You are currently viewing Ketika Bertemu Paradoks dan Simalakama, Hanya Allah Tempat Kembali

Ketika Bertemu Paradoks dan Simalakama, Hanya Allah Tempat Kembali

Ketika Bertemu Paradoks dan Simalakama, Hanya Allah Tempat Kembali

Oleh: SiS, antarkita

Hidup tidak selalu menghadirkan pilihan yang mudah. Tidak semua keputusan adalah tentang benar atau salah. Ada saatnya kita berdiri di persimpangan yang sama-sama berat. Di satu sisi ada maslahat, di sisi lain ada mudarat. Di satu pilihan ada kebaikan, di pilihan lain ada tanggung jawab.

Inilah yang disebut paradoks.

Inilah yang sering terasa seperti simalakama.

Dipilih terasa salah.

Tidak dipilih pun terasa salah.

Pada titik itulah manusia diuji, bukan hanya kecerdasannya, tetapi tauhidnya.

Ketika Akal Tidak Lagi Cukup

Akal adalah anugerah, tetapi ia terbatas. Perhitungan manusia tidak pernah sempurna. Kita hanya melihat hari ini, sementara Allah melihat masa depan. Kita hanya memahami sebab, sementara Allah menguasai akibat.

Allah ﷻ berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Qur’an, Al-Baqarah: 216)

Ayat ini adalah penenang bagi hati yang bimbang. Betapa sering kita menyesali keputusan, padahal di baliknya Allah sedang menyelamatkan kita dari keburukan yang tidak kita lihat.

Paradoks sering kali bukan tentang memilih yang paling menyenangkan, tetapi memilih yang paling Allah ridai.

Kembali dengan Istikharah dan Tawakal

Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk bergantung pada insting semata. Beliau mengajarkan istikharah—doa memohon pilihan terbaik kepada Allah.

Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan doa istikharah kepada para sahabat dalam setiap urusan penting, sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur’an.

Ini menunjukkan bahwa meminta petunjuk Allah bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan iman.

Setelah istikharah, bertawakallah.

Allah berfirman:

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

(QS. Al-Qur’an, Ali ‘Imran: 159)

Tawakal bukan menyerah tanpa usaha. Tawakal adalah ketenangan setelah usaha maksimal. Ia adalah keyakinan bahwa hasil terbaik bukan yang sesuai keinginan kita, tetapi yang sesuai kehendak Allah.

Ujian Tauhid di Tengah Kebingungan

Paradoks menguji logika.

Simalakama menguji keberanian.

Tetapi keduanya menguji tauhid.

Apakah kita benar-benar yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik Pengatur urusan?

Allah ﷻ berfirman:

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

(QS. Al-Qur’an, Al-Insyirah: 8)

Ketika semua saran berbeda-beda, ketika semua pendapat terasa saling bertentangan, ketika hati lelah memikirkan akibat—maka sujudlah. Karena di atas semua perhitungan manusia, ada keputusan Allah yang Maha Adil.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya… jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya; jika ia tertimpa kesulitan ia bersabar, dan itu baik baginya.”

(HR. Imam Muslim)

Artinya, bahkan jika keputusan yang kita ambil terasa berat, selama kita bersandar kepada Allah, hasilnya tetap kebaikan—di dunia atau di akhirat.

Jangan Takut Salah, Takutlah Tidak Bersandar

Kadang kita terlalu takut membuat keputusan yang salah. Padahal yang paling berbahaya bukan salah dalam memilih, tetapi tidak melibatkan Allah dalam memilih.

Selama hati kita ikhlas, selama kita sudah bermusyawarah, beristikharah, dan bertawakal, maka percayalah: Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”

(QS. Al-Qur’an, At-Talaq: 3)

Cukup bukan berarti tanpa ujian.

Cukup berarti Allah akan menguatkan hati, melapangkan jalan, dan memberikan hikmah di balik setiap keputusan.

Tempat Kembali yang Pasti

Manusia bisa salah menilai.

Teman bisa berubah.

Keadaan bisa berbalik.

Tetapi Allah tidak pernah berubah.

Rahmat-Nya tidak pernah berkurang.

Pertolongan-Nya tidak pernah terlambat.

Ketika bertemu paradoks dan simalakama, jangan panik. Jangan berputus asa. Jangan merasa sendirian.

Angkat tangan.

Basahi sajadah.

Bisikkan kegelisahan dalam doa.

Karena hanya kepada Allah kita kembali.

Hanya kepada Allah kita bersandar.

Dan hanya kepada Allah ketenangan sejati ditemukan.

Semoga setiap kebingungan mendekatkan kita kepada-Nya.

Semoga setiap pilihan menguatkan tauhid kita.

Dan semoga setiap keputusan menjadi jalan menuju ridha-Nya.

Oleh: SiS, antarkita

Tinggalkan Balasan