Dari Hobi Menjadi Harapan: Ribost, Sawah Pak Sahidi, dan Panen yang Berlipat
Pensiun sering kali dipersepsikan sebagai fase menepi. Namun bagi Pak Sahidi, masa purna tugas sebagai ASN di Pemerintah Daerah Banyumas justru menjadi awal dari babak baru kehidupan yang lebih merdeka dan bermakna. Sawah yang dulu sekadar tempat singgah di sela kesibukan, kini menjadi ruang belajar, bereksperimen, dan menemukan kebahagiaan.

Bertani awalnya hanya hobi—aktivitas untuk menjaga raga tetap bergerak dan batin tetap tenang. Namun seperti banyak petani lainnya, Pak Sahidi juga berhadapan dengan persoalan klasik: biaya tinggi, tenaga besar, hama datang silih berganti, dan hasil yang sering tak sebanding dengan jerih payah. Perjumpaannya dengan pupuk Ribost menjadi titik penting dalam perjalanan bertaninya.
Ribost: Inovasi yang Bertemu Pengalaman Lapangan
Ribost bukan pupuk biasa. Ia lahir dari dunia akademik, dikembangkan oleh para profesor dan peneliti Universitas Muhammadiyah Malang, lalu diuji di lahan nyata. Ketika ilmu bertemu pengalaman petani, di situlah nilai sesungguhnya diuji.
Pak Sahidi tidak serta-merta percaya. Ia mencoba, mengamati, menghitung, dan membandingkan. Baginya, pupuk yang baik bukan yang banyak klaim, tetapi yang nyata dampaknya di sawah.
Detail Budidaya Padi Sawah dengan Ribost, Komoditas: Padi Sawah, Varietas: Mapan 05, Tanggal tanam: 17 November 2025, Estimasi panen: 10 Februari 2025, Tahap Pra Tanam: Ribost Merah
Tiga hari sebelum tanam, lahan disemprot menggunakan: 1 gelas Aqua Ribost Merah, Dicampur 16 liter air
Penyemprotan ini bertujuan menekan pertumbuhan gulma sejak awal. Hasilnya sangat terasa. Gulma tidak tumbuh agresif, bahkan hampir tidak memerlukan matun.
“Biasanya sebelum tanam sudah mikir biaya matun. Ini tidak. Hemat tenaga, hemat biaya,” ungkap Pak Sahidi.
Penghematan ini bukan angka kecil. Bagi petani, biaya tenaga kerja matun adalah beban besar yang sering luput dari perhatian kebijakan.
Tahap Persemaian dan Pertumbuhan Awal: Ribost Hijau
Ribost Hijau diaplikasikan secara disiplin dan terjadwal: Pada benih:, Umur 1 minggu, Umur 15 hari
Setelah tanam: Umur 7 hari, 15 hari, 21 hari, 35 hari,vSetelah padi mrocot (awal pembentukan malai), Pola ini menjaga tanaman tetap sehat, kuat, dan adaptif terhadap lingkungan.
Manfaat Nyata di Lapangan
Selama masa tanam, Pak Sahidi mencatat beberapa perubahan penting: Tidak perlu matun, Tidak ada serangan hama utama, seperti: Belalang, Wereng, Sundep,Tanaman tampak lebih hijau, batang kuat, dan pertumbuhan relatif seragam
Yang paling terasa adalah hilangnya ketergantungan pada obat kimia. Tidak ada penyemprotan insektisida tambahan. Sawah terasa “lebih tenang”.
Efisiensi Pemupukan Kimia
Dengan Ribost, penggunaan pupuk kimia ditekan drastis: Urea: 25 kg Ponska: 25 kg
Jika dibandingkan pola konvensional, ini setara dengan pengurangan 40–50% pupuk kimia.
Secara matematis sederhana: Biaya pupuk turun, Biaya obat hama nol,Biaya tenaga kerja matun nol
Namun secara filosofis, ini berarti petani kembali memegang kendali atas lahannya, bukan dikendalikan oleh input mahal.
Uji Coba pada Komoditas Lain
Kepercayaan Pak Sahidi pada Ribost tidak berhenti di padi. Ia mencoba pada tanaman lain:
Pepaya – pertumbuhan stabil dan daun lebih sehat

Penyemprotan sebulan sekali
Talas Bogor – umbi berkembang baik

Penyemprotan sebulan sekali.
Daun mjd hijau dan tebal
Kelengkeng – respon tanaman positif pada fase vegetatif

Penyemprotan sekali waktu, dimulai awal daun Tua, .
Ini menunjukkan bahwa Ribost tidak bersifat spesifik tunggal, tetapi adaptif lintas komoditas.
Catatan Jujur untuk Penyempurnaan Sebagai petani yang rasional, Pak Sahidi tidak menutup mata pada kekurangan:
Pada fase setelah mrocot (pengisian malai), Ribost masih perlu penyempurnaan, Efektivitasnya masih sedikit di bawah produk Score, Namun untuk fase sebelum mrocot, Ribost dinilai: Efektif,Stabil,Tidak perlu tambahan obat kimia lain
Catatan ini penting. Inovasi sejati bukan yang sempurna sejak awal, tetapi yang mau mendengar suara lapangan.
Lebih dari Sekadar Panen
Bagi Pak Sahidi, Ribost bukan hanya soal hasil. Ia memberi:Rasa tenang karena tidak tergantung banyak input,Kepuasan karena sawah dikelola lebih ramah lingkungan
Tambahan penghasilan yang berarti di masa pensiun Bertani kembali menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan melelahkan. Ruang Silaturahmi, Ruang Belajar
Pak Sahidi membuka diri bagi siapa pun yang ingin: Belajar langsung dari praktik lapangan,Berdiskusi tentang aplikasi Ribost, Membangun kolaborasi demplot atau riset bersama
📍 Karangtawang RT 05/04📍 Desa Banyeran📍 Kecamatan Wangon, Banyumas
Oleh: SiS, Antarkita