You are currently viewing

*Ibu Rumah Tangga Menapaki Jalan Ilmu*

Bincang – bincang Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed dengan alumni Fakultas Hukum Unsoed angkatan 1986 Prof.Dr. Nita Triana, S.H., M.Si. tidak sekadar merekam perjalanan hidup, tetapi menghadirkan sebuah ikhtiar panjang yang sunyi, tekun, dan penuh makna yaitu tentang bagaimana seorang ibu rumah tangga menapaki jalan ilmu hingga mencapai puncak kehormatan akademik sebagai Guru Besar.

Kisah ini bermula dari Ciamis, pada tanggal 3 Oktober 1967, ketika Prof. Nita dilahirkan sebagai anak ketiga dari 3 bersaudara pasangan Ibu Hj. Kurnaeni dan Bapak H. Tarmadji. Masa kecil TK hingga remaja SMA dijalani di kota Bogor, sebuah fase pembentukan karakter yang kelak menjadi fondasi keteguhan langkahnya. Perjalanan intelektualnya berlanjut di Fakultas Hukum (FH) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, tempat di mana benih kecintaan terhadap ilmu hukum mulai tumbuh dan berakar.

Di tengah perjalanan studi, Prof. Nita memasuki fase kehidupan baru sebagai seorang istri pada tahun 1990, dan setahun kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana S1 FH Unsoed. Kehidupan kemudian membawanya mengikuti jejak suami yang menempuh pendidikan di PAU – ITB Bandung. Di titik ini, peran domestik dan intelektual mulai bertaut dengan melahirkan putra pertama, sekaligus mengawali karier sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda Bogor, sembari melanjutkan Studi Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Langkah hidupnya tidak berhenti di satu tempat. Prof. Nita melintasi batas geografis dan kultural, mendampingi suami (=Prof.Ir.Totok Agung,DH.,MP.,PhD.) saat menempuh studi doktoral di Fukuoka, Jepang. Sebuah fase yang bukan hanya tentang perpindahan ruang, tetapi juga pendewasaan jiwa. Sepulang dari Jepang, dengan ketekunan dan kesetiaan dalam mendampingi suami, Prof. Nita turut mengantarkan perjalanan akademik sang suami hingga meraih puncak sebagai Guru Besar di Unsoed.

Selanjutnya, Prof. Nita memilih Purwokerto sebagai ruang pengabdian, demi tetap dekat dengan keluarga, sekaligus menanamkan ilmu di berbagai institusi, di antaranya sebagai dosen Bahasa Jepang di Unsoed, dosen Hukum di Unwiku, dan dosen di UIN Purwokerto.

Tahun 2006 menjadi titik penting ketika Prof. Nita resmi menjadi CPNS dosen di STAIN (Universitas Islam Negeri / UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri/ Saizu), Purwokerto.

Komitmennya terhadap ilmu tidak pernah surut. Prof. Nita melanjutkan Studi Doktoral di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan kekhususan Hukum Lingkungan, sebuah bidang yang kelak menjadi napas utama dalam karya-karya akademiknya.

Sebagai akademisi di UIN Saizu, Purwokerto Prof. Nita tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti, dan mengabdi. Riset-risetnya menyentuh realitas konkret: Penyelesaian Sengketa Lingkungan di Banyumas, Purbalingga, hingga Cilacap. Prof.Nita tidak berhenti pada persoalan Lokal, tetapi melangkah ke Isu Global dengan meneliti energi terbarukan melalui Micro Hydro di Cilongok Banyumas , Pekalongan hingga Malaysia, Selanjutnya juga menjelajahi konsep dan praktek Carbon Pricing di Australia. Dalam sunyi Laboratorium Sosial dan kerasnya lapangan, Prof. Nita merajut ilmu yang berpihak pada keberlanjutan bumi.

Dedikasinya juga tercermin dalam berbagai peran akademik: Tercatat dua kali Prof. Nita sebagai penerima Beasiswa Short Course di Leiden University yang didanai oleh DIKTI dan Kementerian Agama. Prof. Nita juga penerima berbagai Hibah Riset, hingga menjadi Reviewer Nasional Litapdimas yang bertugas di berbagai UIN (seperti UIN Bandung, UIN Pekalongan, dan UIN Surakarta). Kemuduan Prof. Nita tercatat beberapa kali sebagai presenter yang di danai Kemenag dalam forum AICIS. Prof. Nita yang juga aktif dalam membimbing mahasiswa, mulai dari S1 hingga S3, serta menjadi Penguji Eksternal Program Doktoral.

Namun, perjalanan Prof. Nita menuju Guru Besar (GB) bukanlah jalan yang lurus. Pengajuan GB yang berulang kali ditolak menjadi ujian keteguhan. Bahkan, Prof. Nita sempat berhenti sejenak—bukan berhenti untuk menyerah, melainkan untuk menjalankan peran lain yang tak kalah mulia yaitu mendampingi anak-anaknya menghadapi ujian CPNS dan TNI. Ketika fase itu terlewati, Prof. Nita kembali dengan semangat yang lebih utuh yakni kembali menulis, meneliti, dan menyelami realitas lapangan. Dari ketekunan itulah lahir karya ilmiah berbasis Riset Energi Terbarukan yang ramah lingkungan yang pada akhirnya mengantarkan Prof. Nita meraih gelar Guru Besar dengan judul saat pidato pengukuhan GB nya “Merawat Bumi Menjaga Kehidupan: Penegakan Hukum Lingkungan Untuk Mewujudkan Keadilan Ekologis,” pada tanggal 14 April 2026 di UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.

Kisah ini menemukan maknanya dalam sebuah refleksi bijak dari Emha Ainun Najib: bahwa terkadang Allah tidak mengabulkan semua yang kita inginkan, agar kita tidak lupa bagaimana cara memohon dan berdo’a. Maka, perjalanan ini bukan sekadar tentang capaian akademik, melainkan tentang kesabaran yang terjaga, do’a yang tak putus, dan keyakinan bahwa setiap langkah—betapapun lambat dan berat—akan menemukan takdir terbaiknya pada waktu yang paling tepat.

Prof. Nita seorang Nenek yang bahagia dengan ke 3 cucu laki-lakinya dari 2 menantu dan 4 anaknya.

Tinggalkan Balasan