Cacat Nalar Badjingan
Ketika Akal Sehat Dikalahkan oleh Penyembahan Kekuasaan
Badjingan bukan sekadar kata makian.
Ia adalah identitas ideologis, sebuah kondisi mental-politik ketika akal sehat menyerah total kepada kekuasaan. Badjingan lahir bukan karena kebodohan semata, melainkan karena kesengajaan untuk menanggalkan nurani demi keuntungan.
Badjingan itu mirip kaum paganisme penyembah berhala.
Hanya saja, berhala mereka bukan patung dari batu atau kayu, melainkan pemimpin politik yang diperlakukan layaknya Tuhan: tidak boleh salah, tidak boleh dikritik, dan tidak boleh dimintai pertanggungjawaban.
Dalam logika Badjingan, pemimpin selalu benar.
Jika pemimpin gagal, yang salah adalah rakyat.
Jika kebijakan menindas, itu disebut pengorbanan demi negara.
Jika hukum dilanggar, pelanggaran dibungkus narasi stabilitas dan kepentingan nasional.
Inilah cacat nalarnya:
kekuasaan ditempatkan lebih tinggi dari kebenaran,
dan loyalitas dianggap lebih penting daripada keadilan.
Ketika ada rakyat bersuara kritis menuntut keadilan, Badjingan akan pasang badan.
Mereka tidak bertanya: apa yang benar?
Mereka hanya bertanya: siapa yang berkuasa?
Mereka tidak membela konstitusi.
Mereka tidak membela korban.
Mereka membela tuannya.
Kritik dianggap ancaman.
Perbedaan pendapat dicap pengkhianatan.
Akal sehat disebut provokasi.
Badjingan tidak pernah hadir ketika bangsa dilanda bencana kemanusiaan.
Mereka absen saat banjir merendam rumah rakyat.
Mereka sunyi saat korban menunggu bantuan.
Mereka tak terlihat saat keadilan tertimbun lumpur dan nyawa kehilangan nilai.
Namun Badjingan selalu sigap ketika tuannya terganggu.
Saat borok kekuasaan terbuka,
saat skandal tercium,
saat kebohongan mulai runtuh,
mereka muncul berbondong-bondong sebagai buzzer, pembelok fakta, penyerang moral publik.
Mereka tidak datang membawa solusi.
Mereka datang membawa noise.
Karena tujuan mereka bukan menyelesaikan masalah, melainkan mengaburkan persoalan.
Badjingan hidup dari kegaduhan.
Kegaduhan adalah oksigen mereka.
Semakin kacau ruang publik, semakin aman tuan mereka.
Cacat nalar Badjingan berpuncak pada satu keyakinan sesat:
negara adalah milik penguasa, bukan milik rakyat.
Padahal konstitusi dengan jelas menyatakan sebaliknya.
Namun bagi Badjingan, konstitusi hanyalah hiasan, bukan pedoman.
Mereka rela membela kebijakan yang melanggar hukum,
asal akses tetap terbuka.
Mereka siap menjustifikasi kezaliman,
asal jatah tidak terganggu.
Bagi mereka, urusan bangsa hanyalah transaksi.
Sejarah selalu jujur dalam satu hal:
bangsa tidak pernah runtuh karena kritik rakyatnya,
melainkan karena pemuja kekuasaan yang mematikan daya kritis.
Selama Badjingan dipelihara,
penguasa zalim akan terus lahir.
Selama pemuja lebih banyak daripada warga kritis,
demokrasi hanya menjadi panggung sandiwara.
Dan pada akhirnya, Badjingan akan selalu lupa:
kekuasaan itu sementara,
jabatan itu fana,
tetapi catatan sejarah tidak pernah lupa siapa yang memilih menjual nurani ketika bangsa sedang terluka.
Suwatno Ibnu Sudihardjo
Antarkita