Nilai dan Kegigihan
Oleh SiS Antarkita
Saya ingin mulai dari sesuatu yang sangat sering saya dengar, bahkan mungkin terlalu sering:
“Saya ini bukan siapa-siapa di Muhammadiyah.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi kalau kita dalami, ada banyak hal tersembunyi di baliknya—rasa tidak percaya diri, rasa tidak pantas, bahkan kadang keputusan untuk tidak melangkah lebih jauh.
Yang menarik, kalimat itu justru sering keluar dari orang-orang yang saya kenal punya kapasitas. Punya pengalaman. Punya karya. Punya jaringan. Bahkan sebagian dari mereka sudah melakukan hal-hal nyata yang manfaatnya dirasakan orang lain.
Artinya masalahnya bukan pada kemampuan.
Masalahnya ada pada cara kita memaknai “peran”.
Kita terlalu sering menganggap bahwa kontribusi itu harus lewat jalur struktural. Harus jadi pengurus. Harus punya jabatan. Harus ada posisi resmi dulu, baru merasa “punya tempat” untuk berbuat.
Padahal, kalau kita jujur melihat akar kelahiran Muhammadiyah, cara pandang itu tidak sepenuhnya tepat.
Muhammadiyah tidak dilahirkan sebagai lembaga birokrasi yang kaku. Ia bukan sekadar organisasi yang sibuk dengan administrasi, laporan, dan struktur. Semua itu memang penting, tapi itu bukan ruh utamanya.
Muhammadiyah adalah entitas pergerakan.
Dan gerakan itu selalu hidup dari inisiatif, dari keberanian memulai, dari orang-orang yang tidak menunggu disuruh, tidak menunggu ditunjuk, tapi merasa terpanggil untuk berbuat.
Gerakan itu tidak bertanya: “Kamu pengurus atau bukan?”
Gerakan itu bertanya: “Kamu membawa apa?”
Di sinilah kita sering keliru menempatkan fokus.
Kita sibuk bertanya tentang posisi, padahal yang lebih mendasar adalah nilai.
Apa nilai yang kita punya?
Apa yang bisa kita kontribusikan untuk umat?
Masalah apa yang bisa kita bantu selesaikan?
Karena pada akhirnya, umat tidak terlalu peduli dengan struktur internal kita. Umat merasakan dampak, bukan jabatan.
Orang yang membuka akses pendidikan, akan dikenang karena ilmunya.
Orang yang membantu ekonomi masyarakat, akan diingat karena manfaatnya.
Orang yang hadir di tengah masalah, akan dihargai karena kepeduliannya.
Bukan karena titel organisasinya.
Maka saya sering bilang ke teman-teman yang merasa “bukan siapa-siapa”:
Kalau memang punya sesuatu yang bernilai, jangan ditahan.
Tidak perlu menunggu diangkat.
Tidak perlu menunggu diundang.
Tidak perlu menunggu diakui.
Mulai saja dari apa yang bisa dilakukan hari ini.
Tapi di sinilah letak tantangan sebenarnya—dan sering jadi titik di mana banyak orang berhenti—yaitu kegigihan.
Karena jujur saja, memulai itu relatif mudah.
Yang sulit itu mempertahankan.
Di awal, semangat biasanya tinggi. Ide mengalir. Energi penuh. Tapi begitu berhadapan dengan realitas, cerita mulai berubah.
Akan ada yang tidak peduli.
Akan ada yang meremehkan.
Akan ada yang mempertanyakan: “Ini penting nggak sih?”
Bahkan tidak jarang, kita merasa berjalan sendirian.
Di titik itu, banyak orang mundur pelan-pelan. Bukan karena nilainya salah, tapi karena tidak cukup kuat menghadapi prosesnya.
Padahal, kalau kita mau jujur, hampir semua kerja-kerja besar lahir dari proses yang panjang, sunyi, dan tidak selalu menyenangkan.
Kegigihan itu bukan sekadar kerja keras.
Ia adalah kemampuan untuk tetap berjalan saat tidak ada yang melihat.
Ia adalah kesediaan untuk tetap bertahan saat hasil belum terlihat.
Ia adalah keyakinan bahwa apa yang kita lakukan itu bermakna, meskipun belum diakui.
Dan di sinilah nilai dan kegigihan harus berjalan bersama.
Nilai memberi arah—supaya kita tidak asal bergerak.
Kegigihan memberi daya—supaya kita tidak berhenti di tengah jalan.
Tanpa nilai, kita bisa sibuk tapi tidak berdampak.
Tanpa kegigihan, kita punya arah tapi tidak pernah sampai.
Menariknya, banyak perubahan justru lahir dari orang-orang yang awalnya merasa “bukan siapa-siapa”. Karena mereka bergerak bukan karena jabatan, tapi karena panggilan.
Mereka tidak sibuk menjaga posisi.
Mereka sibuk menjaga manfaat.
Mereka tidak menunggu pengakuan.
Mereka fokus pada kontribusi.
Dan pelan-pelan, tanpa disadari, apa yang mereka lakukan menjadi sesuatu yang besar. Diakui atau tidak, itu soal waktu. Tapi dampaknya sudah nyata.
Jadi kalau hari ini kita masih merasa kecil, merasa belum punya tempat, atau merasa belum cukup “layak”—mungkin itu bukan penghalang.
Mungkin itu justru titik awal yang jujur.
Tinggal satu pertanyaan penting:
Apakah kita mau berhenti di perasaan itu… atau melampauinya?
Karena Muhammadiyah sebagai gerakan tidak pernah kekurangan orang dalam struktur.
Tapi ia selalu membutuhkan orang-orang yang membawa nilai… dan cukup gigih untuk memperjuangkannya.
Maka pesannya sederhana, tapi dalam:
Temukan nilai yang benar-benar bermanfaat untuk umat.
Lalu rawat, jalankan, dan perjuangkan dengan kegigihan.
Meski pelan.
Meski sepi.
Meski tanpa tepuk tangan.
Karena pada akhirnya, yang menggerakkan perubahan bukan mereka yang paling terlihat…
tapi mereka yang paling konsisten berjalan.