Antarkita

Author name: Suwatno Ibnu Sudihardjo

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon Solusi Ketahanan Pangan dan Kepedulian Lingkungan Mewujudkan anak yang sehat dalam masa pertumbuhan membutuhkan pemenuhan gizi yang seimbang, terutama asupan protein yang sesuai dengan kebutuhan usia. Dalam konteks penanganan stunting, ketersediaan makanan bergizi bukan sekadar anjuran, tetapi keharusan yang harus diupayakan secara nyata hingga ke tingkat keluarga. Protein hewani menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Salah satu solusi sederhana, murah, dan mudah diterapkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga adalah melalui budidaya ikan lele. Inovasi LEGON (Lele Galon) hadir dengan memanfaatkan galon bekas air minum yang selama ini sering berakhir sebagai limbah. Alih-alih dibuang, galon bekas dapat diolah menjadi media budidaya ikan lele yang praktis, efisien, dan ramah lingkungan. Metode ini tidak membutuhkan lahan luas, cukup memanfaatkan halaman rumah, teras, atau ruang sempit yang tersedia. Budidaya lele menggunakan galon air mineral memiliki sejumlah manfaat yang signifikan. Dari sisi biaya, penggunaan galon bekas menjadikan modal awal sangat terjangkau dibandingkan pembangunan kolam atau penggunaan tangki besar. Galon mudah diperoleh, bahkan dapat dimanfaatkan dari limbah rumah tangga yang tidak terpakai. Selain itu, ukurannya yang relatif kecil membuat galon fleksibel dan mudah dipindahkan, sehingga penataan lokasi budidaya dapat disesuaikan dengan kondisi rumah. Metode LEGON juga cocok diterapkan dalam skala kecil, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun sebagai hobi produktif. Bagi pemula yang ingin belajar budidaya ikan tanpa risiko besar, galon menjadi media yang sederhana dan mudah dikontrol. Kualitas air seperti pH, suhu, dan tingkat oksigen dapat dipantau lebih teliti karena volume air yang terbatas. Pengelolaan pakan dan nutrisi pun menjadi lebih terukur, sehingga pertumbuhan ikan lele dapat berlangsung optimal. Namun demikian, budidaya lele dalam galon juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Kapasitas galon yang terbatas membatasi jumlah ikan yang dapat dipelihara. Kepadatan tebar harus diatur dengan baik agar ikan tidak stres dan tetap tumbuh sehat. Selain itu, galon lebih rentan terhadap perubahan suhu dibandingkan kolam besar, sehingga penempatan dan perlindungan dari paparan panas atau hujan ekstrem menjadi hal penting. Pemeliharaan rutin menjadi kunci keberhasilan LEGON. Pergantian air secara berkala, pembersihan galon, serta pemantauan kesehatan ikan harus dilakukan secara konsisten. Ketersediaan nutrisi yang cukup dan seimbang juga wajib diperhatikan, karena pakan yang tidak tepat atau berlebihan dapat menurunkan kualitas air dan menghambat pertumbuhan ikan. Dalam beberapa waktu terakhir, budidaya lele dalam galon menjadi tren dan viral di media sosial. Metode ini menarik perhatian banyak orang karena dinilai praktis, hemat tempat, dan cocok diterapkan di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas. Dengan modal galon bekas dan peralatan sederhana, masyarakat dapat memulai budidaya lele sebagai sumber protein keluarga maupun usaha sampingan. Meski terlihat mudah, kegagalan dalam ternak lele di galon sering dialami pemula, terutama akibat air yang cepat bau. Akumulasi sisa pakan dan kotoran dalam volume air yang terbatas menyebabkan peningkatan kadar amonia secara drastis, sehingga menimbulkan aroma tidak sedap dan membahayakan kesehatan ikan. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta menegaskan bahwa pengelolaan limbah organik dan sirkulasi oksigen merupakan kunci keberhasilan ekosistem akuatik skala kecil. Berdasarkan standar operasional prosedur budidaya ikan air tawar yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, terdapat beberapa solusi efektif untuk mengatasi permasalahan air bau pada ternak lele di galon. Penyedotan kotoran dasar wadah atau sistem sipon secara rutin setiap dua hari sekali menjadi langkah utama untuk mencegah penumpukan amonia. Pemberian probiotik secara berkala juga membantu mempercepat penguraian limbah organik dan menekan bakteri patogen penyebab bau. Pengaturan kepadatan tebar ikan sangat dianjurkan, dengan jumlah ideal maksimal 15 ekor bibit per galon. Manajemen pakan harus dilakukan secara terukur, diberikan sedikit demi sedikit dan dihentikan ketika ikan sudah kenyang. Untuk membantu menyerap bau dan zat berbahaya, arang kayu atau batu zeolit dapat ditempatkan di dasar galon sebagai filter alami. Penggantian air secara parsial sekitar 30 persen volume air juga disarankan agar kualitas air tetap stabil dan ikan tidak mengalami stres. Selain itu, pemanfaatan tanaman air seperti kangkung dapat berfungsi sebagai filter biologis alami. Akar tanaman membantu menyerap nitrat dari sisa kotoran ikan sekaligus menjaga kadar oksigen terlarut dalam air. Dengan pengelolaan yang tepat, lingkungan budidaya tetap bersih, ikan tumbuh sehat, dan bau tidak sedap dapat dihindari. LEGON bukan sekadar metode budidaya ikan, tetapi solusi terpadu yang menjawab persoalan gizi, ketahanan pangan keluarga, kepedulian lingkungan, dan peluang ekonomi. Dari galon bekas, lahir sumber protein sehat yang terjangkau, sekaligus peluang usaha yang menjanjikan bila dikelola dengan baik dan berkelanjutan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah:

Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah: Wakaf Berkemajuan untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa** Yogyakarta, 6 Januari 2026 — Muhammadiyah menegaskan komitmennya dalam membangun wakaf berkemajuan yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat dan pembangunan bangsa. Komitmen tersebut disampaikan oleh Dr. Amirsyah Tambunan, CWC, Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam artikel bertajuk “Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah” yang dipublikasikan oleh Suara Muhammadiyah. Menurut Dr. Amirsyah, wakaf tidak boleh berhenti pada aspek penyerahan harta semata, tetapi harus memastikan manfaatnya dirasakan secara nyata dan berkelanjutan. “Wakaf berkemajuan adalah wakaf yang produktif dan berkelanjutan. Jika wakaf belum memberi manfaat, maka seluruh pemangku kepentingan bertanggung jawab untuk mendayagunakannya,” tegasnya. Nazhir Profesional sebagai Pilar Utama Ia menekankan bahwa kunci utama keberhasilan wakaf terletak pada profesionalisme nazhir. Nazhir harus memiliki kompetensi substantif berupa penguasaan ilmu perwakafan serta kompetensi metodologis berupa kemampuan mengelola wakaf dengan skema pembiayaan modern dan teknologi tepat guna. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, nazhir adalah pihak yang menerima, mengelola, dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya. Karena itu, pengelolaan wakaf harus menjamin pokok harta tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir sebagai amal jariyah bagi kepentingan ibadah dan kesejahteraan umum. Muhammadiyah, lanjutnya, memilih nazhir kelembagaan sebagai strategi untuk memastikan wakaf dikelola secara transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Peran Strategis LKS-PWU Selain nazhir, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) memegang peran penting dalam pendayagunaan wakaf uang. LKS-PWU berfungsi sebagai perpanjangan tangan nazhir dalam menghimpun dan menginvestasikan dana wakaf secara amanah dan sesuai prinsip syariah. MPW PP Muhammadiyah telah menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sejumlah bank syariah, di antaranya BTPN Syariah dan Bukopin Syariah, untuk mengembangkan skema cash wakaf linked deposit. Kerja sama ini bertujuan mempercepat penghimpunan dan pemanfaatan wakaf uang secara produktif. Wakaf sebagai Instrumen Pembangunan Artikel tersebut juga menyoroti pentingnya mengubah paradigma wakaf yang selama ini identik dengan tanah masjid, makam, atau lembaga pendidikan. Dalam sejarah peradaban Islam, wakaf telah berperan besar dalam pembiayaan rumah sakit, jalan, jembatan, pasar, dan sistem air bersih, sebagaimana terjadi pada masa kekhalifahan dan era Ottoman. Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Nur Rianto Al Arif, dalam wawancara dengan CNBC (5/1/2026), menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar, baik dari sisi luas tanah wakaf maupun potensi wakaf uang yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Namun, potensi tersebut belum tergarap optimal karena pengelolaan yang masih tradisional dan terfragmentasi. Program Nasional WakafMu 2026–2027 Melalui Rapat Koordinasi Nasional MPW PP Muhammadiyah 2025, Muhammadiyah menetapkan Program Nasional WakafMu 2026–2027, yang mencakup: Penguatan kelembagaan dan SDM kenazhiran, termasuk pembentukan Task Force Nasional dan penyusunan Blueprint Sistem Kenazhiran Nasional Muhammadiyah. Pelatihan dan sertifikasi nasional bagi 500 nazhir di 10 wilayah. Pembentukan Forum Nazhir Muhammadiyah Nasional (Fornazirmu). Penerapan sistem digital nasional untuk keuangan, database aset, dan pelaporan wakaf. Pendayagunaan Wakaf Produktif Program prioritas wakaf produktif nasional meliputi empat bidang utama: Pendidikan berbasis wakaf, seperti Pesantren Eco-Saintek dan Pusdiklat Tapak Suci. Ekonomi produktif, termasuk Gedung Filantropi Muhammadiyah dan Desa Wisata Berbasis Wakaf. Green Waqf, seperti Eco-Masjid Muhammadiyah dan Gerakan Wakaf Pohon Nasional. Pertanian wakaf, melalui Integrated Smart Farming dan Greenhouse Smart Farming. Sebagai penguat, Muhammadiyah juga mengembangkan Marketplace Wakaf Nasional (wakaflink.id) sebagai platform digital fundraising, pelaporan, dan transparansi. Landasan Regulasi Wakaf Muhammadiyah Persyarikatan Muhammadiyah telah memberlakukan Pedoman Wakaf Nomor 3 Tahun 2025, yang membuka ruang wakaf dalam berbagai bentuk aset bergerak, termasuk saham, surat berharga, hak kekayaan intelektual, hingga hak sewa dan hak pakai. Regulasi ini menunjukkan bahwa wakaf Muhammadiyah memiliki prospek luas dan adaptif terhadap perkembangan zaman. “Ini adalah gambaran masa depan wakaf Muhammadiyah yang berkemajuan, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” pungkas Dr. Amirsyah. Sumber: Artikel “Rancang Bangun Masa Depan Wakaf Muhammadiyah” SuaraMuhammadiyah.id, 6 Januari 2026 Penulis: Dr. Amirsyah Tambunan, CWC  

Kabarkita, Ruang Kita

MUHAMMADIYAH JATENG GELAR BIMTEK SIM SATUMU

MUHAMMADIYAH JATENG GELAR BIMTEK SIM SATUMU Percepat Transformasi Digital Persyarikatan** Surakarta, 6 Januari 2026 — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) SIM SatuMu, sebuah upaya strategis mempercepat transformasi digital organisasi. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Meeting Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini dilaksanakan pada Minggu, 4 Januari 2026, dan dihadiri oleh para peserta dari berbagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Tengah serta pengurus Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR). SIM SatuMu merupakan platform digital berbasis website terpadu yang menjadi bagian dari Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM) — sistem satu data yang mengintegrasikan berbagai layanan organisasi, mulai dari pencatatan data keanggotaan, iuran, hingga layanan administratif lainnya untuk memperkokoh tata kelola persyarikatan secara modern dan efisien. Acara dibuka dengan sambutan dari Prof. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., Pimpinan UMS, yang menyampaikan dukungan penuh institusi pendidikan ini terhadap program transformasi digital Muhammadiyah melalui platform SatuMu. Menurutnya, UMS sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki komitmen kuat dalam mendukung kegiatan persyarikatan yang inovatif dan berkelanjutan. Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., bersama Wakil Ketua PWM, Drs. H. Wahyudi, M.Pd., hadir dan memberikan arahan strategis dalam pembukaan kegiatan. Dalam sambutannya, Ketua PWM menegaskan pentingnya digitalisasi organisasi berdasarkan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Kota Surakarta, serta peran SatuMu dalam menjawab tantangan pengelolaan organisasi yang terus berkembang tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai Muhammadiyah. Kegiatan diisi dengan sesi edukatif, termasuk pemaparan tentang sistem DOM sebagai ruang kolaboratif yang memungkinkan pengelolaan unsur dan entitas organisasi secara menyeluruh di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Kegiatan ini juga menghadirkan mitra strategis dari dunia perbankan. Herry Hykmanto, Direktur Bank Danamon Syariah dan Sustainability Finance, menyatakan kesiapan institusinya mendukung sistem keuangan Muhammadiyah berbasis digital. Ia menambahkan bahwa Bank Danamon Syariah menyediakan layanan berbasis teknologi dengan akses mudah tanpa biaya tambahan, serta didukung oleh community officer yang siap membantu peserta bila mengalami kesulitan teknis. Untuk memperkuat pemahaman mengenai ecosystem layanan digital, kegiatan dibekali oleh keynote speech dari Ketua Majelis Pustaka dan Informasi, Prof. Dr. Muchlas, M.T., yang menjelaskan sembilan pilar transformasi digital Muhammadiyah. Pilar-pilar tersebut meliputi: Identitas digital, Digitalisasi proses bisnis organisasi, Keamanan siber, Keterbukaan dan kemudahan akses, Partisipasi warga persyarikatan dan masyarakat luas, Keberlanjutan, Inklusivitas, Dashboard dinamis berbasis data real-time, Pengambilan keputusan berbasis data dan kecerdasan buatan (AI) Prof. Muchlas menekankan bahwa transformasi digital tidak hanya sekadar adopsi teknologi, tetapi juga perubahan budaya organisasi yang adaptif dan responsif terhadap dinamika zaman. Selain sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan praktek langsung penginputan data DOM, simulasi alur kerja pendaftaran E-KTAM, dan sesi pembinaan lanjutan bersama mitra Bank Danamon Syariah. Rangkaian kegiatan ini dimaksudkan untuk memastikan implementasi SatuMu dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh elemen persyarikatan. (Dikutip dari suaramuhammadiyah.id)

Kabarkita, Ruang Kita

Telah Hadir Layanan LaundryMu: Ikhtiar Kemandirian dari Panti Asuhan Muhammadiyah Putri

Telah Hadir Layanan LaundryMu: Ikhtiar Kemandirian dari Panti Asuhan Muhammadiyah Putri Sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian ekonomi dan keberlanjutan layanan sosial, Panti Asuhan Muhammadiyah Putri Tanjung Banyumas menghadirkan sebuah unit usaha baru bertajuk LaundryMu. Layanan laundry ini tidak hanya hadir sebagai solusi kebutuhan masyarakat, tetapi juga sebagai wujud nyata pemberdayaan amal usaha berbasis nilai-nilai Islam dan gerakan filantropi. Lahirnya LaundryMu berawal dari langkah kecil namun penuh harapan. Bu Hartini, yang mewakili Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) PDA Banyumas sekaligus pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah Putri Tanjung, mengikuti Pelatihan Laundry yang diselenggarakan oleh BAZNAS. Pelatihan ini menjadi pintu masuk pengetahuan, keterampilan, sekaligus inspirasi untuk mengembangkan unit usaha produktif di lingkungan panti asuhan. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, pengurus mengisi dan mengajukan proposal bantuan melalui sistem BAZNAS. Alhamdulillah, ikhtiar tersebut membuahkan hasil. BAZNAS memberikan dukungan modal usaha yang cukup lengkap, mulai dari branding dan penataan ruangan, mesin cuci, mesin pengering, setrika uap, hingga perlengkapan operasional seperti deterjen. Bantuan ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya LaundryMu sebagai unit usaha yang profesional dan berdaya saing. Setelah bantuan diterima, pengurus membentuk tim pengelola LaundryMu dan melakukan musyawarah terkait lokasi operasional. Dengan pertimbangan akses, visibilitas, dan kemudahan layanan, lokasi Panti Asuhan Muhammadiyah Putri dinilai kurang ruangan .Oleh karena itu, diputuskan bahwa operasional LaundryMu berlokasi di Panti Asuhan Muhammadiyah Putra, sementara kepemilikan dan pengelolaan usaha tetap berada di bawah Panti Asuhan Muhammadiyah Putri. LaundryMu mulai beroperasi pada bulan November 2025, beralamat di Panti Asuhan Muhammadiyah Putra, Jl. Dr. Angka No. 41, Purwokerto. Mengusung tagline “Bersih, Suci, Wangi”, LaundryMu menerapkan konsep laundry syariah. Proses pencucian dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kesucian: menggunakan dua tabung terpisah, pakaian dipilah sesuai jenisnya, dibilas terlebih dahulu dengan air sebelum diberi deterjen, lalu diproses hingga bersih dan wangi. Prinsip ini menjadi nilai lebih yang membedakan LaundryMu dari layanan laundry pada umumnya. LaundryMu melayani area Purwokerto dan sekitarnya, dengan tarif yang terjangkau, mulai dari Rp4.000 per kilogram. Kehadiran LaundryMu diharapkan tidak hanya membantu kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber pemasukan berkelanjutan bagi panti asuhan, sekaligus sarana pendidikan kemandirian dan etos kerja bagi lingkungan panti. Untuk pemesanan dan informasi layanan, masyarakat dapat menghubungi 0814 6672 5728. LaundryMu adalah bukti bahwa kolaborasi antara lembaga sosial, filantropi, dan semangat kemandirian dapat melahirkan solusi nyata—bersih prosesnya, suci nilainya, dan wangi manfaatnya bagi sesama.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu:

Semangat Awal Tahun 2026, Ketua PDM Banyumas Ajak Gerakan Bedukmu: Bela Beli Produk Muhammadiyah sebagai Ikhtiar Strategis Menguatkan Ekonomi Umat dan Membela Martabat Bangsa Banyumas, Januari 2026 | Antarkita Memasuki awal tahun 2026, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas meneguhkan kembali komitmen penguatan ekonomi umat melalui Gerakan Bedukmu (Bela dan Dukung Usaha Muhammadiyah). Seruan ini disampaikan langsung oleh Ketua PDM Banyumas, Drs. H.M. Djohar, M.Pd., sebagai respons atas situasi ekonomi nasional yang tengah menghadapi tantangan serius, terutama menurunnya daya beli masyarakat. Berbagai kajian ekonomi nasional menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta melemahnya pendapatan riil masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor usaha rakyat dan UMKM, termasuk usaha-usaha milik warga Muhammadiyah di daerah. Jika tidak direspons secara kolektif, penurunan daya beli berpotensi melemahkan sendi-sendi ekonomi umat dan memperlebar ketimpangan. Dalam konteks inilah Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, dipanggil untuk tidak hanya hadir dalam dakwah sosial dan pendidikan, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi jamaah. Bela Beli sebagai Pembelaan Martabat Bangsa Literasi tentang bela beli produk bangsa dan produk umat telah lama menjadi bagian dari wacana ideologis di lingkungan Persyarikatan. Dalam kajian yang dimuat oleh Suara ‘Aisyiyah, ditegaskan bahwa gerakan Bela Beli Indonesia bukan sekadar pilihan konsumsi, melainkan sikap ideologis dalam membela martabat bangsa. Bela beli dipahami sebagai tindakan sadar membeli produk anak bangsa bukan karena faktor harga atau kualitas semata, melainkan karena keberpihakan pada kemandirian nasional. Bangsa yang besar dan bermartabat adalah bangsa yang menghargai dan menghidupkan karya anak bangsanya sendiri. Ketergantungan berlebihan pada produk luar, tanpa keberpihakan pada produk lokal, hanya akan melanggengkan ketimpangan ekonomi dan ketergantungan struktural. Dalam perspektif ini, aktivitas konsumsi tidak lagi bersifat netral, tetapi memiliki dimensi moral, ideologis, dan kebangsaan. Ekonomi Sirkular Muhammadiyah: Dari Produksi hingga Konsumsi Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, yang secara konsisten mendorong peningkatan jiwa bisnis warga Muhammadiyah dan pembangunan ekonomi sirkular berbasis persyarikatan. Dalam berbagai forum resmi Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—tidak cukup hanya didorong untuk berproduksi dan berwirausaha, tetapi juga harus membangun kesadaran kolektif dalam pola konsumsi. Menurutnya, salah satu kelemahan ekonomi umat selama ini adalah terjadinya kebocoran ekonomi: umat berproduksi, tetapi tidak saling membeli; umat berdagang, tetapi konsumennya justru berasal dari luar komunitas. Karena itu, ia mendorong agar warga Muhammadiyah memprioritaskan pembelian produk sesama warga sebagai bagian dari strategi membangun kekuatan ekonomi internal. Ekonomi sirkular Muhammadiyah bukanlah sikap eksklusif, melainkan ikhtiar rasional dan bermartabat agar nilai ekonomi yang dihasilkan umat dapat berputar, tumbuh, dan menguat di lingkungan sendiri sebelum keluar ke pasar yang lebih luas. Gerakan Bedukmu: Ikhtiar Kolektif PDM Banyumas Berangkat dari literasi dan pemikiran tersebut, Ketua PDM Banyumas Drs. H.M. Djohar, M.Pd. mengajak seluruh warga Muhammadiyah di Banyumas untuk menjadikan Gerakan Bedukmu sebagai budaya ekonomi bersama, khususnya di awal tahun 2026. “Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, meningkatkan kemampuan ekonomi umat tidak bisa dilakukan secara individual semata. Diperlukan kesadaran kolektif dan keberpihakan yang nyata. Salah satu ikhtiar paling konkret adalah mengutamakan membeli kebutuhan ekonomi dari usaha-usaha milik warga Muhammadiyah,” tegas Djohar. Menurutnya, Bedukmu adalah langkah strategis untuk membangun sirkulasi ekonomi internal Muhammadiyah, mulai dari kebutuhan pangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, hingga usaha kreatif. Ketika warga Muhammadiyah secara sadar menjadi konsumen bagi usaha sesama warga, maka kekuatan ekonomi jamaah akan tumbuh secara berkelanjutan. Djohar menegaskan bahwa bela beli produk Muhammadiyah merupakan bagian dari bela beli produk Muslim dan produk anak bangsa. “Kita membeli produk Muslim bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tetapi karena itu milik anak bangsa. Bela beli adalah sikap jelas pembelaan—membela martabat dan kejayaan bangsa Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bela beli bukan tindakan emosional, tetapi pilihan strategis. Bangsa dan umat yang tidak membela produk dan usahanya sendiri akan selamanya menjadi pasar, bukan pelaku utama ekonomi. Menjadikan Bela Beli sebagai Budaya Persyarikatan Dalam konteks Muhammadiyah, Djohar menegaskan bahwa kekuatan persyarikatan tidak hanya diukur dari besarnya amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga dari ketahanan ekonomi warganya. Oleh karena itu, Gerakan Bedukmu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi budaya hidup dalam keseharian warga Muhammadiyah. Ia mengajak seluruh elemen persyarikatan—pimpinan, amal usaha, organisasi otonom, hingga warga di tingkat ranting dan cabang—untuk menjadikan bela beli sebagai bagian dari jihad ekonomi yang bermartabat. “Semangat awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Jika kita ingin Muhammadiyah kuat dan berdaulat, maka usaha warga Muhammadiyah harus hidup. Dan usaha itu hanya akan hidup jika kita sendiri yang membelanya melalui pilihan belanja kita setiap hari,” pungkasnya. Melalui Gerakan Bedukmu, PDM Banyumas berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa keputusan ekonomi sehari-hari adalah bagian dari perjuangan besar membangun kemandirian umat dan menjaga martabat bangsa Indonesia di tengah tantangan zaman. SiS | Antarkita  

ojek online antarkita
Prespektif, Ruang Kita

Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi

Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Banyumas, Awal 2026 Di tengah lanskap ekonomi digital yang semakin dikuasai oleh platform raksasa dengan modal besar dan teknologi kompleks, Antarkita.com memilih untuk mengambil jalan yang berbeda. Jalan yang sederhana, membumi, dan berpihak pada manusia. Jalan yang meyakini bahwa inti dari ekonomi bukanlah algoritma, melainkan relasi, kepercayaan, dan ukhuwah. Antarkita.com diinisiasi oleh Suwatno Ibnu Sudihardjo sebagai ikhtiar kecil namun bernilai sikap besar: menghadirkan layanan transportasi online yang adil, mudah diakses, dan berangkat dari semangat kemandirian serta kedaulatan ekonomi jama’ah. “Kami sadar, Antarkita.com tidak bisa dibandingkan dengan aplikasi raksasa yang ada hari ini. Tapi kami juga yakin, setiap ikhtiar punya ceruk rezekinya masing-masing. Keunggulan Antarkita.com bukan pada teknologi dan modal uang, melainkan pada modal spirit,” ujar Suwatno. Inspirasi Pasar Rasulullah ﷺ: Ekonomi yang Memanusiakan Spirit Antarkita.com terinspirasi dari pasar yang dibangun Rasulullah ﷺ di Madinah. Ketika hijrah, Rasulullah ﷺ mendapati bahwa pasar dikuasai oleh sistem yang sarat riba, monopoli, dan ketidakadilan. Alih-alih melawan dengan kekerasan, Rasulullah ﷺ memilih membangun pasar alternatif—pasar yang bebas pungutan, bebas riba, dan menjunjung kejujuran. Dalam hadis disebutkan: “Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.” (HR. Ibnu Majah) Pasar bagi Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat jual beli, tetapi instrumen kedaulatan umat. Di sanalah martabat manusia dijaga, dan ekonomi ditempatkan sebagai sarana ibadah sosial. Nilai inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Antarkita.com dalam konteks kekinian. Bukan untuk menumbangkan sistem besar, tetapi menghadirkan pilihan yang lebih adil dan manusiawi. Teknologi yang Sederhana, Manusia sebagai Subjek Antarkita.com mengedepankan kesederhanaan teknologi dan kemudahan penggunaan. Platform ini dapat diakses langsung melalui website tanpa harus mengunduh aplikasi. Pengguna cukup memiliki: ponsel yang bisa membuka website, dan aplikasi WhatsApp untuk terhubung dengan operator Antarkita. Pendekatan ini dipilih secara sadar. Di tengah masyarakat yang sangat beragam, tidak semua orang memiliki ponsel dengan spesifikasi tinggi atau ruang penyimpanan besar. Antarkita.com ingin memastikan bahwa teknologi tidak menjadi penghalang rezeki. Dengan dukungan operator berbasis WhatsApp, relasi antara penumpang, driver, dan pengelola tetap terasa hangat, komunikatif, dan manusiawi. Tidak ada jarak algoritma yang dingin, tidak ada sistem yang membungkam suara manusia. “Bagi kami, teknologi hanyalah alat. Manusia tetap subjek utama. Hubungan bisnis adalah hubungan sesama manusia,” tegas Suwatno. Tanpa Potongan, Tanpa Menekan: Ekonomi yang Lebih Adil Antarkita.com hadir dengan sistem tanpa potongan atau biaya yang sangat kompetitif. Model ini dirancang agar: penumpang lebih hemat, driver mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan layak. Di saat banyak platform menerapkan potongan tinggi dan skema insentif yang sering berubah, Antarkita.com memilih konsistensi dan keadilan. Tidak ada algoritma yang menekan, tidak ada target yang memberatkan, dan tidak ada relasi timpang antara platform dan mitra. Driver bukan sekadar “mitra sistem”, tetapi saudara seperjalanan dalam ekosistem ekonomi yang saling menghidupi. Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita Antarkita.com hidup bukan dari iklan besar atau suntikan modal raksasa, melainkan dari partisipasi jama’ah dan kepercayaan komunitas. Platform ini dibangun dengan kesadaran bahwa kemandirian ekonomi tidak lahir dari ketergantungan, tetapi dari keberanian memulai. Antarkita.com mengajak masyarakat—khususnya warga Muhammadiyah dan umat Islam—untuk mulai mengalihkan pilihan: menggunakan jasa transportasi dari ekosistem sendiri, menghidupkan rezeki saudara sendiri, dan membangun perputaran ekonomi yang berdaulat. “Kami ingin membuktikan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari bawah, dari jama’ah, dari kesadaran bersama,” tambah Suwatno. Penutup: Ikhtiar Kecil, Sikap Besar Antarkita.com menyadari keterbatasannya. Namun sebagaimana kisah burung pipit yang membawa setetes air saat Nabi Ibrahim AS dibakar, Antarkita.com tidak sedang menghitung besar-kecil hasil, tetapi menentukan keberpihakan. Allah SWT berfirman: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26) Tugas manusia adalah berikhtiar dengan cara yang benar, adil, dan bermartabat. Adapun hasil, sepenuhnya milik Allah SWT. Dengan kesederhanaan dan kemudahan sebagai prinsip, Antarkita.com melangkah sebagai ikhtiar ekonomi berbasis nilai, membangun kemandirian, kedaulatan, dan ukhuwah di tengah arus besar ekonomi digital. SiS, Antarkita

Kabarkita, Ruang Kita

Menjaga Api Kolaborasi Sekolah: MKKS Sub Rayon 4 Banyumas Menyongsong Estafet Kepemimpinan Baru

Menjaga Api Kolaborasi Sekolah: MKKS Sub Rayon 4 Banyumas Menyongsong Estafet Kepemimpinan Baru Wangon, Banyumas | Antarkita — Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Sub Rayon 4 Kabupaten Banyumas kembali menggelar rapat rutin pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di SMP Negeri 1 Wangon. Sejak pagi, aula sekolah tuan rumah dipenuhi suasana akrab dan hangat yang mempertemukan 25 kepala SMP negeri dan swasta dalam semangat kebersamaan, kolaborasi, dan solidaritas yang telah lama terbangun di lingkungan Sub Rayon 4. Rapat rutin ini membahas sejumlah agenda strategis, antara lain sosialisasi pelaksanaan Try Out TKA ke-2, pembagian buku edukasi anti narkoba, serta agenda lepas sambut kepala sekolah. Namun demikian, perhatian utama forum tertuju pada dua momentum penting: purna tugas Tri Murniati, S.Pd., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, serta mutasi Nur Indri Astuti, S.Pd., Gr. dari SMP IT Sriwijaya. Kedua momen tersebut menghadirkan nuansa haru sekaligus penghormatan atas pengabdian panjang yang telah dicurahkan di dunia pendidikan. Mewakili para kepala sekolah Sub Rayon 4, Drs. Eko Waluyo, Kepala SMP Boarding School Queen Bumi Al-Falah Jatilawang, menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada Tri Murniati, S.Pd. Ia menyebut sosok Bu Tri sebagai figur keibuan yang penuh keteladanan, dengan ketekunan, kesabaran, dan semangat pengabdian yang menginspirasi banyak pihak. Di bawah kepemimpinannya, SMP Muhammadiyah Purwojati—meski berada di antara dua SMP negeri—mampu menorehkan berbagai prestasi dari tingkat kabupaten hingga provinsi, termasuk meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Capaian tersebut dinilai layak menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain di Sub Rayon 4. Ketua MKKS Sub Rayon 4, Soenarko, S.Pd., yang juga Kepala SMP Negeri 1 Wangon, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan menjadikan SMPN 1 Wangon sebagai tuan rumah kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengumumkan bahwa pelaksanaan Try Out TKA ke-2 mengalami penjadwalan ulang dan akan digelar pada 23 Januari 2026 dengan sistem berbasis kertas. Ia juga mengenang kebersamaan bersama Tri Murniati dan Nur Indri Astuti selama aktif di MKKS yang selalu diwarnai kekompakan, kepedulian, serta suasana kekeluargaan, bahkan dalam hal-hal kecil yang menumbuhkan rasa nyaman dalam setiap kegiatan. Pada kesempatan yang sama, Soenarko, S.Pd. juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada Nur Khasbi, S.H.I., M.M., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, dan Juni Satriono, S.T., Kepala SMP IT Sriwijaya, sebagai anggota baru MKKS Sub Rayon 4. Dalam sambutan perpisahannya, Tri Murniati, S.Pd. menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas kebersamaan yang telah terjalin erat selama ini. Ia menggambarkan MKKS SMP Sub Rayon 4 sebagai ruang yang guyub, santai, namun tetap serius, produktif, dan penuh kegembiraan. Meski purna tugas menandai berakhirnya peran formal sebagai kepala sekolah, ia berharap silaturahmi tetap terjaga dan nilai-nilai kebersamaan terus hidup di antara para kepala sekolah. Estafet kepemimpinan pun berlanjut. Nur Khasbi, S.H.I., M.M., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati periode 2025–2029, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan perjuangan dan prestasi yang telah dirintis pendahulunya. Ia menegaskan kesiapan sekolahnya untuk melakukan pengimbasan sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional, sekaligus menjadikan capaian tersebut sebagai tanggung jawab bersama untuk dipertahankan dan ditingkatkan melalui kolaborasi lintas sekolah. Rapat rutin MKKS ini kembali menegaskan peran Sub Rayon 4 sebagai ruang sinergi dan pembelajaran bersama antar pimpinan sekolah. Lebih dari sekadar forum koordinasi, MKKS SMP Sub Rayon 4 menjadi simpul penguat nilai-nilai kepemimpinan, keteladanan, dan keberlanjutan mutu pendidikan. Dari Wangon, semangat itu diteguhkan: bahwa pengabdian boleh berakhir, tetapi jejak inspirasi dan api kolaborasi akan terus menyala, menggerakkan pendidikan Banyumas menuju arah yang lebih berkualitas, berkeadaban, bermartabat, dan berkelanjutan. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Ruang Kita

IJABAH: Amal Usaha PDPM Banyumas yang Membumi dan Memberdayakan

IJABAH: Amal Usaha PDPM Banyumas yang Membumi dan Memberdayakan Purwokerto, Banyumas | Antarkita — Rapat khusus Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Banyumas yang digelar pada Selasa sore, 6 Januari 2026, hingga pukul 21.00 WIB di Café Kupi Angkasa, meneguhkan satu sikap ideologis penting: dakwah tidak cukup hanya disuarakan, tetapi harus dikerjakan secara nyata. Dari forum inilah Ijabah (Inisiasi Jelantah Berkah) ditegaskan bukan sekadar badan usaha, melainkan wujud konkret dakwah ekonomi Islam berkemajuan. Ijabah lahir dari kepedulian PDPM Banyumas terhadap persoalan lingkungan hidup yang kian mengkhawatirkan. Minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang sembarangan terbukti berdampak pada pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas air. Melalui Ijabah, PDPM Banyumas memaknai pengelolaan jelantah sebagai gerakan berjamaah yang melibatkan masyarakat luas, sekaligus menghadirkan solusi keberlanjutan lingkungan yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi umat. Program ini tidak sekadar mengelola limbah, tetapi menghadirkan nilai-nilai Islam dalam sistem produksi dan tata kelola sumber daya. Limbah jelantah diolah menjadi sumber keberkahan dan kemaslahatan, sebagai penegasan bahwa dakwah tidak berhenti di mimbar, melainkan harus hadir dalam kerja nyata yang terorganisasi, produktif, dan berdampak sosial. Ijabah secara resmi diluncurkan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, KH. Drs. M. Djohar AS, M.Pd., dalam kegiatan Jalan Sehat Akbar Warga Muhammadiyah Banyumas di kawasan Menara Pandang Purwokerto, Ahad, 23 November 2025. Peluncuran tersebut menandai Ijabah sebagai ikhtiar ekonomi strategis PDPM Banyumas yang hadir di ruang publik serta memperkuat eksistensi Café Kupi Angkasa dan BMT Cahaya Semesta sebagai unit usaha yang telah lebih dahulu berjalan. Ketua Bidang Ekonomi PDPM Banyumas, Arief Sitegar, menegaskan bahwa Ijabah tidak dimaksudkan semata sebagai aktivitas bisnis. “Ijabah adalah ruang kerja nyata dakwah ekonomi yang membumi dan memberdayakan. Keberhasilannya membutuhkan keterlibatan seluruh komponen persyarikatan agar manfaatnya luas, berorientasi maslahat, dan memperkuat kemandirian ekonomi kader,” ujarnya. Senada dengan itu, Bendahara PDPM Banyumas, Ricky Giantoro, menekankan bahwa keberlanjutan Ijabah sangat bergantung pada kualitas pelayanan, kepercayaan publik, serta pengelolaan keuangan yang tertib dan transparan. “Setiap rupiah harus dapat dipertanggungjawabkan, sehingga manfaatnya kembali kepada organisasi dan umat,” tegasnya. Menurutnya, Ijabah juga menjadi sarana kaderisasi ideologis yang menanamkan etika, integritas, dan akuntabilitas dalam dakwah berkemajuan. Sementara itu, Ketua PDPM Banyumas, Subhan Purno Aji, S.IP., M.A., menegaskan bahwa Ijabah merupakan ruang kaderisasi ekonomi Pemuda Muhammadiyah. Kader dilatih mengelola amanah, membangun disiplin sistem, dan memikul tanggung jawab organisasi agar kemandirian ekonomi dapat menopang dakwah dan gerakan sosial. Dalam pengelolaannya, Ijabah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, strategi pemasaran yang terukur, serta penguatan kemitraan dengan PDM–PDA–PCM–PCA, PCPM, AMM, dan AUM se-Banyumas. Melalui Ijabah, PDPM Banyumas memilih jalan dakwah melalui kerja nyata—membangun ekonomi yang bermoral, berkelanjutan, dan berkeadaban. Dari jelantah yang selama ini terbuang, lahir keberkahan dan harapan baru. Inilah wajah dakwah Islam berkemajuan yang membumi, transformatif, dan berpihak pada kemaslahatan umat. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Berani Melangkah untuk Memulai Implementasi Sikap Kader Muhammadiyah sebagai Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Gerakan

Berani Melangkah untuk Memulai Implementasi Sikap Kader Muhammadiyah sebagai Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Gerakan Banyumas — Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas, H. Latif Muchozin, menyampaikan bahwa keberanian untuk memulai langkah di tengah keterbatasan merupakan sikap ideologis kader Muhammadiyah yang berakar kuat pada sejarah perjuangan persyarikatan. Di awal tahun 2026, JSM Banyumas dengan segala keterbatasannya memulai langkah strategis untuk mewujudkan Perumahan Muhammadiyah Banyumas. Langkah ini bukan sekadar program ekonomi, melainkan manifestasi dari semangat kader Muhammadiyah sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan. “Kami menyadari keterbatasan yang kami miliki. Namun sejarah Muhammadiyah mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah,” ujar H. Latif Muchozin. Meneladani Perjuangan KH. Ahmad Dahlan Langkah JSM Banyumas tersebut terinspirasi dari perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam merintis Muhammadiyah pada tahun 1912. Muhammadiyah didirikan pada masa Indonesia belum merdeka, ketika bangsa ini bahkan belum memiliki negara, kedaulatan politik, maupun sistem ekonomi yang berpihak kepada umat Islam. Muhammadiyah lahir bukan dari kelimpahan fasilitas, tetapi justru dari ketiadaan fasilitas. Dalam berbagai catatan sejarah, KH. Ahmad Dahlan harus menjual sebagian perabot rumah tangganya untuk menggaji para guru dan menghidupkan pendidikan. Upaya pembaruan yang beliau lakukan juga menghadapi tantangan berat, baik dari kekuatan eksternal kolonial maupun resistensi internal dari masyarakat yang belum siap menerima perubahan. Namun dari keterbatasan itulah lahir gerakan Islam modern yang hingga kini menjadi salah satu pilar utama pembangunan bangsa. “Kalau menunggu segalanya siap, Muhammadiyah tidak akan pernah berdiri,” tegas H. Latif Muchozin. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah Dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) ditegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid yang berikhtiar mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Cita-cita ini mencakup seluruh dimensi kehidupan: keimanan, sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Muhammadiyah memandang bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat secara adil dan berkeadaban. Oleh karena itu, membangun kemandirian dan kedaulatan ekonomi umat merupakan bagian integral dari dakwah Muhammadiyah. Kader Muhammadiyah: Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Dalam kerangka ideologis Muhammadiyah, kader bukanlah sekadar pewaris sejarah, tetapi pelaku sejarah. Kader dituntut menjadi: Pelopor, yang berani memulai langkah baru Pelangsung, yang menjaga kesinambungan gerakan Penyempurna, yang menghadirkan pembaruan sesuai tantangan zaman Keputusan JSM Banyumas untuk memulai program perumahan dan ekosistem ekonomi jama’ah di tengah tantangan ekonomi nasional merupakan implementasi nyata dari prinsip tersebut. Dengan nada berseloroh namun sarat makna, H. Latif Muchozin menyampaikan: “Namanya juga pengusaha, ya tugasnya mengusahakan,” ujarnya. “Kalau segalanya sudah siap, itu namanya pewaris, bukan pengusaha,” tambahnya sambil tersenyum. Ikhtiar Ekonomi Jama’ah di Awal 2026 Selain program perumahan, di awal tahun 2026 JSM Banyumas juga meluncurkan platform Antarkita.com, sebuah ekosistem digital yang terintegrasi antara: layanan ojek online, marketplace UMKM, dan portal berita warga Muhammadiyah. Platform ini diharapkan menjadi stimulus kebangkitan ekonomi UMKM warga Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah didorong untuk mulai mengalihkan penggunaan jasa transportasi online ke Antarkita.com—dari kita, oleh kita, dan untuk kita warga Muhammadiyah. Antarkita.com juga berfungsi sebagai marketplace yang menghubungkan pelaku usaha Muhammadiyah dengan warga Muhammadiyah. Diharapkan kebutuhan hidup sehari-hari dapat dipenuhi melalui ekosistem yang berputar di internal jama’ah, sehingga nilai ekonomi tidak keluar dari lingkungan warga Muhammadiyah. Menuju Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Jama’ah Ekosistem yang dibangun melalui Antarkita.com merupakan wujud ikhtiar untuk mandiri dan berdaulat dalam bisnis dan pemenuhan kebutuhan hidup, dengan menjadikan produk dan usaha warga Muhammadiyah sebagai basis utama. Seluruh program ini dijalankan dengan landasan ukhuwah ekonomi, yakni semangat saling menguatkan, saling membeli, dan saling membela produk serta usaha sesama Muslim. Prinsip bela-beli produk saudara menjadi nilai penting dalam membangun ekonomi jama’ah yang berkeadilan dan berkelanjutan. Portal Berita sebagai Media Jama’ah Portal berita di Antarkita.com difungsikan sebagai media komunikasi, sosialisasi, dan promosi warga Muhammadiyah. Di dalamnya memuat informasi: kegiatan sosial dan kemanusiaan, kajian dan dakwah, program donasi, serta promosi bisnis dan UMKM warga Muhammadiyah. Dengan demikian, Antarkita.com tidak hanya menjadi platform ekonomi, tetapi juga ruang komunikasi dan penguatan jama’ah. Penutup Menutup pernyataannya, H. Latif Muchozin menegaskan bahwa langkah JSM Banyumas masih panjang dan penuh tantangan, baik internal maupun eksternal. Namun tantangan tersebut dipahami sebagai bagian dari proses perjuangan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan. “Berani melangkah untuk memulai adalah warisan ideologis Muhammadiyah. Dan kami memilih untuk melanjutkan warisan itu,” pungkasnya. SiS, Antarkita    

Coach Waidi, Prespektif

RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA

RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA Waidi Akbar, MBA. CPC Salah satu kritik yang kerap muncul dalam diskusi lintas iman—khususnya antara Islam dan Kristen—adalah pertanyaan tentang relasi antara kasih Tuhan dan realitas ujian hidup. Dalam sebagian wacana populer, Tuhan yang menguji dipersepsikan sebagai Tuhan yang kurang penuh kasih. Kasih direduksi menjadi kenyamanan, ketenangan, dan penghapusan penderitaan. Jika manusia menderita, maka Tuhan dianggap absen atau gagal menjalankan kasih-Nya. Namun, jika ditelaah lebih dalam—baik secara teologis maupun filosofis—pandangan semacam ini justru mereduksi dua hal sekaligus: makna kasih ilahi dan kedalaman eksistensi manusia. Filsafat eksistensial berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang hidup dalam keterbatasan, kecemasan, dan ketidakpastian. Hidup bukan ruang steril yang bebas dari konflik, melainkan medan pilihan, risiko, dan tanggung jawab. Karena itu, pertanyaan filosofis yang lebih jujur bukanlah “mengapa manusia menderita?”, melainkan “bagaimana manusia memaknai penderitaan itu?” Di titik inilah konsep rahmat yang membentuk menjadi relevan. Rahmat tidak selalu hadir sebagai penghapusan kesulitan, tetapi sebagai daya transformatif yang memungkinkan manusia bertumbuh melalui kesulitan. Rahmat bukan anestesi eksistensial yang mematikan rasa sakit, melainkan energi pembentuk karakter, kesadaran, dan kedewasaan spiritual. Tanpa ujian, rahmat kehilangan fungsi pembentuknya; tanpa rahmat, ujian berubah menjadi kehancuran. Søren Kierkegaard, tokoh utama eksistensialisme religius, menolak iman yang direduksi menjadi sekadar kenyamanan psikologis. Baginya, iman justru hadir di tengah kecemasan dan paradoks hidup. Iman adalah leap of faith—sebuah lompatan eksistensial yang tidak menghapus ketegangan hidup, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup secara otentik di dalamnya. Tanpa kecemasan, iman kehilangan kedalaman; tanpa risiko, iman berubah menjadi kebiasaan kosong. Dalam kerangka ini, rahmat yang membentuk bukan penghalang eksistensi, melainkan syarat bagi iman yang hidup. Martin Heidegger, meski tidak berbicara dalam bahasa teologi, memberikan kontribusi penting melalui konsep Geworfenheit—keterlemparan manusia ke dunia. Manusia tidak memilih lahir di mana, kapan, dan dalam kondisi apa. Namun justru dari keterlemparan itulah muncul panggilan untuk hidup secara otentik. Hidup yang otentik bukan hidup yang paling nyaman, melainkan hidup yang sadar akan keterbatasan dan berani bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Jika diterjemahkan secara teologis, ujian bukanlah penyangkalan kasih Tuhan, melainkan cara Tuhan memanggil manusia untuk menyadari eksistensinya secara penuh. Bahkan Jean-Paul Sartre, eksistensialis sekuler yang menolak konsep Tuhan, mengakui bahwa kebebasan manusia adalah beban yang berat. “Manusia dikutuk untuk bebas,” katanya. Kebebasan berarti tidak ada jalan pintas moral; setiap pilihan menciptakan diri. Dalam konteks ini, rahmat yang membentuk dapat dipahami sebagai orientasi etis yang mencegah kebebasan jatuh ke dalam nihilisme atau hedonisme. Tanpa orientasi nilai, kebebasan berubah menjadi pelarian; dengan rahmat, kebebasan menjadi amanah. Dalam perspektif Islam, gagasan ini menemukan resonansi yang kuat. Al-Qur’an tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian, tetapi menjanjikan makna, arah, dan pertolongan di dalam ujian. Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk diuji—bukan untuk disiksa, melainkan untuk ditumbuhkan. Ujian menjadi medium pendidikan ilahi, tempat iman diuji keasliannya, bukan sekadar diucapkan, tetapi dihidupi. Dengan demikian, rahmat dan ujian bukanlah dua hal yang bertentangan. Ujian adalah wadah, rahmat adalah isinya. Ujian membentuk struktur eksistensi manusia, rahmat memberi daya untuk menjalaninya. Kasih Tuhan tidak diukur dari seberapa sedikit penderitaan yang dialami manusia, melainkan dari seberapa besar kemampuan manusia untuk bertumbuh, bertahan, dan menemukan makna di tengah penderitaan. Iman yang matang bukan iman yang menuntut hidup bebas masalah, melainkan iman yang sanggup berkata: “Di dalam ujian ini pun, Tuhan tetap hadir.” Di sanalah rahmat yang membentuk bekerja—diam, dalam, dan transformatif—menjadikan manusia bukan sekadar selamat, tetapi bermakna.  

Scroll to Top