You are currently viewing Cacat Nalar Jongos Kekuasaan

Cacat Nalar Jongos Kekuasaan

Cacat Nalar Jongos Kekuasaan

Ciri paling mudah dikenali dari jongos kekuasaan adalah satu hal:

selalu menggunakan argumentum ad hominem.

Ketika tidak mampu menjawab substansi kritik, yang diserang bukan argumennya, melainkan pribadi orang yang mengkritik.

Alih-alih membahas kebijakan yang salah, mereka sibuk membongkar latar belakang pengkritik.

Alih-alih menjawab data dan fakta, mereka menuding motif pribadi.

Inilah tanda paling jelas dari cacat nalar: menyerang orang karena kehabisan alasan.

Padahal kritik itu ditujukan kepada penguasa—kepada mereka yang diberi amanat dan digaji oleh rakyat. Kritik tidak diarahkan kepada individu biasa, melainkan kepada pemegang kekuasaan yang konsekuensi keputusannya berdampak luas pada kehidupan bangsa dan negara.

Jokowi hingga hari ini masih menikmati fasilitas negara dan pensiunan dari uang rakyat. Karena itu, sah secara hukum dan etika untuk mempertanyakan legalitas seluruh aspek kepemimpinannya, termasuk hal-hal fundamental seperti ijazah. Pertanyaan publik bukan penghinaan, melainkan mekanisme kontrol warga negara.

Yang ironis, pengkritik justru berasal dari rakyat biasa—

rakyat yang tidak dibiayai negara,

rakyat yang tidak menerima fasilitas,

rakyat yang berusaha menyelamatkan kekayaan publik dari praktik mafia kekuasaan.

Mereka tidak punya akses anggaran, tidak punya kewenangan, dan tidak punya kekuasaan struktural. Maka tudingan bahwa kritik rakyat membahayakan negara adalah kebohongan logis. Yang benar justru sebaliknya: kebijakan penguasa koruplah yang membahayakan negara.

Jika ada rakyat yang justru menyerang rakyat lain karena berani mengkritik penguasa korup, maka jelas posisinya:

ia bukan pembela negara,

ia bukan penjaga stabilitas,

melainkan jongos kekuasaan yang cacat nalar.

Mereka membela bukan karena kebenaran,

melainkan karena kedekatan,

bukan karena konstitusi,

melainkan karena loyalitas buta.

Sejarah selalu konsisten:

bangsa tidak runtuh oleh kritik rakyatnya,

tetapi oleh jongos-jongos kekuasaan yang rela mematikan akal sehat demi menjaga kenyamanan tuannya.

SiS

Antarkita

Tinggalkan Balasan