Antarkita

Kabarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Natus Skincare, Waktu yang Akan Membuktikan

Natus Skincare, Waktu yang Akan Membuktikan Pernahkah kita benar-benar memperhatikan apa yang kita konsumsi setiap hari di rumah? Apa yang ada di dapur dan tersaji di meja makan? Apa yang kita gunakan di kamar mandi untuk mandi dan mencuci? Produk kesehatan apa yang kita simpan dan andalkan? Dan produk perawatan kecantikan apa yang rutin kita gunakan? Lalu muncul satu pertanyaan sederhana, tetapi sering terlewat: adakah produk Muhammadiyah di sana? Jika jawabannya belum ada, atau masih sangat sedikit, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bukankah diskusi tentang kedaulatan ekonomi umat Islam sudah berlangsung sangat lama—bahkan mungkin puluhan tahun? Bukankah wacana itu terus kita dengar di forum, kajian, dan ruang-ruang diskusi? Lalu mengapa sampai hari ini, produk yang hadir dalam kehidupan sehari-hari umat masih didominasi oleh produk yang bukan berasal dari umat Islam sendiri? Apakah karena umat tidak mampu?Ataukah karena selama ini kita lebih banyak membicarakan kedaulatan, tetapi belum cukup mengambil peran nyata? Jika kondisi ini terus berlanjut, apa dampaknya ke depan? Ke mana perputaran uang umat akan terus mengalir? Siapa yang akan tumbuh dan menguat dari kebiasaan konsumsi kita? Dan apakah kedaulatan ekonomi itu benar-benar mungkin terwujud jika rumah-rumah kita tidak pernah menjadi ruang hidup bagi produk umat? Di titik inilah Natus Skincare hadir. Bukan sebagai klaim besar, bukan pula sebagai jawaban instan. Natus hadir sebagai ikhtiar nyata—langkah awal agar produk milik Muhammadiyah benar-benar hadir dalam keseharian, khususnya di sektor perawatan kecantikan yang dekat dengan kebutuhan rutin. Bukankah perubahan selalu dimulai dari hal yang paling dekat? Bukankah pasar akan hidup jika ada yang memilih, menggunakan, dan setia membersamai? Bagaimana jika kali ini, kita tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari mata rantai ekonomi itu sendiri? Bagaimana jika kita mengambil peran sebagai stokis atau reseller—ikut memastikan produk ini bertahan, tumbuh, dan dipercaya? Karena pada akhirnya, waktu memang yang akan membuktikan kualitas sebuah produk. Namun waktu hanya akan bekerja jika ada keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk membersamai prosesnya. Kini saatnya mengambil peran. Bagi yang ingin bergabung sebagai stokis atau reseller Natus Skincare, silakan menghubungi: 📞 0851-2262-5529 Biarlah waktu yang membuktikan Natus Skincare. Namun jangan biarkan waktu berjalan tanpa keterlibatan kita. Karena kedaulatan ekonomi umat tidak lahir dari menunggu, melainkan dari keberanian berpihak dan bergerak bersama. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Semoga Jiwa Soedirman Tetap Menyala

Semoga Jiwa Soedirman Tetap Menyala Refleksi Kampus Perjuangan Universitas Jenderal Soedirman untuk Bangsa Indonesia Nama Jenderal Besar Soedirman bukan sekadar penanda sejarah, apalagi sekadar nama lembaga pendidikan tinggi. Ia adalah simbol etika perjuangan, kompas moral kebangsaan, dan teladan kepemimpinan yang lahir dari kesederhanaan, keikhlasan, serta keberanian mempertahankan prinsip dalam situasi paling genting. Karena itu, Universitas Jenderal Soedirman sejatinya memikul tanggung jawab historis dan ideologis yang tidak ringan: menjaga agar jiwa Soedirman tetap hidup, berpikir, dan bertindak di tengah dinamika zaman. Di akhir Desember 2025, kami berdiskusi dengan para senior alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman mengenai kondisi kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana keprihatinan yang mendalam. Bangsa ini memang tidak kekurangan sumber daya, tidak pula kekurangan orang pintar. Namun, yang terasa kian langka adalah keteladanan kepemimpinan. Dari diskusi itu, muncul satu kesimpulan yang jujur sekaligus getir: akar dari carut-marut kehidupan berbangsa hari ini adalah semakin jauhnya para penguasa dari nilai-nilai keteladanan Jenderal Soedirman. Kekuasaan lebih sering dipahami sebagai alat akumulasi kepentingan, bukan amanah pengabdian. Politik kehilangan dimensi etikanya, sementara hukum dan kebijakan publik kerap terasa asing bagi rasa keadilan rakyat. Padahal, literatur sejarah mencatat bahwa Jenderal Soedirman adalah figur yang memadukan kepemimpinan militer, keteguhan moral, dan spiritualitas. Dalam berbagai catatan sejarah—baik dalam buku Panglima Besar Soedirman terbitan Pusat Sejarah TNI maupun kajian sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo—Soedirman digambarkan sebagai pemimpin yang menolak tunduk pada tekanan politik ketika hal itu bertentangan dengan kedaulatan bangsa. Dalam kondisi sakit parah, ia tetap memimpin perang gerilya. Dalam kondisi negara belum stabil, ia tetap menjaga jarak dari ambisi kekuasaan. Soedirman memahami betul bahwa kemerdekaan tanpa moral hanya akan melahirkan penindasan baru. Inilah warisan paling berharga yang sering luput dari ingatan kolektif bangsa. Kesadaran historis inilah yang mendorong kami untuk bersepakat merencanakan sebuah sarasehan reflektif dalam rangka mengenang hari lahir Jenderal Soedirman, 24 Januari. Sarasehan itu diniatkan bukan sebagai seremoni nostalgia, melainkan sebagai ruang dialektika nilai—membaca ulang relevansi Soedirman dalam konteks Indonesia kontemporer: demokrasi prosedural yang kehilangan substansi, pembangunan yang menjauh dari keadilan sosial, dan elite yang kian berjarak dari rakyat. Namun, manusia boleh berencana. Allah SWT-lah yang menentukan. Hingga akhir Januari, rencana sarasehan tersebut belum dapat terlaksana. Akan tetapi, kegagalan menghadirkan forum fisik tidak boleh menjadi alasan padamnya api kesadaran. Justru di sinilah relevansi jiwa Soedirman diuji: apakah nilai perjuangan hanya hidup dalam agenda, atau bersemayam dalam kesadaran? Sejarah mengajarkan bahwa Soedirman tidak pernah menunggu keadaan sempurna untuk berjuang. Ia bergerak dalam keterbatasan, mengambil keputusan dalam ketidakpastian, dan bertahan dalam kesakitan. Maka, meneladani Soedirman hari ini berarti tidak menyerah pada keadaan, tetapi tetap menyalakan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat dalam ruang-ruang yang tersedia—termasuk ruang akademik. Universitas Jenderal Soedirman sebagai kampus perjuangan seharusnya menjadi benteng terakhir nilai-nilai tersebut. Kampus tidak boleh terjebak menjadi sekadar pabrik ijazah atau institusi administratif yang steril dari keberpihakan sosial. Dalam perspektif pendidikan kritis ala Paulo Freire, universitas harus menjadi ruang pembebasan—tempat lahirnya kesadaran kritis (critical consciousness) terhadap ketimpangan dan ketidakadilan. Menjaga jiwa Soedirman tetap menyala di kampus berarti: menegakkan integritas akademik tanpa kompromi, mendorong keberanian berpikir dan bersuara, menolak normalisasi ketidakadilan, serta memastikan ilmu pengetahuan berpihak pada kemaslahatan publik. Nilai-nilai itu bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan mendesak bangsa hari ini. Ketika elite politik kehilangan orientasi etik, maka kampus harus hadir sebagai penjaga nurani publik. Ketika kekuasaan menjauh dari rakyat, maka sivitas akademika harus mendekatkan ilmu pada realitas sosial. Tulisan ini dihadirkan sebagai refleksi kolektif, khususnya bagi sivitas akademika Universitas Jenderal Soedirman, dan lebih luas bagi bangsa Indonesia. Bahwa menghadirkan jiwa Soedirman bukan soal menghafal sejarah, tetapi menghidupkan nilai. Bukan soal memperingati tanggal, tetapi meneladani sikap. Semoga jiwa Soedirman tetap menyala—menyala dalam pikiran, dalam keberanian moral, dan dalam keberpihakan nyata. Menyala di Kampus Perjuangan Universitas Jenderal Soedirman. Menyala untuk Indonesia yang lebih beradab, adil, dan bermartabat. SiS, Antarkita

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Natural Uswatun Hasanah (NATUS): Perawatan Kulit Alami Berbasis Nilai dan Ilmu

Natural Uswatun Hasanah (NATUS): Perawatan Kulit Alami Berbasis Nilai dan Ilmu Natural Uswatun Hasanah atau NATUS merupakan produk skincare milik Aisyiyah Jawa Tengah yang dihadirkan sebagai ikhtiar perawatan kulit yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kesehatan kulit jangka panjang. NATUS tidak lahir sebagai produk instan dengan janji berlebihan, melainkan sebagai rangkaian perawatan kulit yang membantu menjaga dan merawat kulit secara konsisten. Pada tahap awal, NATUS akan hadir dalam tiga jenis produk utama, yaitu Facial Wash, Moisturizer, dan Sunscreen, yang saling melengkapi dalam rutinitas perawatan kulit harian. Facial Wash NATUS: Membersihkan dengan Perawatan Lembut Skintive Bright Facial Cleanser merupakan facial wash yang diformulasikan untuk membersihkan wajah secara menyeluruh serta mengangkat kotoran dan minyak berlebih, sehingga kulit tampak lebih segar dan sehat setiap hari. Diperkaya dengan kandungan terbaik seperti Niacinamide, Papaya Extract, dan Aloe Vera Extract, facial wash ini membantu mencerahkan kulit, menjaga kelembapan, serta memberikan efek menenangkan pada wajah, sehingga aman digunakan untuk kulit sensitif. Moisturizer NATUS: Menjaga Kelembapan dan Ketahanan Kulit Bare Moist Moisturizer merupakan pelembap yang diformulasikan untuk membantu menjaga kelembapan kulit sepanjang hari. Selain melembapkan, moisturizer ini diperkaya dengan 5x Ceramide yang membantu memperkuat skin barrier kulit, sehingga kulit terasa lebih sehat dan terlindungi. Bare Moist Moisturizer juga dilengkapi dengan Cica Complex yang membantu menenangkan kulit serta 12 Berry Complex yang membantu memberikan tampilan kulit yang bercahaya alami setiap hari. Sunscreen NATUS: Perlindungan Harian dari Paparan Lingkungan Natus Sun Protect merupakan hybrid sunscreen yang menggabungkan physical dan chemical sunscreen untuk perlindungan maksimal dari paparan sinar UV. Selain melindungi kulit dari sinar matahari, sunscreen ini juga dilengkapi dengan kandungan anti-pollutant untuk menjaga kulit dari polusi dan paparan blue light, sekaligus melembapkan dan menenangkan kulit, sehingga kulit tetap sehat, nyaman, dan terlindungi sepanjang hari. Edukasi Penggunaan Skincare NATUS menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari produknya. Perlu dipahami bahwa manfaat skincare tidak dapat dirasakan secara instan, melainkan membutuhkan penggunaan rutin dan konsisten dalam hitungan bulan. Produk NATUS: Tidak ditujukan untuk memutihkan kulit Bukan produk obat Tidak mengklaim hasil berlebihan NATUS hadir untuk membantu merawat, menjaga, dan mendukung kesehatan kulit, agar kulit tetap nyaman, terawat, dan sehat secara alami.

Hunian Kita, Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

JSM PROPERTI

JSM PROPERTI Gerakan Ekonomi Muhammadiyah dalam Ikhtiar Membangun Kemandirian Umat Muhammadiyah lahir sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang menempatkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran ritual, tetapi sebagai panduan hidup yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat. Sejak awal, Muhammadiyah menyadari bahwa kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan struktural tidak dapat diselesaikan hanya dengan ceramah, tetapi membutuhkan kerja sosial, pendidikan, dan ekonomi yang terorganisir. Dalam pandangan Muhammadiyah, ekonomi adalah bagian dari dakwah. Ia bukan tujuan akhir, melainkan alat strategis untuk menjaga martabat manusia, memperkuat keluarga, dan membangun peradaban berkemajuan. Karena itu, penguasaan dan pengelolaan sektor-sektor strategis oleh umat menjadi keharusan ideologis, bukan sekadar pilihan pragmatis. Salah satu sektor strategis tersebut adalah perumahan. Program Perumahan Muhammadiyah Banyumas yang telah dilaunching oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas merupakan manifestasi nyata dari kesadaran ideologis tersebut. Perumahan dipahami sebagai kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup, stabilitas sosial, dan keberlangsungan nilai-nilai Islam dalam keluarga. Rumah bukan hanya tempat berlindung, tetapi ruang pembentukan karakter, akhlak, dan masa depan generasi. Namun Muhammadiyah juga menyadari bahwa sebuah program strategis tidak cukup hanya dilahirkan—ia harus dikawal secara sistematis dan dilanjutkan dengan kesungguhan kolektif. Tanpa penguatan di sektor ekonomi, program perumahan berisiko terjebak pada keterbatasan sumber daya, ketergantungan pada pihak luar, atau berhenti di tengah jalan. Di titik inilah peran saudagar Muhammadiyah menjadi keniscayaan ideologis. Saudagar Muhammadiyah bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan kader gerakan yang memikul tanggung jawab sosial dan ideologis. Kekayaan, jaringan, dan keahlian yang dimiliki bukan semata hak personal, tetapi amanah untuk memperkuat Persyarikatan dan memperluas kemanfaatan dakwah. Atas dasar kesadaran tersebut, Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas membentuk sebuah badan pekerja khusus untuk mendukung, mengawal, dan mengembangkan Program Perumahan Muhammadiyah Banyumas. Badan pekerja ini diberi nama JSM Properti. JSM Properti: Dari Bisnis Menuju Gerakan JSM Properti tidak diposisikan sebagai entitas bisnis konvensional yang mengejar akumulasi laba semata. Ia dirancang sebagai instrumen gerakan ekonomi Muhammadiyah yang bekerja dengan prinsip: amanah, profesional, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan. Keuntungan ekonomi ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Sarana untuk: memperkuat kemandirian program perumahan Muhammadiyah, memperluas akses hunian bagi warga, menggerakkan ekonomi umat, serta menopang keberlanjutan amal usaha Persyarikatan. Dengan demikian, JSM Properti menjadi ruang konsolidasi antara nilai dakwah, kekuatan modal, keahlian teknis, dan kebutuhan umat dalam satu tarikan napas gerakan. Ekonomi sebagai Jalan Pembebasan Dalam konteks sosial yang sarat ketimpangan, di mana tanah dan perumahan sering dikuasai oleh segelintir pemodal besar, kehadiran JSM Properti adalah bentuk ikhtiar pembebasan. Muhammadiyah tidak ingin warganya terus menjadi korban sistem, tetapi hadir sebagai pelaku yang mampu menawarkan alternatif yang adil dan bermartabat. JSM Properti bergerak untuk memastikan bahwa: umat tidak sekadar menjadi pembeli, kader tidak hanya menjadi penonton, dan Persyarikatan tidak terus bergantung. Sebaliknya, umat didorong menjadi subjek pembangunan, kader menjadi penggerak, dan Persyarikatan menjadi aktor utama dalam sektor strategis perumahan. Dari Banyumas, Menyemai Peradaban JSM Properti adalah ikhtiar lokal dengan horizon ideologis yang luas. Dari Banyumas, gerakan ini diharapkan melahirkan model perumahan Muhammadiyah yang: realistis, terjangkau, berkelanjutan, dan berpihak pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Model ini bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dibagikan dan direplikasi sebagai bagian dari gerakan ekonomi Muhammadiyah yang lebih luas. Karena bagi Muhammadiyah, membangun rumah berarti membangun keluarga, membangun keluarga berarti membangun masyarakat, dan membangun masyarakat berarti menegakkan peradaban. JSM Properti Bukan sekadar badan pekerja, tetapi ikhtiar ideologis menuju kemandirian umat.

Hunian Kita, Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Cara Benar Bisnis Perumahan: Dari Nol Menuju Solusi Bangsa

Cara Benar Bisnis Perumahan: Dari Nol Menuju Solusi Bangsa Oleh: Marsahid Jaya, SE, M.Si Indonesia sedang menghadapi persoalan struktural yang kerap dibicarakan, tetapi belum sepenuhnya ditangani secara serius: backlog perumahan yang telah melampaui 15,2 juta unit. Angka ini bukan sekadar problem teknis pembangunan, melainkan cerminan ketimpangan akses terhadap hunian layak—salah satu kebutuhan paling mendasar manusia. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi ruang pembentukan karakter keluarga, pusat pendidikan informal, dan fondasi ketahanan sosial bangsa. Di tengah tantangan tersebut, sektor perumahan justru menyimpan peluang besar yang sering luput dilihat secara strategis, khususnya oleh generasi muda. Selama ini, bisnis perumahan kerap dipersepsikan sebagai domain pemain besar bermodal kuat. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, sektor ini sesungguhnya terbuka bagi siapa saja yang memiliki visi, pengetahuan, dan keberanian untuk memulai. Bisnis perumahan tidak boleh dipandang semata sebagai aktivitas ekonomi yang mengejar keuntungan jangka pendek. Ia adalah bagian dari solusi nasional. Setiap unit rumah yang dibangun dan terdistribusi dengan baik berarti mengurangi beban negara, memperkuat stabilitas sosial, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam konteks ini, pelaku bisnis perumahan sejatinya berperan sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar pedagang properti. Namun, peluang besar ini tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa cara yang benar. Banyak kegagalan dalam bisnis perumahan bukan disebabkan oleh minimnya pasar, melainkan oleh kesalahan sejak awal: perencanaan yang lemah, pengabaian aspek legalitas, ketidaktepatan membaca daya beli masyarakat, hingga praktik bisnis yang mengorbankan etika demi keuntungan cepat. Akibatnya, yang muncul bukan solusi, tetapi justru masalah baru—sengketa lahan, proyek mangkrak, dan hilangnya kepercayaan publik. Di sinilah pentingnya perubahan paradigma. Memulai bisnis perumahan dari nol tidak selalu berarti memulai dengan modal besar, tetapi memulai dengan pengetahuan yang cukup dan strategi yang terukur. Pemahaman terhadap regulasi, perizinan, tata ruang, pembiayaan, serta manajemen risiko harus menjadi fondasi utama. Tanpa itu, bisnis perumahan akan rapuh sejak lahir. Generasi muda memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: akses terhadap informasi, teknologi, dan jejaring kolaborasi yang luas. Dengan memanfaatkan inovasi, pendekatan kreatif, serta model bisnis yang adaptif, generasi muda justru berpotensi menjadi motor penggerak baru di sektor perumahan. Mereka bisa hadir dengan konsep hunian terjangkau, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar mengikuti logika spekulasi pasar. Lebih jauh, keberanian generasi muda untuk masuk ke sektor perumahan adalah bentuk tanggung jawab sosial. Selama backlog masih tinggi, negara tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan peran aktif masyarakat, dunia usaha, dan komunitas untuk bersama-sama mengambil bagian. Jika generasi muda memilih hanya menjadi penonton, maka persoalan perumahan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Momentum ini seharusnya tidak disia-siakan. Ketika kebutuhan rumah terus meningkat dan dukungan kebijakan mulai diarahkan pada perumahan rakyat, inilah saat yang tepat untuk memulai—bukan dengan spekulasi, tetapi dengan niat membangun. Bukan dengan jalan pintas, tetapi dengan proses yang benar. Bisnis perumahan yang dijalankan dengan integritas, konsistensi, dan orientasi jangka panjang akan melahirkan dua keuntungan sekaligus: keberlanjutan usaha dan manfaat sosial yang nyata. Pada akhirnya, bisnis perumahan adalah jalan panjang yang menuntut kesabaran dan ketangguhan. Namun di sanalah letak nilainya. Ia bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi tentang membangun harapan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah peluang itu ada, melainkan apakah kita—terutama generasi muda—siap mengambil peran sebagai bagian dari solusi bangsa.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menghadirkan Solusi di Pendidikan Muhammadiyah

Menghadirkan Solusi di Pendidikan Muhammadiyah Menjawab Kesenjangan Gaji Guru melalui Transformasi Aset dan Modal Sosial Persyarikatan Oleh: SiS Antarkita Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pembaruan, bukan sekadar organisasi keagamaan. Sejak awal berdirinya, pendidikan ditempatkan sebagai sarana utama dakwah dan pembebasan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah dibangun bukan hanya untuk mencerdaskan akal, tetapi juga untuk membentuk manusia beriman, berakhlak, dan berdaya. Karena itu, pendidikan Muhammadiyah sesungguhnya adalah proyek peradaban. Namun, lebih dari satu abad setelah berdiri, proyek besar ini masih menyimpan persoalan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi: kesenjangan kesejahteraan guru Muhammadiyah. Di banyak tempat, gaji guru masih berada di bawah standar kelayakan hidup. Kondisi ini berlangsung lama, senyap, dan sering kali dianggap wajar atas nama pengabdian. Guru dan Pengabdian yang Terlalu Lama Dipersempit Guru Muhammadiyah telah lama ditempatkan dalam posisi yang ambigu. Di satu sisi mereka diagungkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, penjaga ideologi Persyarikatan, dan ujung tombak dakwah. Di sisi lain, secara struktural mereka dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tekanan ekonomi. Pengabdian yang seharusnya lahir dari kesadaran ideologis justru berubah menjadi beban struktural. Keikhlasan memang nilai luhur. Tetapi ketika keikhlasan dijadikan alasan untuk menunda keadilan, maka yang terjadi bukan lagi dakwah, melainkan ketimpangan yang dilembagakan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memudarkan militansi, menurunkan kualitas pendidikan, dan menjauhkan generasi muda terbaik dari dunia pendidikan Muhammadiyah. Paradoks Besar: Aset Melimpah, Guru Gelisah Muhammadiyah bukan organisasi kecil. Kekayaan aset Persyarikatan sering disebut luar biasa—bahkan termasuk yang terbesar di antara organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Tanah wakaf, gedung pendidikan, rumah sakit, universitas, dan unit usaha tersebar di hampir seluruh wilayah. Namun persoalannya bukan pada besar-kecilnya aset, melainkan pada arah pemanfaatannya. Banyak aset masih bersifat pasif, administratif, atau dikelola secara sektoral. Aset besar belum sepenuhnya menjelma menjadi alat keadilan sosial, khususnya bagi guru. Akibatnya, beban kesejahteraan guru cenderung dilimpahkan ke sekolah masing-masing, yang secara ekonomi sering kali tidak memiliki kapasitas memadai. Di sinilah terjadi ketimpangan internal yang nyata, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Modal Sosial Muhammadiyah: Kekuatan yang Belum Dikonversi Selain aset material, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat kuat: kepercayaan publik yang tinggi, jaringan struktural hingga tingkat ranting, kader militan lintas profesi, serta nilai ideologis Al-Ma’un yang menekankan keberpihakan pada kaum lemah. Modal sosial ini sesungguhnya adalah energi perubahan. Sayangnya, selama ini lebih banyak berfungsi sebagai kekuatan moral dan simbolik, belum sepenuhnya dikonversi menjadi kekuatan ekonomi struktural. Padahal, dengan modal sosial tersebut, Muhammadiyah memiliki peluang besar membangun sistem pendidikan yang mandiri dan berkeadilan. Solidaritas Persyarikatan tidak cukup berhenti pada slogan ukhuwah. Ia harus hadir dalam bentuk kebijakan kolektif yang terukur dan berkelanjutan. Dari Karitas ke Keadilan Struktural Solusi atas kesenjangan gaji guru Muhammadiyah tidak boleh bersifat insidental. Bantuan sesaat, subsidi sporadis, atau penghimpunan dana darurat hanya menyentuh permukaan masalah. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma dan desain sistem. Pertama, transformasi pengelolaan aset Persyarikatan. Aset wakaf dan amal usaha harus diarahkan menjadi aset produktif yang hasilnya dialokasikan secara jelas dan transparan untuk pendidikan, khususnya kesejahteraan guru. Wakaf produktif, holding amal usaha, dan penguatan BUMM (Badan Usaha Milik Muhammadiyah) perlu diposisikan sebagai penopang pendidikan. Kedua, subsidi silang berbasis Persyarikatan. Sekolah dan amal usaha yang kuat harus menjadi penyangga bagi yang lemah dalam satu sistem kolektif. Ini bukan logika pasar, melainkan logika gerakan. Dalam Persyarikatan, kemajuan satu unit seharusnya menjadi kemajuan bersama. Ketiga, pembangunan Dana Abadi Pendidikan Muhammadiyah. Dana ini dapat dihimpun dari wakaf kader, filantropi umat, surplus amal usaha, dan jejaring mitra strategis. Dana abadi bukan untuk menggaji penuh, tetapi menjamin standar kelayakan minimum guru, sehingga tidak ada lagi guru Muhammadiyah yang hidup di bawah martabat. Keempat, integrasi pendidikan dan ekonomi Persyarikatan. Pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berdiri sendiri, terpisah dari ekosistem ekonomi Persyarikatan. Guru harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia Muhammadiyah, bukan sekadar tenaga kerja murah. Meneguhkan Kembali Spirit Al-Ma’un Spirit Al-Ma’un bukan hanya tentang memberi bantuan kepada kaum miskin di luar Persyarikatan, tetapi juga tentang keadilan internal. Guru Muhammadiyah yang hidup dalam keterbatasan ekonomi adalah bagian dari mustadh’afin struktural yang justru berada di jantung gerakan. Mengabaikan mereka berarti mereduksi Al-Ma’un menjadi simbol, bukan praksis. Penutup: Ujian Moral dan Arah Peradaban Menghadirkan solusi atas kesenjangan gaji guru Muhammadiyah adalah ujian moral Persyarikatan di abad kedua. Muhammadiyah tidak kekurangan aset, tidak kekurangan kader, dan tidak kekurangan legitimasi sosial. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk melakukan reposisi kebijakan. Jika pendidikan adalah jalan peradaban, maka guru adalah penopangnya. Menyejahterakan guru bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan Muhammadiyah. Sudah saatnya pengabdian tidak lagi berjalan sendiri, tetapi diiringi oleh keadilan struktural. Sudah saatnya aset besar tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata. Karena Muhammadiyah yang berkemajuan harus adil kepada umatnya sendiri, dan guru yang sejahtera adalah fondasi peradaban yang berkelanjutan.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

SMP Muhammadiyah Purwojati Luncurkan Website Sekolah pada saat Peringatan Isra’ Mi’raj

SMP Muhammadiyah Purwojati Luncurkan Website Sekolah pada saat Peringatan Isra’ Mi’raj Purwojati–Banyumas || AntaraKita.com ~ SMP Muhammadiyah Purwojati secara resmi meluncurkan website sekolah bertepatan dengan Pengajian Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Senin (26/1/2026). Peluncuran ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam memperkuat transformasi digital dan peningkatan layanan informasi pendidikan. Pengajian berlangsung khidmat dengan menghadirkan Mas Dio Diadon, influencer nasional sekaligus animator serial Adit Sopo Jarwo dan kreator berbagai iklan televisi nasional. Kegiatan diikuti siswa, guru, karyawan, wali murid, serta tamu undangan. Peluncuran website sekolah diresmikan secara simbolis oleh Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto, bersama Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M. Website resmi tersebut diharapkan menjadi pusat informasi sekolah yang transparan, informatif, dan mudah diakses masyarakat. Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto mengapresiasi langkah progresif SMP Muhammadiyah Purwojati dalam mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, kehadiran website merupakan bagian dari dakwah digital Muhammadiyah sekaligus upaya meningkatkan mutu dan keterbukaan layanan pendidikan. “Peluncuran website sekolah ini merupakan langkah progresif dan strategis dalam menjawab tantangan zaman. Ini adalah bagian dari dakwah digital Muhammadiyah sekaligus upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan”, ungkapnya. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M. menegaskan bahwa website resmi sekolah yang memuat profil sekolah, kegiatan siswa, prestasi, serta program unggulan akan menjadi sarana informasi yang cepat, akurat, dan terpercaya bagi peserta didik, orang tua, serta masyarakat. “Website resmi sekolah menjadi komitmen kami untuk memberikan pelayanan informasi yang cepat, akurat, dan terpercaya kepada peserta didik, orang tua, serta masyarakat luas”, ujarnya. Pengajian Isra’ Mi’raj yang diisi Mas Dio Diadon berlangsung penuh antusias. Dalam ceramahnya, ia mengajak para siswa meneladani nilai-nilai Isra’ Mi’raj, menumbuhkan kreativitas, serta berani bermimpi besar di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. “Di era digital, generasi muda harus berani bermimpi besar, kreatif, dan inovatif, namun tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.” Dengan diluncurkannya website resmi ini, SMP Muhammadiyah Purwojati sebagai sekolah berstatus Adiwiyata Nasional menegaskan diri sebagai sekolah Islam yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era digital, sejalan dengan semangat “Sekolah Juara” yang terus dikembangkan (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Satukan Visi Pesantren Muhammadiyah Barlingmascakeb

Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Satukan Visi Pesantren Muhammadiyah Barlingmascakeb Gombong–Kebumen || AntaraKita.com ~ Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah melalui Korwil Karesidenan Banyumas menyelenggarakan Pelatihan Kepengasuhan Pesantren Zero Bullying di Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah (TrenMu) Gombong, Kebumen, Selasa (27/1/2026).   Kegiatan ini diikuti 90 peserta yang merupakan perwakilan Pesantren Muhammadiyah se-Korwil Karesidenan Banyumas meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen (Barlingmascakeb). Setiap pesantren mengirimkan 1 orang mudir dan 2 orang musyrif/musyrifah. Mudir Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah Gombong, Ustadz Heri Pramono, S.Pd., selaku tuan rumah menyampaikan apresiasi atas kepercayaan LPP PWM Jawa Tengah. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan dengan tantangan kepengasuhan pesantren di era modern. “Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying merupakan ikhtiar penting untuk memperkuat komitmen pesantren Muhammadiyah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan berkeadaban bagi santri,” ujarnya. Ia berharap pelatihan ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi melahirkan langkah nyata dan kesepahaman bersama antar-pesantren. “Semoga kegiatan ini menjadi pemantik lahirnya sistem kepengasuhan pesantren yang berkeadilan, humanis, dan berorientasi pada pembinaan karakter santri,” harapnya. Ketua Korwil Karesidenan Banyumas LPP PWM Jawa Tengah, Kyai Arif Fauzi, Lc., M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menghadirkan lingkungan pesantren yang aman secara fisik, psikis, dan sosial. Menurutnya, pesantren bukan hanya ruang transmisi ilmu dan nilai keislaman, tetapi juga wahana pembentukan karakter yang harus bebas dari kekerasan dan perundungan. “Pesantren Zero Bullying bukan sekadar slogan, tetapi sistem kepengasuhan yang sadar, terencana, dan berkelanjutan. Mudir dan musyrif memegang peran strategis dalam membangun budaya pengasuhan yang adil, empatik, dan mendidik,” tegasnya. Materi pelatihan disampaikan dalam dua sesi utama. Sesi pertama bertajuk “Kepemimpinan Kepengasuhan Pesantren Muhammadiyah Menuju Zero Bullying” disampaikan oleh Arif Fauzi, Lc., M.Pd., yang menekankan pentingnya kepemimpinan mudir dalam membangun sistem dan budaya pesantren yang berkeadilan dan berkemajuan. “Kepemimpinan mudir menjadi kunci utama dalam membangun sistem dan budaya pesantren yang adil, berkemajuan, serta bebas dari praktik perundungan,” ujar Arif Fauzi. Sesi kedua disampaikan oleh Rosyid Ahmad Faruq, S.Psi., praktisi pendidikan dan psikolog pesantren, melalui materi “Strategi Psiko-Edukatif dalam Pencegahan dan Penanganan Bullying di Pesantren”. Ia menekankan pentingnya pendekatan psikologis dan edukatif dalam memahami dinamika santri serta merumuskan langkah preventif dan kuratif. “Pencegahan bullying di pesantren membutuhkan pendekatan psiko-edukatif yang menekankan pembinaan, bukan semata hukuman,” jelas Rosyid. Pelatihan berlangsung pukul 08.00–14.30 WIB, diawali registrasi peserta, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, dilanjutkan sambutan dari tuan rumah, LP2 PDM Kebumen, dan Korwil Karesidenan Banyumas. Melalui kegiatan ini, LPP PWM Jawa Tengah berharap terbangun sinergi yang kuat antar-pesantren Muhammadiyah dalam mewujudkan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan berkemajuan, sekaligus menjadi teladan dalam pengelolaan kepengasuhan pesantren di Indonesia (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah

Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah Belajar dari MIT Muhammadiyah adalah anomali yang mengagumkan dalam sejarah Islam modern. Ia bukan negara, bukan korporasi, bukan pula lembaga donor internasional. Namun aset yang dikelolanya—tanah, bangunan, rumah sakit, sekolah, universitas—mencapai skala yang bahkan membuat banyak negara berkembang iri. Dalam banyak kajian, Muhammadiyah disebut sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil terkaya di dunia. Tetapi justru di sinilah paradoks itu bermula. Di balik gedung-gedung megah dan jaringan amal usaha yang luas, masih ada kisah lama yang terus berulang: guru Muhammadiyah bergaji rendah. Kisah tentang pendidik yang hidup sederhana, bahkan kekurangan. Tentang guru yang mengajar dengan idealisme tinggi, namun pulang ke rumah dengan kegelisahan ekonomi. Tentang pengabdian yang panjang, tetapi masa tua yang rapuh. Ini bukan sekadar soal nominal gaji. Ini adalah soal sistem. Masalah Lama yang Tidak Pernah Benar-Benar Diselesaikan Permasalahan gaji guru Muhammadiyah bukan persoalan individual, bukan pula kesalahan kepala sekolah atau pimpinan lokal semata. Ia adalah konsekuensi logis dari model pembiayaan pendidikan yang transaksional. Model ini sederhana: Murid membayar SPP, SPP dipakai untuk menggaji guru, Jika murid sedikit, gaji kecil, Jika ekonomi orang tua terguncang, guru ikut terguncang. Dalam model seperti ini, guru secara tidak langsung “dibayar murid”. Walaupun tidak kasat mata, secara akuntansi itulah yang terjadi. Pendidikan berubah menjadi hubungan ekonomi jangka pendek, bukan misi sosial jangka panjang. Inilah yang membuat pendidikan mudah goyah. Dan inilah yang seharusnya tidak terjadi pada lembaga pendidikan berbasis dakwah seperti Muhammadiyah. MIT: Pendidikan Tanpa Ketergantungan pada Mahasiswa Di belahan dunia lain, MIT berdiri dengan filosofi yang sangat berbeda. MIT adalah universitas yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak membuatnya malas menggalang donasi. Justru sebaliknya, MIT adalah salah satu institusi pendidikan paling agresif dalam fundraising endowment fund. Fakta yang sangat penting dan jarang dibicarakan secara jujur: jika seluruh mahasiswa MIT tidak membayar tuition fee sekalipun, keuangan MIT tetap surplus. Artinya, MIT tidak menjadikan mahasiswa sebagai sumber nafkah institusi. Mahasiswa tidak dibebani tanggung jawab membiayai dosennya. Pendidikan diletakkan sebagai public good, bukan komoditas. Lalu dari mana MIT hidup? Jawabannya adalah endowment fund—dana abadi yang dikumpulkan dari masyarakat, alumni, filantropi, dan korporasi, lalu dikelola secara profesional melalui investing company. Dana ini tidak dihabiskan. Pokoknya dijaga. Hasilnya dipakai untuk menopang pendidikan lintas generasi. Endowment Fund dan Wakaf: Dua Nama, Satu Hakikat Apa yang disebut endowment fund dalam dunia Barat sejatinya identik dengan wakaf dalam Islam. Bahkan, dalam Islam, wakaf memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih kuat karena bernilai amal jariyah. Ironisnya, justru lembaga pendidikan Islam sering kali gagal menjadikan wakaf sebagai tulang punggung sistem pembiayaan. Wakaf berhenti sebagai simbol kesalehan, bukan instrumen ekonomi strategis. Tanah wakaf dibiarkan pasif. Bangunan wakaf tidak produktif. Tidak ada arus kas yang menopang kesejahteraan guru. Muhammadiyah sesungguhnya memiliki semua prasyarat untuk unggul: kepercayaan publik, jaringan umat, legitimasi teologis, pengalaman mengelola amal usaha. Yang belum dimiliki secara serius adalah paradigma pengelolaan wakaf modern. Investing Company, Bukan Operating Company Pelajaran paling penting dari MIT adalah ini: dana abadi harus dikelola sebagai investing company, bukan operating company. Artinya, lembaga pengelola wakaf tidak sibuk mengelola sekolah, rumah sakit, atau bisnis operasional secara langsung. Tugasnya adalah: menginvestasikan dana secara profesional, menumbuhkan nilai aset, menghasilkan imbal hasil berkelanjutan. Hasil investasi itulah yang kemudian disalurkan ke sekolah dan universitas untuk: menggaji guru secara layak, membiayai riset dan inovasi, menjaga kualitas pendidikan tanpa menaikkan SPP. Dengan model ini, guru tidak lagi bergantung pada jumlah murid. Pendidikan tidak lagi tergantung pada daya beli orang tua. Sistem menjadi stabil, adil, dan berjangka panjang. Mengapa Muhammadiyah Harus Berubah Sekarang Jika perubahan ini terus ditunda, risikonya sangat besar: pendidikan Muhammadiyah akan semakin tertinggal, guru-guru terbaik akan berpindah ke institusi lain, amal usaha pendidikan kehilangan ruh dakwahnya. Sebaliknya, jika Muhammadiyah berani melakukan lompatan struktural: guru menjadi profesi bermartabat, kualitas pendidikan melonjak, kepercayaan publik meningkat, wakaf menjadi solusi nyata, bukan slogan. Ini bukan soal meniru Barat. Ini soal mengambil hikmah. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan, hikmah adalah milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya. Penutup: Dari Keikhlasan Menuju Keadilan Keikhlasan guru Muhammadiyah tidak perlu diragukan. Yang perlu dibenahi adalah sistem agar keikhlasan itu tidak terus-menerus dieksploitasi. Sudah saatnya pendidikan Muhammadiyah keluar dari jebakan transaksional dan masuk ke fase peradaban wakaf. Bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun sistem. Bukan sekadar bertahan, tetapi menyiapkan masa depan. Jika MIT yang sekuler bisa membiayai pendidikannya lintas abad dengan dana abadi, Muhammadiyah seharusnya bisa melakukannya dengan wakaf—dan bahkan lebih bermakna. Di situlah solusi itu berada. Bukan di retorika. Bukan di seminar. Tetapi di keberanian mengubah desain sistem. SiS, Antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi Jika MIT Bisa Surplus Tanpa Uang Kuliah, Bagaimana dengan Muhammadiyah? Massachusetts Institute of Technology (MIT) sering dipersepsikan sebagai universitas superelit, mahal, dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Persepsi ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga menyesatkan jika dilihat dari cara MIT membiayai dirinya sendiri. Di balik reputasinya sebagai kampus teknologi terbaik dunia, MIT justru menyimpan pelajaran sangat penting tentang bagaimana pendidikan seharusnya dibiayai: tidak transaksional, tidak bergantung pada mahasiswa, dan tetap berjiwa sosial. Fakta yang jarang disadari publik adalah ini: seandainya seluruh mahasiswa MIT tidak membayar uang kuliah, keuangan MIT tetap berada dalam kondisi surplus. Pernyataan ini bukan retorika. Ia bisa diverifikasi secara akuntansi. Struktur Keuangan MIT: Angka yang Berbicara Dalam laporan keuangan MIT tahun 2024, total pendapatan institusi mencapai sekitar USD 5,07 miliar. Dari jumlah tersebut, pendapatan dari tuition fee hanya sekitar USD 428 juta, atau kurang lebih 8% dari total pendapatan. Artinya, 92% pendapatan MIT berasal dari sumber non-SPP. Sumber terbesar pendapatan MIT justru berasal dari: Hasil investasi dana abadi (endowment fund) Kontrak riset dan hibah penelitian Donasi filantropi dari alumni dan masyarakat Dana abadi MIT sendiri bernilai sekitar USD 31–32 miliar, yang dikelola secara profesional oleh MIT Investment Management Company (MITIMCO). Hasil investasinya pada tahun 2024 mencapai sekitar USD 1,48 miliar. Angka ini lebih dari tiga kali lipat pendapatan uang kuliah mahasiswa. Di sinilah letak pelajaran kuncinya: MIT tidak hidup dari mahasiswa. Mahasiswa hidup dari MIT. Mengapa MIT yang Sudah Kaya Tetap Menggalang Donasi? Pertanyaan ini sering muncul, dan justru di sinilah kedewasaan institusi terlihat. MIT memahami bahwa endowment fund bukan tabungan yang boleh dihabiskan, melainkan mesin keuangan jangka panjang. Prinsipnya sederhana: pokok dana harus dijaga, hasilnya yang dipakai. Maka, agar mesin ini terus membesar, donasi harus terus mengalir. Ada tiga alasan mendasar mengapa MIT tetap agresif menggalang donasi meski sangat kaya: Pertama, keberlanjutan lintas generasi. MIT tidak hanya memikirkan mahasiswa hari ini, tetapi mahasiswa 30, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Setiap donasi hari ini adalah jaminan akademik bagi generasi masa depan. Kedua, menjaga karakter sosial institusi. Donasi adalah indikator kepercayaan publik. Selama masyarakat masih mau menyumbang, itu berarti MIT masih dipandang sebagai institusi sosial, bukan korporasi bisnis. Begitu donasi berhenti, itu pertanda bahaya: institusi mulai dipersepsikan sebagai entitas komersial. Ketiga, memperluas akses dan kualitas sekaligus. Dengan endowment yang kuat, MIT bisa: memberi beasiswa luas, menarik profesor terbaik dunia, membiayai riset mahal tanpa membebani mahasiswa. MIT Tidak Berbisnis, Tapi Berinvestasi Hal penting lain yang sering luput adalah: MIT memperoleh pendapatan non-SPP bukan dari berbisnis, melainkan dari berinvestasi. Ini perbedaan yang sangat mendasar. MIT tidak membuka pabrik, tidak membuka retail, tidak bersaing di pasar produk. MIT mendirikan investing company, bukan operating company. Artinya, MIT menempatkan dananya sebagai pemilik modal minoritas di perusahaan-perusahaan berkualitas, lalu menikmati hasil pertumbuhan ekonomi tersebut tanpa kehilangan karakter sosialnya sebagai lembaga pendidikan. Inilah yang membuat MIT: tetap akademik, tetap bermoral, dan tetap fokus pada pendidikan dan riset. Lalu, Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah memiliki aset yang luar biasa besar: ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, amal usaha di berbagai sektor. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: berapa persen lembaga pendidikan Muhammadiyah yang benar-benar hidup dari dana abadi? Realitasnya, sebagian besar sekolah dan kampus Muhammadiyah masih sangat bergantung pada SPP dan UKT. Artinya, relasi antara lembaga dan peserta didik masih bersifat transaksional. Murid membayar, layanan diberikan. Ketika murid tidak mampu membayar, institusi terguncang. Padahal, dalam khazanah Islam, Muhammadiyah memiliki instrumen yang setara bahkan lebih mulia dari endowment fund, yaitu wakaf. Wakaf: Endowment Fund dalam Bahasa Iman Apa yang disebut endowment fund di MIT, dalam Islam disebut wakaf produktif. Prinsipnya sama: pokok dijaga, hasil dimanfaatkan, manfaatnya berkelanjutan. Masalahnya bukan pada konsep, tetapi pada manajemen dan tata kelola. Wakaf sering berhenti sebagai: tanah kosong, bangunan pasif, aset mati. Padahal, jika dikelola seperti MIT mengelola endowment-nya, wakaf bisa menjadi: penopang utama pendidikan, sumber beasiswa abadi, penjamin kesejahteraan guru dan dosen, bahkan pensiun tenaga pendidik. Pelajaran Kunci dari MIT untuk Muhammadiyah Ada tiga pelajaran strategis: Pertama, pisahkan pendidikan dari transaksi. Semakin tinggi ketergantungan pada SPP, semakin rendah martabat sosial institusi pendidikan. Kedua, bangun dana abadi sebagai tulang punggung. Bukan sekadar proyek tambahan, tetapi sebagai core strategy. Ketiga, galang wakaf karena misi, bukan karena krisis. MIT menggalang donasi bukan karena kekurangan, tetapi karena visi jangka panjang. Muhammadiyah seharusnya demikian. Penutup: Pertanyaan yang Harus Dijawab MIT memberi kita cermin yang jujur: universitas terbaik dunia justru hidup dari filantropi, bukan dari mahasiswa. Pertanyaannya kini kembali ke kita: Apakah lembaga pendidikan Muhammadiyah ingin tetap terjebak dalam pendidikan transaksional? Ataukah berani melompat menuju pendidikan berbasis dana abadi dan wakaf produktif? Jika MIT yang sekuler saja menjadikan endowment sebagai pilar utama, mengapa institusi Islam justru ragu menjadikan wakaf sebagai fondasi? Belajar dari MIT bukan berarti meniru Barat. Belajar dari MIT adalah mengembalikan pendidikan pada hakikatnya: amal jariyah yang berkelanjutan. SiS, Antarkita.

Scroll to Top