Antarkita

Prespektif

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Jawa Tengah: Di Antara Angka 5,37 Persen dan Realitas Rakyat

Jawa Tengah: Di Antara Angka 5,37 Persen dan Realitas Rakyat Menimbang Pertumbuhan, Menguji Pemerataan, Menagih Keadilan Sosial Oleh SiS, antarkita Pemerintah Provinsi Jawa Tengah merilis kabar yang menggembirakan: pertumbuhan ekonomi mencapai 5,37 persen. Di atas rata-rata nasional. Sebuah capaian yang, di atas kertas, menunjukkan denyut ekonomi yang bergerak dan aktivitas produksi yang meningkat. Namun di tengah angka yang optimistis itu, pertanyaan publik tak bisa dibungkam: apa kabar angka kemiskinan, pengangguran, dan pemerataan ekonomi ke seluruh lapisan masyarakat? Sebab bagi masyarakat kecil, pertumbuhan bukan sekadar persentase. Pertumbuhan adalah soal pekerjaan yang tersedia atau tidak. Soal dagangan yang laku atau sepi. Soal harga beras, minyak, dan kebutuhan pokok yang terasa makin berat atau masih terjangkau. Pertumbuhan dan Realitas Lapangan Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya mengukur kenaikan nilai produksi barang dan jasa. Ia berbicara dalam bahasa makro: konsumsi naik, investasi meningkat, belanja pemerintah bergerak, ekspor bertambah. Tetapi kehidupan rakyat berlangsung dalam bahasa mikro: Berapa upah yang diterima tiap bulan? Apakah pekerjaan tetap tersedia? Apakah usaha kecil mampu bertahan? Apakah anak-anak mendapat pendidikan dan layanan kesehatan yang layak? Di sinilah sering muncul jurang antara statistik dan pengalaman sehari-hari. Bagi anak muda Jawa Tengah yang masih kesulitan mencari kerja, angka 5,37 persen terasa jauh dari realitas. Bagi pelaku UMKM yang berjuang mempertahankan omzet, angka itu belum tentu langsung terasa dalam bentuk peningkatan daya beli. Bagi petani dan buruh, pertumbuhan baru bermakna jika pendapatan mereka ikut naik dan stabil. Apa Kabar Angka Kemiskinan? Pertumbuhan yang sehat semestinya berkorelasi dengan penurunan kemiskinan. Namun pertanyaannya bukan hanya apakah kemiskinan turun, melainkan: Turun seberapa signifikan? Apakah penurunannya struktural atau sementara? Apakah masyarakat miskin benar-benar keluar dari kerentanan, atau hanya berpindah kategori statistik? Kemiskinan bukan sekadar angka. Ia menyangkut akses terhadap pendidikan, kesehatan, perumahan, dan kesempatan ekonomi. Jika pertumbuhan tinggi tetapi kantong-kantong kemiskinan masih bertahan, maka ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Pengangguran dan Kualitas Lapangan Kerja Selain kemiskinan, indikator penting lainnya adalah pengangguran. Namun lebih dari sekadar tingkat pengangguran terbuka, yang perlu dicermati adalah kualitas pekerjaan. Apakah pertumbuhan menciptakan lapangan kerja formal yang layak? Ataukah hanya memperbesar sektor informal dengan pendapatan tak menentu? Pertumbuhan ekonomi yang inklusif seharusnya: Menyerap tenaga kerja muda Memberi ruang bagi wirausaha kecil Mengurangi kesenjangan antara desa dan kota Jika tidak, maka pertumbuhan bisa saja terjadi tanpa distribusi kesempatan yang adil. Gini Ratio: Seberapa Merata Hasilnya? Di sinilah Gini Ratio menjadi penting. Indikator ini mengukur ketimpangan pendapatan. Semakin mendekati nol, semakin merata. Semakin mendekati satu, semakin timpang. Pertanyaan publik sederhana: Apakah 5,37 persen itu dinikmati bersama, atau terkonsentrasi pada kelompok dan sektor tertentu? Jika pertumbuhan hanya ditopang oleh sektor besar atau industri tertentu tanpa mengalir ke UMKM dan ekonomi rakyat, maka ketimpangan bisa tetap tinggi meski ekonomi tumbuh. Pertumbuhan tanpa pemerataan berisiko melahirkan paradoks sosial: Ekonomi membesar, tetapi jarak antar kelompok masyarakat semakin melebar. Indeks Pembangunan Manusia: Kualitas atau Kuantitas? Selain Gini Ratio, ada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengukur kualitas hidup melalui tiga dimensi utama: kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Pertumbuhan ekonomi idealnya berdampak pada: Angka harapan hidup yang meningkat Rata-rata lama sekolah yang lebih tinggi Pendapatan per kapita yang lebih baik Jika IPM stagnan atau meningkat lambat, maka pertumbuhan mungkin belum sepenuhnya menyentuh pembangunan manusia. Pembangunan sejati bukan hanya soal angka produksi, tetapi soal manusia yang lebih sehat, lebih terdidik, dan lebih sejahtera. Antara Narasi dan Transparansi Tidak ada yang salah dengan mengumumkan capaian pertumbuhan ekonomi. Itu bagian dari akuntabilitas publik. Namun narasi pembangunan akan lebih utuh jika disampaikan bersamaan dengan data kemiskinan, pengangguran, Gini Ratio, dan IPM secara transparan dan komprehensif. Publik bukan hanya ingin mendengar kabar baik. Publik juga ingin memahami tantangan yang masih ada, serta strategi konkret untuk mengatasinya. Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan sekadar tentang grafik yang naik, tetapi tentang rasa keadilan yang dirasakan. Menuju Pertumbuhan yang Inklusif Jawa Tengah membutuhkan pertumbuhan yang: Inklusif, menjangkau desa dan kota Produktif, menciptakan lapangan kerja berkualitas Berkeadilan, memperkecil kesenjjangan Berorientasi manusia, meningkatkan kualitas hidup Angka 5,37 persen bisa menjadi awal yang baik. Tetapi ia bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan yang nyata dan merata. Pertanyaan publik hari ini bukanlah bentuk pesimisme. Ia adalah bentuk kepedulian. Sebab masyarakat ingin memastikan bahwa setiap persen pertumbuhan benar-benar berarti bagi kehidupan sehari-hari. Jawa Tengah boleh tumbuh. Namun yang lebih penting: apakah rakyatnya ikut bertumbuh? Karena pada akhirnya, angka boleh berbicara. Tetapi kesejahteraanlah yang menjadi ukuran sesungguhnya.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Kader Muhammadiyah: Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Pergerakan

Kader Muhammadiyah: Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Pergerakan Pembicara Gosip, Pengamat Peristiwa, atau Perancang Masa Depan? Oleh SiS, antarkita Sejarah tidak pernah bergerak karena kebisingan. Ia bergerak karena gagasan. Ia maju karena keberanian. Ia berubah karena tindakan. Dalam setiap zaman selalu ada tiga tipe manusia. Pertama, mereka yang sibuk membicarakan orang lain. Kedua, mereka yang gemar mengomentari peristiwa. Ketiga, mereka yang merancang masa depan. Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: Sebagai kader Muhammadiyah, kita ingin menjadi yang mana? 🔥 1. Pelopor: Berani Memulai, Berani Berbeda Muhammadiyah lahir bukan dari ruang nyaman. Ia lahir dari kegelisahan melihat umat yang tertinggal dalam pendidikan, ekonomi, dan pemahaman agama. Ahmad Dahlan tidak memilih menjadi pengamat keadaan. Ia menjadi pelopor perubahan. Ia membangun sekolah modern ketika sistem lama stagnan. Ia mendirikan rumah sakit ketika layanan kesehatan terbatas. Ia memadukan iman dan ilmu ketika sebagian orang masih memisahkannya. Pelopor adalah mereka yang: Tidak menunggu situasi ideal. Tidak menunggu dukungan mayoritas. Tidak menunggu perintah. Pelopor menciptakan momentum. Pelopor membuka jalan. Pelopor sering berjalan sendirian sebelum akhirnya diikuti. Kader Muhammadiyah hari ini harus memiliki keberanian itu. Ketika ekonomi umat rapuh, ia tidak hanya mengeluh — ia merancang ekosistem pemberdayaan. Ketika generasi muda kehilangan arah, ia tidak sekadar menyalahkan zaman — ia membangun sistem pembinaan. Karena pelopor bukan penikmat sejarah. Ia pencipta sejarah. 🌱 2. Pelangsung: Menjaga Api Ideologi Tetap Menyala Gerakan besar bisa runtuh jika tidak ada pelangsung. Kader Muhammadiyah adalah penjaga estafet perjuangan. Ia memastikan nilai tauhid, keikhlasan, dan semangat tajdid tetap hidup. Pelangsung berarti: Setia pada manhaj perjuangan. Menjaga kemurnian visi. Menguatkan struktur organisasi. Merawat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) agar tetap relevan dan profesional. Pelangsung bukan sekadar bertahan. Ia menguatkan. Ia merawat. Ia menjaga kualitas. Ia sadar bahwa organisasi ini bukan milik generasi tertentu, tetapi milik sejarah panjang umat. Jika ia lalai, mata rantai perjuangan bisa terputus. Menjadi pelangsung berarti memiliki kesabaran jangka panjang. Tidak mudah kecewa. Tidak mudah lelah. Tidak mudah terpecah oleh dinamika internal. Karena ia tahu, perjuangan bukan sprint — ia maraton peradaban. ✨ 3. Penyempurna: Meningkatkan Mutu dan Dampak Namun sekadar melanjutkan tidak cukup. Setiap zaman membawa tantangan baru: digitalisasi, globalisasi, disrupsi ekonomi, perubahan sosial yang cepat. Kader Muhammadiyah harus menjadi penyempurna. Penyempurna berarti: Menghadirkan inovasi dalam dakwah. Mengintegrasikan teknologi dalam manajemen. Menguatkan kemandirian ekonomi jamaah. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan sosial. Penyempurna bukan mengubah prinsip. Ia memperbaiki metode. Ia meningkatkan kualitas. Ia memperluas dampak. Gerakan yang stagnan akan tertinggal. Gerakan yang adaptif akan memimpin. ⚖️ Tiga Pilihan: Gosip, Pengamat, atau Perancang? Hari ini menjadi pembicara gosip sangat mudah. Media sosial menyediakan panggung. Setiap orang bisa berkomentar. Energi habis untuk membicarakan pribadi, konflik, dan polemik. Menjadi pengamat peristiwa juga mudah. Kita cukup menganalisis dan mengkritik. Tetapi menjadi perancang masa depan membutuhkan kedalaman visi, keberanian mengambil risiko, dan konsistensi tindakan. Perancang masa depan: Berbicara tentang sistem, bukan sensasi. Membahas strategi, bukan personal. Membangun solusi, bukan sekadar opini. Ia tidak sibuk membesarkan masalah. Ia sibuk memperbesar manfaat. 🌍 Tantangan Kader di Era Disrupsi Dunia berubah cepat: Teknologi mengubah pola komunikasi. Ekonomi global mempengaruhi daya tahan umat. Generasi muda hidup dalam arus informasi tanpa batas. Polarisasi sosial mengancam persatuan. Jika kader Muhammadiyah hanya sibuk dalam gosip internal, maka gerakan akan melemah dari dalam. Tetapi jika kader berbicara tentang ide-ide besar — pendidikan unggul, ekonomi mandiri, teknologi dakwah, penguatan ranting — maka Muhammadiyah akan tetap menjadi lokomotif perubahan. Kader harus berpikir lintas generasi. Apa yang kita bangun hari ini harus berdampak 20–30 tahun ke depan. 🌟 Kesadaran Ideologis: Amanah Sejarah Menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar status administratif. Ia adalah amanah ideologis. Kita mewarisi gerakan besar yang telah membangun ribuan sekolah, rumah sakit, dan amal usaha. Kita tidak boleh hanya menikmati hasilnya. Kita harus memperkaya dan menyempurnakannya. Jika generasi awal adalah pelopor, maka generasi kita harus menjadi pelopor baru. Jika generasi sebelumnya adalah pelangsung, maka kita harus menjadi pelangsung yang lebih profesional. Jika generasi terdahulu telah menyempurnakan banyak hal, maka kita harus melompat lebih jauh. ✨ Penutup: Menentukan Arah Diri Sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling sering berkomentar. Sejarah mencatat siapa yang paling besar kontribusinya. Kita bisa memilih menjadi pembicara gosip. Kita bisa memilih menjadi pengamat peristiwa. Atau kita bisa memilih menjadi perancang masa depan. Menjadi pelopor berarti berani memulai. Menjadi pelangsung berarti setia menjaga. Menjadi penyempurna berarti terus meningkatkan kualitas. Dan kader Muhammadiyah sejati memilih jalan ketiga: Menjadi arsitek perubahan. Menjadi penjaga cahaya. Menjadi penyempurna pergerakan. Karena Muhammadiyah bukan sekadar organisasi. Ia adalah gerakan pencerahan. Dan pencerahan membutuhkan kader yang berpikir besar dan bertindak nyata. Oleh SiS, antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menjadi Kader Muhammadiyah yang Berkemajuan dan Mencerahkan Semesta

Menjadi Kader Muhammadiyah yang Berkemajuan dan Mencerahkan Semesta Oleh SiS, antarkita Di tengah dunia yang semakin bising, kita menyaksikan percakapan manusia terbagi dalam tiga arus besar. Orang besar berbicara tentang ide-ide. Orang biasa berbicara tentang kejadian. Orang kecil berbicara tentang orang lain. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan motivasi. Ia adalah cermin kualitas jiwa dan keluasan visi seseorang. Dan sebagai kader Muhammadiyah, kita ditantang untuk menentukan posisi: menjadi pembicara gosip, pengamat peristiwa, atau perancang masa depan? Muhammadiyah tidak lahir dari energi membicarakan orang lain. Ia lahir dari kegelisahan intelektual dan spiritual seorang ulama pembaru, Ahmad Dahlan. Beliau tidak sibuk mengkritik tanpa solusi. Beliau membangun sekolah. Beliau mendirikan rumah sakit. Beliau membentuk sistem pendidikan modern. Beliau menggerakkan umat dari keterbelakangan menuju kemajuan. Itulah ruh kader berkemajuan. 🌱 1. Berkemajuan dalam Akidah dan Spirit Kader Muhammadiyah yang berkemajuan memiliki tauhid yang murni dan kokoh. Tauhid bukan hanya doktrin teologis, tetapi fondasi keberanian. Orang yang bertauhid kuat tidak mudah takut pada tekanan, tidak mudah silau oleh jabatan, dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan pribadi. Ia sadar bahwa perjuangan ini bukan untuk dirinya, tetapi untuk kemaslahatan umat. Ia tidak menggadaikan nilai demi popularitas. Ia tidak menjual prinsip demi kenyamanan. Karena ia tahu, cahaya tidak akan lahir dari hati yang redup. 🧠 2. Berkemajuan dalam Pikiran Kader berkemajuan berpikir strategis. Ia berbicara tentang: Bagaimana pendidikan Muhammadiyah melahirkan generasi unggul dan berdaya saing global. Bagaimana ranting menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Bagaimana teknologi digital dimanfaatkan untuk dakwah dan transformasi sosial. Bagaimana membangun ekosistem bisnis yang memperkuat kemandirian jamaah. Ia tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan desain. Ia menyusun peta jalan. Ia merancang masa depan. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah selalu adaptif terhadap zaman. Ketika pendidikan tradisional stagnan, Muhammadiyah menghadirkan sistem modern. Ketika layanan kesehatan terbatas, Muhammadiyah membangun rumah sakit. Ketika umat lemah secara ekonomi, muncul gagasan koperasi dan pemberdayaan. Semangat itu harus hidup dalam setiap kader. ⚙️ 3. Berkemajuan dalam Gerakan Nyata Berbicara ide saja tidak cukup. Ide tanpa gerakan hanya menjadi wacana. Kader berkemajuan mewujudkan gagasan menjadi amal: Menguatkan struktur ranting sebagai basis gerakan peradaban. Menggerakkan kemandirian ekonomi keluarga. Membangun jaringan kolaborasi lintas komunitas. Menjadi teladan profesional dan berintegritas dalam pekerjaan. Ia memahami bahwa perubahan besar selalu dimulai dari lingkaran kecil. Dari keluarga yang kuat. Dari jamaah yang solid. Dari komunitas yang produktif. 🌍 4. Mencerahkan Semesta, Bukan Menghangatkan Konflik Di era media sosial, sangat mudah menjadi komentator. Sangat mudah menyebarkan opini. Sangat mudah memperkeruh suasana. Namun kader Muhammadiyah tidak dipanggil untuk menjadi penyulut api. Ia dipanggil untuk menjadi cahaya. Mencerahkan semesta berarti: Menghadirkan solusi, bukan provokasi. Mengedukasi, bukan memecah belah. Menguatkan ukhuwah, bukan memperdalam jurang perbedaan. Islam berkemajuan bukan Islam yang reaktif. Ia proaktif. Ia membangun, bukan merobohkan. Ia memimpin peradaban, bukan terseret arusnya. 🔥 5. Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Kader Hari ini kita menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks: Disrupsi teknologi. Ketimpangan ekonomi. Krisis moral generasi muda. Polarisasi sosial dan politik. Jika kader Muhammadiyah hanya sibuk membicarakan orang lain, maka ia kehilangan momentum sejarah. Sebaliknya, jika kader berbicara tentang ide-ide besar dan bergerak mewujudkannya, maka ia sedang menulis bab baru peradaban. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Kita harus menjadi arsitek perubahan. ✨ 6. Menjadi Besar dalam Cara Berpikir Menjadi kader berkemajuan berarti melatih diri untuk: Melihat jauh ke depan. Berpikir lintas generasi. Tidak terjebak pada konflik kecil. Tidak larut dalam perdebatan personal. Orang besar berbicara tentang ide karena ia memikirkan masa depan. Orang kecil berbicara tentang orang lain karena pikirannya sempit dan visinya pendek. Kader Muhammadiyah harus memilih menjadi besar — bukan karena jabatan, tetapi karena visi dan kontribusi. 🌟 Penutup: Cahaya Itu Harus Dinyalakan Muhammadiyah adalah gerakan pencerahan. Tetapi pencerahan tidak akan lahir jika kadernya redup. Tidak akan maju jika kadernya stagnan. Tidak akan mencerahkan jika kadernya hanya menjadi pengamat. Maka menjadi kader Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan semesta adalah komitmen untuk: Berpikir besar. Berjiwa bersih. Bergerak nyata. Berkontribusi luas. Berhenti membicarakan orang lain. Mulai membicarakan ide. Lalu wujudkan dalam amal. Karena sejarah tidak diingat oleh mereka yang sibuk berkomentar, tetapi oleh mereka yang berani membangun. Oleh SiS, antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Transformasi Sistem Ekonomi dari Pertumbuhan Menuju Perluasan Kebebasan Manusia

NEW ECONOMY Transformasi Sistem Ekonomi dari Pertumbuhan Menuju Perluasan Kebebasan Manusia Perubahan zaman tidak lagi berjalan linear—ia melompat. Disrupsi teknologi, krisis iklim, ketidakpastian geopolitik, dan ketimpangan sosial memaksa dunia menata ulang cara berpikir tentang ekonomi. Jika ekonomi lama bertanya: “Seberapa besar kita tumbuh?” Maka ekonomi baru bertanya: “Seberapa luas manusia menjadi lebih bebas?” Inilah esensi New Economy. Menurut CORE Indonesia dan ekonom Hendri Saparini, ekonomi baru dirancang untuk memperluas kebebasan substantif manusia melalui lima kapabilitas inti. Artinya, ekonomi bukan sekadar mekanisme produksi dan distribusi barang, melainkan sistem yang menentukan kualitas hidup manusia. I. PERGESERAN PARADIGMA: DARI GDP KE KEBEBASAN Selama puluhan tahun, indikator utama kemajuan adalah pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Model ini bertumpu pada: Ekstraksi sumber daya Manufaktur massal Akumulasi kapital Skala produksi Namun model tersebut menghasilkan konsekuensi serius: kerusakan lingkungan, ketimpangan, dan ketidakstabilan sosial. New economy hadir sebagai koreksi. Sebagaimana dijelaskan oleh Investopedia, ekonomi baru bertumpu pada: Teknologi Inovasi Knowledge-based industry Digitalisasi Keberlanjutan Tetapi lebih dalam dari itu, ia mengukur keberhasilan dari perluasan kebebasan manusia. II. LIMA KAPABILITAS INTI MANUSIA 1️⃣ Kapabilitas Hidup dalam Lingkungan Aman dan Berkelanjutan Lingkungan bukan eksternalitas. Ia adalah fondasi ekonomi. New economy menuntut: Produksi rendah emisi Energi terbarukan Efisiensi sumber daya Inovasi hijau Adaptasi perubahan iklim Pertumbuhan yang merusak lingkungan adalah pertumbuhan semu. Ekonomi baru memastikan generasi mendatang tetap memiliki ruang hidup yang layak. 2️⃣ Kapabilitas Menentukan dan Mengejar Tujuan Hidup Setiap manusia memiliki potensi. Ekonomi baru memastikan akses terhadap: Pendidikan berkualitas Kesehatan Pelatihan keterampilan Peluang kerja layak Akses teknologi Ketika akses terbuka, mobilitas sosial meningkat. Ekonomi menjadi jembatan menuju masa depan, bukan tembok penghalang. 3️⃣ Kapabilitas Berpartisipasi dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi lama cenderung eksklusif. Kebijakan dan keputusan terkonsentrasi pada segelintir elite. New economy mendorong: Transparansi Tata kelola partisipatif Inklusi sosial Demokratisasi akses informasi Partisipasi menciptakan legitimasi. Legitimasi menciptakan stabilitas. 4️⃣ Kapabilitas Memiliki Rasa Hormat Diri Martabat adalah inti kemanusiaan. Ekonomi baru menjamin: Upah layak Perlakuan adil Non-diskriminasi Pengakuan atas kontribusi Sistem ekonomi yang merendahkan manusia akan menghasilkan ketidakpercayaan dan konflik. Sebaliknya, penghormatan menciptakan loyalitas dan produktivitas. 5️⃣ Kapabilitas Hidup Tanpa Rasa Takut Ketakutan ekonomi—PHK mendadak, utang struktural, krisis berkepanjangan—membatasi kebebasan manusia. New economy mendorong sistem yang: Resilien terhadap krisis Memiliki jaring pengaman sosial Diversifikasi sumber pendapatan Stabilitas kebijakan Kebebasan sejati hanya mungkin ketika rasa takut berkurang. III. PERAN TEKNOLOGI DAN INOVASI Teknologi adalah enabler utama new economy. Digitalisasi: Menurunkan biaya transaksi Memperluas akses pasar Meningkatkan efisiensi Mendorong transparansi Memungkinkan kolaborasi lintas wilayah Ekonomi baru berbasis data, kreativitas, dan inovasi. Nilai tidak lagi semata berasal dari bahan baku, tetapi dari ide dan solusi. Namun teknologi tanpa nilai kemanusiaan akan memperlebar kesenjangan. Karena itu, inovasi harus dipandu oleh etika dan keberlanjutan. IV. DAMPAK STRUKTURAL NEW ECONOMY New economy mendorong perubahan dalam: 🔹 Model Bisnis Dari linear ke ekosistem. Dari kompetisi ekstrem ke kolaborasi strategis. 🔹 Dunia Kerja Dari pekerjaan rutin ke pekerjaan berbasis kreativitas dan pengetahuan. 🔹 Tata Kelola Dari sentralistik ke partisipatif. 🔹 Investasi Dari jangka pendek ke keberlanjutan jangka panjang. V. TANTANGAN DAN PELUANG New economy bukan tanpa tantangan: Kesenjangan digital Resistensi terhadap perubahan Ketimpangan akses teknologi Keterbatasan literasi Namun di balik tantangan itu terdapat peluang besar: Inovasi lokal berbasis teknologi Pemberdayaan UMKM melalui digitalisasi Hilirisasi industri berbasis nilai tambah Ekosistem ekonomi berkelanjutan PENUTUP: EKONOMI YANG MEMANUSIAKAN New economy adalah upaya menempatkan manusia kembali di pusat sistem. Ia tidak menolak pertumbuhan, tetapi menata ulang maknanya. Ia tidak menolak teknologi, tetapi mengarahkannya untuk kemaslahatan. Ia tidak menolak keuntungan, tetapi memastikan manfaatnya meluas. Keberhasilan ekonomi baru diukur dari pertanyaan sederhana: ✔ Apakah manusia lebih bebas? ✔ Apakah lingkungan lebih terjaga? ✔ Apakah partisipasi lebih luas? ✔ Apakah martabat lebih dihormati? ✔ Apakah rasa takut berkurang? Jika jawabannya ya, maka itulah ekonomi yang benar-benar maju— ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga membebaskan dan memanusiakan.

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Muhammadiyah dan Strategi Hilirisasi: Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong Berbasis Umat

Muhammadiyah dan Strategi Hilirisasi: Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong Berbasis Umat Kedaulatan pangan dan ekonomi umat bukan sekadar wacana, melainkan agenda strategis yang membutuhkan desain sistematis, terukur, dan berkelanjutan. Dalam konteks peternakan sapi potong, tantangan yang dihadapi bangsa ini bukan hanya persoalan produksi, tetapi ketergantungan pada rantai distribusi yang panjang, fluktuasi harga, serta lemahnya integrasi antara hulu dan hilir.   Di sinilah peran Muhammadiyah menjadi relevan dan strategis. Sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang memiliki jaringan kelembagaan luas—dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi—Muhammadiyah memiliki kapasitas sosial dan organisasi untuk membangun model bisnis berbasis hilirisasi sebagai jalan menuju kedaulatan ekosistem peternakan sapi potong. Hilirisasi bukan sekadar strategi bisnis. Ia adalah strategi penguasaan rantai nilai. Memulai dari Hilir: Kios Daging dan Gilingan sebagai Pondasi Strategi besar harus dimulai dari langkah konkret. Pengembangan kios daging dan unit gilingan menjadi titik awal yang realistis dan aplikatif. Mengapa hilir? Karena pasar adalah penggerak produksi. Tanpa kepastian pasar, produksi hanya menjadi spekulasi.   Kios daging berfungsi sebagai: Pusat distribusi langsung ke konsumen Pengendali kualitas produk Pengelola margin keuntungan Simpul penguatan ekonomi jamaah Unit gilingan menambah nilai tambah. Daging tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk siap pakai: daging giling, bakso, atau bahan olahan lain yang dibutuhkan rumah tangga dan UMKM kuliner. Arus kas harian dari kios menciptakan stabilitas keuangan. Dari stabilitas inilah ekspansi usaha dapat dilakukan secara bertahap. Suplai Dapur MBG: Anchor Market dan Stimulus Ekspansi Kebutuhan dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) dapat dijadikan sebagai anchor market atau pasar jangkar. Program ini menyediakan permintaan rutin, terukur, dan berskala besar. Kepastian suplai untuk dapur MBG menghadirkan beberapa dampak strategis: Volume permintaan terprediksi Perencanaan produksi lebih presisi Risiko usaha menurun Kepercayaan investor dan jamaah meningkat Lebih jauh, MBG tidak hanya menjadi pasar tetap, tetapi stimulus pengembangan pasar turunan. Dari suplai MBG, jaringan distribusi dapat diperluas ke: Rumah tangga sekitar Katering sekolah dan pesantren Rumah sakit dan klinik Muhammadiyah UMKM kuliner lokal Pasar tradisional dan modern Dengan demikian, hilir menjadi mesin penggerak ekosistem. Desain Ekosistem Terintegrasi: Hilir Menggerakkan Hulu Model ekosistem yang dibangun Muhammadiyah dapat dirancang sebagai sistem terintegrasi: Hilir: Kios daging dan unit olahan, termasuk suplai MBG Tengah: Penggemukan (feedlot komunitas) Hulu: Breeding atau pembibitan Kios dan olahan menciptakan permintaan harian. Permintaan tersebut menjadi dasar perencanaan penggemukan. Penggemukan kemudian membutuhkan pasokan bakalan dari breeding. Ketika ketiga lini ini terhubung dalam satu manajemen terpadu, maka: Pasokan terjamin Harga lebih stabil Margin tidak terputus di perantara Keuntungan berputar dalam ekosistem umat Inilah bentuk nyata kedaulatan ekonomi. Hulu Berbasis Petani Rakyat: Efisiensi Struktural dan Pemberdayaan Sektor hulu menjadi kunci keberlanjutan. Namun hulu tidak harus berbentuk peternakan besar yang padat modal. Muhammadiyah dapat mengembangkan model berbasis petani rakyat dengan pola pekerjaan sambilan. Petani desa pada dasarnya telah memiliki: Lahan atau pekarangan Limbah pertanian sebagai sumber pakan Tenaga kerja keluarga Dengan pendekatan ini, biaya tenaga kerja praktis tidak menjadi beban tambahan karena berbasis keluarga. Limbah pertanian seperti jerami, dedak, dan hijauan dimanfaatkan sebagai pakan utama. Secara konsep, biaya tenaga kerja dan pakan dapat ditekan sangat rendah karena menggunakan sumber daya yang sudah tersedia. Model ini menghasilkan efisiensi struktural sekaligus memberdayakan petani sebagai pelaku utama, bukan sekadar buruh produksi. Petani tetap menjalankan usaha tani utama, sementara penggemukan dan breeding menjadi tambahan penghasilan yang memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Pendampingan Teknologi Pakan: Produktivitas Tanpa Ketergantungan Efisiensi harus diimbangi dengan produktivitas. Di sinilah pentingnya pendampingan teknologi pakan. Muhammadiyah melalui lembaga pendidikan dan jejaring akademiknya dapat: Melatih teknik fermentasi pakan Mengembangkan silase berbasis bahan lokal Menyusun formulasi ransum sederhana Mengedukasi manajemen kesehatan ternak Teknologi ini bersifat tepat guna—mudah diterapkan, murah, dan berbasis sumber daya lokal. Hasilnya adalah peningkatan pertambahan bobot ternak tanpa ketergantungan pada pakan pabrikan mahal. Integrasi Pupuk Organik: Ekonomi Sirkular Desa Kotoran ternak bukan limbah, tetapi aset ekonomi. Dengan pengolahan menjadi pupuk organik, lahir mata rantai bisnis baru yang terintegrasi dengan sektor pertanian. Siklusnya menjadi sirkular: Limbah pertanian → Pakan ternak Ternak → Pupuk organik Pupuk → Produktivitas pertanian meningkat Model ini menghadirkan: Pengurangan biaya pupuk kimia Peningkatan kualitas tanah Tambahan pendapatan dari penjualan pupuk organik Ekosistem sapi potong tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan pertanian rakyat. Peran Strategis Muhammadiyah sebagai Orkestrator Muhammadiyah memiliki posisi unik sebagai orkestrator ekosistem. Perannya dapat meliputi: Pengorganisasian jaringan kios dan distribusi Standarisasi kualitas produk Pendampingan manajemen usaha Pelatihan teknologi pakan dan pupuk Integrasi pembiayaan berbasis komunitas Sinergi dengan amal usaha (sekolah, rumah sakit, pesantren) sebagai pasar internal Dengan jaringan nasional dan basis jamaah yang solid, Muhammadiyah mampu membangun model ekonomi terintegrasi dari desa hingga kota. Dampak Strategis: Dari Ekonomi Umat ke Kedaulatan Bangsa Jika sistem ini dijalankan konsisten, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi struktural: Stabilitas harga daging Peningkatan konsumsi protein masyarakat Pemberdayaan petani desa Perputaran ekonomi lokal yang cepat Pengurangan ketergantungan impor Terbentuknya ekosistem usaha berbasis jamaah Kedaulatan tidak lagi menjadi slogan, tetapi praktik nyata dalam kehidupan ekonomi umat. Penutup: Dari Gerakan Dakwah ke Gerakan Ekonomi Berdaulat Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan dalam amal nyata. Pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial adalah buktinya. Kini saatnya sektor peternakan sapi potong menjadi ladang dakwah ekonomi. Dengan strategi hilirisasi—memulai dari kios daging dan gilingan, menjadikan MBG sebagai pasar jangkar, mengintegrasikan penggemukan dan breeding berbasis petani rakyat, serta membangun ekonomi sirkular melalui pupuk organik—Muhammadiyah dapat menghadirkan model kedaulatan ekosistem yang konkret dan berkelanjutan. Dari dapur MBG hingga kandang petani, dari kios pasar hingga ladang pertanian, seluruh mata rantai terhubung dalam satu visi: membangun ekonomi umat yang mandiri, adil, dan berdaulat. — Oleh SiS, antarkita

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Pengembangan Peran Muhammadiyah dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong

Pengembangan Peran Muhammadiyah dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong Kedaulatan pangan merupakan bagian penting dari kedaulatan bangsa. Dalam komoditas daging sapi, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar berupa ketergantungan pada impor sapi bakalan dan daging beku. Ketika terjadi fluktuasi harga global, pelemahan nilai tukar, atau gangguan pasokan akibat penyakit hewan, stabilitas nasional ikut terdampak. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekosistem peternakan sapi potong nasional belum sepenuhnya kokoh dan mandiri. Dalam situasi tersebut, dibutuhkan peran aktif berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan yang memiliki jaringan luas dan kekuatan sosial-ekonomi yang mapan. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki potensi strategis untuk berkontribusi nyata dalam membangun kedaulatan ekosistem peternakan sapi potong. Muhammadiyah: Modal Sosial dan Infrastruktur Kelembagaan Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, tetapi juga gerakan sosial-ekonomi yang memiliki ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Jaringan yang tersebar hingga tingkat ranting di desa dan kota merupakan kekuatan struktural yang sangat besar. Modal sosial berupa kepercayaan jamaah, kultur gotong royong, serta sistem organisasi yang rapi menjadi fondasi untuk membangun gerakan ekonomi berbasis komunitas. Dengan pendekatan yang terencana dan profesional, Muhammadiyah dapat mengembangkan ekosistem peternakan sapi potong yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Penguatan Sektor Hulu: Pembibitan dan Produksi Fondasi utama kedaulatan sapi potong terletak pada sistem pembibitan (breeding) yang kuat. Tanpa pembibitan yang berkelanjutan, ketergantungan pada sapi bakalan impor akan terus terjadi. Muhammadiyah dapat mengambil peran dalam: Mendorong pembentukan kelompok peternak berbasis jamaah Mengembangkan pusat pembibitan sapi lokal unggul Bekerja sama dengan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam riset genetika dan manajemen pakan Mengakses skema pembiayaan syariah untuk modal ternak Mengelola wakaf produktif berupa lahan dan kandang peternakan Dengan manajemen yang baik, peternakan rakyat dapat ditingkatkan skalanya tanpa kehilangan karakter berbasis komunitas. Sistem klaster atau koperasi akan memperkuat posisi tawar peternak dan meningkatkan efisiensi produksi. Integrasi Sektor Tengah: Feedlot dan Pengolahan Selain pembibitan, sistem penggemukan (feedlot) perlu diperkuat agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri. Muhammadiyah dapat mengembangkan unit usaha penggemukan yang terhubung langsung dengan peternak binaan. Penguatan sektor ini meliputi: Standarisasi manajemen pakan dan kesehatan ternak Sistem pencatatan produksi yang transparan Rumah potong hewan yang memenuhi standar halal dan higienis Pelatihan kewirausahaan bagi generasi muda Muhammadiyah Dengan integrasi ini, rantai pasok menjadi lebih pendek dan efisien. Penguatan Sektor Hilir: Distribusi dan Pasar Internal Keunggulan Muhammadiyah terletak pada jaringan amal usaha yang sangat luas. Sekolah, pesantren, rumah sakit, universitas, hingga koperasi internal merupakan pasar potensial yang dapat menyerap hasil produksi peternak. Jika kebutuhan daging di lingkungan amal usaha dipasok dari jaringan internal Muhammadiyah, maka akan tercipta: Kepastian pasar bagi peternak Stabilitas harga Transparansi distribusi Peningkatan kualitas produk Pengembangan kios daging dan unit olahan berbasis jamaah juga dapat menjadi instrumen untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat branding produk halal dan berkualitas. Model Ekosistem Terintegrasi Pengembangan peran Muhammadiyah dalam peternakan sapi potong harus berbasis pada ekosistem yang saling terhubung: Hulu → Pembibitan dan produksi Tengah → Penggemukan dan pengolahan Hilir → Distribusi dan perdagangan Ketika seluruh mata rantai berada dalam satu jaringan nilai, keuntungan tidak terfragmentasi dan kesejahteraan jamaah meningkat secara kolektif. Dampak Sosial-Ekonomi yang Luas Jika dijalankan secara konsisten dan profesional, gerakan ini akan memberikan dampak signifikan: Meningkatkan pendapatan peternak rakyat Membuka lapangan kerja baru di pedesaan Mengurangi ketergantungan impor Memperkuat ekonomi umat berbasis nilai Mendukung ketahanan pangan nasional Lebih dari itu, ini merupakan bentuk nyata dakwah bil hal—dakwah melalui pemberdayaan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Komitmen Jangka Panjang dan Profesionalisme Kedaulatan tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, tata kelola yang transparan, serta manajemen profesional. Muhammadiyah perlu membangun sistem bisnis yang akuntabel, berbasis data, dan terintegrasi secara digital agar mampu bersaing di pasar modern. Kolaborasi dengan pemerintah, swasta, dan lembaga riset juga menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing. Penutup: Dakwah Ekonomi untuk Negeri Pengembangan peran Muhammadiyah dalam membangun kedaulatan ekosistem peternakan sapi potong adalah langkah strategis yang sejalan dengan misi besar persyarikatan: membangun masyarakat Islam yang berkemajuan. Dari kandang peternak di desa hingga distribusi di kota, dari jamaah untuk jamaah, Muhammadiyah dapat menghadirkan model ekonomi umat yang produktif, adil, dan berkelanjutan. Inilah kontribusi nyata dalam memperkuat kemandirian pangan dan memperkokoh fondasi ekonomi bangsa. Kedaulatan daging sapi bukan sekadar cita-cita, tetapi agenda perjuangan bersama. Dan Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk menjadi bagian penting dari gerakan besar tersebut. — Oleh SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap

Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap Kamis, 12 Februari 2026 Pagi ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia seperti rangkaian mozaik yang Allah susun rapi—setiap titiknya terhubung, setiap pertemuannya mengandung makna. Langkah pertama membawa saya ke SMP IT Buah Hati Cilacap, sekolah penghafal Al-Qur’an yang menumbuhkan generasi dengan fondasi langit. Di ruang-ruang kelas itu, saya melihat masa depan. Anak-anak yang bukan hanya belajar matematika dan sains, tetapi juga menanam ayat-ayat Allah di dalam dada. Di sinilah peradaban dimulai. Bukan dari gedung tinggi. Bukan dari kekuasaan. Tetapi dari hafalan, pemahaman, dan akhlak. Suasana pagi itu terasa teduh. Saya membayangkan, 10–20 tahun ke depan, anak-anak ini akan menjadi pemimpin, pengusaha, ulama, dan profesional—yang keputusan hidupnya dituntun oleh wahyu. Silaturahmi berlanjut dengan saudara seperjuangan di Ranting Muhammadiyah Pecikalan. Obrolan kami mengalir alami—dan menariknya, sangat nyambung dengan diskusi saya sebelumnya bersama teman Alumni Fapet Unsoed tentang peternakan. Dari kampus peternakan, teori breeding dan manajemen ternak, kini berpindah ke praktik sosial-ekonomi di tingkat ranting. Dan saya dibuat kagum. Sahabat ranting ini ternyata telah mempraktikkan konsep arisan kurban kambing dan sapi sejak tahun 2004. Bayangkan… sejak 2004. Sebuah konsep yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat strategis: Jamaah menabung secara kolektif. Hewan kurban direncanakan jauh hari. Peternak lokal diberdayakan. Ibadah berjalan. Ekonomi bergerak. Ini bukan sekadar arisan. Ini adalah rekayasa sosial berbasis ibadah. Kurban yang biasanya bersifat musiman, diubah menjadi sistem berkelanjutan. Jamaah tidak lagi “dadakan” saat Idul Adha, tetapi memiliki perencanaan. Peternak tidak lagi menunggu pasar tidak pasti, tetapi memiliki kepastian pembeli. Di titik ini saya semakin yakin: Masjid dan ranting tidak boleh hanya menjadi pusat ritual, tetapi juga pusat ekonomi umat. Kalau arisan kurban bisa berjalan konsisten sejak 2004, itu artinya ada budaya kolektif yang terbangun. Ada kepercayaan. Ada manajemen. Ada kepemimpinan akar rumput yang bekerja tanpa sorotan. Inilah kekuatan ranting. Dalam perjalanan pulang, Allah seakan menutup hari itu dengan simbol yang indah. Saya melewati sebuah masjid dengan nama yang unik dan langsung mengundang rasa penasaran.Masjid Mukiyem Islamiyati: Oase Spiritual Baru di Cilacap Di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, berdiri sebuah rumah ibadah yang bukan hanya bangunan fisik, tetapi pernyataan harapan: Masjid Mukiyem Islamiyati. Letaknya strategis, tepat di belokan menuju Perumahan Mahkota Al Fatih dan Grand Mahkota Permai. Siapa pun yang melintas hampir pasti melihatnya. Ia seperti penjaga gerbang spiritual bagi kawasan yang terus tumbuh. Dekat dengan Bandar Udara Tunggul Wulung, masjid ini menghadirkan pesan simbolik yang dalam: Setinggi apa pun manusia terbang, tetap harus kembali bersujud. Nama “Mukiyem Islamiyati” terasa unik di telinga. Namun justru di situlah kekuatannya. Nama itu sarat doa—tentang ketenangan (mukim, menetap dalam kedamaian) dan keislaman yang menyeluruh (kaffah). Ia bukan sekadar label, tetapi visi. Sejak diresmikan pada 9 November lalu, masjid ini telah memasuki babak baru kehidupan berjamaah di kawasan tersebut. Ia dirancang bukan hanya untuk shalat lima waktu dan Jumat, tetapi juga sebagai: Pusat pendidikan agama Tempat kajian keislaman Ruang aktivitas sosial kemasyarakatan Titik temu silaturahmi warga Masjid yang hidup bukan hanya ramai saat takbir, tetapi juga ramai dengan gagasan, kolaborasi, dan pemberdayaan. Hari ini seperti dirangkai dalam satu benang merah besar: 🔹 Sekolah tahfidz — membangun generasi. 🔹 Arisan kurban — membangun ekonomi jamaah. 🔹 Masjid baru — membangun pusat peradaban. Spiritualitas, pendidikan, dan kemandirian ekonomi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jika ketiganya disatukan, lahirlah umat yang kokoh. Saya membayangkan suatu saat: Di Masjid Mukiyem Islamiyati, lahir program arisan kurban seperti di Pecikalan. Dari SMP IT Buah Hati, lahir generasi penggerak ekonomi berbasis syariah. Dari diskusi peternakan, lahir sistem distribusi kurban yang profesional. Inilah ekosistem umat. Kita sering berbicara tentang kebangkitan. Padahal kebangkitan dimulai dari hal sederhana: Dari silaturahmi. Dari diskusi kecil. Dari arisan kurban. Dari masjid yang dibangun dengan niat tulus. Perjalanan hari ini mengajarkan satu hal: Peradaban tidak lahir dari keramaian wacana, tetapi dari konsistensi kerja nyata. Semoga setiap langkah yang kita ayunkan—di sekolah, di ranting, di kandang ternak, dan di masjid—menjadi bagian dari ikhtiar membangun umat yang berilmu, beriman, dan berdaya. Karena ketika ayat dijaga, ekonomi dikelola, dan masjid dihidupkan— maka harapan tidak pernah benar-benar padam. Oleh SiS antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Lebih 5.000 Jamaah Hadiri Tabligh Akbar PDM Brebes, Buya Anwar Abbas Serukan Ramadhan sebagai Madrasah Iman

Lebih 5.000 Jamaah Hadiri Tabligh Akbar PDM Brebes, Buya Anwar Abbas Serukan Ramadhan sebagai Madrasah Iman Brebes || AntarKita.com — Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kabupaten Brebes mengikuti Tabligh Akbar Triwulan PDM Brebes sekaligus Tarhib Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Azhar PRM Sawojajar, PCM Wanasari. Sejak pagi, arus jamaah terus berdatangan hingga memenuhi ruang utama masjid, serambi, dan halaman masjid menjadi tanda tingginya antusiasme warga Persyarikatan menyambut bulan suci, Ahad (8/2/2026).   Ketua PCM Wanasari, Drs. H. Imam Sugiharto, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan PDM Brebes yang menunjuk PRM Sawojajar sebagai tuan rumah Tabligh Akbar Triwulan sekaligus Tarhib Ramadhan. Ia menilai amanah tersebut sebagai bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab dakwah yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. “Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi PCM Wanasari untuk terus memperkuat peran sebagai garda depan dakwah Persyarikatan Muhammadiyah di Kabupaten Brebes, sekaligus berkontribusi nyata dalam mengembangkan peradaban Islam yang berkemajuan,” ujarnya. Apresiasi turut disampaikan Bupati Brebes, Hj. Paramitha Widya Kusuma, S.E., M.M., yang menegaskan peran Muhammadiyah sebagai mitra strategis Pemerintah Kabupaten Brebes, khususnya dalam penguatan sektor sosial, pendidikan, dan kesehatan. Menurutnya, kiprah Muhammadiyah selama ini telah memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah sekaligus penguatan nilai-nilai keumatan. “Pemerintah Kabupaten Brebes mendorong sinergi yang terus berkelanjutan dengan Muhammadiyah untuk bersama-sama membangun daerah, menjaga ukhuwah, serta menghadirkan kehidupan masyarakat yang religius, maju, dan berkemajuan,” ujar Bupati Paramitha.   Pada kesempatan tersebut, Bupati Brebes juga secara simbolis menyerahkan Sertifikat Wakaf kepada Ketua PRM Sawojajar serta menyalurkan bantuan sosial (bansos) kepada sejumlah jamaah. Penyerahan ini disaksikan langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua PDM Brebes, dan Ketua PCM Wanasari menjadi penanda kuatnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan Muhammadiyah dalam melayani umat dan masyarakat. Sementara itu, Ketua PDM Brebes, KH. Drs. H. Joko Mulyanto, M.Pd., menegaskan Tabligh Akbar Triwulan memiliki makna strategis sebagai ruang konsolidasi dakwah dan penguatan kebersamaan Persyarikatan. “Kegiatan ini bukan sekadar seremonial melainkan menjadi momentum strategis untuk merajut ukhuwah dan meneguhkan sinergi PCM–PCA, PRM–PRA, ortom, hingga seluruh amal usaha Muhammadiyah agar bergerak seirama melayani umat dan memajukan Persyarikatan,” tegasnya. Puncak acara diisi tausiyah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Buya Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag. Dalam ceramahnya, Buya Anwar mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai bulan pendidikan spiritual dan waktu terbaik untuk mensyukuri nikmat kesehatan dan memanfaatkan waktu dengan amal-amal terbaik. “Ramadhan, bukan sekadar ritual tahunan melainkan madrasah pembentukan iman, akhlak, dan kepedulian sosial. Ia juga menekankan pentingnya pertumbuhan bersama melalui dakwah yang nyata, membumi, dan berorientasi pada pemberdayaan umat, serta penguatan kaderisasi agar Muhammadiyah tetap menjadi garda depan pencerahan umat dan bangsa,” ujar Buya Anwar Abbas. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–11.30 WIB ini berjalan tertib, aman, dan khidmat dengan pengamanan puluhan personel KOKAM Surya Panatayudha Cabang Wanasari Marda Brebes. Lebih dari 5.000 jamaah dari 24 PCM–PCA se-Kabupaten Brebes hadir, bersama unsur Forkopimda dan Forkopimcam, sesepuh Muhammadiyah, anggota DPR RI (H. Wahyudin Noor Ali), anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah (H. Zaky Safrudin Prihatin) serta anggota DPRD Kabupaten Brebes (Fauzan Rasyid), jajaran PDM–PDA, PCM–PCA, PRM–PRA, hingga pimpinan ortom Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Acara kian semarak dengan kehadiran RendangMu Brebes yang menyambut setiap jamaah yang hadir dalam Tabligh Akbar Triwulan PDM Brebes. Kehangatan sambutan itu berpadu dengan kekhusyukan suasana saat rangkaian acara diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menyejukkan hati. Semangat kebersamaan kemudian menggelora melalui penampilan Paduan Suara PRNA Sawojajar yang membangkitkan rasa cinta tanah air dan militansi dakwah. “Indonesia Raya” menggema khidmat, disusul Mars Muhammadiyah, Mars ‘Aisyiyah, Mars Nasyiatul ‘Aisyiyah, hingga lagu “Ranting Itu Penting” yang menyatukan langkah dan tekad jamaah. Harmoni suara dan pesan yang disampaikan menjelma energi kolektif, meneguhkan ukhuwah serta semangat dakwah yang hidup dan membumi.   Tabligh Akbar ini menjadi penegasan bahwa semangat Islam Berkemajuan di Brebes terus menyala dan berdenyut dalam denyut kehidupan umat. Di bawah naungan ukhuwah yang hangat dan gotong royong yang kokoh, acara ini memancarkan aura spiritualitas yang menenteramkan, menguatkan iman sekaligus menyatukan langkah. Lebih dari sekadar perhelatan keagamaan, momentum ini menjelma sebagai cermin dakwah transformatif, yaitu dakwah yang mencerahkan nalar, merangkul keberagaman, dan menghadirkan kemaslahatan nyata bagi umat, masyarakat, dan semesta (Tarqum Aziz – JurnalisMu Brebes).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Islam Berkemajuan Menjelang Ramadhan: Catatan Tabligh Akbar PDM Banyumas di UMP

Islam Berkemajuan Menjelang Ramadhan: Catatan Tabligh Akbar PDM Banyumas di UMP Banyumas || AntarKita.com ~ Ribuan jamaah dari seluruh Banyumas menghadiri Tabligh Akbar PDM Banyumas menyambut Ramadhan 1447 H di Auditorium Ukhuwah Islamiyyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Ahad (8/2/2026). Antusiasme jamaah membuat auditorium, balkon, hingga pelataran dan lapangan dipenuhi peserta. Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso menyampaikan terima kasih atas kepercayaan PDM Banyumas kepada UMP sebagai tuan rumah, sekaligus menegaskan komitmen UMP sebagai rumah besar Persyarikatan dan pusat pengembangan peradaban Islam berkemajuan. “Terima kasih kepada PDM Banyumas atas kepercayaan menjadikan UMP sebagai tuan rumah Tabligh Akbar. UMP adalah rumah besar Persyarikatan Muhammadiyah, ruang terbuka bagi setiap gerak dakwah dan ikhtiar membangun peradaban Islam berkemajuan. Insya Allah, pengembangan Kampus 2 melalui Gedung Megatorium Margono Djojohadikusumo yang mendampingi UMP President Tower menjadi bagian dari komitmen tersebut.”ujarnya. Sementara itu, Ketua PDM Banyumas, KH. Drs. M. Djohar, M.Pd., menegaskan bahwa tabligh akbar ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat ukhuwah, mengokohkan konsolidasi dakwah, serta meneguhkan sinergi 29 PCM–PCA, ortom, dan AUM di Banyumas.   “Kehadiran warga Muhammadiyah yang memadati auditorium hingga pelataran, menurutnya, mencerminkan militansi jamaah, kuatnya semangat berjamaah, serta meningkatnya kepercayaan umat terhadap Persyarikatan. Hal tersebut sekaligus menjadi penanda berkembangnya amal usaha, menguatnya layanan ibadah, serta semakin kokohnya program dakwah dan pemberdayaan umat di bawah kepemimpinan PDM Banyumas,” ungkapnya. Puncak acara diisi tausiyah Ketua PP Muhammadiyah, Dr. dr. H. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., yang membidangi Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana. yang mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum peningkatan iman, akhlak, kepedulian sosial, serta menjaga kesehatan dan waktu sebagai nikmat besar Allah SWT. “Manusia sering lalai terhadap dua nikmat besar: kesehatan dan waktu luang. Kesehatan harus dijaga agar kita kuat beribadah, beramal, dan berkontribusi. Karena itu, dakwah harus menggembirakan dan memudahkan umat mencintai Islam dengan menguatkan peran ranting hingga amal usaha sebagai pilar gerakan dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan dan memberdayaan umat agar memiliki bekal kuat di dunia dan akhirat,” ujarnya. Selain itu, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. dr. H. Agus Taufiqurrahman turut memberikan apresiasi atas kiprah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang terus melengkapi fasilitasnya sehingga kian unggul, diminati mahasiswa nasional maupun internasional. Ia juga menilai PDM Banyumas telah membuktikan kiprah dakwahnya di berbagai sektor. Dengan penuh harap, ia mendoakan agar PimpongMu PDM Banyumas terus berprestasi, tidak berhenti di tingkat provinsi, serta mendorong agar RSI Purwokerto segera tumbuh menjadi rumah sakit unggulan milik Persyarikatan sekaligus rumah besar bagi seluruh aktivitas pergerakan dakwah Muhammadiyah. Acara yang berlangsung pukul 07.30 hingga 11.30 WIB ini berjalan tertib dan khidmat dengan pengamanan puluhan personel KOKAM Surya Kusuma Marda Banyumas. Kegiatan ini turut dihadiri unsur Forkopimda, Forkopimcam, sesepuh Muhammadiyah Banyumas, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, jajaran PDM dan PDA Banyumas, pimpinan AUM, serta tokoh-tokoh persyarikatan lainnya. Tabligh Akbar Sambut Ramadhan 1447 Hijriah yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas ini dihadiri lebih dari 7.000 jamaah. Mereka berasal dari 29 Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah (PCM–PCA) se-Daerah Banyumas, Jawa Tengah, bersama unsur ortom dan pimpinan amal usaha Muhammadiyah (AUM). Acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menyejukkan hati. Suasana semakin semarak dengan penampilan siswa-siswi SMP UMP yang membawakan lagu-lagu islami. Pengukuhan Pimpinan Ortom LSBO PDM Banyumas turut menambah khidmat kegiatan. Paduan Suara Rumah Sakit Islam (RSI) Purwokerto membangkitkan semangat jamaah melalui lagu “Indonesia Raya”, Mars Muhammadiyah, hingga Mars Aisyiyah”. Tabligh akbar ini menegaskan bahwa semangat Islam Berkemajuan yang digelorakan Muhammadiyah Banyumas terus menyala. Dalam balutan ukhuwah yang hangat dan gotong royong yang kuat, terpancar aura spiritualitas yang menenteramkan. Momentum ini bukan sekadar perhelatan keagamaan, melainkan cermin dakwah transformatif yang mencerahkan, inklusif, dan menebar manfaat luas bagi umat dan semesta (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Strategi Ketahanan Pangan Model Nabi Yusuf AS

Strategi Ketahanan Pangan Model Nabi Yusuf AS Blueprint Peradaban dari Wahyu, Kepakaran, dan Etika Kekuasaan Oleh: SiS Antarkita Ketahanan pangan bukan isu teknis semata. Ia adalah persoalan hidup dan mati sebuah bangsa, penentu stabilitas sosial, bahkan penyangga legitimasi kekuasaan. Sejarah mencatat, banyak peradaban runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena gagal mengelola pangan. Al-Qur’an, jauh sebelum lahirnya konsep ketahanan pangan modern, telah menghadirkan satu model yang utuh, visioner, dan berlapis melalui kisah Nabi Yusuf AS. Kisah ini bukan sekadar cerita moral, melainkan arsitektur kebijakan publik yang berpijak pada wahyu, ilmu pengetahuan, dan etika kepemimpinan. Kisah itu bermula dari kegelisahan negara. Seorang raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus, serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir kering. Mimpi ini adalah simbol siklus sejarah: masa surplus yang akan diikuti oleh masa krisis. Namun kegelisahan itu tidak mampu dijawab oleh para penasihat istana, para ahli tafsir mimpi, dan elite pengetahuan yang mengelilingi kekuasaan. Mereka memiliki jabatan, tetapi kehilangan kapasitas. Mereka dekat dengan kekuasaan, tetapi jauh dari kebenaran. Di sinilah Al-Qur’an menyampaikan kritik mendasar yang lintas zaman: krisis sering kali bukan akibat ketiadaan sumber daya, melainkan akibat kegagalan menghadirkan kepakaran yang sejati dalam pengambilan keputusan. Nabi Yusuf AS, yang justru berada di luar struktur kekuasaan dan bahkan dipenjara, tampil dengan tafsir yang jernih dan rasional. Ia membaca mimpi bukan sebagai fenomena mistik, melainkan sebagai indikator perubahan ekonomi dan sosial. Namun keunggulan Nabi Yusuf AS tidak berhenti pada kemampuan membaca tanda-tanda zaman. Ia melangkah lebih jauh dengan menyusun strategi ketahanan pangan yang sistemik dan berjangka panjang. Pada tujuh tahun masa subur, Yusuf AS mendorong peningkatan produksi pertanian secara maksimal. Tetapi pada saat yang sama, ia menekankan pengendalian konsumsi. Hasil panen tidak dihabiskan, melainkan disimpan dalam lumbung-lumbung negara. Gandum disimpan bersama tangkainya agar lebih tahan lama. Ini bukan kebijakan spontan, melainkan manajemen stok berbasis ilmu dan pengalaman empiris. Di sini kita melihat bahwa ketahanan pangan menurut Nabi Yusuf AS mencakup tiga lapisan utama: produksi, distribusi, dan cadangan. Produksi ditingkatkan, distribusi dikendalikan agar adil, dan cadangan disiapkan untuk menghadapi masa krisis. Model ini sejalan dengan konsep ketahanan pangan modern yang menekankan ketersediaan, akses, stabilitas, dan keberlanjutan. Keberanian Nabi Yusuf AS mencapai titik puncak ketika ia secara sadar meminta amanah strategis negara: “Jadikanlah aku bendaharawan negeri. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” Pernyataan ini sering disalahpahami sebagai ambisi pribadi. Padahal, dalam konteks krisis yang akan datang, ini adalah tindakan etis dan politis yang sangat berani. Yusuf AS menegaskan bahwa jabatan publik harus dipegang oleh mereka yang memiliki kapasitas dan integritas, bukan oleh mereka yang sekadar dekat dengan kekuasaan. Inilah kritik Al-Qur’an yang sangat relevan hari ini: menyerahkan urusan pangan kepada orang yang tidak ahli adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Ketahanan pangan tidak bisa dikelola dengan coba-coba, apalagi dengan pendekatan populis jangka pendek. Kesalahan kebijakan pangan bukan hanya soal angka statistik, tetapi bisa berujung pada kelaparan, konflik sosial, dan runtuhnya kepercayaan publik. Ketika masa paceklik benar-benar datang, Mesir tidak runtuh. Negara tetap berjalan, rakyat tidak dibiarkan kelaparan, dan stabilitas sosial terjaga. Bahkan negeri-negeri sekitar datang ke Mesir untuk membeli pangan. Ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya alat bertahan, tetapi juga sumber kedaulatan dan kekuatan geopolitik. Mesir tidak hanya selamat, tetapi menjadi penopang kawasan. Jika kita tarik ke konteks masa kini, “paceklik” tidak lagi hadir hanya dalam bentuk kekeringan atau gagal panen. Ia menjelma sebagai krisis iklim, kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, ketergantungan impor, fluktuasi harga pangan global, hingga marginalisasi petani. Lebih jauh lagi, paceklik juga hadir dalam bentuk kelangkaan kepakaran, krisis integritas, dan kebijakan pangan yang terjebak pada kepentingan jangka pendek. Sering kali negara mengetahui tanda-tanda krisis: data iklim tersedia, riset akademik melimpah, dan peringatan para ahli terus disuarakan. Namun kebijakan tetap bersifat reaktif, tambal sulam, dan berubah mengikuti siklus politik. Dalam kondisi seperti ini, kisah Nabi Yusuf AS menjadi cermin kritik yang tajam dan menyakitkan: kita gagal bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau bersiap. Model ketahanan pangan Nabi Yusuf AS juga mengajarkan bahwa iman tidak pernah bertentangan dengan rasionalitas. Justru iman melahirkan disiplin, kesabaran, dan keberanian untuk menunda kenikmatan hari ini demi keselamatan esok hari. Inilah etika kebijakan publik yang semakin langka: keberanian mengambil keputusan yang tidak populer demi kepentingan jangka panjang rakyat. Lebih dari itu, strategi Yusuf AS menempatkan rakyat—khususnya petani—sebagai subjek utama. Produksi dihargai, kerja petani dilindungi, dan distribusi diawasi agar tidak jatuh ke tangan spekulan. Negara hadir sebagai pengelola amanah, bukan sebagai pedagang yang tunduk sepenuhnya pada mekanisme pasar. Ketahanan pangan, dalam perspektif ini, adalah soal keadilan sosial dan tanggung jawab moral negara. Akhirnya, kisah Nabi Yusuf AS bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah blueprint peradaban. Sebuah pengingat bahwa bangsa yang mampu bertahan dari krisis adalah bangsa yang menghormati ilmu, menempatkan ahli pada tempatnya, dan mengelola sumber daya dengan amanah. Tanpa itu semua, ketahanan pangan hanya akan menjadi jargon, dan paceklik—dalam berbagai wajahnya—akan terus berulang. Pertanyaan mendasar bagi kita hari ini bukan lagi apakah krisis akan datang, tetapi apakah kita memiliki keberanian moral dan politik untuk benar-benar belajar dari Nabi Yusuf AS.

Scroll to Top