Antarkita

Ruang Kita

Kabarkita, Ruang Kita

Integrasi Turats dan Ilmu Modern: Jalan PesantrenMu Jawa Tengah Menuju Islam Berkemajuan

Integrasi Turats dan Ilmu Modern: Jalan PesantrenMu Jawa Tengah Menuju Islam Berkemajuan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah Teguhkan Tajdid, Kaderisasi, dan Dakwah Pencerahan Tembarak, Temanggung | Antarkita — Pembinaan Pesantren Muhammadiyah (PesantrenMu) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Kamis–Sabtu (7–10 Januari 2026) di Tembarak, Temanggung, menjadi momentum strategis dalam meneguhkan arah ideologis Pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah. Kegiatan ini bukan sekadar agenda teknis peningkatan mutu pendidikan pesantren, melainkan merupakan ikhtiar ideologis untuk memperkuat peran PesantrenMu sebagai pusat tajdid, kaderisasi, dan dakwah pencerahan di tengah tantangan zaman. Pembinaan regional yang diikuti PesantrenMu se-Karesidenan Pekalongan, Pati, Semarang, Kedu–Banyumas, dan Surakarta tersebut menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk menghadirkan pesantren yang tidak hanya unggul secara kelembagaan, tetapi juga kokoh secara ideologis. Mutu pesantren tidak semata diukur dari kemegahan fisik atau kuantitas santri, melainkan dari tata kelola yang amanah, kurikulum integratif, serta pengamalan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan sehari-hari. PesantrenMu Jawa Tengah didorong untuk mampu mengintegrasikan turats keislaman dengan ilmu pengetahuan modern, membangun nalar tajdid tanpa tercerabut dari akar tradisi. Tajdid dimaknai bukan sebagai pemutusan dari masa lalu, tetapi sebagai keberanian memperbarui cara berpikir, mendidik, dan mengelola pesantren demi menjawab tantangan masa depan. Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. KH. Maskuri, M.Ed, menegaskan bahwa Pesantren Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi umat. Ia menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan untuk menjaga mutu dan memastikan PesantrenMu tetap berada dalam koridor ideologi Muhammadiyah. “Pesantren Muhammadiyah harus menjadi laboratorium kader ulama-intelektual yang mampu mengintegrasikan keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian sosial,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pakar Pesantren Muhammadiyah, KH. Dr. (HC) Habib Chirzin, menyoroti pentingnya inovasi dan kemandirian pesantren dalam merespons dinamika pendidikan dan dakwah era modern. Menurutnya, pesantren Muhammadiyah harus adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama. Forum diskusi dan dialog antar-mudir pesantren yang berlangsung selama pembinaan menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman, merumuskan problem bersama, serta menentukan arah gerak kolektif PesantrenMu. Hal ini mencerminkan etos persyarikatan Muhammadiyah yang menempatkan musyawarah dan kolaborasi sebagai kekuatan gerakan. Ke depan, PesantrenMu dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, krisis moral, hingga fragmentasi sosial. Oleh karena itu, pembinaan Pesantren Muhammadiyah dipandang sebagai ikhtiar ideologis jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial. Pesantren Muhammadiyah adalah investasi peradaban. Dari sanalah diharapkan lahir kader umat yang mencerahkan, pemimpin bangsa yang berintegritas, serta generasi Islam berkemajuan yang siap memikul amanah sejarah—hari ini, esok, dan di masa depan. Penulis: Tarqum Aziz, S.H.I., M.Pd (Kapotren MBS Bumiayu 2015–2017, Mudir MBS Cilacap 2017–2019, Wakil Mudir MBS Purwokerto 2019–2022)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Biskuit Cahaya, Ikhtiar Nyata Pemberdayaan Ekonomi Muhammadiyah

Biskuit Cahaya, Ikhtiar Nyata Pemberdayaan Ekonomi Muhammadiyah Muhammadiyah terus membuktikan bahwa dakwah tidak berhenti pada mimbar dan wacana, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata yang menyentuh langsung kebutuhan umat. Salah satu ikhtiar strategis tersebut adalah kehadiran Biskuit Cahaya, produk pangan yang diproduksi oleh Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan. Produksi Biskuit Cahaya menegaskan arah baru dakwah Muhammadiyah di bidang ekonomi—yakni dakwah yang produktif, mandiri, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Melalui sektor industri pangan, Muhammadiyah tidak hanya menciptakan produk berkualitas, tetapi juga membuka ruang distribusi ekonomi yang adil bagi warga dan jamaahnya. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, menyampaikan bahwa kehadiran Biskuit Cahaya merupakan bentuk konkret keterlibatan organisasi dalam penguatan ekonomi umat. Menurutnya, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi nasional, melainkan harus menjadi pelaku yang menghadirkan solusi. “Produksi Biskuit Cahaya oleh Muhammadiyah merupakan bentuk nyata organisasi untuk mendukung ekonomi umat,” ujar Tafsir, sebagaimana dilansir dari laman resmi PWM Jawa Tengah, Sabtu (11/1/2025). Lebih jauh, Tafsir mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk ikut mengambil peran dalam gerakan ekonomi ini dengan membeli dan menggunakan produk persyarikatan. Dukungan tersebut bukan semata urusan konsumsi, tetapi bagian dari tanggung jawab kolektif untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat. “Saya mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk membeli Biskuit Cahaya,” tegasnya. Ajakan tersebut sejalan dengan semangat bela dan beli produk Muhammadiyah yang selama ini digaungkan sebagai strategi membangun kekuatan ekonomi internal. Dalam konteks ini, Biskuit Cahaya hadir bukan hanya sebagai produk makanan, tetapi sebagai simbol keberpihakan terhadap ekonomi umat dan usaha milik sendiri. Selain kualitasnya yang baik dan siap bersaing di pasar, Biskuit Cahaya memiliki nilai lebih karena seluruh proses produksinya berada dalam ekosistem usaha Muhammadiyah. Artinya, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak mengalir ke luar, tetapi kembali untuk memperkuat amal usaha, program sosial, dan pemberdayaan warga. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh era-pos.com, yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah memproduksi Biskuit Cahaya sebagai produk unggulan yang disiapkan untuk meramaikan momen Lebaran 2025. Momentum ini dipilih secara strategis, mengingat tingginya kebutuhan pangan dan konsumsi masyarakat saat hari raya, sekaligus membuka peluang pasar yang luas bagi produk Muhammadiyah. Kehadiran Biskuit Cahaya pada momen Lebaran tidak hanya bertujuan meramaikan pasar, tetapi juga menegaskan bahwa Muhammadiyah siap bersaing secara sehat di sektor industri pangan nasional. Lebih dari itu, langkah ini menunjukkan bahwa organisasi keagamaan mampu mengelola usaha modern tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan keberpihakan pada umat. Dengan demikian, Biskuit Cahaya merupakan representasi nyata transformasi dakwah Muhammadiyah di bidang ekonomi. Dari dakwah sosial menuju dakwah ekonomi produktif, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari wacana menuju aksi. Setiap keping Biskuit Cahaya menjadi bagian dari perjuangan panjang Muhammadiyah dalam membangun kesejahteraan umat dan bangsa. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Antarkita di Garda Terdepan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah

Antarkita di Garda Terdepan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Membangun Kesejahteraan Bersama Melalui Kolaborasi dan Ukhuwah Ekonomi Banyumas,|Antarkita , Januari 2026 Antarkita lahir dari kesadaran bahwa persoalan ekonomi umat tidak cukup dijawab dengan retorika, tetapi membutuhkan ikhtiar nyata dan keberanian berpihak. Di tengah dominasi produk besar dan sistem distribusi yang sering kali tidak adil, Antarkita menegaskan posisinya sebagai garda terdepan gerakan bela beli produk Muhammadiyah. Gerakan bela beli bukan sekadar ajakan konsumsi, tetapi sikap ideologis dan praksis ekonomi. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa produk milik persyarikatan dan warga Muhammadiyah mendapatkan ruang hidup, ruang tumbuh, dan ruang pasar yang adil di tengah kompetisi yang tidak seimbang. Bela Beli sebagai Implementasi Ukhuwah Ekonomi Muhammadiyah sejak awal berdiri telah menempatkan ekonomi sebagai bagian dari dakwah sosial. KH. Ahmad Dahlan menanamkan bahwa keberagamaan harus berdampak nyata bagi kesejahteraan umat. Dalam konteks itulah, Antarkita memaknai gerakan bela beli sebagai implementasi ukhuwah ekonomi—saling menguatkan, saling menghidupi, dan saling menjaga keberlanjutan usaha sesama warga. Antarkita meyakini bahwa: produk Muhammadiyah harus menjadi tuan rumah di lingkungan sendiri, jaringan Muhammadiyah adalah kekuatan ekonomi besar jika disinergikan, dan kesejahteraan jama’ah tidak akan lahir tanpa keberanian mengalihkan pilihan konsumsi. Kolaborasi Nyata: Antarkita dan Biskuit Cahaya Sebagai langkah konkret, Antarkita membangun kolaborasi strategis dengan Biskuit Cahaya, produk unggulan milik Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Biskuit Cahaya bukan sekadar produk pangan, tetapi simbol kemandirian ekonomi perempuan Muhammadiyah yang dikelola secara profesional, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan. Antarkita menyiapkan tim khusus promosi dan pemasaran untuk memastikan Biskuit Cahaya dikenal luas, diterima pasar, dan berkelanjutan secara ekonomi. Dalam tahap awal, Banyumas ditetapkan sebagai pilot project kolaborasi Antarkita dan Biskuit Cahaya. Banyumas dipilih bukan tanpa alasan. Di daerah ini terdapat ekosistem Muhammadiyah yang kuat, jaringan jama’ah yang hidup, serta semangat kolaborasi lintas amal usaha dan komunitas. Pilot project ini diharapkan menjadi model sinergi ekonomi jama’ah yang dapat direplikasi di wilayah lain. Driver Antarkita: Dari Pengemudi Menjadi Duta Bisnis Dengan misi membangun kesejahteraan bersama, Antarkita menempatkan driver sebagai aktor utama dalam gerakan ekonomi ini. Driver tidak diposisikan sekadar sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai duta bisnis dan agen perubahan ekonomi jama’ah. Para driver Antarkita dibekali peran ganda: sebagai penyedia layanan transportasi, sekaligus sebagai penghubung produk jama’ah dengan masyarakat luas. Melalui peran ini, driver memiliki kesempatan untuk belajar bisnis, membangun jaringan, dan menambah sumber penghasilan. Antarkita percaya bahwa seorang driver tidak harus seumur hidup menjadi driver. Di dalam ekosistem yang sehat, driver bisa tumbuh menjadi entrepreneur mandiri. Menuju Driver Jutawan Antarkita Konsep driver jutawan yang diusung Antarkita bukan semata tentang kekayaan materi, tetapi tentang kemandirian, keberanian bermimpi, dan peluang berkembang. Dengan dukungan produk seperti Biskuit Cahaya, driver memiliki kesempatan menjadi: reseller, distributor lokal, bahkan pelaku usaha mandiri di lingkungannya sendiri. Ketika driver tumbuh, keluarga ikut sejahtera. Ketika keluarga sejahtera, jama’ah menguat. Inilah rantai nilai yang ingin dibangun oleh Antarkita—ekonomi yang tumbuh dari bawah, dari jama’ah, dan untuk jama’ah. Ekosistem Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita Kolaborasi Antarkita dan Biskuit Cahaya adalah cermin dari ekosistem ekonomi yang diidamkan: diproduksi oleh persyarikatan, dipasarkan oleh jaringan jama’ah, dan dikonsumsi oleh warga sendiri. Ekosistem ini bukan untuk menutup diri dari dunia luar, tetapi untuk memastikan bahwa umat memiliki pondasi kemandirian dan kedaulatan ekonomi. Ketika pondasi itu kuat, kolaborasi dengan pihak mana pun dapat dilakukan secara setara dan bermartabat. Penutup: Ikhtiar Kecil, Harapan Besar Antarkita menyadari bahwa langkah ini penuh keterbatasan. Namun sejarah telah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian memulai. Seperti burung pipit dalam kisah Nabi Ibrahim AS, Antarkita memilih membawa setetes air—bukan karena yakin memadamkan api, tetapi karena ingin berada di pihak yang benar. Dengan spirit bela beli, ukhuwah ekonomi, dan kemandirian jama’ah, Antarkita melangkah sebagai ikhtiar kolektif membangun kesejahteraan Muhammadiyah. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

NU: Dari Kutukan Tambang ke Swasembada Rokok

NU: Dari Kutukan Tambang ke Swasembada Rokok 731 Triliun Kekayaan Rokok — Seandainya Itu Milik NU dan Jama’ahnya Selama ini wacana keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dalam dunia ekonomi sering kali terjebak pada persoalan yang rentan konflik. Isu tambang yang pernah mencuat dalam dinamika internal PBNU menjadi salah satu contoh betapa sektor ekonomi tertentu dapat memicu ketegangan organisasi hingga berpotensi melahirkan jebakan politik praktis. Sebagaimana dikemukakan sebuah kolom Tempo, keterlibatan ormas besar dalam usaha ekstraktif seperti pertambangan berisiko membawa apa yang disebut “kutukan tambang”: konflik internal, tekanan sosial, dan pengaruh politik yang jauh dari tujuan pemberdayaan umat. Dugaan bahwa konsesi tambang menjadi salah satu pemicu konflik perebutan kepemimpinan di internal PBNU pun sempat menguat di publik. Meskipun Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa konfliknya jauh lebih kompleks dan tidak semata soal tambang, kenyataan bahwa isu ini muncul kuat menunjukkan bagaimana sektor ekstraktif bisa menjadi ranah kontroversial bahkan di organisasi yang fokusnya sosial-keagamaan. Jika urusan tambang berisiko menjadi kutukan, mengapa bukan memaksimalkan potensi yang sudah ada di depan mata — yang dekat dengan realitas sosial jama’ah NU sendiri? Rokok: Fenomena Sosial, Fakta Ekonomi Industri rokok adalah salah satu bisnis paling besar di Indonesia. Situs Forbes 2025 mencatat pemilik Djarum Group sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan sekitar Rp 731,3 triliun — mayoritas dari bisnis rokok. Bahkan pabrikan lain, PT Gudang Garam Tbk, mencatat laba lebih dari Rp 1 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025, mempertegas posisi industri ini sebagai motor ekonomi yang besar. Statistik-statistik itu memperlihatkan satu kenyataan: ada perputaran uang yang sangat besar di industri rokok — namun sebagian besar kekayaan tersebut dikendalikan oleh pihak di luar jama’ah NU. NU dan Jama’ahnya: Konsumen Terbesar, Namun Bukan Pemilik Nilai Ekonomi Secara sosial, banyak perokok di Indonesia berasal dari masyarakat akar rumput, termasuk jama’ah NU. Sikap NU terhadap rokok pun dikenal lebih fleksibel dan kontekstual dalam kajian fikihnya — tidak langsung mengharamkan rokok, tetapi memandang statusnya berdasarkan konteks efek dan realitas sosialnya. Namun ada ironi besar di sini: Jika konsumennya paling banyak dari kalangan jama’ah NU, mengapa yang mendapatkan keuntungan terbesar justru orang lain? Inilah persoalan struktural yang jarang dibicarakan secara strategis: kekayaan besar dari konsumsi jama’ah tidak kembali untuk kemaslahatan jama’ah itu sendiri. Seandainya potensinya dikelola dengan bijak, uang triliunan rupiah itu — yang kini mengalir ke pihak luar — seharusnya bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi umat. Paradoks Petani Tembakau: Ketidakpastian di Hulu Industri Selain persoalan hilir, persoalan di hulu industri rokok juga mengundang keprihatinan. Banyak petani tembakau di daerah merasa takut hasil panennya tidak terbeli oleh pabrik besar, sehingga menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang signifikan. Paradoksnya: Industri rokok menghasilkan kekayaan ratusan triliun di hilir, Tetapi petani di hulu menghadapi ketidakpastian pasar yang membuat produksi mereka rentan terhadap dinamika keputusan pabrik besar. Swasembada Rokok: Peluang Kemandirian Ekonomi Umat Melihat seluruh data di atas, muncul sebuah gagasan strategis: Daripada terjebak dalam urusan tambang yang memicu konflik dan potensi jebakan politik praktis, kenapa tidak menggarap potensi yang sudah ada — yaitu swasembada rokok? NU dan jama’ahnya memiliki modal: Basis jama’ah yang luas, Jaringan pesantren dan lembaga ekonomi umat, Sumber daya manusia yang kreatif dan produktif. Dengan semangat itu, NU dan jama’ahnya bisa membangun: Pabrik rokok skala besar, yang mampu bersaing di pasar nasional dan global, serta Pabrik rokok skala kecil, yang menjadi basis pemberdayaan ekonomi desa dan pesantren. Jika dikelola secara profesional dan berkeadilan: NU dan jama’ahnya bukan hanya menjadi konsumen, tetapi pemilik nilai ekonomi industri rokok. Keuntungan industri dapat dialirkan untuk kesejahteraan pesantren, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi jama’ah, dan pembangunan sosial lainnya. NU & Jama’ahnya Bisa Jadi Triliuner dari Rokok Potensi ini bukan sekadar wacana ekonomi; ini adalah strategi ekonomi umat yang realistis. Mengalihkan fokus dari sektor ekstraktif yang rawan konflik kepada industri yang sudah nyata dan dekat dengan jama’ah dapat membuka ruang: NU dan jama’ahnya menjadi organisasi super kaya secara ekonomi, Menjadi pemilik kekuatan industri, bukan hanya pasar konsumsi, Dan kekayaan yang dihasilkan dapat benar-benar dinikmati oleh umat sendiri. Penutup NU: Dari Kutukan Tambang ke Swasembada Rokok bukan sekadar slogan. Ini adalah: ➡️ Refleksi kritis terhadap pengalaman konflik dan jebakan politik dari keterlibatan dalam sektor ekstraktif, ➡️ Pengakuan atas realitas sosial-ekonomi umat, ➡️ Seruan kolektif untuk menggarap potensi yang sudah ada, ➡️ Dan motivasi nyata untuk mendorong kemandirian ekonomi NU dan jama’ahnya. Sebagai sesama Muslim dan bagian dari bangsa yang sedang mencari kemandirian ekonomi, inilah saatnya berpikir besar dan bertindak strategis demi masa depan umat yang lebih berdaulat secara ekonomi. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan

Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan Muhammadiyah Diharapkan Menjadi Katalisator Swasembada Pangan Nasional Yogyakarta — Indonesia tengah menghadapi tantangan global yang semakin kompleks akibat dinamika geopolitik internasional. Berbagai konflik bersenjata yang terjadi di sejumlah kawasan dunia, mulai dari perang Israel–Palestina, Israel–Libanon, Rusia–Ukraina, hingga potensi konflik di Laut China Selatan, Taiwan, dan Semenanjung Korea, telah menciptakan ketidakstabilan global yang berdampak luas terhadap keamanan, ekonomi, dan ketersediaan pangan dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Syarofin Arba MF, Direktur Center for Study of Regional Development (CESRED), dalam artikelnya berjudul “Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan” yang dimuat di SuaraMuhammadiyah.id. Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik global berpotensi memicu krisis multidimensi, termasuk ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional. Menurut Syarofin Arba, ketegangan politik global tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional. Melonjaknya harga kebutuhan pokok, tingginya inflasi, membengkaknya utang negara, serta defisit pendapatan di berbagai negara menjadi indikator kelesuan ekonomi global yang patut diwaspadai. “Ketidakstabilan dunia internasional akan berpengaruh langsung pada ketersediaan pangan. Dalam situasi konflik dan ketegangan global, ketergantungan pada impor pangan menjadi risiko besar bagi sebuah negara,” tulisnya. Ancaman Global dan Urgensi Ketahanan Pangan Syarofin Arba mengungkapkan bahwa berbagai negara mulai mengambil langkah antisipatif untuk mengamankan pasokan pangan nasional. Negara-negara Eropa seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Denmark bahkan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis global, terlebih setelah munculnya pernyataan-pernyataan yang dinilai berpotensi memicu eskalasi perang berskala lebih luas. Selain konflik geopolitik, dunia juga dihadapkan pada dampak perubahan iklim seperti fenomena La Nina dan El Nino, pandemi seperti Covid-19, serta gangguan rantai pasok global. Seluruh kondisi tersebut menuntut adanya strategi ketahanan pangan yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kemandirian nasional. Posisi Indonesia dalam Ketahanan Pangan Beberapa tahun lalu, Indonesia tercatat berada di peringkat ke-12 dari 23 negara di kawasan Asia Pasifik berdasarkan Global Food Security Index. Penilaian tersebut mencakup aspek ketersediaan pangan, aksesibilitas, kualitas, dan keamanan pangan. Untuk menekan tingkat kerentanan pangan, diperlukan strategi pembangunan pertanian dan pangan yang komprehensif, meliputi peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan, penguatan cadangan pangan nasional, sistem logistik yang efisien, serta pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan. Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Gunawan Budiyanto, sebagaimana dikutip dalam artikel tersebut, menegaskan bahwa ketahanan pangan memiliki keterkaitan erat dengan pertanian berkelanjutan. “Ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan merupakan hasil interaksi kebijakan pemerintah yang mencakup dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujarnya. Komitmen Pemerintah dan Respons Muhammadiyah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah menegaskan komitmennya untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional. Komitmen ini diarahkan agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan luar negeri yang rawan terganggu oleh ketidakpastian global. Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam. Pengurus Pusat Muhammadiyah secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap program ketahanan pangan nasional melalui deklarasi komitmen bersama para pelaku usaha sektor pertanian dan peternakan yang digelar di Bogor pada 20 November lalu. Muhammadiyah juga telah mencanangkan sejumlah program strategis, di antaranya pendirian Toko Muhammadiyah (TokoMu) yang diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pokok dan memperkuat ketahanan pangan warga. Selain itu, Muhammadiyah turut mendorong peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani sebagai pilar utama sistem pangan nasional. Potensi Muhammadiyah dalam Ketahanan Pangan Syarofin Arba menilai Indonesia sejatinya memiliki potensi besar dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mewujudkan ketahanan pangan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki keunggulan berupa SDM yang kompeten di bidang pertanian, jaringan kelembagaan yang luas, serta konektivitas dengan berbagai pemangku kepentingan. “Program ketahanan pangan berkelanjutan membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi pendorong dan katalisator terbangunnya sinergitas tersebut,” tegasnya. Ia juga mendorong Muhammadiyah untuk berperan aktif dalam penyusunan grand design dan roadmap swasembada serta ketahanan pangan nasional agar pelaksanaan program berjalan efektif dan terukur. Gerakan Kolektif hingga Akar Rumput Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan dapat menggerakkan seluruh struktur organisasi hingga tingkat ranting, melibatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah sesuai bidang keahliannya, serta mengajak warga persyarikatan untuk berkontribusi secara nyata. Sebagai langkah awal, Syarofin Arba mengusulkan pembentukan pilot project ketahanan pangan di sejumlah daerah dengan memanfaatkan jejaring Muhammadiyah. Model yang berhasil dapat direplikasi ke wilayah lain di Indonesia. Pengalaman panjang Muhammadiyah dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat dinilai menjadi modal penting dalam menggerakkan gerakan pangan berbasis komunitas. Pada akhirnya, ketahanan pangan hanya dapat terwujud melalui kesadaran, partisipasi, dan gerakan kolektif masyarakat. “Jika Muhammadiyah mampu berperan aktif dan sinergis, maka cita-cita ketahanan pangan bukan hal yang sulit diwujudkan. Bahkan, dari program ini akan lahir masyarakat yang makmur dan sejahtera,” pungkasnya. Sumber: Artikel “Peran Muhammadiyah dan Tantangan Program Ketahanan Pangan” SuaraMuhammadiyah.id Penulis: Syarofin Arba MF, Direktur Center for Study of Regional Development (CESRED)  

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas Banyumas | Antarkita – Januari 2026 Upaya penguatan ekonomi umat yang digerakkan oleh perempuan Muhammadiyah terus menunjukkan geliat nyata. Salah satunya melalui kehadiran Biskuit Cahaya, produk unggulan Muhammadiyah yang kini resmi hadir dan menjangkau wilayah Karesidenan Banyumas. Biskuit Cahaya merupakan usaha milik PT. EAHM (Ekonomi ‘Aisyiyah Hasanah Makmur) di bawah naungan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Produk ini lahir sebagai ikhtiar membangun kemandirian ekonomi sekaligus menyalurkan nilai dakwah dan kepedulian sosial melalui jalur usaha yang berkelanjutan. Perjalanan Biskuit Cahaya dimulai pada awal tahun 2025 dengan memproduksi Biskuit Cahaya Marie Susu edisi Lebaran 1446 H / 2025 M. Antusiasme masyarakat yang tinggi mendorong pengembangan produk dalam kemasan single pack agar lebih mudah dijangkau. Memasuki tahun 2026, PT. EAHM kembali menghadirkan inovasi dengan meluncurkan Biskuit & Wafer Cahaya Spesial Lebaran 1447 H, yang terdiri dari tiga varian unggulan, yaitu: Assorted Biskuit Cahaya & Wafer Wafer Cahaya rasa Chocolate & Vanila Biskuit Cahaya Marie Susu Spesial dalam kemasan box segi enam Menariknya, Biskuit Cahaya tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis semata. Sebagian keuntungan penjualan dialokasikan untuk donasi kemanusiaan, di antaranya untuk Palestina dan penanganan bencana di Sumatera, sehingga setiap pembelian menjadi bagian dari gerakan solidaritas dan kebermanfaatan sosial. Untuk wilayah eks-Karesidenan Banyumas, distribusi dan koordinasi Biskuit Cahaya diampu oleh PIC Area, Rima Yulianti (0852 2750 6848). Operasional Biskuit Cahaya sendiri telah berjalan sejak Januari 2025 dan kini dapat diakses di sejumlah titik layanan resmi berikut: Cilacap Kedai ‘Aisyiyah / Daycare Lansia Jl. Laut No. 17 RT 01 RW 13, Cilacap CP: 0815 4277 1035 Banyumas KSU Syariah ‘Aisyiyah Gedung Balai ‘Aisyiyah Banyumas Jl. Masjid Gg. II No. 1, Purwokerto CP: 0822 2845 8488 Purbalingga Jl. Alun-alun Selatan Komplek Perguruan Muhammadiyah Purbalingga (Kantor Sekretariat PDA) CP: 0812 2635 554 / 0896 8379 0532 Banjarnegara Toko Qta Jl. Jend. Sudirman No. 27, Banjarnegara CP: 0896 6554 7452 Jam operasional menyesuaikan kebijakan masing-masing kabupaten. Layanan ambil langsung di lokasi tersedia, dengan jangkauan distribusi meliputi seluruh wilayah Karesidenan Banyumas. Adapun harga satuan Biskuit Cahaya ditetapkan sebagai berikut: Assorted Biskuit & Wafer: Rp35.000 per kaleng Wafer Cahaya Chocolate & Vanila: Rp33.500 per kaleng Biskuit Cahaya Spesial: Rp32.500 per box (isi 15 sachet) Informasi pembelian grosir dapat dikonsultasikan langsung dengan PIC di masing-masing kabupaten. Lebih dari sekadar produk konsumsi, Biskuit Cahaya digerakkan oleh semangat kolektif. Sebuah motivasi yang terus digaungkan dalam gerakan ini berbunyi: Jika hati sudah bersuara, ego akan kita tanggalkan. Tak banyak tanya, tak banyak alasan. Kaki dan tangan bergerak, niat disatukan untuk berjihad dengan cara sederhana: Satu Rumah, Satu Kaleng Cahaya. Dari rumah masing-masing, cahaya itu dinyalakan. Bersama, Biskuit Cahaya diharapkan menjadi simbol kebangkitan ekonomi umat, solidaritas kemanusiaan, dan dakwah yang membumi.

Peluang Usaha, Ruang Kita

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas

Cahaya, Biskuit Muhammadiyah Hadir di Banyumas Banyumas | Antarkita – Januari 2026 Upaya penguatan ekonomi umat yang digerakkan oleh perempuan Muhammadiyah terus menunjukkan geliat nyata. Salah satunya melalui kehadiran Biskuit Cahaya, produk unggulan Muhammadiyah yang kini resmi hadir dan menjangkau wilayah Karesidenan Banyumas. Biskuit Cahaya merupakan usaha milik PT. EAHM (Ekonomi ‘Aisyiyah Hasanah Makmur) di bawah naungan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Produk ini lahir sebagai ikhtiar membangun kemandirian ekonomi sekaligus menyalurkan nilai dakwah dan kepedulian sosial melalui jalur usaha yang berkelanjutan. Perjalanan Biskuit Cahaya dimulai pada awal tahun 2025 dengan memproduksi Biskuit Cahaya Marie Susu edisi Lebaran 1446 H / 2025 M. Antusiasme masyarakat yang tinggi mendorong pengembangan produk dalam kemasan single pack agar lebih mudah dijangkau. Memasuki tahun 2026, PT. EAHM kembali menghadirkan inovasi dengan meluncurkan Biskuit & Wafer Cahaya Spesial Lebaran 1447 H, yang terdiri dari tiga varian unggulan, yaitu: Assorted Biskuit Cahaya & Wafer Wafer Cahaya rasa Chocolate & Vanila Biskuit Cahaya Marie Susu Spesial dalam kemasan box segi enam Menariknya, Biskuit Cahaya tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis semata. Sebagian keuntungan penjualan dialokasikan untuk donasi kemanusiaan, di antaranya untuk Palestina dan penanganan bencana di Sumatera, sehingga setiap pembelian menjadi bagian dari gerakan solidaritas dan kebermanfaatan sosial. Untuk wilayah eks-Karesidenan Banyumas, distribusi dan koordinasi Biskuit Cahaya diampu oleh PIC Area, Rima Yulianti (0852 2750 6848). Operasional Biskuit Cahaya sendiri telah berjalan sejak Januari 2025 dan kini dapat diakses di sejumlah titik layanan resmi berikut: Cilacap Kedai ‘Aisyiyah / Daycare Lansia Jl. Laut No. 17 RT 01 RW 13, Cilacap CP: 0815 4277 1035 Banyumas KSU Syariah ‘Aisyiyah Gedung Balai ‘Aisyiyah Banyumas Jl. Masjid Gg. II No. 1, Purwokerto CP: 0822 2845 8488 Purbalingga Jl. Alun-alun Selatan Komplek Perguruan Muhammadiyah Purbalingga (Kantor Sekretariat PDA) CP: 0812 2635 554 / 0896 8379 0532 Banjarnegara Toko Qta Jl. Jend. Sudirman No. 27, Banjarnegara CP: 0896 6554 7452 Jam operasional menyesuaikan kebijakan masing-masing kabupaten. Layanan ambil langsung di lokasi tersedia, dengan jangkauan distribusi meliputi seluruh wilayah Karesidenan Banyumas. Adapun harga satuan Biskuit Cahaya ditetapkan sebagai berikut: Assorted Biskuit & Wafer: Rp35.000 per kaleng Wafer Cahaya Chocolate & Vanila: Rp33.500 per kaleng Biskuit Cahaya Spesial: Rp32.500 per box (isi 15 sachet) Informasi pembelian grosir dapat dikonsultasikan langsung dengan PIC di masing-masing kabupaten. Lebih dari sekadar produk konsumsi, Biskuit Cahaya digerakkan oleh semangat kolektif. Sebuah motivasi yang terus digaungkan dalam gerakan ini berbunyi: Jika hati sudah bersuara, ego akan kita tanggalkan. Tak banyak tanya, tak banyak alasan. Kaki dan tangan bergerak, niat disatukan untuk berjihad dengan cara sederhana: Satu Rumah, Satu Kaleng Cahaya. Dari rumah masing-masing, cahaya itu dinyalakan. Bersama, Biskuit Cahaya diharapkan menjadi simbol kebangkitan ekonomi umat, solidaritas kemanusiaan, dan dakwah yang membumi.

Prespektif, Ruang Kita

Antarkita: Bukan Sekadar Driver, Melainkan Duta Bisnis dan Jalan Perubahan Hidup

Antarkita: Bukan Sekadar Driver, Melainkan Duta Bisnis dan Jalan Perubahan Hidup Di banyak ruang ekonomi digital hari ini, profesi driver kerap dipersempit maknanya. Driver dianggap sekadar pelaksana teknis—mengantar, menjemput, menyelesaikan order, lalu selesai. Pola ini secara perlahan membentuk keyakinan yang membatasi (limiting beliefs): “Saya hanya driver.” “Peran saya tidak lebih dari ini.” “Saya tidak punya peluang naik kelas.” Keyakinan inilah yang sesungguhnya menjadi penjara tidak kasat mata. Bukan sistem, bukan keadaan, melainkan cara berpikir yang akhirnya membatasi potensi manusia itu sendiri. Antarkita.com hadir untuk membongkar penjara tersebut. Bergabung menjadi driver ojek online Antarkita.com bukan sekadar memilih pekerjaan, tetapi memasuki ekosistem pembinaan manusia dan bisnis. Di Antarkita, driver tidak diposisikan sebagai objek algoritma, melainkan subjek ekonomi—manusia bernilai yang memiliki potensi, jejaring, dan masa depan. Driver Antarkita sebagai Duta Bisnis Antarkita memandang driver sebagai duta bisnis. Mengapa? Karena driver berada di titik paling strategis dalam ekosistem sosial: bertemu banyak orang setiap hari, hadir di berbagai lapisan masyarakat, membangun interaksi yang bersifat personal dan berulang, serta dipercaya oleh customer dalam ruang yang sangat manusiawi. Kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam dunia bisnis. Dan driver memilikinya. Di sinilah layanan transportasi bukan tujuan akhir, melainkan entry point—pintu masuk untuk memahami kebutuhan manusia yang lebih luas. Ketika hubungan terbangun bukan atas dasar transaksi semata, tetapi kepedulian dan empati, maka driver berubah dari sekadar pengantar menjadi sahabat customer. Neuropreneurship: Reset Mindset, Lepaskan Limiting Beliefs Untuk mendukung transformasi ini, Antarkita menggandeng pakar dan praktisi Neuro Linguistic Programming (NLP), Drs. Waidi, MBA, CPC. Melalui pendekatan Neuropreneurship, para driver dibimbing untuk: mengenali pola pikir bawah sadar yang selama ini membatasi, membongkar keyakinan negatif tentang diri dan profesi, mengganti limiting belief dengan empowering belief, serta membangun identitas baru sebagai pelaku bisnis dan agen solusi. Neuropreneurship menegaskan satu hal penting: wirausaha bukan soal kecerdasan IQ atau besar kecilnya modal, tetapi soal mindset, keberanian, konsistensi, dan makna hidup. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu lama percaya bahwa dirinya tidak pantas berhasil. Ragam Pengembangan Bisnis Driver Antarkita sebagai Duta Bisnis Dengan mindset yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, driver Antarkita dapat berkembang menjadi duta di berbagai lini bisnis strategis, antara lain: 1. Duta Umrah dan Wisata Religi Banyak masyarakat ingin berangkat umrah, tetapi bingung memilih layanan yang amanah. Driver Antarkita dapat menjadi penghubung: informasi paket umrah terpercaya, edukasi perjalanan religi, hingga pendamping awal calon jamaah. Di sini, driver bukan menjual mimpi, tetapi menyambungkan niat ibadah dengan solusi yang benar. 2. Duta Otomotif Mobil dan Motor Sebagai pengguna dan pengamat langsung dunia transportasi, driver memahami kebutuhan otomotif secara nyata. Mereka dapat menjadi duta: jual beli motor dan mobil, kendaraan baru dan bekas, aksesoris, servis, hingga pembiayaan. Relasi yang dibangun bukan berbasis promosi agresif, melainkan rekomendasi berbasis pengalaman dan kepercayaan. 3. Duta Properti Driver setiap hari menyaksikan realitas hunian masyarakat: rumah, kos, kontrakan, hingga kawasan baru. Dengan ekosistem Antarkita, driver dapat menjadi penghubung: rumah tinggal, kos mahasiswa, tanah kavling, perumahan berbasis komunitas dan nilai. Properti tidak lagi eksklusif, tetapi inklusif dan berbasis kebutuhan riil. 4. Duta Jasa Bangun dan Renovasi Banyak keluarga ingin membangun atau merenovasi rumah, namun tidak tahu harus ke mana. Driver Antarkita bisa menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat dan penyedia jasa bangun yang profesional, jujur, dan bertanggung jawab. 5. Duta Wisata dan Ekonomi Lokal Driver adalah saksi hidup potensi daerah: desa wisata, kuliner UMKM, event lokal, dan kearifan budaya setempat. Dengan peran ini, driver ikut menggerakkan ekonomi lokal dan menjaga keberlanjutan sosial. Bersandar pada Rahmat Allah SWT, Bukan Sekadar Keadaan Semua ikhtiar ini berpijak pada satu keyakinan fundamental: Rahmat Allah SWT lebih besar daripada masalah manusia. Banyak orang berhenti melangkah karena merasa: latar belakangnya tidak mendukung, keadaannya tidak ideal, atau masa lalunya terlalu berat. Padahal Allah sendiri menegaskan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Ketika manusia mau berusaha, belajar, dan bertawakal, maka keterbatasan bukan lagi alasan untuk menyerah, melainkan pintu pertumbuhan. Antarkita tidak menjanjikan jalan instan. Yang ditawarkan adalah jalan bertumbuh—jalan yang memanusiakan manusia, membangun ekonomi berbasis nilai, dan menempatkan kerja sebagai bagian dari ibadah. Antarkita: Mengantar Lebih dari Sekadar Penumpang Antarkita bukan sekadar platform. Ia adalah gerakan kesadaran ekonomi. Bersama Antarkita: driver tidak hanya mengantar orang, tetapi mengantar harapan, membuka peluang, membangun kepercayaan, dan menata masa depan bersama. Karena ketika limiting beliefs runtuh, mindset dibenahi, dan rahmat Allah dijadikan sandaran, maka profesi apa pun—termasuk driver—dapat menjadi jalan hidup yang bermartabat, mandiri, dan penuh keberkahan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Ruang Kita

Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Purwojati Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Purwojati Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna Purwojati, Banyumas — Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Purwojati berlangsung khidmat dan penuh makna pada Rabu, 7 Januari 2025, bertempat di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi dan penguatan mutu kepemimpinan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan. Kedatangan tim asesor dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, yakni Dra. Wiwi Parluki, M.Pd. dan Dr. H. Bahrodin, M.M.Pd., disambut hangat dengan tari Saman yang dipersembahkan para siswi SMP Muhammadiyah Purwojati di halaman sekolah. Sambutan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan, pelestarian budaya, serta penguatan karakter peserta didik. Kegiatan diawali dengan seremonial pembukaan berupa salam pembuka, doa bersama, dan pengantar dari pembawa acara. Dalam pengantarnya ditegaskan bahwa evaluasi kinerja kepala sekolah bukan sekadar agenda administratif, melainkan sarana refleksi dan pembinaan demi peningkatan mutu kepemimpinan dan tata kelola sekolah. Komitmen Berbenah dan Digitalisasi Sekolah Dalam sambutannya, Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Purwojati, Ketua Komite Sekolah Bapak H. Siswanto, serta tim asesor dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas atas pendampingan yang diberikan. “Evaluasi ini kami maknai sebagai cermin untuk melihat sejauh mana ikhtiar kami dalam memajukan sekolah. Kami terbuka terhadap masukan dan siap berbenah demi peningkatan mutu pendidikan di SMP Muhammadiyah Purwojati,” ujar Nur Khasbi. Ia juga memaparkan laporan singkat kinerja sekolah yang mencakup pelaksanaan program kerja, peningkatan mutu pembelajaran dan kedisiplinan, penguatan karakter peserta didik, serta pengelolaan sarana prasarana dan administrasi sekolah. Lebih lanjut, Nur Khasbi menegaskan arah pengembangan sekolah ke depan. “Ke depan, seluruh program sekolah akan terintegrasi dengan Rapor Pendidikan Sekolah dan sistem data berbasis ruang digital. Kami ingin tata kelola sekolah semakin transparan, terukur, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” tambahnya. Evaluasi sebagai Instrumen Pembinaan Sambutan kedua disampaikan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Purwojati, Agus Yunianto, S.Pd. Ia menekankan bahwa evaluasi kinerja kepala sekolah harus dipahami sebagai bagian dari proses pembinaan berkelanjutan. “Evaluasi ini bukan untuk mencari kekurangan semata, tetapi sebagai instrumen pembinaan agar kepala sekolah dan seluruh warga sekolah terus bertumbuh dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan,” ungkapnya. Ia juga mengapresiasi kinerja kepala sekolah beserta seluruh warga SMP Muhammadiyah Purwojati. “Kepala sekolah adalah pemimpin, manajer, sekaligus teladan. Kami berharap SMP Muhammadiyah Purwojati terus menjaga identitas persyarikatan dan mampu menjawab tantangan pendidikan modern tanpa meninggalkan akhlak mulia,” tegasnya. Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Purwojati menegaskan komitmen persyarikatan untuk terus mendampingi dan mendukung peningkatan mutu sekolah secara berkesinambungan. Bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa evaluasi kinerja kepala sekolah merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Evaluasi kinerja kepala sekolah bertujuan memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai standar nasional serta mendorong peningkatan kualitas guru dan hasil belajar peserta didik,” jelasnya. Beliau juga mengapresiasi sinergi yang terbangun antara sekolah, persyarikatan, dan berbagai pemangku kepentingan. “Kami melihat adanya kerja sama yang baik antara SMP Muhammadiyah Purwojati dengan berbagai pihak. Hal ini perlu terus diperkuat melalui inovasi pembelajaran, tata kelola yang baik, dan layanan pendidikan yang prima,” tambahnya. Pengawas Dinas Pendidikan berharap hasil evaluasi ini dapat menjadi bahan perbaikan berkelanjutan bagi sekolah serta berkontribusi positif bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Banyumas. Menuju Sekolah Unggul dan Berdaya Saing Melalui kegiatan evaluasi kinerja ini, diharapkan terbangun budaya refleksi dan peningkatan berkelanjutan yang berdampak pada profesionalisme kepala sekolah, penguatan tata kelola sekolah, serta terwujudnya SMP Muhammadiyah Purwojati sebagai sekolah yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. SiS | Antarkita

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon

LEGON: Budidaya Lele dalam Galon Solusi Ketahanan Pangan dan Kepedulian Lingkungan Mewujudkan anak yang sehat dalam masa pertumbuhan membutuhkan pemenuhan gizi yang seimbang, terutama asupan protein yang sesuai dengan kebutuhan usia. Dalam konteks penanganan stunting, ketersediaan makanan bergizi bukan sekadar anjuran, tetapi keharusan yang harus diupayakan secara nyata hingga ke tingkat keluarga. Protein hewani menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Salah satu solusi sederhana, murah, dan mudah diterapkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga adalah melalui budidaya ikan lele. Inovasi LEGON (Lele Galon) hadir dengan memanfaatkan galon bekas air minum yang selama ini sering berakhir sebagai limbah. Alih-alih dibuang, galon bekas dapat diolah menjadi media budidaya ikan lele yang praktis, efisien, dan ramah lingkungan. Metode ini tidak membutuhkan lahan luas, cukup memanfaatkan halaman rumah, teras, atau ruang sempit yang tersedia. Budidaya lele menggunakan galon air mineral memiliki sejumlah manfaat yang signifikan. Dari sisi biaya, penggunaan galon bekas menjadikan modal awal sangat terjangkau dibandingkan pembangunan kolam atau penggunaan tangki besar. Galon mudah diperoleh, bahkan dapat dimanfaatkan dari limbah rumah tangga yang tidak terpakai. Selain itu, ukurannya yang relatif kecil membuat galon fleksibel dan mudah dipindahkan, sehingga penataan lokasi budidaya dapat disesuaikan dengan kondisi rumah. Metode LEGON juga cocok diterapkan dalam skala kecil, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun sebagai hobi produktif. Bagi pemula yang ingin belajar budidaya ikan tanpa risiko besar, galon menjadi media yang sederhana dan mudah dikontrol. Kualitas air seperti pH, suhu, dan tingkat oksigen dapat dipantau lebih teliti karena volume air yang terbatas. Pengelolaan pakan dan nutrisi pun menjadi lebih terukur, sehingga pertumbuhan ikan lele dapat berlangsung optimal. Namun demikian, budidaya lele dalam galon juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Kapasitas galon yang terbatas membatasi jumlah ikan yang dapat dipelihara. Kepadatan tebar harus diatur dengan baik agar ikan tidak stres dan tetap tumbuh sehat. Selain itu, galon lebih rentan terhadap perubahan suhu dibandingkan kolam besar, sehingga penempatan dan perlindungan dari paparan panas atau hujan ekstrem menjadi hal penting. Pemeliharaan rutin menjadi kunci keberhasilan LEGON. Pergantian air secara berkala, pembersihan galon, serta pemantauan kesehatan ikan harus dilakukan secara konsisten. Ketersediaan nutrisi yang cukup dan seimbang juga wajib diperhatikan, karena pakan yang tidak tepat atau berlebihan dapat menurunkan kualitas air dan menghambat pertumbuhan ikan. Dalam beberapa waktu terakhir, budidaya lele dalam galon menjadi tren dan viral di media sosial. Metode ini menarik perhatian banyak orang karena dinilai praktis, hemat tempat, dan cocok diterapkan di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas. Dengan modal galon bekas dan peralatan sederhana, masyarakat dapat memulai budidaya lele sebagai sumber protein keluarga maupun usaha sampingan. Meski terlihat mudah, kegagalan dalam ternak lele di galon sering dialami pemula, terutama akibat air yang cepat bau. Akumulasi sisa pakan dan kotoran dalam volume air yang terbatas menyebabkan peningkatan kadar amonia secara drastis, sehingga menimbulkan aroma tidak sedap dan membahayakan kesehatan ikan. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta menegaskan bahwa pengelolaan limbah organik dan sirkulasi oksigen merupakan kunci keberhasilan ekosistem akuatik skala kecil. Berdasarkan standar operasional prosedur budidaya ikan air tawar yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, terdapat beberapa solusi efektif untuk mengatasi permasalahan air bau pada ternak lele di galon. Penyedotan kotoran dasar wadah atau sistem sipon secara rutin setiap dua hari sekali menjadi langkah utama untuk mencegah penumpukan amonia. Pemberian probiotik secara berkala juga membantu mempercepat penguraian limbah organik dan menekan bakteri patogen penyebab bau. Pengaturan kepadatan tebar ikan sangat dianjurkan, dengan jumlah ideal maksimal 15 ekor bibit per galon. Manajemen pakan harus dilakukan secara terukur, diberikan sedikit demi sedikit dan dihentikan ketika ikan sudah kenyang. Untuk membantu menyerap bau dan zat berbahaya, arang kayu atau batu zeolit dapat ditempatkan di dasar galon sebagai filter alami. Penggantian air secara parsial sekitar 30 persen volume air juga disarankan agar kualitas air tetap stabil dan ikan tidak mengalami stres. Selain itu, pemanfaatan tanaman air seperti kangkung dapat berfungsi sebagai filter biologis alami. Akar tanaman membantu menyerap nitrat dari sisa kotoran ikan sekaligus menjaga kadar oksigen terlarut dalam air. Dengan pengelolaan yang tepat, lingkungan budidaya tetap bersih, ikan tumbuh sehat, dan bau tidak sedap dapat dihindari. LEGON bukan sekadar metode budidaya ikan, tetapi solusi terpadu yang menjawab persoalan gizi, ketahanan pangan keluarga, kepedulian lingkungan, dan peluang ekonomi. Dari galon bekas, lahir sumber protein sehat yang terjangkau, sekaligus peluang usaha yang menjanjikan bila dikelola dengan baik dan berkelanjutan. SiS, Antarkita

Scroll to Top