Biskuit Cahaya, Ikhtiar Nyata Pemberdayaan Ekonomi Muhammadiyah
Muhammadiyah terus membuktikan bahwa dakwah tidak berhenti pada mimbar dan wacana, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata yang menyentuh langsung kebutuhan umat. Salah satu ikhtiar strategis tersebut adalah kehadiran Biskuit Cahaya, produk pangan yang diproduksi oleh Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.
Produksi Biskuit Cahaya menegaskan arah baru dakwah Muhammadiyah di bidang ekonomi—yakni dakwah yang produktif, mandiri, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Melalui sektor industri pangan, Muhammadiyah tidak hanya menciptakan produk berkualitas, tetapi juga membuka ruang distribusi ekonomi yang adil bagi warga dan jamaahnya.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, menyampaikan bahwa kehadiran Biskuit Cahaya merupakan bentuk konkret keterlibatan organisasi dalam penguatan ekonomi umat. Menurutnya, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi nasional, melainkan harus menjadi pelaku yang menghadirkan solusi.
“Produksi Biskuit Cahaya oleh Muhammadiyah merupakan bentuk nyata organisasi untuk mendukung ekonomi umat,” ujar Tafsir, sebagaimana dilansir dari laman resmi PWM Jawa Tengah, Sabtu (11/1/2025).
Lebih jauh, Tafsir mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk ikut mengambil peran dalam gerakan ekonomi ini dengan membeli dan menggunakan produk persyarikatan. Dukungan tersebut bukan semata urusan konsumsi, tetapi bagian dari tanggung jawab kolektif untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat.
“Saya mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk membeli Biskuit Cahaya,” tegasnya.
Ajakan tersebut sejalan dengan semangat bela dan beli produk Muhammadiyah yang selama ini digaungkan sebagai strategi membangun kekuatan ekonomi internal. Dalam konteks ini, Biskuit Cahaya hadir bukan hanya sebagai produk makanan, tetapi sebagai simbol keberpihakan terhadap ekonomi umat dan usaha milik sendiri.
Selain kualitasnya yang baik dan siap bersaing di pasar, Biskuit Cahaya memiliki nilai lebih karena seluruh proses produksinya berada dalam ekosistem usaha Muhammadiyah. Artinya, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak mengalir ke luar, tetapi kembali untuk memperkuat amal usaha, program sosial, dan pemberdayaan warga.
Hal ini sebagaimana diberitakan oleh era-pos.com, yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah memproduksi Biskuit Cahaya sebagai produk unggulan yang disiapkan untuk meramaikan momen Lebaran 2025. Momentum ini dipilih secara strategis, mengingat tingginya kebutuhan pangan dan konsumsi masyarakat saat hari raya, sekaligus membuka peluang pasar yang luas bagi produk Muhammadiyah.
Kehadiran Biskuit Cahaya pada momen Lebaran tidak hanya bertujuan meramaikan pasar, tetapi juga menegaskan bahwa Muhammadiyah siap bersaing secara sehat di sektor industri pangan nasional. Lebih dari itu, langkah ini menunjukkan bahwa organisasi keagamaan mampu mengelola usaha modern tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan keberpihakan pada umat.
Dengan demikian, Biskuit Cahaya merupakan representasi nyata transformasi dakwah Muhammadiyah di bidang ekonomi. Dari dakwah sosial menuju dakwah ekonomi produktif, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari wacana menuju aksi. Setiap keping Biskuit Cahaya menjadi bagian dari perjuangan panjang Muhammadiyah dalam membangun kesejahteraan umat dan bangsa.
SiS, Antarkita