Antarkita

Kabarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Institusi UMKM sebagai Jalan Perubahan: Menguatkan Ragam Usaha Rakyat untuk Kemandirian Ekonomi dan Perluasan Dakwah

Institusi UMKM sebagai Jalan Perubahan: Menguatkan Ragam Usaha Rakyat untuk Kemandirian Ekonomi dan Perluasan Dakwah Oleh SiS, antarkita Setiap gagasan lahir dari kepedulian. Namun kepedulian tanpa kelembagaan sering berhenti sebagai wacana. Di tengah kompleksitas persoalan ekonomi masyarakat, kita membutuhkan lebih dari sekadar semangat—kita membutuhkan institusi yang mampu mengorganisir, menguatkan, dan memastikan keberlanjutan solusi. Dalam konteks ekonomi umat, pembentukan institusi yang fokus pada UMKM menjadi kebutuhan strategis. Bukan untuk menambah struktur semata, tetapi untuk menghadirkan sistem yang bekerja: sistem yang memayungi beragam jenis usaha rakyat agar tumbuh bersama dan saling menguatkan. UMKM: Wajah Nyata Ekonomi Rakyat UMKM bukan entitas tunggal. Ia adalah denyut kehidupan ekonomi sehari-hari. Ia hadir di gang-gang kecil, di pasar tradisional, di rumah-rumah produksi, di lahan pertanian, hingga di ruang digital. Beragam jenis usaha UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat antara lain: 1. Sektor Kuliner Warung makan dan angkringan Pedagang kaki lima Usaha katering rumahan Produsen makanan ringan dan oleh-oleh Minuman herbal, kopi lokal, dan jajanan tradisional 2. Sektor Perdagangan Toko kelontong dan sembako Agen LPG dan air minum isi ulang Reseller online dan dropshipper Pedagang pasar tradisional 3. Sektor Pertanian dan Peternakan Petani padi, sayur, buah Peternak ayam, kambing, sapi Budidaya ikan air tawar Produksi pupuk organik dan hasil olahan pertanian 4. Sektor Jasa Bengkel motor dan mobil Laundry kiloan Jasa jahit dan konveksi kecil Jasa servis elektronik Ojek dan transportasi lokal 5. Sektor Industri Kreatif Pengrajin batik dan tenun Kerajinan kayu dan mebel Souvenir dan produk handmade Desain grafis dan percetakan kecil 6. Sektor Digital dan Teknologi UMKM berbasis marketplace Konten kreator lokal Jasa digital marketing Pengembang aplikasi skala kecil Semua sektor ini lahir dari kebutuhan. Ketika lapangan pekerjaan formal terbatas, masyarakat menciptakan ruang ekonominya sendiri. Keith Hart (1973) menyebut fenomena ini sebagai bagian dari informal economy—bentuk adaptasi rasional masyarakat terhadap keterbatasan sistem formal. Sementara Muhammad Yunus membuktikan bahwa usaha kecil mampu mengangkat keluarga dari kemiskinan ketika didukung akses modal dan pendampingan. Tantangan Nyata yang Dihadapi UMKM Meski perannya besar, UMKM sering berada dalam posisi rentan: Modal terbatas dan sulit mengakses pembiayaan formal Literasi manajemen dan pembukuan yang minim Persaingan dengan ritel modern dan produk impor Akses pasar terbatas Ketergantungan pada lokasi usaha yang rentan penggusuran Tidak terintegrasi dalam kebijakan ekonomi skala besar Bahkan kebijakan publik yang bertujuan baik, seperti program MBG, bisa berdampak pada pelaku usaha kecil jika tidak melibatkan mereka dalam rantai pasoknya. Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) mengingatkan bahwa pembangunan harus memperluas kapabilitas masyarakat. Jika UMKM kehilangan ruang usaha tanpa dukungan sistemik, maka yang tergerus bukan hanya pendapatan, tetapi kebebasan ekonomi. Mengapa Institusi UMKM Sangat Diperlukan? Permasalahan UMKM bukan sekadar persoalan individu, tetapi persoalan sistem. Karena itu, solusi pun harus bersifat kolektif dan terstruktur. Institusi UMKM dapat menjadi: 1. Pusat Konsolidasi Lintas Sektor Menghubungkan petani dengan pedagang, pengrajin dengan pasar digital, produsen dengan distributor dalam satu jaringan terpadu. 2. Inkubator dan Pusat Pelatihan Memberikan edukasi tentang: Manajemen usaha Pembukuan sederhana Sertifikasi halal Pengemasan produk Digitalisasi dan pemasaran online 3. Ekosistem Rantai Pasok Internal Menghubungkan: Petani dengan katering lokal Peternak dengan usaha kuliner Pengrajin dengan jaringan distribusi internal UMKM digital dengan promosi kolektif 4. Penguatan Daya Tawar Dengan terorganisir, UMKM memiliki posisi tawar lebih kuat dalam kemitraan maupun dialog kebijakan. Douglass C. North menegaskan bahwa institusi menciptakan kepastian dan stabilitas dalam interaksi ekonomi. Tanpa institusi, UMKM berjalan sendiri-sendiri. Dengan institusi, mereka menjadi kekuatan ekonomi kolektif. UMKM sebagai Wajah Dakwah yang Membumi Dakwah bukan hanya tentang nilai spiritual, tetapi juga tentang kesejahteraan umat. Ketika ekonomi keluarga kuat, ibadah menjadi lebih tenang, pendidikan anak lebih terjamin, dan solidaritas sosial lebih kokoh. Penguatan UMKM berarti: Mengurangi pengangguran Meningkatkan ketahanan keluarga Mendorong distribusi ekonomi yang lebih adil Menumbuhkan solidaritas antar pelaku usaha Konsep empowerment (Rappaport, 1987) menyatakan bahwa pemberdayaan terjadi ketika individu memiliki kontrol atas sumber daya ekonominya. Institusi UMKM adalah alat pemberdayaan kolektif. Dakwah menjadi nyata ketika ia hadir dalam bentuk solusi ekonomi. Menuju Ekosistem Ekonomi yang Terorganisir Energi masyarakat untuk berusaha sudah besar. Kreativitas melimpah. Potensi tersebar di berbagai sektor. Yang dibutuhkan adalah wadah yang mampu: Mengintegrasikan berbagai jenis usaha Menjaga profesionalisme dan transparansi Mengembangkan pasar bersama Mendorong inovasi dan adaptasi digital Institusi UMKM harus menjadi ekosistem, bukan sekadar nama. Ia harus hidup, bergerak, dan memberi manfaat nyata. Karena pada akhirnya, perubahan tidak lahir dari simpati sesaat, tetapi dari sistem yang konsisten bekerja. UMKM adalah kekuatan rakyat. Institusi adalah penguatnya. Kemandirian ekonomi adalah tujuannya. Dan dakwah yang membumi adalah hasilnya. Ketika berbagai jenis usaha kecil bersatu dalam satu sistem yang terorganisir, maka ekonomi umat akan tumbuh lebih kokoh dan berkelanjutan. Oleh SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Meneropong Secara Objektif Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Antara Visi Besar dan Tantangan Struktural Menuju Solusi Komprehensif

Meneropong Secara Objektif Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Antara Visi Besar dan Tantangan Struktural Menuju Solusi Komprehensif Oleh SiS, antarkita Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis nasional yang digagas pada era pemerintahan Prabowo Subianto sebagai bagian dari agenda besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program ini menargetkan pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah dan kelompok rentan sebagai investasi jangka panjang untuk menekan stunting, meningkatkan kualitas belajar, serta memperkuat daya saing generasi mendatang. Secara konstitusional, kebijakan ini selaras dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 34 yang menegaskan tanggung jawab negara dalam mengembangkan sistem jaminan sosial dan memberdayakan masyarakat lemah. Namun dalam perspektif kebijakan publik modern, sebagaimana dijelaskan oleh ilmuwan kebijakan William N. Dunn, setiap kebijakan memiliki dimensi dampak yang kompleks: manfaat yang direncanakan dan konsekuensi yang tidak sepenuhnya terantisipasi. Oleh karena itu, meneropong MBG secara objektif—melihat sisi positif dan negatif—adalah prasyarat untuk menghadirkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. 🌿 DIMENSI POSITIF: INVESTASI STRATEGIS NEGARA 1️⃣ Perbaikan Status Gizi dan Pencegahan Stunting Indonesia masih menghadapi tantangan stunting dan ketimpangan akses gizi. Intervensi makan sekolah berbasis standar gizi memiliki dasar empiris kuat dalam meningkatkan asupan protein dan kalori anak usia sekolah. Laporan dari World Food Programme menunjukkan bahwa program makan sekolah di berbagai negara berkembang terbukti meningkatkan status gizi, partisipasi sekolah, dan produktivitas jangka panjang. Jika dikelola dengan standar kualitas yang konsisten, MBG berpotensi menjadi instrumen penting dalam memperbaiki kualitas SDM nasional. 2️⃣ Peningkatan Konsentrasi dan Kehadiran Siswa Anak yang lapar sulit berkonsentrasi. Program makan sekolah terbukti meningkatkan kehadiran dan fokus belajar. Efek ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas sistem pendidikan secara keseluruhan. 3️⃣ Potensi Stimulus Ekonomi Lokal Dalam desain ideal, MBG bisa menjadi penggerak ekonomi daerah: Menyerap hasil pertanian lokal Menghidupkan koperasi petani dan peternak Mendorong terbentuknya dapur komunitas berbasis UMKM Jika rantai pasoknya berbasis lokal, maka uang negara berputar di daerah, bukan hanya tersentralisasi pada vendor besar. ⚖️ DIMENSI NEGATIF: REALITAS YANG HARUS DIAKUI Objektivitas menuntut kita mengakui bahwa kebijakan besar hampir selalu membawa efek samping. ⚠️ 1️⃣ Dampak pada Pedagang Kecil Sekitar Sekolah Banyak pedagang jajanan sekolah menggantungkan penghasilan harian pada pembeli siswa. Dengan adanya MBG, konsumsi siswa berpindah ke skema terpusat, sehingga omzet pedagang turun. Menurut data Badan Pusat Statistik, sektor informal menyerap lebih dari 50% tenaga kerja Indonesia. Artinya, dampak kecil di satu sekolah bisa menjadi dampak sistemik jika terjadi secara nasional. Tanpa mitigasi, kebijakan gizi untuk anak bisa berujung pada tekanan ekonomi keluarga pedagang kecil. ⚠️ 2️⃣ Risiko Tata Kelola dan Keamanan Pangan Beberapa laporan media nasional seperti Kompas menyoroti perlunya evaluasi standar keamanan pangan dan distribusi setelah muncul kasus gangguan kesehatan di sejumlah daerah. Program berskala besar membutuhkan: Standar higienitas ketat Pengawasan berkala Sistem audit kualitas Tanpa penguatan tata kelola, niat baik bisa terganggu oleh lemahnya implementasi teknis. ⚠️ 3️⃣ Tekanan Harga dan Rantai Pasok Secara teori ekonomi, lonjakan permintaan serentak terhadap komoditas pangan tertentu berpotensi memicu kenaikan harga apabila pasokan belum siap meningkat secara proporsional. Jika koordinasi dengan petani, distributor, dan pemerintah daerah belum solid, maka: Harga bahan dapur bisa naik Terjadi kelangkaan sementara Beban inflasi pangan meningkat Kondisi ini tidak otomatis terjadi, tetapi sangat mungkin jika tidak diantisipasi. ⚠️ 4️⃣ Beban Fiskal Negara Program skala nasional membutuhkan anggaran sangat besar. Dalam konteks APBN, kebijakan ini harus dijalankan dengan prinsip efisiensi dan tepat sasaran agar tidak membebani ruang fiskal untuk sektor strategis lainnya seperti kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial. 🔍 MENGAPA OBJEKTIVITAS MENJADI KUNCI? Tanpa kejujuran objektif: Masalah kecil bisa terakumulasi Kritik publik bisa membesar Kepercayaan masyarakat menurun Sebaliknya, dengan transparansi dan evaluasi terbuka, kebijakan bisa disempurnakan. Kejujuran bukan bentuk pelemahan, tetapi bentuk penguatan kebijakan. 🌱 SOLUSI KOMPREHENSIF: MENYATUKAN GIZI DAN KEADILAN EKONOMI Agar MBG tidak hanya sukses secara administratif tetapi juga adil secara sosial-ekonomi, diperlukan langkah terstruktur: ✅ 1. Integrasi Pedagang dan UMKM Lokal Libatkan pedagang sekolah sebagai mitra dapur, penyedia bahan, atau distributor. Jangan mematikan ekosistem lama—transformasikan. ✅ 2. Penguatan Produksi Daerah Sinkronisasi dengan koperasi petani dan peternak agar permintaan besar mendorong peningkatan produksi lokal. ✅ 3. Standarisasi dan Audit Berkala Terapkan sertifikasi dapur, pelatihan higienitas, dan sistem pengawasan independen. ✅ 4. Penajaman Sasaran Prioritaskan daerah dengan risiko gizi tinggi agar anggaran lebih efektif. ✅ 5. Transparansi Anggaran Publikasi berkala penggunaan dana untuk menjaga akuntabilitas. ✨ PENUTUP Program MBG adalah kebijakan dengan visi besar dan dampak luas. Ia bisa menjadi lompatan sejarah dalam pembangunan kualitas manusia Indonesia. Namun, kebijakan besar membutuhkan kedewasaan dalam pelaksanaannya. Meneropong secara objektif—positif dan negatif—bukanlah tindakan melemahkan, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan intelektual agar kebijakan ini tidak menyisakan residu masalah sosial-ekonomi di kemudian hari. Solusi komprehensif hanya lahir dari keberanian melihat kenyataan secara utuh. Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memperbaiki kebijakan dengan jujur, bukan menutupinya. — SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Kepemimpinan Amanah sebagai Penentu Arah Perubahan

Kepemimpinan Amanah sebagai Penentu Arah Perubahan Ketika Tanda Tangan Pimpinan Muhammadiyah Dapat Menjadi Jalan Penyelamatan Jutaan Peternak Rakyat Indonesia Oleh SiS, antarkita Kepemimpinan yang amanah bukan sekadar menjaga amanat organisasi, tetapi membaca kebutuhan zaman dan menjawabnya dengan keputusan strategis. Ia tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan berani melangkah, mengusulkan, dan memperjuangkan kebijakan yang berdampak luas bagi umat. Hari ini, umat menanti satu langkah besar itu dari para pimpinan Muhammadiyah. Amanah yang Mengandung Tanggung Jawab Sosial Muhammadiyah sejak kelahirannya telah menempatkan agama sebagai kekuatan pembebas dan pemberdaya. Spirit Al-Ma’un telah melahirkan sekolah, rumah sakit, lembaga sosial, dan gerakan pemberdayaan ekonomi. Namun tantangan umat terus berkembang. Di desa-desa, jutaan peternak kambing dan domba rakyat menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan: Harga ternak fluktuatif dan sering anjlok pasca musim kurban Biaya pakan meningkat Modal terbatas Akses pasar tidak langsung Posisi tawar lemah terhadap tengkulak Bagi peternak kecil, satu kali salah momentum penjualan bisa berarti kerugian besar. Mereka bertahan dengan margin tipis dan ketidakpastian tahunan. Di sisi lain, setiap tahun ada potensi besar dari pelaksanaan DAM Haji jama’ah Indonesia. Jumlah jama’ah yang besar berarti kebutuhan hewan DAM yang besar pula. Potensi ini bersifat rutin, terjadwal, dan bisa diproyeksikan. Pertanyaannya: apakah potensi ini bisa didesain untuk memperkuat peternak rakyat? Sebuah Usulan Strategis yang Menentukan Jika para pimpinan Muhammadiyah secara resmi mengusulkan kepada kementerian yang membidangi penyelenggaraan haji—seperti Kementerian Agama Republik Indonesia—serta pihak terkait lainnya agar program DAM Haji dapat dilaksanakan di daerah asal jama’ah, maka langkah tersebut bukan sekadar administratif. Itu adalah sikap strategis. Satu dokumen resmi. Satu rekomendasi organisasi. Satu tanda tangan kolektif pimpinan. Namun dampaknya berpotensi menyelamatkan jutaan peternak rakyat. Karena jika DAM Haji dilaksanakan di daerah asal jama’ah: Permintaan ternak menjadi terjamin setiap tahun Harga lebih stabil karena ada kepastian pasar Peternak dapat merencanakan produksi Perputaran ekonomi tetap berada di desa Ini adalah bentuk konkret keberpihakan. Dampak Ekonomi yang Sistemik Pelaksanaan DAM Haji di dalam negeri tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi menciptakan efek berganda: Stabilisasi Harga Ternak Adanya permintaan rutin akan menjadi penyangga harga di luar musim kurban. Penguatan Rantai Pasok Lokal Industri pakan, transportasi, rumah potong hewan, hingga distribusi daging ikut bergerak. Peningkatan Populasi dan Kualitas Ternak Peternak terdorong meningkatkan produksi karena ada kepastian pembeli. Perputaran Dana di Ekonomi Desa Dana DAM tidak berhenti sebagai transaksi sesaat, tetapi menjadi stimulus ekonomi rakyat. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, permintaan yang stabil adalah fondasi keberlanjutan sektor riil. Tanpa kepastian pasar, pelaku usaha kecil cenderung stagnan. DAM Haji dapat menjadi instrumen stabilisasi itu—jika ada keberanian mengusulkannya secara formal. Kepemimpinan Amanah adalah Kepemimpinan yang Visioner Kepemimpinan amanah bukan hanya menjaga yang sudah ada, tetapi menciptakan sistem yang lebih adil. Ia memadukan nilai ibadah dengan strategi ekonomi. Mengusulkan pelaksanaan DAM Haji di daerah asal jama’ah bukanlah tindakan politis. Ini adalah tindakan moral dan visioner: Mengintegrasikan ibadah dan pemberdayaan Menguatkan ekonomi umat dari bawah Menjadikan Muhammadiyah pelopor model ekonomi berbasis keumatan Langkah ini juga sejalan dengan misi dakwah yang membumi—dakwah yang menyentuh dapur dan kandang rakyat kecil. Warisan Sejarah Kepemimpinan Setiap generasi kepemimpinan memiliki momentum bersejarahnya. Ada keputusan yang mungkin terlihat administratif hari ini, tetapi kelak dikenang sebagai titik balik perubahan. Tanda tangan para pimpinan Muhammadiyah untuk mengusulkan program DAM Haji di daerah asal jama’ah dapat menjadi warisan kepemimpinan yang dikenang: Karena ia menyelamatkan jutaan peternak rakyat Karena ia menggerakkan ekonomi desa Karena ia membuktikan bahwa agama dan keadilan sosial berjalan beriringan Di balik setiap kandang sederhana di pelosok negeri, ada keluarga yang berharap harga ternaknya tidak jatuh lagi. Ada anak yang menunggu biaya sekolah. Ada ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul. Kepemimpinan yang amanah hadir untuk menjawab harapan itu. Dan mungkin, sejarah sedang menunggu keberanian para pimpinan Muhammadiyah untuk menorehkan satu langkah strategis demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Mengkonversikan Energi Besar dan Positif Menjadi Solusi Nyata: Dari Ledakan Informasi Menuju Gerakan Transformatif

Mengkonversikan Energi Besar dan Positif Menjadi Solusi Nyata: Dari Ledakan Informasi Menuju Gerakan Transformatif Oleh SiS, antarkita Kita hidup dalam era yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai era informasi atau bahkan era hiper-konektivitas. Perkembangan teknologi digital, internet, dan media sosial telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan bertindak. Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996) menyebut lahirnya “network society”—masyarakat jejaring—di mana arus informasi menjadi kekuatan utama yang membentuk struktur sosial, ekonomi, dan politik. Informasi bergerak melampaui batas geografis dan institusional, menciptakan ruang publik baru yang sangat cair dan dinamis. Dalam konteks ini, jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang penyebaran pengetahuan. Batasan struktur organisasi pun tidak lagi sepenuhnya mampu membendung aliran gagasan. Setiap orang memiliki kesempatan yang relatif setara untuk menyampaikan opini, aspirasi, dan kritik. Dunia digital telah mendemokratisasi ruang ekspresi. Anthony Giddens dalam The Consequences of Modernity (1990) menegaskan bahwa modernitas ditandai oleh “time-space distanciation”—terlepasnya interaksi sosial dari batas ruang dan waktu. Inilah yang kita alami hari ini: diskusi di satu kota dapat mempengaruhi kebijakan di kota lain; opini di satu platform dapat membentuk persepsi publik secara luas. Energi intelektual yang lahir dari ruang digital ini sungguh besar. Setiap hari lahir tulisan, video, diskusi, analisis, bahkan perdebatan tajam. Tidak sedikit kader dan simpatisan Muhammadiyah yang aktif menyuarakan gagasan pembaruan, kritik kebijakan, serta refleksi keummatan di berbagai platform. Secara teoritik, ini adalah modal sosial yang luar biasa. Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menekankan pentingnya social capital—jejaring, kepercayaan, dan partisipasi—sebagai fondasi keberhasilan gerakan sosial. Dunia digital sebenarnya menyediakan peluang besar untuk memperkuat modal sosial tersebut melalui konektivitas dan kolaborasi. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena yang oleh banyak akademisi disebut sebagai slacktivism—aktivisme dangkal yang berhenti pada simbol dan ekspresi digital tanpa tindak lanjut nyata. Evgeny Morozov dalam The Net Delusion (2011) mengingatkan bahwa internet dapat menciptakan ilusi partisipasi: orang merasa telah berkontribusi hanya dengan menyukai, membagikan, atau berkomentar, padahal perubahan nyata membutuhkan kerja struktural dan berkelanjutan. Di sinilah paradoks itu muncul. Energi besar berputar di ruang digital, tetapi persoalan nyata di lapangan sering tetap berjalan tanpa solusi signifikan. Perdebatan berlangsung intens, tetapi implementasi berjalan lambat. Narasi berkembang cepat, tetapi aksi terhambat oleh koordinasi, sistem, dan komitmen. Padahal Muhammadiyah sejak awal berdirinya oleh Ahmad Dahlan tidak dibangun sebagai gerakan wacana semata. Ia adalah gerakan aksi. Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial adalah bukti konkret bahwa gagasan tauhid dan tajdid diterjemahkan menjadi pelayanan nyata. Spirit itulah yang seharusnya menjadi inspirasi dalam menghadapi era digital. Tugas kader Muhammadiyah hari ini bukan sekadar memperbanyak wacana, melainkan mengkonversikan energi besar tersebut menjadi solusi nyata. Konversi di sini berarti transformasi—dari diskusi menjadi desain program, dari kritik menjadi rekomendasi kebijakan, dari aspirasi menjadi gerakan kolektif. Secara konseptual, proses ini dapat dipahami melalui teori knowledge-to-action (Graham et al., 2006) yang menjelaskan bahwa pengetahuan hanya berdampak jika diterjemahkan melalui siklus implementasi: identifikasi masalah, adaptasi solusi, uji coba, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Tanpa siklus ini, pengetahuan berhenti sebagai informasi, bukan transformasi. Dalam konteks gerakan, energi digital harus diarahkan pada beberapa langkah strategis: Pertama, kurasi isu. Tidak semua isu viral adalah isu prioritas. Dibutuhkan literasi kritis untuk memilah mana persoalan struktural dan mana sekadar sensasi. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970) menekankan pentingnya kesadaran kritis (critical consciousness) agar masyarakat tidak terjebak pada realitas semu. Kedua, institusionalisasi gagasan. Ide-ide yang baik perlu masuk dalam mekanisme organisasi agar dapat dieksekusi secara sistematis. Muhammadiyah sebagai organisasi modern memiliki struktur, majelis, dan lembaga yang bisa menjadi kanal implementasi. Ketiga, kolaborasi lintas jejaring. Dunia digital memudahkan sinergi lintas wilayah dan disiplin. Energi individu harus dihimpun menjadi kekuatan kolektif. Dalam teori gerakan sosial (Charles Tilly, 2004), keberhasilan gerakan sangat ditentukan oleh kapasitas organisasi dan koordinasi sumber daya. Keempat, budaya eksekusi. Perubahan sosial membutuhkan konsistensi. James Clear dalam Atomic Habits (2018) menegaskan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dalam konteks gerakan, konsistensi implementasi lebih penting daripada gemuruh awal. Muhammadiyah memiliki modal historis untuk melakukan konversi ini. Tradisi amal usaha menunjukkan bahwa gagasan tidak berhenti di forum, tetapi diwujudkan dalam sistem pelayanan umat. Tantangannya adalah bagaimana energi digital hari ini mempercepat, memperluas, dan memperdalam dampak tersebut. Jika energi besar hanya berputar dalam ruang perdebatan, maka ia akan menguap menjadi kelelahan kolektif. Tetapi jika diarahkan dengan visi, sistem, dan disiplin gerakan, ia akan menjadi bahan bakar transformasi. Pada akhirnya, zaman ini tidak hanya membutuhkan kecerdasan retorika, tetapi kecerdasan implementasi. Tidak hanya membutuhkan opini, tetapi kerja nyata yang terukur dampaknya. Mengkonversikan energi besar dan positif berarti menjadikan teknologi sebagai akselerator dakwah dan pemberdayaan—bukan sekadar panggung argumentasi. Sebagaimana warisan pembaruan Ahmad Dahlan, gerakan sejati selalu menghubungkan iman dengan aksi, ilmu dengan amal, gagasan dengan pelayanan. Maka tugas kader Muhammadiyah hari ini adalah menjembatani dunia digital dan dunia nyata—mengubah arus informasi menjadi arus solusi. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan pada ramainya perdebatan, melainkan pada hadirnya manfaat yang dirasakan umat. Dan di situlah energi besar menemukan makna sejatinya: menjadi solusi nyata bagi kehidupan.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Mengurai Jalan Menuju Kedaulatan Ekosistem Bisnis Beras

Mengurai Jalan Menuju Kedaulatan Ekosistem Bisnis Beras Sosialisasi MPM dan Jaringan Tani Muhammadiyah Jawa Tengah di Banyumas Banyumas, 16 Februari 2026 – Upaya membangun kedaulatan ekonomi umat melalui sektor pangan kembali ditegaskan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) bersama Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam) Jawa Tengah dalam kegiatan Sosialisasi Membangun Ekosistem Bisnis Beras yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026, pukul 08.00–11.00 WIB di Aula Abu Dardiri PDM Banyumas. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam merumuskan langkah konkret menuju integrasi produksi dan konsumsi beras berbasis jaringan Muhammadiyah. Potensi Besar yang Belum Terintegrasi Dalam paparannya, Ketua MPM Jawa Tengah, Ir. Fathur Rahman, menyampaikan bahwa Muhammadiyah secara struktur memiliki potensi pasar internal yang sangat besar. “Muhammadiyah memiliki jaringan amal usaha dari tingkat TK hingga perguruan tinggi, rumah sakit, pesantren, panti asuhan, hingga lembaga filantropi seperti Lazismu yang secara rutin membutuhkan suplai beras dalam kegiatan sosialnya. Secara teori, ini adalah ekosistem yang sangat ideal. Namun hari ini kita masih berada pada tataran konsep. Tantangan kita adalah menjadikannya sebagai sistem yang berjalan,” ungkapnya. Beliau menegaskan bahwa nilai ekonomi dari kebutuhan beras di lingkungan Muhammadiyah bukanlah angka kecil. Jika kebutuhan tersebut dapat disinergikan dengan produksi petani Muhammadiyah, maka akan tercipta efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi pemberdayaan ekonomi umat. Tantangan di Sektor Hilir Indonesia sering dijuluki sebagai negara agraris dengan kemampuan teknis pertanian yang tidak diragukan lagi. Produksi benih unggul, ketersediaan pupuk, serta teknik budidaya terus berkembang. Tani Muhammadiyah pun memiliki kapasitas teknis yang memadai dalam proses produksi. Namun persoalan utama bukan berada di hulu, melainkan di sektor hilir. Petani kerap menghadapi: Ketidakpastian daya serap hasil panen Fluktuasi harga yang tajam Ketergantungan pada tengkulak atau distributor besar Lemahnya posisi tawar dalam rantai distribusi Kondisi tersebut menyebabkan petani berada dalam situasi yang rentan, meskipun produksi berjalan dengan baik. Melalui pembangunan ekosistem bisnis beras, MPM dan Jatam berupaya menjawab persoalan ini dengan membangun sistem terintegrasi dari produksi hingga distribusi dan pasar internal. Membangun Sistem, Bukan Sekadar Program Ekosistem bisnis beras yang dirancang mencakup beberapa tahapan strategis: Penguatan kapasitas produksi petani Muhammadiyah Standarisasi kualitas dan pengemasan Pengelolaan pasca panen dan penggilingan Sistem distribusi berbasis jaringan Komitmen pasar internal Muhammadiyah Konsep ini menempatkan amal usaha Muhammadiyah bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai bagian dari sistem pemberdayaan. Ir. Fathur Rahman menekankan bahwa membangun kedaulatan ekosistem bisnis beras bukan hanya tugas MPM atau Jatam semata. “Ini adalah pekerjaan kolektif. Jika institusi dan jamaah Muhammadiyah memiliki kesadaran untuk menjadi bagian dari sistem ini, maka kita sedang membangun kemandirian ekonomi umat secara nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya. Dampak Strategis bagi Ekonomi Umat Jika terimplementasi dengan baik, ekosistem bisnis beras Muhammadiyah berpotensi: Memberikan kepastian pasar bagi petani Menstabilkan harga dan menjaga kualitas Menjamin suplai beras yang sehat dan ekonomis bagi amal usaha Memperkuat perputaran ekonomi di lingkungan internal Muhammadiyah Menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis organisasi Lebih jauh, inisiatif ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengembangkan ekosistem bisnis lainnya seperti hortikultura, peternakan, dan sektor pangan strategis lainnya. Harapan dan Langkah Ke Depan Sosialisasi ini menjadi titik awal konsolidasi gagasan menuju implementasi nyata di tingkat daerah. Harapannya, Banyumas dan wilayah lain dapat menjadi percontohan integrasi ekosistem bisnis beras Muhammadiyah di Jawa Tengah. Karena kedaulatan ekonomi tidak lahir dari potensi semata, tetapi dari keberanian membangun sistem, komitmen kolektif, dan konsistensi gerakan. Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, Muhammadiyah didorong untuk melangkah dari teori menuju praktik, dari konsep menuju kemandirian, dan dari potensi menuju kedaulatan. SiS, antarkita

Kabarkita, Ruang Kita

Pildamas Season 2 AMM Banyumas Perkuat Estafet Dakwah Muhammadiyah

Pildamas Season 2 AMM Banyumas Perkuat Estafet Dakwah Muhammadiyah Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com ~ Semangat dakwah generasi muda kembali bergelora melalui ajang Pemilihan Dai Muda Banyumas (Pildamas) Season 2 yang digelar Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Banyumas berkolaborasi dengan Satelit TV Purwokerto. Kegiatan yang berlangsung di Aula SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto pada 15–16 Februari 2026 ini menjadi panggung aktualisasi pelajar dalam mengasah kapasitas dakwah di tengah derasnya arus informasi digital. Mengusung tema “Mencetak Generasi Dai yang Berakhlakul Karimah, Cerdas, dan Kreatif di Era Digital”, audisi diikuti 63 peserta dari lima kabupaten: Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Brebes. Antusiasme yang meluas ini menunjukkan bahwa semangat berdakwah di kalangan pelajar semakin menguat di era digital.   Ketua Panitia Penyelenggara, Rizky Z Nisa, menegaskan bahwa Pildamas Season 2 bukan sekadar lomba pidato biasa. Fokus utama tahun ini adalah membekali dai muda agar mampu menyampaikan pesan agama yang menyejukkan namun tetap inovatif secara konten. “Kami tidak hanya mencari sosok yang pandai berorasi, tetapi generasi yang memiliki akhlakul karimah sebagai fondasi, kecerdasan dalam memahami teks agama, serta kreativitas untuk mengemas dakwah di platform digital agar relevan dengan audiens masa kini,” ungkapnya.   Ketua Majelis Tabligh PDM Banyumas, KH. M. Sugeng, S.Ag., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Pildamas Season 2 yang dinilainya sebagai langkah strategis dalam menyiapkan kader mubaligh muda Muhammadiyah. “Kami berharap Pildamas ini menjadi ladang kaderisasi dakwah yang serius. Dai muda harus memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, serta komitmen dakwah yang kuat. Di era digital ini, mereka juga harus bijak dalam bermedia dan mampu menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tuturnya. Selama dua hari pelaksanaan, para calon dai muda menampilkan kemampuan terbaiknya, mulai dari penguasaan materi keislaman, retorika public speaking, adab dan etika berdakwah, hingga kreativitas dalam mengemas pesan Islam agar relevan dengan generasi masa kini. Audisi menghadirkan dewan juri yang kompeten di bidangnya. Sesi 1 dinilai oleh Ustadzah Ida Munawaroh dan Ustadz Bayu Subrata. Sesi 2 menghadirkan Ustadz Imam Suyanto, dan Ustadzah Leala Zuhrida. Sementara Sesi 3 dinilai oleh Ustadz Shihab Wicaksono Ardi dan Ustadz Faqih Usman. Para juri menilai aspek substansi materi, teknik penyampaian, penguasaan dalil, adab, serta kemampuan menjawab pertanyaan secara argumentatif dan sistematis. Salah satu dewan juri, Ustadz Ki Dalang Imam Suyanto, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa setelah melalui proses penilaian yang objektif dan musyawarah dewan juri, sebanyak 50 peserta dinyatakan lolos ke babak penyisihan yang akan digelar pada 22–26 Februari 2026 di Aula Abu Daldiri PDM Banyumas. Dari jumlah tersebut, 38 peserta berasal dari Banyumas, 7 dari Banjarnegara, 4 dari Brebes, dan 1 dari Purbalingga. “Setelah melalui proses penilaian yang objektif dan musyawarah dewan juri, kami menetapkan 50 peserta terbaik untuk melanjutkan ke babak berikutnya. Mereka akan bertanding di babak penyisihan pada 22–26 Februari 2026 di Aula Abu Daldiri PDM Banyumas,” jelasnya. Kebanggaan juga dirasakan oleh Pesantren Modern MBS Bumiayu Brebes. Kyai Utsman Arif Fatkha, Lc., M.Pd., selaku Mudir sekaligus Pengasuh Pesantren Modern MBS Bumiayu Brebes, menyampaikan rasa syukur atas lolosnya empat santri MBS Bumiayu pada babak audisi. Ia menegaskan bahwa para santri akan kembali berkompetisi di babak penyisihan dengan persiapan yang lebih prima dan energik. “Alhamdulillah, empat santri kami lolos pada babak audisi. InsyaAllah mereka akan tampil lebih siap, lebih prima, dan lebih energik pada babak penyisihan. Semoga doa, solidaritas, dan kebersamaan kita semua dalam menciptakan kader dan mubaligh unggul, religius, tangguh, mumpuni, serta berkeadaban dalam persyarikatan Muhammadiyah diberikan kemudahan dan mendapat keridhaan dari Allah SWT,” tuturnya. Dukungan dari berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah semakin menegaskan bahwa Pildamas bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan gerakan bersama dalam membangun kaderisasi dakwah yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi dan semangat kaderisasi yang kuat, Pildamas Season 2 menjadi bukti bahwa estafet dakwah terus berjalan, menghadirkan harapan baru bagi masa depan dakwah Islam di wilayah Eks Karesidenan Banyumas dan sekitarnya (Tarqum Aziz-JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

Ramadhan Jadi Momentum Pembiasaan Akhlak Mulia di Rumah dan MTs Muhammadiyah Purwokerto

Ramadhan Jadi Momentum Pembiasaan Akhlak Mulia di Rumah dan MTs Muhammadiyah Purwokerto Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com ~ Sekitar 200 jamaah yang terdiri dari calon wali murid, wali murid, serta tamu undangan menghadiri Tabligh Akbar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H yang digelar oleh MTs Muhammadiyah Purwokerto. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dilaksanakan di halaman sekolah pada Ahad, 16 Februari 2026, dan dimulai sejak pukul 07.30 WIB.   Mengusung tema “Membangun Sekolah sebagai Madrasah Ramadhan, Mencetak Siswa Berprestasi menuju Generasi Muttaqin”, Tabligh Akbar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter siswa yang unggul secara akademik sekaligus kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Dalam sambutannya, Direktur Pesantren Muallimin Muhammadiyah Purwokerto , KH. Amrulloh Sucipto, menyampaikan bahwa warga Muhammadiyah akan memulai puasa Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan sholat Tarawih berjamaah dimulai sehari sebelumnya. Ia menekankan peran strategis Pesantren Muallimin dalam membentuk generasi unggul yang tangguh, berkarakter, dan berkeadaban persyarikatan Muhammadiyah. “Mari kita besarkan bersama pesantren ini agar calon-calon ulama, intelektual, dan aktivis persyarikatan lahir dari Pesantren Muallimin,” ujarnya penuh semangat. Sementara itu, Kepala MTs Muhammadiyah Purwokerto, Neny Martiningsih, M.Pd, menyampaikan bahwa sekolah ini membekali siswa dengan ilmu, agama, dan keterampilan multi talenta melalui berbagai ekstrakurikuler, dan Alhamdulillah, ada 36 siswa yang mengikuti ujian Juz 29 dan Juz 30. “MTs Muhammadiyah Purwokerto berkomitmen membentuk siswa yang cerdas, berprestasi, dan berkarakter melalui pendidikan akademik, agama, dan keterampilan multi talenta. Tahun ajaran 2026/2027, MTs membuka program boarding 25 siswa putra serta menyediakan beasiswa dan potongan biaya bagi pendaftar pada Tabligh Akbar,” ujar Neny.   Dalam kesempatan yang sama, H. Yapin, S.Pd, mewakili Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Banyumas sekaligus selaku Ketua Komite MTs Muhammadiyah Purwokerto mengapresiasi sinergi warga sekolah dan orang tua sehingga Tabligh Akbar Ramadhan 1447 H terselenggara sukses, serta menyerahkan piagam penghargaan bagi siswa yang lulus Juz 29 dan 30. “Keberhasilan Tabligh Akbar ini tidak lepas dari kerja sama dan komitmen seluruh warga MTs Muhammadiyah Purwokerto dan orang tua siswa. Selamat bagi siswa yang telah lulus Juz 29 dan 30,” ujar H. Yapin. Puncak acara diisi dengan tausyiyah inspiratif dari KH. Drs. Ahmad Kifni, selaku penceramah Tabligh Akbar. Dalam tausiyahnya, KH. Kifni mengajak seluruh orang tua memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum pembiasaan akhlak mulia di rumah, selaras dengan pembinaan di sekolah. Ia menekankan bahwa mencetak generasi muttaqin tidak hanya butuh kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual, kedisiplinan ibadah, dan keteladanan orang tua. Pendidikan putra-putri melalui Pesantren Muallimin tingkat MTs dan MA menjadi kunci lahirnya calon ulama, intelektual, dan kader militan yang tangguh, unggul, dan berkemajuan. “Bulan Ramadhan harus dijadikan media untuk menciptakan generasi CEPRET: Cerdas, Berprestasi, dan Bertaqwa,” ujar KH. Ahmad Kifni. Acara dibuka dengan pembacaan serentak Surat Al-Mulk ayat 1-30 oleh delapan siswa, menandai awal kegiatan dengan nuansa religius yang mendalam. Seluruh hadirin kemudian bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya, dipimpin oleh seorang siswi, dilanjutkan Mars Madrasah dan Mars Muhammadiyah Sang Surya oleh paduan suara IPM, menegaskan semangat kebersamaan dan religiusitas. Suasana semakin meriah dengan penampilan Group Kentongan Sang Surya, Tari Saman, serta lantunan shalawat dari Group Hadroh Sang Pencerah yang memperkuat kedisiplinan, kekompakan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Acara yang juga dihadiri oleh kasi Trantib Kelurahan Purwokerto Lor dan PCM-PCA Purwokerto Timur tersebut ditutup dengan ramah tamah antara guru dan wali murid, sekaligus pembagian sembako dan pakaian layak pakai sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan menyambut Ramadhan. Dengan tausyiyah inspiratif, penampilan seni, apresiasi prestasi siswa, dan kegiatan sosial, Tabligh Akbar ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan visi bersama, menegaskan komitmen MTs Muhammadiyah Purwokerto melahirkan generasi berprestasi dengan iman, ilmu, dan akhlak paripurna. (Tarqum Aziz-JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

Dakwah Menggembirakan Warnai Tabligh Akbar PCM Kembaran Tarhib Ramadhan 1447 H

Dakwah Menggembirakan Warnai Tabligh Akbar PCM Kembaran Tarhib Ramadhan 1447 H antarkita.com, Banyumas – Ratusan jamaah dari berbagai desa di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, tumpah ruah memadati Masjid Musthofa al-Hamidi, Ahad (15/2/2026). Mereka menghadiri Tabligh Akbar Selapanan Tarhib Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan PRM Linggasari, PCM Kembaran. Momentum tersebut semakin istimewa karena dirangkai dengan peresmian Masjid Musthofa al-Hamidi serta PKBM Muhammadiyah Cabang Kembaran di Grumbul Sirandu. Sejak pagi hari, arus jamaah terus berdatangan. Saf-saf di ruang utama masjid terisi rapat, serambi hingga halaman dipenuhi lautan manusia. Antusiasme warga Persyarikatan terasa kuat, menandakan denyut dakwah Muhammadiyah di Linggasari terus hidup dan mengakar. Kegiatan diawali dengan jalan sehat mengelilingi Desa Linggasari. Tepat pukul 07.00 WIB, peserta dilepas oleh Ketua PDM Banyumas, KH. Drs. M. Djohar AS. Menempuh jarak sekitar dua kilometer, ratusan warga melangkah penuh semangat meski gerimis tipis menyapa pagi. Hadiah utama sepeda listrik dan berbagai doorprize menambah kemeriahan suasana. Dalam sambutannya, Ketua PRM Linggasari, H. Nursyamsi, M.H. menegaskan bahwa pembangunan masjid dan pendirian PKBM merupakan buah kolaborasi dan gotong royong seluruh elemen Persyarikatan dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kerja bersama dalam satu visi dakwah dan pemberdayaan akan membuahkan hasil besar.   Ketua PCM Kembaran, Ir. H. Sugiyatno, M.M., menyebut tabligh akbar selapanan sebagai momentum silaturahim akbar 11 PRM dan 12 PRA di 15 desa se-Kecamatan Kembaran. Ia menegaskan agenda rutin setiap 35 hari itu adalah ruang strategis untuk konsolidasi dan penguatan gerakan jamaah. Sementara itu, Wakil Ketua PDM Banyumas, Prof. KH. Dr. Muhammad Hizbul Muflihin, M.Pd., mengingatkan agar Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ritual spiritual, tetapi juga momentum melahirkan aksi nyata. Ia mengajak jamaah memperkuat soliditas, membesarkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), memakmurkan masjid, serta membangun kemandirian ekonomi umat. Puncak acara diisi tausiyah KH. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, Ketua LPCR PM PP Muhammadiyah. Ia mengajak jamaah menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat sepanjang waktu. Puasa, tegasnya, adalah jalan pembentukan insan bertakwa untuk meraih ridha Allah Swt. Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan Kalender Islam Global PP Muhammadiyah, puasa 1447 H akan dimulai pada 18 Februari 2026. Jamaah diajak menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan iman, serta menghidupkan dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan. Prosesi peresmian menjadi puncak yang sarat makna. Penarikan tirai dilakukan bersama sebagai simbol dibukanya lembaran baru dakwah dan pemberdayaan umat. Takbir menggema memenuhi ruang masjid, menghadirkan suasana haru dan syukur mendalam atas lahirnya dua amal nyata, rumah ibadah yang siap dimakmurkan dan pusat belajar yang siap mencerdaskan. Tabligh Akbar diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh santri Ma’had Fastabiqul Khoirot, mahasiswa UMP, menghadirkan suasana khusyuk. Semangat kebangsaan terasa saat paduan suara PCA Kembaran membawakan Indonesia Raya, Mars Sang Surya, Mars Aisyiyah, dan lagu “Ranting Itu Penting.” Pengamanan berlangsung tertib berkat kolaborasi KOKAM Suryakusuma Cabang Kembaran dan Banser Kecamatan Kembaran bersama Koramil serta Polsek Kembaran. Sinergi ini menjadi potret kebersamaan dalam menjaga ketertiban dan persatuan. Di Linggasari, Ramadhan 1447 H disambut bukan hanya dengan seruan, tetapi dengan karya nyata. Masjid berdiri kokoh, PKBM siap mencerdaskan, dan jamaah semakin solid dalam kebersamaan, sebuah dakwah yang menggembirakan sekaligus menguatkan (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

MoU UMP dan Kementerian P2MI RI, Dorong Kompetensi dan Legalitas Pekerja Migran

MoU UMP dan Kementerian P2MI RI, Dorong Kompetensi dan Legalitas Pekerja Migran Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com – Langkah strategis kembali ditorehkan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Pada Sabtu, 14 Februari 2026, kampus kebanggaan masyarakat Banyumas itu resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) RI di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP. enandatanganan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, riset, serta promosi pemanfaatan peluang kerja luar negeri yang aman, legal, dan terstruktur. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem pendampingan yang komprehensif, mulai dari tahap persiapan, pemberangkatan, hingga purna penempatan pekerja migran Indonesia. Kerja sama ini tidak sekadar seremoni administratif. Ia dirancang sebagai gerakan bersama untuk memperkuat literasi migrasi aman, pendampingan calon pekerja migran, pelatihan kompetensi, hingga kolaborasi riset terkait perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia. Dengan pendekatan terstruktur dan berkelanjutan, kolaborasi ini diharapkan mampu meminimalkan praktik penempatan ilegal sekaligus membuka peluang kerja luar negeri yang bermartabat dan berkeadilan. Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, menegaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan wujud komitmen perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan strategis bangsa. “UMP memandang isu pekerja migran bukan hanya soal penempatan kerja, tetapi juga menyangkut aspek perlindungan, peningkatan kompetensi, dan pemberdayaan keluarga migran. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan peran akademik yang solutif dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Prof. Jebul. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk memastikan setiap warga negara yang bekerja di luar negeri memiliki bekal kompetensi, literasi hukum, serta perlindungan yang memadai. “Kampus harus hadir dalam isu-isu strategis nasional. Sinergi ini menjadi langkah konkret agar pendidikan tinggi turut memperkuat ekosistem migrasi aman dan bermartabat,” tambahnya. Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN), Dwi Setiawan Susanto, S.E., M.Si., Ak., menekankan pentingnya kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas dan daya saing pekerja migran Indonesia. “Kami membutuhkan dukungan akademik untuk memperluas edukasi tentang peluang kerja luar negeri yang legal, aman, dan terencana. Perguruan tinggi seperti UMP memiliki kapasitas untuk menyiapkan SDM unggul yang siap bersaing secara global,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa promosi peluang kerja luar negeri harus diiringi dengan penguatan kompetensi, sertifikasi, serta pemahaman regulasi internasional agar pekerja migran Indonesia tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga duta bangsa yang profesional. Ke depan, kolaborasi ini diharapkan melahirkan berbagai program konkret, mulai dari magang internasional, pelatihan bahasa dan budaya negara tujuan, hingga penelitian bersama mengenai dinamika migrasi dan kebijakan perlindungannya. Dengan penandatanganan MoU tersebut, UMP kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun kolaborasi strategis lintas sektor, memperkuat kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing global. Lebih dari itu, sinergi ini menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat transformasi sosial yang membekali lulusan dengan kesiapan global sekaligus nilai kemanusiaan. (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

Wisuda ke-78 UMP, Menghadirkan Ilmu sebagai Energi Perubahan

Wisuda ke-78 UMP, Menghadirkan Ilmu sebagai Energi Perubahan Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar Wisuda ke-78 Program Magister, Sarjana, dan Ahli Madya dalam suasana khidmat di Auditorium Ukhuwah Islamiyah, Sabtu (14/2/2026). Momentum akademik ini bukan sekadar seremoni pengukuhan gelar, melainkan perayaan perjalanan intelektual sekaligus peneguhan komitmen moral para lulusan. Momentum istimewa itu semakin bermakna dengan kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Dr.Fajar Riza Ul Haq, MA yang menyampaikan orasi ilmiah penuh refleksi di hadapan para wisudawan dan tamu undangan. Dalam orasinya, Dr. Fajar Riza Ul Haq mengajak hadirin memaknai wisuda secara lebih mendalam. Ia menelusuri akar kata “wisuda” dari bahasa Sanskerta yang berarti disucikan atau dimurnikan. “Wisuda berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti disucikan atau dimurnikan. Dimurnikan dari atau dijauhkan dari kebodohan. Ketika kita diwisuda, secara simbolik kita disucikan, dari tadinya tidak tahu menjadi tahu, setelah tahu menjadi paham, dan setelah paham kita amalkan dalam tindakan nyata,” ujarnya. Baginya, wisuda bukanlah titik akhir, melainkan fase transformasi intelektual sekaligus moral. Ilmu tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi harus menjelma menjadi amal yang memberi manfaat bagi sesama. Ia juga mengaitkan makna wisuda dengan tradisi keilmuan Islam melalui konsep ijazah. “Dalam tradisi Islam dikenal istilah ijazah. Seorang murid yang telah lengkap keilmuannya dari seorang guru, maka ia memperoleh ijazah. Jadi ketika para wisudawan menerima ijazah hari ini, secara simbolik mereka dinyatakan lulus dalam bidang ilmu tertentu dan siap mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan,” jelasnya. Menurutnya, tantangan generasi terdidik hari ini tidak semata menguasai disiplin ilmu, tetapi menghadirkan solusi atas problem kebangsaan dengan integritas, tanggung jawab sosial, dan keberanian moral. Sementara itu, Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso menegaskan bahwa wisuda adalah fase transisi menuju ruang pengabdian. “Wisuda adalah fase transisi dari ruang akademik menuju ruang pengabdian. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi energi perubahan di tengah masyarakat. Kami berharap para lulusan UMP mampu menjadi insan pembelajar sepanjang hayat dan berkontribusi nyata bagi bangsa,” tuturnya. Prof. Jebul juga menekankan komitmen UMP dalam menjaga mutu pendidikan yang berlandaskan nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan. “Kami tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” tambahnya. Wisuda ke-78 ini diikuti oleh lulusan Program Magister, Sarjana, dan Ahli Madya dari berbagai fakultas di lingkungan UMP. Prosesi berlangsung penuh kebanggaan, disaksikan keluarga wisudawan serta sivitas akademika yang turut merasakan haru dan syukur atas capaian tersebut. Dengan kehadiran Wakil Menteri Dikdasmen RI dalam orasi ilmiah, UMP kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif bersinergi dengan pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional. Wisuda pun dimaknai bukan sekadar pengukuhan gelar, melainkan simbol penyucian dari kebodohan, sebuah komitmen moral untuk mengamalkan ilmu demi kemajuan Indonesia. (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Scroll to Top