You are currently viewing Bukan Karena Kita Hebat, Tapi Karena Rahmat Allah

Bukan Karena Kita Hebat, Tapi Karena Rahmat Allah

Bukan Karena Kita Hebat, Tapi Karena Rahmat Allah

Oleh: SiS, antarkita

Kesuksesan kita semata karena Rahmat Allah SWT, bukan karena kita hebat.

Sering kali manusia tertipu oleh hasil, lalu lupa pada asal. Ketika usaha berkembang, jabatan meningkat, nama dikenal, karya dihargai, perlahan hati membisikkan rasa bangga yang halus: “Aku berhasil karena kemampuanku.”

Padahal jika Allah mencabut sedikit saja pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu melangkah sejengkal pun.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan tidaklah kamu memperoleh suatu nikmat kecuali dari Allah.”

(QS. Al-Qur’an, An-Nahl: 53)

Semua nikmat berasal dari-Nya.

Kesehatan yang membuat kita produktif adalah nikmat.

Akal yang membuat kita cerdas adalah nikmat.

Relasi yang membuka jalan adalah nikmat.

Momentum yang tepat adalah nikmat.

Bahkan keinginan untuk berusaha pun adalah nikmat.

Maka jika hari ini kita tampak hebat, itu bukan karena kita tanpa kekurangan. Itu karena Allah sedang memperlihatkan sisi terbaik kita dan menutupi sisi terburuk kita.

Allah Menutupi Aib Kita

Betapa banyak kesalahan yang pernah kita lakukan.

Betapa banyak dosa yang hanya kita dan Allah yang tahu.

Betapa banyak niat yang pernah tidak lurus.

Namun Allah tidak membuka semuanya di hadapan manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan (menampakkan dosanya).”

(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa Allah menjaga kehormatan hamba-Nya. Dia tidak mempermalukan kita setiap kali kita tergelincir. Dia beri waktu untuk bertaubat. Dia beri ruang untuk memperbaiki diri.

Coba bayangkan jika Allah membuka satu saja aib kita di hadapan publik. Satu saja kesalahan masa lalu ditampilkan tanpa hijab. Masihkah kita berdiri dengan percaya diri?

Kalaupun hari ini kita dihormati, itu bukan karena kita sempurna. Itu karena Allah menutupi kekurangan kita.

Allah juga berfirman:

“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari dosa) selama-lamanya.”

(QS. Al-Qur’an, An-Nur: 21)

Ayat ini sangat jelas: tanpa Rahmat Allah, tidak ada satu pun yang benar-benar suci.

Jangan Tertipu oleh Pujian

Kesuksesan adalah ujian. Pujian adalah ujian. Popularitas adalah ujian.

Jika kita gagal, kita diuji dengan kesabaran.

Jika kita berhasil, kita diuji dengan kerendahan hati.

Bahaya terbesar bukan kegagalan, tetapi merasa berhasil tanpa Allah.

Hamba yang cerdas bukan yang bangga atas pencapaiannya, tetapi yang semakin tunduk ketika diberi keberhasilan. Ia sadar, semua ini hanya titipan. Hari ini bisa ada, besok bisa diambil kembali.

Maka sikap terbaik ketika sukses bukanlah membusungkan dada, tetapi memperbanyak sujud syukur. Bukan merasa paling layak, tetapi merasa paling berutang kepada Allah.

Semakin Tinggi, Semakin Tunduk

Jika Allah angkat derajat kita, jangan sampai hati ikut terangkat.

Jika Allah lapangkan rezeki kita, jangan sampai jiwa menjadi sempit oleh kesombongan.

Jika Allah muliakan nama kita, jangan sampai kita lupa siapa yang memuliakan.

Katakan dalam hati:

“Ya Allah, jika ada yang baik dariku, itu dari-Mu.

Jika ada yang buruk, itu dari kelemahanku.

Jangan Engkau cabut rahmat-Mu walau sekejap.

Dan teruslah tutupi aibku sebagaimana Engkau telah menutupinya selama ini.”

Kesuksesan bukan bukti kita hebat.

Kesuksesan adalah bukti Allah sedang bermurah hati.

Dan orang yang benar-benar hebat adalah yang tetap rendah hati, tetap bersyukur, dan tetap sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang hidup sepenuhnya dalam Rahmat Allah SWT.

 

Tinggalkan Balasan