Tetap di Barisan Kebaikan: Pergiliran Zaman dan Tanggung Jawab Para Pejuang
Oleh SiS, antarkita
Tetaplah di barisan kebaikan. Karena dalam sejarah panjang umat manusia, yang bertahan bukanlah kekuasaan, melainkan nilai. Yang dikenang bukanlah jabatan, melainkan keberpihakan pada kebenaran.
Sering kali kita menilai kehidupan dengan ukuran sempit: siapa yang menang, siapa yang kalah; siapa yang sukses, siapa yang gagal. Padahal Allah SWT tidak mengukur seperti manusia mengukur. Dalam Al-Qur’an ditegaskan:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…”
(QS. Ali ‘Imran: 140)
Ayat ini menegaskan prinsip besar dalam sejarah: kemenangan dan kekuasaan itu dipergilirkan. Tidak ada rezim yang abadi. Tidak ada kekuatan yang permanen. Semua berada dalam sunnatullah—hukum Allah yang berjalan sesuai hikmah-Nya.
Allah Maha Kuasa, Manusia Diberi Peran
Bagi Allah SWT, mengubah keadaan adalah perkara yang amat mudah. Firman-Nya:
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.”
(QS. Yasin: 82)
Konsep kun fayakun menunjukkan kemahakuasaan Allah yang absolut. Namun menariknya, Allah tidak selalu mengubah keadaan secara instan tanpa proses. Allah memberi ruang bagi manusia untuk menjadi wasilah—perantara perubahan.
Dalam ayat lain ditegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Artinya, perubahan sosial, politik, dan ekonomi adalah bagian dari tanggung jawab kolektif manusia. Allah memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk terlibat dalam proses perubahan agar setiap langkah bernilai ibadah.
Di sinilah makna perjuangan. Hasil akhir mungkin berada di tangan Allah, tetapi usaha adalah kewajiban manusia.
Membaca Realitas Indonesia
Indonesia pasca era rezim Jokowi masih menghadapi berbagai tantangan serius. Ketimpangan ekonomi belum sepenuhnya teratasi. UMKM dan ekonomi rakyat masih menghadapi tekanan struktural. Beban fiskal, dinamika politik, serta persoalan hukum dan tata kelola belum menunjukkan perbaikan yang signifikan dan menyeluruh.
Kondisi ini menimbulkan kegelisahan publik. Namun sejarah mengajarkan bahwa setiap masa transisi selalu diwarnai ketidakpastian. Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan teori siklus peradaban: ketika suatu kekuasaan melemah, akan lahir kelompok baru dengan energi moral yang lebih kuat untuk membangun kembali.
Artinya, masa sulit bukan hanya ancaman—ia adalah peluang.
Peluang bagi lahirnya generasi yang lebih jujur.
Peluang bagi bangkitnya gerakan moral.
Peluang bagi para pejuang kebaikan untuk mengambil peran.
Jangan Keluar dari Barisan Kebaikan
Dalam situasi penuh ketidakpastian, godaan terbesar adalah meninggalkan nilai. Ketika melihat ketidakadilan, orang bisa menjadi sinis. Ketika melihat kekacauan, orang bisa memilih apatis. Ketika melihat kekuasaan menyimpang, orang bisa tergoda untuk membalas dengan cara yang sama.
Di sinilah ujian sebenarnya.
Tetap di barisan kebaikan berarti:
Menolak kebencian sebagai strategi.
Menolak kebohongan sebagai alat perjuangan.
Menolak oportunisme demi kepentingan sesaat.
Tetap menjaga akhlak meski berbeda pilihan.
Allah tidak memerintahkan kita menjadi mayoritas. Allah memerintahkan kita menjadi benar.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walau sedikit. Konsistensi lebih mulia daripada euforia sesaat.
Ukuran Allah Berbeda dengan Ukuran Manusia
Dalam pandangan manusia, keberhasilan identik dengan jabatan dan kekuasaan. Namun dalam pandangan Allah, keberhasilan adalah keteguhan dalam kebenaran.
Seorang pejuang bisa saja tidak melihat hasil perjuangannya dalam hidupnya. Namun Allah mencatat setiap niat, setiap langkah, setiap pengorbanan.
Dalam perspektif teologi Islam, amal saleh bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga amal sosial: membela keadilan, memperjuangkan kesejahteraan rakyat, memperbaiki sistem, mendidik generasi, dan menjaga moralitas publik.
Maka jangan ukur perjuangan hanya dari hasil politik. Ukurlah dari dampak moral dan sosial yang ditinggalkan.
Krisis sebagai Ruang Ibadah
Kekacauan bukan alasan untuk mundur. Justru dalam kekacauanlah nilai keimanan diuji.
Krisis ekonomi adalah ruang untuk memperkuat solidaritas.
Krisis politik adalah ruang untuk menegakkan integritas.
Krisis moral adalah ruang untuk mempertegas akhlak.
Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk menjadi bagian dari solusi. Setiap kontribusi—sekecil apa pun—bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.
Mungkin kita bukan pengambil kebijakan.
Mungkin kita bukan pemilik kekuasaan.
Tetapi kita bisa menjadi penguat literasi, penjaga akhlak publik, penggerak ekonomi rakyat, atau pengawal kebijakan dengan kritik yang bermartabat.
Optimisme Iman
Pergiliran zaman adalah keniscayaan. Namun iman melahirkan optimisme. Karena kita percaya bahwa kezaliman tidak akan selamanya. Ketidakadilan tidak akan abadi. Allah Maha Adil.
Tetaplah di barisan kebaikan bukan karena keadaan sudah baik, tetapi karena kita ingin keadaan menjadi baik.
Tetaplah berjuang bukan karena pasti menang, tetapi karena benar.
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika kita berkuasa—
melainkan ketika kita tetap istiqamah dalam kebenaran.
Dan ketika Allah berkehendak, perubahan itu akan terjadi.
Kun fayakun.
Sementara kita?
Kita hanya diminta untuk tetap berdiri di barisan kebaikan.
Oleh SiS, antarkita