Titik Balik dari Bumi Menara Kembar: Sebuah Perjumpaan yang Mengubah Arah Peta Pikiran
Oleh : Junaedy Alfan ( Peneliti IT untuk Pendidikan dan Peradaban)
Alhamdulillah. Satu kata yang muncul begitu saja pagi ini, dipicu oleh sekeping foto usang yang tiba-tiba dimunculkan oleh mesin pengingat Facebook. Ada getar yang berbeda ketika melihat penanggalan itu: 14 April 2014.
Dua belas tahun. Bukan waktu yang singkat untuk sekadar mengenang, tapi cukup untuk membuat dada ini berdesir menyadari betapa satu momen di masa lalu bisa menjadi bianglala takdir yang begitu panjang. Kala itu, saya adalah saya yang masih meraba-raba peta jalan intelektual. Hingga akhirnya, seorang sahabat yang saya hormati, Dr. Musthofa Umar Riau, menggandeng tangan saya. “Mari, ikut saya ke UTM Malaysia. Ada seminar Internasional yang mungkin akan mengubah cara pandangmu.”
Dan benar adanya. Di Universitas Teknologi Malaysia, Skudai, Johor, di situlah panggung batin saya bergeser. Saat itu saya duduk di antara para sarjana dari berbagai penjuru, menyaksikan seorang tua renta yang gagah berdiri di mimbar. Ia adalah Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Suaranya tidak menggelegar, namun setiap patah katanya menghunjam ke relung paling dalam. Beliau berbicara tentang Adab dan Peradaban.
Bagi sebagian orang, tema itu mungkin terdengar klasik dan usang. Tapi bagi saya saat itu, itu seperti tamparan air es di tengah padang pasir yang gersang. Saya yang sebelumnya hanya melihat pendidikan sebagai transfer keahlian teknis dan angka, mendadak dipertemukan dengan gagasan bahwa hilangnya adab adalah awal dari keruntuhan ilmu. Bahwa manusia, sebelum menjadi insinyur, dokter, atau programmer, harus terlebih dahulu menjadi manusia yang mengenali tempatnya yang sejati di hadapan Tuhan dan alam semesta.
Sejak detik itu, demam penasaran tak lagi bisa dibendung. Nama Naquib al-Attas menjadi obsesi intelektual baru. Saya memburu karyanya, dari Islam and Secularism hingga The Concept of Education in Islam. Mesin pencari Google menjadi sahabat setia di malam-malam panjang. Saya mencari jejak murid-muridnya, mereka yang telah meminum langsung dari mata air hikmah sang Guru. Perburuan itu membawa saya kepada nama Ust. Adian Husaini dan Pesantren At-Taqwa, serta jejak-jejak para pemikir yang Allah yarham lainnya di Indonesia yang setia mengawal gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
Prof. al-Attas adalah sosok yang membuat saya berhenti mengutuk keadaan dan mulai bertanya: Apa yang akan kita perankan dan perjuangkan dalam hidup yang singkat ini?
Dua belas tahun berselang, getaran dari ruang seminar di UTM itu belum juga padam. Justru ia menjelma menjadi bara api yang melahirkan karya nyata. Apa yang dulu bernama IDBC (Pendidikan Berbasis Adab dan IT) lahir dari rahim keresahan dan inspirasi itu. Kini, ia telah bermetamorfosis menjadi ELFAN AI Academy—sebuah wujud komitmen bahwa teknologi secanggih apa pun, tak boleh lepas dari akar adab dan peradaban.
Hari ini, menatap kembali ke belakang, saya hanya bisa tertegun dan bersyukur. Alhamdulillah, terima kasih telah diingatkan. Bahwa peradaban besar selalu dimulai dari sebuah pertemuan kecil yang khidmat, dari seorang guru yang ikhlas, dan dari seorang murid yang memutuskan untuk berpikir terbuka.
Terima kasih, Prof. Naquib al-Attas. Meski 8 Maret 2026 lalu telah berpulang, namun pertemuan itu menjadi abadi, menyalakan lentera-lentera kecil di hati para pencari jalan. Salah satunya, di hati saya, di hari itu, 14 April 2014.