You are currently viewing Pimpinan Adalah Cerminan

Pimpinan Adalah Cerminan

Pimpinan Adalah Cerminan

Oleh: SiS, antarkita

Pimpinan adalah cerminan. Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mengandung konsekuensi yang dalam. Cermin tidak pernah memilih apa yang ingin dipantulkan. Ia hanya menampilkan apa yang berdiri di depannya.

Di era digital hari ini, cermin itu bernama ruang percakapan. Grup WhatsApp, forum daring, media sosial—semuanya adalah barometer sosial. Tema yang dominan diperbincangkan secara statistik bisa menjadi tolak ukur apa yang sedang terjadi di level pimpinan. Kalau yang ramai adalah wacana makro, isu strategis global, dan gagasan besar tentang arah peradaban, itu biasanya pertanda bahwa energi berpikir kita memang sedang berada di langit.

Namun pertanyaannya: apakah kaki kita masih menapak tanah?

Sebagian warga merasakan pimpinan Muhammadiyah hari ini seperti menara gading. Megah, kokoh, penuh visi besar. Tetapi terasa berjarak dengan denyut kehidupan sehari-hari rakyat. Rakyat berbicara tentang harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, pendidikan anak, akses kesehatan. Sementara diskusi struktural sering bergerak dalam bahasa strategi, arah gerakan, dan grand design.

Lucunya, fenomena itu juga tercermin di ruang digital. Tema diskusi didominasi persoalan makro yang penting—bahkan sangat penting—tetapi tidak selalu menyentuh solusi konkret yang bisa dirasakan langsung. Banyak ide berseliweran. Energi berpikir begitu besar. Tapi sering kali menguap sebelum berubah menjadi kerja nyata.

Di titik inilah kita perlu mengingat kembali gagasan Prof. Abdul Munir Mulkhan yang menegaskan bahwa Muhammadiyah harus bekerja untuk kemanusiaan. Dakwah tidak boleh berhenti pada simbol, wacana, atau narasi moral. Dakwah harus menyentuh realitas sosial. Dakwah harus menjadi jawaban atas problem kemiskinan, ketimpangan, kebodohan, dan ketidakadilan.

Beliau juga mendorong pentingnya dakwah kultural—yakni pendekatan dakwah yang lebih dekat dengan realitas sosial masyarakat kontemporer. Artinya, gerakan tidak boleh terjebak dalam menara normatif yang tinggi, tetapi harus hadir di ruang hidup masyarakat yang konkret. Dakwah bukan sekadar menyampaikan nilai, tetapi menghadirkan solusi.

Jika pimpinan adalah cerminan, maka tema diskusi digital yang jauh dari persoalan mikro adalah pantulan dari jarak struktural yang belum sepenuhnya terjembatani. Bukan berarti visi makro tidak penting. Justru visi besar adalah kompas. Tetapi kompas tanpa langkah kaki hanya akan menjadi hiasan meja.

Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai gerakan Islam wasatiyah—moderat, dinamis, dan heterogen. Di dalamnya ada berbagai tipologi pemikiran dan kader. Dari yang sangat puritan hingga yang progresif, dari yang akademis hingga yang aktivis sosial. Heterogenitas itu bukan kelemahan, melainkan modal kekuatan sosial. Tetapi kekuatan itu hanya akan bermakna jika mampu dirajut dalam kerja nyata yang membumi.

Menara gading bukanlah masalah jika ia memiliki tangga yang mudah diakses. Wacana makro bukanlah masalah jika ia punya jembatan menuju mikro. Grup WA bukanlah masalah jika ia menjadi ruang lahirnya aksi, bukan sekadar produksi opini.

Jangan sampai kita hebat dalam retorika, tetapi lemah dalam implementasi. Jangan sampai energi besar diskusi hanya menghasilkan arsip chat yang panjang. Jangan sampai organisasi yang didirikan untuk pembaruan sosial justru terasa berjarak dari persoalan sosial.

Pimpinan adalah cerminan. Tapi warga juga cerminan. Struktur dan basis saling memantulkan. Jika ingin pantulan yang lebih membumi, maka keduanya harus sama-sama bergerak.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukan mengurangi diskusi makro, tetapi menambahkan satu pertanyaan sederhana di setiap akhir perdebatan panjang:

“Dari semua ini, apa langkah kecil yang bisa kita lakukan minggu ini?”

Karena pada akhirnya, gerakan sebesar apa pun akan diukur bukan dari ketinggian menaranya, melainkan dari sejauh mana ia menyentuh kehidupan nyata masyarakat.

Dan cermin akan selalu jujur.

Kalau pantulannya terasa jauh, mungkin sudah saatnya kita sedikit lebih dekat dengan tanah.

Tinggalkan Balasan