You are currently viewing Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu:

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu:

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu:

Bela Beli Produk Muhammadiyah sebagai Ikhtiar Strategis Menguatkan Ekonomi Umat dan Membela Martabat Bangsa

Banyumas, Januari 2026 | Antarkita

Memasuki awal tahun 2026, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas meneguhkan kembali komitmen penguatan ekonomi umat melalui Gerakan Bedukmu (Bela dan Dukung Usaha Muhammadiyah). Seruan ini disampaikan langsung oleh Ketua PDM Banyumas, Drs. H.M. Djohar, M.Pd., sebagai respons atas situasi ekonomi nasional yang tengah menghadapi tantangan serius, terutama menurunnya daya beli masyarakat.

Berbagai kajian ekonomi nasional menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta melemahnya pendapatan riil masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor usaha rakyat dan UMKM, termasuk usaha-usaha milik warga Muhammadiyah di daerah.

Jika tidak direspons secara kolektif, penurunan daya beli berpotensi melemahkan sendi-sendi ekonomi umat dan memperlebar ketimpangan. Dalam konteks inilah Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, dipanggil untuk tidak hanya hadir dalam dakwah sosial dan pendidikan, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi jamaah.

Bela Beli sebagai Pembelaan Martabat Bangsa

Literasi tentang bela beli produk bangsa dan produk umat telah lama menjadi bagian dari wacana ideologis di lingkungan Persyarikatan. Dalam kajian yang dimuat oleh Suara ‘Aisyiyah, ditegaskan bahwa gerakan Bela Beli Indonesia bukan sekadar pilihan konsumsi, melainkan sikap ideologis dalam membela martabat bangsa.

Bela beli dipahami sebagai tindakan sadar membeli produk anak bangsa bukan karena faktor harga atau kualitas semata, melainkan karena keberpihakan pada kemandirian nasional. Bangsa yang besar dan bermartabat adalah bangsa yang menghargai dan menghidupkan karya anak bangsanya sendiri. Ketergantungan berlebihan pada produk luar, tanpa keberpihakan pada produk lokal, hanya akan melanggengkan ketimpangan ekonomi dan ketergantungan struktural.

Dalam perspektif ini, aktivitas konsumsi tidak lagi bersifat netral, tetapi memiliki dimensi moral, ideologis, dan kebangsaan.

Ekonomi Sirkular Muhammadiyah: Dari Produksi hingga Konsumsi

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, yang secara konsisten mendorong peningkatan jiwa bisnis warga Muhammadiyah dan pembangunan ekonomi sirkular berbasis persyarikatan. Dalam berbagai forum resmi Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—tidak cukup hanya didorong untuk berproduksi dan berwirausaha, tetapi juga harus membangun kesadaran kolektif dalam pola konsumsi.

Menurutnya, salah satu kelemahan ekonomi umat selama ini adalah terjadinya kebocoran ekonomi: umat berproduksi, tetapi tidak saling membeli; umat berdagang, tetapi konsumennya justru berasal dari luar komunitas. Karena itu, ia mendorong agar warga Muhammadiyah memprioritaskan pembelian produk sesama warga sebagai bagian dari strategi membangun kekuatan ekonomi internal.

Ekonomi sirkular Muhammadiyah bukanlah sikap eksklusif, melainkan ikhtiar rasional dan bermartabat agar nilai ekonomi yang dihasilkan umat dapat berputar, tumbuh, dan menguat di lingkungan sendiri sebelum keluar ke pasar yang lebih luas.

Gerakan Bedukmu: Ikhtiar Kolektif PDM Banyumas

Berangkat dari literasi dan pemikiran tersebut, Ketua PDM Banyumas Drs. H.M. Djohar, M.Pd. mengajak seluruh warga Muhammadiyah di Banyumas untuk menjadikan Gerakan Bedukmu sebagai budaya ekonomi bersama, khususnya di awal tahun 2026.

“Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, meningkatkan kemampuan ekonomi umat tidak bisa dilakukan secara individual semata. Diperlukan kesadaran kolektif dan keberpihakan yang nyata. Salah satu ikhtiar paling konkret adalah mengutamakan membeli kebutuhan ekonomi dari usaha-usaha milik warga Muhammadiyah,” tegas Djohar.

Menurutnya, Bedukmu adalah langkah strategis untuk membangun sirkulasi ekonomi internal Muhammadiyah, mulai dari kebutuhan pangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, hingga usaha kreatif. Ketika warga Muhammadiyah secara sadar menjadi konsumen bagi usaha sesama warga, maka kekuatan ekonomi jamaah akan tumbuh secara berkelanjutan.

Djohar menegaskan bahwa bela beli produk Muhammadiyah merupakan bagian dari bela beli produk Muslim dan produk anak bangsa.

“Kita membeli produk Muslim bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tetapi karena itu milik anak bangsa. Bela beli adalah sikap jelas pembelaan—membela martabat dan kejayaan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bela beli bukan tindakan emosional, tetapi pilihan strategis. Bangsa dan umat yang tidak membela produk dan usahanya sendiri akan selamanya menjadi pasar, bukan pelaku utama ekonomi.

Menjadikan Bela Beli sebagai Budaya Persyarikatan

Dalam konteks Muhammadiyah, Djohar menegaskan bahwa kekuatan persyarikatan tidak hanya diukur dari besarnya amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga dari ketahanan ekonomi warganya. Oleh karena itu, Gerakan Bedukmu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi budaya hidup dalam keseharian warga Muhammadiyah.

Ia mengajak seluruh elemen persyarikatan—pimpinan, amal usaha, organisasi otonom, hingga warga di tingkat ranting dan cabang—untuk menjadikan bela beli sebagai bagian dari jihad ekonomi yang bermartabat.

“Semangat awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Jika kita ingin Muhammadiyah kuat dan berdaulat, maka usaha warga Muhammadiyah harus hidup. Dan usaha itu hanya akan hidup jika kita sendiri yang membelanya melalui pilihan belanja kita setiap hari,” pungkasnya.

Melalui Gerakan Bedukmu, PDM Banyumas berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa keputusan ekonomi sehari-hari adalah bagian dari perjuangan besar membangun kemandirian umat dan menjaga martabat bangsa Indonesia di tengah tantangan zaman.

SiS | Antarkita

 

Tinggalkan Balasan