Hak Prerogatif Allah SWT
Memahami Kehidupan melalui Diagram Kuadran
Oleh SiS Antarkita
Manusia sering mencoba memahami kehidupan dengan logika dan ukuran-ukuran dunia.
Ada yang mengatakan pendidikan adalah kunci utama kesuksesan.
Ada yang meyakini bahwa gelar akademik menentukan masa depan.
Ada pula yang beranggapan bahwa siapa yang lebih pintar, dialah yang akan lebih berhasil.
Namun ketika kita melihat kehidupan dengan jujur, realitas sering kali berbicara berbeda.
Di sinilah kita bisa mencoba memahami kehidupan melalui sebuah gambaran sederhana:
diagram kuadran kehidupan.
Misalnya dalam hal pendidikan.
Ada orang yang hanya lulusan SD, tetapi mampu menjadi sukses.
Usahanya berkembang, rezekinya luas, pengaruhnya besar.
Namun ada juga orang yang sama-sama lulusan SD, tetapi hidupnya biasa saja.
Di sisi lain, kita melihat orang yang berpendidikan tinggi, lulusan sarjana bahkan lebih, tetapi kehidupannya biasa-biasa saja.
Namun tidak sedikit pula lulusan sarjana yang berhasil, sukses dalam karier maupun usahanya.
Jika kita susun dalam sebuah kuadran, maka akan terlihat bahwa:
Lulusan rendah bisa sukses.
Lulusan rendah bisa biasa saja.
Lulusan tinggi bisa sukses.
Lulusan tinggi juga bisa biasa saja.
Artinya apa?
Tidak ada satu faktor tunggal yang bisa menjamin hasil kehidupan manusia.
Pendidikan penting, tetapi bukan penentu mutlak.
Kerja keras penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.
Relasi penting, tetapi bukan jaminan akhir.
Semua itu adalah ikhtiar manusia.
Namun hasil akhirnya tetap berada dalam satu kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat:
hak prerogatif Allah SWT.
Allah-lah yang menentukan siapa yang diberi keluasan rezeki.
Allah-lah yang menentukan siapa yang diangkat derajatnya.
Allah-lah yang menentukan jalan hidup setiap hamba-Nya.
Dalam pandangan iman, tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Setiap hasil adalah bagian dari ketetapan Allah yang penuh hikmah.
Allah Maha Adil.
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ketika Allah memberikan kesuksesan kepada seseorang, itu bukan semata-mata karena kehebatannya, tetapi karena Rahmat Allah SWT.
Dan ketika seseorang belum mendapatkan apa yang ia harapkan, itu bukan berarti Allah tidak adil, tetapi bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau sedang menguji kesabaran dan keikhlasannya.
Memahami hal ini akan membawa manusia pada dua sikap penting:
Pertama, tidak sombong ketika berhasil.
Karena ia sadar bahwa keberhasilan bukan murni hasil dirinya.
Kedua, tidak putus asa ketika gagal.
Karena ia yakin bahwa Allah masih memiliki rencana yang terbaik.
Diagram kuadran kehidupan ini bukan untuk membuat manusia pasrah tanpa usaha.
Justru sebaliknya.
Manusia tetap harus berikhtiar dengan maksimal.
Belajar, bekerja, berusaha, dan memperbaiki diri.
Namun dalam waktu yang sama, manusia harus menyadari bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya miliknya.
Di situlah letak keindahan iman.
Manusia bergerak dengan usaha.
Tetapi hatinya bersandar kepada Allah.
Karena pada akhirnya, kehidupan ini bukan hanya tentang sebab dan akibat, tetapi tentang kehendak Allah yang bekerja di atas semuanya.
Maka siapapun kita…
Apapun latar belakang kita…
Setinggi apapun pendidikan kita…
Serendah apapun kondisi kita…
Semua tetap berada dalam satu ketetapan:
Allah SWT memiliki hak prerogatif penuh atas kehidupan hamba-Nya.
Dan ketika manusia mampu memahami ini, ia akan hidup dengan lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
SiS Antarkita