You are currently viewing Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT

Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT

Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT

Oleh: SiS, antarkita

Bukan pada doa, ikhtiar, usaha ataupun metode. Karena dunia ini tidak linier ataupun berbanding terbalik. Doa, ikhtiar, dan metode adalah bukti kita bertuhan pada Allah SWT.

Ada satu hal yang sangat halus dalam perjalanan iman: bergesernya tempat sandaran hati.

Awalnya kita bersandar kepada Allah. Lalu perlahan, tanpa sadar, kita mulai bersandar pada doa yang kita panjatkan. Kita mulai yakin pada jumlah usaha yang kita lakukan. Kita mulai percaya pada metode yang kita susun.

Ketika doa belum terkabul, kita gelisah.

Ketika usaha belum berhasil, kita marah.

Ketika metode gagal, kita kecewa.

Mengapa?

Karena diam-diam kita menaruh harapan terbesar bukan pada Allah, tetapi pada cara.

Padahal dunia ini tidak linier. Tidak selalu semakin banyak doa, semakin cepat jawaban turun. Tidak selalu semakin keras usaha, semakin besar hasil yang didapat. Tidak pula selalu kesulitan berarti hukuman dan kemudahan berarti kemuliaan.

Allah menjadikan hidup penuh variabel agar manusia tidak mempertuhankan sebab.

Jika dunia ini linier, manusia akan menyembah rumus.

Jika dunia ini selalu berbanding terbalik, manusia akan menyembah teori baru.

Tetapi Allah menjadikannya kompleks agar manusia tetap tunduk.

Cukuplah bertuhan pada Allah SWT.

Bukan pada doa itu sendiri.

Bukan pada ikhtiar itu sendiri.

Bukan pada usaha ataupun metode itu sendiri.

Doa bukan Tuhan.

Ikhtiar bukan Tuhan.

Metode bukan Tuhan.

Semuanya hanyalah bentuk ubudiyah—bukti bahwa kita hamba.

Doa adalah pengakuan bahwa kita lemah.

Ikhtiar adalah bentuk ketaatan karena kita diperintah berusaha.

Metode adalah amanah akal yang Allah titipkan agar digunakan dengan bijak.

Namun hasil akhir bukan milik doa kita.

Bukan milik kerja keras kita.

Bukan milik kecerdasan kita.

Hasil akhir milik Allah SWT.

Bertuhan kepada Allah berarti tetap berdoa meski belum melihat jawaban. Tetap berusaha meski belum melihat hasil. Tetap menyusun strategi meski belum melihat kepastian.

Bertuhan kepada Allah berarti hati tidak hancur ketika usaha gagal, dan tidak sombong ketika usaha berhasil.

Karena keberhasilan bukan bukti metode paling hebat.

Dan kegagalan bukan bukti doa tidak didengar.

Sering kali Allah menunda agar hati kita bersih dari kesombongan.

Sering kali Allah memberi agar kita belajar bersyukur.

Sering kali Allah menggagalkan cara agar kita kembali bersandar.

Di situlah tauhid diuji.

Apakah kita hanya yakin kepada Allah ketika hasil sesuai keinginan?

Ataukah kita tetap yakin meski takdir berbeda dari rencana?

Doa, ikhtiar, dan metode adalah bukti kita bertuhan pada Allah SWT.

Kita berdoa karena kita percaya Allah Maha Mendengar.

Kita berusaha karena kita percaya Allah memerintahkan gerak.

Kita menyusun metode karena kita percaya akal adalah amanah.

Namun kita tidak mengkultuskan semuanya.

Karena jika hati lebih tenang pada strategi daripada pada sujud, di situlah ada yang perlu diluruskan.

Cukuplah bertuhan pada Allah SWT.

Ketika doa belum terkabul, katakan: Allah Maha Tahu waktu terbaik.

Ketika usaha belum berhasil, katakan: Allah sedang mendidik sabar.

Ketika metode runtuh, katakan: Allah sedang menunjukkan jalan lain.

Hidup bukan tentang memastikan hasil, tetapi tentang memastikan hati tetap lurus.

Gunakan doa dengan sungguh-sungguh.

Lakukan ikhtiar dengan sepenuh tanggung jawab.

Rancang metode dengan ilmu dan hikmah.

Lalu lepaskan semuanya dalam keyakinan yang utuh:

Apa pun hasilnya, itulah keputusan Allah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Karena yang kita sembah adalah Allah,

bukan doa kita,

bukan usaha kita,

dan bukan metode kita.

Cukuplah bertuhan pada Allah SWT.

Oleh: SiS, antarkita

Tinggalkan Balasan