Antarkita

21 April 2026

Prespektif, Uncategorized

*Ibu Rumah Tangga Menapaki Jalan Ilmu* Bincang – bincang Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed dengan alumni Fakultas Hukum Unsoed angkatan 1986 Prof.Dr. Nita Triana, S.H., M.Si. tidak sekadar merekam perjalanan hidup, tetapi menghadirkan sebuah ikhtiar panjang yang sunyi, tekun, dan penuh makna yaitu tentang bagaimana seorang ibu rumah tangga menapaki jalan ilmu hingga mencapai puncak kehormatan akademik sebagai Guru Besar. Kisah ini bermula dari Ciamis, pada tanggal 3 Oktober 1967, ketika Prof. Nita dilahirkan sebagai anak ketiga dari 3 bersaudara pasangan Ibu Hj. Kurnaeni dan Bapak H. Tarmadji. Masa kecil TK hingga remaja SMA dijalani di kota Bogor, sebuah fase pembentukan karakter yang kelak menjadi fondasi keteguhan langkahnya. Perjalanan intelektualnya berlanjut di Fakultas Hukum (FH) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, tempat di mana benih kecintaan terhadap ilmu hukum mulai tumbuh dan berakar. Di tengah perjalanan studi, Prof. Nita memasuki fase kehidupan baru sebagai seorang istri pada tahun 1990, dan setahun kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana S1 FH Unsoed. Kehidupan kemudian membawanya mengikuti jejak suami yang menempuh pendidikan di PAU – ITB Bandung. Di titik ini, peran domestik dan intelektual mulai bertaut dengan melahirkan putra pertama, sekaligus mengawali karier sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda Bogor, sembari melanjutkan Studi Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Langkah hidupnya tidak berhenti di satu tempat. Prof. Nita melintasi batas geografis dan kultural, mendampingi suami (=Prof.Ir.Totok Agung,DH.,MP.,PhD.) saat menempuh studi doktoral di Fukuoka, Jepang. Sebuah fase yang bukan hanya tentang perpindahan ruang, tetapi juga pendewasaan jiwa. Sepulang dari Jepang, dengan ketekunan dan kesetiaan dalam mendampingi suami, Prof. Nita turut mengantarkan perjalanan akademik sang suami hingga meraih puncak sebagai Guru Besar di Unsoed. Selanjutnya, Prof. Nita memilih Purwokerto sebagai ruang pengabdian, demi tetap dekat dengan keluarga, sekaligus menanamkan ilmu di berbagai institusi, di antaranya sebagai dosen Bahasa Jepang di Unsoed, dosen Hukum di Unwiku, dan dosen di UIN Purwokerto. Tahun 2006 menjadi titik penting ketika Prof. Nita resmi menjadi CPNS dosen di STAIN (Universitas Islam Negeri / UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri/ Saizu), Purwokerto. Komitmennya terhadap ilmu tidak pernah surut. Prof. Nita melanjutkan Studi Doktoral di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan kekhususan Hukum Lingkungan, sebuah bidang yang kelak menjadi napas utama dalam karya-karya akademiknya. Sebagai akademisi di UIN Saizu, Purwokerto Prof. Nita tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti, dan mengabdi. Riset-risetnya menyentuh realitas konkret: Penyelesaian Sengketa Lingkungan di Banyumas, Purbalingga, hingga Cilacap. Prof.Nita tidak berhenti pada persoalan Lokal, tetapi melangkah ke Isu Global dengan meneliti energi terbarukan melalui Micro Hydro di Cilongok Banyumas , Pekalongan hingga Malaysia, Selanjutnya juga menjelajahi konsep dan praktek Carbon Pricing di Australia. Dalam sunyi Laboratorium Sosial dan kerasnya lapangan, Prof. Nita merajut ilmu yang berpihak pada keberlanjutan bumi. Dedikasinya juga tercermin dalam berbagai peran akademik: Tercatat dua kali Prof. Nita sebagai penerima Beasiswa Short Course di Leiden University yang didanai oleh DIKTI dan Kementerian Agama. Prof. Nita juga penerima berbagai Hibah Riset, hingga menjadi Reviewer Nasional Litapdimas yang bertugas di berbagai UIN (seperti UIN Bandung, UIN Pekalongan, dan UIN Surakarta). Kemuduan Prof. Nita tercatat beberapa kali sebagai presenter yang di danai Kemenag dalam forum AICIS. Prof. Nita yang juga aktif dalam membimbing mahasiswa, mulai dari S1 hingga S3, serta menjadi Penguji Eksternal Program Doktoral. Namun, perjalanan Prof. Nita menuju Guru Besar (GB) bukanlah jalan yang lurus. Pengajuan GB yang berulang kali ditolak menjadi ujian keteguhan. Bahkan, Prof. Nita sempat berhenti sejenak—bukan berhenti untuk menyerah, melainkan untuk menjalankan peran lain yang tak kalah mulia yaitu mendampingi anak-anaknya menghadapi ujian CPNS dan TNI. Ketika fase itu terlewati, Prof. Nita kembali dengan semangat yang lebih utuh yakni kembali menulis, meneliti, dan menyelami realitas lapangan. Dari ketekunan itulah lahir karya ilmiah berbasis Riset Energi Terbarukan yang ramah lingkungan yang pada akhirnya mengantarkan Prof. Nita meraih gelar Guru Besar dengan judul saat pidato pengukuhan GB nya “Merawat Bumi Menjaga Kehidupan: Penegakan Hukum Lingkungan Untuk Mewujudkan Keadilan Ekologis,” pada tanggal 14 April 2026 di UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Kisah ini menemukan maknanya dalam sebuah refleksi bijak dari Emha Ainun Najib: bahwa terkadang Allah tidak mengabulkan semua yang kita inginkan, agar kita tidak lupa bagaimana cara memohon dan berdo’a. Maka, perjalanan ini bukan sekadar tentang capaian akademik, melainkan tentang kesabaran yang terjaga, do’a yang tak putus, dan keyakinan bahwa setiap langkah—betapapun lambat dan berat—akan menemukan takdir terbaiknya pada waktu yang paling tepat. Prof. Nita seorang Nenek yang bahagia dengan ke 3 cucu laki-lakinya dari 2 menantu dan 4 anaknya.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Seberapa Gigih

Seberapa Gigih Oleh SiS Antarkita Pernah tidak kita merasa semangat di awal, tapi entah kenapa pelan-pelan memudar? Awalnya ide terasa begitu hidup, bahkan seolah sudah terlihat hasilnya di depan mata. Tapi belum juga benar-benar berjalan jauh, langkah kita sudah mulai ragu. Lalu berhenti. Pelan-pelan hilang. Itulah yang sering disebut… layu sebelum berkembang. Dan kalau kita jujur, ini bukan cerita satu dua orang. Ini cerita banyak dari kita. Punya niat baik, punya gagasan untuk kebaikan, tapi lebih sering kalah sebelum benar-benar bertanding. Kita terlalu cepat menyerah, terlalu cepat menyimpulkan “mungkin ini bukan jalan saya”, padahal bisa jadi… kita hanya belum cukup gigih. Coba bayangkan ini: Berapa banyak ide baik di dunia ini yang tidak pernah jadi kenyataan… hanya karena pemiliknya berhenti terlalu cepat? Padahal hidup ini tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus tanpa hambatan. Justru sebaliknya, hidup ini seperti proses seleksi yang berjalan terus-menerus. Seleksi yang tidak terlihat, tapi hasilnya nyata. Yang memulai banyak. Yang bertahan sedikit. Yang sampai… lebih sedikit lagi. Dan menariknya, yang sampai itu bukan selalu yang paling pintar, bukan yang paling punya modal, bukan juga yang paling dikenal. Tapi yang satu ini hampir pasti ada: mereka gigih. Kegigihan itu bukan tentang tidak pernah jatuh. Justru orang yang gigih itu akrab dengan jatuh. Akrab dengan kecewa. Akrab dengan kondisi yang tidak sesuai harapan. Tapi mereka punya satu sikap yang sederhana dan kuat: tidak berhenti. Mereka mungkin melambat, tapi tidak mundur. Mereka mungkin istirahat, tapi tidak menyerah. Mereka mungkin diam sejenak, tapi tidak meninggalkan jalan. Dan di sinilah letak rahasianya… kegigihan itu tidak berdiri sendiri. Ia sangat erat dengan keikhlasan. Kalau kegigihan itu seperti langkah kaki, maka keikhlasan adalah hati yang menggerakkannya. Tanpa keikhlasan, langkah akan terasa berat. Cepat lelah. Mudah goyah. Kenapa? Karena kalau kita berjuang hanya untuk dilihat manusia, maka kita sedang menggantungkan semangat kita pada sesuatu yang terbatas. Manusia punya waktu terbatas, perhatian terbatas, bahkan kepedulian yang berubah-ubah. Hari ini dipuji, besok bisa dilupakan. Hari ini didukung, besok bisa ditinggalkan. Kalau itu yang jadi sumber semangat, maka wajar kalau kita cepat kehabisan tenaga. Tapi ketika kita meluruskan niat… ketika kita benar-benar berjuang karena Alloh SWT, maka ada kekuatan yang berbeda. Ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa. Dengan keikhlasan, kita seperti selalu terhubung dengan Alloh SWT. Tidak ada batas waktu. Tidak harus menunggu momen tertentu. Dalam setiap usaha, dalam setiap langkah, bahkan dalam kelelahan… kita tetap merasa “ditemani”. Dan ini yang membuat kita bertahan. Karena kita sadar, yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Mungkin tidak dilihat manusia, tapi pasti dilihat oleh Alloh SWT. Mungkin tidak dihargai sekarang, tapi pasti bernilai di sisi-Nya. Di titik ini, kegigihan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Bukan lagi sekadar usaha… tapi ibadah. Makanya, kegigihan itu tidak ada hubungannya dengan jabatan. Tidak harus punya posisi tinggi untuk bisa gigih. Tidak perlu menunggu diakui untuk bisa konsisten. Kegigihan itu tentang visi. Tentang seberapa besar kita peduli pada kemaslahatan. Tentang seberapa kuat kita ingin memberi manfaat. Tentang seberapa jauh kita siap berjalan… meskipun tidak ada yang melihat. Dan karena itu, kegigihan bukan perjalanan singkat. Ini bukan sprint. Ini maraton panjang. Bahkan bisa jadi… seumur hidup. Akan ada fase semangat, ada fase lelah. Akan ada fase ramai dukungan, ada fase sepi sendirian. Akan ada fase berhasil, ada fase gagal. Tapi semua itu bukan alasan untuk berhenti. Karena orientasi kita bukan hanya dunia. Bukan hanya hasil yang bisa dilihat hari ini. Tapi sesuatu yang lebih jauh… lebih abadi… yaitu pahala akherat. Setiap langkah kecil yang kita jaga dengan ikhlas, setiap usaha yang kita pertahankan dengan sabar… semua itu tidak akan hilang. Dan pada akhirnya, kita akan sampai pada satu pertanyaan yang sangat jujur untuk diri sendiri: Seberapa gigih kita? Apakah kita hanya kuat di awal, lalu hilang di tengah? Atau kita siap bertahan, meskipun pelan? Karena dunia ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak juga kekurangan orang berbakat. Tapi dunia ini… selalu membutuhkan orang yang tidak berhenti. Jadi kalau hari ini terasa berat… itu wajar. Kalau langkah terasa lambat… itu biasa. Tapi jangan berhenti. Karena bisa jadi, jarak antara kita dan hasil yang kita harapkan… hanya tinggal satu langkah lagi. Dan akan sangat disayangkan… kalau kita berhenti tepat sebelum itu terjadi.

Scroll to Top