You are currently viewing Jangan Takut Salah, Takutlah Tidak Bersandar

Jangan Takut Salah, Takutlah Tidak Bersandar

Jangan Takut Salah, Takutlah Tidak Bersandar

Oleh: SiS, antarkita

Manusia sering kali hidup dalam ketakutan: takut salah langkah, takut salah memilih, takut salah berbicara, takut salah mengambil keputusan. Kita ingin semuanya sempurna. Kita ingin semua berjalan tanpa cela.

Padahal kita ini manusia. Tempatnya lupa. Tempatnya khilaf. Tempatnya salah.

Yang seharusnya kita takutkan bukanlah kesalahan itu sendiri.

Yang seharusnya kita takutkan adalah ketika kita melangkah tanpa bersandar kepada Allah.

Karena kesalahan yang lahir dari hati yang bersandar masih bisa Allah luruskan.

Tetapi kesombongan yang merasa tidak butuh kepada Allah bisa menjerumuskan.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”

(QS. Al-Qur’an, At-Talaq: 3)

Bersandar kepada Allah bukan berarti kita tidak berusaha. Justru kita berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Kita berpikir, bermusyawarah, berikhtiar, kemudian bertawakal.

Sering kali kita menunda keputusan karena takut salah. Kita menahan langkah karena takut gagal. Kita diam karena takut dikritik. Padahal hidup ini memang ruang ujian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat.”

(HR. Imam Tirmidzi, hasan shahih)

Hadits ini menenangkan hati. Salah itu manusiawi. Yang membedakan adalah bagaimana kita kembali. Jika salah, istighfar. Jika keliru, perbaiki. Jika jatuh, bangkit lagi.

Yang berbahaya bukan salahnya, tetapi merasa benar tanpa mau kembali kepada Allah.

Allah juga mengingatkan:

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

(QS. Al-Qur’an, Ali ‘Imran: 159)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan: tekad dulu, tawakal kemudian. Jangan hanya tawakal tanpa usaha. Jangan pula hanya usaha tanpa tawakal.

Ada orang yang gagal tapi hatinya tenang, karena ia tahu ia telah melibatkan Allah dalam setiap langkahnya.

Ada pula orang yang berhasil tetapi hatinya gelisah, karena ia merasa semua karena dirinya.

Maka jangan takut salah memilih selama pilihan itu diawali dengan doa.

Jangan takut melangkah selama langkah itu diiringi istikharah.

Jangan takut gagal selama hati tetap bersujud.

Karena jika kita bersandar kepada Allah, bahkan kesalahan pun bisa menjadi jalan kebaikan.

Dan jika kita tidak bersandar, bahkan keberhasilan pun bisa menjadi awal kehancuran.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang selalu benar.

Hidup adalah tentang selalu kembali.

Kembali ketika salah.

Kembali ketika ragu.

Kembali ketika lemah.

Karena hanya Allah tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan.

Jangan takut salah, takutlah tidak bersandar.

Oleh: SiS, antarkita

Tinggalkan Balasan