AMBIL PERAN
Oleh SiS Antarkita, Jum’at, 15 Mei 2026 Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Supeno No. 42 Yogyakarta
Kadang sebuah perubahan besar datang tidak dengan suara gaduh. Tidak selalu terasa mengagetkan. Tahu-tahu… sudah ada di depan mata.
Dulu orang tidak membayangkan belanja tanpa datang ke toko. Hari ini? Cukup buka HP. Dulu orang tidak membayangkan rapat tanpa bertemu fisik. Hari ini? Zoom meeting jadi hal biasa. Dulu orang menganggap kendaraan listrik cuma mimpi mahal. Hari ini? Sudah mulai lalu-lalang di jalan raya.
Dan mungkin… beberapa tahun lagi kita akan melihat sesuatu yang sekarang masih terasa baru: mobil listrik menjadi pemandangan biasa.
Itulah salah satu tema menarik dalam Bimbingan Teknis bersama Kyai Khafid Sirotudin, Ketua LPUMKM PWM Jawa Tengah, di Kantor PP Muhammadiyah Jl. Supeno No. 42 Yogyakarta, Jum’at 15 Mei 2026.
Suasananya tidak terlalu formal. Walaupun forum resmi. Bahasanya tidak rumit. Tidak terlalu akademis. Lebih terasa seperti: ngobrol serius tapi santai.
Kadang peserta tertawa. Kadang manggut-manggut. Kadang terdiam. Karena beberapa kalimat terasa: “nusuk tapi benar.” Tema besarnya sederhana: Muhammadiyah jangan terlambat membaca perubahan zaman.
*PERUBAHAN ITU KENISCAYAAN, BUKAN PILIHAN* 🌍
Di awal pemaparan, Kyai Khafid membuka dengan satu kalimat yang sangat sederhana: *“Perubahan itu nggak perlu ditunggu.”* *“Karena perubahan sudah berjalan.”* Kalimat sederhana. Tapi dalam.
Karena sering kali kita berpikir: nanti saja kalau sudah ramai. Padahal saat ramai… sering kali kesempatan terbaik sudah diambil orang lain.
Beliau lalu mengajak peserta melihat perubahan di sekitar. Dulu orang kirim surat. Hari ini? Chat WhatsApp. Dulu promosi pakai brosur. Hari ini? Konten digital. Dulu toko harus punya ruko besar. Hari ini? Banyak bisnis cukup modal HP.
Lalu beliau bertanya: “Transportasi menurut panjenengan berubah nggak?” Peserta serempak menjawab: “Berubah…”
Beliau tersenyum. “Nah… kendaraan listrik itu bagian dari perubahan.”
Motor listrik mulai tumbuh. Mobil listrik mulai hadir. Pabrik kendaraan listrik mulai masuk Indonesia. Charging station mulai dibangun. Ekosistem perlahan mulai bergerak.
Beliau berkata lagi: “Mau suka atau nggak suka…” “Perubahan tetap datang.”
Nah ini menarik. Karena kadang kita terlalu sibuk: mendebat perubahan. Padahal seharusnya: bersiap menghadapi perubahan.
*MUHAMMADIYAH PUNYA DNA PELOPOR* 🚀
Obrolan lalu masuk ke sejarah Muhammadiyah. Dan di sinilah suasana mulai terasa menggelitik pikiran.
Kyai Khafid berkata: “Muhammadiyah itu punya Gen pelopor.” Bukan Gen pengikut. Bukan Gen penonton. Tapi:Gen pembuka jalan.
Beliau mengingatkan sejarah. Di saat pendidikan masih konservatif… Muhammadiyah hadir dengan: pendidikan modern.
Di saat layanan kesehatan belum banyak menjangkau rakyat… Muhammadiyah membangun: rumah sakit. Di saat anak yatim sering terpinggirkan… Muhammadiyah mendirikan: panti asuhan. Dan sekarang: KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Sebuah lompatan pemikiran besar.
Beliau tersenyum lalu berkata: “Pelopor itu sering dianggap aneh di awal.” Peserta tertawa. Karena memang benar. Orang yang berjalan lebih dulu: sering belum dipahami. Tapi sejarah membuktikan: pelopor biasanya baru dipahami belakangan.
*SPKLMU: BERANI SELANGKAH LEBIH MAJU* ⚡
Lalu masuk pada pembahasan yang menjadi inti. Tentang: SPKLMU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah)
Kyai Khafid bertanya: “Kalau kendaraan listrik makin banyak…” “Muhammadiyah mau jadi penonton?” Ruangan mulai serius. Karena memang pertanyaannya dalam.
Beliau melanjutkan: “Kalau kita tahu kendaraan listrik akan datang…” “Kenapa tidak bersiap dari sekarang?”
Benar juga. Karena: kendaraan listrik tanpa charging station tidak bisa jalan.
Persis seperti kendaraan BBM tanpa SPBU. Artinya: SPKL adalah infrastruktur dasar masa depan.
Dan Muhammadiyah memilih: bersiap lebih awal. Bukan menunggu semua ramai. Karena: pelopor memang berjalan duluan.
*PEKA TERHADAP PERUBAHAN* 🌱
SPKL Muhammadiyah bukan cuma urusan teknologi. Bukan cuma urusan charger. Tapi juga: simbol organisasi yang hidup, yang peka terhadap perubahan zaman.
Karena organisasi besar tidak cukup hanya bangga masa lalu. Kalau hanya nostalgia sejarah… bisa tertinggal. Yang penting adalah: tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir di mimbar. Tapi juga harus hadir: di pendidika, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur publik masa depan.
*SPKL-MU: MENGAMBIL PERAN LAYANAN PUBLIK* 🎯
Kyai Khafid lalu berkata: “Tanpa SPKL…” “Mobil listrik cuma jadi pajangan.” Peserta tertawa.
Tapi benar. Mobil listrik butuh energi. Motor listrik butuh charging. Artinya: SPKL adalah urat nadi kendaraan listrik.
Dan Muhammadiyah hadir: ambil peran. Bukan sekadar ikut tren. Tapi: memberi solusi publik.
Karena semakin banyak kendaraan listrik: semakin besar kebutuhan charging station. Maka SPKL Muhammadiyah bisa menjadi: bagian dari pelayanan masyarakat.
*SPKL-MU, LOKOMOTIF PENGGERAK UMKM* 🚂🍛
Nah… Bagian ini membuat suasana makin hidup. Kyai Khafid berkata: “Jangan lihat SPKL cuma charger.”
Karena orang ngecas itu: nunggu. Dan saat nunggu: ekonomi bergerak. Bayangkan. Orang berhenti 1 jam. Apa yang terjadi?
☕ beli kopi
🍜 makan
🛍️ beli oleh-oleh
📱 kerja online
🕌 salat
Artinya: SPKL adalah titik ekonomi baru. Di sekitar SPKL-MU bisa tumbuh:
✅ warung UMKM Muhammadiyah
✅ retail warga
✅ pusat kuliner
✅ jasa servis ringan
✅ mini coworking space
✅ pusat komunitas
Kyai Khafid lalu berkata: “Kalau satu titik hidup…” “Bayangkan seribu titik.”
Ruangan mendadak senyap. Karena semua mulai membayangkan: betapa besarnya dampaknya. SPKL bukan sekadar charger. Tapi: lokomotif penggerak ekonomi umat.
*STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIK MUHAMMADIYAH* 📢
Lalu masuk pembahasan yang menurut saya menarik. Bahwa SPKL Muhammadiyah juga menjadi: strategi komunikasi publik yang cerdas. Karena publik akan makin mengenal Muhammadiyah. Bayangkan orang berhenti ngecas di: SPKL Muhammadiyah Lalu melihat:
🏫 sekolah Muhammadiyah
🏥 rumah sakit Muhammadiyah
🎓 kampus Muhammadiyah
🕌 masjid Muhammadiyah
🛍️ produk UMKM Muhammadiyah
Tanpa sadar: branding Muhammadiyah berjalan alami. Tidak perlu ceramah panjang. Tidak perlu promosi berlebihan. Karena: orang mengenal dari manfaat nyata.
*RAHMATAN LIL ‘ALAMIN* ❤️🕌
Yang paling menyentuh adalah saat Kyai Khafid berkata: “SPKL Muhammadiyah itu bukan buat Muhammadiyah saja.”
Karena: ini fasilitas publik. Semua boleh menggunakan. Siapa pun. Tanpa melihat golongan. Tanpa melihat organisasi.
Karena Muhammadiyah sejak awal lahir membawa semangat: Rahmatan Lil ‘Alamin Memberi manfaat untuk semua. Melayani siapa saja. Mempermudah kehidupan masyarakat.
*AMBIL PERAN* 🔥
Di akhir sesi, Kyai Khafid menyampaikan satu pesan sederhana: “Kalau nggak bisa ambil semua…” Beliau berhenti sebentar. “Ambil sebagian.” “Walaupun kecil.”
Karena dunia tidak menunggu kita siap. Perubahan tidak bertanya: “Sudah siap belum?” Ia tetap datang. Dan pertanyaannya tinggal satu: Muhammadiyah mau jadi penonton perubahan? Atau ikut mengambil peran? Karena sejarah satu abad Muhammadiyah membuktikan: Muhammadiyah besar bukan karena ikut arus. Tapi karena berani membuka jalan. ⚡🕌🚗