You are currently viewing Terima Kasih, Masih Ingat

Terima Kasih, Masih Ingat

Terima Kasih, Masih Ingat

Oleh SiS Antarkita

Ini adalah kisah nyata. Namun nama dan beberapa bagian saya samarkan untuk menjaga privasi seorang teman.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, bukan pula untuk menghakimi keadaan. Saya hanya ingin berbagi sebuah pelajaran sederhana dari perjalanan hidup, bahwa di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan, ternyata ada sebagian teman kita yang merasa terlupakan.

Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan saudara seorang teman lama semasa kuliah. Dari pertemuan itu, saya teringat kembali kepada sahabat yang sudah cukup lama tidak saya hubungi.

Kalau diingat-ingat, terakhir kali saya bertemu dengannya sekitar tahun 2006 di Jakarta. Saat itu saya masih bekerja di sana. Saya berusaha mencari tahu keberadaannya dan Alhamdulillah kami bisa bertemu langsung.

Setelah itu, kehidupan berjalan seperti biasa.

Masing-masing sibuk dengan pekerjaan, keluarga, dan perjuangannya sendiri.

Komunikasi semakin jarang.

Bahkan bisa dibilang hampir tidak pernah bertemu lagi.

Hingga akhirnya kami dipertemukan kembali pada acara Temu Alumni Akbar tahun 2023.

Suasana saat itu penuh kehangatan. Banyak cerita lama yang kembali dikenang. Banyak wajah yang mengingatkan pada masa-masa perjuangan saat kuliah dulu.

Namun setelah acara selesai, kami kembali ke dunia masing-masing.

Kembali larut dalam kesibukan dan rutinitas kehidupan.

Dan komunikasi pun kembali terputus.

Beberapa minggu yang lalu, karena teringat dan ingin bersilaturahmi, saya mencoba menghubunginya.

Tidak ada maksud khusus.

Hanya ingin menyapa dan kalau memungkinkan ingin berkunjung ke rumahnya.

Namun jawaban yang saya terima membuat saya cukup tertegun.

Ia berkata,

“Alhamdulillah, Watno… kamu masih ingat saya?”

Saya spontan menjawab sambil bercanda,

“Lho, memang saya sudah lupa ingatan? Hehehe…”

Kami tertawa.

Namun setelah itu saya menyadari bahwa kalimat tersebut ternyata bukan sekadar candaan.

Ada perasaan yang tersimpan di baliknya.

Teman saya kemudian bercerita bahwa selama ini hampir tidak ada teman yang menghubunginya.

Tidak ada yang sekadar bertanya kabar.

Tidak ada yang menyapa.

Tidak ada yang mengajak bertemu.

Karena itulah ketika saya menghubunginya, ia merasa heran.

Bahkan sedikit curiga.

“Kok tumben?”

Saat itulah saya mencoba menjelaskan bahwa mungkin kami semua sedang menjalani kisah hidup masing-masing.

Ada yang sibuk bekerja.

Ada yang sibuk mengurus keluarga.

Ada yang sedang menghadapi ujian kehidupan.

Ada yang sedang berjuang menjaga kesehatan.

Ada yang sedang mengejar cita-cita yang belum selesai.

Bukan karena lupa.

Bukan karena tidak peduli.

Tetapi karena sering kali kehidupan membuat kita terlalu fokus pada urusan sendiri.

Dan tanpa kita sadari, ada sahabat yang mulai merasa ditinggalkan.

Percakapan sederhana itu membuat saya merenung cukup dalam.

Ternyata tidak semua orang membutuhkan bantuan materi.

Tidak semua orang membutuhkan hadiah.

Kadang seseorang hanya ingin merasa masih diingat.

Masih dianggap sebagai teman.

Masih menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang pernah berjuang bersama.

Karena sejatinya, manusia bukan hanya membutuhkan pengakuan atas keberhasilannya, tetapi juga membutuhkan perhatian atas keberadaannya.

Kita mungkin tidak bermaksud melupakan.

Tetapi diam yang terlalu lama kadang dapat ditafsirkan sebagai lupa.

Padahal bisa jadi hati kita masih menyimpan persahabatan yang sama.

Dari peristiwa ini saya belajar bahwa silaturahmi tidak harus menunggu reuni.

Tidak harus menunggu acara besar.

Tidak harus menunggu kabar duka.

Tidak harus menunggu sakit.

Kadang cukup dengan sebuah pesan sederhana:

“Apa kabar?”

Atau,

“Saya lagi ingat kamu.”

Kalimat yang sederhana, tetapi mungkin sangat berarti bagi seseorang yang sudah lama tidak mendengar kabar dari teman-temannya.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi saya pribadi dan bagi kita semua.

Bahwa persahabatan yang pernah terjalin puluhan tahun lalu tetap layak dirawat.

Bahwa silaturahmi tidak boleh putus hanya karena kesibukan.

Bahwa tidak ada satu pun teman seperjuangan yang seharusnya merasa sendirian atau terlupakan.

Untuk teman-teman Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 1994, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, rahmat, keberkahan, dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

Semoga persaudaraan yang telah terjalin sejak masa kuliah tetap terjaga hingga akhir hayat.

Semoga Allah SWT selalu menyambungkan tali silaturahmi di antara kita.

Dan semoga tidak ada lagi teman angkatan kita yang merasa terlupakan.

Karena setiap nama dalam angkatan ini adalah bagian dari sejarah perjuangan yang tidak akan pernah tergantikan.

Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan kekurangan.

Salam silaturahmi,

Suwatno Ibnu Sudihardjo

Fapet Unsoed 94

“Persahabatan tidak diukur dari seberapa sering bertemu, tetapi dari seberapa tulus kita tetap mengingat dan mendoakan satu sama lain dalam perjalanan hidup.”

Tinggalkan Balasan