Syakir dan Syakur dalam Bersyukur
Oleh SiS Antarkita
Purwokerto Selatan, Ahad, 8 Maret 2026 — Suasana pagi yang sejuk menyelimuti kawasan Karangklesem, Purwokerto Selatan, ketika jamaah mulai berdatangan ke Masjid As-Salam untuk mengikuti pengajian Ahad pagi yang rutin diselenggarakan oleh Ranting Muhammadiyah Karangklesem. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 06.45 hingga 08.00 WIB tersebut menghadirkan Ustadz Kelik sebagai pemateri dengan tema reflektif: “Syakir dan Syakur dalam Bersyukur.”

Pengajian Ahad pagi ini menjadi ruang pembelajaran spiritual bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman tentang makna syukur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyampaiannya, Ustadz Kelik menegaskan bahwa syukur dalam ajaran Islam tidak hanya dimaknai sebagai ucapan alhamdulillah, tetapi sebagai kesadaran mendalam yang melibatkan hati, lisan, dan perbuatan. Syukur adalah cara seorang hamba memaknai setiap anugerah kehidupan sekaligus menyadari bahwa semua yang dimiliki berasal dari Allah.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Kelik menguraikan dua istilah penting dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan kesyukuran, yaitu syakir dan syakur, yang masing-masing memiliki kedalaman makna tersendiri.
Istilah syakir merujuk pada manusia yang mampu bersyukur atas nikmat yang diterima. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 144, ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menerima wahyu yang diberikan dan menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur. Sikap syakir menggambarkan kesadaran manusia untuk mengakui nikmat yang diberikan Allah serta menggunakan nikmat tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Lebih jauh, Ustadz Kelik menjelaskan tentang tingkat kesyukuran yang lebih tinggi, yaitu syakur. Konsep ini dijelaskan dalam Surah Al-Isra ayat 3, yang menyebut Nabi Nuh sebagai hamba yang sangat bersyukur (‘abdan syakura). Dalam perspektif spiritual, syakur menggambarkan seseorang yang tidak hanya bersyukur ketika menerima nikmat, tetapi juga mampu bersyukur ketika menghadapi ujian dan kesulitan hidup.
Menurut Ustadz Kelik, pada tingkat syakur seseorang telah mencapai kedewasaan spiritual. Ia mampu melihat bahwa setiap peristiwa dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang berat, mengandung hikmah dan merupakan bagian dari rencana terbaik dari Allah.
Dalam kajian tersebut juga disampaikan bahwa syukur tidak dapat dipisahkan dari sikap sabar. Kehidupan manusia selalu berada di antara dua keadaan: nikmat dan ujian. Ketika mendapatkan nikmat, manusia dituntut untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika menghadapi ujian, manusia dituntut untuk bersabar. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Surah Az-Zumar ayat 10, bahwa orang-orang yang bersabar akan memperoleh pahala tanpa batas.
Ustadz Kelik menegaskan bahwa sabar dan syukur merupakan dua kekuatan spiritual yang saling melengkapi. Syukur menjadikan manusia tidak mudah sombong ketika memperoleh keberhasilan, sementara sabar menjadikan manusia tetap teguh ketika menghadapi kesulitan.
Pengajian Ahad pagi di Masjid As-Salam ini juga menjadi ruang silaturahmi antarjamaah sekaligus sarana memperkuat pembinaan keagamaan di lingkungan masyarakat. Rutin diselenggarakan setiap pekan, kegiatan ini menjadi salah satu upaya dakwah untuk memperkaya wawasan keislaman sekaligus memperkuat karakter spiritual umat.
Melalui tema “Syakir dan Syakur dalam Bersyukur,” jamaah diajak untuk tidak hanya memahami syukur sebagai konsep teologis, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran bersyukur diharapkan mampu melahirkan sikap hidup yang lebih sederhana, penuh ketenangan, serta mampu memandang kehidupan dengan perspektif yang lebih luas dan bijaksana.
Dengan pengajian seperti ini, Masjid As-Salam diharapkan terus menjadi pusat pembinaan umat yang tidak hanya menguatkan dimensi ibadah ritual, tetapi juga memperdalam pemahaman spiritual dan nilai-nilai kehidupan Islami di tengah masyarakat.
SiS Antarkita