Antarkita

Author name: Suwatno Ibnu Sudihardjo

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Momentum Muhammadiyah sebagai Uswah dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia

Momentum Muhammadiyah sebagai Uswah dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia Menjalankan Amanah UUD 1945 Pasal 33, Menghadirkan Keadilan Sosial, Kemandirian Dakwah, dan Peradaban Berkemajuan Oleh SiS Antarkita Tidak semua momentum hadir sebagai kesempatan. Ada momentum yang hadir sekaligus sebagai ujian. Ujian terhadap gagasan. Ujian terhadap keberanian. Dan ujian terhadap konsistensi nilai. Hari ini, Muhammadiyah sedang berada pada salah satu titik penting perjalanan sejarahnya. Sebuah momentum besar ketika Muhammadiyah mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia, termasuk melalui hak konsesi tambang. Sebagian orang mungkin melihat ini sekadar peluang ekonomi. Namun jika dilihat dengan kacamata dakwah dan sejarah, ini jauh lebih besar dari sekadar urusan bisnis. Ini adalah: momentum Muhammadiyah untuk membuktikan bahwa Islam mampu menghadirkan tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan rakyat. Indonesia Kaya, Tetapi Mengapa Rakyat Belum Sepenuhnya Makmur? Indonesia bukan negeri miskin. Allah SWT menganugerahkan kekayaan luar biasa kepada negeri ini. Gunung menyimpan emas, nikel, tembaga, dan batu bara. Laut menyimpan kekayaan hayati. Hutan menyediakan kehidupan. Tanah subur menopang pertanian. Tetapi pertanyaan besar bangsa ini belum selesai: Mengapa negeri kaya masih menyisakan kemiskinan? Mengapa daerah kaya tambang masih banyak jalan rusak? Mengapa masyarakat sekitar kawasan pertambangan masih kesulitan pendidikan dan kesehatan? Mengapa yang sering tertinggal justru: lubang tambang, hutan rusak, sungai tercemar, konflik sosial, ketimpangan ekonomi Di sinilah kita harus jujur: Selama ini pengelolaan sumber daya alam Indonesia lebih dominan berorientasi pada: eksplorasi dan eksploitasi. Yang menjadi ukuran sering kali adalah: berapa ton hasil tambang diperoleh, berapa besar investasi masuk, berapa tinggi keuntungan dihasilkan. Tetapi pertanyaan moralnya sering tertinggal: sebesar apa rakyat menikmati manfaatnya? Dalam banyak kasus, pengelolaan sumber daya alam tampak lebih dominan menguntungkan: segelintir elit politik dan bisnis, dibanding masyarakat luas. Sementara rakyat di sekitar lokasi sering kali hanya menerima residu persoalan. Padahal sumber daya alam bukan milik kelompok tertentu. Sumber daya alam adalah milik bangsa Indonesia. Pembukaan UUD 1945: Negara untuk Keadilan Sosial Para pendiri bangsa sesungguhnya telah meletakkan fondasi moral yang sangat kuat. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa negara Indonesia dibentuk untuk: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…” Kemudian ditegaskan lagi tujuan besarnya: “mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Kalimat ini bukan sekadar formalitas konstitusi. Ini adalah visi besar bangsa Indonesia. Artinya: Negara tidak boleh dikelola untuk kepentingan segelintir kelompok. Ekonomi tidak boleh hanya dinikmati elit. Kekayaan alam tidak boleh berhenti di tangan pemilik modal semata. Karena tujuan akhirnya adalah: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pasal 33 UUD 1945: Jalan Konstitusional Pengelolaan SDA Jika Pembukaan UUD memberi arah moral, maka Pasal 33 memberi arah operasional. Pasal 33 menegaskan: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Kalimat ini mengandung makna yang sangat revolusioner. Bahwa: 1. Sumber Daya Alam adalah Amanah Bukan objek eksploitasi tanpa batas. Alam adalah titipan yang harus dijaga. Dalam perspektif Islam, manusia adalah: khalifah fil ardh (pengelola bumi) Bukan penghancur bumi. Karena itu, pengelolaan SDA harus menjaga keseimbangan: ekonomi — sosial — lingkungan. 2. Kemakmuran Rakyat adalah Tujuan Keberhasilan pengelolaan tambang tidak boleh hanya dilihat dari laba. Tetapi harus menjawab: Apakah rakyat sekitar lebih sejahtera? Apakah pendidikan meningkat? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah kualitas kesehatan membaik? Apakah kemiskinan berkurang? 3. Lingkungan Adalah Investasi Peradaban Kemajuan ekonomi tidak boleh meninggalkan kehancuran ekologis. Karena bumi bukan warisan nenek moyang. Tetapi titipan anak cucu. Muhammadiyah: Organisasi yang Terbiasa Menjawab Tantangan Zaman Kalau membaca sejarah Muhammadiyah selama lebih dari satu abad, kita akan menemukan satu karakter besar: Muhammadiyah selalu hadir sebagai solusi. Ketika pendidikan modern sulit diakses, Muhammadiyah membangun sekolah. Ketika layanan kesehatan terbatas, Muhammadiyah mendirikan rumah sakit. Ketika umat membutuhkan media dakwah, lahirlah Suara Muhammadiyah. Ketika umat membutuhkan tata kelola zakat modern, Muhammadiyah memelopori kelembagaannya. Ketika umat memerlukan kepastian kalender global, Muhammadiyah menghadirkan: KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) Artinya: Muhammadiyah punya DNA: DNA pembaharu. DNA pelopor. DNA pemberi solusi. Kini Sejarah Bertanya kepada Muhammadiyah Hari ini sejarah seperti mengetuk pintu Muhammadiyah: “Kalau kalian diberi kesempatan mengelola sumber daya alam, apa yang akan kalian lakukan?” Apakah akan mengikuti pola lama? Ataukah berani menghadirkan model baru? Model pengelolaan yang: ✔ ramah lingkungan ✔ berpihak pada rakyat ✔ transparan ✔ profesional ✔ berbasis ilmu pengetahuan ✔ menghadirkan manfaat jangka panjang Muhammadiyah punya kesempatan menjadi: Uswah hasanah dalam tata kelola sumber daya alam Indonesia. Pekerjaan Rumah Internal Persyarikatan Tetapi kita juga harus jujur membaca rumah sendiri. Karena keteladanan harus dimulai dari keberanian menghadapi kenyataan. 1. Kesejahteraan Guru Muhammadiyah Masih banyak guru: TK/ABA Muhammadiyah SD Muhammadiyah SMP Muhammadiyah SMA/SMK Muhammadiyah MA Muhammadiyah yang kesejahteraannya masih memprihatinkan. Padahal mereka adalah: penjaga peradaban Muhammadiyah. Mereka mencerdaskan bangsa. Mereka menanamkan akhlak. Mereka membentuk masa depan Indonesia. Maka tidak berlebihan jika pengelolaan SDA Muhammadiyah diarahkan untuk: dana abadi kesejahteraan guru Muhammadiyah. 2. Kehidupan Organisasi di Tingkat Ranting dan Cabang Banyak ranting dan cabang Muhammadiyah masih hidup dengan keterbatasan. Masjid belum makmur. Program minim. Gerakan kurang hidup. Pendanaan terbatas. Padahal: ranting adalah akar Muhammadiyah. Cabang adalah mesin gerakan. Jika akar kuat, pohon akan kokoh. Bayangkan jika hasil SDA Muhammadiyah mampu: menghidupkan ranting, membangun usaha produktif, menguatkan kaderisasi, mendukung dakwah lokal Bukankah itu akan menjadi: gerakan kemandirian dakwah? Dari Eksploitasi Menuju Kemaslahatan Muhammadiyah memiliki peluang besar menghadirkan paradigma baru: “Pengelolaan sumber daya alam berbasis kemaslahatan.” Bukan hanya menggali hasil bumi. Tetapi juga: 🌱 menggali kesejahteraan rakyat 🌱 membangun pendidikan 🌱 menghidupkan ranting dan cabang 🌱 meningkatkan kualitas guru 🌱 menjaga lingkungan 🌱 memperkuat dakwah Tambang tidak meninggalkan luka. Tetapi meninggalkan: peradaban. Penutup Momentum ini bukan sekadar peluang. Ini adalah: ujian sejarah Muhammadiyah abad kedua. Ujian apakah Muhammadiyah mampu membuktikan: bahwa Islam Berkemajuan bukan hanya konsep, tetapi sistem nyata yang menghadirkan solusi. Bahwa dakwah tidak hanya berbicara di mimbar. Tetapi hadir di kebijakan, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan keadilan sosial. Dan jika ini berhasil, sejarah akan mencatat: Muhammadiyah bukan hanya pelopor pendidikan dan kesehatan. Tetapi juga: Uswah dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia sesuai amanah UUD 1945 Pasal 33. Menghadirkan solusi. Menunjukkan keteladanan. Menguatkan dakwah. Mewujudkan keadilan sosial.  

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

MASALAH MEMBAWA BERKAH

MASALAH MEMBAWA BERKAH Oleh SiS Antarkita MANUSIA SERING MEMANDANG MASALAH SEBAGAI MUSIBAH Dalam kehidupan, hampir semua manusia punya keinginan yang sama: hidup tenang, nyaman, serba cukup, dan jauh dari masalah. Kalau bisa, semuanya ingin jalan hidup yang lurus tanpa tikungan. Usaha lancar. Keluarga harmonis. Ekonomi aman. Kesehatan terjaga. Hubungan dengan manusia baik-baik saja. Tetapi kenyataannya, hidup tidak pernah seperti itu. Kadang ketika ekonomi mulai membaik, kesehatan justru diuji. Ketika pekerjaan terasa aman, keluarga menghadapi persoalan. Ketika usaha berkembang, muncul orang-orang yang tidak suka. Seolah-olah kehidupan selalu punya cara menghadirkan ujian. Lalu manusia mulai bertanya: “Kenapa hidup saya penuh masalah?” “Kenapa ujian tidak selesai-selesai?” Dan yang lebih menyedihkan, kadang manusia mulai berprasangka buruk kepada Allah SWT. Merasa seolah-olah Allah SWT tidak adil. Padahal masalah tidak selalu berarti musibah. Kadang masalah adalah undangan Allah SWT agar manusia naik kelas kehidupan. Kadang masalah adalah bentuk kasih sayang Allah SWT yang belum dipahami manusia. Karena sering kali manusia baru berubah ketika hidup sedang sulit. Saat semuanya nyaman, manusia mudah terlena. Saat semuanya lancar, manusia mudah lupa siapa pemberi nikmat. Tetapi saat hidup terguncang… Baru manusia sadar betapa kecil dirinya. MASALAH MEMBUAT MANUSIA DEKAT DENGAN ALLOH SWT Mari kita jujur kepada diri sendiri. Saat hidup nyaman, berapa banyak doa yang benar-benar sungguh-sungguh kita panjatkan? Berapa banyak sujud panjang yang dilakukan dengan penuh penghayatan? Berapa banyak air mata yang jatuh karena takut kepada Allah SWT? Tetapi saat masalah datang… Doa menjadi lebih khusyuk. Tahajud mulai rutin. Dzikir mulai diperbanyak. Masjid terasa lebih dekat. Sajadah terasa lebih nyaman. Masalah sering kali menjadi jalan manusia kembali mengenal Tuhannya. Saat ekonomi sempit, manusia mulai yakin bahwa rezeki bukan sekadar hasil kerja keras, tetapi karunia Allah SWT. Saat sakit, manusia sadar bahwa sehat adalah nikmat mahal. Saat kehilangan, manusia sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Karena itu jangan buru-buru membenci masalah. Bisa jadi masalah sedang menarik kita agar lebih dekat kepada Allah SWT. Sebab tidak ada keberkahan terbesar selain hati yang kembali hidup bersama Allah SWT. MASALAH MEMBUAT MANUSIA MENJADI LEBIH KUAT Manusia sering ingin hidup nyaman. Tetapi ironisnya, manusia kuat justru lahir dari ketidaknyamanan. Besi menjadi kuat karena dibakar dan ditempa. Emas menjadi indah karena melalui proses panjang. Begitu pula manusia. Orang yang tidak pernah diuji sering kali rapuh. Sedikit masalah langsung menyerah. Sedikit kritik langsung marah. Sedikit kegagalan langsung kehilangan harapan. Tetapi orang yang terbiasa menghadapi badai biasanya lebih kuat. Lebih tenang. Lebih matang. Lebih bijaksana mengambil keputusan. Karena masalah melatih kesabaran. Masalah melatih mental. Masalah mengajarkan bagaimana bangkit setelah jatuh. Coba lihat orang-orang hebat. Jarang ada yang sukses tanpa luka. Jarang ada yang berhasil tanpa air mata. Jarang ada yang besar tanpa pernah jatuh. Karena kehidupan memang mendidik manusia lewat ujian. MASALAH MEMBUAT MANUSIA LEBIH RENDAH HATI Kadang saat hidup terlalu nyaman, manusia mulai merasa hebat. Merasa sukses karena kemampuan sendiri. Merasa pintar karena ilmunya. Merasa kuat karena relasinya. Lalu tanpa sadar, kesombongan mulai tumbuh. Padahal Allah SWT tidak suka kesombongan. Kemudian masalah datang. Usaha turun. Kesehatan terganggu. Jabatan berubah. Keadaan tidak lagi sama. Dan manusia mulai sadar… Ternyata dirinya lemah. Ternyata selama ini terlalu percaya diri. Ternyata semua yang dimiliki bisa hilang kapan saja. Di situlah masalah sedang mendidik manusia. Agar tidak terlalu tinggi memandang dirinya. Agar kembali rendah hati. Agar sadar bahwa manusia hanyalah mahluk lemah yang selalu membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena kadang manusia baru mau sujud lama ketika hidup sedang dihantam masalah. MASALAH MEMBUKA PINTU REZEKI DAN PELUANG BARU Tidak sedikit orang sukses justru lahir dari masalah. Ada orang kehilangan pekerjaan lalu akhirnya membangun usaha sendiri. Ada orang bangkrut lalu menemukan jalan hidup baru. Ada orang sakit lalu menemukan misi hidup membantu sesama. Kadang Allah SWT menutup satu pintu agar manusia berhenti terlalu nyaman di zona lama. Kemudian Allah SWT membuka pintu baru yang jauh lebih besar. Masalah sering menjadi titik balik kehidupan. Tetapi karena manusia terlalu fokus pada rasa sakitnya, akhirnya gagal melihat peluangnya. Padahal tidak semua kehilangan itu buruk. Kadang kehilangan adalah cara Allah SWT mengosongkan tangan manusia agar siap menerima sesuatu yang lebih baik. MASALAH MEMBUAT MANUSIA BELAJAR BERSYUKUR Lucunya manusia… Saat sehat sering lupa menjaga tubuh. Ketika sakit baru sadar mahalnya kesehatan. Saat masih bersama keluarga sering bertengkar. Ketika kehilangan baru sadar berharganya kebersamaan. Saat punya penghasilan sering merasa kurang. Ketika kehilangan pekerjaan baru sadar nikmatnya penghasilan. Masalah membuka mata manusia. Mengajarkan bahwa banyak nikmat selama ini dianggap biasa. Padahal luar biasa. Karena manusia sering baru menghargai sesuatu setelah kehilangan. Di situlah masalah mengajari manusia arti syukur. MASALAH MEMBUAT MANUSIA BELAJAR SABAR DAN TAWAKAL Semua orang ingin hasil cepat. Ingin doa segera terkabul. Ingin masalah cepat selesai. Tetapi Allah SWT sering kali mendidik manusia melalui proses. Karena kesabaran tidak lahir dalam kenyamanan. Kesabaran lahir saat keadaan tidak sesuai harapan. Tawakal juga tidak lahir saat hidup mudah. Tawakal lahir saat manusia sudah berusaha maksimal lalu tetap percaya kepada keputusan Allah SWT. Masalah mengajarkan manusia untuk berkata: “Ya Allah, saya sudah berusaha. Sekarang saya berserah kepada-Mu.” Dan di situlah hati mulai menemukan ketenangan. Karena tidak semua hal harus kita kontrol. Ada bagian yang memang harus diserahkan kepada Allah SWT. MASALAH ADALAH JALAN NAIK KELAS KEHIDUPAN Dalam sekolah, untuk naik kelas harus ada ujian. Tidak mungkin naik kelas tanpa diuji. Begitu pula kehidupan. Allah SWT sering menaikkan kualitas manusia lewat ujian. Orang yang sabar naik kelas. Orang yang tetap jujur saat sulit naik kelas. Orang yang tetap sholat saat susah naik kelas. Orang yang tetap berbuat baik meski disakiti naik kelas. Kadang manusia mengira masalah adalah hukuman. Padahal bisa jadi itu promosi kehidupan dari Allah SWT. Allah SWT sedang membentuk mental lebih kuat. Iman lebih matang. Hati lebih lapang. Cara berpikir lebih dewasa. Karena manusia yang tidak pernah diuji sering kali tidak tahu kualitas dirinya sendiri. LIHATLAH MASALAH DENGAN CARA PANDANG YANG BERBEDA Mulai hari ini, jangan langsung bertanya: “Kenapa saya diuji?” Tetapi cobalah bertanya: “Pelajaran apa yang Allah SWT ingin saya pahami?” “Hikmah apa yang sedang disiapkan?” “Bagian mana dari diri saya yang harus diperbaiki?” Karena cara pandang menentukan kekuatan hidup. Kalau masalah dilihat sebagai hukuman, hidup terasa berat. […]

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

SPKL Muhammadiyah, Lokomotif Penggerak UMKM

SPKL Muhammadiyah, Lokomotif Penggerak UMKM (Ngobrol Bareng Kyai Khafid Sirotudin di Baturraden) Oleh SiS Antarkita Baturraden, Sabtu malam, 25 April 2026 Udara dingin khas Baturraden mulai menusuk tulang. Kabut tipis turun perlahan. Selepas Isya, kawasan sekitar Masjid Wisata Baturraden masih tampak hidup. Saya sedang mengikuti kegiatan Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Jawa Tengah di kawasan wisata Baturraden. Semua atas kehendak Allah SWT, malam itu saya dipertemukan dengan Khafid Sirotudin. Tidak ada ruang rapat. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada meja konferensi. Kami justru duduk lesehan di trotoar depan masjid wisata, ditemani wedang ronde hangat dan sate kelinci. Saya sempat bercanda dalam hati: “Ini salah satu hikmah beliau tidak jadi pejabat negara, hehehe…” Kalau jadi pejabat mungkin ngobrol harus dijadwalkan dulu. Ada ajudan. Ada protokoler. Ada ruang VIP. Padahal sering kali gagasan besar lahir justru bukan dari hotel berbintang. Tapi dari: warung kopi, pinggir jalan, obrolan santai, dan orang-orang yang sedang memikirkan masa depan umat. Dan malam itu saya merasa sedang menikmati “kuliah ekonomi umat” versi trotoar Baturraden.   OBROLAN RANDOM YANG BIKIN GAYENG 😄 Seperti obrolan orang Indonesia pada umumnya, awalnya tema ngalor-ngidul. Tidak langsung bicara ekonomi. Tidak langsung bicara bisnis. Apalagi bicara kendaraan listrik. Malah pembukanya tema yang bikin sebagian orang Muhammadiyah mungkin senyum-senyum sendiri: poligami. Tema yang kadang terasa sensitif. Jarang dibahas terbuka. Padahal dalam sejarah, praktik itu juga pernah dicontohkan oleh Ahmad Dahlan. Saya kadang berpikir lucu juga. Kalau bicara sekolah Muhammadiyah, semangat. Kalau bicara rumah sakit Muhammadiyah, semangat. Kalau bicara sejarah Kyai Dahlan, semangat. Tapi kalau bicara poligami… Mendadak banyak yang pura-pura batuk 🤭 Di tengah obrolan santai itu, Kyai Khafid bercerita sambil tertawa kecil. “Mas, saya dengar ada ide IPM gaya baru…” Spontan kami penasaran. “IPM gaya baru itu apa, Kyai?” Beliau tersenyum lebar. “Bukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah…” Beliau berhenti sebentar. “Tapi Ikatan Poligami Muhammadiyah…” Kami langsung tertawa pecah. Suasana makin cair. Gayeng. Dan tanpa saya harus bertanya banyak, rasa penasaran saya tentang pandangan beliau terhadap poligami juga terjawab. Beliau bicara terbuka tentang praktik dan sikap hidupnya. Tidak defensif. Tidak menggurui. Santai saja. Saya malah berpikir: Kadang keterbukaan lebih sehat daripada kepura-puraan.   DARI POLIGAMI KE MASA DEPAN EKONOMI UMAT 🚀 Setelah obrolan ringan itu, arah diskusi mulai berubah. Dari urusan rumah tangga menuju urusan ekonomi umat. Tiba-tiba Kyai Khafid membuka tema yang menurut saya sangat menarik: transformasi bisnis akibat kendaraan listrik Beliau menyeruput wedang ronde. Lalu berkata pelan: “Mas, kendaraan listrik itu jangan dilihat cuma kendaraan.” Saya langsung tertarik. “Maksudnya bagaimana, Kyai?” Beliau tersenyum. “Kalau orang cuma melihat motor listrik atau mobil listrik, berarti cara berpikirnya masih level produk.” Beliau berhenti sebentar. Lalu melanjutkan: “Padahal yang sedang berubah itu ekosistem bisnis.” Kalimat itu membuat saya langsung diam. Karena memang benar. Selama ini orang sibuk berdebat: baterai tahan berapa lama, charging cepat atau tidak mobil listrik kuat nanjak atau tidak Padahal ada perubahan yang jauh lebih besar sedang bergerak. struktur ekonomi sedang berubah.   DARI POMPA BENSIN KE KABEL LISTRIK 🔌   Kyai Khafid memberi analogi sederhana. “Mas, dulu orang ke SPBU ngapain?” “Isi bensin.” “Berapa lama?” “Paling tiga menit.” Beliau mengangguk. “Nah selesai. Isi bensin, bayar, pergi.” “Tapi kendaraan listrik?” Beliau tersenyum. “Orang harus nunggu.” Motor listrik mungkin 10–20 menit. Mobil listrik bisa sampai satu jam lebih. Lalu beliau bertanya: “Nah, selama nunggu itu orang ngapain?” Saya spontan menjawab: “Ngopi, makan, buka HP…” Beliau tertawa kecil. “Nah… di situlah ekonomi baru lahir.” Saya mulai paham. Berarti yang berubah bukan sekadar kendaraan. Tapi: perilaku ekonomi manusia.   “MAS, SPKL ITU BUKAN TEMPAT CAS…” ⚡   Ada satu kalimat beliau malam itu yang sangat menancap di kepala saya. “Mas, SPKL itu jangan dilihat cuma charger kendaraan.” “Kalau Muhammadiyah masuk SPKL cuma mikir pasang alat cas…” Beliau tersenyum. “Itu terlalu kecil berpikirnya.” Saya langsung serius. Beliau melanjutkan: “SPKL itu titik ekonomi.” Saya diam. Beliau menjelaskan. Bayangkan satu mobil listrik datang. Cas satu jam. Selama satu jam itu orang pasti melakukan sesuatu. ☕ beli kopi, 🍜 makan, 🛒 belanja kecil, 🕌 shalat, 📱 buka laptop, 📶 kerja online Lalu beliau berkata: “Kerumunan manusia itu ekonomi.” Kalimat sederhana. Tapi dalam sekali. Karena memang dalam dunia bisnis: tempat orang berkumpul = peluang transaksi   MUHAMMADIYAH PUNYA MODAL BESAR   Obrolan makin serius. Kyai Khafid lalu berkata: “Muhammadiyah ini sebenarnya kaya aset.” Saya langsung tertawa kecil. “Kadang yang sadar malah orang luar ya, Kyai…” Beliau ikut tertawa. Lalu mulai menghitung satu per satu. Muhammadiyah punya: ✅ sekolah ✅ kampus ✅ rumah sakit ✅ masjid ✅ tanah strategis ✅ kantor persyarikatan ✅ jamaah besar Lalu beliau bertanya: “Tapi sudah belum semua itu jadi ekosistem ekonomi?” Nah. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan halus. Karena memang selama ini banyak aset berjalan sendiri-sendiri. Padahal kalau dikoneksikan: kekuatan ekonominya bisa luar biasa.   SPKL MUHAMMADIYAH BISA JADI LOKOMOTIF UMKM 🚂   Lalu muncullah ide besar itu. SPKL-MU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah) Beliau menjelaskan dengan antusias. Bayangkan satu SPKL Muhammadiyah dipasang di: rumah sakit Muhammadiyah sekolah Muhammadiyah kampus Muhammadiyah masjid besar Muhammadiyah Lalu kendaraan listrik datang. Cas satu jam. Apa yang terjadi? Orang mulai: ☕ ngopi di UMKM binaan Muhammadiyah 🍛 makan di kantin warga 🛍️ beli produk UMKM 🕌 shalat di masjid 📶 memakai wifi Artinya: SPKL tidak hanya menghasilkan uang dari listrik. Tapi menciptakan: perputaran ekonomi. Dan ekonomi itu bisa dinikmati oleh: warga Muhammadiyah, jamaah, pedagang kecil, UMKM binaan, komunitas lokal Beliau lalu berkata: “SPKL Muhammadiyah itu bisa jadi lokomotif UMKM.” Saya langsung suka istilah itu. Karena memang seperti lokomotif kereta. Saat mesin bergerak: gerbong-gerbong ekonomi ikut berjalan.   BELAJAR DARI VINFAST DAN V-GREEN 🚗⚡ Obrolan lalu masuk pada contoh nyata. Kyai Khafid menjelaskan bagaimana VinFast dan V-Green bergerak cepat. Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka membangun charging station dulu. Battery swap dulu. Kemitraan dulu. Beliau berkata: “Yang kuat itu bukan cuma yang punya produk.” Beliau berhenti sebentar. “Tapi yang menguasai sistem.” Nah. Kalimat ini mahal sekali. Karena sering kali yang paling untung bukan penjual barang. Tapi: pemilik ekosistem.   MOMENTUM HARUS DIAMBIL 🔥 Menjelang malam semakin larut. Kabut makin turun. Wedang ronde tinggal kuahnya. Kyai Khafid lalu berkata pelan: “Perubahan itu nggak nunggu […]

Prespektif, Ruang Kita

Tiap Orang Punya Ujian Hidup Masing-Masing

Tiap Orang Punya Ujian Hidup Masing-Masing Oleh SiS Antarkita Hidup Bukanlah Untuk Selalu Mewujudkan Keinginan Sejak kecil manusia dibiasakan mengejar keinginan. Ingin mainan. Ingin nilai bagus. Ingin pekerjaan mapan. Ingin rumah besar. Ingin dihormati banyak orang. Lalu ketika dewasa, manusia sering mengira bahwa kebahagiaan adalah ketika semua keinginannya terpenuhi. Padahal hidup tidak berjalan seperti daftar belanja yang bisa dipilih sesuka hati. Ada hal-hal yang sudah kita perjuangkan mati-matian tetapi tetap gagal kita miliki. Ada cita-cita yang kandas di tengah jalan. Ada harapan yang hancur tepat di depan mata. Dan di situlah manusia mulai belajar satu hal penting… Bahwa hidup bukanlah tentang bagaimana semua keinginan menjadi kenyataan. Tetapi bagaimana hati tetap mampu bersujud ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Karena sesungguhnya Allah SWT sedang mendidik jiwa manusia. Kalau semua keinginan selalu dipenuhi, bisa jadi manusia akan tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah SWT. Kadang justru kegagalanlah yang membuat manusia kembali mendekat kepada Tuhannya. Kadang justru air mata yang membuat manusia belajar rendah hati. Maka jangan terlalu marah kepada keadaan. Sebab tidak semua yang hilang adalah musibah. Dan tidak semua yang datang adalah keberkahan. Ada hal yang terlihat indah tetapi justru menjerumuskan. Dan ada hal yang terasa pahit tetapi ternyata menyelamatkan kehidupan. Alloh SWT Bukanlah Karyawan Kita Yang Harus Selalu Menuruti Keinginan Kita Sering kali manusia berdoa dengan penuh semangat ketika sedang punya keinginan besar. Namun ketika doa belum terkabul, hati mulai goyah. Mulai bertanya-tanya: “Kenapa Allah SWT belum mengabulkan?” Padahal masalahnya bukan Allah SWT tidak mendengar. Tetapi manusia terlalu memaksakan kehendaknya sendiri. Allah SWT bukan “karyawan” manusia yang harus selalu menuruti semua keinginan kita. Allah SWT adalah Rabb Yang Maha Mengatur seluruh alam semesta. Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Manusia hanya melihat hari ini. Tetapi Allah SWT melihat masa depan. Manusia hanya melihat apa yang menyenangkan dirinya. Tetapi Allah SWT mengetahui apa yang menyelamatkan hidupnya. Betapa banyak orang yang memaksa ingin sesuatu, lalu setelah mendapatkannya justru hidupnya berantakan. Betapa banyak orang menangis karena gagal mendapatkan sesuatu, tetapi beberapa tahun kemudian baru sadar bahwa kegagalan itu ternyata menyelamatkannya. Karena itu jangan paksa Allah SWT mengikuti kemauan kita. Tetapi belajarlah mengikuti kehendak Allah SWT. Doa bukan alat memerintah Tuhan. Doa adalah bentuk penghambaan dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Kadang Allah SWT mengabulkan dengan segera. Kadang Allah SWT menunda. Kadang Allah SWT mengganti dengan yang lebih baik. Dan semua itu pasti mengandung hikmah. Fokuslah dan Bersyukurlah Dengan Nikmat Yang Ada Manusia sering lupa bahwa hidupnya saat ini sebenarnya dipenuhi nikmat. Masalahnya, mata terlalu fokus melihat milik orang lain. Lihat tetangga beli mobil, hati mulai gelisah. Lihat teman sukses bisnis, hati mulai iri. Lihat orang lain terlihat bahagia di media sosial, hidup sendiri terasa paling menderita. Padahal apa yang terlihat belum tentu sesuai kenyataan. Banyak orang terlihat tertawa tetapi diam-diam menangis. Banyak orang terlihat kaya tetapi hidupnya penuh tekanan. Banyak orang terlihat bahagia tetapi hatinya kosong. Karena itu jangan ukur hidup dari penampilan luar manusia. Fokuslah pada nikmat yang Allah SWT sudah titipkan hari ini. Masih bisa bangun pagi adalah nikmat. Masih bisa mendengar suara adzan adalah nikmat. Masih punya tubuh yang sehat adalah nikmat. Masih punya kesempatan memperbaiki hidup adalah nikmat luar biasa. Sayangnya manusia sering baru sadar arti nikmat setelah kehilangan. Saat sehat lupa bersyukur. Ketika sakit baru sadar mahalnya kesehatan. Saat masih bersama keluarga sering bertengkar. Ketika kehilangan baru sadar betapa berharganya kebersamaan. Allah SWT telah mengingatkan: “La in syakartum la aziidannakum wa la in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.” Syukur bukan hanya ucapan di bibir. Syukur adalah cara memandang hidup dengan hati yang penuh penerimaan kepada Allah SWT. Orang yang bersyukur akan menemukan ketenangan meski hidup sederhana. Sedangkan orang yang kufur nikmat akan terus merasa kurang walau hartanya melimpah. Ketika Keinginan Tidak Sesuai Kenyataan Jadikan Itu Sebagai Wasilah Ibadah Kita Tidak semua luka harus berubah menjadi kemarahan. Tidak semua kegagalan harus melahirkan putus asa. Kadang Allah SWT sedang membentuk mental dan iman kita melalui ujian kehidupan. Besi ditempa dengan panas agar menjadi kuat. Begitu pula manusia. Jiwa yang kuat biasanya lahir dari perjalanan hidup yang tidak mudah. Saat hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Mungkin Allah SWT sedang mengajarkan kesabaran. Mungkin Allah SWT sedang membersihkan hati dari kesombongan. Mungkin Allah SWT sedang mengingatkan agar kita tidak terlalu cinta dunia. Karena sering kali manusia baru benar-benar khusyuk berdoa ketika hidupnya berada di titik terendah. Saat semua pintu manusia tertutup, di situlah manusia mulai mengetuk pintu langit. Dan jangan pernah berpikir bahwa air mata kesabaran itu sia-sia. Allah SWT melihat semuanya. Allah SWT tahu perjuangan yang tidak dilihat manusia. Allah SWT tahu luka yang disembunyikan di balik senyuman. Maka jadikan setiap ujian sebagai wasilah ibadah. Saat gagal tetap sholat. Saat kecewa tetap berdzikir. Saat lelah tetap berbuat baik. Karena kemuliaan manusia bukan terletak pada sedikitnya masalah, tetapi pada cara dirinya menghadapi masalah. Fokuslah Pada Produktivitas Dengan Bersandar Sepenuhnya Kepada Allah SWT Banyak orang terlalu lama tenggelam dalam kesedihan sampai lupa melanjutkan kehidupan. Padahal hidup harus terus berjalan. Anak tetap butuh makan. Keluarga tetap membutuhkan perhatian. Masyarakat tetap membutuhkan kontribusi kita. Maka jangan habiskan umur hanya untuk meratapi keadaan. Bangkitlah. Bergeraklah. Berkaryalah. Walaupun perlahan. Walaupun tertatih-tatih. Karena orang yang terus bergerak akan menemukan jalan. Produktivitas adalah bentuk syukur kepada Allah SWT. Tangan yang terus bekerja lebih mulia daripada tangan yang terus mengeluh. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi lemah dan pasrah tanpa usaha. Tawakal bukan berarti diam. Tawakal adalah bekerja maksimal sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT. Petani tetap menanam meski tidak bisa memastikan hujan turun. Nelayan tetap melaut meski ombak tidak selalu bersahabat. Begitulah hidup. Kita hanya bertugas berikhtiar. Soal hasil, Allah SWT yang menentukan. Dan saat hati benar-benar bersandar kepada Allah SWT, maka kegagalan tidak akan mudah menghancurkan semangat hidup. Jangan Tergantung Suasana dan Kondisi Kalau semangat hidup bergantung pada suasana, maka manusia akan mudah rapuh. Saat dipuji semangat bekerja. Saat dicaci langsung berhenti. Saat uang banyak rajin ibadah. Saat ekonomi sulit mulai menyalahkan takdir. Padahal kehidupan memang tidak pernah stabil. Kadang di atas. Kadang di bawah. Kadang ramai teman. Kadang terasa sendirian. Karena itu […]

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Momentum Harus Diambil

Momentum Harus Diambil Oleh SiS Antarkita Baturraden, Sabtu 25 April 2026 Selepas Isya kami bertemu dengan Kyai Khafid Sirotudin, ketua LPUMKM PWM Jawa Tengah. Semua atas kehendak Allah SWT. Kebetulan malam itu saya sedang mengikuti acara Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Jawa Tengah dengan lokasi yang sama, yaitu di kawasan wisata Baturraden. Pertemuan kami tidak di ruang rapat formal. Kami duduk lesehan di trotoar depan Masjid Wisata Baturraden, sambil menikmati wedang ronde dan sate kelinci. Udara dingin khas Baturraden membuat suasana semakin hangat oleh obrolan yang mengalir tanpa protokoler. Ini salah satu hikmah beliau tidak menjadi pejabat negara, hehehe… Sehingga masih bisa bebas ngobrol di mana saja dan kapan saja tanpa jadwal resmi. Tidak ada meja panjang, tidak ada mikrofon, tidak ada notulen. Hanya trotoar, tikar sederhana, dan obrolan yang jujur dari hati ke hati. ☕ Ngobrol santai, tapi tema yang dibahas justru berat: bagaimana umat tidak hanya bertahan, tetapi mampu menangkap peluang perubahan zaman. Obrolan Random yang Bikin Gayeng 😄 Tema yang dibahas malam itu benar-benar random. Dan salah satu tema yang cukup jarang dibahas secara terbuka—bahkan jarang dipraktikan—adalah tema poligami. Padahal secara sejarah, praktik itu pernah dicontohkan oleh Kyai Ahmad Dahlan, namun dalam percakapan sehari-hari seolah menjadi topik yang disimpan di ruang sunyi. Tema poligami menjadi pembuka obrolan yang bikin suasana langsung cair. Kyai Khafid bercerita bahwa beliau mendengar ada gagasan dari seorang sesepuh pimpinan pusat Muhammadiyah yang ingin mendirikan IPM gaya baru. Serentak kami penasaran. “Apa itu IPM gaya baru, Kyai?” Beliau menjawab sambil tertawa: “Bukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah… tapi Ikatan Poligami Muhammadiyah… ha ha ha…” Suasana langsung pecah oleh tawa. Di tengah dinginnya Baturraden, obrolan terasa hangat dan akrab. Dari obrolan ringan itu saya belajar satu hal: bahwa keterbukaan dalam berdiskusi seringkali menjadi pintu masuk menuju kedewasaan berpikir. Dan tanpa bertanya panjang, saya juga mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya terhadap sikap beliau. Beliau menyampaikan dengan terang bahwa pilihan hidup harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekadar wacana. Dari Poligami ke Transformasi Bisnis Setelah obrolan ringan itu, arah diskusi pelan-pelan berubah. Dari tema keluarga, kami masuk ke tema yang jauh lebih strategis: transformasi ekonomi dan perubahan ekosistem bisnis. Tema yang kami bahas adalah tema yang sebelumnya juga sering muncul dalam diskusi-diskusi kami: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik. Perubahan transportasi dari bahan bakar minyak menuju kendaraan listrik bukan sekadar perubahan teknologi. Ini adalah perubahan ekosistem bisnis. Dan setiap perubahan ekosistem selalu melahirkan peluang baru. VinFast: Sinyal Bahwa Perubahan Sudah Datang 🚗⚡ Salah satu contoh nyata perubahan itu adalah langkah besar dari VinFast. Mereka telah meresmikan pabrik kendaraan listrik seluas 171 hektar di Subang pada 15 Desember 2025, dengan investasi awal sekitar Rp 4,8 triliun, dari total rencana investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Mulai April 2026, mereka menargetkan: Produksi 50.000 unit kendaraan per tahun Menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja Membangun rantai industri baru Ini bukan sekadar pembangunan pabrik. Ini adalah tanda bahwa gelombang perubahan sudah tiba di Indonesia. Dan gelombang itu tidak bisa dihentikan. Belajar dari V-Green: Ekosistem Itu Dibangun, Bukan Ditunggu Kami kemudian membahas langkah strategis dari V-Green, bagian dari ekosistem besar Vingroup. Yang menarik bukan hanya produknya. Yang menarik adalah cara berpikirnya. Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka tidak menunggu masyarakat membeli kendaraan listrik. Mereka justru membangun infrastrukturnya lebih dulu. Bayangkan skalanya: 80.000 Battery Swap Station 25.000 Charging Station Ini bukan proyek kecil. Ini adalah strategi besar. Karena mereka memahami satu prinsip penting: Ekosistem itu dibangun, bukan ditunggu. Perubahan Ekosistem Bisnis: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik 🔌 Di sinilah percakapan kami menjadi semakin serius. Dulu: Bisnis energi identik dengan pompa bensin. Ke depan: Bisnis energi akan identik dengan kabel listrik. Dulu: Orang berhenti di SPBU selama 3 menit. Ke depan: Orang berhenti di SPKLU selama 30–90 menit. Perbedaan waktu ini menciptakan peluang ekonomi baru. Karena ketika orang menunggu, maka muncul kebutuhan: makan minum belanja bekerja bersosialisasi Artinya: SPKLU bukan sekadar tempat isi listrik. SPKLU adalah pusat ekonomi baru. Bagaimana dengan Industri Mobil BBM dan Bisnis SPBU BBM? Pertanyaan ini pasti muncul. Apakah mobil BBM akan hilang? Apakah SPBU akan mati? Jawabannya: Tidak hilang. Tapi berubah. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan: Kereta kuda tidak hilang ketika mobil muncul Wartel tidak hilang ketika handphone muncul Toko tidak hilang ketika marketplace muncul Yang berubah adalah bentuk bisnisnya. Begitu juga SPBU. Ke depan, SPBU akan berubah menjadi: SPBU + SPKLU pusat layanan kendaraan pusat ritel dan kuliner rest area modern pusat komunitas Dengan kata lain: yang tidak berubah akan tertinggal. yang mau berubah akan memimpin. Urgensi bagi LP-UMKM: Jangan Hanya Jadi Penonton Di sinilah kami melihat urgensi bagi LP-UMKM Muhammadiyah Jawa Tengah dan DIY. Karena perubahan ini bukan sekadar isu teknologi. Ini adalah isu ekonomi umat. Kalau kita hanya melihat, kita menjadi penonton. Kalau kita masuk, kita menjadi pelaku. Karena sesungguhnya: SPKL bukan sekadar fasilitas. SPKL adalah peluang usaha. SPKL-MU: Infrastruktur sebagai Simpul Ekonomi Baru SPKL sering dilihat sebagai fasilitas teknis tempat mengisi daya kendaraan listrik. Padahal kalau kita lihat lebih dalam, ini adalah: titik ekonomi. Satu SPKL-MU bisa menjadi tempat orang berhenti cukup lama: 10 menit untuk sepeda motor 60–90 menit untuk mobil listrik Dalam waktu itu, kebutuhan ekonomi muncul. Di sekitar SPKL-MU bisa tumbuh: warung makan kedai kopi minimarket bengkel jasa cuci kendaraan ruang istirahat komunitas UMKM Dengan kata lain: SPKL-MU adalah simpul ekonomi baru. Kalau kita mampu masuk ke sektor ini, maka kita tidak hanya menjadi pelaku UMKM. Kita menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi masa depan. Literasi Sejarah: Muhammadiyah Terbiasa Mengambil Risiko Kalau membaca sejarah satu abad Muhammadiyah, kita sebenarnya sudah terbiasa mengambil langkah besar. Kita pernah: Mengoreksi arah kiblat Mendirikan media Suara Muhammadiyah Membangun ribuan sekolah Mendirikan perguruan tinggi Mengembangkan rumah sakit Mengelola zakat dan filantropi Menetapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal Semua itu tidak lahir dari kenyamanan. Semua itu lahir dari keberanian. Artinya: secara kelembagaan, kita punya pengalaman perubahan. Dan benar kata pepatah: pengalaman adalah guru terbaik. Momentum Harus Diambil 🔥 Perubahan sedang terjadi. Mobil listrik sedang masuk. Energi listrik sedang berkembang. Ekosistem bisnis sedang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi: Apakah perubahan ini akan terjadi? Karena perubahan itu sudah terjadi. Pertanyaannya […]

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

MPM PWM Jawa Tengah Selenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026 Regional Banyumas

MPM PWM Jawa Tengah Selenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026 Regional Banyumas Menyiapkan “Kader yang Dirindukan” untuk Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Baturraden, 24 April 2026 Muhammadiyah di abad kedua terus memperluas bidang dakwah yang langsung menyentuh permasalahan rakyat. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi umat. Dalam kerangka tersebut, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menjadi salah satu ujung tombak gerakan dakwah Muhammadiyah yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat serta pengentasan berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat, Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Regional Banyumas Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Minggu, tanggal 24–26 April 2026, dengan pembukaan kegiatan dilaksanakan pada Jum’at, 24 April 2026, pukul 13.30 hingga 17.00 WIB, bertempat di Gedung Eduwisata Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Kabupaten Banyumas. Tantangan Kaderisasi dalam Program Pemberdayaan Dalam sambutannya, Ketua MPM PWM Jawa Tengah, Fathur Rahman, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat saat ini adalah masih terbatasnya jumlah kader yang bersedia terlibat secara aktif dalam kegiatan pemberdayaan. Menurut beliau, hingga saat ini masih cukup sulit menemukan kader Muhammadiyah yang siap terjun langsung dalam program pemberdayaan masyarakat, meskipun kebutuhan pendampingan masyarakat semakin meningkat. Beliau juga mencontohkan bahwa dalam pelaksanaan rapat kerja wilayah MPM Jawa Tengah, tingkat kehadiran peserta masih belum optimal, meskipun pertemuan telah dilaksanakan secara daring (online) yang seharusnya memberikan kemudahan bagi peserta dari berbagai daerah untuk hadir dan berpartisipasi. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bersama bahwa keberhasilan program pemberdayaan masyarakat sangat ditentukan oleh komitmen kader dalam menghadiri kegiatan, mengikuti proses pembelajaran, serta terlibat secara aktif dalam pendampingan masyarakat. Latar Belakang Penyelenggaraan SEKAM 2026 Kurangnya keterlibatan kader dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu latar belakang diselenggarakannya Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai program kaderisasi yang bertujuan menyiapkan kader-kader pemberdayaan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, serta komitmen untuk mendampingi masyarakat secara berkelanjutan. Menurut Fathur Rahman, MPM merupakan misi dakwah yang sangat strategis, karena menyentuh langsung permasalahan kehidupan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bentuk dakwah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat hampir tidak menimbulkan perdebatan khilafiyah, karena persoalan kemiskinan dan kesejahteraan merupakan persoalan universal yang membutuhkan solusi bersama. Pelaksanaan di Lingkungan Eduwisata BBPTUHPT Baturraden Pelaksanaan SEKAM Regional Banyumas Tahun 2026 memiliki keunikan tersendiri karena diselenggarakan tidak di gedung milik Muhammadiyah, melainkan di lingkungan Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden. Pemilihan lokasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual kepada peserta, khususnya dalam memahami potensi sektor riil yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti peternakan, pertanian, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Peserta dari Empat Daerah di Wilayah Banyumas Raya Kegiatan SEKAM 2026 Regional Banyumas diikuti oleh 47 peserta yang berasal dari empat daerah pimpinan Muhammadiyah di wilayah Banyumas Raya, yaitu: Kabupaten Banjarnegara Kabupaten Purbalingga Kabupaten Cilacap Kabupaten Banyumas Para peserta merupakan kader Muhammadiyah yang diharapkan mampu menjadi penggerak program pemberdayaan masyarakat di wilayah masing-masing. Harapan: Lahirnya Kader Pemberdayaan yang Siap Terjun ke Masyarakat Melalui kegiatan SEKAM 2026, MPM PWM Jawa Tengah berharap dapat melahirkan kader-kader pemberdayaan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan pendampingan, serta komitmen untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di akhir sambutannya, Fathur Rahman menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak kekurangan program pemberdayaan masyarakat. Namun, keberhasilan program tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan kader yang siap terjun langsung ke masyarakat. “Muhammadiyah membutuhkan kader yang mau hadir, mau belajar, dan mau bekerja bersama masyarakat,” tegasnya. Kegiatan SEKAM 2026 Regional Banyumas diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting dari dakwah Muhammadiyah di abad kedua.

Kabarkita, Ruang Kita, Uncategorized

Momen Mba Laras

Momen Mba Laras Oleh Bibi Dini Mba Laras, pagi ini Rabu 12 April 2026 telah mencatat satu momen kehidupan baru. Sebuah momen kebahagiaan yang tidak hanya membanggakan, tapi juga sangat mengharukan dalam perjalanan kehidupan Mba Laras. Momen yang akan selalu dikenang, bukan hanya oleh Mba Laras, tapi oleh seluruh keluarga. Menjadi seorang sarjana dengan predikat sangat memuaskan. MasyaAllah… sebuah capaian yang lahir dari perjalanan panjang, dari kesabaran yang tidak singkat, dari perjuangan yang kadang melelahkan, dan dari doa-doa yang terus dipanjatkan tanpa henti. 🎓✨ Hari itu bukan sekadar hari wisuda. Hari itu adalah hari pembuktian. Hari itu adalah hari di mana semua rasa lelah, rasa rindu, dan rasa sabar selama ini seperti menemukan jawabannya. Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu pemandangan yang begitu menyentuh hati. Mamah dan Papah tidak bisa hadir secara langsung di ruangan wisuda. Mereka hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, lewat telekonferensi, dari negeri yang jauh—negeri kincir angin, Belanda. Bayangkan… Di satu sisi, Mba Laras berdiri dengan toga dan senyum bangga. Di sisi lain, Mamah dan Papah duduk di depan layar, menatap penuh haru dari negeri seberang. Mungkin jarak memisahkan raga, tapi tidak pernah memisahkan cinta dan doa orang tua kepada anaknya. Mungkin di sana, di Belanda, Mamah dan Papah menahan air mata. Air mata bahagia. Air mata haru. Karena melihat anaknya yang dulu mereka gendong, yang dulu mereka antar sekolah, hari ini berdiri tegak sebagai seorang sarjana. Alhamdulillah, atas pencapaian Mba Laras hari ini menjadi kebanggaan diri sendiri. Kebanggaan buat Mamah dan Papah yang meski jauh, tetap hadir dengan hati dan doa. Kebanggaan buat Mbah yang mungkin menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa syukur. Dan kebanggaan buat keluarga besar yang ikut merasakan getaran kebahagiaan ini. Terbayar sudah perjuangan selama ini di kota pelajar. Perjuangan menghadapi tugas demi tugas, ujian demi ujian, menghadapi kesepian, menahan rindu keluarga, dan tetap bertahan meski kadang terasa berat. Tidak semua orang tahu cerita di balik keberhasilan ini. Tapi keluarga tahu… dan Allah SWT tentu lebih tahu. Bibi Dini ikut bahagia, ikut bersyukur, dan sangat bangga bisa hadir membersamai momen penting ini. Bisa melihat langsung senyum bahagia Mba Laras. Bisa menyaksikan bagaimana wajah Mamah dan Papah muncul di layar, tersenyum haru dari negeri seberang. Sebuah pemandangan sederhana, tapi begitu menyentuh hati. ❤️ Karena kadang, kebahagiaan itu bukan soal hadir secara fisik. Tapi soal hadir dalam doa, dalam perhatian, dan dalam cinta yang tidak pernah putus. Semoga pencapaian hari ini menjadi tangga pertama untuk mencapai kesuksesan berikutnya. Karena hidup itu seperti perjalanan panjang. Wisuda hari ini adalah satu pemberhentian penting, tapi perjalanan masih terus berlanjut. Semoga ilmu yang sudah didapat menjadi berkah. Menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh. Menjadi cahaya dalam kehidupan. Dan menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dan ada satu harapan yang selalu terucap dalam doa… Semoga tidak lama lagi, Mba Laras bisa segera berkumpul kembali dengan Mba Nanda, Mamah, dan Papah yang selama ini hidup di negeri berbeda. Berkumpul tanpa layar. Tanpa jarak. Tanpa perantara. Hanya pelukan hangat keluarga yang selama ini dirindukan. Karena sejauh apa pun seseorang melangkah, Pada akhirnya, keluarga adalah tempat pulang yang paling menenangkan. Bibi Dini selalu mendoakan buat Mba Laras. Dalam setiap doa, selalu ada harapan agar Mba Laras diberikan kesehatan, kemudahan dalam menata masa depan, rezeki yang baik, dan jalan hidup yang penuh keberkahan. Terus semangat ya, Mba Laras. Terus percaya pada diri sendiri. Terus melangkah dengan keyakinan. Dan jangan pernah berhenti bermimpi. Menjadi kebanggaan diri sendiri. Menjadi kebanggaan Mamah dan Papah, meski dari jauh mereka menyaksikan dengan air mata bahagia. Menjadi kebanggaan Mbah. Dan menjadi kebanggaan keluarga besar. Semoga momen bahagia ini menjadi catatan sejarah yang akan selalu dikenang seumur hidup. Menjadi cerita indah yang kelak akan diceritakan kembali kepada anak cucu. Bahwa pernah ada satu hari yang penuh haru, penuh doa, dan penuh cinta— Hari di mana seorang anak berhasil membahagiakan orang tuanya, meski terpisah oleh jarak ribuan kilometer. Semoga momen bahagia ini bukan hanya menjadi kebahagiaan hari ini, tapi menjadi awal dari kebahagiaan-kebahagiaan berikutnya. Salam hangat penuh cinta dan doa selalu, Dari Bibi Dini.

Kabarkita, Ruang Kita

Terbaik Buat Mba Laras

Terbaik Buat Mba Laras Oleh Bibi Dini Selamat buat Mba Laras. Pagi ini, Rabu 12 April 2026 telah memasuki satu tahap kehidupan baru. Satu fase penting dalam perjalanan hidup yang penuh cerita, penuh perjuangan, dan penuh harapan. Menjadi seorang sarjana dengan predikat sangat memuaskan. MasyaAllah… ini bukan sekadar gelar, bukan sekadar ijazah, tapi bukti dari ketekunan, kesabaran, dan semangat yang tidak pernah padam. Ada hari-hari lelah, ada rasa rindu rumah, ada mungkin air mata yang jatuh diam-diam. Tapi Mba Laras memilih bertahan, memilih terus melangkah. Dan hari ini, semua itu terbayar indah. 🎓✨ Alhamdulillah, atas pencapaian Mba Laras hari ini menjadi kebanggaan diri sendiri. Kebanggaan buat Mamah dan Papah yang selama ini mungkin menahan banyak rasa—menahan khawatir, menahan rindu, tapi selalu menguatkan dengan doa. Kebanggaan buat Mbah yang selalu menyebut nama cucunya dalam setiap doa, berharap suatu hari melihat Mba Laras berdiri tegak membawa kabar bahagia. Dan tentu saja, kebanggaan buat seluruh keluarga besar yang ikut menyaksikan perjalanan ini, meskipun dari jarak yang jauh. Terbayar sudah perjuangan selama ini di kota pelajar. Perjuangan bangun pagi mengejar kuliah, belajar sampai larut malam, menghadapi ujian demi ujian, dan menata harapan di tengah keterbatasan. Tidak semua orang tahu beratnya proses itu, tapi keluarga tahu… dan hari ini keluarga ikut merasakan haru dan bahagianya. Bibi Dini ikut bahagia, ikut bersyukur, dan sangat bangga atas pencapaian Sarjana Mba Laras pagi ini dengan predikat sangat memuaskan. Rasa bahagia ini hangat sekali, seperti melihat anak sendiri berhasil menapaki satu tangga penting dalam hidupnya. Ada rasa haru, ada rasa syukur, dan ada doa yang terus mengalir tanpa henti. 😊 Semoga pencapaian hari ini menjadi tangga pertama untuk mencapai kesuksesan berikutnya. Karena hidup itu seperti menaiki anak tangga—satu langkah sudah dilalui dengan baik, langkah berikutnya tinggal dijalani dengan keyakinan dan semangat. Semoga ilmu yang sudah didapat menjadi berkah, menjadi cahaya dalam kehidupan, dan menjadi bekal untuk menghadapi masa depan yang lebih luas. Semoga Mba Laras menjadi pribadi yang tidak hanya pintar, tapi juga kuat, rendah hati, dan bermanfaat bagi banyak orang. Dan ada satu harapan sederhana dari hati seorang Bibi… Semoga Mba Laras segera bisa cepat berkumpul kembali dengan Mba Nanda, Mamah, dan Papah yang selama ini hidup di negeri berbeda. Karena sejauh apa pun langkah kita pergi, pada akhirnya keluarga adalah tempat pulang yang paling dirindukan. Pelukan keluarga adalah obat paling hangat setelah perjalanan panjang. ❤️ Bibi Dini selalu mendoakan buat Mba Laras. Dalam setiap doa, selalu ada harapan agar Mba Laras diberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan rezeki, dan jalan hidup yang penuh keberkahan. Terus semangat ya, Mba Laras. Jangan takut menghadapi dunia. Jangan ragu melangkah. Karena hari ini sudah membuktikan bahwa Mba Laras adalah pribadi yang mampu berjuang sampai berhasil. Menjadi kebanggaan diri sendiri. Menjadi kebanggaan Mamah dan Papah. Menjadi kebanggaan Mbah. Dan menjadi kebanggaan keluarga besar. Salam hangat penuh cinta dan doa selalu, Dari Bibi Dini.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Ada Masalah Ada Bisnis

Ada Masalah Ada Bisnis Oleh SiS Antarkita Jogjakarta, Kaliurang — Rabu, 22 April 2026 dini hari Pagi tadi, Rabu sekitar pukul 03-an dini hari, kami sekeluarga akhirnya sampai juga di rumah ponakan di jalan raya Kaliurang, Jogjakarta. Perjalanan kurang lebih 6 jam dari Purwokerto terasa panjang. Badan terasa remuk, mata berat, dan pikiran hanya ingin rebahan. Namun begitu mobil berhenti di depan rumah, rasa lelah itu seperti luruh pelan-pelan. Udara Kaliurang yang dingin menusuk kulit, tapi justru membuat pikiran terasa segar. Perjalanan jauh memang melelahkan, tapi tujuan yang jelas selalu menguatkan. Kami membuka gerbang pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Waktu masih sangat dini. Kami tidak ingin mengganggu istirahat mereka. Tapi ternyata, begitu mobil masuk halaman, pintu rumah langsung terbuka. Ponakan kami keluar dengan wajah setengah mengantuk, tapi tetap tersenyum. Kami sempat bertanya dalam hati: Apakah mereka menunggu kami? Atau terbangun karena suara mobil? Ternyata mereka terbangun karena mendengar suara mobil. Sederhana, tapi menyentuh. Karena dalam keluarga, suara kedatangan saja sudah cukup menjadi panggilan untuk bangun. Itulah hangatnya keluarga. Tidak perlu undangan resmi, cukup kehadiran. Kunjungan kami kali ini bukan sekadar silaturahmi. Ada momen spesial yang ingin kami saksikan. Ponakan kami yang satu sudah berkeluarga. Sementara adiknya, hari itu akan diwisuda. Kami transit di rumah ponakan yang sudah berkeluarga, dan ponakan yang wisuda adalah adiknya. Sebuah kebahagiaan keluarga yang sederhana, tapi penuh makna. Karena setiap wisuda bukan hanya tentang gelar. Tapi tentang perjuangan panjang. Tentang orang tua yang menahan lelah. Tentang keluarga yang menahan keinginan demi masa depan anaknya. Di ruang tamu yang sederhana, obrolan keluarga pun mengalir. Pertanyaan-pertanyaan ringan muncul, tapi penuh perhatian: “Bagaimana kabar anak-anak?” “Sehat semua?” “Sekarang kerja di mana?” Obrolan itu terasa hangat, walaupun mata mereka masih berat. Sesekali mereka menguap. Sesekali mengusap mata. Sebenarnya mereka ingin melanjutkan tidur. Tapi rasa hormat kepada tamu membuat mereka tetap menemani. Sebelum mereka benar-benar kembali ke kamar, ada satu cerita yang membuat saya terdiam. Cerita tentang pekerjaan mereka. Tentang sebuah perusahaan rental mobil. Awalnya saya mengira, ini bisnis biasa. Rental mobil seperti kebanyakan. Tapi ternyata tidak. Bisnis ini lahir dari masalah. Masalah yang nyata. Masalah yang dialami banyak orang. Dan dari situlah inspirasi besar muncul. Ketika Masalah Tidak Diselesaikan, Ia Menjadi Keluhan Ketika Masalah Diselesaikan, Ia Menjadi Bisnis Beberapa tahun lalu, ketika transportasi online berkembang pesat, permintaan layanan mobil meningkat sangat tajam. Penumpang banyak. Pesanan tinggi. Kebutuhan besar. Namun di lapangan terjadi satu masalah sederhana: mobilnya tidak cukup. Banyak orang ingin menjadi driver. Banyak orang ingin bekerja. Banyak orang ingin mendapatkan penghasilan. Tapi mereka tidak punya mobil. Harga mobil mahal. Cicilan berat. Risiko besar. Akhirnya peluang ada, tapi tidak bisa dimanfaatkan. Di sinilah perbedaan pola pikir mulai terlihat. Orang biasa melihat masalah lalu mengeluh. Pebisnis melihat masalah lalu berpikir. “Kalau mereka tidak punya mobil, bagaimana kalau mobilnya kita sediakan?” Sederhana. Tapi itulah titik awal lahirnya bisnis. Bisnis Itu Bukan Dimulai dari Modal Tapi Dimulai dari Kepekaan Banyak orang berpikir: kalau mau bisnis harus punya modal besar. Padahal sering kali, bisnis besar justru dimulai dari kepekaan terhadap masalah kecil. Masalah driver tidak punya mobil. Masalah perusahaan kekurangan armada. Masalah penumpang menunggu terlalu lama. Semua masalah itu saling terhubung. Dan di situlah lahir solusi: membuat perusahaan rental mobil khusus untuk driver. Driver tidak perlu membeli mobil. Tidak perlu kredit. Tidak perlu modal besar. Cukup menyewa. Langsung bisa bekerja. Langsung punya penghasilan. Masalah selesai. Peluang terbuka. Inilah yang Disebut Captive Market Bisnis sering gagal bukan karena produknya jelek. Tapi karena pasarnya tidak jelas. Namun dalam bisnis ini, pasarnya sudah pasti. Driver transportasi online. Mereka membutuhkan mobil setiap hari. Mereka membutuhkan kendaraan untuk bekerja. Mereka membutuhkan solusi. Artinya: pasarnya sudah ada sebelum bisnisnya dibuat. Itulah yang disebut captive market — pasar yang sudah siap membeli. Satu Mobil, Banyak Manfaat Di sinilah kecerdasan model bisnis itu terlihat. Mobil disewakan ke driver. Driver membawa penumpang. Penumpang membayar perjalanan. Perusahaan mendapatkan pendapatan dari sewa mobil. Driver mendapatkan penghasilan dari kerja. Platform mendapatkan pendapatan dari layanan. Satu aset, menghasilkan banyak nilai. Dalam dunia usaha, bukan jumlah barang yang menentukan untung. Tapi seberapa optimal barang itu dimanfaatkan. Bisnis Tumbuh dari Data, Bukan Sekadar Perasaan Yang membuat saya semakin kagum adalah satu hal: bisnis ini tidak dibangun dari tebak-tebakan. Bisnis ini dibangun dari pengalaman. Dari data. Dari masalah yang berulang. Awalnya mereka menjalankan bisnis lain. Dari situ terkumpul data. Data menunjukkan kekurangan armada. Kekurangan armada menunjukkan peluang. Lalu lahirlah bisnis baru. Inilah bisnis yang bertumbuh secara alami. Ekosistem Itu Dibangun, Bukan Ditunggu Lama-kelamaan, bisnis ini berkembang. Tidak hanya menyewakan mobil. Mulai muncul layanan lain: Perawatan kendaraan. Manajemen driver. Pengaturan operasional. Penggantian armada. Pengelolaan keuangan. Semua saling terhubung. Semua saling menguatkan. Inilah yang disebut ekosistem bisnis mandiri. Bukan satu usaha berdiri sendiri. Tapi banyak usaha saling menopang. Pelajaran Besar dari Dini Hari di Kaliurang Obrolan singkat di ruang tamu dini hari itu memberi saya satu kesadaran penting. Bahwa peluang bisnis tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia ada di sekitar kita. Ia ada di keluhan orang. Ia ada di keterbatasan orang lain. Masalah adalah bahasa pasar. Keluhan adalah sinyal peluang. Kebutuhan adalah pintu rezeki. Semakin besar masalah yang kita selesaikan, semakin besar nilai bisnis yang kita bangun. Untuk Para Pencari Peluang Kalau hari ini kita merasa hidup penuh masalah, jangan langsung mengeluh. Coba ubah sudut pandang. Tanyakan pada diri sendiri: Masalah ini dialami oleh siapa saja? Masalah ini terjadi berulang atau tidak? Masalah ini bisa diselesaikan dengan cara apa? Kalau jawabannya jelas, di situlah peluang bisnis lahir. Karena sesungguhnya: orang yang sukses bukan orang yang paling pintar, tapi orang yang paling cepat melihat peluang di balik masalah. Penutup Perjalanan dini hari ke Kaliurang itu sederhana. Hanya perjalanan keluarga. Hanya silaturahmi. Hanya menghadiri wisuda. Namun dari perjalanan sederhana itu, muncul pelajaran besar. Bahwa inspirasi bisnis tidak selalu datang dari seminar. Tidak selalu datang dari buku. Tidak selalu datang dari teori. Sering kali, inspirasi terbesar datang dari obrolan ringan, di ruang tamu, di waktu dini hari, bersama keluarga. Dan dari situ saya semakin yakin: Selama masih ada masalah di dunia ini, selama itu pula peluang bisnis tidak akan pernah habis. Karena hukum dunia […]

Prespektif, Uncategorized

*Ibu Rumah Tangga Menapaki Jalan Ilmu* Bincang – bincang Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed dengan alumni Fakultas Hukum Unsoed angkatan 1986 Prof.Dr. Nita Triana, S.H., M.Si. tidak sekadar merekam perjalanan hidup, tetapi menghadirkan sebuah ikhtiar panjang yang sunyi, tekun, dan penuh makna yaitu tentang bagaimana seorang ibu rumah tangga menapaki jalan ilmu hingga mencapai puncak kehormatan akademik sebagai Guru Besar. Kisah ini bermula dari Ciamis, pada tanggal 3 Oktober 1967, ketika Prof. Nita dilahirkan sebagai anak ketiga dari 3 bersaudara pasangan Ibu Hj. Kurnaeni dan Bapak H. Tarmadji. Masa kecil TK hingga remaja SMA dijalani di kota Bogor, sebuah fase pembentukan karakter yang kelak menjadi fondasi keteguhan langkahnya. Perjalanan intelektualnya berlanjut di Fakultas Hukum (FH) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, tempat di mana benih kecintaan terhadap ilmu hukum mulai tumbuh dan berakar. Di tengah perjalanan studi, Prof. Nita memasuki fase kehidupan baru sebagai seorang istri pada tahun 1990, dan setahun kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana S1 FH Unsoed. Kehidupan kemudian membawanya mengikuti jejak suami yang menempuh pendidikan di PAU – ITB Bandung. Di titik ini, peran domestik dan intelektual mulai bertaut dengan melahirkan putra pertama, sekaligus mengawali karier sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda Bogor, sembari melanjutkan Studi Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Langkah hidupnya tidak berhenti di satu tempat. Prof. Nita melintasi batas geografis dan kultural, mendampingi suami (=Prof.Ir.Totok Agung,DH.,MP.,PhD.) saat menempuh studi doktoral di Fukuoka, Jepang. Sebuah fase yang bukan hanya tentang perpindahan ruang, tetapi juga pendewasaan jiwa. Sepulang dari Jepang, dengan ketekunan dan kesetiaan dalam mendampingi suami, Prof. Nita turut mengantarkan perjalanan akademik sang suami hingga meraih puncak sebagai Guru Besar di Unsoed. Selanjutnya, Prof. Nita memilih Purwokerto sebagai ruang pengabdian, demi tetap dekat dengan keluarga, sekaligus menanamkan ilmu di berbagai institusi, di antaranya sebagai dosen Bahasa Jepang di Unsoed, dosen Hukum di Unwiku, dan dosen di UIN Purwokerto. Tahun 2006 menjadi titik penting ketika Prof. Nita resmi menjadi CPNS dosen di STAIN (Universitas Islam Negeri / UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri/ Saizu), Purwokerto. Komitmennya terhadap ilmu tidak pernah surut. Prof. Nita melanjutkan Studi Doktoral di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan kekhususan Hukum Lingkungan, sebuah bidang yang kelak menjadi napas utama dalam karya-karya akademiknya. Sebagai akademisi di UIN Saizu, Purwokerto Prof. Nita tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti, dan mengabdi. Riset-risetnya menyentuh realitas konkret: Penyelesaian Sengketa Lingkungan di Banyumas, Purbalingga, hingga Cilacap. Prof.Nita tidak berhenti pada persoalan Lokal, tetapi melangkah ke Isu Global dengan meneliti energi terbarukan melalui Micro Hydro di Cilongok Banyumas , Pekalongan hingga Malaysia, Selanjutnya juga menjelajahi konsep dan praktek Carbon Pricing di Australia. Dalam sunyi Laboratorium Sosial dan kerasnya lapangan, Prof. Nita merajut ilmu yang berpihak pada keberlanjutan bumi. Dedikasinya juga tercermin dalam berbagai peran akademik: Tercatat dua kali Prof. Nita sebagai penerima Beasiswa Short Course di Leiden University yang didanai oleh DIKTI dan Kementerian Agama. Prof. Nita juga penerima berbagai Hibah Riset, hingga menjadi Reviewer Nasional Litapdimas yang bertugas di berbagai UIN (seperti UIN Bandung, UIN Pekalongan, dan UIN Surakarta). Kemuduan Prof. Nita tercatat beberapa kali sebagai presenter yang di danai Kemenag dalam forum AICIS. Prof. Nita yang juga aktif dalam membimbing mahasiswa, mulai dari S1 hingga S3, serta menjadi Penguji Eksternal Program Doktoral. Namun, perjalanan Prof. Nita menuju Guru Besar (GB) bukanlah jalan yang lurus. Pengajuan GB yang berulang kali ditolak menjadi ujian keteguhan. Bahkan, Prof. Nita sempat berhenti sejenak—bukan berhenti untuk menyerah, melainkan untuk menjalankan peran lain yang tak kalah mulia yaitu mendampingi anak-anaknya menghadapi ujian CPNS dan TNI. Ketika fase itu terlewati, Prof. Nita kembali dengan semangat yang lebih utuh yakni kembali menulis, meneliti, dan menyelami realitas lapangan. Dari ketekunan itulah lahir karya ilmiah berbasis Riset Energi Terbarukan yang ramah lingkungan yang pada akhirnya mengantarkan Prof. Nita meraih gelar Guru Besar dengan judul saat pidato pengukuhan GB nya “Merawat Bumi Menjaga Kehidupan: Penegakan Hukum Lingkungan Untuk Mewujudkan Keadilan Ekologis,” pada tanggal 14 April 2026 di UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Kisah ini menemukan maknanya dalam sebuah refleksi bijak dari Emha Ainun Najib: bahwa terkadang Allah tidak mengabulkan semua yang kita inginkan, agar kita tidak lupa bagaimana cara memohon dan berdo’a. Maka, perjalanan ini bukan sekadar tentang capaian akademik, melainkan tentang kesabaran yang terjaga, do’a yang tak putus, dan keyakinan bahwa setiap langkah—betapapun lambat dan berat—akan menemukan takdir terbaiknya pada waktu yang paling tepat. Prof. Nita seorang Nenek yang bahagia dengan ke 3 cucu laki-lakinya dari 2 menantu dan 4 anaknya.

Scroll to Top