KISAH INSPIRATIF
Penebar Virus NLP
Drs. Waidi, MBA.Ed, CPC
Drs. Waidi, MBA.Ed lahir pada tahun 1962 di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Sebuah desa agraris yang sederhana, tempat nilai-nilai kerja keras, kejujuran, dan kesabaran ditanamkan sejak dini. Ia tumbuh dalam keluarga biasa, jauh dari kemewahan, namun kaya akan pelajaran hidup. Lingkungan desa membentuknya menjadi pribadi yang terbiasa berjuang, tidak manja, dan akrab dengan keterbatasan.
Pendidikan dasar ia tempuh di SD Negeri 1 Tambakmulyo, dilanjutkan ke SMP Negeri Puring. Sejak usia sekolah, Waidi sudah menyadari bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib. Selepas SMP, ia melanjutkan ke STM (Sekolah Teknologi Menengah) Yayasan Wongsorejo di Gombong, mengambil jurusan Mesin Umum. Pilihan ini dilandasi harapan sederhana namun realistis: setelah lulus STM, ia ingin bekerja di sektor industri di kota-kota besar dan membantu perekonomian keluarga.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Setelah lulus STM, pekerjaan pertama yang ia peroleh bukanlah sebagai teknisi mesin di pabrik besar, melainkan cleaning service di sebuah perusahaan farmasi di Bandung. Pekerjaan itu jauh dari bayangan masa depannya. Di titik inilah Waidi pertama kali berhadapan langsung dengan kenyataan pahit kehidupan.
Menjadi cleaning service bukan sekadar soal pekerjaan, tetapi soal pergulatan harga diri. Ia merasakan lelah fisik, tekanan batin, dan rasa minder. Namun pengalaman pahit itu justru menjadi sekolah kehidupan yang penting. Ia belajar satu hal mendasar: hidup tidak selalu adil, tetapi manusia selalu punya pilihan untuk bersikap.
Dari fase ini lahirlah prinsip hidup yang terus ia pegang hingga kini:
“Apa pun peristiwanya, yang paling menentukan adalah sikap kita terhadap peristiwa itu. Jika sikap kita positif, tidak menyerah, dan selalu bertawakal, maka hari esok akan lebih baik.”
Tahun 1983 menjadi momentum perubahan besar. Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto membuka seleksi CPNS untuk dua orang teknisi lulusan STM Mesin yang akan ditempatkan di bagian percetakan dan penerbitan. Dari 55 pelamar, dengan izin dan anugerah Allah SWT, Waidi dinyatakan lulus.
Ia bekerja sebagai teknisi percetakan: mencetak koran dan majalah kampus, melakukan penjilidan, serta menangani berbagai pekerjaan cetak lainnya. Ia menjalani tugas itu dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur. Bagi Waidi, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan lompatan kelas sosial—seorang anak desa kini berada di lingkungan akademik perguruan tinggi.
Namun semangat belajarnya belum padam. Sayangnya, pada masa itu peraturan pemerintah belum mengizinkan PNS untuk kuliah reguler karena dianggap mengganggu jam kerja. Kelas ekstensi pun belum tersedia. Dalam kondisi tersebut, Waidi mengambil keputusan berani dan tidak lazim: kuliah di Universitas Terbuka (UT).
Ia memilih Program Studi Administrasi Pembangunan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Secara akademik, pilihan ini sangat tidak linier. Dari latar STM Mesin—belajar mengelas, bubut, dan teknik mekanik—ia kini harus memahami ekonomi, sosiologi, antropologi, dan administrasi negara. Lebih berat lagi, sistem UT menuntut kemandirian tinggi karena hampir sepenuhnya berbasis belajar mandiri melalui modul.
Hasilnya pun tidak langsung manis. IPK semester pertama hanya 1,5. Bagi banyak orang, angka ini cukup untuk mematahkan semangat. Namun bagi Waidi, ini justru menjadi bahan refleksi.
“Bukan peristiwanya, tapi sikap terhadap peristiwa itu.”
Ia menyadari bahwa jika ingin hasil berbeda, maka cara harus diubah. Ia memperbaiki strategi belajar, mengatur waktu lebih disiplin, dan melatih ketekunan membaca. Perlahan namun pasti, IPK-nya meningkat. Dengan kegigihan itu, Waidi berhasil menyelesaikan studi S1 UT dalam waktu 4,5 tahun.
Selama kuliah, Waidi tidak ingin menjadi mahasiswa yang hanya cerdas secara akademik tetapi kering secara sosial. Ia aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Ia turut menggagas berdirinya PKBM (Persatuan Kelompok Belajar Mahasiswa UT)—sebuah organisasi kemahasiswaan yang menjadi ruang belajar sosial, kepemimpinan, dan komunikasi bagi mahasiswa UT.
Ia juga rajin mengikuti seminar, diskusi ilmiah, dan lomba karya tulis. Tujuannya bukan semata menjadi juara, tetapi melatih otak agar terus tumbuh dan belajar. Baginya, kedewasaan tidak selalu lahir dari kemenangan, tetapi dari proses panjang merekayasa diri agar semakin matang secara intelektual dan emosional.
Dengan ijazah S1 UT di tangan, Waidi mengambil langkah yang kembali dianggap “nekad”: melamar beasiswa S2 ke luar negeri. Ini adalah uji publik—baik terhadap kualitas dirinya maupun terhadap kredibilitas lulusan UT. Berkali-kali ia gagal, terutama karena keterbatasan kemampuan bahasa Inggris. Namun kegagalan tidak memadamkan tekadnya.
Hingga akhirnya, pada tahun 1996, ia mendapatkan beasiswa Asian Development Bank (ADB) untuk menempuh studi Manajemen Pendidikan (MBA in Education) di Leicester University, Inggris. Ia sebenarnya diterima juga di Australia dan Selandia Baru, tetapi Inggris ia pilih. Ada mimpi masa kecil di sana—mimpi yang lahir ketika ia menjaga singkong di ladang sambil mendengarkan siaran BBC London.
Studi di Inggris adalah fase yang sangat menantang. Perbedaan budaya belajar, iklim, dan pola hidup nyaris membuatnya gagal menyelesaikan studi. Di sana ia belajar bahwa IQ saja tidak cukup. Dibutuhkan kecerdikan, ketangguhan mental, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi.
Sepulang dari Inggris, karier Waidi berkembang pesat. Ia tidak lagi ditempatkan di percetakan, tetapi dipercaya sebagai Pejabat Eselon IV di Kantor Pusat Administrasi UNSOED. Ia juga menjadi Dosen Luar Biasa di berbagai program studi dan Program Pascasarjana Magister Manajemen (2003–2009).
Tahun 2005, ia kembali memperoleh beasiswa short course Neuro-Linguistic Programming (NLP) di Sydney, Australia. Selama 200 jam, ia mendalami bagaimana pikiran manusia bekerja dan bagaimana pola pikir yang keliru dapat diprogram ulang menjadi lebih lurus dan produktif.
NLP menjadi titik transformasi baru. Ia semakin serius menggali potensi diri dan menulis. Dari sinilah lahir berbagai buku pengembangan diri yang menggabungkan psikologi, spiritualitas, dan pengalaman hidup.
Kini, selain sebagai Ka TU Fakultas Biologi UNSOED, dosen, dan penulis, Waidi dikenal sebagai pembicara publik, motivator, trainer, dan coach berbasis NLP. Lebih dari 70 lembaga di seluruh Indonesia telah mengundangnya.
Namun dari semua peran itu, Waidi justru menyebut satu jabatan paling bermartabat: Ketua RT. Jabatan tanpa gaji, penuh keluhan warga, namun kaya pelajaran tentang kebesaran hati, empati, dan pengabdian.
Hingga hari ini, Waidi terus menyebarkan “virus NLP” di mana pun ia berada—di ruang kelas, majelis taklim, pertemuan RT, hingga mimbar Jumat. Ia percaya bahwa ketika pola pikir manusia diluruskan, hidup pun akan bergerak menuju kesuksesan yang utuh: sukses dunia dan akhirat.