You are currently viewing Doktor Tukang Gurame

Doktor Tukang Gurame

Doktor Tukang Gurame

Judul ini saya ambil bukan untuk mengejutkan, apalagi untuk mengundang tawa. Ia lahir dari rasa hormat yang dalam—rasa hormat pada kisah hidup yang diceritakan tanpa keinginan untuk dipuji. Kisah-kisah itu mengalir pelan dari seorang guru besar yang begitu sederhana, dalam percakapan panjang antara seorang mahasiswa dan dosennya. Percakapan yang awalnya biasa, tetapi perlahan berubah menjadi ruang refleksi tentang hidup, perjuangan, dan makna ilmu.

Saya belum berani menyebutkan nama beliau. Ada adab yang ingin saya jaga, ada izin yang belum saya kantongi. Maka tulisan ini saya niatkan sebagai draft awal, sebagai pintu masuk, yang kelak akan saya ajukan kepada beliau dengan penuh takzim. Semoga dari pintu kecil ini, kisah perjalanan hidup beliau berkenan dituliskan lebih lengkap dan lebih jujur.

Saya merasa penting menulis kisah hidup beliau karena perjalanan ini tidak banyak kita temukan. Ia langka pada masanya, dan semakin langka hari ini. Di zaman ketika kesuksesan sering diukur dari kecepatan naik jabatan, kekayaan, atau sorotan publik, perjalanan hidup beliau justru bergerak perlahan, sunyi, dan penuh ketekunan. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada kemewahan yang datang lebih dulu.

Perjalanan panjang itulah yang membentuk karakter beliau. Karakter seorang pejuang. Karakter yang mengingatkan pada sosok Jenderal Soedirman—teguh meski sakit, berdiri meski serba kekurangan, dan tidak pernah menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti. Seorang pejuang yang tidak selalu menang, tetapi tidak pernah menyerah.

Kembali pada judul: Doktor Tukang Gurame.

Julukan ini muncul dari satu cerita yang sederhana, tetapi sarat makna. Era 1990-an. Masa ketika hidup keras dan dunia akademik belum menjanjikan kesejahteraan. Pada masa itu, beliau telah menyandang gelar Doktor—gelar yang bagi banyak orang adalah puncak. Namun bagi beliau, gelar itu tidak menghapus kenyataan hidup yang harus tetap dijalani.

Demi menyambung hidup dan menjaga kehormatan keluarga, beliau berjualan ikan gurame. Bukan sekadar usaha sambilan, tetapi pekerjaan yang dijalani sepenuh hati. Mengurus ikan sejak pagi, mengangkat bak-bak berat, menimbang, lalu mengantarkan ke warung-warung makan. Tangan berbau amis, pakaian sederhana, tubuh letih. Semua dijalani tanpa keluhan.

Pada saat itu, pihak warung makan tidak tahu—dan tidak pernah diberi tahu—bahwa orang yang rutin menyuplai gurame tersebut adalah seorang Doktor. Mereka hanya mengenalnya sebagai tukang gurame yang datang tepat waktu dan membawa ikan berkualitas. Beliau tidak merasa perlu memperkenalkan diri dengan gelar. Hidup dijalani apa adanya, tanpa pencitraan.

Setiap kali mengantar gurame, beliau selalu mendapat jatah makan. Sebuah kebaikan kecil yang sangat manusiawi. Biasanya bos warung akan menyuruh pegawainya untuk menyiapkan makanan bagi “tukang gurame”. Dan beliau menerimanya dengan lapang. Duduk, makan, dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan.

Beliau melahap makanan itu sebagai tukang gurame. Bukan sebagai seorang Doktor. Selain lapar, tubuhnya memang lelah setelah mengangkat ikan. Tidak ada upaya menunjukkan identitas, tidak ada kegelisahan soal gengsi. Yang ada hanyalah kejujuran pada keadaan dan kesediaan untuk menjalani hidup dengan rendah hati.

Di situlah pelajaran besar itu terpatri. Bahwa ilmu tidak membuat seseorang lebih tinggi dari kehidupan. Bahwa gelar tidak membebaskan manusia dari kerja keras. Bahwa martabat tidak runtuh hanya karena seseorang bekerja dengan tangannya sendiri.

Pengalaman-pengalaman inilah yang kelak membentuk beliau menjadi seorang pemimpin yang berempati. Ketika kemudian beliau dipercaya menjadi pemimpin tertinggi di sebuah perguruan tinggi negeri—sebagai rektor—beliau tidak hadir sebagai elit yang berjarak. Beliau hadir sebagai manusia yang memahami luka, keterbatasan, dan perjuangan orang lain.

Beliau memahami mahasiswa yang kesulitan ekonomi, karena beliau pernah hidup dalam kekurangan.

Beliau mengerti dosen dan tenaga kependidikan yang bekerja dalam sunyi, karena beliau pernah berada dalam kondisi yang sama.

Keputusannya tidak lahir dari teori semata, tetapi dari ingatan hidup yang panjang dan jujur.

Pada era 1990-an itu pula, ketika penulis masih menjadi mahasiswa, beliau bahkan tidur di kantor. Bukan untuk menunjukkan pengabdian, tetapi karena hidup memang sedang berada pada fase bertahan. Kantor menjadi tempat bekerja sekaligus tempat beristirahat. Hari-hari dilalui dengan kesederhanaan, tanpa keluhan, tanpa sorotan.

Kisah hidup beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesediaan untuk bertahan dalam kesulitan. Bahwa empati tidak bisa diajarkan dalam seminar, tetapi tumbuh dari pengalaman hidup yang nyata.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengagungkan. Ia hanya ingin mencatat sebuah jejak kehidupan—jejak tentang bagaimana ilmu, kerja keras, dan kerendahan hati dapat berjalan seiring. Tentang bagaimana seorang Doktor pernah menjadi tukang gurame, dan dari jalan itulah karakter kepemimpinan beliau ditempa.

Tulisan ini hanyalah pembuka. Sebuah undangan kecil untuk masuk lebih jauh ke dalam kisah yang lebih besar. Semoga beliau berkenan, agar perjalanan hidup yang penuh peluh, doa, dan keteguhan ini dapat dituliskan lebih lengkap—sebagai pelajaran berharga bagi generasi hari ini, bahwa tidak ada kerja yang hina, dan tidak ada keadaan yang patut membuat manusia menyerah.

Karena pada akhirnya, kebesaran tidak selalu lahir dari panggung, melainkan dari ketulusan seseorang dalam menjalani hidup, setapak demi setapak.

SiS, Antarkita

Tinggalkan Balasan