Antarkita

Author name: Suwatno Ibnu Sudihardjo

Info Wisata

Destinasi Unggulan Pokdarwis Kemutug Lor Baturraden, Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor

Destinasi Unggulan Pokdarwis Kemutug Lor Baturraden,Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang tak pernah habis untuk dikagumi. Di kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Baturraden, Kabupaten Banyumas, keindahan itu hadir dalam wujud yang sederhana namun memikat: Curug Pinang dan Embung Wisata Kemutug Lor. Dua destinasi ini menjadi kebanggaan sekaligus unggulan Pokdarwis Kemutug Lor, menghadirkan pengalaman wisata alam yang menyegarkan raga, menenangkan jiwa, dan sarat nilai edukasi. Curug Pinang Baturraden: Air Terjun Ramah Keluarga di Tepi Jalan Tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan hijau, Curug Pinang Baturraden hadir sebagai oase alami yang menenangkan. Air terjun dengan ketinggian sekitar 6–7 meter ini mengalir tenang, jernih, dan dikelilingi vegetasi hijau yang asri. Gemericik air yang jatuh seolah menjadi musik alam yang menyambut setiap pengunjung yang datang. Berbeda dengan kebanyakan curug yang mengharuskan pengunjung berjalan jauh dan melewati jalur terjal, Curug Pinang justru memiliki keunggulan lokasi yang mudah dijangkau. Terletak di Dusun II, Karangsalam, Baturraden, curug ini berada tepat di tepi jalan, menjadikannya destinasi yang ramah untuk semua kalangan, termasuk keluarga dengan anak-anak. Curug Pinang memiliki dua area kolam alami. Bagian yang dangkal aman untuk anak-anak bermain air, sementara bagian yang lebih dalam berada di dekat pancuran air terjun dan biasa dimanfaatkan oleh pengunjung dewasa untuk berenang atau sekadar berendam. Airnya yang sejuk dan tenang menjadikan aktivitas bermain air di sini terasa menyenangkan sekaligus menyegarkan. Tak hanya menawarkan keindahan alam, Curug Pinang juga menghadirkan berbagai aktivitas seru. Pengunjung bisa berenang, berendam, bermain air, hingga bersantai di area tepi curug yang teduh. Bagi pecinta fotografi, spot-spot alami di sekitar air terjun menjadi latar sempurna untuk mengabadikan momen. Setelah puas bermain air, pengunjung dapat menikmati aneka kuliner lokal yang tersedia di sekitar lokasi. Mulai dari mie hangat, tempe mendoan khas Banyumas, hingga berbagai minuman segar, semuanya siap memanjakan lidah. Tersedia pula bangku dan meja beratap payung di tepi curug, menciptakan suasana yang adem dan cocok untuk healing. Harga tiket masuk Curug Pinang terbilang sangat terjangkau. Wisata ini buka setiap hari pukul 06.00–17.00 WIB dengan tiket masuk sekitar Rp10.000, parkir motor Rp2.000, serta fasilitas tambahan seperti sewa ban, tikar, celana, dan perlengkapan bermain air dengan harga ramah di kantong. Bagi pengunjung yang memiliki kemampuan berenang, area bawah air terjun juga kerap dimanfaatkan untuk belajar menyelam. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena dasar kolam berbatu dan licin. Keselamatan tetap menjadi prioritas agar keindahan alam bisa dinikmati dengan aman. Embung Wisata Kemutug Lor “Jelita”: Teduh, Tenang, dan Edukatif   Tak jauh dari Curug Pinang, Embung Wisata Kemutug Lor “Jelita” hadir sebagai destinasi alternatif yang menawarkan ketenangan dan refleksi. Terletak di lereng Gunung Slamet, embung ini menyuguhkan panorama alam hijau dengan udara pegunungan yang sejuk dan bersih. Diresmikan pada 6 Maret 2024, embung ini masih terbilang baru namun langsung menarik perhatian wisatawan. Dengan luas sekitar 27.736 meter persegi, kawasan embung menjadi ruang terbuka yang ideal untuk berjalan santai, piknik, atau sekadar duduk menikmati semilir angin sambil memandangi hamparan alam. Lebih dari sekadar tempat rekreasi, Embung Kemutug Lor memiliki fungsi vital bagi warga sekitar. Embung ini menjadi cadangan air, menjaga pasokan air tanah, serta mendukung irigasi lahan pertanian seluas kurang lebih 3 hektar. Di sinilah nilai edukasi wisata hadir—pengunjung diajak memahami pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan masa depan desa. Tiket masuk embung pun sangat terjangkau, yakni Rp5.000 untuk umum, Rp2.000 bagi warga lokal, dan parkir motor Rp2.000. Dengan biaya yang ringan, pengunjung bisa menikmati suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Embung Wisata Kemutug Lor menjadi bukti bahwa pariwisata tidak harus selalu mewah. Keindahan alam, keteduhan, dan pesan pelestarian lingkungan justru menjadi daya tarik utamanya. Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin berwisata sambil belajar, menenangkan diri, dan kembali menghargai alam. Dua Destinasi, Satu Cerita: Alam, Edukasi, dan Kebersamaan Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor adalah dua wajah wisata alam yang saling melengkapi. Yang satu menghadirkan kesegaran dan keceriaan, yang lain menawarkan ketenangan dan refleksi. Keduanya menjadi bukti nyata peran Pokdarwis Kemutug Lor dalam mengelola potensi desa secara berkelanjutan, menggabungkan keindahan alam dengan manfaat sosial dan edukatif. Jika kamu berkunjung ke Baturraden, pastikan kedua destinasi ini masuk dalam daftar perjalananmu. Datanglah, nikmati alamnya, rasakan ketenangannya, dan pulanglah dengan cerita serta kesadaran baru tentang pentingnya menjaga alam bersama. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Seandainya Kang Slamet Menyerah dengan Keadaan

Seandainya Kang Slamet Menyerah dengan Keadaan Seandainya Kang Slamet dulu menyerah dengan keadaan, barangkali hidup akan berjalan biasa saja—mengalir tanpa makna, berlalu tanpa jejak, dan berakhir tanpa cerita yang bisa dipelajari oleh sesama. Dunia mungkin tidak kehilangan apa-apa, tetapi kita kehilangan satu pelajaran penting: bahwa manusia tidak ditentukan oleh titik awalnya, melainkan oleh sikapnya terhadap kehidupan. Kang Slamet hari ini jelas bukan Kang Slamet dua puluh tahun yang lalu. Ia bukan sekadar versi yang lebih tua, melainkan versi yang ditempa. Ia adalah hasil dari kegagalan yang dihadapi, luka yang diterima, dan keputusan-keputusan berat yang dijalani dengan kesadaran. Kisah ini saya sampaikan kembali bukan untuk mengultuskan seseorang, tetapi untuk membuka ruang belajar bersama—bahwa hidup tidak pernah menjanjikan kemudahan, namun selalu menyediakan peluang bagi mereka yang mau bertahan. Dalam perjalanan hidupnya, Kang Slamet tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, tetapi juga dengan keyakinan negatif yang membatasi diri (limiting belief). Dalam literasi psikologi dan NLP, limiting belief adalah kepercayaan bawah sadar yang membuat seseorang merasa “tidak mampu”, “tidak layak”, atau “tidak mungkin berhasil”, meskipun faktanya belum tentu demikian. Keyakinan ini sering kali lebih berbahaya daripada kemiskinan itu sendiri, karena ia mematikan keberanian sebelum perjuangan dimulai. Kang Slamet menjadi contoh nyata bahwa membebaskan diri dari limiting belief adalah langkah awal menuju perubahan hidup. Ia membuktikan bahwa seseorang bisa keluar dari belenggu keyakinan yang membatasi, bukan dengan menyalahkan keadaan, melainkan dengan memperbaiki cara pandang terhadap keadaan itu sendiri. Kang Slamet lahir bukan dari keluarga berada. Ia tumbuh dalam keluarga biasa, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Kondisi ekonomi memaksanya mengambil keputusan yang sangat berat: berhenti kuliah. Pada titik itu, pendidikan terasa seperti kemewahan, bukan kebutuhan yang bisa dipertahankan. Banyak mimpi yang harus ditangguhkan, banyak harapan yang harus dipendam. Di usia yang lebih matang, Kang Slamet baru menyadari sebuah ironi kehidupan. Ada teman-temannya yang secara ekonomi jauh lebih miskin darinya, namun mampu bertahan, menyelesaikan kuliah, bahkan lulus dengan prestasi membanggakan. Kesadaran ini tidak membuatnya menyesal, tetapi menjadi refleksi mendalam: bahwa kemiskinan bukan satu-satunya faktor kegagalan. Yang sering kali lebih menentukan adalah keberanian untuk tetap percaya pada diri sendiri di tengah keterbatasan. Tentang siapa teman itu dan bagaimana kisahnya, biarlah menjadi cerita tersendiri di waktu yang lain. Setelah meninggalkan bangku kuliah, Kang Slamet benar-benar berhadapan dengan realitas hidup. Tidak ada lagi ruang aman bernama teori, tidak ada lagi jadwal kuliah yang teratur. Yang ada hanyalah tuntutan bertahan hidup. Dunia nyata tidak menanyakan ijazah, tetapi menuntut ketangguhan. Berbagai profesi ia jalani tanpa banyak pertimbangan gengsi. Dari tukang sayur yang harus bangun dini hari, berdagang ban bekas yang penuh ketidakpastian, hingga menjual aksesori kecantikan yang menuntut kepekaan pasar. Semua ia jalani dengan satu prinsip: bekerja jujur dan terus bergerak. Perjalanan ini tentu tidak singkat, tidak mudah, dan jauh dari kata nyaman. Dalam literasi pengembangan diri, fase ini disebut sebagai zona ujian karakter—masa di mana seseorang diuji bukan oleh kesulitan semata, tetapi oleh godaan untuk menyerah. Alasan untuk berhenti selalu tersedia: lelah, rugi, diremehkan, gagal, atau merasa tidak adil. Namun semua alasan itu hanya akan berkuasa jika menyerah dijadikan pilihan. Kang Slamet memilih jalan yang berbeda. Ia memilih untuk terus berjuang dengan afirmasi positif—menanamkan keyakinan bahwa hidup bisa diperbaiki, bahwa hari esok bisa lebih baik dari hari ini, dan bahwa setiap usaha yang jujur tidak akan sia-sia. Dalam perspektif NLP, afirmasi bukan sekadar kata-kata, melainkan program ulang pikiran agar selaras dengan tujuan dan harapan. Salah satu kekuatan utama Kang Slamet adalah kemampuannya membangun relasi. Dalam literasi kewirausahaan, ini dikenal sebagai modal sosial (social capital)—kepercayaan, empati, dan hubungan antarmanusia yang bernilai jauh lebih besar daripada modal finansial. Kang Slamet mudah membangun simpati pembeli bukan karena strategi pemasaran yang rumit, melainkan karena ketulusan. Ia peduli pada konsumennya. Ia mendengar cerita mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memperlakukan mereka sebagai sesama manusia. Kang Slamet tidak berdiri sebagai penjual yang merasa lebih tahu, tetapi melebur sebagai bagian dari kehidupan konsumennya. Dari sikap inilah kepercayaan tumbuh, dan dari kepercayaan itulah keberlangsungan usaha terbangun. Dalam literasi bisnis modern, pendekatan ini dikenal sebagai human-centered business—usaha yang berakar pada empati dan nilai kemanusiaan. Tanpa disadari, Kang Slamet telah mempraktikkan prinsip ini jauh sebelum istilahnya populer. Kisah Kang Slamet mengajarkan kita bahwa perubahan hidup tidak selalu dimulai dari pendidikan tinggi, modal besar, atau koneksi elit. Perubahan sering kali dimulai dari keberanian untuk membongkar keyakinan yang membatasi, menggantinya dengan keyakinan yang memberdayakan, serta kesediaan untuk terus belajar dari kehidupan itu sendiri. Seandainya Kang Slamet dulu menyerah dengan keadaan, mungkin ia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar bertumbuh. Dan dari kisah inilah kita belajar: keadaan boleh membatasi ruang gerak, tetapi keyakinan dan karakterlah yang menentukan arah hidup seseorang. SiS, Antarkita

Kabarkita, Ruang Kita

Kegamangan Prabowo Subianto,  Refleksi Akhir Tahun dari Banyumas

Kegamangan Prabowo Subianto,  Refleksi Akhir Tahun dari Banyumas   Banyumas, 29 Desember 2025 Pagi ini, di kaki Gunung Slamet, masyarakat Banyumas berkumpul dalam sebuah diskusi refleksi akhir tahun bertajuk “Pesan dari Gunung Slamet”. Diskusi ini lahir dari kegelisahan yang sama: kegelisahan membaca arah republik setelah satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berjalan. Gunung Slamet, yang dalam tradisi Jawa sering dimaknai sebagai simbol keteguhan dan ketenangan, seolah menjadi cermin yang memantulkan kegamangan kekuasaan di pusat negara. Purwokerto tidak dipilih secara kebetulan. Kota ini menyimpan ingatan sejarah republik. Dari sinilah lahir R.M. Margono Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pertama Republik Indonesia, seorang tokoh bangsa yang ikut merancang fondasi kelembagaan negara pascakemerdekaan—dan yang tak kalah penting, ia adalah kakek Presiden Prabowo Subianto (Kompas TV). Sejarah seolah berbisik lirih: bagaimana mungkin lembaga pertimbangan negara justru absen di masa cucu sang perintisnya memimpin republik? Satu Tahun Tanpa Wantimpres: Kekosongan Konstitusional Pasal 16 UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberi nasihat dan pertimbangan. Amanat konstitusi ini dijabarkan dalam UU Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden, yang menegaskan bahwa Wantimpres wajib dibentuk paling lambat tiga bulan setelah presiden dilantik (Wantimpres.go.id). Namun fakta politik berbicara lain. Hingga akhir Desember 2025, setahun penuh pemerintahan Prabowo berjalan tanpa Wantimpres. Ini bukan sekadar soal belum terbentuknya lembaga, melainkan kekosongan struktural dalam pengambilan keputusan strategis negara. Wantimpres sejatinya dirancang sebagai ruang deliberasi, tempat presiden mendapatkan nasihat yang bebas dari tekanan politik elektoral maupun kepentingan teknokratis jangka pendek. Tanpa Wantimpres, presiden berdiri sendirian, atau lebih tepatnya, dikelilingi lingkar sempit kekuasaan. Jika amanat undang-undang tidak dijalankan, maka negara seharusnya bersikap jujur: laksanakan atau amandemen. Membiarkan amanat hukum menggantung adalah bentuk pembiaran terhadap erosi konstitusi itu sendiri. Demo Agustus 2025: Negara yang Kehilangan Suara Kegamangan struktural itu terlihat jelas saat gelombang demonstrasi nasional Agustus 2025. Demonstrasi besar-besaran yang melibatkan mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil menuntut kejelasan sikap negara terhadap berbagai kebijakan strategis. Namun publik tidak menemukan sikap tegas Presiden. Pernyataan yang muncul cenderung normatif: menghormati aspirasi, menjaga ketertiban, dan menyerahkan proses pada mekanisme hukum. Tidak ada pidato kenegaraan yang kuat, tidak ada narasi kepemimpinan yang mampu meredam kegelisahan publik sekaligus memberi arah perubahan (Kompas.com). Dalam konteks ini, negara seperti kehilangan suaranya sendiri. Ketika presiden tidak berbicara tegas, ruang publik diisi spekulasi, kecurigaan, dan polarisasi. Ketegasan bukan berarti represif, melainkan kejelasan arah—sesuatu yang justru absen. Bencana Sumatera: Lambannya Negara Hadir Kegamangan itu berulang saat banjir dan longsor melanda berbagai wilayah di Sumatera. Skala bencana meluas, korban jiwa berjatuhan, dan kapasitas daerah jelas terlampaui. Namun pemerintah pusat lambat menetapkan status bencana nasional. Sejumlah pengamat menilai sikap Presiden Prabowo terkesan menyepelekan musibah, atau setidaknya gagal membaca urgensi kemanusiaan yang membutuhkan keputusan cepat dan simbol kehadiran negara (KBA News). Penetapan bencana nasional bukan sekadar status administratif, melainkan sinyal politik dan moral bahwa negara hadir sepenuhnya. Ketika keputusan itu tertunda, yang tertunda bukan hanya bantuan, tetapi juga kepercayaan rakyat. Paradoks Seorang Jenderal Kopassus Di titik ini, publik wajar bertanya: Mengapa Prabowo Subianto selalu tampak gamang? Pertanyaan ini paradoksal. Prabowo adalah mantan jenderal Kopassus, pasukan elite yang dibentuk untuk mengambil keputusan cepat dalam situasi paling ekstrem. Kultur militer mengenal prinsip command and control, bukan ragu dan menunggu. Namun ketika berada di puncak kekuasaan sipil, yang muncul justru kehati-hatian berlebih, bahkan keraguan. Paradoks ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata pada pribadi, melainkan pada arsitektur kekuasaan yang tidak sehat. Sentralisasi di Sekretariat Kabinet Di tengah ketiadaan Wantimpres, muncul fenomena lain: menguatnya peran Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Berbagai laporan media dan kritik pengamat menyebutkan bahwa peran Seskab melampaui fungsi koordinatif, bahkan menembus wilayah strategis yang seharusnya menjadi domain para menteri (RMOL). Situasi ini menimbulkan dua persoalan serius: Sentralisasi kekuasaan pada satu simpul non-elektif Kaburnya batas sipil–militer, mengingat status Teddy sebagai perwira aktif TNI Kritik terhadap hal ini bahkan datang dari internal aparat negara sendiri, sebagaimana terlihat dalam polemik yang melibatkan AKBP Netty Siagian (Tribunnews). Ini menandakan kegelisahan yang lebih luas tentang etika kekuasaan dan tata kelola negara. Pesan dari Banyumas dan Gunung Slamet Diskusi pagi ini di Banyumas bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah peringatan. Republik ini pernah belajar bahwa kekuasaan tanpa pertimbangan akan mudah tergelincir pada kesalahan fatal. Itulah sebabnya para pendiri bangsa merancang lembaga pertimbangan negara. Gunung Slamet berdiri diam, namun pesan yang dibawanya jelas: Negara tidak boleh berjalan tanpa kompas konstitusi. Kegamangan Presiden Prabowo Subianto bukan hanya soal karakter personal, melainkan cerminan dari negara yang kehilangan mekanisme penimbangnya. Tanpa Wantimpres, tanpa distribusi kekuasaan yang sehat, dan dengan sentralisasi berlebihan, republik berjalan di atas ketidakpastian. Sejarah Banyumas mengingatkan: kekuasaan yang besar hanya akan bermakna jika disertai kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan tidak pernah lahir dari kesendirian. SiS, Antarkita

Donasi

LADANG PAHALA JARIYAH : FINISHING PEMBANGUNAN MASJID

💧 *LADANG PAHALA JARIYAH : FINISHING PEMBANGUNAN MASJID*💧 Saat ini, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumbang Daerah Banyumas sedang membangun masjid dan rumah tahfiz yang berlokasi di Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang. Proses pembangunan tahap 1 adalah membangun masjid, yang saat ini bangunan baru mencapai 75%. Karena keterbatasan yang ada, kami membuka peluang besar bagi kita semua untuk turut serta dalam amal jariyah.   *🎯 Kebutuhan Dana : Rp 64.850.000,-* ( pasang plafon, pengecatan, pasang Keramik)   ✅ Transfer Donasi ke Rekening: an Lazismu Banyumas   BRI: 007701002829308 BNI: 179 852 805 8 BSI: 7 333 7 5555 8 Bank Jateng Syariah: 504 200 5555   Bukti Transfer mohon dikirim ke 081911274168 ( Divisi publikasi & penghimpunan)   Kontak Person : – PCM Sumbang ( Yahya, S. Pd +62 813-2701-4386 ) – PRM Kebanggan ( Taryono, S. Pd +62 858-7601-2627 ) – Panitia ( Nito, S. Pd +62 857-4787-1338 )

Donasi

♻️ Bekas Jadi Berkah! 🤝 Berbagi Manfaat, Mewujudkan Kepedulian

♻️ Bekas Jadi Berkah! 🤝 Berbagi Manfaat, Mewujudkan Kepedulian Di setiap rumah, sering tersimpan barang-barang yang sudah tidak lagi digunakan. Pakaian, perabot, buku, perlengkapan rumah tangga, dan berbagai barang lain yang masih layak serta memiliki nilai jual. Jika dibiarkan, barang-barang tersebut hanya akan menumpuk. Namun jika disedekahkan, ia dapat berubah menjadi manfaat dan keberkahan bagi banyak orang. ♻️ SEDEKAH BARANG BEKAS BERKUALITAS Sedekah bukan sekadar memberi, tetapi berbagi dengan kelayakan dan martabat. Barang-barang bekas yang masih baik akan kami kelola dan salurkan secara bertanggung jawab untuk membantu sesama serta mendukung kegiatan sosial dan dakwah. Untuk memudahkan, kami siap menjemput sedekah barang langsung ke rumah Anda. 🧹 LAYANAN JASA BERSIH-BERSIH RUMAH Selain sedekah barang, kami juga menyediakan jasa bersih-bersih rumah. Layanan ini hadir untuk membantu masyarakat menata, membersihkan, dan merapikan hunian agar kembali nyaman, sehat, dan lapang. Proses bersih-bersih dapat sekaligus membantu pemilahan barang, sehingga rumah bersih dan niat berbagi pun semakin mudah terwujud. 💚 Pimpinan Ranting Muhammadiyah Arcawinangun, Purwokerto Timur menghadirkan dua layanan ini sebagai bentuk kepedulian sosial— mengubah barang tak terpakai menjadi berkah, serta menghadirkan rumah yang bersih dan tertata. Mari mulai kebaikan dari rumah sendiri. Bersih rumahnya, ringan bebannya, mengalir keberkahannya.   📞 Hubungi: +62 858-4274-0541 +62 851-2262-5529

Prespektif, Ruang Kita

Jadi Pipit atau Cicak? Pilih Mana?(Kekuasaan, Keberpihakan, dan Ujian Zaman)

Jadi Pipit atau Cicak? Pilih Mana?(Kekuasaan, Keberpihakan, dan Ujian Zaman)   Sejarah selalu mencatat satu hal yang sama: kekuasaan tidak pernah kekal, tetapi sikap manusia terhadap kekuasaanlah yang menentukan apakah sebuah bangsa akan bangkit atau runtuh. Naiknya Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia berada di antara harapan besar dan paradoks yang menggelisahkan. Bagi sebagian rakyat, ia adalah simbol ketegasan; seorang jenderal yang diharapkan mampu memulihkan wibawa negara, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan membela kepentingan rakyat di atas kepentingan oligarki. Namun bagi sebagian lainnya, realitas politik pasca-pemilu justru menghadirkan rasa deja vu. Banyak figur lama tetap bercokol. Banyak pola lama tetap lestari. Dan berbagai persoalan besar—khususnya terkait korupsi struktural dan kebijakan strategis—belum menunjukkan tanda-tanda perubahan mendasar. Di sinilah kekecewaan mulai bersemi. Kekuasaan Bukan Warisan, Tapi Mandat Dalam negara republik, kekuasaan bukan hadiah, bukan warisan, dan bukan pula simbol kehormatan pribadi. Kekuasaan adalah mandat rakyat. UUD 1945 menegaskannya secara gamblang: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” (Pasal 1 ayat (2) UUD 1945) Artinya, presiden—siapa pun dia—hanyalah pelaksana mandat. Ia diberi kewenangan, anggaran, fasilitas, dan legitimasi politik untuk bekerja bagi rakyat, bukan untuk mempertahankan status quo yang merugikan rakyat. Ketika rakyat mempertanyakan mengapa: kasus-kasus besar korupsi masa lalu terasa mandek, penegakan hukum tampak tumpul ke atas dan tajam ke bawah, proyek strategis nasional seperti IKN dipersepsikan belum jelas keberlanjutan dan dampak nyatanya, maka pertanyaan itu bukan bentuk kebencian. Itu adalah hak konstitusional rakyat. Kritik Bukan Penghancur Negara Konstitusi justru melindungi kritik. “Setiap orang berhak atas kebebasan menyampaikan pendapat.” (Pasal 28E ayat (3) UUD 1945) Negara hukum—sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945—tidak menguji loyalitas warga melalui pujian, tetapi menguji kualitas kekuasaan melalui koreksi. Bangsa tidak pernah runtuh karena kritik. Bangsa runtuh karena kekuasaan yang dikelilingi penjilat, dibutakan pencitraan, dan ditidurkan oleh narasi palsu keberhasilan. Pipit dan Cicak: Metafora Keberpihakan Di titik inilah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menemukan relevansinya. Ketika Ibrahim dibakar oleh Namrud, api menyala begitu besar. Tidak ada satu pun makhluk kecil yang mampu memadamkannya. Namun burung pipit tetap datang, membawa setetes air dengan paruhnya yang kecil. Ia sadar tindakannya tampak sia-sia, tetapi ia tidak mau Allah melihatnya diam saat kebenaran dizalimi. Sebaliknya, cicak justru meniup api. Bukan karena tiupannya berarti, tetapi karena ia memilih berpihak pada kekuasaan zalim. Allah tidak menilai besar-kecilnya dampak, tetapi arah keberpihakan. “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7) Dalam konteks hari ini: Pipit adalah mereka yang tetap kritis, meski diledek, diserang, dan dituduh pembenci negara. Cicak adalah mereka yang menjilat kekuasaan, membungkam kritik, memelintir fakta, dan memungut sisa-sisa kekuasaan—baik berupa jabatan, proyek, maupun kedekatan. Jongos Kekuasaan dan Bahaya Sistemik Jongos kekuasaan adalah ancaman paling serius bagi bangsa. Mereka bukan sekadar individu, melainkan ekosistem pembenaran. Apa pun kebijakan penguasa: dibela. Apa pun kritik rakyat: dicemooh. Apa pun kegagalan: disulap menjadi prestasi. Akibatnya fatal. Pemerintah kehilangan cermin. Kekuasaan berjalan tanpa koreksi. Kesalahan diulang. Dan negara perlahan masuk ke dalam krisis moral dan struktural. Padahal tujuan bernegara telah ditegaskan secara eksplisit dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial. Tujuan-tujuan itu mustahil tercapai jika kritik dianggap musuh dan jongos dianggap pahlawan. Allah Maha Mampu, Manusia Sedang Diuji Allah SWT sangat mampu mengubah Indonesia dalam sekejap. Namun Allah memilih menguji manusia melalui proses, melalui kekuasaan, dan melalui pergiliran kepemimpinan. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140) Pergiliran kekuasaan bukan sekadar politik, tetapi ujian iman dan integritas: siapa yang tetap jujur saat dekat kekuasaan, siapa yang tetap kritis saat penguasa adalah idolanya, dan siapa yang menjual nurani demi keamanan pribadi. Penutup: Pilihan yang Tak Bisa Dihindari Pada akhirnya, setiap orang akan memilih. Tidak memilih pun sejatinya adalah pilihan. Menjadi pipit mungkin tidak populer, tidak kaya, dan tidak aman. Namun ia menjaga iman, akal sehat, dan martabat. Menjadi cicak mungkin nyaman dan menguntungkan sesaat. Namun ia meninggalkan jejak kehinaan dalam sejarah dan hisab akhirat. Karena kekuasaan akan berlalu. Tetapi keberpihakan akan dicatat—oleh sejarah dan oleh Allah SWT. Jadi, kita mau jadi siapa? Pipit… atau cicak?   SiS,Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

ANTARKITA: Mengembalikan Manusia dalam Peradaban Digital

ANTARKITA: Mengembalikan Manusia dalam Peradaban Digital Zaman terus bergerak maju, teknologi berkembang pesat, dan sistem ekonomi semakin efisien. Namun di balik kemajuan itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kehidupan manusia: kehangatan relasi sosial. Manusia hari ini hidup semakin individualistis dan materialistik. Segalanya diukur dengan angka, kecepatan, dan keuntungan. Interaksi antarmanusia menyusut menjadi sekadar fungsi, bukan hubungan. Ruang-ruang perjumpaan sosial yang dulu hidup—warung, pangkalan, jalan kampung, pasar—kini tergantikan oleh layar gawai. Komunikasi memang semakin cepat, tetapi semakin jauh dari sentuhan emosional dan spiritual. Kita saling terhubung, namun sering kali tidak saling mengenal. Kita bertransaksi, tetapi jarang berelasi. Dalam dunia ekonomi dan bisnis, kondisi ini terasa paling nyata. Hubungan kerja dan usaha direduksi menjadi relasi transaksional semata. Pengemudi dan penumpang bertemu tanpa sapaan, penjual dan pembeli berpisah tanpa ikatan. Manusia diperlakukan sebagai angka dalam sistem, bukan sebagai subjek dengan martabat dan cerita hidup. Dari kegelisahan inilah ANTARKITA lahir. ANTARKITA bukan sekadar layanan transportasi. ANTARKITA adalah gerakan sosial-ekonomi yang berangkat dari kesadaran bahwa teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya. ANTARKITA memilih jalan yang sederhana: tidak memaksa orang mengunduh aplikasi, tidak mempersulit dengan sistem yang kaku. Cukup dengan WhatsApp, alat komunikasi yang sudah akrab dengan keseharian masyarakat. Kesederhanaan ini bukan kelemahan, tetapi pilihan nilai. ANTARKITA percaya bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang inklusif, mudah diakses oleh siapa saja—termasuk mereka yang selama ini terpinggirkan oleh kompleksitas sistem digital. ANTARKITA hadir untuk rakyat kecil, pelaku UMKM, dan para pekerja sektor informal yang ingin tetap bermartabat di tengah arus ekonomi digital. ANTARKITA membuka ruang kemandirian ekonomi, bukan dengan eksploitasi, tetapi dengan kemitraan. Bukan dengan kompetisi yang mematikan, tetapi dengan kolaborasi yang menguatkan. Lebih dari itu, ANTARKITA ingin menghidupkan kembali ruh sosial dalam setiap perjalanan dan transaksi. Relasi antara pengemudi dan penumpang tidak berhenti pada titik antar-jemput, tetapi menjadi ruang perjumpaan antarmanusia. Ada sapaan, ada empati, ada rasa saling menghargai. Di situlah ekonomi bertemu dengan nilai kemanusiaan. ANTARKITA menolak pandangan bahwa bisnis harus dingin dan tanpa rasa. ANTARKITA percaya bahwa bisnis bisa menjadi sarana silaturahmi, sarana ibadah sosial, dan sarana pemerataan kesejahteraan. Dalam ANTARKITA, keuntungan bukan tujuan tunggal, melainkan hasil dari proses yang adil dan manusiawi. Di tengah bangsa yang majemuk, ANTARKITA memosisikan diri sebagai ruang bersama—ruang ANTAR KITA, tempat berbagai latar belakang bertemu tanpa sekat. Tidak ada hierarki antara pengguna dan mitra, tidak ada jarak antara teknologi dan manusia. Yang ada adalah semangat gotong royong khas Indonesia. ANTARKITA hadir untuk mereka yang lelah dengan sistem yang meminggirkan. Untuk mereka yang percaya bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang tetap menjaga nilai, etika, dan kemanusiaan. Untuk mereka yang ingin ekonomi tumbuh tanpa kehilangan jiwa. Pada akhirnya, ANTARKITA bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. ANTARKITA adalah tentang perjalanan bersama—membangun kembali relasi sosial, memperkuat kemandirian ekonomi UMKM, dan merawat kemanusiaan di tengah peradaban digital. Karena Indonesia tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi juga teknologi yang beradab. SiS,ANTARKITA

Prespektif, Ruang Kita

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban   Kiai Ahmad Dahlan adalah contoh langka seorang ulama yang tidak hanya hidup di zamannya, tetapi melompat melampaui zamannya. Pada awal abad ke-20, ketika sebagian besar masyarakat Muslim Nusantara masih terkungkung oleh kemiskinan struktural, kebodohan, dan pemahaman keagamaan yang ritualistik, Dahlan justru membaca tanda-tanda perubahan dunia. Ia memahami bahwa umat Islam tidak akan bangkit hanya dengan kesalehan simbolik, melainkan dengan pembaruan cara berpikir, cara beragama, dan cara mengelola kehidupan sosial. Futuristik Kiai Ahmad Dahlan bukan futurisme spekulatif yang sibuk meramal masa depan, melainkan futurisme praksis—membangun masa depan melalui tindakan nyata hari ini. Ia menyadari bahwa masa depan umat ditentukan oleh kualitas institusi, sistem pendidikan, etos kerja, dan keberpihakan sosial. Karena itu, Dahlan tidak berhenti pada dakwah lisan, tetapi membangun struktur peradaban yang memungkinkan nilai Islam hidup dan berdaya guna lintas generasi. Dari Tauhid ke Transformasi Sosial Akar futurisme Dahlan bertumpu pada pemahaman tauhid yang menyeluruh. Tauhid baginya bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi prinsip pembebasan manusia dari kebodohan, ketergantungan, dan ketidakadilan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai tauhid sosial—sebuah konsep yang menegaskan bahwa iman harus berdampak pada struktur sosial dan kehidupan bersama. Kisah pengajian Surah Al-Ma’un yang berulang-ulang adalah bukti paling jelas. Dahlan menolak pemahaman agama yang berhenti pada hafalan dan ritual. Pertanyaannya yang terkenal, “Kalau sudah paham, apa sudah diamalkan?”, bukan sekadar teguran moral, melainkan kritik epistemologis terhadap cara beragama yang mandek. Baginya, agama yang tidak melahirkan tindakan sosial adalah agama yang kehilangan makna sejarahnya. Dari tafsir Al-Ma’un inilah lahir gerakan amal Muhammadiyah. Anak yatim, fakir miskin, orang sakit, dan kaum terpinggirkan bukan objek belas kasihan, tetapi subjek perjuangan keadilan sosial. Di sinilah futurisme Dahlan bekerja: ia menjadikan teks suci sebagai energi perubahan sosial. Modernisasi Pendidikan sebagai Investasi Peradaban Salah satu lompatan futuristik terbesar Kiai Ahmad Dahlan adalah di bidang pendidikan. Pada masanya, pendidikan agama dan pendidikan umum dipisahkan secara tajam. Dahlan memandang dikotomi ini sebagai sumber kemunduran umat. Maka ia membangun sekolah-sekolah yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu modern—sebuah langkah radikal pada zamannya. Bagi Dahlan, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia beriman, berilmu, dan berdaya guna. Ia memahami bahwa masa depan umat Islam tidak mungkin dibangun tanpa penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etos rasional. Inilah sebabnya Muhammadiyah sejak awal menjadi pionir pendidikan modern di Indonesia, jauh sebelum negara memiliki sistem pendidikan nasional yang mapan. Keberanian ini menunjukkan bahwa Dahlan tidak sedang mempertahankan masa lalu, tetapi menyiapkan generasi masa depan. Membangun Organisasi yang Melampaui Figur Futuristik Kiai Ahmad Dahlan juga tampak jelas dalam cara ia membangun Muhammadiyah sebagai organisasi. Muhammadiyah tidak dibangun di atas karisma personal, melainkan di atas sistem, nilai, dan tata kelola. Dahlan memahami bahwa gerakan besar tidak boleh bergantung pada satu tokoh, tetapi harus memiliki mekanisme kaderisasi, administrasi, dan evaluasi yang berkelanjutan. Inilah sebabnya Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad dan tetap relevan dalam berbagai rezim politik, perubahan sosial, dan tantangan zaman. Muhammadiyah tidak berhenti sebagai organisasi dakwah, tetapi berkembang menjadi gerakan peradaban: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga kebencanaan. Apa yang dilakukan Dahlan sejatinya adalah desain masa depan—membangun institusi yang mampu hidup lebih lama dari dirinya sendiri. Islam Berkemajuan: Warisan Futuristik Dahlan Pemikiran futuristik Kiai Ahmad Dahlan kemudian dirumuskan secara konseptual dalam gagasan Islam Berkemajuan. Islam Berkemajuan bukan Islam yang tercerabut dari tradisi, tetapi Islam yang berani berdialog dengan modernitas. Islam yang tidak defensif terhadap perubahan, tetapi kritis, selektif, dan kreatif. Dalam kerangka ini, Muhammadiyah tidak alergi terhadap sains, teknologi, dan perubahan sosial. Namun, semuanya harus diarahkan pada kemaslahatan, keadilan, dan martabat manusia. Inilah yang membuat Muhammadiyah selalu relevan dengan perkembangan zaman—bukan karena mengikuti arus, tetapi karena memiliki kompas nilai yang jelas. Dari Dahlan ke Masa Kini Lebih dari satu abad setelah wafatnya, Kiai Ahmad Dahlan masih “hidup” melalui amal dan gagasannya. Rumah sakit Muhammadiyah, sekolah, universitas, panti asuhan, gerakan sosial, dan ekonomi umat adalah bukti konkret bahwa futurisme Dahlan bukan utopia. Dalam dunia yang hari ini dikuasai kapitalisme global, krisis kemanusiaan, dan ketimpangan sosial, warisan Dahlan justru semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa agama harus menjadi solusi, bukan sekadar identitas. Bahwa masa depan tidak ditunggu, tetapi dibangun—dengan iman yang rasional, amal yang terorganisir, dan keberpihakan yang jelas kepada kemanusiaan. Futuristik Kiai Ahmad Dahlan adalah pelajaran penting bagi kita hari ini: bahwa berpikir ke depan bukan berarti meninggalkan nilai, dan membangun masa depan tidak cukup dengan wacana, tetapi membutuhkan keberanian untuk bekerja, berkorban, dan berorganisasi.   SiS,,Antarkita

Donasi

Tabungan Akherat: Dari Cabang Termuda, Membangun Rumah Allah di Baturraden.

Tabungan Akherat: Dari Cabang Termuda, Membangun Rumah Allah di Baturraden.   Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Baturraden membuka kesempatan Tabungan Akherat, sebuah ikhtiar kolektif untuk menanam amal jariyah yang manfaat dan pahalanya tidak berhenti di dunia, tetapi terus mengalir hingga akhirat. PCM Baturraden bukan cabang yang baru berdiri, namun merupakan cabang paling muda di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas. Sebagai cabang termuda, PCM Baturraden memulai langkah dakwahnya dengan satu tekad besar: membangun pusat ibadah dan pengkaderan umat. Maka lahirlah proyek pembangunan Masjid Assalam Kutasari Baturraden, yang menjadi proyek masjid pertama yang dibangun oleh PCM Baturraden. Hari ini, pembangunan Masjid Assalam terus berjalan. Setiap hari ada tenaga yang bekerja, setiap pekan ada amanah yang harus ditunaikan. Panitia pembangunan secara rutin harus membayar upah para pekerja dengan kebutuhan rata-rata Rp 8 juta setiap pekan, agar proses pembangunan tidak terhenti dan target penyelesaian dapat terus dikejar. Masjid ini kelak bukan sekadar tempat shalat. Ia dirancang menjadi pusat dakwah, pendidikan, pengajian anak-anak dan remaja, serta ruang silaturahmi dan penguatan jamaah Muhammadiyah di Baturraden. Dari masjid inilah diharapkan lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkhidmat untuk umat dan bangsa. Di hari-hari yang penuh berkah ini, PCM Baturraden mengajak Bapak/Ibu, para dermawan dan pecinta dakwah, untuk ikut ambil bagian dalam sedekah jariyah. Setiap rupiah yang dititipkan menjadi bagian dari Tabungan Akherat, yang insyaAllah akan terus mengalir pahalanya selama masjid ini digunakan untuk ibadah dan kebaikan. Donasi sedekah jariyah dapat disalurkan melalui: Bank BSI No. 7112255045 a.n. KL Lazismu Cabang Baturraden Konfirmasi donasi: 0851-2262-5529 Semoga Allah menerima setiap amal kebaikan, melapangkan rezeki para donatur, serta menjadikan Masjid Assalam sebagai sumber keberkahan bagi Baturraden dan Banyumas. Jazakumullahu khairan katsiran. 🤲

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

ANTARKITA,Kesederhanaan dan Kemandirian

ANTARKITA,Kesederhanaan dan Kemandirian ANTARKITA lahir dari kesadaran bahwa kemajuan zaman tidak selalu membawa manusia pada kemanusiaannya. Di tengah teknologi yang semakin canggih dan sistem ekonomi yang semakin kompleks, hubungan antarmanusia justru semakin menyempit. Interaksi digantikan oleh algoritma, kepercayaan digantikan oleh rating, dan silaturahmi direduksi menjadi transaksi. Manusia hadir bukan sebagai subjek, melainkan sebagai bagian kecil dari sistem besar yang sering kali tidak ia pahami dan tidak ia kuasai. ANTARKITA hadir sebagai upaya sederhana untuk melawan arus itu. Kesederhanaan bukan berarti keterbelakangan, tetapi pilihan sikap. Pilihan untuk mengembalikan hubungan ekonomi pada hakikatnya: hubungan antarmanusia. ANTARKITA berangkat dari keyakinan bahwa bisnis sejatinya adalah ruang perjumpaan, ruang komunikasi, dan ruang silaturahmi. Teknologi seharusnya menjadi jembatan yang mendekatkan manusia, bukan tembok yang menjauhkan. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah tentang ekonomi sebagai bagian dari dakwah sosial. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak memisahkan agama dari persoalan kehidupan nyata. KH. Ahmad Dahlan melalui spirit Al-Ma’un mengajarkan bahwa keberagamaan yang sejati harus hadir dalam kerja-kerja pembebasan dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan. Ekonomi, dalam pandangan Muhammadiyah, adalah alat untuk memuliakan manusia, bukan untuk menindas atau mengeksploitasinya. Dalam berbagai keputusan Muktamar dan Tanwir, Muhammadiyah menegaskan bahwa kemandirian ekonomi merupakan pilar ketiga gerakan Muhammadiyah, setelah pendidikan dan kesehatan. Pilar ini lahir dari kesadaran bahwa dakwah tidak akan berdaulat jika umatnya bergantung secara ekonomi. Ketergantungan ekonomi akan melahirkan ketergantungan sikap, ketergantungan kebijakan, bahkan ketergantungan keberpihakan. Muhammadiyah memaknai kemandirian ekonomi bukan sebagai isolasi, tetapi sebagai kedaulatan. Kedaulatan untuk menentukan arah pembangunan ekonomi, kedaulatan untuk memilih sistem yang adil, dan kedaulatan untuk membangun kesejahteraan secara kolektif. Prinsip ini ditegaskan dalam spirit ta’awun (tolong-menolong), syirkah (kemitraan), dan keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam ajaran Islam dan diperjuangkan Muhammadiyah dalam konteks kebangsaan. ANTARKITA bergerak dalam napas nilai tersebut. ANTARKITA adalah ikhtiar membangun kemandirian ekosistem bisnis UMKM, agar pelaku usaha kecil dan menengah tidak terus-menerus berada di posisi pinggiran. Dalam sistem ekonomi kapitalistik, UMKM sering hanya menjadi pelengkap, pemanis, atau sekadar objek yang dieksploitasi oleh sistem besar. ANTARKITA menolak posisi itu. ANTARKITA memandang UMKM sebagai subjek utama ekonomi rakyat. Ekosistem dibangun bukan dengan logika dominasi, tetapi kolaborasi. Bukan dengan relasi menundukkan, tetapi relasi saling menguatkan. Inilah ekonomi kebersamaan yang sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 dan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah. Kesederhanaan teknologi menjadi pilihan sadar ANTARKITA. Bukan karena menolak kemajuan, tetapi karena ingin menjaga arah. Teknologi yang terlalu kompleks sering kali justru menciptakan ketergantungan baru. ANTARKITA memilih teknologi yang memudahkan, transparan, dan manusiawi—teknologi yang tetap menempatkan manusia sebagai pengendali, bukan yang dikendalikan. Dalam perspektif Muhammadiyah, ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang menghadirkan kebermanfaatan, keadilan, dan keberkahan. Bukan hanya pertumbuhan, tetapi pemerataan. Bukan hanya keuntungan, tetapi kemaslahatan. Sebagaimana ditegaskan oleh para pimpinan Muhammadiyah, termasuk Prof. Dr. Muhadjir Effendy, spirit Al-Ma’un menuntut adanya kesetaraan dan keadilan ekonomi, serta keberpihakan nyata kepada kelompok yang lemah dan terpinggirkan. ANTARKITA menyadari bahwa jalan ini bukan jalan cepat. Ini adalah jalan panjang, jalan sunyi, dan sering kali jalan yang dipandang kecil. Namun dari kesederhanaan itulah tumbuh kekuatan. Dari kemandirian itulah lahir martabat. Dan dari kebersamaan itulah kesejahteraan menemukan maknanya. ANTARKITA percaya, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, perubahan tidak datang dari luar, tetapi dimulai dari keberanian manusia untuk mengubah dirinya sendiri. Kemandirian ekonomi umat bukan hadiah, melainkan hasil dari ikhtiar kolektif yang konsisten. Melalui kesederhanaan dan kemandirian, ANTARKITA berupaya menghadirkan ekonomi yang kembali berwajah manusia. Ekonomi yang tidak menjauhkan, tetapi mendekatkan. Tidak menindas, tetapi memerdekakan. Tidak sekadar menghidupi, tetapi memuliakan. SiS,ANTARKITA

Scroll to Top