluarga yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan perhatian.

Karena Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah. Islam juga mengajarkan hubungan manusia dengan manusia.

Sholat membangun hubungan vertikal. Tetapi nilai-nilai sholat seharusnya melahirkan kepedulian horizontal.

Kita berdiri dalam satu shaf. Kaya dan miskin berdiri berdampingan. Pejabat dan rakyat berdiri sejajar. Pengusaha dan buruh berdiri dalam barisan yang sama. Tidak ada perbedaan status ketika menghadap Allah.

Maka setelah keluar dari masjid, semangat kesetaraan dan persaudaraan itu seharusnya tetap hidup.

DARI KAS MASJID MENUJU KEKUATAN JAMAAH

 

Mungkin kita perlu mengubah cara pandang. Jangan melihat masjid hanya dari berapa saldo kasnya.

Tetapi lihat juga: Berapa banyak jamaah yang ekonominya berhasil kita kuatkan?

Berapa orang yang mendapatkan pekerjaan?

Berapa UMKM jamaah yang tumbuh?

Berapa anak jamaah yang berhasil menyelesaikan pendidikan?

Berapa keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan?

Berapa aset wakaf yang berhasil menjadi produktif?

Berapa orang yang sebelumnya menjadi penerima bantuan kemudian mampu menjadi pemberi?

Itulah mungkin ukuran lain dari kemakmuran masjid.

Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang bangunannya megah. Tetapi masjid yang mampu memakmurkan kehidupan jamaahnya.

DARI MUSTAHIK MENJADI MUZAKKI

Bayangkan jika sebuah masjid memiliki jamaah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan orang.

Di antara mereka ada pengusaha. Ada pedagang. Ada profesional. Ada guru. Ada petani. Ada dokter. Ada kontraktor. Ada pemilik usaha kecil. Ada anak muda yang memiliki kemampuan digital. Ada orang yang memiliki tanah. Ada yang memiliki jaringan bisnis. Ada yang memiliki modal. Ada yang memiliki ilmu. Ada yang memiliki waktu. Ada yang memiliki tenaga.

Semuanya berada dalam satu ekosistem. Masjid.

Kalau seluruh potensi itu dapat dihubungkan dan dikelola dengan baik, sesungguhnya kekuatan ekonominya luar biasa.

Maka persoalannya bukan semata-mata “berapa banyak uang yang ada di kas masjid?”

Tetapi: «”Berapa besar potensi jamaah yang sudah berhasil kita hubungkan?”»

Karena bisa jadi, kekayaan terbesar masjid bukan berada di dalam kotak infak.

Tetapi berada pada jamaahnya.

MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN

Dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat sholat. Masjid menjadi tempat bertemunya manusia.

Tempat belajar. Tempat bermusyawarah. Tempat membangun kepedulian. Tempat menyelesaikan persoalan umat. Tempat membangun solidaritas. Tempat lahirnya berbagai gagasan dan gerakan.

Karena itu, membangun masjid sesungguhnya bukan hanya membangun gedung.

Membangun masjid adalah membangun manusia. Gedungnya boleh indah. Tetapi yang lebih penting adalah manusianya juga tumbuh.

Karakter jamaahnya tumbuh. Ilmunya tumbuh. Ekonominya tumbuh. Kepeduliannya tumbuh. Kemandiriannya tumbuh. Dan akhirnya, masyarakat di sekitar masjid ikut tumbuh.

BISAKAH MASJID MENJADI PUSAT PEMBERDAYAAN UMAT?

Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban bersama.

Bukan berarti kas masjid kemudian digunakan sembarangan untuk kegiatan ekonomi.

Bukan pula berarti masjid harus berubah menjadi perusahaan.

Semua harus tetap memperhatikan amanah, syariah, aturan organisasi, peruntukan dana, transparansi dan akuntabilitas.

Tetapi kita dapat mulai membangun ekosistemnya. Misalnya:

Jamaah punya usaha → jamaah lain menjadi pasar.

Jamaah punya keahlian → jamaah lain menjadi pengguna jasanya.

Jamaah punya aset → dikelola secara produktif sesuai ketentuan.

Jamaah punya modal → dipertemukan dengan jamaah yang memiliki usaha yang layak.

Jamaah punya ilmu → dibagikan kepada jamaah lain.

Jamaah punya jaringan → dibukakan untuk kepentingan bersama.

Jamaah yang mampu → membantu jamaah yang membutuhkan.

Bukan sekadar memberi ikan. Tetapi juga membangun kemampuan untuk menangkap ikan.

 

MASJID YANG RAMAI, JAMAAH YANG BERDAYA

Mungkin inilah saatnya kita tidak berhenti pada kebanggaan: “Masjid kita ramai.”

Tetapi mulai bertanya:

“Apakah jamaah kita juga berdaya?”

Bukan hanya: “Berapa saldo kas masjid kita?”

Tetapi: “Berapa banyak persoalan jamaah yang berhasil kita selesaikan bersama?”

Bukan hanya: “Seberapa megah masjid kita?”

Tetapi: “Seberapa besar manfaat masjid kita bagi masyarakat?”

Karena masjid yang benar-benar hidup bukan hanya masjid yang lampunya menyala.

Tetapi nilai-nilai Islam juga menyala dalam kehidupan jamaahnya.

 

MUNGKIN INILAH PEKERJAAN KITA SELANJUTNYA

 

Kita sudah berhasil membangun banyak masjid. Kita sudah berhasil mengumpulkan jamaah. Kita sudah berhasil menggerakkan infak dan sedekah. Kita sudah berhasil memperbaiki bangunan.

Mungkin pekerjaan kita berikutnya adalah: Membangun jamaahnya. Membangun kemandiriannya. Membangun ekonominya. Membangun pendidikannya. Membangun kepeduliannya. Membangun jaringan usaha antarjamaah. Membangun wakaf produktif. Membangun generasi mudanya.

 

Sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat umat datang untuk menghadap Allah, tetapi juga menjadi tempat umat menemukan jalan untuk menghadapi persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai Allah.

 

DARI SHAF YANG RAPAT MENUJU KEHIDUPAN YANG ERAT

 

Setiap Jumat kita belajar satu hal yang sangat indah. Kita berdiri dalam satu shaf. Tidak boleh ada celah. Bahu bertemu bahu.

Kita berdiri sejajar. Mungkin filosofi shaf itu juga perlu kita bawa keluar dari masjid.

Jangan hanya shaf sholat kita yang rapat

Tetapi juga:

Shaf kepedulian kita, Shaf ekonomi kita, Shaf pendidikan kita, Shaf pemberdayaan kita, Shaf persaudaraan kita dan Shaf perjuangan kita.

Karena umat yang kuat bukan umat yang hanya memiliki banyak orang. Tetapi umat yang saling menguatkan.

Dan masjid yang kuat bukan hanya masjid yang memiliki bangunan bagus dan saldo besar.

Tetapi masjid yang memiliki jamaah yang bersatu, peduli, mandiri dan berdaya.

Mungkin sudah saatnya kita kembali merenungkan gagasan almarhum Ustadz K.H. Muhammad Jazir ASP tentang jamaah sholat dan jamaah masjid.

Sebab bisa jadi, tantangan umat Islam hari ini bukan lagi bagaimana membuat umat datang ke masjid. Umat sudah datang.

Tantangan berikutnya adalah:

«Bagaimana setelah mereka datang ke masjid, mereka pulang membawa kekuatan untuk membangun kehidupan.»

Dari jamaah sholat menuju jamaah masjid. Dari masjid yang makmur menuju jamaah yang dimakmurkan. Dari kekuatan individu menuju kekuatan bersama.

Dan dari situlah, barangkali, kita mulai membangun kembali peradaban umat dari masjid.

Wallahu a’lam bish-shawab.

SiS Antarkita

Tinggalkan Balasan