Antarkita

Ruang Kita

Prespektif, Ruang Kita

Tiap Orang Punya Ujian Hidup Masing-Masing

Tiap Orang Punya Ujian Hidup Masing-Masing Oleh SiS Antarkita Hidup Bukanlah Untuk Selalu Mewujudkan Keinginan Sejak kecil manusia dibiasakan mengejar keinginan. Ingin mainan. Ingin nilai bagus. Ingin pekerjaan mapan. Ingin rumah besar. Ingin dihormati banyak orang. Lalu ketika dewasa, manusia sering mengira bahwa kebahagiaan adalah ketika semua keinginannya terpenuhi. Padahal hidup tidak berjalan seperti daftar belanja yang bisa dipilih sesuka hati. Ada hal-hal yang sudah kita perjuangkan mati-matian tetapi tetap gagal kita miliki. Ada cita-cita yang kandas di tengah jalan. Ada harapan yang hancur tepat di depan mata. Dan di situlah manusia mulai belajar satu hal penting… Bahwa hidup bukanlah tentang bagaimana semua keinginan menjadi kenyataan. Tetapi bagaimana hati tetap mampu bersujud ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Karena sesungguhnya Allah SWT sedang mendidik jiwa manusia. Kalau semua keinginan selalu dipenuhi, bisa jadi manusia akan tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah SWT. Kadang justru kegagalanlah yang membuat manusia kembali mendekat kepada Tuhannya. Kadang justru air mata yang membuat manusia belajar rendah hati. Maka jangan terlalu marah kepada keadaan. Sebab tidak semua yang hilang adalah musibah. Dan tidak semua yang datang adalah keberkahan. Ada hal yang terlihat indah tetapi justru menjerumuskan. Dan ada hal yang terasa pahit tetapi ternyata menyelamatkan kehidupan. Alloh SWT Bukanlah Karyawan Kita Yang Harus Selalu Menuruti Keinginan Kita Sering kali manusia berdoa dengan penuh semangat ketika sedang punya keinginan besar. Namun ketika doa belum terkabul, hati mulai goyah. Mulai bertanya-tanya: “Kenapa Allah SWT belum mengabulkan?” Padahal masalahnya bukan Allah SWT tidak mendengar. Tetapi manusia terlalu memaksakan kehendaknya sendiri. Allah SWT bukan “karyawan” manusia yang harus selalu menuruti semua keinginan kita. Allah SWT adalah Rabb Yang Maha Mengatur seluruh alam semesta. Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Manusia hanya melihat hari ini. Tetapi Allah SWT melihat masa depan. Manusia hanya melihat apa yang menyenangkan dirinya. Tetapi Allah SWT mengetahui apa yang menyelamatkan hidupnya. Betapa banyak orang yang memaksa ingin sesuatu, lalu setelah mendapatkannya justru hidupnya berantakan. Betapa banyak orang menangis karena gagal mendapatkan sesuatu, tetapi beberapa tahun kemudian baru sadar bahwa kegagalan itu ternyata menyelamatkannya. Karena itu jangan paksa Allah SWT mengikuti kemauan kita. Tetapi belajarlah mengikuti kehendak Allah SWT. Doa bukan alat memerintah Tuhan. Doa adalah bentuk penghambaan dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Kadang Allah SWT mengabulkan dengan segera. Kadang Allah SWT menunda. Kadang Allah SWT mengganti dengan yang lebih baik. Dan semua itu pasti mengandung hikmah. Fokuslah dan Bersyukurlah Dengan Nikmat Yang Ada Manusia sering lupa bahwa hidupnya saat ini sebenarnya dipenuhi nikmat. Masalahnya, mata terlalu fokus melihat milik orang lain. Lihat tetangga beli mobil, hati mulai gelisah. Lihat teman sukses bisnis, hati mulai iri. Lihat orang lain terlihat bahagia di media sosial, hidup sendiri terasa paling menderita. Padahal apa yang terlihat belum tentu sesuai kenyataan. Banyak orang terlihat tertawa tetapi diam-diam menangis. Banyak orang terlihat kaya tetapi hidupnya penuh tekanan. Banyak orang terlihat bahagia tetapi hatinya kosong. Karena itu jangan ukur hidup dari penampilan luar manusia. Fokuslah pada nikmat yang Allah SWT sudah titipkan hari ini. Masih bisa bangun pagi adalah nikmat. Masih bisa mendengar suara adzan adalah nikmat. Masih punya tubuh yang sehat adalah nikmat. Masih punya kesempatan memperbaiki hidup adalah nikmat luar biasa. Sayangnya manusia sering baru sadar arti nikmat setelah kehilangan. Saat sehat lupa bersyukur. Ketika sakit baru sadar mahalnya kesehatan. Saat masih bersama keluarga sering bertengkar. Ketika kehilangan baru sadar betapa berharganya kebersamaan. Allah SWT telah mengingatkan: “La in syakartum la aziidannakum wa la in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.” Syukur bukan hanya ucapan di bibir. Syukur adalah cara memandang hidup dengan hati yang penuh penerimaan kepada Allah SWT. Orang yang bersyukur akan menemukan ketenangan meski hidup sederhana. Sedangkan orang yang kufur nikmat akan terus merasa kurang walau hartanya melimpah. Ketika Keinginan Tidak Sesuai Kenyataan Jadikan Itu Sebagai Wasilah Ibadah Kita Tidak semua luka harus berubah menjadi kemarahan. Tidak semua kegagalan harus melahirkan putus asa. Kadang Allah SWT sedang membentuk mental dan iman kita melalui ujian kehidupan. Besi ditempa dengan panas agar menjadi kuat. Begitu pula manusia. Jiwa yang kuat biasanya lahir dari perjalanan hidup yang tidak mudah. Saat hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Mungkin Allah SWT sedang mengajarkan kesabaran. Mungkin Allah SWT sedang membersihkan hati dari kesombongan. Mungkin Allah SWT sedang mengingatkan agar kita tidak terlalu cinta dunia. Karena sering kali manusia baru benar-benar khusyuk berdoa ketika hidupnya berada di titik terendah. Saat semua pintu manusia tertutup, di situlah manusia mulai mengetuk pintu langit. Dan jangan pernah berpikir bahwa air mata kesabaran itu sia-sia. Allah SWT melihat semuanya. Allah SWT tahu perjuangan yang tidak dilihat manusia. Allah SWT tahu luka yang disembunyikan di balik senyuman. Maka jadikan setiap ujian sebagai wasilah ibadah. Saat gagal tetap sholat. Saat kecewa tetap berdzikir. Saat lelah tetap berbuat baik. Karena kemuliaan manusia bukan terletak pada sedikitnya masalah, tetapi pada cara dirinya menghadapi masalah. Fokuslah Pada Produktivitas Dengan Bersandar Sepenuhnya Kepada Allah SWT Banyak orang terlalu lama tenggelam dalam kesedihan sampai lupa melanjutkan kehidupan. Padahal hidup harus terus berjalan. Anak tetap butuh makan. Keluarga tetap membutuhkan perhatian. Masyarakat tetap membutuhkan kontribusi kita. Maka jangan habiskan umur hanya untuk meratapi keadaan. Bangkitlah. Bergeraklah. Berkaryalah. Walaupun perlahan. Walaupun tertatih-tatih. Karena orang yang terus bergerak akan menemukan jalan. Produktivitas adalah bentuk syukur kepada Allah SWT. Tangan yang terus bekerja lebih mulia daripada tangan yang terus mengeluh. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi lemah dan pasrah tanpa usaha. Tawakal bukan berarti diam. Tawakal adalah bekerja maksimal sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT. Petani tetap menanam meski tidak bisa memastikan hujan turun. Nelayan tetap melaut meski ombak tidak selalu bersahabat. Begitulah hidup. Kita hanya bertugas berikhtiar. Soal hasil, Allah SWT yang menentukan. Dan saat hati benar-benar bersandar kepada Allah SWT, maka kegagalan tidak akan mudah menghancurkan semangat hidup. Jangan Tergantung Suasana dan Kondisi Kalau semangat hidup bergantung pada suasana, maka manusia akan mudah rapuh. Saat dipuji semangat bekerja. Saat dicaci langsung berhenti. Saat uang banyak rajin ibadah. Saat ekonomi sulit mulai menyalahkan takdir. Padahal kehidupan memang tidak pernah stabil. Kadang di atas. Kadang di bawah. Kadang ramai teman. Kadang terasa sendirian. Karena itu […]

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Momentum Harus Diambil

Momentum Harus Diambil Oleh SiS Antarkita Baturraden, Sabtu 25 April 2026 Selepas Isya kami bertemu dengan Kyai Khafid Sirotudin, ketua LPUMKM PWM Jawa Tengah. Semua atas kehendak Allah SWT. Kebetulan malam itu saya sedang mengikuti acara Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Jawa Tengah dengan lokasi yang sama, yaitu di kawasan wisata Baturraden. Pertemuan kami tidak di ruang rapat formal. Kami duduk lesehan di trotoar depan Masjid Wisata Baturraden, sambil menikmati wedang ronde dan sate kelinci. Udara dingin khas Baturraden membuat suasana semakin hangat oleh obrolan yang mengalir tanpa protokoler. Ini salah satu hikmah beliau tidak menjadi pejabat negara, hehehe… Sehingga masih bisa bebas ngobrol di mana saja dan kapan saja tanpa jadwal resmi. Tidak ada meja panjang, tidak ada mikrofon, tidak ada notulen. Hanya trotoar, tikar sederhana, dan obrolan yang jujur dari hati ke hati. ☕ Ngobrol santai, tapi tema yang dibahas justru berat: bagaimana umat tidak hanya bertahan, tetapi mampu menangkap peluang perubahan zaman. Obrolan Random yang Bikin Gayeng 😄 Tema yang dibahas malam itu benar-benar random. Dan salah satu tema yang cukup jarang dibahas secara terbuka—bahkan jarang dipraktikan—adalah tema poligami. Padahal secara sejarah, praktik itu pernah dicontohkan oleh Kyai Ahmad Dahlan, namun dalam percakapan sehari-hari seolah menjadi topik yang disimpan di ruang sunyi. Tema poligami menjadi pembuka obrolan yang bikin suasana langsung cair. Kyai Khafid bercerita bahwa beliau mendengar ada gagasan dari seorang sesepuh pimpinan pusat Muhammadiyah yang ingin mendirikan IPM gaya baru. Serentak kami penasaran. “Apa itu IPM gaya baru, Kyai?” Beliau menjawab sambil tertawa: “Bukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah… tapi Ikatan Poligami Muhammadiyah… ha ha ha…” Suasana langsung pecah oleh tawa. Di tengah dinginnya Baturraden, obrolan terasa hangat dan akrab. Dari obrolan ringan itu saya belajar satu hal: bahwa keterbukaan dalam berdiskusi seringkali menjadi pintu masuk menuju kedewasaan berpikir. Dan tanpa bertanya panjang, saya juga mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya terhadap sikap beliau. Beliau menyampaikan dengan terang bahwa pilihan hidup harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekadar wacana. Dari Poligami ke Transformasi Bisnis Setelah obrolan ringan itu, arah diskusi pelan-pelan berubah. Dari tema keluarga, kami masuk ke tema yang jauh lebih strategis: transformasi ekonomi dan perubahan ekosistem bisnis. Tema yang kami bahas adalah tema yang sebelumnya juga sering muncul dalam diskusi-diskusi kami: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik. Perubahan transportasi dari bahan bakar minyak menuju kendaraan listrik bukan sekadar perubahan teknologi. Ini adalah perubahan ekosistem bisnis. Dan setiap perubahan ekosistem selalu melahirkan peluang baru. VinFast: Sinyal Bahwa Perubahan Sudah Datang 🚗⚡ Salah satu contoh nyata perubahan itu adalah langkah besar dari VinFast. Mereka telah meresmikan pabrik kendaraan listrik seluas 171 hektar di Subang pada 15 Desember 2025, dengan investasi awal sekitar Rp 4,8 triliun, dari total rencana investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Mulai April 2026, mereka menargetkan: Produksi 50.000 unit kendaraan per tahun Menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja Membangun rantai industri baru Ini bukan sekadar pembangunan pabrik. Ini adalah tanda bahwa gelombang perubahan sudah tiba di Indonesia. Dan gelombang itu tidak bisa dihentikan. Belajar dari V-Green: Ekosistem Itu Dibangun, Bukan Ditunggu Kami kemudian membahas langkah strategis dari V-Green, bagian dari ekosistem besar Vingroup. Yang menarik bukan hanya produknya. Yang menarik adalah cara berpikirnya. Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka tidak menunggu masyarakat membeli kendaraan listrik. Mereka justru membangun infrastrukturnya lebih dulu. Bayangkan skalanya: 80.000 Battery Swap Station 25.000 Charging Station Ini bukan proyek kecil. Ini adalah strategi besar. Karena mereka memahami satu prinsip penting: Ekosistem itu dibangun, bukan ditunggu. Perubahan Ekosistem Bisnis: Dari Pompa Bensin ke Kabel Listrik 🔌 Di sinilah percakapan kami menjadi semakin serius. Dulu: Bisnis energi identik dengan pompa bensin. Ke depan: Bisnis energi akan identik dengan kabel listrik. Dulu: Orang berhenti di SPBU selama 3 menit. Ke depan: Orang berhenti di SPKLU selama 30–90 menit. Perbedaan waktu ini menciptakan peluang ekonomi baru. Karena ketika orang menunggu, maka muncul kebutuhan: makan minum belanja bekerja bersosialisasi Artinya: SPKLU bukan sekadar tempat isi listrik. SPKLU adalah pusat ekonomi baru. Bagaimana dengan Industri Mobil BBM dan Bisnis SPBU BBM? Pertanyaan ini pasti muncul. Apakah mobil BBM akan hilang? Apakah SPBU akan mati? Jawabannya: Tidak hilang. Tapi berubah. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan: Kereta kuda tidak hilang ketika mobil muncul Wartel tidak hilang ketika handphone muncul Toko tidak hilang ketika marketplace muncul Yang berubah adalah bentuk bisnisnya. Begitu juga SPBU. Ke depan, SPBU akan berubah menjadi: SPBU + SPKLU pusat layanan kendaraan pusat ritel dan kuliner rest area modern pusat komunitas Dengan kata lain: yang tidak berubah akan tertinggal. yang mau berubah akan memimpin. Urgensi bagi LP-UMKM: Jangan Hanya Jadi Penonton Di sinilah kami melihat urgensi bagi LP-UMKM Muhammadiyah Jawa Tengah dan DIY. Karena perubahan ini bukan sekadar isu teknologi. Ini adalah isu ekonomi umat. Kalau kita hanya melihat, kita menjadi penonton. Kalau kita masuk, kita menjadi pelaku. Karena sesungguhnya: SPKL bukan sekadar fasilitas. SPKL adalah peluang usaha. SPKL-MU: Infrastruktur sebagai Simpul Ekonomi Baru SPKL sering dilihat sebagai fasilitas teknis tempat mengisi daya kendaraan listrik. Padahal kalau kita lihat lebih dalam, ini adalah: titik ekonomi. Satu SPKL-MU bisa menjadi tempat orang berhenti cukup lama: 10 menit untuk sepeda motor 60–90 menit untuk mobil listrik Dalam waktu itu, kebutuhan ekonomi muncul. Di sekitar SPKL-MU bisa tumbuh: warung makan kedai kopi minimarket bengkel jasa cuci kendaraan ruang istirahat komunitas UMKM Dengan kata lain: SPKL-MU adalah simpul ekonomi baru. Kalau kita mampu masuk ke sektor ini, maka kita tidak hanya menjadi pelaku UMKM. Kita menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi masa depan. Literasi Sejarah: Muhammadiyah Terbiasa Mengambil Risiko Kalau membaca sejarah satu abad Muhammadiyah, kita sebenarnya sudah terbiasa mengambil langkah besar. Kita pernah: Mengoreksi arah kiblat Mendirikan media Suara Muhammadiyah Membangun ribuan sekolah Mendirikan perguruan tinggi Mengembangkan rumah sakit Mengelola zakat dan filantropi Menetapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal Semua itu tidak lahir dari kenyamanan. Semua itu lahir dari keberanian. Artinya: secara kelembagaan, kita punya pengalaman perubahan. Dan benar kata pepatah: pengalaman adalah guru terbaik. Momentum Harus Diambil 🔥 Perubahan sedang terjadi. Mobil listrik sedang masuk. Energi listrik sedang berkembang. Ekosistem bisnis sedang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi: Apakah perubahan ini akan terjadi? Karena perubahan itu sudah terjadi. Pertanyaannya […]

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

MPM PWM Jawa Tengah Selenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026 Regional Banyumas

MPM PWM Jawa Tengah Selenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026 Regional Banyumas Menyiapkan “Kader yang Dirindukan” untuk Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Baturraden, 24 April 2026 Muhammadiyah di abad kedua terus memperluas bidang dakwah yang langsung menyentuh permasalahan rakyat. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi umat. Dalam kerangka tersebut, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menjadi salah satu ujung tombak gerakan dakwah Muhammadiyah yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat serta pengentasan berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat, Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Regional Banyumas Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Minggu, tanggal 24–26 April 2026, dengan pembukaan kegiatan dilaksanakan pada Jum’at, 24 April 2026, pukul 13.30 hingga 17.00 WIB, bertempat di Gedung Eduwisata Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Kabupaten Banyumas. Tantangan Kaderisasi dalam Program Pemberdayaan Dalam sambutannya, Ketua MPM PWM Jawa Tengah, Fathur Rahman, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat saat ini adalah masih terbatasnya jumlah kader yang bersedia terlibat secara aktif dalam kegiatan pemberdayaan. Menurut beliau, hingga saat ini masih cukup sulit menemukan kader Muhammadiyah yang siap terjun langsung dalam program pemberdayaan masyarakat, meskipun kebutuhan pendampingan masyarakat semakin meningkat. Beliau juga mencontohkan bahwa dalam pelaksanaan rapat kerja wilayah MPM Jawa Tengah, tingkat kehadiran peserta masih belum optimal, meskipun pertemuan telah dilaksanakan secara daring (online) yang seharusnya memberikan kemudahan bagi peserta dari berbagai daerah untuk hadir dan berpartisipasi. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bersama bahwa keberhasilan program pemberdayaan masyarakat sangat ditentukan oleh komitmen kader dalam menghadiri kegiatan, mengikuti proses pembelajaran, serta terlibat secara aktif dalam pendampingan masyarakat. Latar Belakang Penyelenggaraan SEKAM 2026 Kurangnya keterlibatan kader dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu latar belakang diselenggarakannya Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai program kaderisasi yang bertujuan menyiapkan kader-kader pemberdayaan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, serta komitmen untuk mendampingi masyarakat secara berkelanjutan. Menurut Fathur Rahman, MPM merupakan misi dakwah yang sangat strategis, karena menyentuh langsung permasalahan kehidupan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bentuk dakwah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat hampir tidak menimbulkan perdebatan khilafiyah, karena persoalan kemiskinan dan kesejahteraan merupakan persoalan universal yang membutuhkan solusi bersama. Pelaksanaan di Lingkungan Eduwisata BBPTUHPT Baturraden Pelaksanaan SEKAM Regional Banyumas Tahun 2026 memiliki keunikan tersendiri karena diselenggarakan tidak di gedung milik Muhammadiyah, melainkan di lingkungan Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden. Pemilihan lokasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual kepada peserta, khususnya dalam memahami potensi sektor riil yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti peternakan, pertanian, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Peserta dari Empat Daerah di Wilayah Banyumas Raya Kegiatan SEKAM 2026 Regional Banyumas diikuti oleh 47 peserta yang berasal dari empat daerah pimpinan Muhammadiyah di wilayah Banyumas Raya, yaitu: Kabupaten Banjarnegara Kabupaten Purbalingga Kabupaten Cilacap Kabupaten Banyumas Para peserta merupakan kader Muhammadiyah yang diharapkan mampu menjadi penggerak program pemberdayaan masyarakat di wilayah masing-masing. Harapan: Lahirnya Kader Pemberdayaan yang Siap Terjun ke Masyarakat Melalui kegiatan SEKAM 2026, MPM PWM Jawa Tengah berharap dapat melahirkan kader-kader pemberdayaan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan pendampingan, serta komitmen untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di akhir sambutannya, Fathur Rahman menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak kekurangan program pemberdayaan masyarakat. Namun, keberhasilan program tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan kader yang siap terjun langsung ke masyarakat. “Muhammadiyah membutuhkan kader yang mau hadir, mau belajar, dan mau bekerja bersama masyarakat,” tegasnya. Kegiatan SEKAM 2026 Regional Banyumas diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting dari dakwah Muhammadiyah di abad kedua.

Kabarkita, Ruang Kita, Uncategorized

Momen Mba Laras

Momen Mba Laras Oleh Bibi Dini Mba Laras, pagi ini Rabu 12 April 2026 telah mencatat satu momen kehidupan baru. Sebuah momen kebahagiaan yang tidak hanya membanggakan, tapi juga sangat mengharukan dalam perjalanan kehidupan Mba Laras. Momen yang akan selalu dikenang, bukan hanya oleh Mba Laras, tapi oleh seluruh keluarga. Menjadi seorang sarjana dengan predikat sangat memuaskan. MasyaAllah… sebuah capaian yang lahir dari perjalanan panjang, dari kesabaran yang tidak singkat, dari perjuangan yang kadang melelahkan, dan dari doa-doa yang terus dipanjatkan tanpa henti. 🎓✨ Hari itu bukan sekadar hari wisuda. Hari itu adalah hari pembuktian. Hari itu adalah hari di mana semua rasa lelah, rasa rindu, dan rasa sabar selama ini seperti menemukan jawabannya. Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu pemandangan yang begitu menyentuh hati. Mamah dan Papah tidak bisa hadir secara langsung di ruangan wisuda. Mereka hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, lewat telekonferensi, dari negeri yang jauh—negeri kincir angin, Belanda. Bayangkan… Di satu sisi, Mba Laras berdiri dengan toga dan senyum bangga. Di sisi lain, Mamah dan Papah duduk di depan layar, menatap penuh haru dari negeri seberang. Mungkin jarak memisahkan raga, tapi tidak pernah memisahkan cinta dan doa orang tua kepada anaknya. Mungkin di sana, di Belanda, Mamah dan Papah menahan air mata. Air mata bahagia. Air mata haru. Karena melihat anaknya yang dulu mereka gendong, yang dulu mereka antar sekolah, hari ini berdiri tegak sebagai seorang sarjana. Alhamdulillah, atas pencapaian Mba Laras hari ini menjadi kebanggaan diri sendiri. Kebanggaan buat Mamah dan Papah yang meski jauh, tetap hadir dengan hati dan doa. Kebanggaan buat Mbah yang mungkin menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa syukur. Dan kebanggaan buat keluarga besar yang ikut merasakan getaran kebahagiaan ini. Terbayar sudah perjuangan selama ini di kota pelajar. Perjuangan menghadapi tugas demi tugas, ujian demi ujian, menghadapi kesepian, menahan rindu keluarga, dan tetap bertahan meski kadang terasa berat. Tidak semua orang tahu cerita di balik keberhasilan ini. Tapi keluarga tahu… dan Allah SWT tentu lebih tahu. Bibi Dini ikut bahagia, ikut bersyukur, dan sangat bangga bisa hadir membersamai momen penting ini. Bisa melihat langsung senyum bahagia Mba Laras. Bisa menyaksikan bagaimana wajah Mamah dan Papah muncul di layar, tersenyum haru dari negeri seberang. Sebuah pemandangan sederhana, tapi begitu menyentuh hati. ❤️ Karena kadang, kebahagiaan itu bukan soal hadir secara fisik. Tapi soal hadir dalam doa, dalam perhatian, dan dalam cinta yang tidak pernah putus. Semoga pencapaian hari ini menjadi tangga pertama untuk mencapai kesuksesan berikutnya. Karena hidup itu seperti perjalanan panjang. Wisuda hari ini adalah satu pemberhentian penting, tapi perjalanan masih terus berlanjut. Semoga ilmu yang sudah didapat menjadi berkah. Menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh. Menjadi cahaya dalam kehidupan. Dan menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dan ada satu harapan yang selalu terucap dalam doa… Semoga tidak lama lagi, Mba Laras bisa segera berkumpul kembali dengan Mba Nanda, Mamah, dan Papah yang selama ini hidup di negeri berbeda. Berkumpul tanpa layar. Tanpa jarak. Tanpa perantara. Hanya pelukan hangat keluarga yang selama ini dirindukan. Karena sejauh apa pun seseorang melangkah, Pada akhirnya, keluarga adalah tempat pulang yang paling menenangkan. Bibi Dini selalu mendoakan buat Mba Laras. Dalam setiap doa, selalu ada harapan agar Mba Laras diberikan kesehatan, kemudahan dalam menata masa depan, rezeki yang baik, dan jalan hidup yang penuh keberkahan. Terus semangat ya, Mba Laras. Terus percaya pada diri sendiri. Terus melangkah dengan keyakinan. Dan jangan pernah berhenti bermimpi. Menjadi kebanggaan diri sendiri. Menjadi kebanggaan Mamah dan Papah, meski dari jauh mereka menyaksikan dengan air mata bahagia. Menjadi kebanggaan Mbah. Dan menjadi kebanggaan keluarga besar. Semoga momen bahagia ini menjadi catatan sejarah yang akan selalu dikenang seumur hidup. Menjadi cerita indah yang kelak akan diceritakan kembali kepada anak cucu. Bahwa pernah ada satu hari yang penuh haru, penuh doa, dan penuh cinta— Hari di mana seorang anak berhasil membahagiakan orang tuanya, meski terpisah oleh jarak ribuan kilometer. Semoga momen bahagia ini bukan hanya menjadi kebahagiaan hari ini, tapi menjadi awal dari kebahagiaan-kebahagiaan berikutnya. Salam hangat penuh cinta dan doa selalu, Dari Bibi Dini.

Kabarkita, Ruang Kita

Terbaik Buat Mba Laras

Terbaik Buat Mba Laras Oleh Bibi Dini Selamat buat Mba Laras. Pagi ini, Rabu 12 April 2026 telah memasuki satu tahap kehidupan baru. Satu fase penting dalam perjalanan hidup yang penuh cerita, penuh perjuangan, dan penuh harapan. Menjadi seorang sarjana dengan predikat sangat memuaskan. MasyaAllah… ini bukan sekadar gelar, bukan sekadar ijazah, tapi bukti dari ketekunan, kesabaran, dan semangat yang tidak pernah padam. Ada hari-hari lelah, ada rasa rindu rumah, ada mungkin air mata yang jatuh diam-diam. Tapi Mba Laras memilih bertahan, memilih terus melangkah. Dan hari ini, semua itu terbayar indah. 🎓✨ Alhamdulillah, atas pencapaian Mba Laras hari ini menjadi kebanggaan diri sendiri. Kebanggaan buat Mamah dan Papah yang selama ini mungkin menahan banyak rasa—menahan khawatir, menahan rindu, tapi selalu menguatkan dengan doa. Kebanggaan buat Mbah yang selalu menyebut nama cucunya dalam setiap doa, berharap suatu hari melihat Mba Laras berdiri tegak membawa kabar bahagia. Dan tentu saja, kebanggaan buat seluruh keluarga besar yang ikut menyaksikan perjalanan ini, meskipun dari jarak yang jauh. Terbayar sudah perjuangan selama ini di kota pelajar. Perjuangan bangun pagi mengejar kuliah, belajar sampai larut malam, menghadapi ujian demi ujian, dan menata harapan di tengah keterbatasan. Tidak semua orang tahu beratnya proses itu, tapi keluarga tahu… dan hari ini keluarga ikut merasakan haru dan bahagianya. Bibi Dini ikut bahagia, ikut bersyukur, dan sangat bangga atas pencapaian Sarjana Mba Laras pagi ini dengan predikat sangat memuaskan. Rasa bahagia ini hangat sekali, seperti melihat anak sendiri berhasil menapaki satu tangga penting dalam hidupnya. Ada rasa haru, ada rasa syukur, dan ada doa yang terus mengalir tanpa henti. 😊 Semoga pencapaian hari ini menjadi tangga pertama untuk mencapai kesuksesan berikutnya. Karena hidup itu seperti menaiki anak tangga—satu langkah sudah dilalui dengan baik, langkah berikutnya tinggal dijalani dengan keyakinan dan semangat. Semoga ilmu yang sudah didapat menjadi berkah, menjadi cahaya dalam kehidupan, dan menjadi bekal untuk menghadapi masa depan yang lebih luas. Semoga Mba Laras menjadi pribadi yang tidak hanya pintar, tapi juga kuat, rendah hati, dan bermanfaat bagi banyak orang. Dan ada satu harapan sederhana dari hati seorang Bibi… Semoga Mba Laras segera bisa cepat berkumpul kembali dengan Mba Nanda, Mamah, dan Papah yang selama ini hidup di negeri berbeda. Karena sejauh apa pun langkah kita pergi, pada akhirnya keluarga adalah tempat pulang yang paling dirindukan. Pelukan keluarga adalah obat paling hangat setelah perjalanan panjang. ❤️ Bibi Dini selalu mendoakan buat Mba Laras. Dalam setiap doa, selalu ada harapan agar Mba Laras diberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan rezeki, dan jalan hidup yang penuh keberkahan. Terus semangat ya, Mba Laras. Jangan takut menghadapi dunia. Jangan ragu melangkah. Karena hari ini sudah membuktikan bahwa Mba Laras adalah pribadi yang mampu berjuang sampai berhasil. Menjadi kebanggaan diri sendiri. Menjadi kebanggaan Mamah dan Papah. Menjadi kebanggaan Mbah. Dan menjadi kebanggaan keluarga besar. Salam hangat penuh cinta dan doa selalu, Dari Bibi Dini.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Ada Masalah Ada Bisnis

Ada Masalah Ada Bisnis Oleh SiS Antarkita Jogjakarta, Kaliurang — Rabu, 22 April 2026 dini hari Pagi tadi, Rabu sekitar pukul 03-an dini hari, kami sekeluarga akhirnya sampai juga di rumah ponakan di jalan raya Kaliurang, Jogjakarta. Perjalanan kurang lebih 6 jam dari Purwokerto terasa panjang. Badan terasa remuk, mata berat, dan pikiran hanya ingin rebahan. Namun begitu mobil berhenti di depan rumah, rasa lelah itu seperti luruh pelan-pelan. Udara Kaliurang yang dingin menusuk kulit, tapi justru membuat pikiran terasa segar. Perjalanan jauh memang melelahkan, tapi tujuan yang jelas selalu menguatkan. Kami membuka gerbang pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Waktu masih sangat dini. Kami tidak ingin mengganggu istirahat mereka. Tapi ternyata, begitu mobil masuk halaman, pintu rumah langsung terbuka. Ponakan kami keluar dengan wajah setengah mengantuk, tapi tetap tersenyum. Kami sempat bertanya dalam hati: Apakah mereka menunggu kami? Atau terbangun karena suara mobil? Ternyata mereka terbangun karena mendengar suara mobil. Sederhana, tapi menyentuh. Karena dalam keluarga, suara kedatangan saja sudah cukup menjadi panggilan untuk bangun. Itulah hangatnya keluarga. Tidak perlu undangan resmi, cukup kehadiran. Kunjungan kami kali ini bukan sekadar silaturahmi. Ada momen spesial yang ingin kami saksikan. Ponakan kami yang satu sudah berkeluarga. Sementara adiknya, hari itu akan diwisuda. Kami transit di rumah ponakan yang sudah berkeluarga, dan ponakan yang wisuda adalah adiknya. Sebuah kebahagiaan keluarga yang sederhana, tapi penuh makna. Karena setiap wisuda bukan hanya tentang gelar. Tapi tentang perjuangan panjang. Tentang orang tua yang menahan lelah. Tentang keluarga yang menahan keinginan demi masa depan anaknya. Di ruang tamu yang sederhana, obrolan keluarga pun mengalir. Pertanyaan-pertanyaan ringan muncul, tapi penuh perhatian: “Bagaimana kabar anak-anak?” “Sehat semua?” “Sekarang kerja di mana?” Obrolan itu terasa hangat, walaupun mata mereka masih berat. Sesekali mereka menguap. Sesekali mengusap mata. Sebenarnya mereka ingin melanjutkan tidur. Tapi rasa hormat kepada tamu membuat mereka tetap menemani. Sebelum mereka benar-benar kembali ke kamar, ada satu cerita yang membuat saya terdiam. Cerita tentang pekerjaan mereka. Tentang sebuah perusahaan rental mobil. Awalnya saya mengira, ini bisnis biasa. Rental mobil seperti kebanyakan. Tapi ternyata tidak. Bisnis ini lahir dari masalah. Masalah yang nyata. Masalah yang dialami banyak orang. Dan dari situlah inspirasi besar muncul. Ketika Masalah Tidak Diselesaikan, Ia Menjadi Keluhan Ketika Masalah Diselesaikan, Ia Menjadi Bisnis Beberapa tahun lalu, ketika transportasi online berkembang pesat, permintaan layanan mobil meningkat sangat tajam. Penumpang banyak. Pesanan tinggi. Kebutuhan besar. Namun di lapangan terjadi satu masalah sederhana: mobilnya tidak cukup. Banyak orang ingin menjadi driver. Banyak orang ingin bekerja. Banyak orang ingin mendapatkan penghasilan. Tapi mereka tidak punya mobil. Harga mobil mahal. Cicilan berat. Risiko besar. Akhirnya peluang ada, tapi tidak bisa dimanfaatkan. Di sinilah perbedaan pola pikir mulai terlihat. Orang biasa melihat masalah lalu mengeluh. Pebisnis melihat masalah lalu berpikir. “Kalau mereka tidak punya mobil, bagaimana kalau mobilnya kita sediakan?” Sederhana. Tapi itulah titik awal lahirnya bisnis. Bisnis Itu Bukan Dimulai dari Modal Tapi Dimulai dari Kepekaan Banyak orang berpikir: kalau mau bisnis harus punya modal besar. Padahal sering kali, bisnis besar justru dimulai dari kepekaan terhadap masalah kecil. Masalah driver tidak punya mobil. Masalah perusahaan kekurangan armada. Masalah penumpang menunggu terlalu lama. Semua masalah itu saling terhubung. Dan di situlah lahir solusi: membuat perusahaan rental mobil khusus untuk driver. Driver tidak perlu membeli mobil. Tidak perlu kredit. Tidak perlu modal besar. Cukup menyewa. Langsung bisa bekerja. Langsung punya penghasilan. Masalah selesai. Peluang terbuka. Inilah yang Disebut Captive Market Bisnis sering gagal bukan karena produknya jelek. Tapi karena pasarnya tidak jelas. Namun dalam bisnis ini, pasarnya sudah pasti. Driver transportasi online. Mereka membutuhkan mobil setiap hari. Mereka membutuhkan kendaraan untuk bekerja. Mereka membutuhkan solusi. Artinya: pasarnya sudah ada sebelum bisnisnya dibuat. Itulah yang disebut captive market — pasar yang sudah siap membeli. Satu Mobil, Banyak Manfaat Di sinilah kecerdasan model bisnis itu terlihat. Mobil disewakan ke driver. Driver membawa penumpang. Penumpang membayar perjalanan. Perusahaan mendapatkan pendapatan dari sewa mobil. Driver mendapatkan penghasilan dari kerja. Platform mendapatkan pendapatan dari layanan. Satu aset, menghasilkan banyak nilai. Dalam dunia usaha, bukan jumlah barang yang menentukan untung. Tapi seberapa optimal barang itu dimanfaatkan. Bisnis Tumbuh dari Data, Bukan Sekadar Perasaan Yang membuat saya semakin kagum adalah satu hal: bisnis ini tidak dibangun dari tebak-tebakan. Bisnis ini dibangun dari pengalaman. Dari data. Dari masalah yang berulang. Awalnya mereka menjalankan bisnis lain. Dari situ terkumpul data. Data menunjukkan kekurangan armada. Kekurangan armada menunjukkan peluang. Lalu lahirlah bisnis baru. Inilah bisnis yang bertumbuh secara alami. Ekosistem Itu Dibangun, Bukan Ditunggu Lama-kelamaan, bisnis ini berkembang. Tidak hanya menyewakan mobil. Mulai muncul layanan lain: Perawatan kendaraan. Manajemen driver. Pengaturan operasional. Penggantian armada. Pengelolaan keuangan. Semua saling terhubung. Semua saling menguatkan. Inilah yang disebut ekosistem bisnis mandiri. Bukan satu usaha berdiri sendiri. Tapi banyak usaha saling menopang. Pelajaran Besar dari Dini Hari di Kaliurang Obrolan singkat di ruang tamu dini hari itu memberi saya satu kesadaran penting. Bahwa peluang bisnis tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia ada di sekitar kita. Ia ada di keluhan orang. Ia ada di keterbatasan orang lain. Masalah adalah bahasa pasar. Keluhan adalah sinyal peluang. Kebutuhan adalah pintu rezeki. Semakin besar masalah yang kita selesaikan, semakin besar nilai bisnis yang kita bangun. Untuk Para Pencari Peluang Kalau hari ini kita merasa hidup penuh masalah, jangan langsung mengeluh. Coba ubah sudut pandang. Tanyakan pada diri sendiri: Masalah ini dialami oleh siapa saja? Masalah ini terjadi berulang atau tidak? Masalah ini bisa diselesaikan dengan cara apa? Kalau jawabannya jelas, di situlah peluang bisnis lahir. Karena sesungguhnya: orang yang sukses bukan orang yang paling pintar, tapi orang yang paling cepat melihat peluang di balik masalah. Penutup Perjalanan dini hari ke Kaliurang itu sederhana. Hanya perjalanan keluarga. Hanya silaturahmi. Hanya menghadiri wisuda. Namun dari perjalanan sederhana itu, muncul pelajaran besar. Bahwa inspirasi bisnis tidak selalu datang dari seminar. Tidak selalu datang dari buku. Tidak selalu datang dari teori. Sering kali, inspirasi terbesar datang dari obrolan ringan, di ruang tamu, di waktu dini hari, bersama keluarga. Dan dari situ saya semakin yakin: Selama masih ada masalah di dunia ini, selama itu pula peluang bisnis tidak akan pernah habis. Karena hukum dunia […]

Prespektif, Uncategorized

*Ibu Rumah Tangga Menapaki Jalan Ilmu* Bincang – bincang Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed dengan alumni Fakultas Hukum Unsoed angkatan 1986 Prof.Dr. Nita Triana, S.H., M.Si. tidak sekadar merekam perjalanan hidup, tetapi menghadirkan sebuah ikhtiar panjang yang sunyi, tekun, dan penuh makna yaitu tentang bagaimana seorang ibu rumah tangga menapaki jalan ilmu hingga mencapai puncak kehormatan akademik sebagai Guru Besar. Kisah ini bermula dari Ciamis, pada tanggal 3 Oktober 1967, ketika Prof. Nita dilahirkan sebagai anak ketiga dari 3 bersaudara pasangan Ibu Hj. Kurnaeni dan Bapak H. Tarmadji. Masa kecil TK hingga remaja SMA dijalani di kota Bogor, sebuah fase pembentukan karakter yang kelak menjadi fondasi keteguhan langkahnya. Perjalanan intelektualnya berlanjut di Fakultas Hukum (FH) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, tempat di mana benih kecintaan terhadap ilmu hukum mulai tumbuh dan berakar. Di tengah perjalanan studi, Prof. Nita memasuki fase kehidupan baru sebagai seorang istri pada tahun 1990, dan setahun kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana S1 FH Unsoed. Kehidupan kemudian membawanya mengikuti jejak suami yang menempuh pendidikan di PAU – ITB Bandung. Di titik ini, peran domestik dan intelektual mulai bertaut dengan melahirkan putra pertama, sekaligus mengawali karier sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda Bogor, sembari melanjutkan Studi Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Langkah hidupnya tidak berhenti di satu tempat. Prof. Nita melintasi batas geografis dan kultural, mendampingi suami (=Prof.Ir.Totok Agung,DH.,MP.,PhD.) saat menempuh studi doktoral di Fukuoka, Jepang. Sebuah fase yang bukan hanya tentang perpindahan ruang, tetapi juga pendewasaan jiwa. Sepulang dari Jepang, dengan ketekunan dan kesetiaan dalam mendampingi suami, Prof. Nita turut mengantarkan perjalanan akademik sang suami hingga meraih puncak sebagai Guru Besar di Unsoed. Selanjutnya, Prof. Nita memilih Purwokerto sebagai ruang pengabdian, demi tetap dekat dengan keluarga, sekaligus menanamkan ilmu di berbagai institusi, di antaranya sebagai dosen Bahasa Jepang di Unsoed, dosen Hukum di Unwiku, dan dosen di UIN Purwokerto. Tahun 2006 menjadi titik penting ketika Prof. Nita resmi menjadi CPNS dosen di STAIN (Universitas Islam Negeri / UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri/ Saizu), Purwokerto. Komitmennya terhadap ilmu tidak pernah surut. Prof. Nita melanjutkan Studi Doktoral di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan kekhususan Hukum Lingkungan, sebuah bidang yang kelak menjadi napas utama dalam karya-karya akademiknya. Sebagai akademisi di UIN Saizu, Purwokerto Prof. Nita tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti, dan mengabdi. Riset-risetnya menyentuh realitas konkret: Penyelesaian Sengketa Lingkungan di Banyumas, Purbalingga, hingga Cilacap. Prof.Nita tidak berhenti pada persoalan Lokal, tetapi melangkah ke Isu Global dengan meneliti energi terbarukan melalui Micro Hydro di Cilongok Banyumas , Pekalongan hingga Malaysia, Selanjutnya juga menjelajahi konsep dan praktek Carbon Pricing di Australia. Dalam sunyi Laboratorium Sosial dan kerasnya lapangan, Prof. Nita merajut ilmu yang berpihak pada keberlanjutan bumi. Dedikasinya juga tercermin dalam berbagai peran akademik: Tercatat dua kali Prof. Nita sebagai penerima Beasiswa Short Course di Leiden University yang didanai oleh DIKTI dan Kementerian Agama. Prof. Nita juga penerima berbagai Hibah Riset, hingga menjadi Reviewer Nasional Litapdimas yang bertugas di berbagai UIN (seperti UIN Bandung, UIN Pekalongan, dan UIN Surakarta). Kemuduan Prof. Nita tercatat beberapa kali sebagai presenter yang di danai Kemenag dalam forum AICIS. Prof. Nita yang juga aktif dalam membimbing mahasiswa, mulai dari S1 hingga S3, serta menjadi Penguji Eksternal Program Doktoral. Namun, perjalanan Prof. Nita menuju Guru Besar (GB) bukanlah jalan yang lurus. Pengajuan GB yang berulang kali ditolak menjadi ujian keteguhan. Bahkan, Prof. Nita sempat berhenti sejenak—bukan berhenti untuk menyerah, melainkan untuk menjalankan peran lain yang tak kalah mulia yaitu mendampingi anak-anaknya menghadapi ujian CPNS dan TNI. Ketika fase itu terlewati, Prof. Nita kembali dengan semangat yang lebih utuh yakni kembali menulis, meneliti, dan menyelami realitas lapangan. Dari ketekunan itulah lahir karya ilmiah berbasis Riset Energi Terbarukan yang ramah lingkungan yang pada akhirnya mengantarkan Prof. Nita meraih gelar Guru Besar dengan judul saat pidato pengukuhan GB nya “Merawat Bumi Menjaga Kehidupan: Penegakan Hukum Lingkungan Untuk Mewujudkan Keadilan Ekologis,” pada tanggal 14 April 2026 di UIN Prof.KH. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Kisah ini menemukan maknanya dalam sebuah refleksi bijak dari Emha Ainun Najib: bahwa terkadang Allah tidak mengabulkan semua yang kita inginkan, agar kita tidak lupa bagaimana cara memohon dan berdo’a. Maka, perjalanan ini bukan sekadar tentang capaian akademik, melainkan tentang kesabaran yang terjaga, do’a yang tak putus, dan keyakinan bahwa setiap langkah—betapapun lambat dan berat—akan menemukan takdir terbaiknya pada waktu yang paling tepat. Prof. Nita seorang Nenek yang bahagia dengan ke 3 cucu laki-lakinya dari 2 menantu dan 4 anaknya.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Seberapa Gigih

Seberapa Gigih Oleh SiS Antarkita Pernah tidak kita merasa semangat di awal, tapi entah kenapa pelan-pelan memudar? Awalnya ide terasa begitu hidup, bahkan seolah sudah terlihat hasilnya di depan mata. Tapi belum juga benar-benar berjalan jauh, langkah kita sudah mulai ragu. Lalu berhenti. Pelan-pelan hilang. Itulah yang sering disebut… layu sebelum berkembang. Dan kalau kita jujur, ini bukan cerita satu dua orang. Ini cerita banyak dari kita. Punya niat baik, punya gagasan untuk kebaikan, tapi lebih sering kalah sebelum benar-benar bertanding. Kita terlalu cepat menyerah, terlalu cepat menyimpulkan “mungkin ini bukan jalan saya”, padahal bisa jadi… kita hanya belum cukup gigih. Coba bayangkan ini: Berapa banyak ide baik di dunia ini yang tidak pernah jadi kenyataan… hanya karena pemiliknya berhenti terlalu cepat? Padahal hidup ini tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus tanpa hambatan. Justru sebaliknya, hidup ini seperti proses seleksi yang berjalan terus-menerus. Seleksi yang tidak terlihat, tapi hasilnya nyata. Yang memulai banyak. Yang bertahan sedikit. Yang sampai… lebih sedikit lagi. Dan menariknya, yang sampai itu bukan selalu yang paling pintar, bukan yang paling punya modal, bukan juga yang paling dikenal. Tapi yang satu ini hampir pasti ada: mereka gigih. Kegigihan itu bukan tentang tidak pernah jatuh. Justru orang yang gigih itu akrab dengan jatuh. Akrab dengan kecewa. Akrab dengan kondisi yang tidak sesuai harapan. Tapi mereka punya satu sikap yang sederhana dan kuat: tidak berhenti. Mereka mungkin melambat, tapi tidak mundur. Mereka mungkin istirahat, tapi tidak menyerah. Mereka mungkin diam sejenak, tapi tidak meninggalkan jalan. Dan di sinilah letak rahasianya… kegigihan itu tidak berdiri sendiri. Ia sangat erat dengan keikhlasan. Kalau kegigihan itu seperti langkah kaki, maka keikhlasan adalah hati yang menggerakkannya. Tanpa keikhlasan, langkah akan terasa berat. Cepat lelah. Mudah goyah. Kenapa? Karena kalau kita berjuang hanya untuk dilihat manusia, maka kita sedang menggantungkan semangat kita pada sesuatu yang terbatas. Manusia punya waktu terbatas, perhatian terbatas, bahkan kepedulian yang berubah-ubah. Hari ini dipuji, besok bisa dilupakan. Hari ini didukung, besok bisa ditinggalkan. Kalau itu yang jadi sumber semangat, maka wajar kalau kita cepat kehabisan tenaga. Tapi ketika kita meluruskan niat… ketika kita benar-benar berjuang karena Alloh SWT, maka ada kekuatan yang berbeda. Ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa. Dengan keikhlasan, kita seperti selalu terhubung dengan Alloh SWT. Tidak ada batas waktu. Tidak harus menunggu momen tertentu. Dalam setiap usaha, dalam setiap langkah, bahkan dalam kelelahan… kita tetap merasa “ditemani”. Dan ini yang membuat kita bertahan. Karena kita sadar, yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Mungkin tidak dilihat manusia, tapi pasti dilihat oleh Alloh SWT. Mungkin tidak dihargai sekarang, tapi pasti bernilai di sisi-Nya. Di titik ini, kegigihan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Bukan lagi sekadar usaha… tapi ibadah. Makanya, kegigihan itu tidak ada hubungannya dengan jabatan. Tidak harus punya posisi tinggi untuk bisa gigih. Tidak perlu menunggu diakui untuk bisa konsisten. Kegigihan itu tentang visi. Tentang seberapa besar kita peduli pada kemaslahatan. Tentang seberapa kuat kita ingin memberi manfaat. Tentang seberapa jauh kita siap berjalan… meskipun tidak ada yang melihat. Dan karena itu, kegigihan bukan perjalanan singkat. Ini bukan sprint. Ini maraton panjang. Bahkan bisa jadi… seumur hidup. Akan ada fase semangat, ada fase lelah. Akan ada fase ramai dukungan, ada fase sepi sendirian. Akan ada fase berhasil, ada fase gagal. Tapi semua itu bukan alasan untuk berhenti. Karena orientasi kita bukan hanya dunia. Bukan hanya hasil yang bisa dilihat hari ini. Tapi sesuatu yang lebih jauh… lebih abadi… yaitu pahala akherat. Setiap langkah kecil yang kita jaga dengan ikhlas, setiap usaha yang kita pertahankan dengan sabar… semua itu tidak akan hilang. Dan pada akhirnya, kita akan sampai pada satu pertanyaan yang sangat jujur untuk diri sendiri: Seberapa gigih kita? Apakah kita hanya kuat di awal, lalu hilang di tengah? Atau kita siap bertahan, meskipun pelan? Karena dunia ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak juga kekurangan orang berbakat. Tapi dunia ini… selalu membutuhkan orang yang tidak berhenti. Jadi kalau hari ini terasa berat… itu wajar. Kalau langkah terasa lambat… itu biasa. Tapi jangan berhenti. Karena bisa jadi, jarak antara kita dan hasil yang kita harapkan… hanya tinggal satu langkah lagi. Dan akan sangat disayangkan… kalau kita berhenti tepat sebelum itu terjadi.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Hidup Bisa Linier, Bisa Berbanding Terbalik

Hidup Bisa Linier, Bisa Berbanding Terbalik Oleh SiS Antarkita Kalau kita benar-benar jujur melihat perjalanan hidup, satu hal yang pasti: hidup ini tidak pernah sepenuhnya bisa kita kendalikan. Kadang terasa linier—apa yang kita rencanakan berjalan sesuai alur. Kita punya target, kita kejar, lalu hasilnya datang. Rasanya rapi, masuk akal, dan menenangkan. Di fase itu, kita seperti sedang berjalan di jalan tol. Lurus, jelas arahnya, dan terasa cepat sampai tujuan. Kita mulai percaya diri. Bahkan kadang muncul perasaan, “Oh, ternyata hidup ini bisa diatur.” Tapi tidak lama kemudian, hidup biasanya “mengoreksi” kita. Datang fase yang berbeda. Jalan yang tadinya lurus tiba-tiba berbelok. Yang tadinya lancar tiba-tiba terhambat. Yang tadinya pasti, berubah jadi penuh tanda tanya. Di sinilah hidup terasa berbanding terbalik. Sudah usaha maksimal, hasilnya tidak sesuai. Sudah berharap tinggi, kenyataannya justru menjauh. Bahkan kadang kita merasa seperti melangkah maju, tapi kehidupan justru membawa kita mundur. Di titik ini, kita sering bingung. Bahkan tidak sedikit yang mulai mempertanyakan diri sendiri, mempertanyakan usaha, bahkan mempertanyakan keadaan. Padahal, kalau kita tarik ke awal, kita sebenarnya sudah paham satu hal: Sebagai makhluk, kita punya cita-cita dan harapan. Tapi penentu takdir tetap Allah SWT. Kita ini hanya menjalani proses, bukan menentukan hasil. Kita hanya berikhtiar, bukan memastikan akhir. Dan sering kali, kita baru benar-benar memahami ini ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Ada kalanya hidup sesuai harapan. Apa yang kita inginkan tercapai. Apa yang kita doakan terkabul. Jalan terasa dimudahkan. Di fase ini, hidup terasa linier—nyaman, tenang, dan menyenangkan. Di sinilah kita diuji dengan cara yang halus: apakah kita bersyukur, atau justru merasa semua ini hasil dari kemampuan kita sendiri? Syukur bukan sekadar ucapan. Tapi kesadaran bahwa semua ini adalah titipan. Bahwa kita tidak punya kendali penuh. Bahwa apa yang kita nikmati hari ini bisa berubah kapan saja jika Allah berkehendak. Lalu datang fase yang berbeda. Hidup tidak lagi sesuai harapan. Apa yang kita rencanakan tidak terjadi. Apa yang kita kejar tidak kita dapatkan. Bahkan kadang yang datang justru hal-hal yang tidak kita inginkan. Di sini, kita diajak untuk berlapang dada. Dan ini tidak mudah. Karena yang kita hadapi bukan hanya keadaan, tapi juga ego. Kita ingin semuanya sesuai keinginan kita. Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana kita. Padahal Allah punya rencana yang jauh lebih luas. Ada kalanya Allah SWT menunjukkan sifat Maha Pengasih-Nya. Memberi kemudahan, kelapangan, kebahagiaan. Kita diberi apa yang kita inginkan, bahkan lebih. Di situ kita merasakan betapa Allah itu lembut, betapa Allah itu dekat. Tapi ada juga saat Allah menunjukkan Maha Kuasa-Nya. Menentukan takdir yang berbeda dengan harapan kita. Mengubah arah hidup kita. Menutup pintu yang kita yakini terbaik. Bahkan kadang “memaksa” kita berhenti dari sesuatu yang kita perjuangkan. Dan jujur saja, di situlah kita sering tumbuh paling dalam. Karena hidup yang linier membuat kita nyaman. Tapi hidup yang berbanding terbalik membuat kita sadar. Sadar bahwa kita tidak sekuat yang kita kira. Sadar bahwa kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terbaik. Sadar bahwa kita butuh Allah, bukan hanya saat sulit, tapi dalam setiap keadaan. Linier dan berbanding terbalik dalam kehidupan bukan sekadar kondisi. Itu cara Allah memperkaya khasanah hidup manusia. Memberi warna. Memberi rasa. Memberi kedalaman makna. Bayangkan kalau hidup selalu linier. Mungkin kita akan cepat puas. Mungkin kita akan mudah lupa. Mungkin kita tidak pernah benar-benar mengenal sabar, tidak pernah merasakan ikhlas, tidak pernah belajar tawakal. Sebaliknya, ketika hidup berbanding terbalik, kita dipaksa untuk berhenti sejenak. Merenung. Menyadari bahwa hidup ini bukan sekadar tentang hasil, tapi tentang proses mendekat kepada Allah. Di situlah kita mulai mengenal sifat-sifat Allah SWT yang Maha Sempurna. Kita mengenal kasih sayang-Nya saat kita diberi. Kita mengenal kekuasaan-Nya saat kita tidak mampu mengubah keadaan. Kita mengenal kebijaksanaan-Nya saat sesuatu yang kita anggap buruk ternyata membawa kebaikan. Kita mengenal keadilan-Nya saat kita melihat bahwa tidak ada yang sia-sia. Dan yang paling dalam, kita mengenal bahwa Allah selalu hadir—baik saat kita lapang maupun saat kita sempit. Semua pengalaman itu tidak akan lengkap kalau hidup hanya berjalan satu arah. Dan pada akhirnya, kita kembali diingatkan pada tujuan kita diciptakan. Kita ini makhluk. Bukan pemilik hidup. Bukan penguasa takdir. Dan tujuan kita bukan sekadar menggapai dunia. Dunia ini hanya tempat singgah. Semua yang kita kejar di dunia—harta, jabatan, pengakuan—semua itu sementara. Yang kekal adalah hubungan kita dengan Allah. Kita diciptakan untuk beribadah. Artinya, apa pun kondisi hidup kita—linier atau berbanding terbalik—semuanya adalah bagian dari ibadah, kalau kita menyikapinya dengan benar. Saat diberi, kita bersyukur. Saat diuji, kita bersabar. Saat tidak mengerti, kita tetap percaya. Karena pada akhirnya, bukan tentang bagaimana alur hidup kita. Tapi bagaimana arah hati kita. Apakah semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin jauh? Jadi kalau hari ini hidup terasa linier, jangan terlena. Jadikan itu ladang syukur dan amal. Kalau hari ini hidup terasa berbanding terbalik, jangan putus asa. Jadikan itu ladang sabar dan kedekatan. Karena dua-duanya adalah jalan. Jalan untuk mengenal Allah. Jalan untuk membersihkan hati. Jalan untuk kembali pada tujuan. Dan pada akhirnya, semua perjalanan ini akan bermuara pada satu hal: kembali kepada Allah SWT dengan hati yang lebih paham, lebih tenang, dan lebih tunduk.

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Nilai dan Kegigihan

Nilai dan Kegigihan Oleh SiS Antarkita Saya ingin mulai dari sesuatu yang sangat sering saya dengar, bahkan mungkin terlalu sering: “Saya ini bukan siapa-siapa di Muhammadiyah.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi kalau kita dalami, ada banyak hal tersembunyi di baliknya—rasa tidak percaya diri, rasa tidak pantas, bahkan kadang keputusan untuk tidak melangkah lebih jauh. Yang menarik, kalimat itu justru sering keluar dari orang-orang yang saya kenal punya kapasitas. Punya pengalaman. Punya karya. Punya jaringan. Bahkan sebagian dari mereka sudah melakukan hal-hal nyata yang manfaatnya dirasakan orang lain. Artinya masalahnya bukan pada kemampuan. Masalahnya ada pada cara kita memaknai “peran”. Kita terlalu sering menganggap bahwa kontribusi itu harus lewat jalur struktural. Harus jadi pengurus. Harus punya jabatan. Harus ada posisi resmi dulu, baru merasa “punya tempat” untuk berbuat. Padahal, kalau kita jujur melihat akar kelahiran Muhammadiyah, cara pandang itu tidak sepenuhnya tepat. Muhammadiyah tidak dilahirkan sebagai lembaga birokrasi yang kaku. Ia bukan sekadar organisasi yang sibuk dengan administrasi, laporan, dan struktur. Semua itu memang penting, tapi itu bukan ruh utamanya. Muhammadiyah adalah entitas pergerakan. Dan gerakan itu selalu hidup dari inisiatif, dari keberanian memulai, dari orang-orang yang tidak menunggu disuruh, tidak menunggu ditunjuk, tapi merasa terpanggil untuk berbuat. Gerakan itu tidak bertanya: “Kamu pengurus atau bukan?” Gerakan itu bertanya: “Kamu membawa apa?” Di sinilah kita sering keliru menempatkan fokus. Kita sibuk bertanya tentang posisi, padahal yang lebih mendasar adalah nilai. Apa nilai yang kita punya? Apa yang bisa kita kontribusikan untuk umat? Masalah apa yang bisa kita bantu selesaikan? Karena pada akhirnya, umat tidak terlalu peduli dengan struktur internal kita. Umat merasakan dampak, bukan jabatan. Orang yang membuka akses pendidikan, akan dikenang karena ilmunya. Orang yang membantu ekonomi masyarakat, akan diingat karena manfaatnya. Orang yang hadir di tengah masalah, akan dihargai karena kepeduliannya. Bukan karena titel organisasinya. Maka saya sering bilang ke teman-teman yang merasa “bukan siapa-siapa”: Kalau memang punya sesuatu yang bernilai, jangan ditahan. Tidak perlu menunggu diangkat. Tidak perlu menunggu diundang. Tidak perlu menunggu diakui. Mulai saja dari apa yang bisa dilakukan hari ini. Tapi di sinilah letak tantangan sebenarnya—dan sering jadi titik di mana banyak orang berhenti—yaitu kegigihan. Karena jujur saja, memulai itu relatif mudah. Yang sulit itu mempertahankan. Di awal, semangat biasanya tinggi. Ide mengalir. Energi penuh. Tapi begitu berhadapan dengan realitas, cerita mulai berubah. Akan ada yang tidak peduli. Akan ada yang meremehkan. Akan ada yang mempertanyakan: “Ini penting nggak sih?” Bahkan tidak jarang, kita merasa berjalan sendirian. Di titik itu, banyak orang mundur pelan-pelan. Bukan karena nilainya salah, tapi karena tidak cukup kuat menghadapi prosesnya. Padahal, kalau kita mau jujur, hampir semua kerja-kerja besar lahir dari proses yang panjang, sunyi, dan tidak selalu menyenangkan. Kegigihan itu bukan sekadar kerja keras. Ia adalah kemampuan untuk tetap berjalan saat tidak ada yang melihat. Ia adalah kesediaan untuk tetap bertahan saat hasil belum terlihat. Ia adalah keyakinan bahwa apa yang kita lakukan itu bermakna, meskipun belum diakui. Dan di sinilah nilai dan kegigihan harus berjalan bersama. Nilai memberi arah—supaya kita tidak asal bergerak. Kegigihan memberi daya—supaya kita tidak berhenti di tengah jalan. Tanpa nilai, kita bisa sibuk tapi tidak berdampak. Tanpa kegigihan, kita punya arah tapi tidak pernah sampai. Menariknya, banyak perubahan justru lahir dari orang-orang yang awalnya merasa “bukan siapa-siapa”. Karena mereka bergerak bukan karena jabatan, tapi karena panggilan. Mereka tidak sibuk menjaga posisi. Mereka sibuk menjaga manfaat. Mereka tidak menunggu pengakuan. Mereka fokus pada kontribusi. Dan pelan-pelan, tanpa disadari, apa yang mereka lakukan menjadi sesuatu yang besar. Diakui atau tidak, itu soal waktu. Tapi dampaknya sudah nyata. Jadi kalau hari ini kita masih merasa kecil, merasa belum punya tempat, atau merasa belum cukup “layak”—mungkin itu bukan penghalang. Mungkin itu justru titik awal yang jujur. Tinggal satu pertanyaan penting: Apakah kita mau berhenti di perasaan itu… atau melampauinya? Karena Muhammadiyah sebagai gerakan tidak pernah kekurangan orang dalam struktur. Tapi ia selalu membutuhkan orang-orang yang membawa nilai… dan cukup gigih untuk memperjuangkannya. Maka pesannya sederhana, tapi dalam: Temukan nilai yang benar-benar bermanfaat untuk umat. Lalu rawat, jalankan, dan perjuangkan dengan kegigihan. Meski pelan. Meski sepi. Meski tanpa tepuk tangan. Karena pada akhirnya, yang menggerakkan perubahan bukan mereka yang paling terlihat… tapi mereka yang paling konsisten berjalan.

Scroll to Top