Antarkita

Prespektif

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Satukan Visi Pesantren Muhammadiyah Barlingmascakeb

Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Satukan Visi Pesantren Muhammadiyah Barlingmascakeb Gombong–Kebumen || AntaraKita.com ~ Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah melalui Korwil Karesidenan Banyumas menyelenggarakan Pelatihan Kepengasuhan Pesantren Zero Bullying di Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah (TrenMu) Gombong, Kebumen, Selasa (27/1/2026).   Kegiatan ini diikuti 90 peserta yang merupakan perwakilan Pesantren Muhammadiyah se-Korwil Karesidenan Banyumas meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen (Barlingmascakeb). Setiap pesantren mengirimkan 1 orang mudir dan 2 orang musyrif/musyrifah. Mudir Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah Gombong, Ustadz Heri Pramono, S.Pd., selaku tuan rumah menyampaikan apresiasi atas kepercayaan LPP PWM Jawa Tengah. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan dengan tantangan kepengasuhan pesantren di era modern. “Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying merupakan ikhtiar penting untuk memperkuat komitmen pesantren Muhammadiyah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan berkeadaban bagi santri,” ujarnya. Ia berharap pelatihan ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi melahirkan langkah nyata dan kesepahaman bersama antar-pesantren. “Semoga kegiatan ini menjadi pemantik lahirnya sistem kepengasuhan pesantren yang berkeadilan, humanis, dan berorientasi pada pembinaan karakter santri,” harapnya. Ketua Korwil Karesidenan Banyumas LPP PWM Jawa Tengah, Kyai Arif Fauzi, Lc., M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menghadirkan lingkungan pesantren yang aman secara fisik, psikis, dan sosial. Menurutnya, pesantren bukan hanya ruang transmisi ilmu dan nilai keislaman, tetapi juga wahana pembentukan karakter yang harus bebas dari kekerasan dan perundungan. “Pesantren Zero Bullying bukan sekadar slogan, tetapi sistem kepengasuhan yang sadar, terencana, dan berkelanjutan. Mudir dan musyrif memegang peran strategis dalam membangun budaya pengasuhan yang adil, empatik, dan mendidik,” tegasnya. Materi pelatihan disampaikan dalam dua sesi utama. Sesi pertama bertajuk “Kepemimpinan Kepengasuhan Pesantren Muhammadiyah Menuju Zero Bullying” disampaikan oleh Arif Fauzi, Lc., M.Pd., yang menekankan pentingnya kepemimpinan mudir dalam membangun sistem dan budaya pesantren yang berkeadilan dan berkemajuan. “Kepemimpinan mudir menjadi kunci utama dalam membangun sistem dan budaya pesantren yang adil, berkemajuan, serta bebas dari praktik perundungan,” ujar Arif Fauzi. Sesi kedua disampaikan oleh Rosyid Ahmad Faruq, S.Psi., praktisi pendidikan dan psikolog pesantren, melalui materi “Strategi Psiko-Edukatif dalam Pencegahan dan Penanganan Bullying di Pesantren”. Ia menekankan pentingnya pendekatan psikologis dan edukatif dalam memahami dinamika santri serta merumuskan langkah preventif dan kuratif. “Pencegahan bullying di pesantren membutuhkan pendekatan psiko-edukatif yang menekankan pembinaan, bukan semata hukuman,” jelas Rosyid. Pelatihan berlangsung pukul 08.00–14.30 WIB, diawali registrasi peserta, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, dilanjutkan sambutan dari tuan rumah, LP2 PDM Kebumen, dan Korwil Karesidenan Banyumas. Melalui kegiatan ini, LPP PWM Jawa Tengah berharap terbangun sinergi yang kuat antar-pesantren Muhammadiyah dalam mewujudkan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan berkemajuan, sekaligus menjadi teladan dalam pengelolaan kepengasuhan pesantren di Indonesia (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah

Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah Belajar dari MIT Muhammadiyah adalah anomali yang mengagumkan dalam sejarah Islam modern. Ia bukan negara, bukan korporasi, bukan pula lembaga donor internasional. Namun aset yang dikelolanya—tanah, bangunan, rumah sakit, sekolah, universitas—mencapai skala yang bahkan membuat banyak negara berkembang iri. Dalam banyak kajian, Muhammadiyah disebut sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil terkaya di dunia. Tetapi justru di sinilah paradoks itu bermula. Di balik gedung-gedung megah dan jaringan amal usaha yang luas, masih ada kisah lama yang terus berulang: guru Muhammadiyah bergaji rendah. Kisah tentang pendidik yang hidup sederhana, bahkan kekurangan. Tentang guru yang mengajar dengan idealisme tinggi, namun pulang ke rumah dengan kegelisahan ekonomi. Tentang pengabdian yang panjang, tetapi masa tua yang rapuh. Ini bukan sekadar soal nominal gaji. Ini adalah soal sistem. Masalah Lama yang Tidak Pernah Benar-Benar Diselesaikan Permasalahan gaji guru Muhammadiyah bukan persoalan individual, bukan pula kesalahan kepala sekolah atau pimpinan lokal semata. Ia adalah konsekuensi logis dari model pembiayaan pendidikan yang transaksional. Model ini sederhana: Murid membayar SPP, SPP dipakai untuk menggaji guru, Jika murid sedikit, gaji kecil, Jika ekonomi orang tua terguncang, guru ikut terguncang. Dalam model seperti ini, guru secara tidak langsung “dibayar murid”. Walaupun tidak kasat mata, secara akuntansi itulah yang terjadi. Pendidikan berubah menjadi hubungan ekonomi jangka pendek, bukan misi sosial jangka panjang. Inilah yang membuat pendidikan mudah goyah. Dan inilah yang seharusnya tidak terjadi pada lembaga pendidikan berbasis dakwah seperti Muhammadiyah. MIT: Pendidikan Tanpa Ketergantungan pada Mahasiswa Di belahan dunia lain, MIT berdiri dengan filosofi yang sangat berbeda. MIT adalah universitas yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak membuatnya malas menggalang donasi. Justru sebaliknya, MIT adalah salah satu institusi pendidikan paling agresif dalam fundraising endowment fund. Fakta yang sangat penting dan jarang dibicarakan secara jujur: jika seluruh mahasiswa MIT tidak membayar tuition fee sekalipun, keuangan MIT tetap surplus. Artinya, MIT tidak menjadikan mahasiswa sebagai sumber nafkah institusi. Mahasiswa tidak dibebani tanggung jawab membiayai dosennya. Pendidikan diletakkan sebagai public good, bukan komoditas. Lalu dari mana MIT hidup? Jawabannya adalah endowment fund—dana abadi yang dikumpulkan dari masyarakat, alumni, filantropi, dan korporasi, lalu dikelola secara profesional melalui investing company. Dana ini tidak dihabiskan. Pokoknya dijaga. Hasilnya dipakai untuk menopang pendidikan lintas generasi. Endowment Fund dan Wakaf: Dua Nama, Satu Hakikat Apa yang disebut endowment fund dalam dunia Barat sejatinya identik dengan wakaf dalam Islam. Bahkan, dalam Islam, wakaf memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih kuat karena bernilai amal jariyah. Ironisnya, justru lembaga pendidikan Islam sering kali gagal menjadikan wakaf sebagai tulang punggung sistem pembiayaan. Wakaf berhenti sebagai simbol kesalehan, bukan instrumen ekonomi strategis. Tanah wakaf dibiarkan pasif. Bangunan wakaf tidak produktif. Tidak ada arus kas yang menopang kesejahteraan guru. Muhammadiyah sesungguhnya memiliki semua prasyarat untuk unggul: kepercayaan publik, jaringan umat, legitimasi teologis, pengalaman mengelola amal usaha. Yang belum dimiliki secara serius adalah paradigma pengelolaan wakaf modern. Investing Company, Bukan Operating Company Pelajaran paling penting dari MIT adalah ini: dana abadi harus dikelola sebagai investing company, bukan operating company. Artinya, lembaga pengelola wakaf tidak sibuk mengelola sekolah, rumah sakit, atau bisnis operasional secara langsung. Tugasnya adalah: menginvestasikan dana secara profesional, menumbuhkan nilai aset, menghasilkan imbal hasil berkelanjutan. Hasil investasi itulah yang kemudian disalurkan ke sekolah dan universitas untuk: menggaji guru secara layak, membiayai riset dan inovasi, menjaga kualitas pendidikan tanpa menaikkan SPP. Dengan model ini, guru tidak lagi bergantung pada jumlah murid. Pendidikan tidak lagi tergantung pada daya beli orang tua. Sistem menjadi stabil, adil, dan berjangka panjang. Mengapa Muhammadiyah Harus Berubah Sekarang Jika perubahan ini terus ditunda, risikonya sangat besar: pendidikan Muhammadiyah akan semakin tertinggal, guru-guru terbaik akan berpindah ke institusi lain, amal usaha pendidikan kehilangan ruh dakwahnya. Sebaliknya, jika Muhammadiyah berani melakukan lompatan struktural: guru menjadi profesi bermartabat, kualitas pendidikan melonjak, kepercayaan publik meningkat, wakaf menjadi solusi nyata, bukan slogan. Ini bukan soal meniru Barat. Ini soal mengambil hikmah. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan, hikmah adalah milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya. Penutup: Dari Keikhlasan Menuju Keadilan Keikhlasan guru Muhammadiyah tidak perlu diragukan. Yang perlu dibenahi adalah sistem agar keikhlasan itu tidak terus-menerus dieksploitasi. Sudah saatnya pendidikan Muhammadiyah keluar dari jebakan transaksional dan masuk ke fase peradaban wakaf. Bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun sistem. Bukan sekadar bertahan, tetapi menyiapkan masa depan. Jika MIT yang sekuler bisa membiayai pendidikannya lintas abad dengan dana abadi, Muhammadiyah seharusnya bisa melakukannya dengan wakaf—dan bahkan lebih bermakna. Di situlah solusi itu berada. Bukan di retorika. Bukan di seminar. Tetapi di keberanian mengubah desain sistem. SiS, Antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi Jika MIT Bisa Surplus Tanpa Uang Kuliah, Bagaimana dengan Muhammadiyah? Massachusetts Institute of Technology (MIT) sering dipersepsikan sebagai universitas superelit, mahal, dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Persepsi ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga menyesatkan jika dilihat dari cara MIT membiayai dirinya sendiri. Di balik reputasinya sebagai kampus teknologi terbaik dunia, MIT justru menyimpan pelajaran sangat penting tentang bagaimana pendidikan seharusnya dibiayai: tidak transaksional, tidak bergantung pada mahasiswa, dan tetap berjiwa sosial. Fakta yang jarang disadari publik adalah ini: seandainya seluruh mahasiswa MIT tidak membayar uang kuliah, keuangan MIT tetap berada dalam kondisi surplus. Pernyataan ini bukan retorika. Ia bisa diverifikasi secara akuntansi. Struktur Keuangan MIT: Angka yang Berbicara Dalam laporan keuangan MIT tahun 2024, total pendapatan institusi mencapai sekitar USD 5,07 miliar. Dari jumlah tersebut, pendapatan dari tuition fee hanya sekitar USD 428 juta, atau kurang lebih 8% dari total pendapatan. Artinya, 92% pendapatan MIT berasal dari sumber non-SPP. Sumber terbesar pendapatan MIT justru berasal dari: Hasil investasi dana abadi (endowment fund) Kontrak riset dan hibah penelitian Donasi filantropi dari alumni dan masyarakat Dana abadi MIT sendiri bernilai sekitar USD 31–32 miliar, yang dikelola secara profesional oleh MIT Investment Management Company (MITIMCO). Hasil investasinya pada tahun 2024 mencapai sekitar USD 1,48 miliar. Angka ini lebih dari tiga kali lipat pendapatan uang kuliah mahasiswa. Di sinilah letak pelajaran kuncinya: MIT tidak hidup dari mahasiswa. Mahasiswa hidup dari MIT. Mengapa MIT yang Sudah Kaya Tetap Menggalang Donasi? Pertanyaan ini sering muncul, dan justru di sinilah kedewasaan institusi terlihat. MIT memahami bahwa endowment fund bukan tabungan yang boleh dihabiskan, melainkan mesin keuangan jangka panjang. Prinsipnya sederhana: pokok dana harus dijaga, hasilnya yang dipakai. Maka, agar mesin ini terus membesar, donasi harus terus mengalir. Ada tiga alasan mendasar mengapa MIT tetap agresif menggalang donasi meski sangat kaya: Pertama, keberlanjutan lintas generasi. MIT tidak hanya memikirkan mahasiswa hari ini, tetapi mahasiswa 30, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Setiap donasi hari ini adalah jaminan akademik bagi generasi masa depan. Kedua, menjaga karakter sosial institusi. Donasi adalah indikator kepercayaan publik. Selama masyarakat masih mau menyumbang, itu berarti MIT masih dipandang sebagai institusi sosial, bukan korporasi bisnis. Begitu donasi berhenti, itu pertanda bahaya: institusi mulai dipersepsikan sebagai entitas komersial. Ketiga, memperluas akses dan kualitas sekaligus. Dengan endowment yang kuat, MIT bisa: memberi beasiswa luas, menarik profesor terbaik dunia, membiayai riset mahal tanpa membebani mahasiswa. MIT Tidak Berbisnis, Tapi Berinvestasi Hal penting lain yang sering luput adalah: MIT memperoleh pendapatan non-SPP bukan dari berbisnis, melainkan dari berinvestasi. Ini perbedaan yang sangat mendasar. MIT tidak membuka pabrik, tidak membuka retail, tidak bersaing di pasar produk. MIT mendirikan investing company, bukan operating company. Artinya, MIT menempatkan dananya sebagai pemilik modal minoritas di perusahaan-perusahaan berkualitas, lalu menikmati hasil pertumbuhan ekonomi tersebut tanpa kehilangan karakter sosialnya sebagai lembaga pendidikan. Inilah yang membuat MIT: tetap akademik, tetap bermoral, dan tetap fokus pada pendidikan dan riset. Lalu, Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah memiliki aset yang luar biasa besar: ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, amal usaha di berbagai sektor. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: berapa persen lembaga pendidikan Muhammadiyah yang benar-benar hidup dari dana abadi? Realitasnya, sebagian besar sekolah dan kampus Muhammadiyah masih sangat bergantung pada SPP dan UKT. Artinya, relasi antara lembaga dan peserta didik masih bersifat transaksional. Murid membayar, layanan diberikan. Ketika murid tidak mampu membayar, institusi terguncang. Padahal, dalam khazanah Islam, Muhammadiyah memiliki instrumen yang setara bahkan lebih mulia dari endowment fund, yaitu wakaf. Wakaf: Endowment Fund dalam Bahasa Iman Apa yang disebut endowment fund di MIT, dalam Islam disebut wakaf produktif. Prinsipnya sama: pokok dijaga, hasil dimanfaatkan, manfaatnya berkelanjutan. Masalahnya bukan pada konsep, tetapi pada manajemen dan tata kelola. Wakaf sering berhenti sebagai: tanah kosong, bangunan pasif, aset mati. Padahal, jika dikelola seperti MIT mengelola endowment-nya, wakaf bisa menjadi: penopang utama pendidikan, sumber beasiswa abadi, penjamin kesejahteraan guru dan dosen, bahkan pensiun tenaga pendidik. Pelajaran Kunci dari MIT untuk Muhammadiyah Ada tiga pelajaran strategis: Pertama, pisahkan pendidikan dari transaksi. Semakin tinggi ketergantungan pada SPP, semakin rendah martabat sosial institusi pendidikan. Kedua, bangun dana abadi sebagai tulang punggung. Bukan sekadar proyek tambahan, tetapi sebagai core strategy. Ketiga, galang wakaf karena misi, bukan karena krisis. MIT menggalang donasi bukan karena kekurangan, tetapi karena visi jangka panjang. Muhammadiyah seharusnya demikian. Penutup: Pertanyaan yang Harus Dijawab MIT memberi kita cermin yang jujur: universitas terbaik dunia justru hidup dari filantropi, bukan dari mahasiswa. Pertanyaannya kini kembali ke kita: Apakah lembaga pendidikan Muhammadiyah ingin tetap terjebak dalam pendidikan transaksional? Ataukah berani melompat menuju pendidikan berbasis dana abadi dan wakaf produktif? Jika MIT yang sekuler saja menjadikan endowment sebagai pilar utama, mengapa institusi Islam justru ragu menjadikan wakaf sebagai fondasi? Belajar dari MIT bukan berarti meniru Barat. Belajar dari MIT adalah mengembalikan pendidikan pada hakikatnya: amal jariyah yang berkelanjutan. SiS, Antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Photography AI

Pelatihan Photography AI Pelatihan kecerdasan buatan (AI) akhir-akhir ini mulai pemula sampai mahir makin marak di berbagai kota/kabupaten di Indonesia baik yang gratis maupun berbayar. Pelatihan Photography Kecerdasan Buatan/AI bagi Takmir Masjid Agung Baitussalam (MAB), Purwokerto sukses di gelar di teras gedung MTQ (Majlis Tahfidzil Quran) MAB yang sedang di bangun pada pukul 20.00 – 22.00 WIB. hari Sabtu 24 Januari 2026. Awalnya Dosen Fakultas Hukum Unsoed Noor Asyik sering kirim Foto AI ke WAG Panitia Ramadhan (PAR) MAB, Purwokerto. Kemudian banyak yang tertarik ingin bisa membuat Foto AI, spontan mereka minta pelatihan. Noor Asyik dibantu putranya Cyril bersedia untuk melatih pada malam minggu, kata Noor Asyik saat bincang – bincang dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari Senin 26 Januari 2026. Peserta pelatihan 8 (delapan) Pengurus Takmir MAB. Bahkan tindak lanjut dari pelatihan, ada peserta yang minta khusus pelatihan membuat Power Point untuk materi kajian, agar materi yang disajikan lebih menarik. Peserta pelatihan sebelumnya harus menyiapkan terlebih dahulu di HP masing-masing di antaranya punya gmail.com, foto-foto close up yang sudah dipilih yaitu foto yang tajam, jernih, dan jelas (foto anggota keluarga dan foto dengan latar belakang tertentu, misal di jalan). Foto tersebut akan di rancang saat pelatihan. Adapun jaringan internet / wifi bisa menggunakan MAB kuota. Tujuan pelatihan di antaranya mengenalkan AI untuk membantu materi Dakwah (PPT, menvisualkan materi yang abstrack), kemudian menjadi Potograper AI, dan membuat karya foto yang menghibur. Materi pelatihan yakni pengenalan AI, manfaat positif, penggunaan negatif, dan sanksi pidana. Contoh aplikasi AI untuk membuat foto: Google Gemini AI dan Dreamina CapCut. Pada saat praktik dasar membuat foto dengan Gemini AI, ada hambatan sinyal dari wifi, sehingga ada peserta yang belum berhasil dan setelah mencoba di rumah ternyata berhasil. Acara diakhiri dengan makan malam mi rebus dengan susana akrab.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar Kelestarian Alam dan Budaya, Siswa SMP MUHAMRA Ceriakan Outing Class di Purbalingga

Belajar Kelestarian Alam dan Budaya, Siswa SMP MUHAMRA Ceriakan Outing Class di Purbalingga Purbalingga || AntarKita.com ~ Siswa kelas VIII dan IX SMP Muhammadiyah Rawalo (MUHAMRA), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengikuti kegiatan outing class atau pembelajaran luar ruangan ke Purbalingga pada Ahad (25/1/2026). Kegiatan bertema “Edutrip Muhamra Goes to Purbalingga” ini dikawal lima pendamping, sebagai upaya menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyenangkan sekaligus memperkaya wawasan, pengalaman belajar, kebersamaan, dan kemandirian siswa. Kegiatan ini mengunjungi tiga lokasi edukatif. Pertama, Gua Lawa di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, di mana siswa belajar tentang konservasi alam, kelestarian goa, serta sejarah stalaktit dan stalagmit. Kedua, Masjid Cengho di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, yang menjadi media pembelajaran tentang toleransi beragama, keberagaman budaya, sejarah akulturasi Tionghoa-Islam, serta arsitektur unik pagoda-masjid. Ketiga, Owabong di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, di mana siswa mendapatkan pengalaman belajar mengenai pelestarian sumber daya air, teknik renang, ekosistem air, dan keberanian melalui wahana edukatif. Guru Olahraga SMP Muhammadiyah Rawalo, Rizki Aji Kurniawan yang turut mendampingi anak-anak, menjelaskan bahwa kegiatan renang di Owabong tidak hanya mengajarkan teknik renang, tetapi juga melatih keberanian, kedisiplinan, dan kerja sama antar siswa. “Kegiatan ini efektif karena menggabungkan edukasi, rekreasi, dan pembentukan karakter. Fasilitas kolam yang aman mendukung antusiasme mereka, sehingga belajar menjadi menyenangkan,” ujar Rizki.   Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd., menegaskan bahwa outing class dirancang untuk melatih motorik, kreativitas, kemandirian, serta membentuk karakter murid agar berakhlak, tangguh, dan berkepribadian. “Outing class bukan sekadar rekreasi, tetapi sarana pembelajaran penting. Melalui pengalaman langsung, siswa memahami konservasi alam, keberagaman budaya, dan disiplin olahraga. Kegiatan ini juga memperkuat keberanian, kemandirian, dan kerja sama antarsiswa sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan bermakna,” ujarnya. Keceriaan tampak sejak keberangkatan hingga pulang. Para siswa mengikuti seluruh kegiatan dengan disiplin sambil menikmati pengalaman belajar di luar kelas yang memberi perspektif baru. Salah satu peserta, Faez Abdullah Masrur dari kelas 9A, mengaku outing class ke Gua Lawa sangat berkesan. “Saya bisa melihat keindahan stalaktit dan stalagmit, belajar sejarah goa, serta melatih keberanian dan kekompakan kelas. Terima kasih kepada guru yang membimbing kami dengan sabar,” ungkap Faez. Kegiatan outing class ini diharapkan menjadi bagian rutin dari kurikulum SMP MUHAMRA dalam membentuk siswa yang cerdas, berkarakter, peduli lingkungan, serta mampu belajar secara menyenangkan melalui pengalaman langsung di lapangan. (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Sertijab Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah Ajibarang, Momentum Memperkuat Pendidikan Inklusif ABK

Sertijab Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah Ajibarang, Momentum Memperkuat Pendidikan Inklusif ABK Ajibarang-Banyumas || AntarKita.com ~ Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Banjarsari, Cabang Ajibarang, menggelar acara serah terima jabatan Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah pada Ahad, 25 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Lantai 2 Aula PKBM TUNAS, Banjarsari, Ajibarang, Kabupaten Banyumas tersebut menjadi momentum penting dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus memperkuat komitmen pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Serah terima jabatan dilaksanakan dari Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah periode sebelumnya, Drs. Kujang Tri Utomo, kepada Kepala SLB yang baru, Siti Khamidah, S.Pd.Gr. Prosesi berlangsung khidmat dan disaksikan oleh jajaran PRM Banjarsari, unsur Aisyiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ajibarang, Majelis Dikdasmen dan PNF Cabang Ajibarang, para guru, serta tamu undangan.   Dalam sambutannya, Drs. Kujang Tri Utomo menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan seluruh pihak selama masa pengabdiannya. Ia menegaskan bahwa SLB Aisyiyah Al-Walidah merupakan amal usaha yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pelayanan kemanusiaan. “SLB ini adalah ladang pengabdian. Saya berharap kepemimpinan yang baru dapat melanjutkan dan mengembangkan pelayanan pendidikan yang ramah, sabar, dan penuh kasih bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya. Sementara itu, Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah yang baru, Siti Khamidah, S.Pd.Gr., menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan serta memperkuat inovasi layanan pendidikan. “Amanah ini akan kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Sinergi dengan PRM, Aisyiyah, para guru, dan wali murid menjadi kunci dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan bermutu,” tuturnya. Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Cabang Ajibarang, Putut Endro, S.Pd., menjelaskan bahwa pergantian kepala sekolah merupakan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan institusi. Pergantian tersebut dilakukan seiring berakhirnya masa tugas kepala sekolah sebelumnya yang telah memasuki purna tugas setelah menjabat lebih dari satu periode. “Regenerasi kepemimpinan adalah proses alamiah agar lembaga pendidikan tetap dinamis, adaptif, dan berkelanjutan dengan harapan kepemimpinan baru mampu membawa SLB Aisyiyah Al-Walidah menjadi lebih baik, lebih maju, dan inovatif dalam memberikan pelayanan Pendidikan”. Sementara itu, Ketua PCM Ajibarang, Triana Waston Muhamadi, S.Pd menegaskan bahwa SLB Aisyiyah Al-Walidah Muhammadiyah merupakan salah satu sekolah luar biasa di wilayah Banyumas Barat yang menyediakan layanan pendidikan lengkap dari jenjang SD hingga SMA, sebagai bentuk komitmen Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif. “SLB Aisyiyah Al-Walidah hadir sebagai wujud nyata komitmen Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam melayani pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus melalui layanan yang utuh dan berkelanjutan, dari tingkat dasar hingga menengah,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa SLB Aisyiyah Al-Walidah Banjarsari merupakan salah satu AUM milik PRM Banjarsari Ajibarang, bersama PKBM TUNAS dan Ponpes Al Mumtazah. Sejak berdiri pada 2 Mei 2017, PRM Banjarsari berkembang pesat, khususnya di bidang pendidikan. Triana Waston juga mengapresiasi kepemimpinan H. Kusaeri yang dinilai berhasil mengelola organisasi secara profesional dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Serah terima jabatan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi menegaskan komitmen Muhammadiyah–Aisyiyah dalam memajukan pendidikan sebagai dakwah pencerahan. Melalui SLB Aisyiyah Al-Walidah, nilai Islam berkemajuan diwujudkan dalam pelayanan pendidikan inklusif yang menjunjung kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada ABK sebagai bagian dari misi rahmatan lil ‘alamin (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Peluang Bisnis Natus Skincare: Saatnya Umat Menjadi Pelaku, Bukan Sekadar Konsumen

Peluang Bisnis Natus Skincare: Saatnya Umat Menjadi Pelaku, Bukan Sekadar Konsumen Pernahkah kita bertanya, mengapa produk umat sering hanya menjadi wacana, tetapi jarang menjadi pilihan utama? Padahal, kebutuhan akan perawatan kulit terus meningkat, pasar semakin luas, dan kesadaran akan produk halal kian menguat. Di titik inilah Natus Skincare hadir, bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai jawaban atas tantangan ekonomi umat. Lalu muncul pertanyaan penting: jika produk halal, berkualitas, dan milik Muhammadiyah sudah tersedia, mengapa tidak kita jadikan peluang usaha bersama? Dari Konsumen ke Pelaku Ekonomi Umat Banyak orang ingin memulai bisnis, tetapi ragu. Takut modal besar, takut tidak laku, atau takut bersaing dengan brand raksasa. Namun, bagaimana jika bisnis itu justru didukung oleh jaringan persyarikatan, kebutuhan pasarnya nyata, dan nilai yang dibawa adalah dakwah ekonomi? Natus Skincare membuka peluang stokis dan reseller bagi siapa saja yang ingin melangkah. Produk ini bersifat inklusif, digunakan oleh laki-laki dan perempuan, sehingga pasarnya tidak terbatas. Pertanyaannya, bukankah bisnis yang pasarnya luas dan nilainya jelas adalah peluang yang layak diperjuangkan? Bela Beli Produk Muhammadiyah: Siapa Lagi Kalau Bukan Kita? Selama ini kita sering menyerukan kemandirian ekonomi umat. Tapi kemudian muncul pertanyaan reflektif: apakah kemandirian itu akan terwujud jika kita tidak mulai dari membeli dan memasarkan produk sendiri? Menjadi stokis atau reseller Natus bukan hanya soal margin keuntungan. Ini adalah langkah nyata bela beli produk Muhammadiyah, menggerakkan ekonomi dari bawah, dari jamaah, dari kader, dari komunitas sendiri. Ketika satu produk terjual, sesungguhnya ada rantai manfaat yang berjalan—bagi produsen, jaringan, dan gerakan. Antarkita Mendukung Gerakan Ekonomi yang Membumi Sebagai bagian dari ekosistem dakwah dan literasi publik, Antarkita mendukung penuh program pengembangan stokis dan reseller Natus Skincare. Dukungan ini lahir dari satu pertanyaan kunci: bagaimana dakwah bisa lebih berdampak jika tidak disertai kemandirian ekonomi? Antarkita memandang Natus sebagai contoh nyata bahwa dakwah tidak hanya disampaikan lewat mimbar, tetapi juga melalui produk halal, bisnis beretika, dan peluang usaha yang inklusif. Saatnya Mengambil Keputusan Kini pertanyaannya bukan lagi “apakah Natus Skincare bagus?” Tetapi lebih dalam dari itu: apakah kita siap mengambil peran dalam membangun ekonomi umat, atau tetap menjadi penonton? Peluang stokis dan reseller Natus Skincare terbuka lebar bagi Anda yang ingin memulai usaha, memperluas jaringan, sekaligus berkontribusi pada gerakan besar Muhammadiyah. Karena perubahan besar selalu dimulai dari keputusan kecil yang berani diambil hari ini. 📞 Informasi stokis & reseller Natus Skincare: 0851-2262-5529 Natus Skincare — dari dakwah ekonomi, untuk kemandirian umat.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ribuan Jamaah Ikuti Pengajian dan Peresmian Poliklinik Eksekutif Ar-Raudhah di RSUMSA Bumiayu

Ribuan Jamaah Ikuti Pengajian dan Peresmian Poliklinik Eksekutif Ar-Raudhah di RSUMSA Bumiayu Bumiayu-Brebes || AntaraKita.com ~ Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Siti Aminah (RSUMSA) Bumiayu menggelar Pengajian Jelang Ramadhan 1447 H sekaligus meresmikan Poliklinik Eksekutif Ar-Raudhah, Ahad (25/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman parkir RSUMSA ini dihadiri ribuan jamaah dan menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat Brebes dan sekitarnya. Acara tersebut menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., sebagai pembicara utama sekaligus akan meresmikan layanan kesehatan unggulan tersebut. Kehadiran pimpinan pusat Muhammadiyah ini menegaskan pentingnya peran rumah sakit Muhammadiyah tidak hanya sebagai institusi layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pelayanan kemanusiaan.   Ketua Badan Pembina Harian (BPH) RSUMSA, Drs. H. Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, dalam sambutannya menekankan bahwa Ramadhan merupakan bulan mulia yang harus dijalani dengan semangat pelayanan tulus dan penuh keikhlasan. “Ramadhan harus dijalani dengan semangat menggembirakan dan mencerahkan, sekaligus memuliakan setiap pasien. Nilai ini harus tercermin dalam setiap layanan yang diberikan RSUMSA,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah. Direktur Utama RSUMSA, dr. Rendha Fatima Rysta, M.Med.Sc., Sp.PK, menjelaskan bahwa pengajian ini bertujuan mempersiapkan civitas rumah sakit dan masyarakat secara spiritual menyambut Ramadhan, sekaligus berharap peresmian Poliklinik Eksekutif Ar-Raudhah dapat menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, nyaman, dan profesional. “Semoga pengajian ini dapat memperkuat kesiapan spiritual dan mental seluruh pegawai serta warga Muhammadiyah dalam menyambut Ramadhan. Ia juga berharap Poliklinik Eksekutif Ar-Raudhah dapat memudahkan akses layanan kesehatan sekaligus menjadi wadah dakwah kesehatan yang menggabungkan profesionalisme dan kepedulian sosial.,” kata dr. Rendha.   Dalam tausyiahnya, dr. H. Agus Taufiqurrohman menekankan bahwa pelayanan rumah sakit Muhammadiyah harus penuh kasih, inklusif, menolong sesama, dan menjadi rahmat, serta setiap tindakan layanan kesehatan harus berlandaskan nilai Islam sebagai bentuk ibadah. “RS Muhammadiyah unggul melalui akreditasi dan pembeda yang jelas dengan layanan lain. Keunggulan utama adalah nilai keislaman dalam pelayanan, akses cepat, fasilitas modern, dan kemampuan melayani dengan penuh empati, sehingga setiap pasien merasakan kesan terbaik dan pelayanan terbaik,” tegasnya. Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Raffa Riordan Syafiqi, siswa SMP Muhammadiyah Bumiayu, yang menebarkan suasana khidmat di tengah ribuan jamaah. Suasana semakin semarak saat Paduan Suara RSUMSA memimpin Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” yang dinyanyikan bersama oleh seluruh hadirin. Meski angin bertiup cukup kencang, antusiasme jamaah tidak surut saat paduan suara melanjutkan dengan Lagu Mars Sang Surya, Ranting Itu Penting, dan Mars RSUMSA. Momen haru dan apresiasi juga mewarnai acara ketika para relawan RSUMSA yang baru kembali dari misi kemanusiaan di Sumatera mendapatkan penghargaan khusus. Mereka yang menerima apresiasi antara lain dr. Prinanda Putra Hendry Wijaya (Ketua Relawan), Ratmo YuLianto (Security), Salman Al Farisi, A.Md.Kep (Perawat), Anggy Firdaus Alamsyah, S.Kep.Ns (Perawat), dr. Ade Erawan Safitra, apt. Aida Udhiyati, M.Clin.Pharm (Apoteker), Amelia Fitri, A.Md.Keb (Bidan), Elma Fuadatun Nasiha, A.Md.Kep (Perawat), serta Ns. Muhammad Abdul Khamid, S.Kep (Perawat). Penghargaan diberikan langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Ketua BPH RSUMSA, dan Ketua PCM Bumiayu sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi dan pengabdian kemanusiaan mereka. Acara dihadiri berbagai unsur mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, ormas Islam, pimpinan AUM, hingga 25 PRM dan PRA se-Cabang Bumiayu. Puluhan personel KOKAM dikerahkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan jamaah. Melalui pengajian dan peresmian Poliklinik Eksekutif Ar-Raudhah, RSUMSA Bumiayu menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam melayani umat dengan kasih sayang, profesionalisme, dan nilai Islam, menjadikan setiap layanan sebagai ibadah dan rahmat, serta memperkuat dedikasi menjelang Ramadhan (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Peluang Bisnis Natus Skincare: Langkah Nyata Bela Beli Produk Muhammadiyah

Peluang Bisnis Natus Skincare: Langkah Nyata Bela Beli Produk Muhammadiyah Di tengah tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal dan lokal, Natus Skincare hadir bukan sekadar sebagai produk perawatan wajah, tetapi sebagai gerakan ekonomi umat. Lebih dari itu, Natus membuka peluang bisnis stokis dan reseller bagi masyarakat luas yang ingin bertumbuh bersama, berwirausaha secara sehat, dan mengambil bagian dalam penguatan ekonomi Muhammadiyah–Aisyiyah. Natus Skincare dirancang sebagai produk inklusif, bisa digunakan oleh laki-laki dan perempuan, dengan standar halal dan toyyib yang terjamin. Dengan kebutuhan skincare yang terus meningkat dan pasar yang sangat luas, Natus menawarkan peluang usaha yang realistis, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang. Bisnis Bernilai, Bukan Sekadar Untung Menjadi stokis atau reseller Natus bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang membela dan membeli produk sendiri, produk milik umat. Setiap botol yang terjual adalah bagian dari dakwah ekonomi—menguatkan kemandirian organisasi, memberdayakan perempuan, serta menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat di internal persyarikatan dan masyarakat luas. Model bisnis Natus dirancang mudah diakses, tanpa syarat rumit, dan cocok bagi pemula maupun pelaku usaha yang ingin memperluas portofolio bisnisnya. Dukungan jejaring, kualitas produk, serta nilai ideologis di baliknya menjadi keunggulan yang membedakan Natus dari brand skincare komersial lainnya. Antarkita Dukung Gerakan Stokis dan Reseller Sebagai media dan ruang kolaborasi, Antarkita secara terbuka mendukung program pengembangan stokis dan reseller Natus Skincare. Dukungan ini merupakan bagian dari komitmen Antarkita untuk menguatkan ekosistem ekonomi umat, mendorong gerakan bela beli produk Muhammadiyah, serta memperluas dampak dakwah melalui jalur ekonomi produktif. Antarkita meyakini bahwa kebangkitan ekonomi umat tidak lahir dari wacana, tetapi dari langkah-langkah konkret yang dijalankan bersama. Natus Skincare adalah salah satu pintu masuk strategis bagi kader, jamaah, dan masyarakat umum untuk berkontribusi secara nyata. Saatnya Ambil Peran Di era digital dan pasar yang semakin terbuka, peluang usaha tidak menunggu. Natus Skincare mengajak siapa pun yang memiliki semangat mandiri, jejaring sosial, dan komitmen pada produk halal untuk bergabung sebagai stokis maupun reseller. Ini bukan sekadar peluang bisnis, tetapi ikhtiar bersama membangun ekonomi umat dari tangan sendiri. Informasi stokis dan reseller Natus Skincare: 📞 0851-2262-5529 Mari bertumbuh bersama Natus Skincare—dari umat, oleh umat, untuk kemaslahatan umat.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Istimewa, Natus: Skincare Halal Inklusif untuk Pria dan Wanita Resmi Diluncurkan Aisyiyah Jawa Tengah

Istimewa, Natus: Skincare Halal Inklusif untuk Pria dan Wanita Resmi Diluncurkan Aisyiyah Jawa Tengah Semarang || Antarkita, 24 Januari 2026 — Upaya memperkuat kemandirian ekonomi umat dan pemberdayaan perempuan terus dilakukan Aisyiyah Jawa Tengah melalui langkah konkret dan berkemajuan. Salah satunya diwujudkan dengan peluncuran resmi Natus, brand skincare halal dan inklusif yang dapat digunakan oleh pria maupun wanita, Sabtu (24/1/2026), bertempat di Metro Park View Hotel Semarang. Peluncuran Natus Skincare Halal berlangsung dalam suasana megah dan penuh antusiasme, dihadiri jajaran pimpinan Aisyiyah, pengelola PT Ekonomi Aisyiyah, kader, serta tamu undangan dari berbagai kalangan. Kehadiran produk ini menandai babak baru dakwah ekonomi Aisyiyah yang tidak hanya berbasis wacana, tetapi diwujudkan dalam produk nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat modern. Skincare Universal Berbasis Nilai Syar’i Direktur Utama PT Ekonomi Aisyiyah, Prof. Dr. Eka Handriani, menegaskan bahwa Natus dirancang sebagai solusi perawatan wajah universal, tanpa sekat gender, sekaligus menjunjung tinggi prinsip syariat Islam. “Natus ini bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Sebagai bagian dari dakwah ekonomi, kami memastikan standar halal dan toyyib menjadi fondasi utama. Produk ini tidak hanya menjawab kebutuhan perawatan kulit, tetapi juga memberikan ketenangan batin bagi penggunanya,” jelas Prof. Eka. Menurutnya, pemilihan lini skincare bukan tanpa alasan. Perawatan kulit telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat lintas usia dan profesi. Dengan pendekatan inklusif, Natus diharapkan dapat diterima luas sekaligus menjadi sarana dakwah ekonomi yang menyentuh kehidupan sehari-hari umat. Rangkaian Basic Care untuk Kebutuhan Harian Pada debut perdananya, Natus Skincare Halal memperkenalkan tiga produk basic care yang dirancang untuk penggunaan harian dan semua jenis kulit, yaitu: Facial Wash Pembersih wajah dengan formula lembut yang membantu membersihkan kulit tanpa menghilangkan kelembapan alaminya. Moisturizer Pelembap yang berfungsi menjaga hidrasi kulit sepanjang hari, membantu kulit tetap sehat dan segar. Sunscreen Perlindungan harian dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang berpotensi merusak kulit, terutama bagi aktivitas luar ruang. Ketiga produk ini menjadi fondasi awal Natus dalam membangun kepercayaan pasar, sekaligus memperkenalkan standar kualitas skincare halal yang aman dan nyaman digunakan. Strategi Distribusi dan Penguatan Ekosistem Ekonomi Direktur Operasional PT Ekonomi Aisyiyah, Sus Seto, menyampaikan optimisme besar terhadap prospek Natus di pasar nasional. Menurutnya, strategi distribusi akan diperkuat melalui ekosistem ekonomi internal Aisyiyah dan Muhammadiyah, serta pemanfaatan platform digital. Ia menegaskan bahwa kolaborasi dan dukungan jamaah menjadi kunci agar Natus dapat menjangkau pelosok tanah air, sekaligus bersaing secara sehat di industri skincare nasional yang kompetitif. Pemberdayaan Perempuan dan Produk Lokal Berdaya Saing Sementara itu, Komisaris Utama PT Ekonomi Aisyiyah, Dr. Eny Winaryanti, M.Pd., mengajak masyarakat untuk bangga dan beralih menggunakan produk lokal karya anak bangsa. “Natus adalah bukti nyata pemberdayaan perempuan Indonesia. Dari Jawa Tengah, kita hadirkan produk berkualitas yang siap melangkah ke pasar nasional, bahkan internasional,” pungkasnya. Peluncuran Natus Skincare Halal menjadi penegasan bahwa dakwah Aisyiyah tidak hanya bergerak di ranah sosial dan pendidikan, tetapi juga di sektor ekonomi produktif yang profesional dan berorientasi masa depan. Melalui Natus, Aisyiyah Jawa Tengah menghadirkan ikhtiar nyata membangun ekonomi umat yang mandiri, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan. Info keagenan: 0851-2262-5529

Scroll to Top