SEMAKIN BIASA
Oleh SiS, antarkita
Bagi generasi yang lahir di tahun 70-an, Ramadhan 1447 H kali ini terasa menyimpan rasa yang agak unik. Bukan karena Ramadhannya berubah, tetapi karena suasana di sekitarnya terasa berbeda dibanding masa lalu.
Ada semacam paradoks yang perlahan berubah menjadi biasa.
Dulu, seingat penulis, urusan warung makan buka di siang hari pada bulan Ramadhan adalah sesuatu yang cukup sensitif. Mungkin sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, hal seperti itu masih dianggap kurang pantas, bahkan oleh sebagian orang terasa agak memalukan.
Bukan berarti dulu tidak ada orang yang makan di siang hari. Tentu saja ada. Ada yang sakit, musafir, ibu hamil, atau orang yang memang memiliki keringanan syariat. Tetapi cara masyarakat menyikapinya berbeda.
Warung biasanya menutup sebagian tirai.
Orang yang makan juga cenderung tidak terlalu terlihat.
Ada semacam rasa sungkan sosial yang secara tidak langsung menjaga suasana Ramadhan.
Bulan Ramadhan terasa seperti tamu agung yang datang setahun sekali.
Suasana religiusnya terasa sampai ke jalan-jalan, pasar, rumah, bahkan warung kopi.
Orang-orang seperti sepakat secara diam-diam bahwa bulan ini adalah bulan yang berbeda dari bulan lainnya.
Ada emosi kolektif yang ikut menjaga suasana itu.
Namun sekarang suasananya terasa berubah.
Ramadhan tetap datang.
Masjid tetap ramai saat tarawih.
Kajian agama bahkan semakin banyak di berbagai tempat.

Tetapi di siang hari, suasana sering terasa cukup kontras dengan gambaran negeri muslim terbesar di dunia.
Warung makan buka seperti hari biasa.
Orang makan di tempat umum tanpa rasa sungkan.
Lalu lintas kehidupan berjalan hampir sama seperti bulan-bulan lainnya.
Dan yang paling menarik, semua itu terlihat sangat biasa saja.
Seolah-olah sesuatu yang dulu terasa sensitif kini berubah menjadi hal yang normal.
Mungkin ini yang disebut perubahan zaman.
Perubahan yang tidak datang dengan gaduh.
Tidak diumumkan secara resmi.
Tetapi berjalan pelan-pelan sampai akhirnya kita menyadari bahwa banyak hal telah berubah.
Hehehe… begitulah kehidupan. 😄
Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang santai dengan dua teman dekat di sebuah taman di Purwokerto. Kebetulan salah satu dari mereka memiliki tempat usaha tidak jauh dari taman tersebut.
Sambil duduk santai dan menikmati kopi, obrolan kami mengalir ke berbagai hal.
Mulai dari bisnis, keluarga, sampai cerita keseharian yang kadang lucu.
Lalu teman saya itu bercerita sesuatu yang membuat kami tersenyum sekaligus sedikit merenung.
Katanya, di tempat usahanya sering ada bapak-bapak datang makan siang pada bulan Ramadhan.
Ketika ditanya dengan santai, jawabannya sering hampir sama.
“Saya sahur kok di rumah.”
“Puasa juga… tapi ya… di sini makan dulu sedikit.” 😅
Ada juga yang sambil tertawa berkata,
“Yang penting keluarga di rumah tahunya saya puasa.”
Hehehe…
Kami hanya saling berpandangan lalu tertawa kecil.
Ternyata manusia memang makhluk yang sangat kreatif dalam mengelola citra diri.
Di rumah tampil sebagai orang yang taat.
Di luar rumah menjalani versi yang sedikit berbeda.
Penulis tentu tidak sedang menghakimi siapa pun. Karena setiap orang memiliki perjuangan pribadinya sendiri.
Tetapi dari obrolan ringan itu terasa satu hal yang cukup menarik.
Apa yang dulu mungkin terasa aneh, kini perlahan berubah menjadi biasa.
Dan ketika sesuatu sudah menjadi biasa, orang tidak lagi merasa perlu menjelaskannya.
Perubahan sosial memang sering terjadi seperti itu.
Ia tidak datang dengan suara keras.
Tetapi datang perlahan… sangat perlahan… sampai akhirnya kita baru sadar bahwa suasana masyarakat sudah berbeda.
Mungkin ini bagian dari dinamika zaman.
Namun di balik semua perubahan itu, ada satu hal yang sebenarnya tidak pernah berubah.
Ramadhan tetaplah bulan yang penuh berkah.
Kesakralannya tidak pernah berkurang sedikit pun.
Yang berubah hanyalah cara manusia memandang dan menjalaninya.
Karena itu mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menilai orang lain.
Cukup pastikan satu hal saja:
Ramadhan tetap hidup di dalam diri kita sendiri.
Jika hati kita masih menghormati Ramadhan, maka suasana itu akan tetap terasa, meskipun dunia di sekitar kita berubah.
Namun di tengah semua perubahan ini, kadang muncul sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik pikiran.
Jika hari ini sesuatu yang dulu dianggap tidak pantas sudah menjadi biasa…
Bagaimana keadaan sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang?
Jika hari ini suasana Ramadhan di ruang publik mulai berubah…
Seperti apa suasana Ramadhan yang akan dirasakan oleh anak-anak kita nanti?
Apakah mereka masih merasakan getaran sakral bulan Ramadhan seperti yang pernah kita rasakan dulu?
Ataukah bagi mereka nanti Ramadhan hanyalah sekadar perubahan jam makan dan jadwal kerja saja?
Apakah mereka masih merasakan kegembiraan menunggu adzan maghrib bersama?
Apakah mereka masih merasakan rasa hormat terhadap bulan yang penuh berkah ini?
Ataukah semuanya akan semakin menjadi rutinitas biasa dalam kalender kehidupan?
Entahlah.
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak perlu dijawab sekarang.
Tetapi setidaknya pertanyaan itu bisa menjadi pengingat bagi kita semua.
Bahwa masa depan anak-anak kita tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal atau teknologi yang mereka miliki.
Tetapi juga oleh nilai-nilai yang kita jaga hari ini.
Karena anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita ucapkan.
Mereka belajar dari suasana yang mereka lihat setiap hari.
Jika hari ini kita masih berusaha menjaga kehormatan Ramadhan, sekecil apa pun itu…
Mungkin suatu hari nanti anak-anak kita akan tetap merasakan bahwa Ramadhan adalah bulan yang istimewa.
Dan semoga saja…
Di masa depan nanti, ketika mereka duduk santai di taman seperti kita hari ini…
Mereka tidak hanya berkata:
“Dulu Ramadhan itu sakral.”
Tetapi mereka masih bisa berkata dengan penuh rasa syukur:
“Alhamdulillah… sampai hari ini Ramadhan masih terasa istimewa.”
—
SiS, antarkita