Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital
Purwokerto–Banyumas || AntaraKita.com — SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menggelar Workshop Penguatan Kompetensi Guru selama dua hari, Rabu–Kamis (14–15 Januari 2026), bertempat di lingkungan sekolah, Jl. Gerilya Barat Gang II, Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini menjadi ikhtiar strategis sekolah dalam menyalakan pendidikan berkemajuan di tengah derasnya akselerasi digital.
Workshop yang diikuti seluruh pendidik ini mengusung tema “Digitalisasi Pembelajaran untuk Mewujudkan Proses Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Bermakna, dan Berpusat pada Murid.” Tema tersebut menegaskan komitmen SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak kokoh pada nilai-nilai Pendidikan Muhammadiyah.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, workshop ini menjadi ruang refleksi kolektif bagi para guru Muhammadiyah dalam merespons tantangan pendidikan kontemporer. Digitalisasi pembelajaran diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai wasilah untuk memerdekakan belajar, menghidupkan interaksi edukatif, serta menumbuhkan makna dalam proses pendidikan.
Kepala SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto, Yuni Prihartini, M.Pd., dalam sambutan pengantarnya menegaskan bahwa guru Muhammadiyah dituntut untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan ruh dakwah dan semangat tajdid. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru merupakan bentuk pengabdian kepada Persyarikatan sekaligus ikhtiar menjaga sekolah Muhammadiyah sebagai benteng nilai dan pusat inovasi.
“Digitalisasi pembelajaran adalah upaya menghadirkan proses pendidikan yang lebih bermakna, agar iman, ilmu, dan amal dapat berpadu dalam praksis pendidikan berkemajuan. Inilah misi pendidikan yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan,” ujarnya.
Workshop ini menghadirkan Didit Ariyanto Arifin, M.Pd., Pengawas Majelis Dikdasmen & PNF PDM Banyumas, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Didit menekankan pentingnya literasi digital yang dilandasi kesadaran pedagogis dan nilai kemanusiaan. Ia mengajak para guru memandang teknologi sebagai ruang dialog baru antara pendidik dan murid.
“Teknologi akan bermakna ketika digunakan untuk membangun interaksi, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang memerdekakan. Tanpa kesadaran nilai, teknologi justru bisa menjauhkan manusia dari hakikat pendidikan,” tuturnya.
Suasana workshop berlangsung dinamis dan partisipatif. Para guru tampak antusias mempraktikkan materi dengan perangkat digital masing-masing, berdiskusi, serta saling berbagi praktik baik pembelajaran. Ruang-ruang kelas diatur secara kolaboratif, mencerminkan semangat pembelajaran aktif yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah.
Salah satu peserta, Kurnia Widiasih, S.Pd.I., menilai workshop ini membuka perspektif baru tentang peran guru di era digital.
“Kami diingatkan bahwa teknologi dapat membuat kelas lebih hidup dan bermakna selama digunakan dengan niat mendidik dan menanamkan nilai. Digitalisasi bukan tujuan akhir, tetapi sarana dakwah kultural,” ungkap Guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab tersebut.
Hal senada disampaikan Agus Salim, S.Pd.Si., Guru Matematika. Ia merasakan langsung manfaat digitalisasi dalam menyederhanakan konsep-konsep abstrak agar lebih mudah dipahami siswa.
“Pembelajaran menjadi lebih dialogis dan kontekstual. Namun kami juga diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat; ruh pendidikan tetap terletak pada kesadaran nilai dan tanggung jawab moral guru,” ujarnya.
Workshop ini meneguhkan kembali peran guru Muhammadiyah sebagai agen perubahan di ruang kelas. Tidak hanya menguasai materi dan teknologi, tetapi juga menjaga orientasi pendidikan pada pembentukan karakter, kesadaran ideologis, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari ruang kelas yang terus bertransformasi, SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menyalakan ikhtiar pendidikan berkemajuan—mengolah teknologi dengan nurani, merawat ilmu dengan adab, dan menyiapkan generasi yang siap menyinari zamannya.
(Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)