Aspirasimu: Saatnya Muhammadiyah Membaca Realitas, Bukan Hanya Perdebatan

Aspirasimu: Saatnya Muhammadiyah Membaca Realitas, Bukan Hanya Perdebatan

Oleh SiS Antarkita

Grup WhatsApp Aspirasimu dibentuk bukan untuk menjadi grup percakapan biasa. Bukan pula untuk menambah panjang daftar grup yang setiap hari dipenuhi perdebatan tanpa ujung dan tanpa dampak nyata bagi kehidupan jamaah.

Aspirasimu lahir dengan tujuan yang lebih strategis, yaitu menjadi ruang berhimpunnya gagasan, keluhan, harapan, dan solusi dari warga Muhammadiyah untuk kemudian dirumuskan menjadi langkah-langkah nyata yang dapat memperkuat pemberdayaan ekonomi jamaah dan ranting.

Mengapa fokus pada ekonomi?

Karena saat ini persoalan ekonomi menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat. Harga kebutuhan hidup terus meningkat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, usaha kecil menghadapi berbagai kesulitan, sementara daya beli masyarakat mengalami tekanan. Banyak keluarga yang secara lahiriah terlihat baik-baik saja, tetapi sesungguhnya sedang berjuang keras menjaga stabilitas ekonomi keluarganya.

Ketika ekonomi melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor keuangan keluarga. Pendidikan anak menjadi terganggu, kesehatan terabaikan, kualitas hidup menurun, bahkan hubungan sosial dan kehidupan beragama pun dapat ikut terdampak.

Ironisnya, di tengah situasi seperti ini, ruang-ruang diskusi kita masih sering didominasi oleh pembahasan yang tidak menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Dari sekitar 600 anggota grup, aktivitas diskusi sering kali hanya didominasi oleh sebagian kecil anggota dengan tema-tema khilafiyah yang berulang.

Perbedaan pendapat memang bagian dari tradisi intelektual Islam. Namun ketika energi organisasi lebih banyak terserap untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak memberikan solusi terhadap persoalan nyata umat, maka kita perlu melakukan evaluasi bersama.

Masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan jawaban tentang siapa yang paling benar dalam suatu perbedaan pendapat. Mereka juga membutuhkan jawaban tentang bagaimana mendapatkan pekerjaan, mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, memperoleh pendidikan yang berkualitas, mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau, dan menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat.

Di sinilah relevansi semangat tajdid Muhammadiyah diuji.

Ketika Kyai Ahmad Dahlan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, beliau tidak memulai gerakan dengan memperbanyak perdebatan. Beliau memulai dengan membaca realitas.

Beliau melihat umat yang tertinggal dalam pendidikan.

Beliau melihat masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Beliau melihat kemiskinan yang harus diatasi.

Beliau melihat anak-anak yang membutuhkan akses belajar.

Beliau melihat problem sosial yang membutuhkan solusi.

Lalu lahirlah sekolah-sekolah, rumah sakit, panti asuhan, gerakan sosial, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah yang manfaatnya masih dirasakan hingga hari ini.

Inilah hakikat tajdid yang sesungguhnya.

Tajdid bukan hanya memperbarui cara berpikir.

Tajdid adalah keberanian membaca tantangan zaman dan menghadirkan solusi yang relevan.

Jika pada masa Kyai Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah pendidikan dan kesehatan, maka pada era sekarang salah satu tantangan terbesar adalah pemberdayaan ekonomi umat di tengah disrupsi teknologi, perubahan pola bisnis, persaingan global, dan tekanan ekonomi yang semakin kompleks.

Karena itu, semangat tajdid harus lahir dari bawah, dari akar rumput, dari suara jamaah yang setiap hari berhadapan langsung dengan realitas kehidupan.

Dari pedagang kecil yang kesulitan meningkatkan omzet.

Dari petani yang menghadapi ketidakpastian harga.

Dari pelaku UMKM yang membutuhkan akses pasar.

Dari generasi muda yang mencari pekerjaan.

Dari keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Dari ranting-ranting Muhammadiyah yang ingin lebih berdaya secara ekonomi.

Aspirasimu harus menjadi jembatan yang menghubungkan persoalan-persoalan tersebut dengan solusi organisasi.

Bukan sekadar tempat curhat.

Bukan sekadar tempat berkomentar.

Tetapi menjadi laboratorium gagasan yang melahirkan program-program nyata.

Mungkin berupa pelatihan kewirausahaan.

Mungkin berupa penguatan jaringan bisnis antarwarga Muhammadiyah.

Mungkin berupa digitalisasi usaha kecil.

Mungkin berupa koperasi modern.

Mungkin berupa inkubasi bisnis untuk generasi muda.

Mungkin pula berupa advokasi kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.

Yang terpenting, diskusi harus menghasilkan tindakan.

Aspirasi harus menghasilkan program.

Dan program harus menghasilkan kemaslahatan.

Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. Ada akademisi, pengusaha, profesional, birokrat, aktivis sosial, pendidik, dan berbagai profesi lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Potensi besar ini akan menjadi kekuatan dahsyat apabila diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi umat.

Sudah saatnya kita memperluas fokus pembahasan dari sekadar apa yang diperdebatkan menjadi apa yang bisa dikerjakan bersama.

Sudah saatnya energi organisasi lebih banyak diarahkan pada pemberdayaan daripada perdebatan.

Sudah saatnya aspirasi jamaah menjadi bahan bakar lahirnya gerakan tajdid yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Karena ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukanlah seberapa banyak perdebatan yang mampu diciptakan, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dirasakan oleh masyarakat.

Dan sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah menjadi besar bukan karena banyaknya perdebatan yang dimenangkan, tetapi karena banyaknya masalah umat yang berhasil diselesaikan.

Aspirasimu hadir untuk menghidupkan kembali semangat itu. Semangat membaca realitas, merumuskan solusi, dan menghadirkan kemaslahatan bagi jamaah, ranting, dan masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan