Menghidupi Muhammadiyah atau Mengorbankan Keadilan?

Menghidupi Muhammadiyah atau Mengorbankan Keadilan?

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan hidup dari Muhammadiyah.”

Kalimat ini telah lama menjadi etos perjuangan. Ia lahir dari semangat keikhlasan, dari keteladanan para pendiri yang mendahulukan dakwah di atas kepentingan pribadi.

Dalam konteks itu, kalimat ini benar, bahkan mulia. Namun setiap nilai luhur akan kehilangan maknanya ketika ia berhenti menjadi etika pribadi dan berubah menjadi dalih struktural.

Menghidupi Muhammadiyah adalah panggilan ideologis. Ia menuntut pengabdian, kesungguhan, dan kesiapan berkorban. Tetapi pengabdian tidak boleh ditafsirkan sebagai kewajiban untuk terus menerima ketimpangan. Pengorbanan tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda keadilan.

Hari ini Muhammadiyah bukan lagi gerakan kecil dengan sumber daya terbatas. Ia telah tumbuh menjadi kekuatan sosial besar, dengan jaringan amal usaha luas dan kekayaan aset yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

Aset itu lahir dari wakaf umat, kerja kolektif, dan pengorbanan lintas generasi. Lalu pertanyaan yang wajar—bahkan wajib—diajukan adalah: untuk apa Muhammadiyah dihiduπi sedemikian rupa, jika ketimpangan di dalamnya masih dianggap hal biasa?

Jika guru, tenaga kesehatan, dan pekerja amal usaha masih diminta “memahami kondisi” tanpa batas waktu, jika keikhlasan terus dijadikan jawaban akhir atas persoalan kesejahteraan, maka ada risiko besar: nilai luhur keikhlasan justru dipakai untuk membekukan perubahan.

Aset Muhammadiyah bukan sekadar benda mati. Ia adalah amanah ideologis. Aset harus bekerja, bukan hanya berdiri. Ia harus menjadi alat keberpihakan, bukan sekadar kebanggaan organisasi.

Muhammadiyah sejak awal hadir untuk memanusiakan manusia. KH. Ahmad Dahlan mengajarkan Islam yang membebaskan, bukan Islam yang meminta umatnya berdamai dengan ketimpangan.

Kesalehan sosial bukan berarti membiasakan kekurangan, melainkan berjuang agar kekurangan itu tidak diwariskan.

Keikhlasan adalah kekuatan ruhani. Tetapi keadilan adalah tanggung jawab kelembagaan. Keduanya tidak saling meniadakan. Justru keikhlasan seharusnya melahirkan keberanian untuk membangun sistem yang lebih adil.

Ketika slogan “jangan hidup dari Muhammadiyah” dipakai untuk membungkam kegelisahan kader, atau untuk mengerdilkan tuntutan kesejahteraan yang wajar, maka kita perlu berhenti dan bertanya:

apakah kita sedang menjaga ideologi, atau justru menjauhinya?

Ini bukan kritik dari luar. Ini suara dari dalam, dari mereka yang mencintai Muhammadiyah dan ingin melihatnya tetap setia pada misi pencerahan.

Karena Muhammadiyah yang benar-benar hidup bukan hanya yang besar asetnya, tetapi yang adil dalam mengelola pengorbanan dan kesejahteraan manusianya.

Oleh: SiS, antarkita

Tinggalkan Balasan