Antarkita

Author name: Suwatno Ibnu Sudihardjo

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Dari Masjid Istiqlal, Dakwah Muhammadiyah Cabang Bumiayu Terus Menyala

Dari Masjid Istiqlal, Dakwah Muhammadiyah Cabang Bumiayu Terus Menyala Bumiayu–Brebes || AntaraKita.com – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Dukuhturi, Cabang Bumiayu, terus menghidupkan denyut dakwah dan pencerahan umat melalui Kajian Rutin Ahad Pagi yang digelar di Masjid Istiqlal Dukuhturi, Ahad (25/1/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 300 jamaah dari berbagai kalangan dan menghadirkan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, KH Ahmad Kahar Muzakki, M.Ag., sebagai pemateri. Takmir Masjid Istiqlal Dukuhturi, Drs. H. Abdul Mufti, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi PRM Dukuhturi dalam menghidupkan masjid melalui kajian rutin yang dilaksanakan setiap Jum’at pagi dan Ahad pagi. Menurutnya, pengajian yang berkesinambungan merupakan ikhtiar nyata menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat. “Kami bersyukur Masjid Istiqlal terus dihidupkan dengan pengajian. Inilah ikhtiar bersama agar masjid benar-benar menjadi pusat pembinaan umat, bukan sekadar tempat ibadah ritual,” tuturnya. Abdul Mufti menegaskan bahwa keberlangsungan kajian rutin tidak terlepas dari sinergi yang baik antara PRM, takmir masjid, dan jamaah. Ia berharap Masjid Istiqlal Dukuhturi dapat menjadi rumah bersama bagi umat. “Masjid ini kami harapkan menjadi ruang yang nyaman bagi jamaah untuk belajar, bersilaturahmi, serta tumbuh dalam keimanan dan kepedulian sosial,” imbuhnya. Dalam kajian yang disampaikannya, KH Ahmad Kahar Muzakki menekankan pentingnya umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran agama secara benar dengan berlandaskan manhaj tarjih Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa beragama harus dilandasi ilmu, nalar, dan orientasi kemaslahatan. “Beragama itu harus dengan ilmu. Manhaj tarjih Muhammadiyah membimbing kita agar memahami Islam secara rasional, berlandaskan dalil, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” ujarnya di hadapan jamaah. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa masjid memiliki peran strategis dalam membangun peradaban umat. Masjid, menurutnya, tidak cukup hanya ramai saat waktu shalat, tetapi harus hidup dengan kajian, dialog keilmuan, dan pembinaan yang mencerahkan. “Masjid jangan hanya menjadi tempat ritual ibadah, tetapi juga pusat kajian, penguatan pemahaman keislaman, dan pembinaan umat,” tegasnya. Salah seorang jamaah, Drs. Fatkhurokhim, menilai Kajian Ahad Pagi dan Kajian Jum’at Pagi di Masjid Istiqlal memiliki peran penting dalam menjaga semangat belajar agama masyarakat. “Kajian seperti ini sangat kami butuhkan. Di tengah kesibukan, pengajian Ahad dan Jum’at pagi menjadi ruang untuk menenangkan diri sekaligus memperdalam pemahaman agama,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara istiqamah dan mampu menjangkau lebih banyak jamaah, khususnya generasi muda. “Mudah-mudahan kajian ini terus berjalan dan bisa menarik generasi muda agar masjid semakin hidup dan menjadi pusat pencerahan,” tambahnya. Kajian rutin ini menjadi bagian dari ikhtiar PRM Dukuhturi dalam menguatkan peran ranting sebagai basis utama gerakan dakwah Muhammadiyah. Melalui pengajian yang terjadwal dan terarah, masjid diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pembinaan, dan penguatan umat di tingkat akar rumput. Ke depan, PRM Dukuhturi bersama Takmir Masjid Istiqlal berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas dan keberlanjutan kajian, baik dari sisi materi, pemateri, maupun partisipasi jamaah. Sinergi ini diharapkan semakin memperkokoh dakwah Muhammadiyah yang membumi, mencerahkan, dan berkemajuan. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Berkelit di Kondisi yang Sulit, kopdar Ngapak Raya 

Berkelit di Kondisi yang Sulit, kopdar Ngapak Raya Rakyat Indonesia memang luar biasa. Sejarah panjang bangsa ini selalu mencatat satu hal yang sama: dalam kondisi apa pun, rakyat kecil selalu menemukan cara untuk bertahan. Di tengah situasi ekonomi yang kian menekan—harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja menyempit, dan kebijakan yang sering kali terasa jauh dari kepentingan wong cilik—mereka tidak serta-merta menyerah pada keadaan. Justru dari tekanan itulah daya lenting rakyat tumbuh. Mereka berkelit, bukan untuk menghindar dari kenyataan, tetapi untuk tetap hidup dengan martabat. Bertahan dengan kerja keras, kesabaran, dan kreativitas yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil memaksa mereka untuk mencari jalan alternatif. Jika ruang formal tertutup, maka ruang informal dibuka. Jika pintu lama tak lagi ramah, maka jendela baru dicoba diketuk. Di era digital ini, salah satu ruang itu bernama: konten kreator. Menjadi konten kreator bukan lagi sekadar hobi atau gaya hidup. Bagi sebagian rakyat kecil, ini adalah ikhtiar ekonomi, jalan survival, sekaligus media ekspresi. Dengan modal yang relatif terjangkau—sebuah gawai, kuota internet, dan ide—mereka mengubah keseharian menjadi cerita. Bahasa daerah, logat ngapak, guyonan khas kampung, kritik sosial yang lugas, hingga nasihat hidup sederhana disajikan apa adanya. Dan ternyata, kejujuran itulah yang dicari penonton. Sudah banyak yang berhasil. Tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dari yang semula hanya mengisi waktu luang, kini bisa menjadi sumber penghidupan. Dari yang awalnya dipandang remeh, kini justru menjadi kekuatan. Pagi ini, Ahad 25 Januari 2026, semangat itu menjelma dalam sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna. Para konten kreator Ngapak Raya se-Banyumas Raya berkumpul di Patikraja, tepatnya di Kedungrandu, di rumah Kang Tarmin Ngaklak—salah satu figur konten kreator yang lahir dari rakyat dan tumbuh bersama rakyat. Kopdar ini bukan sekadar temu fisik, melainkan temu rasa dan temu nasib. BUNGAH. Seneng. Itulah suasana yang terasa sejak awal. Tidak ada jarak, tidak ada hierarki. Semua duduk sejajar sebagai kanca sedulur perkontenan. Dari Ngapak Raya Official, Tarmizi Balungwesi, Iis Turyanto Vlog, hingga konten kreator lainnya—semua hadir membawa cerita, pengalaman, dan harapan. Di rumah sederhana itu, diskusi mengalir tanpa naskah. Tentang algoritma dan konsistensi, tentang jatuh bangun mencari penonton, tentang hujatan dan pujian, hingga tentang mimpi sederhana: bisa terus berkarya dan tetap menghidupi keluarga. Tawa lepas bercampur obrolan serius, karena begitulah karakter rakyat—ringan dalam canda, berat dalam tanggung jawab. Yang paling terasa dari pertemuan ini adalah kekompakan. Mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi disatukan oleh keadaan yang sama: kondisi sosial-ekonomi yang tidak selalu berpihak pada rakyat kecil. Alih-alih saling sikut, mereka memilih saling rangkul. Alih-alih berjalan sendiri, mereka membangun jejaring kebersamaan. Maju bareng. Sukses bareng. Horeeee…! Kopdar ini menjadi penanda bahwa kreativitas rakyat kecil tidak boleh dipandang sebelah mata. Dari Patikraja, dari Kedungrandu, dari bahasa ngapak yang sering dianggap pinggiran, lahir gerakan kultural yang kuat—gerakan bertahan, berdaya, dan berbagi harapan. Di tengah kondisi yang sulit, mereka berkelit bersama. Dan dalam kebersamaan itulah, masa depan perlahan dirajut. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Perumahan Muhammadiyah Sebagai Strategi Dakwah, Pemberdayaan, dan Pengkaderan Umat

Perumahan Muhammadiyah Sebagai Strategi Dakwah, Pemberdayaan, dan Pengkaderan Umat Muhammadiyah sejak awal berdirinya diposisikan oleh KH Ahmad Dahlan bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar yang hadir untuk menjawab persoalan nyata umat. Dakwah Muhammadiyah selalu bergerak dari teks ke konteks, dari nilai ke realitas, dan dari mimbar ke medan kehidupan. Dalam kerangka inilah, pembangunan Perumahan Muhammadiyah perlu dipahami sebagai bagian integral dari strategi dakwah dan pengkaderan umat di era modern. Hunian merupakan kebutuhan dasar manusia (al-dharuriyyat al-khams). Ketiadaan rumah yang layak bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut martabat, ketahanan keluarga, dan kualitas kehidupan beragama. Ketika Muhammadiyah masuk ke sektor perumahan, sejatinya Persyarikatan sedang menjalankan dakwah bil-hal—dakwah melalui tindakan nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh umat. Landasan Ideologis Dakwah Sosial Muhammadiyah Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah ditegaskan bahwa Muhammadiyah berjuang untuk “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” Masyarakat Islam tidak mungkin terwujud tanpa fondasi sosial yang kuat, salah satunya adalah lingkungan tempat tinggal yang sehat, aman, dan berkeadaban. Konsep ini sejalan dengan Kepribadian Muhammadiyah yang menekankan bahwa dakwah harus dilakukan secara rasional, sistematis, dan menyentuh problem kemanusiaan. Pembangunan perumahan bukanlah aktivitas yang netral nilai, melainkan instrumen strategis untuk membentuk tatanan sosial yang Islami, berkemajuan, dan berkeadilan. Dengan demikian, Perumahan Muhammadiyah bukan sekadar proyek properti, tetapi instrumen dakwah struktural—membangun ruang hidup yang memungkinkan nilai-nilai Islam tumbuh dan diwariskan secara berkelanjutan. Perumahan sebagai Ruang Pembinaan dan Dakwah Kultural Perumahan Muhammadiyah idealnya dirancang sebagai komunitas dakwah, bukan sekadar klaster hunian. Masjid atau mushala ditempatkan sebagai pusat aktivitas, bukan pelengkap simbolik. Dari ruang inilah dakwah kultural berjalan: pengajian keluarga, pendidikan anak, pembinaan remaja, hingga musyawarah warga. Hal ini sejalan dengan gagasan Islam Berkemajuan yang menekankan integrasi antara iman, ilmu, dan amal. Lingkungan perumahan menjadi ruang praksis di mana nilai-nilai amar makruf nahi munkar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: budaya bersih, disiplin, saling menolong, kepedulian sosial, serta etos kerja yang kuat. Dakwah dalam konteks ini tidak bersifat instruktif dan verbalistik, melainkan edukatif dan transformatif. Warga dibina bukan dengan tekanan, tetapi dengan keteladanan dan kebiasaan baik yang tumbuh secara alami. Basis Strategis Pengkaderan Umat dan Persyarikatan Lebih dari itu, Perumahan Muhammadiyah memiliki potensi besar sebagai basis pengkaderan umat dan Persyarikatan. Dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah, ditegaskan bahwa kaderisasi harus berlangsung secara berlapis: formal, nonformal, dan informal. Lingkungan perumahan berada pada ranah kaderisasi informal yang sangat strategis. Di komunitas inilah benih-benih kader tumbuh secara organik. Anak-anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan Islami, remaja yang aktif di kegiatan masjid dan ortom, serta orang tua yang terlibat dalam pengajian dan aktivitas sosial, merupakan calon kader Muhammadiyah yang matang secara ideologis dan sosial. Perumahan Muhammadiyah dapat menjadi “Darul Arqam modern”—ruang pembinaan berkelanjutan yang menyiapkan kader tidak hanya paham ideologi, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan kepemimpinan komunitas. Dimensi Ekonomi dan Keadilan Sosial Dalam konteks ekonomi, pembangunan perumahan juga merupakan bagian dari jihad ekonomi Muhammadiyah. Sejarah menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu mendorong kemandirian ekonomi umat melalui amal usaha dan gerakan pemberdayaan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa tidak ada netralitas ekonomi—hasil ekonomi akan selalu digunakan untuk kepentingan nilai dan ideologi tertentu. Ketika Perumahan Muhammadiyah dikelola secara profesional dan amanah, maka nilai ekonomi yang dihasilkan dapat menjadi sumber pembiayaan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya. Ini sejalan dengan spirit Al-Ma’un yang menempatkan keberpihakan kepada kaum lemah sebagai inti dakwah. Perumahan Muhammadiyah dengan harga terjangkau, sistem yang adil, dan orientasi maslahat merupakan bentuk nyata keberpihakan Persyarikatan kepada umat, khususnya kelas menengah dan bawah yang sering terpinggirkan oleh mekanisme pasar properti yang liberal. Tantangan Zaman dan Kebutuhan Kolaborasi Tentu, pembangunan Perumahan Muhammadiyah tidak lepas dari tantangan: keterbatasan modal, kompleksitas regulasi, profesionalisme pengelolaan, dan kesinambungan program. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara Persyarikatan, amal usaha, warga Muhammadiyah, dan mitra strategis yang memiliki kesamaan visi. Profesionalisme harus berjalan seiring dengan idealisme. Spirit dakwah harus ditopang oleh tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Inilah makna tajdid dalam konteks sosial-ekonomi: pembaruan cara, tanpa meninggalkan nilai. Menuju Peradaban Islam Berkemajuan Pada akhirnya, Perumahan Muhammadiyah adalah bagian dari ikhtiar besar membangun peradaban Islam berkemajuan. Dari rumah-rumah yang dibangun dengan nilai, lahir keluarga-keluarga yang kokoh. Dari keluarga yang kokoh, lahir komunitas yang berdaya. Dari komunitas yang berdaya, Muhammadiyah menunaikan perannya sebagai gerakan dakwah yang mencerahkan dan memajukan kehidupan umat dan bangsa. Perumahan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang pembentukan manusia dan nilai. Dan Muhammadiyah, setia pada khittahnya, memilih hadir di jantung kehidupan umat. SiS,Antarkita  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Dua Tokoh Besar Kotagede Yogyakarta

Dua Tokoh Besar Kotagede Yogyakarta Ulama, Intelektual, dan Arsitek Kesadaran Umat–Bangsa Kotagede Yogyakarta adalah ruang sejarah yang unik. Ia bukan hanya pusat awal Kesultanan Mataram Islam, tetapi juga rahim peradaban tempat ulama, saudagar, dan intelektual Islam membentuk kesadaran keumatan sekaligus kebangsaan. Dari Kotagede, Islam tidak hadir sebagai simbol kekuasaan semata, melainkan sebagai gerakan nilai, pendidikan, dan pembebasan sosial. Dalam lanskap sejarah itulah muncul dua tokoh besar yang jejaknya saling terhubung lintas generasi: KH Masyhudi bin KH Mukmin dan KH Abdul Kahar Mudzakkir. Keduanya merepresentasikan kesinambungan peran ulama: dari penguatan umat di akar rumput hingga perumusan masa depan bangsa. KH Masyhudi bin KH Mukmin Ulama Kotagede dan Arsitek Kesadaran Organisasi Umat KH Masyhudi bin KH Mukmin dikenal sebagai ulama Kotagede yang hidup pada masa transisi penting: peralihan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern di bawah tekanan kolonialisme Belanda. Pada masa ini, umat Islam menghadapi tiga persoalan besar: Keterbelakangan pendidikan, Fragmentasi sosial umat, Dominasi politik dan ekonomi kolonial. Dalam situasi tersebut, KH Masyhudi mendirikan Syarikatul Mubtadi, sebuah organisasi keislaman yang berorientasi pada pembinaan umat pemula (mubtadi), baik dalam pemahaman agama maupun kesadaran sosial. Organisasi ini tidak berdiri di ruang hampa, melainkan menjadi bagian dari arus besar kebangkitan Islam awal abad ke-20, sejajar dengan lahirnya Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainnya. Syarikatul Mubtadi memiliki karakter penting: Menjadikan Islam sebagai kekuatan pembebasan, bukan sekadar ritual. Menanamkan kesadaran berorganisasi sebagai alat perjuangan umat. Menguatkan pendidikan keagamaan berbasis masyarakat. KH Masyhudi memahami bahwa umat Islam tidak akan bangkit hanya dengan kesalehan individual. Umat harus disadarkan, dihimpun, dan dididik secara kolektif. Pemikiran inilah yang menjadikan Kotagede sebagai salah satu simpul penting gerakan Islam modern di Yogyakarta. Lebih dari itu, KH Masyhudi mewariskan etos keilmuan dan keberanian berpikir kepada lingkungan keluarganya. Warisan inilah yang kelak menjelma dalam sosok keponakannya, KH Abdul Kahar Mudzakkir. KH Abdul Kahar Mudzakkir Ulama Negarawan dan Bapak Intelektualisme Islam Indonesia KH Abdul Kahar Mudzakkir lahir dari tradisi ulama Kotagede yang kuat. Ia tumbuh dalam lingkungan yang memadukan agama, kesadaran sosial, dan tanggung jawab sejarah. Tidak mengherankan bila kemudian ia tampil sebagai salah satu tokoh Islam paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. 1. Peran dalam Pendidikan Tinggi Islam KH Abdul Kahar Mudzakkir adalah pendiri dan Rektor pertama Universitas Islam Indonesia (UII)—perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada masa revolusi. Pendirian UII bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan strategi peradaban. UII didirikan dengan visi: Menjadikan ilmu pengetahuan modern selaras dengan nilai Islam. Melahirkan intelektual Muslim yang mampu memimpin bangsa. Menegaskan bahwa Islam kompatibel dengan kemajuan, rasionalitas, dan negara modern. Dalam konteks ini, KH Abdul Kahar Mudzakkir melanjutkan spirit pamannya: Islam harus hadir sebagai kekuatan pencerahan dan pembebasan, bukan terpinggirkan dari arus modernitas. 2. Peran dalam BPUPKI dan PPKI Peran KH Abdul Kahar Mudzakkir mencapai puncak signifikansi nasional ketika ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Ia termasuk tokoh Islam yang aktif memperjuangkan posisi Islam dalam dasar negara. Pada 22 Juni 1945, ia terlibat langsung dalam perumusan Piagam Jakarta, sebuah dokumen historis yang menjadi embrio Pembukaan UUD 1945. Dalam forum tersebut, KH Abdul Kahar Mudzakkir bersama tokoh-tokoh Islam lainnya berusaha memastikan bahwa: Nilai-nilai Islam diakui secara konstitusional. Negara Indonesia tidak tercerabut dari identitas religius mayoritas rakyatnya. Persatuan bangsa tetap menjadi prioritas utama. Sikapnya mencerminkan kebijaksanaan ulama negarawan: teguh pada prinsip, namun lapang dalam kompromi demi keutuhan bangsa. Kotagede sebagai Mata Rantai Sejarah Dari Ulama Kampung ke Arsitek Bangsa Jika ditarik benang merah, maka jelas terlihat bahwa: KH Masyhudi bin KH Mukmin membangun kesadaran umat dari bawah melalui organisasi dan pendidikan. KH Abdul Kahar Mudzakkir membawa kesadaran itu ke tingkat nasional melalui pendidikan tinggi dan konstitusi negara. Kotagede bukan hanya tempat lahir mereka secara biologis, tetapi ruang pembentukan kesadaran sejarah. Dari Kotagede, lahir ulama yang tidak hanya bicara soal akhirat, tetapi juga masa depan bangsa. Relevansi untuk Zaman Kini Warisan dua tokoh besar Kotagede ini sangat relevan hari ini: Ketika umat kembali menghadapi fragmentasi sosial dan ekonomi, Saat pendidikan sering kehilangan nilai moral dan visi kebangsaan, Dan ketika Islam kembali diuji perannya dalam ruang publik. Jejak KH Masyhudi dan KH Abdul Kahar Mudzakkir mengajarkan bahwa Islam yang hidup adalah Islam yang mengorganisasi, mencerahkan, dan memimpin peradaban. Di sinilah narasi ini menemukan relevansinya dengan gerakan kontemporer: membangun umat melalui jejaring, pendidikan, dan kolaborasi nilai. SiS, Antarkita   Literasi dan Rujukan Akademik : Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI (1945), Sekretariat Negara RI. Tim Penulis UII, Sejarah dan Dinamika Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara, LP3ES. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942, LP3ES. M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Serambi. Arsip sejarah ulama Kotagede Yogyakarta dan kajian Islam Jawa.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Jaringan Wisata Muhammadiyah

Jaringan Wisata Muhammadiyah Menjaga Nilai untuk Kemaslahatan Umat Indonesia tengah mengalami momentum gemilang dalam sektor pariwisatanya. Data terbaru menunjukkan angka kunjungan lebih dari 12 juta wisatawan mancanegara serta capaian devisa mencapai USD 13,82 miliar — sebuah prestasi yang menjadi bukti nyata bahwa pariwisata telah pulih dan menjadi poros penting dalam perekonomian nasional. Pertumbuhan ini bukan hanya angka statistik; ia berdampak pada penggerak usaha mikro, peningkatan konsumsi masyarakat, serta perputaran nilai ekonomi di berbagai daerah. Namun di tengah euforia kebangkitan ini, kita perlu bertanya: siapakah yang sejatinya mengambil manfaat terbesar dari geliat ekonomi pariwisata ini? Di mana posisi umat Islam dalam rantai nilai besar ini? Dan apakah manfaat tersebut telah kembali kepada kemaslahatan umat? Potensi Ekonomi Wisata: Besar Tapi Belum Optimal untuk Umat Potensi ekonomi pariwisata di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia. Kontribusinya terhadap devisa negara, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) menyuguhkan peluang ekonomi luar biasa. Namun, fakta menunjukkan bahwa manfaat ekonomi ini masih dikuasai oleh struktur dan pelaku yang belum sepenuhnya berpihak pada kemaslahatan umat Islam. Tempat-tempat wisata yang ramai, hotel dan resort yang padat pengunjung, industri pendukung yang tumbuh — semuanya menggambarkan volume ekonomi yang besar. Namun jika dilihat dari perspektif pemberdayaan umat, representasi pengusaha Muslim, terutama yang berorientasi pada nilai syariah, masih jauh dari proporsional. Hal ini menunjukkan satu kenyataan penting: potensi besar belum termanfaatkan secara optimal untuk kepentingan umat. Ekonomi Tidak Netral; Ia Selalu Berarah Kita tidak bisa berpegang pada anggapan bahwa aktivitas ekonomi bersifat netral. Dalam realitasnya, setiap kegiatan ekonomi memiliki arah nilai, kepentingan, dan tujuan tertentu. Investasi, aliran modal, manfaat sosial — semuanya mencerminkan nilai yang dianut oleh pelakunya. Jika umat Islam tidak mengambil bagian aktif dalam sektor ekonomi besar seperti pariwisata, maka ruang-ruang ini akan terisi oleh kepentingan lain yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai kebajikan, keadilan, dan kemaslahatan umat. Di sinilah urgensi kehadiran organisasi seperti Muhammadiyah — tidak sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku aktif yang membawa arah nilai ke dalam struktur ekonomi. Mengapa Muhammadiyah Harus Terlibat dalam Pariwisata? Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam pendidikan, kesehatan, dakwah sosial, dan pengembangan ekonomi umat. Keberadaannya telah mengakar kuat dalam kehidupan umat, dengan jaringan luas dari tingkat pusat hingga ranting di berbagai daerah. Dengan jaringan yang kuat ini, Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk menghadirkan model ekonomi yang berorientasi nilai, bukan sekadar keuntungan finansial. Dalam konteks pariwisata, keterlibatan Muhammadiyah menjadi penting karena: Nilai Syariah dalam Wisata Wisata bukan hanya soal tempat dan pengalaman; wisata adalah ruang sosial yang mempengaruhi perilaku, budaya, dan interaksi manusia. Tanpa pengelolaan berbasis nilai, wisata berpotensi memunculkan praktik yang bertentangan dengan norma agama. Muhammadiyah hadir untuk mengawal pariwisata agar tetap berada dalam koridor moral dan syariah, tanpa menghalangi tumbuhnya kreativitas ekonomi. Pemberdayaan Ekonomi Umat Dengan skala ekonomi yang besar, pariwisata memiliki efek ganda pada UMKM, usaha mikro, serta industri kreatif lokal. Namun, pemberdayaan ini tidak otomatis terjadi. Dibutuhkan intervensi terorganisir agar kesempatan usaha di sektor pariwisata benar-benar dapat diakses oleh pelaku usaha Islam, terutama yang selama ini belum masuk ke dalam rantai nilai utama. Reinvestasi untuk Dakwah dan Kemaslahatan Departemen amal usaha Muhammadiyah dapat memanfaatkan hasil ekonomi dari pariwisata untuk memperkuat program dakwah, pendidikan, kesehatan, dan sosial. Dengan rekayasa ekonomi yang tepat, keuntungan dari pariwisata tidak hanya bersifat konsumtif tetapi produktif dan berdampak jangka panjang. Jaringan Wisata Muhammadiyah: Sebuah Ekosistem Berorientasi Nilai Untuk menjawab tantangan dan peluang itu, hadir sebuah gagasan strategis: Jaringan Wisata Muhammadiyah — sebuah ekosistem yang mengintegrasikan ekonomi wisata dengan nilai-nilai keagamaan dan kemaslahatan umat. Jaringan ini bukan sekadar koperasi atau badan usaha semata, tetapi suatu sistem kolaboratif yang mencakup: Hotel dan Penginapan Syariah, yang mendukung pengalaman menginap nyaman, aman, dan sesuai dengan prinsip syariah. Travel dan Tour Halal, layanan wisata terintegrasi yang memprioritaskan kenyamanan, etika berwisata, serta nilai-nilai keIslaman. Kuliner UMKM yang Mendunia, mempromosikan makanan lokal dengan standar halal dan kualitas tinggi. Destinasi Wisata Edukatif, seperti wisata sejarah Islam, pusat dakwah budaya, dan pengembangan wisata berbasis komunitas lokal. Platform Digital dan Marketplace Muslim, yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas serta transparan. Dengan struktur jaringan ini, manfaat ekonomi wisata tidak lagi terfragmentasi, tetapi tersalur menuju pemberdayaan umat secara sistemik. Menjaga Koridor Nilai — Kunci Keberlanjutan Wisata Wisata memiliki daya tarik universal; ia mendatangkan pengalaman, relaksasi, dan kegembiraan. Namun tanpa pengelolaan yang berpijak pada nilai, wisata juga berpotensi menciptakan perilaku konsumtif, eksploitasi budaya lokal, serta praktik yang bertentangan dengan etika sosial dan moral. Muhammadiyah hadir untuk menjaga agar pariwisata Indonesia: tetap bermartabat, beretika, dan ramah keluarga, menghormati identitas budaya lokal, serta menjadi sarana pengalaman yang tidak melanggar nilai-nilai agama. Dalam konteks ini, jaringan pariwisata bukan hanya tentang ekonomi — tetapi juga tentang pencerahan sosial dan pembangunan karakter bangsa. Tidak Ada Netralitas dalam Ekonomi Seperti telah dijelaskan, ekonomi selalu memiliki orientasi nilai. Ketika unit-unit ekonomi besar tidak diisi oleh pelaku yang berorientasi pada nilai moral dan kemaslahatan umat, maka ruang tersebut akan diisi oleh kekuatan lain yang mungkin bertentangan dengan nilai agama. Karena itu, kehadiran Jaringan Wisata Muhammadiyah bukan sekadar pilihan — tetapi kebutuhan strategis umat dalam menghadapi era ekonomi global yang semakin dinamis dan kompetitif. Penutup: Waktu untuk Bergerak adalah Sekarang Momentum pariwisata Indonesia yang tengah bangkit bukanlah sekadar peluang ekonomi sementara. Ia adalah pintu gerbang menuju pemberdayaan umat secara lebih luas, jika dikelola dengan visi, nilai, dan prinsip yang tepat. Jaringan Wisata Muhammadiyah hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku perubahan. Membawa nilai ke dalam ekonomi. Menguatkan umat melalui pemberdayaan ekonomi. Dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan dari sektor wisata memberi dampak positif dan berkelanjutan bagi umat. Karena ekonomi tidak netral — dan sudah saatnya umat Islam mengambil peran strategis di dalamnya. SiS, Antarkita Informasi JWM Hubungi: 0851-2262-5529

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Lembaga Parekraf PP Muhammadiyah Hadirkan Terobosan Revolusioner Melalui Program Napak Tilas KH Achmad Dahlan

Lembaga Parekraf PP Muhammadiyah Hadirkan Terobosan Revolusioner Melalui Program Napak Tilas KH Achmad Dahlan Wisata Edukasi, Religi, dan Kebersamaan PWM DKI Jakarta – Yogyakarta YOGYAKARTA — Lembaga Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Yayasan KH Ahmad Dahlan secara resmi menghadirkan program Napak Tilas KH Achmad Dahlan, sebuah terobosan baru dalam pengembangan pariwisata berbasis nilai, sejarah, dan dakwah Islam berkemajuan. Program ini dikemas sebagai Wisata Edukasi, Religi, dan Kebersamaan yang menghubungkan PWM DKI Jakarta dan Yogyakarta dalam satu rangkaian perjalanan bermakna. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai wisata rekreatif, tetapi sebagai perjalanan edukatif dan reflektif untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah, nilai perjuangan, serta keteladanan KH Achmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Ketua Lembaga Parekraf PP Muhammadiyah dalam keterangannya menyampaikan bahwa Napak Tilas KH Achmad Dahlan merupakan upaya menghadirkan pariwisata yang tidak netral nilai, melainkan berpihak pada penguatan ideologi, sejarah, dan identitas persyarikatan. “Pariwisata tidak hanya soal destinasi dan hiburan, tetapi juga medium dakwah, pendidikan, dan penguatan kesadaran kolektif. Inilah semangat yang kami hadirkan melalui Napak Tilas KH Achmad Dahlan,” ujarnya. Menggabungkan Edukasi Sejarah, Spiritualitas, Budaya, dan Kebersamaan Program Napak Tilas KH Achmad Dahlan dirancang secara terstruktur dengan memadukan unsur edukasi sejarah Muhammadiyah, penguatan nilai religius, wisata budaya, serta kuliner khas Yogyakarta. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas dalam suasana kebersamaan dan ukhuwah, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman emosional dan spiritual. Rangkaian perjalanan diawali dari SM Tower sebagai titik kumpul dan keberangkatan rombongan. Dari lokasi ini, peserta menuju destinasi utama pertama, yakni Padepokan KH Achmad Dahlan. Di tempat ini, peserta mendapatkan pemaparan mendalam mengenai perjalanan hidup KH Achmad Dahlan, pemikiran pembaruannya, serta nilai-nilai Islam berkemajuan yang kemudian menjadi fondasi berdirinya Muhammadiyah. Momen di Padepokan KH Achmad Dahlan menjadi sangat istimewa karena peserta berkesempatan bertemu langsung dengan keturunan KH Achmad Dahlan. Pertemuan ini memberikan pengalaman historis dan emosional yang kuat, sekaligus mempertemukan generasi hari ini dengan mata rantai sejarah pendiri persyarikatan. Menyusuri Jejak Awal Muhammadiyah di Kauman Setelah sesi edukasi dan refleksi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Soto Pak Sholeh untuk menikmati makan siang bersama (maksi). Selain sebagai waktu istirahat, momen ini dimanfaatkan untuk mempererat kebersamaan dan membangun komunikasi antar peserta lintas wilayah. Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan tiba di Kawasan Kauman, kawasan bersejarah yang menjadi pusat awal lahir dan berkembangnya Muhammadiyah. Di kawasan ini, peserta diajak menyusuri lingkungan dakwah dan perjuangan KH Achmad Dahlan, melihat langsung ruang-ruang sejarah yang menjadi saksi lahirnya gerakan Islam berkemajuan di Indonesia. Suasana Kauman memberikan pengalaman otentik tentang bagaimana gagasan besar Muhammadiyah lahir dari ruang yang sederhana, namun mampu menggerakkan perubahan besar dalam kehidupan umat dan bangsa. Wisata Edukatif dan Ziarah Reflektif Pada pukul 14.45 WIB, peserta kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan menuju Museum sebagai bagian dari wisata edukatif. Kunjungan ini bertujuan memperkaya wawasan sejarah dan kebudayaan, sekaligus memberikan konteks yang lebih luas tentang perjalanan bangsa dan peradaban. Selanjutnya, sekitar pukul 16.45 WIB, rombongan menuju Makam Karangkajen untuk melaksanakan ziarah. Kegiatan ini menjadi momen refleksi dan doa, mengenang jasa KH Achmad Dahlan dan para tokoh Muhammadiyah lainnya dalam perjuangan dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Ziarah ini dimaknai bukan sekadar ritual, tetapi sebagai pengingat akan tanggung jawab generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan dengan cara yang relevan dan berkemajuan. Masjid sebagai Pusat Peradaban dan Penutup Perjalanan Menjelang waktu petang, peserta menuju Masjid Jogokariyan untuk melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah. Masjid Jogokariyan dikenal luas sebagai masjid percontohan dengan pengelolaan umat yang aktif, inklusif, transparan, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Kehadiran di masjid ini memberikan inspirasi tentang peran strategis masjid sebagai pusat peradaban umat. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta menikmati santap malam di Bakmi Ndagen, kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan malam (JJM) di kawasan Malioboro, menikmati suasana khas Yogyakarta sebelum kembali dan mengakhiri perjalanan. Pariwisata Bernilai untuk Menguatkan Ideologi dan Ukhuwah Melalui program Napak Tilas KH Achmad Dahlan, Lembaga Parekraf PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pariwisata yang berorientasi pada nilai, sejarah, dan kebermanfaatan umat. Program ini diharapkan mampu memperkuat nilai keislaman, memperdalam pemahaman sejarah Muhammadiyah, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan keberlanjutan perjuangan. Kegiatan ini terbuka bagi warga Muhammadiyah serta masyarakat umum yang ingin mengikuti wisata bernilai, edukatif, dan mencerahkan. SiS, Antarkita 📞 Informasi & Reservasi: 0851-2262-5529

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Saatnya Muhammadiyah Ambil Peranan

Saatnya Muhammadiyah Ambil Peranan Pariwisata Indonesia tengah bangkit. Setelah terpukul pandemi, sektor ini kembali menemukan momentumnya sebagai andalan ekonomi nasional. Devisa meningkat, pergerakan wisatawan melonjak, dan ekonomi daerah kembali berdenyut. Pariwisata bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi salah satu pilar strategis penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun di balik kebangkitan besar ini, muncul satu pertanyaan reflektif: di manakah posisi Muhammadiyah? Sebagai organisasi Islam besar dengan jaringan amal usaha, sumber daya manusia, dan kekuatan sosial yang luas, keterlibatan Muhammadiyah—baik secara organisasi maupun perorangan—di sektor pariwisata masih belum terlihat signifikan. Padahal, sektor ini bukan hanya besar secara ekonomi, tetapi juga strategis secara ideologis dan kultural. Tidak ada yang benar-benar netral dalam ekonomi. Setiap keuntungan yang dihasilkan akan bermuara pada kepentingan nilai, golongan, dan arah perjuangan tertentu. Karena itu, ketika umat Islam—termasuk Muhammadiyah—tidak mengambil bagian, maka ruang tersebut akan diisi oleh kepentingan lain, dengan nilai dan orientasi yang belum tentu sejalan dengan dakwah dan kemaslahatan umat. Di sinilah urgensi kehadiran Muhammadiyah di sektor pariwisata menjadi sangat relevan. Bukan sekadar mengejar profit, tetapi membawa misi dakwah ekonomi: bagaimana hasil ekonomi pariwisata dapat dikembalikan untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, dan penguatan umat. Pariwisata tidak hanya menjadi mesin uang, tetapi juga instrumen nilai. Pariwisata adalah kebutuhan tersier, dan dalam praktiknya memiliki potensi besar mengarah pada maksiat jika tidak dikelola dengan prinsip yang jelas. Karena itu, kehadiran Muhammadiyah juga penting untuk menjaga pariwisata tetap berada dalam koridor syariah—aman, bermartabat, dan beretika. Bukan dengan pendekatan pelarangan, tetapi melalui pengelolaan yang beradab dan berorientasi maslahat. Potensi pengembangan pariwisata syariah dan hotel syariah sangat terbuka lebar. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki pasar domestik yang kuat, sekaligus daya tarik global. Wisata yang ramah keluarga, halal, bersih, dan berlandaskan nilai lokal justru menjadi keunggulan kompetitif di tengah kejenuhan wisata massal yang eksploitatif. Data menunjukkan optimisme itu. Dosen Prodi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Diah Setyawati Dewanti, Ph.D., memproyeksikan nilai ekonomi pariwisata Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.269,8 triliun—melonjak sekitar 400 persen dibandingkan periode sebelum pandemi. Dalam enam tahun terakhir, pariwisata kembali menempati posisi sebagai salah satu sumber penerimaan nasional terbesar. Kontribusinya pun nyata di daerah. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sektor pariwisata menyumbang sekitar 16,19 persen terhadap total nilai produksi, menjadikannya tulang punggung ekonomi lokal. Dari sisi kunjungan, perjalanan wisata domestik telah melampaui satu miliar perjalanan lintas daerah, sementara wisatawan mancanegara hingga Agustus 2025 mencapai sekitar 10,9 juta orang—mendekati target tahunan 17–19 juta kunjungan. Lebih jauh, Diah menekankan pentingnya penguatan halal tourism sebagai arah masa depan pariwisata Indonesia. Wisata halal bukan semata soal label keagamaan, melainkan tentang kualitas pengalaman, kenyamanan layanan, serta kekayaan budaya dan sejarah lokal. Pengemasan kuliner, tradisi, dan kearifan lokal terbukti mampu meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif. Di titik inilah Muhammadiyah seharusnya hadir. Mengambil peran, meski dengan segala keterbatasan. Memulai dari yang mungkin: pengelolaan homestay syariah, hotel syariah, travel halal, ekosistem kuliner halal, hingga platform digital yang menghubungkan wisata, UMKM, dan dakwah. Pariwisata bukan sekadar soal jalan-jalan. Ia adalah arena ideologis, ekonomi, dan kultural. Dan saat sektor ini bangkit menjadi andalan ekonomi nasional, sudah saatnya Muhammadiyah tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama yang memberi arah—agar pariwisata Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga mencerahkan. SiS, Antarkita   Dikutip dari: https://www.umy.ac.id/pariwisata-indonesia-bangkit-jadi-andalan-ekonomi-nasional/

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Masjid Kebangkitan

Masjid Kebangkitan Sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani, umat Islam seperti anak ayam kehilangan induknya. Bukan hanya kehilangan institusi politik, tetapi kehilangan arah peradaban. Hilang kompas kolektif yang selama berabad-abad memandu umat Islam sebagai satu kekuatan sejarah. Sejak saat itu, umat Islam tercerai-berai, terfragmentasi oleh batas negara, kepentingan sempit, dan ideologi asing yang tidak lahir dari rahim nilai Islam. Hingga hari ini, belum lahir kepemimpinan Islam yang mampu mengorkestrasi kekuatan umat secara global. Tidak ada satu visi besar yang mempersatukan energi umat. Yang ada adalah langkah-langkah kecil yang berjalan sendiri-sendiri, sering kali saling tidak terhubung, bahkan tak jarang saling melemahkan. Umat Islam berjalan tanpa peta peradaban, sibuk bertahan hidup, sibuk dengan urusan domestik, sementara panggung dunia dikuasai oleh kekuatan yang jauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam nyaris tidak menjadi aktor utama. Umat lebih sering menjadi objek kebijakan, bukan subjek penentu arah. Kekuasaan politik menjauh dari nilai-nilai Islam, bahkan kerap bertentangan dengannya. Korupsi dianggap wajar. Ketimpangan sosial diterima sebagai keniscayaan. Penindasan dilegitimasi atas nama pembangunan. Alam dieksploitasi tanpa amanah, tanpa tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Semua itu berlangsung setiap hari, menjadi rutinitas, menjadi normalitas baru yang mematikan nurani. Dalam bidang ekonomi, kondisi umat Islam tidak jauh berbeda. Secara kuantitatif, umat Islam besar dalam jumlah, tetapi kecil dalam kendali. Secara nilai, umat Islam jauh dari sistem ekonomi yang berkeadilan. Umat lebih banyak berperan sebagai konsumen, bukan produsen. Sebagai pasar, bukan pengendali pasar. Rantai nilai ekonomi dikuasai oleh segelintir pihak, sementara umat Islam terjebak dalam siklus ketergantungan, utang, dan eksploitasi. Ekonomi tidak lagi menjadi sarana ibadah dan kemaslahatan, tetapi menjadi alat penjajahan gaya baru. Lebih dari itu, umat Islam perlahan menjauh dari masjid. Masjid yang dahulu menjadi jantung peradaban kini mengalami penyempitan makna. Masjid direduksi menjadi tempat ritual semata. Shalat ditegakkan, tetapi keadilan tidak diperjuangkan. Dzikir menggema, tetapi kepedulian sosial melemah. Saf-saf dirapatkan, tetapi barisan umat dalam kehidupan nyata tercerai-berai. Padahal dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar bangunan ibadah. Masjid Nabawi adalah pusat segala-galanya. Dari masjid lahir kepemimpinan. Dari masjid disusun strategi. Dari masjid diatur ekonomi umat. Dari masjid dibangun solidaritas sosial. Dari masjid lahir peradaban yang mencerahkan dunia. Masjid adalah pusat kesadaran, pusat pendidikan, pusat kebijakan, pusat pengorganisasian umat. Hari ini, masjid harus kembali menemukan jati dirinya. Masjid harus menjadi Masjid Kebangkitan. Masjid Kebangkitan adalah masjid yang menghidupkan ruh umat. Masjid yang melahirkan kesadaran bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi sistem nilai yang mengatur kehidupan. Masjid yang mendidik jamaahnya menjadi manusia beriman sekaligus manusia berperan. Masjid Kebangkitan bukan hanya ramai oleh jamaah shalat, tetapi juga hidup oleh aktivitas pembinaan. Di dalamnya tumbuh literasi keislaman dan kebangsaan. Di dalamnya lahir kader pemimpin yang berintegritas. Di dalamnya dirajut ukhuwah sosial dan ekonomi. Di dalamnya umat belajar berdiri di atas kaki sendiri. Masjid Kebangkitan harus menjadi pusat penguatan ekonomi umat. Dari masjid lahir kesadaran untuk saling menguatkan dalam muamalah, saling membeli, saling mendukung usaha, membangun ekosistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Masjid bukan anti dunia, tetapi mengarahkan dunia agar tunduk pada nilai ketauhidan dan kemaslahatan. Masjid Kebangkitan juga harus menjadi pusat advokasi keadilan. Masjid tidak boleh diam ketika ketidakadilan merajalela. Masjid harus menjadi suara moral yang menegur kekuasaan, membela yang lemah, dan menjaga amanah bumi. Dakwah tidak hanya di mimbar, tetapi hadir dalam keberpihakan nyata. Masjid Kebangkitan adalah tempat lahirnya manusia-manusia merdeka. Merdeka dari ketergantungan. Merdeka dari ketakutan. Merdeka dari penjajahan ekonomi dan budaya. Merdeka karena iman. Kebangkitan umat tidak akan lahir dari kekuasaan politik yang kosong nilai. Tidak akan lahir dari pertumbuhan ekonomi yang timpang. Tidak akan lahir dari pembangunan fisik tanpa ruh. Kebangkitan umat hanya akan lahir dari kesadaran kolektif yang tumbuh dari pusat nilai. Dan pusat nilai itu adalah masjid. Dari masjid, iman ditanamkan.                      Dari masjid, ilmu disebarkan.                       Dari masjid, kepemimpinan dibentuk.                           ODari masjid, peradaban dibangun. Maka saatnya masjid tidak lagi berdiri sebagai simbol kesalehan individual semata, tetapi sebagai pusat gerakan perubahan. Gerakan yang tenang namun mengakar. Gerakan yang sunyi namun menggetarkan sejarah. Gerakan yang dimulai dari sujud, lalu menjelma menjadi peradaban. Masjid Kebangkitan.              Dari iman menuju peran.      Dari ibadah menuju peradaban.                        Dari masjid menuju kebangkitan umat. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Titipkan Sepenuhnya Urusan Kita kepada Allah SWT

Titipkan Sepenuhnya Urusan Kita kepada Allah SWT Manusia sering kali merasa kuat saat rencana berjalan mulus, merasa cerdas ketika strategi berhasil, dan merasa berdaya ketika target tercapai. Namun pada hakikatnya, semua itu hanyalah selimut tipis yang menutupi satu kebenaran besar: manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Sedikit saja Allah menarik pertolongan-Nya, maka seluruh perhitungan runtuh, seluruh daya menjadi tak berarti. Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan sikap menitipkan sepenuhnya urusan kepada Allah SWT. Bukan setengah-setengah, bukan sambil menggenggam kendali seolah kita paling tahu, melainkan penyerahan total seorang hamba yang paham posisi. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa tawajjuhat pagi dan sore—doa yang jika direnungi, akan merontokkan kesombongan paling halus dalam diri manusia: Yaa hayyu yaa qayyuum bi rahmatika astaghiitsu, ashlih liy sya’niy kullahu wa laa takilniy ilaa nafsiy tharfata ‘ain. Doa ini bukan hanya permohonan pertolongan, tetapi pengakuan paling jujur: “Ya Allah, aku tidak sanggup mengurus hidupku sendiri.” Bahkan Nabi yang maksum pun meminta agar tidak diserahkan kepada dirinya walau sekejap mata. Lalu siapa kita, yang penuh salah dan lalai, berani merasa cukup dengan kemampuan sendiri? Inilah puncak tauhid dalam doa: menyadari bahwa semua sebab tidak memiliki daya jika Allah tidak menghendaki. Jabatan, ilmu, jaringan, harta, dan pengalaman hanyalah alat. Yang menghidupkan alat itu adalah izin Allah. Doa adalah Adab, Bukan Tuntutan Masalahnya, banyak orang berdoa dengan lisan tauhid, tetapi batin penuh tuntutan. Doa berubah dari munajat menjadi daftar permintaan. Dari kerendahan menjadi seolah-olah negosiasi. Bahkan tidak jarang, doa diucapkan dengan nada memaksa, suara meninggi, dan sikap batin yang seakan “menyuruh” Allah. Padahal, sejak kapan seorang hamba memerintah Rabb-nya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik umatnya bahwa doa adalah pengakuan kehambaan, bukan demonstrasi keinginan. Maka Al-Qur’an pun turun mengajarkan adab yang sangat halus: “Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam doamu dan jangan pula terlalu merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya.” (QS. al-Isra’: 110) Ayat ini bukan semata mengatur volume suara, tetapi mencerminkan sikap jiwa. Tidak meledak-ledak, tidak pula dingin dan tanpa rasa. Ada ketenangan, ada adab, ada kesadaran bahwa kita sedang berbicara dengan Dzat Yang Maha Mendengar, bukan dengan sesama makhluk yang harus diteriaki. Kisah Arab Badui yang berteriak meminta unta dan anak menjadi pelajaran penting: kasar dalam doa menandakan miskinnya adab, bukan kuatnya iman. Sebab iman yang dalam selalu melahirkan kelembutan dan ketundukan. Ujian Terberat: Menerima Ketetapan Allah Namun kepasrahan sejati tidak berhenti pada cara berdoa. Ia diuji setelah doa selesai. Ketika hasil datang tidak seperti yang diminta. Ketika harapan patah. Ketika rencana gagal. Di sinilah banyak orang jatuh. Lisan masih berdoa, tetapi hati mulai menggugat. “Kenapa bukan ini?” “Mengapa dia yang dapat?” “Bukankah aku sudah berusaha dan berdoa?” Padahal Allah sudah menegaskan: “Tidak patut bagi seorang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada pilihan lain tentang urusan itu.” (QS. al-Ahzab: 36) Ayat ini memotong akar protes dalam iman. Seorang mukmin boleh berharap, boleh meminta, boleh menangis dalam doa. Tetapi ketika keputusan Allah turun, tugas iman adalah ridha, bukan debat batin. Ikhlas bukan berarti tidak merasakan sedih. Ikhlas adalah tidak menuduh Allah di balik kesedihan. Husnuzan bukan berarti selalu tersenyum. Husnuzan adalah tetap percaya bahwa pilihan Allah lebih tahu masa depan kita daripada keinginan kita sendiri. Ketulusan yang Membebaskan Jiwa Para ulama Salaf memahami ini dengan sangat dalam. Mereka tidak sibuk membandingkan takdirnya dengan takdir orang lain. Mereka menjaga hati dari iri, dari keluh, dari rasa “kurang adil”. Perkataan yang dinukil dari putra Ibnu Mas’ud menggambarkan kebersihan batin seorang mukmin sejati: Ibadahnya tidak tercemar oleh riya Hatinya tidak dikendalikan oleh apa yang dilihat Zikirnya tidak dikalahkan oleh hiruk-pikuk dunia Jiwanya tidak sedih karena nikmat orang lain Inilah manusia yang hidupnya lapang. Bukan karena semua keinginannya terpenuhi, tetapi karena hatinya tidak disibukkan oleh perlawanan terhadap takdir. Menitipkan Urusan adalah Jalan Ketenangan Ketika urusan benar-benar dititipkan kepada Allah: Hati menjadi ringan Pikiran lebih jernih Langkah lebih tenang Ikhtiar tetap maksimal, tetapi tanpa kecemasan berlebihan Seorang mukmin tetap bekerja keras, tetap berjuang, tetap menyusun rencana. Namun hatinya tidak menggantung pada hasil, melainkan pada Dzat Yang Maha Mengatur hasil. Inilah hidup yang diberkahi: bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang tidak dikuasai oleh keluhan. Bukan hidup tanpa luka, tetapi hidup yang tidak kehilangan makna. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tahu diri, tahu adab, dan tahu kepada siapa seluruh urusan seharusnya dititipkan. Wallahu a’lam bish-shawab. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Gaji Guru Muhammadiyah, PR Lama Persyarikatan yang Belum Tuntas

Gaji Guru Muhammadiyah, PR Lama Persyarikatan yang Belum Tuntas SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Persoalan kesejahteraan guru Muhammadiyah kembali mengemuka dan menjadi sorotan serius dalam Resepsi Milad ke-113 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. H. Ibnu Hasan, M.Si., secara terbuka mengungkapkan masih rendahnya honor gaji guru di sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), bahkan ada yang hanya menerima sekitar Rp 500.000 per bulan, jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Ibnu Hasan saat memberikan tausiyah pada resepsi Milad ke-113 PDM Kota Semarang, Selasa malam (18/11/2025). Ia menegaskan bahwa kondisi ini merupakan pekerjaan rumah lama persyarikatan yang belum terselesaikan dan berpotensi menghambat upaya Muhammadiyah dalam meningkatkan mutu pendidikan. “Pendidikan di Muhammadiyah belum sepenuhnya sejahtera. Masih ada guru yang digaji lima ratus ribu rupiah per bulan,” ungkapnya di hadapan jajaran pimpinan persyarikatan dan pengelola AUM. Menurutnya, ketimpangan kesejahteraan tersebut tidak sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada pembentukan khairu ummah. Ia menambahkan, kondisi honor guru yang jauh dari kata layak merupakan tantangan serius bagi PDM dan AUM di Jawa Tengah. “Bagaimana kita berbicara kualitas pendidikan, bagaimana mengajak berpikir kualitas, kalau gajinya masih lima ratus ribu rupiah? Dan ini masih banyak terjadi di Jawa Tengah,” tegasnya. Dorong Langkah Strategis dan Kolektif Untuk menjawab persoalan tersebut, Dr. Ibnu Hasan mendorong persyarikatan agar mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki, termasuk memperkuat peran Lazismu sebagai instrumen filantropi Muhammadiyah dalam membantu peningkatan kesejahteraan guru, sehingga honor yang diterima setidaknya mendekati atau setara UMR. Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan basis organisasi di tingkat cabang dan ranting. AUM yang telah mandiri dan maju, seperti perguruan tinggi dan rumah sakit besar, menurutnya memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk membina cabang dan ranting di sekitarnya agar ikut tumbuh dan berdaya. “Kalau kampus sudah megah, rumah sakit sudah megah, maka PR berikutnya adalah membina cabang dan ranting. Di sanalah Muhammadiyah sesungguhnya,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada akar rumput dan basis masjid. Penyeimbang dalam Milad ke-113 PDM Kota Semarang Isu kesejahteraan guru yang diangkat PWM Jawa Tengah ini menjadi penyeimbang reflektif dalam perayaan Milad ke-113 PDM Kota Semarang yang mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Tema tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya dimaknai dalam skala makro, tetapi juga harus dirasakan oleh para pelaku utama pendidikan Muhammadiyah. Sebelumnya, Ketua PDM Kota Semarang, Fahrur Razi, dalam sambutannya menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus menyejahterakan bangsa melalui penguatan dan ekspansi di bidang pendidikan serta pelayanan sosial. Seluruh ikhtiar tersebut dijalankan dengan semangat Rahmatan Lil ‘Alamin sebagai landasan gerakan Muhammadiyah. Resepsi Milad ke-113 ini juga menjadi ajang konsolidasi seluruh elemen persyarikatan Muhammadiyah di Kota Semarang. PWM Jawa Tengah memberikan apresiasi atas capaian dan program-program PDM Kota Semarang. Dr. Ibnu Hasan secara khusus menyebut PDM Kota Semarang sebagai salah satu PDM yang membanggakan dan menginspirasi di Jawa Tengah, karena dinilai mampu menjalankan program secara konsisten dan berdampak nyata bagi umat dan masyarakat luas. Dikutip dari : https://muhammadiyahsemarangkota.org/kabar-persyarikatan/pr-persyarikatan-di-milad-ke-113-naikkan-gaji-guru-muhammadiyah-setara-umr/

Scroll to Top