Momentum Harus Diambil
Momentum Harus Diambil Oleh SiS Antarkita Baturraden, Sabtu 25 April 2026 Selepas Isya kami bertemu dengan Kyai Khafid Sirotudin, ketua LPUMKM PWM Jawa Tengah. Semua atas kehendak Allah SWT. Kebetulan malam itu saya sedang mengikuti acara Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Jawa Tengah dengan lokasi yang sama, yaitu di kawasan wisata Baturraden. Pertemuan kami tidak di ruang rapat formal. Kami duduk lesehan di trotoar depan Masjid Wisata Baturraden, sambil menikmati wedang ronde dan sate kelinci. Udara dingin khas Baturraden membuat suasana semakin hangat oleh obrolan yang mengalir tanpa protokoler. Ini salah satu hikmah beliau tidak menjadi pejabat negara, hehehe… Sehingga masih bisa bebas ngobrol di mana saja dan kapan saja tanpa jadwal resmi. Tidak ada meja panjang, tidak ada mikrofon, tidak ada notulen. Hanya trotoar, tikar sederhana, dan obrolan yang jujur dari hati ke hati. ☕ Ngobrol santai, tapi tema yang dibahas justru berat: bagaimana umat tidak hanya bertahan, tetapi mampu menangkap peluang perubahan zaman. Obrolan Random yang Bikin Gayeng 😄 Tema yang dibahas malam itu benar-benar random. Dan salah satu tema yang cukup jarang dibahas secara terbuka—bahkan jarang dipraktikan—adalah tema poligami. Padahal secara sejarah, praktik itu pernah dicontohkan oleh Kyai Ahmad Dahlan, namun dalam percakapan sehari-hari seolah menjadi topik yang disimpan di ruang sunyi. Tema poligami menjadi pembuka obrolan yang bikin suasana langsung cair. Kyai Khafid bercerita bahwa beliau mendengar ada gagasan dari seorang sesepuh pimpinan pusat Muhammadiyah yang ingin mendirikan IPM gaya baru. Serentak kami penasaran. “Apa itu IPM gaya baru, Kyai?” Beliau menjawab sambil tertawa: “Bukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah… tapi Ikatan Poligami Muhammadiyah… ha ha ha…” Suasana langsung pecah oleh tawa. Di tengah dinginnya Baturraden, obrolan terasa hangat dan akrab. Dari obrolan ringan itu saya belajar satu hal: bahwa keterbukaan dalam berdiskusi seringkali menjadi pintu masuk menuju kedewasaan berpikir. Dan tanpa bertanya panjang, saya juga mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya terhadap sikap beliau. Beliau menyampaikan dengan terang bahwa pilihan hidup harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekadar wacana. Dari Poligami ke Transformasi Bisnis Setelah obrolan ringan itu, arah diskusi pelan-pelan berubah. Dari tema keluarga, kami masuk ke tema yang jauh lebih strategis: transformasi ekonomi dan perubahan ekosistem bisnis. Tema yang kami bahas adalah tema yang sebelumnya juga sering muncul dalam diskusi-diskusi kami: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik. Perubahan transportasi dari bahan bakar minyak menuju kendaraan listrik bukan sekadar perubahan teknologi. Ini adalah perubahan ekosistem bisnis. Dan setiap perubahan ekosistem selalu melahirkan peluang baru. VinFast: Sinyal Bahwa Perubahan Sudah Datang 🚗⚡ Salah satu contoh nyata perubahan itu adalah langkah besar dari VinFast. Mereka telah meresmikan pabrik kendaraan listrik seluas 171 hektar di Subang pada 15 Desember 2025, dengan investasi awal sekitar Rp 4,8 triliun, dari total rencana investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Mulai April 2026, mereka menargetkan: Produksi 50.000 unit kendaraan per tahun Menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja Membangun rantai industri baru Ini bukan sekadar pembangunan pabrik. Ini adalah tanda bahwa gelombang perubahan sudah tiba di Indonesia. Dan gelombang itu tidak bisa dihentikan. Belajar dari V-Green: Ekosistem Itu Dibangun, Bukan Ditunggu Kami kemudian membahas langkah strategis dari V-Green, bagian dari ekosistem besar Vingroup. Yang menarik bukan hanya produknya. Yang menarik adalah cara berpikirnya. Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka tidak menunggu masyarakat membeli kendaraan listrik. Mereka justru membangun infrastrukturnya lebih dulu. Bayangkan skalanya: 80.000 Battery Swap Station 25.000 Charging Station Ini bukan proyek kecil. Ini adalah strategi besar. Karena mereka memahami satu prinsip penting: Ekosistem itu dibangun, bukan ditunggu. Perubahan Ekosistem Bisnis: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik 🔌 Di sinilah percakapan kami menjadi semakin serius. Dulu: Bisnis energi identik dengan pompa bensin. Ke depan: Bisnis energi akan identik dengan kabel listrik. Dulu: Orang berhenti di SPBU selama 3 menit. Ke depan: Orang berhenti di SPKLU selama 30–90 menit. Perbedaan waktu ini menciptakan peluang ekonomi baru. Karena ketika orang menunggu, maka muncul kebutuhan: makan minum belanja bekerja bersosialisasi Artinya: SPKLU bukan sekadar tempat isi listrik. SPKLU adalah pusat ekonomi baru. Bagaimana dengan Industri Mobil BBM dan Bisnis SPBU BBM? Pertanyaan ini pasti muncul. Apakah mobil BBM akan hilang? Apakah SPBU akan mati? Jawabannya: Tidak hilang. Tapi berubah. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan: Kereta kuda tidak hilang ketika mobil muncul Wartel tidak hilang ketika handphone muncul Toko tidak hilang ketika marketplace muncul Yang berubah adalah bentuk bisnisnya. Begitu juga SPBU. Ke depan, SPBU akan berubah menjadi: SPBU + SPKLU pusat layanan kendaraan pusat ritel dan kuliner rest area modern pusat komunitas Dengan kata lain: yang tidak berubah akan tertinggal. yang mau berubah akan memimpin. Urgensi bagi LP-UMKM: Jangan Hanya Jadi Penonton Di sinilah kami melihat urgensi bagi LP-UMKM Muhammadiyah Jawa Tengah dan DIY. Karena perubahan ini bukan sekadar isu teknologi. Ini adalah isu ekonomi umat. Kalau kita hanya melihat, kita menjadi penonton. Kalau kita masuk, kita menjadi pelaku. Karena sesungguhnya: SPKL bukan sekadar fasilitas. SPKL adalah peluang usaha. SPKL-MU: Infrastruktur sebagai Simpul Ekonomi Baru SPKL sering dilihat sebagai fasilitas teknis tempat mengisi daya kendaraan listrik. Padahal kalau kita lihat lebih dalam, ini adalah: titik ekonomi. Satu SPKL-MU bisa menjadi tempat orang berhenti cukup lama: 10 menit untuk sepeda motor 60–90 menit untuk mobil listrik Dalam waktu itu, kebutuhan ekonomi muncul. Di sekitar SPKL-MU bisa tumbuh: warung makan kedai kopi minimarket bengkel jasa cuci kendaraan ruang istirahat komunitas UMKM Dengan kata lain: SPKL-MU adalah simpul ekonomi baru. Kalau kita mampu masuk ke sektor ini, maka kita tidak hanya menjadi pelaku UMKM. Kita menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi masa depan. Literasi Sejarah: Muhammadiyah Terbiasa Mengambil Risiko Kalau membaca sejarah satu abad Muhammadiyah, kita sebenarnya sudah terbiasa mengambil langkah besar. Kita pernah: Mengoreksi arah kiblat Mendirikan media Suara Muhammadiyah Membangun ribuan sekolah Mendirikan perguruan tinggi Mengembangkan rumah sakit Mengelola zakat dan filantropi Menetapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal Semua itu tidak lahir dari kenyamanan. Semua itu lahir dari keberanian. Artinya: secara kelembagaan, kita punya pengalaman perubahan. Dan benar kata pepatah: pengalaman adalah guru terbaik. Momentum Harus Diambil 🔥 Perubahan sedang terjadi. Mobil listrik sedang masuk. Energi listrik sedang berkembang. Ekosistem bisnis sedang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi: Apakah perubahan ini akan terjadi? Karena perubahan itu sudah terjadi. Pertanyaannya […]
