Antarkita

Ruang Kita

Kabarkita, Ruang Kita

MPK Banyumas Minta Pendampingan LBH Yogyakarta Terkait Dugaan Penyimpangan Aset Kebondalem

MPK Banyumas Minta Pendampingan LBH Yogyakarta Terkait Dugaan Penyimpangan Aset Kebondalem BANYUMAS — Komunitas Masyarakat Peduli Kebondalem (MPK) Banyumas resmi mengajukan permohonan pendampingan dan konsultasi hukum kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Permohonan tersebut berkaitan dengan dugaan penyimpangan dalam pengelolaan aset Kebondalem yang berada di wilayah Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Permohonan itu disampaikan secara tertulis melalui surat yang ditujukan kepada pimpinan LBH Yogyakarta dan ditandatangani Koordinator MPK, Sigit Priyono HS, pada Senin, 15 Desember 2025. Dalam suratnya, MPK menyatakan bahwa langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral masyarakat sipil untuk menyuarakan aspirasi warga serta mendorong keterbukaan informasi publik, khususnya dalam pengelolaan aset daerah yang menyangkut kepentingan umum. “Kami merasa memiliki kewajiban moral untuk memastikan pengelolaan aset daerah dilakukan sesuai prinsip hukum, keadilan, dan kepentingan publik,” tulis Sigit Priyono HS dalam surat permohonannya. MPK mengakui, keterbatasan pengetahuan hukum dan akses terhadap mekanisme penegakan hukum menjadi kendala dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Kebondalem. Oleh karena itu, pendampingan dari lembaga bantuan hukum dinilai sangat penting agar langkah yang ditempuh tetap berada dalam koridor konstitusional. Dalam permohonannya, MPK meminta LBH Yogyakarta untuk menerima dan menelaah aspirasi masyarakat terkait dugaan penyimpangan pengelolaan aset Kebondalem. Selain itu, MPK juga memohon saran serta petunjuk hukum guna memperoleh kejelasan, keadilan, dan kepastian hukum atas persoalan tersebut. Tak hanya itu, MPK berharap LBH Yogyakarta dapat memberikan arahan mengenai langkah-langkah hukum yang sah dan konstitusional yang dapat ditempuh oleh masyarakat. “Kami berharap LBH Yogyakarta berkenan memberikan arahan hukum agar perjuangan masyarakat berjalan secara tepat, terukur, dan sesuai aturan,” lanjut Sigit. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak LBH Yogyakarta terkait permohonan tersebut. MPK menyatakan akan menunggu respons dan tetap membuka ruang dialog demi penyelesaian persoalan aset Kebondalem secara transparan dan berkeadilan. Langkah MPK ini dinilai sebagai bagian dari upaya kontrol sosial masyarakat terhadap pengelolaan aset publik, sekaligus penguatan peran warga dalam mengawal tata kelola pemerintahan daerah di Kabupaten Banyumas.

Kabarkita, Ruang Kita

Masyarakat Peduli Kebondalem di Peringatan Hari HAM Sedunia 2025

*Masyarakat Peduli Kebondalem di Peringatan Hari HAM Sedunia 2025* Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang diselenggarakan oleh LBH Yogyakarta pada Kamis–Jumat, 17-18 Desember 2025, menjadi ruang perjumpaan penting bagi berbagai elemen masyarakat sipil dari beragam daerah. Kegiatan ini merupakan bagian dari refleksi tahunan Hari HAM Sedunia yang secara global diperingati setiap 10 Desember, sebagai pengingat bahwa HAM adalah hak dasar yang melekat pada setiap manusia dan tidak dapat dirampas oleh siapa pun, termasuk oleh negara dan penguasa. Dalam press release resminya, LBH Yogyakarta menegaskan bahwa meskipun Indonesia telah memasuki era reformasi dan memiliki berbagai instrumen hukum HAM—mulai dari UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, UU No. 11 Tahun 2005 tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, UU No. 12 Tahun 2005 tentang Hak Sipil dan Politik, hingga UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM—namun negara masih belum konsisten dalam melaksanakan kewajibannya untuk melindungi, menghormati, dan memenuhi HAM bagi seluruh rakyat. LBH Yogyakarta juga menyoroti masih maraknya pelanggaran HAM, baik dalam kategori Hak Sipil dan Politik maupun Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, termasuk pelanggaran yang dilakukan oleh aparat penegak hukum maupun akibat pembiaran oleh negara. Di Yogyakarta sendiri, sejumlah kasus pelanggaran HAM masa lalu, seperti penyerangan diskusi masyarakat sipil dan dugaan kekerasan oleh aparat, belum memperoleh penyelesaian yang adil dan transparan. Dalam konteks inilah, kehadiran Masyarakat Peduli Kebondalem (MPK) menjadi bagian penting dari suara masyarakat akar rumput yang menuntut keadilan. Sebagai bentuk partisipasi aktif dan kepedulian terhadap nilai-nilai Hak Asasi Manusia, MPK mengutus dua perwakilannya, SHS dan PK, untuk mengikuti rangkaian kegiatan peringatan Hari HAM Sedunia tersebut. Bagi MPK, peringatan Hari HAM bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum strategis untuk menegaskan bahwa hak atas keadilan, kebenaran, lingkungan hidup yang sehat, serta pemerintahan yang bersih dari praktik korupsi merupakan bagian tak terpisahkan dari HAM. Kehadiran SHS dan PK membawa mandat moral dari warga Kebondalem, Banyumas, untuk menyuarakan persoalan ketidakadilan struktural yang selama ini dialami masyarakat. Selain mengikuti rangkaian diskusi, refleksi, dan pernyataan sikap sebagaimana disampaikan dalam press release LBH Yogyakarta, momen ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat silaturahmi dan jejaring solidaritas dengan para pegiat HAM, aktivis hukum, serta organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah. Jaringan ini dipandang penting untuk membangun kekuatan kolektif dalam menghadapi praktik pelanggaran HAM yang masih terus berlangsung. Sejalan dengan tuntutan LBH Yogyakarta kepada negara untuk mengusut tuntas pelanggaran HAM masa lalu, membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc, serta menegakkan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat marginal, MPK juga membawa misi khusus: membangun dukungan nasional dari para aktivis hukum dan pegiat HAM terhadap berbagai kasus dugaan korupsi di Banyumas. Secara khusus, atas nama Masyarakat Peduli Kebondalem, ShS dan PK meminta pandangan hukum (advice), dukungan moral, serta strategi advokasi untuk mendorong penyelesaian kasus Kebondalem agar dapat ditangani secara adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Langkah ini sejalan dengan semangat yang disuarakan LBH Yogyakarta bahwa pembiaran terhadap korupsi dan pelanggaran hukum merupakan salah satu akar tidak terpenuhinya Hak Asasi Manusia. Kehadiran MPK dalam peringatan Hari HAM Sedunia 2025 menegaskan bahwa perjuangan warga desa tidak terpisah dari perjuangan HAM secara nasional. Apa yang dialami masyarakat Kebondalem adalah potret kecil dari persoalan besar penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Dari Yogyakarta, MPK meneguhkan harapan bahwa melalui solidaritas, keberanian warga, dan dukungan jaringan masyarakat sipil, suara masyarakat tidak lagi dipinggirkan, dan keadilan dapat terus diperjuangkan demi martabat manusia dan masa depan yang lebih adil. Suwatnoibnusudihardjo Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Bingungku Impianmu

*Bingungku Impianmu* Hehehe… Judul ini saya ambil dari kalimat pertama yang hampir selalu keluar dari mulut Kang Slamet Sudarso setiap kali ada teman-teman datang ke rumahnya untuk konsultasi bisnis. “Saya kok malah bingung, ya…” Kalimat itu diucapkan tanpa dibuat-buat. Bukan basa-basi. Bukan juga kalimat rendah hati yang disengaja. Kang Slamet benar-benar bingung, karena apa yang ia jalani hari ini—yang bagi banyak orang disebut sukses—justru tidak pernah ia rencanakan sebagai sebuah impian besar. Banyak orang hanya melihat Kang Slamet hari ini. Untuk ukuran hidup di desa, tampilan Kang Slamet memang sudah menjadi standar orang sukses. Rumahnya besar, berdiri tepat di pinggir jalan raya. Halamannya luas, cukup menampung sekitar sepuluh mobil. Ada ruang pertemuan yang layak—bahkan lebih pantas disebut ruang rapat—seperti rumah pejabat atau pengusaha besar. Padahal Kang Slamet tinggal di desa pinggiran Purwokerto, masuk wilayah Kecamatan Sumbang. Rumah yang megah di pinggir jalan, dengan “tongkrongan” mobil Innova Reborn, wajar jika membuat siapa pun yang lewat bertanya-tanya: “Ini rumah siapa?” Namun rumah Kang Slamet punya ciri khas yang berbeda. Kalau rumah pejabat umumnya tertutup rapat—entah karena alasan keamanan atau takut ketahuan korupsi hehehe—rumah Kang Slamet justru selalu terbuka. Pintu tidak banyak aturan. Siapa pun yang datang dipersilakan masuk. Langsung menuju ruang pertemuan. Tidak ada sekat status. Tidak ada jarak sosial. Sore itu, obrolan kami kembali mengalir ke satu tema yang sama: kebingungan Kang Slamet. Ia mengaku tidak pernah merasa dirinya seorang pebisnis. Dalam bayangannya, pebisnis itu adalah orang yang bermodal besar, punya kantor, punya tempat usaha, punya pabrik atau tempat produksi, serta memiliki karyawan. Sementara semua itu—menurut versi Kang Slamet—tidak ia miliki. Ia tidak punya kantor. Tidak punya pabrik. Tidak punya tempat usaha permanen. Tidak punya karyawan tetap. Bahkan, dalam banyak aktivitasnya, hampir tidak bermodal duit. Itulah yang membuatnya bingung. Yang lebih membingungkan lagi, justru orang-orang yang datang kepadanya adalah mereka yang punya modal, punya produk, punya jaringan, dan punya usaha. Mereka datang untuk bertanya, meminta pandangan, bahkan minta ditemani berpikir. “Lha saya ini kan nggak punya apa-apa,” kata Kang Slamet suatu kali. Saya pun menimpali sambil tersenyum, “Justru itu, Kang. Yang Kang jalani ini adalah impian banyak orang: bisnis tanpa modal duit.” Banyak orang bermimpi punya usaha yang tetap jalan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Tanpa stres produksi. Tanpa pusing operasional. Tanpa beban karyawan. Dan anehnya, semua itu dijalani Kang Slamet dengan santai, apa adanya, tanpa label “pengusaha”. Masalahnya, kebanyakan orang hanya melihat hasil akhir, bukan proses panjang di belakangnya. Sedikit yang tahu bagaimana Kang Slamet dulu. Dulu, Kang Slamet pernah hidup sangat susah. Saking susahnya, ia pernah punya prinsip hidup yang terdengar lucu tapi menyedihkan: bangga jadi orang miskin. Hehehe. Bukan karena miskinnya membahagiakan, tapi karena saat itu tidak ada pilihan lain selain berdamai dengan keadaan. Di usia 40-an tahun, ia pernah merasa hidupnya sudah selesai. Saat itu, ia melihat teman-teman sebayanya sudah mapan secara ekonomi dan keluarga. Sementara dirinya masih bujangan, miskin, dan berjualan sayur kangkung. Hehehe. Ada satu cerita yang selalu membuat kami tertawa getir. Ia pernah bercerita tentang rumahnya yang bocor. Aneh tapi nyata: ketika atapnya ditarik ke atas, bocor. Ditarik ke bawah, bocor juga. Mau diapakan pun tetap bocor. Hehehe. Cerita sederhana itu sebetulnya menyimpan pesan mendalam tentang hidup yang serba kekurangan, tetapi tetap dijalani tanpa mengeluh berlebihan. Namun waktu berjalan. Hari ini usia Kang Slamet sudah 50-an tahun. Wajahnya tenang. Tutur katanya sederhana. Sikapnya bersahaja. Kalau dilihat sekilas, ia lebih mirip pejabat baik hati—yang penting tidak sombong. Hehehe. Satu hal yang menurut saya menjadi kekuatan terbesar Kang Slamet adalah prinsip hidupnya. Prinsip yang kadang justru berseberangan dengan keinginan klien bisnisnya sendiri. Tidak jarang ia menolak cara-cara yang menurutnya tidak benar, meskipun itu berpotensi mendatangkan keuntungan lebih besar. Kadang ia sendiri mengaku khawatir: “Jangan-jangan nanti kliennya menjauh.” Namun di saat yang sama, ia memegang satu keyakinan yang tidak pernah goyah: rezeki sepenuhnya datang dari Allah SWT. Keyakinan inilah yang justru membuat banyak orang semakin segan. Bukan karena takut, tetapi karena hormat. Klien tidak melihat Kang Slamet sebagai orang yang mengejar keuntungan semata, melainkan sebagai pribadi yang memegang nilai dan integritas. Di titik inilah saya memahami makna judul tulisan ini: Bingungku impianmu. Apa yang membuat Kang Slamet bingung, justru menjadi impian banyak orang. Hidup yang mengalir, rezeki yang datang tanpa dikejar berlebihan, rumah yang selalu terbuka, relasi yang dibangun dengan kepercayaan, dan usaha yang berjalan tanpa harus bermodal duit besar. Kisah ini belum selesai. Masih banyak cerita tentang Kang Slamet yang layak dibagikan. Sudah dulu ya… nanti kita lanjutkan lagi. Kalau kepanjangan, takut bosan. Hehehe. Oh iya, kalau mau datang ke rumah Kang Slamet juga boleh kok. Bareng penulis juga boleh. Suwatnoibnusudihardjo Antarkita

Coach Waidi, Ruang Kita

Karakter Pembelajar

*Karakter Pembelajar* Oleh: Waidi, MBA, CPC Dalam kehidupan manusia, karakter adalah kompas utama yang menentukan arah perjalanan hidup. Kepandaian intelektual, latar belakang pendidikan, bahkan kekayaan materi tidak pernah berdiri sendiri dalam menentukan masa depan seseorang. Semua itu baru memiliki makna ketika ditopang oleh karakter yang kuat. Stephen R. Covey, dalam karya monumentalnya The Seven Habits of Highly Effective People, mengingatkan kita dengan sebuah ungkapan yang sarat makna: “Taburlah karakter, maka engkau akan menuai nasib.” Ungkapan ini menegaskan bahwa nasib bukanlah takdir yang datang begitu saja, melainkan hasil dari karakter yang dibangun secara sadar dan konsisten sepanjang hidup. Di antara berbagai karakter unggul yang perlu dimiliki manusia, karakter pembelajar sejati menempati posisi yang sangat fundamental. Karakter inilah yang membuat seseorang tidak berhenti bertumbuh, tidak terjebak pada masa lalu, dan tidak takut menghadapi masa depan. Seseorang yang memiliki karakter pembelajar sejati akan menuai nasib baik yang selaras dengan cita-cita hidupnya, karena ia terus memperbarui diri, memperluas wawasan, dan memperdalam makna dari setiap pengalaman. Pada hakikatnya, setiap manusia terlahir dengan potensi untuk menjadi pembelajar sejati. Tidak ada satu pun individu yang sejak lahir ditakdirkan gagal. Namun, perjalanan hidup sering kali menghadirkan kondisi yang tidak ideal. Tekanan sosial ekonomi keluarga, keterbatasan pendidikan, kondisi psikologis dan fisik, pengalaman traumatis, serta berbagai kekurangan lain kerap membentuk cara pandang negatif terhadap diri sendiri dan kehidupan. Tanpa disadari, kondisi-kondisi tersebut perlahan mengikis semangat belajar dan menggantinya dengan sikap pasrah, menyalahkan keadaan, atau bahkan putus asa. Dalam banyak kasus, seseorang akhirnya membangun karakter negatif—karakter yang menjauhkan dirinya dari pertumbuhan dan kemajuan. Ia berhenti belajar, menutup diri dari perubahan, dan memandang tantangan sebagai ancaman. Karakter semacam inilah yang pada akhirnya menjerumuskan seseorang ke dalam kesengsaraan hidup, bukan semata karena kekurangan yang dimilikinya, melainkan karena sikap batin yang terbentuk dari cara ia memaknai pengalaman hidup. Menariknya, kondisi sebaliknya juga kerap terjadi. Tidak sedikit individu yang terlahir dari keluarga yang mapan, berkecukupan, bahkan memiliki akses luas terhadap pendidikan dan kesempatan, namun gagal membangun karakter unggul. Fasilitas yang berlimpah ternyata tidak otomatis melahirkan karakter pembelajar sejati. Dalam situasi tertentu, kemudahan hidup justru menumbuhkan sikap nyaman berlebihan, ketergantungan, dan rendahnya daya juang. Akibatnya, potensi besar yang sesungguhnya dimiliki tidak pernah benar-benar berkembang. Fenomena ini semakin menegaskan bahwa karakter tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga atau kondisi sosial ekonomi semata. Karakter dibentuk melalui sebuah proses kreatif—sebuah dinamika yang terus berlangsung antara sikap batin seseorang dengan lingkungan yang melingkupinya. Lingkungan memang berpengaruh, tetapi sikap internal seseorang jauh lebih menentukan hasil akhirnya. Sikap internal yang paling berperan dalam pembentukan karakter pembelajar adalah sikap positif. Sikap positif bukanlah sikap naif yang menolak kenyataan pahit, melainkan kemampuan untuk melihat makna, peluang, dan pelajaran di balik setiap peristiwa. Bersikap positif berarti menjaga optimisme untuk berhasil, meski berulang kali dihadapkan pada kegagalan. Bersikap positif juga berarti mengambil tanggung jawab pribadi atas hidup sendiri, tanpa sibuk menyalahkan lingkungan, keadaan, atau orang lain. Bagi pribadi yang memiliki sikap positif, kondisi kaya atau miskin, sukses atau gagal, bukanlah pembenaran untuk berhenti bertumbuh. Semua situasi diperlakukan setara sebagai ladang pembelajaran. Ia memahami bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi selalu bermakna bagi mereka yang mau belajar. Karena itu, ia terus berusaha melakukan yang terbaik dalam keadaan apa pun. Motif terdalam dari sikap positif ini adalah keinginan tulus untuk menjadi pembelajar sejati. Seorang pembelajar sejati tidak sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga membangun kebijaksanaan. Dari setiap peristiwa, ia selalu bertanya: “Apa pelajaran yang bisa saya ambil?” Baginya, hidup bukan tentang menghindari kesulitan, melainkan tentang mengolah pengalaman menjadi nilai tambah bagi dirinya. Demi masa depan jangka panjangnya, pembelajar sejati rela menunda kesenangan sesaat. Ia tidak tergoda oleh kenyamanan instan yang menghambat pertumbuhan. Ia menjalani proses dengan keikhlasan, kesabaran, dan ketekunan, meskipun tantangan seolah tidak pernah berhenti. Justru bagi dirinya, banyaknya tantangan hidup berarti semakin banyak kesempatan untuk belajar, menguatkan mental, dan mematangkan karakter. Dalam perspektif ini, kegagalan tidak pernah dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai guru yang paling jujur. Kesuksesan pun tidak menjadikannya terlena, karena ia sadar bahwa keberhasilan hanyalah satu fase dalam perjalanan belajar yang panjang. Ia terus memperbaiki diri, memperluas kesadaran, dan menajamkan makna hidupnya. Pada akhirnya, karakter pembelajar sejati bukan hanya mengantarkan seseorang pada pencapaian materi atau jabatan tertentu. Lebih dari itu, karakter ini membentuk manusia yang tangguh secara mental, dewasa secara emosional, dan bijak dalam menyikapi kehidupan. Inilah karakter yang membuat seseorang mampu bertahan, bertumbuh, dan memberi manfaat di mana pun ia berada. Karakter pembelajar adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu instan, tetapi pasti. Ketika karakter ini tertanam kuat, nasib baik bukan lagi harapan semu, melainkan keniscayaan yang lahir dari proses belajar tanpa henti.

antarkita ojek
Ruang Kita

ANTARKITA (Antara Kita): Sejahtera Bersama

*ANTARKITA (Antara Kita): Sejahtera Bersama*   Antarkita—yang bermakna antara kita—adalah sebuah ikhtiar bersama untuk menghadirkan kesejahteraan yang adil, berkelanjutan, dan bermartabat. Sebuah gerakan yang meyakini bahwa kesejahteraan sejati tidak lahir dari persaingan yang meniadakan, melainkan dari kolaborasi yang saling menguatkan.   Dalam perspektif Ekonomi Islam, tujuan utama pembangunan adalah falah—kesejahteraan dunia dan akhirat. Ekonomi tidak semata soal pertumbuhan angka, tetapi tentang keadilan, kebermanfaatan, dan keberkahan bagi seluruh lapisan masyarakat. Sistem ekonomi Islam dirancang untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota masyarakat yang tertinggal atau terpinggirkan.   Prinsip keadilan (al-‘adl) menjadi fondasi utama. Distribusi sumber daya dan pendapatan harus berjalan secara adil agar ketimpangan sosial dapat ditekan dan keseimbangan ekonomi terjaga. Keadilan bukan berarti sama rata, tetapi menempatkan sesuatu sesuai dengan hak dan kebutuhannya.   Prinsip kesetaraan (al-musawah) menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi. Tidak boleh ada diskriminasi atas dasar gender, ras, maupun status sosial. Setiap manusia diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.   Selanjutnya, prinsip kemanfaatan (al-manfa‘ah) mengarahkan aktivitas ekonomi agar memberi dampak luas bagi masyarakat. Kekayaan tidak boleh berhenti pada segelintir orang, tetapi harus berputar, mengalir, dan menghadirkan maslahat bersama.   Seluruh aktivitas ekonomi tersebut harus terikat dengan nilai-nilai syariah, menjunjung tinggi prinsip halal dan thayyib. Inilah pembeda utama dengan sistem ekonomi konvensional—bahwa tujuan akhir bukan hanya keuntungan materi, tetapi juga tanggung jawab moral dan sosial.   Nilai-nilai ini sejatinya sejalan dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang menjadi landasan pembangunan nasional Indonesia. Pasal ini menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan, demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.   Lebih jauh, esensi bernegara bukan hanya menjalankan prosedur demokrasi, tetapi memastikan rakyat benar-benar hidup sejahtera. Sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, tujuan negara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa.   ANTARKITA hadir di titik temu nilai keislaman dan konstitusi kebangsaan. Menyatukan spirit ekonomi Islam dengan cita-cita bernegara. Dari kita, oleh kita, dan untuk kesejahteraan bersama.   Karena Indonesia yang kuat bukan hanya negara yang besar secara angka, tetapi negara yang rakyatnya hidup adil, bermartabat, dan sejahtera—antara kita.   Suwatno Ibnu Sudihardjo ANTARKITA

raung kita
Ruang Kita

Ruang Kita

*Ruang Kita*   Zaman bergerak semakin cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa jeda, dan jarak seolah dipangkas oleh layar di genggaman. Namun di balik semua kemajuan itu, manusia justru kian hidup dalam ruang-ruang yang sempit—ruang yang hanya diisi oleh urusan diri sendiri, kepentingan pribadi, dan kesibukan yang tak pernah benar-benar usai.   Di era digital, manusia begitu mudah berkomunikasi, namun semakin sulit untuk benar-benar hadir. Percakapan menjadi singkat, perjumpaan terasa tergesa, dan kebersamaan sering kali hanya tersisa sebagai simbol. Banyak manusia hidup berdampingan, tetapi tidak benar-benar bersama. Kita terhubung, namun terasing. Kita saling melihat, tetapi jarang saling menyapa.   Manusia terjebak dalam ritme individualisme. Setiap orang sibuk mengurus dunianya sendiri, mengejar target dan pencapaian pribadi, hingga tanpa sadar kehilangan ruang dan waktu untuk membangun relasi yang bermakna. Ruang publik menyempit, ruang dialog menghilang, dan ruang kebersamaan perlahan memudar.   Di tengah kondisi itulah, Ruang Kita hadir.   Ruang Kita adalah ruang antara kita. Sebuah ikhtiar untuk membuka kembali ruang yang hilang—ruang untuk bertemu, mendengar, dan memahami. Ruang yang mengajak manusia keluar dari sekat ego dan kepentingan sempit, menuju kebersamaan yang lebih luas dan bermakna.   Ruang Kita dihadirkan sebagai ruang komunikasi dan silaturahmi. Tempat di mana percakapan tidak hanya berlangsung, tetapi juga bernilai. Di sinilah perbedaan tidak dijadikan alasan untuk menjauh, melainkan peluang untuk saling belajar. Di sinilah manusia kembali menemukan makna hadir secara utuh—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.   Lebih dari sekadar ruang fisik, Ruang Kita adalah ruang sosial dan ruang kesadaran. Ruang untuk berinteraksi, berbagi gagasan, merawat empati, dan membangun kolaborasi. Di ruang ini, setiap orang diposisikan setara, setiap suara layak didengar, dan setiap niat baik memiliki tempat untuk bertumbuh.   Ruang Kita menjadi fondasi lahirnya kerja bersama. Dari ruang inilah kepercayaan dibangun, sinergi dirajut, dan gerakan kolektif dimulai. Sebab perubahan yang berkelanjutan tidak lahir dari kesendirian, tetapi dari perjumpaan. Tidak dari dominasi satu pihak, melainkan dari orkestrasi banyak peran.   Sebagai bagian dari semangat ANTARKITA, Ruang Kita adalah titik temu antara nilai, kepedulian, dan aksi. Ia menjadi ruang awal untuk membangun kesadaran kolektif—bahwa persoalan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan ruang bersama untuk menyatukan niat dan langkah.   Ruang Kita menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa. Mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan untuk saling membutuhkan, saling menguatkan, dan saling menumbuhkan. Bahwa kebersamaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan.   Pada akhirnya, Ruang Kita adalah harapan. Harapan akan hadirnya kembali ruang-ruang kemanusiaan di tengah dunia yang semakin individualistik. Ruang di mana kita bisa berhenti sejenak, menanggalkan kesibukan, dan kembali menjadi manusia—yang peduli, yang hadir, dan yang mau berjalan bersama.   Karena di sanalah kehidupan menemukan maknanya: di ruang antara kita.   Suwatno Ibnu Sudihardjo ANTARKITA

antarkita
Ruang Kita

Antarkita

*ANTARKITA* Orkestrasi Sejahtera Bersama ANTARKITA lahir dari kesadaran bahwa persoalan kesejahteraan rakyat tidak dapat diselesaikan secara parsial, apalagi individual. Dibutuhkan orkestrasi—penyelarasan niat, peran, dan tindakan—agar setiap potensi yang ada dapat bergerak dalam satu irama perubahan. ANTARKITA hadir sebagai ruang kebersamaan, sebagai gerakan kolaboratif yang menyatukan langkah menuju cita-cita sejahtera bersama.   Gerakan ini berpijak pada nilai-nilai Islam berkemajuan dan menjadi bagian dari implementasi peran pelopor, penerus, dan penyempurna dalam denyut panjang gerakan Muhammadiyah, khususnya di bidang ekonomi rakyat. Ekonomi dipahami bukan sekadar aktivitas mencari keuntungan, melainkan instrumen dakwah dan pemberdayaan untuk menghadirkan keadilan sosial serta kemaslahatan umat. Sebagai pelopor, ANTARKITA berani merintis model-model baru penguatan ekonomi rakyat yang berkeadilan, berbasis kolaborasi, dan berlandaskan etika syariah. ANTARKITA mendorong lahirnya ekosistem usaha yang saling menguatkan, bukan saling mematikan; yang tumbuh bersama, bukan maju sendiri. Pelopor berarti berani memulai, berani berbeda, dan berani mengambil tanggung jawab perubahan. Sebagai penerus, ANTARKITA melanjutkan spirit kemandirian ekonomi yang sejak awal telah menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah. Spirit berdikari, etos kerja, kejujuran, dan kepedulian sosial menjadi nilai yang terus dijaga dan dihidupkan. Gerakan ini tidak berdiri di ruang hampa, melainkan menyambung mata rantai sejarah perjuangan ekonomi umat yang telah dirintis oleh para pendahulu. Sebagai penyempurna, ANTARKITA melakukan ikhtiar inovatif agar gerakan ekonomi rakyat tetap relevan dengan dinamika zaman. Digitalisasi, penguatan jaringan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta tata kelola yang profesional menjadi bagian dari upaya penyempurnaan. Penyempurna bukan berarti mengklaim paling benar, tetapi terus belajar, memperbaiki, dan menyesuaikan tanpa meninggalkan nilai dasar perjuangan. Orkestrasi yang dibangun ANTARKITA menyatukan berbagai elemen: kader persyarikatan, pelaku UMKM, komunitas ekonomi, akademisi, dan masyarakat luas. Setiap elemen memiliki peran masing-masing, yang disinergikan dalam satu tujuan besar—mewujudkan ekonomi rakyat yang mandiri, adil, dan berkelanjutan. Dalam orkestrasi ini, tidak ada aktor utama yang berdiri sendiri; yang utama adalah harmoni dan dampak bersama. ANTARKITA meyakini bahwa kesejahteraan bangsa bermula dari kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, gerakan ini menempatkan rakyat sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Ekonomi rakyat harus tumbuh dari bawah, berakar pada kebutuhan nyata masyarakat, dan dikelola dengan prinsip kebermanfaatan yang luas. Lebih dari sekadar gerakan ekonomi, ANTARKITA adalah panggilan pengabdian. Sebuah ikhtiar kolektif untuk menunaikan amanah persyarikatan, amanah umat, dan amanah kebangsaan. Ia mengajak setiap insan untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi bagian dari orkestrasi kebaikan. Dengan semangat kolaborasi, keberanian, dan kemandirian, ANTARKITA berkomitmen untuk terus bergerak, merajut sinergi, dan menghadirkan solusi nyata. Karena sejatinya, kesejahteraan bukanlah tujuan yang dicapai sendiri, melainkan hasil dari perjalanan bersama—antara kita. Suwatno Ibnu Sudihardjo ANTARKITA

Scroll to Top