Pengendali Rezeki

Pengendali Rezeki

Oleh SiS Antarkita

Di warung kopi, di forum bisnis, di ruang keluarga, bahkan di kampus-kampus, sering muncul pertanyaan yang sama.

“Kenapa ada orang yang pendidikannya rendah tetapi hidupnya berkecukupan?”

“Kenapa ada orang yang gelarnya berjejer, ilmunya tinggi, bahkan ahli ekonomi, tetapi hidupnya biasa saja?”

Pertanyaan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Banyak orang mencoba menjawabnya dengan berbagai teori. Ada yang mengatakan karena faktor keberuntungan, ada yang menyebut karena jaringan, ada yang menyebut karena bakat bisnis, dan ada pula yang menghubungkannya dengan kondisi sosial.

Semua jawaban itu bisa saja menjadi bagian dari sebab. Namun sebagai seorang muslim, kita meyakini ada satu jawaban yang berada di atas semua sebab tersebut.

Pengendali rezeki adalah Allah SWT.

Gus Baha pernah menjelaskan bahwa Allah SWT sengaja menciptakan realitas yang beragam agar manusia memahami bahwa rezeki tidak sepenuhnya ditentukan oleh pendidikan, kecerdasan, kekuatan, jabatan, ataupun status sosial.

Kalau pendidikan menjadi penentu utama rezeki, maka semua profesor pasti menjadi orang terkaya.

Kalau kecerdasan menjadi penentu utama rezeki, maka semua ilmuwan pasti hidup berlimpah harta.

Kalau jabatan menjadi penentu utama rezeki, maka semua pejabat pasti hidup paling bahagia.

Namun kenyataannya tidak demikian.

Allah SWT menunjukkan kepada manusia bahwa Dia adalah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki.

Ada orang yang sekolahnya hanya sampai tingkat dasar, tetapi mampu membangun usaha yang mempekerjakan ratusan orang.

Ada pedagang pasar yang tidak memahami teori ekonomi modern, tetapi mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi dokter dan insinyur.

Ada petani yang setiap hari bergelut dengan lumpur sawah, tetapi hidupnya tenang, keluarganya harmonis, dan kebutuhan hidupnya tercukupi.

Sebaliknya, ada orang yang sangat pintar, menguasai banyak ilmu, tetapi rezekinya Allah cukupkan sesuai kebutuhannya.

Mengapa demikian?

Karena Allah SWT ingin manusia memahami bahwa ilmu adalah alat, sedangkan rezeki adalah hak prerogatif-Nya.

Ilmu penting.

Pendidikan penting.

Keterampilan penting.

Pengalaman penting.

Semua itu harus dicari dan diperjuangkan.

Namun semuanya hanyalah sarana.

Sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah SWT.

Masalahnya, manusia sering kali terjebak pada sebab hingga melupakan Sang Pencipta sebab.

Ketika memiliki modal besar, ia merasa modal itulah yang membuatnya berhasil.

Ketika memiliki pendidikan tinggi, ia merasa gelarlah yang membuatnya sukses.

Ketika memiliki jaringan luas, ia merasa relasilah yang menjadi sumber kekuatannya.

Padahal Allah SWT bisa mengambil semuanya dalam sekejap.

Betapa banyak perusahaan besar yang tumbang.

Betapa banyak orang kaya yang mendadak bangkrut.

Betapa banyak jabatan yang hilang hanya dalam hitungan hari.

Dan betapa banyak pula orang yang memulai dari nol, tanpa modal besar, tanpa gelar tinggi, tetapi Allah SWT bukakan pintu-pintu rezeki yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karena sesungguhnya rezeki bukan soal logika manusia semata.

Rezeki adalah wilayah kekuasaan Allah SWT.

Kadang Allah memberikan rezeki melalui perdagangan.

Kadang melalui pekerjaan.

Kadang melalui pertanian.

Kadang melalui pertemanan.

Kadang melalui pasangan hidup.

Kadang melalui anak-anak yang saleh.

Bahkan kadang melalui jalan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh manusia.

Allah SWT berfirman bahwa Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Inilah yang sering tidak dipahami oleh manusia modern.

Mereka begitu sibuk memperkuat ikhtiar, tetapi lupa memperkuat tawakal.

Mereka begitu sibuk menyusun strategi, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Mereka begitu fokus memperbesar usaha, tetapi lupa memperbesar rasa syukur.

Padahal sering kali keberkahan rezeki justru lahir dari hal-hal yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Kejujuran.

Doa orang tua.

Sedekah yang dilakukan secara diam-diam.

Menolong orang lain.

Memuliakan tamu.

Menjaga silaturahmi.

Menghindari hak orang lain.

Menjaga salat.

Memperbanyak istigfar.

Semua itu mungkin tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi tercatat di sisi Allah SWT.

Bahkan ada orang yang pendapatannya tidak terlalu besar, tetapi hidupnya terasa lapang.

Anaknya sehat.

Keluarganya harmonis.

Tidurnya nyenyak.

Hatinya tenang.

Sebaliknya, ada orang yang hartanya berlimpah, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan, konflik, dan ketakutan.

Karena ternyata kekayaan belum tentu identik dengan keberkahan.

Rezeki yang sesungguhnya bukan hanya apa yang masuk ke rekening kita.

Rezeki adalah segala nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita.

Udara yang kita hirup.

Tubuh yang sehat.

Pasangan yang setia.

Sahabat yang tulus.

Ilmu yang bermanfaat.

Waktu untuk beribadah.

Kesempatan untuk berbuat baik.

Dan yang paling mahal adalah hati yang selalu dekat dengan Allah SWT.

Karena itu, jangan pernah meremehkan orang yang pendidikannya rendah.

Jangan pula berbangga diri karena memiliki pendidikan tinggi.

Yang berpendidikan rendah jangan minder.

Yang berpendidikan tinggi jangan sombong.

Keduanya sama-sama hamba Allah SWT yang bergantung kepada-Nya.

Tugas kita bukan menentukan berapa rezeki yang akan kita terima.

Tugas kita adalah memperbaiki ikhtiar, memperbaiki akhlak, memperbaiki ibadah, dan terus menjemput rezeki dengan cara yang halal.

Setelah itu serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Sebab hidup ini bukan tentang siapa yang paling pintar menghitung rezeki.

Tetapi tentang siapa yang paling mampu mengenali bahwa di balik setiap rezeki ada Allah SWT yang mengaturnya.

Ketika pemahaman ini tertanam kuat dalam hati, kita tidak akan mudah iri kepada orang lain.

Kita tidak akan mudah putus asa ketika usaha belum berhasil.

Kita tidak akan mudah sombong ketika mendapatkan kelapangan.

Kita akan hidup dengan lebih tenang, karena sadar bahwa Allah SWT tidak pernah salah dalam membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya.

Maka belajarlah setinggi mungkin, bekerjalah sebaik mungkin, berusahalah semaksimal mungkin. Namun jangan pernah lupa bahwa yang menentukan hasil akhirnya bukan gelar, bukan kecerdasan, bukan jabatan, melainkan Allah SWT, Sang Pengendali Rezeki seluruh makhluk di alam semesta.

Tinggalkan Balasan