You are currently viewing Tuned In Strategy

Tuned In Strategy

Tuned In Strategy

Oleh SiS Antarkita

Belajar dari Blackberry, Nokia, Kodak, Fuji Film dan Gelombang Kendaraan Listrik

Ada bisnis yang menjual produk yang sama.

Lokasinya tidak jauh berbeda.

Kualitasnya hampir setara.

Harganya juga tidak terpaut jauh.

Namun yang satu begitu laris hingga kewalahan melayani pelanggan, sementara yang lain sepi dan terus bertanya-tanya mengapa pembeli tidak datang.

Ada sekolah yang memiliki gedung yang bagus, guru yang berkualitas, dan kurikulum yang baik.

Tetapi ada sekolah lain yang justru dipenuhi pendaftar hingga harus membuat daftar tunggu.

Apa yang membedakan?

Tidak selalu modal.

Tidak selalu fasilitas.

Tidak selalu usia organisasi.

Tidak selalu nama besar.

Yang sering kali menjadi pembeda adalah kemampuan memahami perubahan kebutuhan manusia.

Inilah yang saya sebut sebagai Tuned In Strategi.

Tuned in berarti terhubung dengan denyut kebutuhan masyarakat.

Mampu mendengar perubahan yang sedang terjadi.

Mampu membaca arah masa depan.

Dan mampu menyesuaikan diri sebelum perubahan itu memaksa kita berubah.

Kesalahan yang Berulang dalam Sejarah

Sejarah bisnis menunjukkan pola yang berulang.

Ketika sebuah perusahaan menjadi sangat besar, sering kali muncul keyakinan bahwa posisinya tidak akan tergoyahkan.

Blackberry pernah berada di puncak kejayaan.

BBM (BlackBerry Messenger) menjadi standar komunikasi.

Pejabat, pengusaha, mahasiswa, hingga pelajar merasa bangga memiliki Blackberry.

Pada saat itu banyak orang sulit membayangkan Blackberry akan hilang dari pasar.

Hal yang sama terjadi pada Nokia.

Nokia pernah menguasai lebih dari separuh pasar telepon seluler dunia.

Merek ini begitu kuat sehingga banyak orang menganggap telepon genggam identik dengan Nokia.

Kodak lebih luar biasa lagi.

Selama puluhan tahun Kodak menjadi simbol fotografi dunia.

Mereka memiliki teknologi, pabrik, distribusi, pelanggan, dan keuntungan yang sangat besar.

Namun akhirnya ketiga nama besar itu kehilangan dominasinya.

Mengapa?

Karena mereka melihat dunia dengan kacamata masa lalu.

Mereka percaya apa yang membuat mereka sukses kemarin akan tetap membuat mereka sukses besok.

Mereka terlalu fokus mempertahankan bisnis yang ada.

Mereka kurang fokus memahami perubahan yang sedang terjadi.

Fuji Film Memilih Jalan Berbeda

Fuji Film menghadapi ancaman yang sama seperti Kodak.

Ketika teknologi digital berkembang, bisnis film fotografi perlahan mulai menurun.

Fuji Film memiliki dua pilihan.

Pilihan pertama adalah mempertahankan model bisnis lama dan berharap keadaan kembali seperti semula.

Pilihan kedua adalah menerima kenyataan bahwa dunia telah berubah.

Fuji Film memilih pilihan kedua.

Mereka melakukan transformasi.

Mereka masuk ke industri kesehatan.

Mereka mengembangkan teknologi material.

Mereka menciptakan sumber pendapatan baru.

Mereka tidak bertanya:

“Bagaimana cara mempertahankan masa lalu?”

Mereka bertanya:

“Bagaimana cara memenangkan masa depan?”

Dan itulah yang membuat mereka tetap bertahan.

Kendaraan Listrik dan Pelajaran Sejarah

Hari ini dunia sedang menyaksikan perubahan besar yang mungkin akan dikenang seperti perubahan dari kamera film ke kamera digital.

Perubahan itu adalah kendaraan listrik.

Selama lebih dari seratus tahun industri otomotif dikuasai oleh kendaraan berbahan bakar minyak.

Mesin bensin dan diesel menjadi tulang punggung industri otomotif dunia.

Pabrikan besar membangun kerajaan bisnisnya dari teknologi tersebut.

Mereka memiliki pabrik raksasa.

Mereka memiliki jaringan dealer.

Mereka memiliki jaringan bengkel.

Mereka memiliki loyalitas pelanggan.

Mereka memiliki modal yang sangat besar.

Lalu datanglah kendaraan listrik.

Awalnya banyak yang menganggapnya hanya tren sesaat.

Sama seperti dahulu sebagian orang menganggap smartphone hanya mainan.

Sama seperti dahulu sebagian orang menganggap kamera digital tidak akan menggantikan film.

Namun perlahan kendaraan listrik terus berkembang.

Teknologinya semakin baik.

Baterainya semakin efisien.

Biaya produksinya semakin turun.

Dan yang paling penting, konsumen mulai melihat manfaatnya.

Mengapa Banyak Merek Baru Bermunculan?

Yang menarik, gelombang kendaraan listrik justru melahirkan banyak pemain baru.

Nama-nama yang dahulu tidak terlalu dikenal kini mulai menjadi pembicaraan.

Muncul berbagai merek baru yang agresif menawarkan teknologi kendaraan listrik kepada masyarakat. Sebagian bahkan berkembang jauh lebih cepat dibanding perkiraan banyak orang. Informasi pasar otomotif Indonesia juga menunjukkan semakin banyak merek kendaraan listrik baru yang masuk dan bersaing memperebutkan perhatian konsumen.

Fenomena ini mengingatkan kita pada masa ketika smartphone mulai menggantikan telepon seluler konvensional.

Saat itu banyak perusahaan lama merasa aman.

Mereka memiliki pasar.

Mereka memiliki pelanggan.

Mereka memiliki nama besar.

Namun ternyata yang datang bukan sekadar produk baru.

Yang datang adalah perubahan paradigma.

Demikian pula kendaraan listrik.

Ini bukan sekadar mengganti tangki bensin dengan baterai.

Tetapi mengubah cara industri otomotif bekerja.

Mengubah rantai pasok.

Mengubah model bisnis.

Mengubah teknologi.

Bahkan mengubah definisi kendaraan itu sendiri.

Mobil tidak lagi hanya soal mesin.

Tetapi juga soal perangkat lunak, data, baterai, konektivitas, dan kecerdasan buatan.

Akankah Pabrikan Mobil BBM Bernasib Seperti Nokia?

Belum tentu.

Dan inilah bagian yang menarik.

Sebagian pabrikan otomotif besar telah belajar dari sejarah.

Mereka melihat apa yang terjadi pada Nokia.

Mereka melihat apa yang terjadi pada Kodak.

Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Karena itu mereka mulai berinvestasi besar-besaran pada kendaraan listrik.

Mereka membangun pabrik baterai.

Mereka mengembangkan model kendaraan listrik.

Mereka merekrut insinyur perangkat lunak.

Mereka mengubah strategi bisnisnya.

Mereka sadar bahwa ancaman terbesar bukanlah kompetitor baru.

Melainkan ketidakmampuan untuk berubah.

Kelak mungkin akan ada pabrikan lama yang berhasil bertransformasi seperti Fuji Film.

Namun mungkin juga ada yang terlambat dan kehilangan relevansinya seperti Kodak.

Waktu yang akan menjawab.

Pelajaran untuk Sekolah dan Organisasi

Sebenarnya pelajaran ini tidak hanya berlaku untuk bisnis.

Sekolah juga menghadapi tantangan yang sama.

Orang tua hari ini berbeda dengan orang tua dua puluh tahun lalu.

Siswa hari ini berbeda dengan siswa dua puluh tahun lalu.

Dunia kerja hari ini berbeda dengan dunia kerja dua puluh tahun lalu.

Jika sekolah masih menggunakan cara berpikir lama untuk menjawab kebutuhan baru, maka sekolah tersebut perlahan akan kehilangan daya tariknya.

Hal yang sama berlaku untuk organisasi.

Organisasi yang hanya bangga pada sejarahnya akan tertinggal.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan cerita tentang masa lalu.

Masyarakat membutuhkan solusi untuk persoalan hari ini.

Mereka membutuhkan jawaban atas tantangan masa depan.

Karena itu organisasi harus terus bertanya:

“Apa kebutuhan masyarakat saat ini?”

“Masalah apa yang harus kami bantu selesaikan?”

“Apa kontribusi yang bisa kami berikan?”

Pelajaran untuk Kehidupan Pribadi

Tuned In Strategi juga berlaku dalam kehidupan pribadi.

Banyak orang gagal bukan karena tidak pintar.

Bukan karena tidak rajin.

Bukan karena tidak berpengalaman.

Tetapi karena terus menggunakan peta lama untuk memasuki wilayah yang sudah berubah.

Ada yang terus mengenang masa kejayaan bisnisnya.

Ada yang terus membandingkan kondisi sekarang dengan masa lalu.

Ada yang berharap dunia kembali seperti dulu.

Padahal dunia tidak akan kembali.

Dunia terus bergerak maju.

Yang bisa kita lakukan adalah belajar, beradaptasi, dan mencari peluang baru.

Sebagaimana Fuji Film memilih bertransformasi.

Sebagaimana sekolah harus terus berinovasi.

Sebagaimana bisnis harus terus memahami pelanggan.

Demikian pula setiap manusia harus terus belajar memahami perubahan zaman.

Penutup

Blackberry mengajarkan bahwa popularitas tidak menjamin keberlangsungan.

Nokia mengajarkan bahwa dominasi pasar tidak menjamin masa depan.

Kodak mengajarkan bahwa inovasi yang tidak diikuti keberanian berubah bisa menjadi sia-sia.

Fuji Film mengajarkan bahwa adaptasi lebih penting daripada nostalgia.

Dan kendaraan listrik sedang mengajarkan kepada dunia bahwa perubahan tidak pernah meminta izin kepada siapa pun.

Ia datang, berkembang, dan mengubah peta persaingan.

Tuned In Strategi adalah kemampuan mendengar suara perubahan ketika orang lain masih merasa aman, membaca masa depan ketika orang lain masih sibuk menikmati masa lalu, dan berani bertransformasi sebelum keadaan memaksa kita melakukannya. Mereka yang mampu melakukan itu akan tetap relevan. Mereka yang tidak, hanya akan menjadi bagian dari sejarah.

Tinggalkan Balasan