Muhammadiyah Luncurkan MieMu: Ikhtiar Peradaban Menuju Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Umat
Ketergantungan umat Islam terhadap suplai kebutuhan hidup dari pihak luar masih menjadi persoalan serius hingga hari ini. Mulai dari produk kebutuhan dapur sebagai penopang pangan keluarga, kebutuhan sumur dan sanitasi yang berkaitan dengan kamar mandi, hingga kebutuhan sekunder dan tersier lainnya, sebagian besar masih bergantung pada sistem produksi dan distribusi yang tidak sepenuhnya dikuasai umat sendiri.
Ketergantungan ini bukan sekadar persoalan konsumsi, tetapi menyangkut kemandirian ekonomi, daya tawar sosial, dan arah masa depan umat. Ketika kebutuhan paling dasar—makan, kebersihan, dan kesehatan—dikendalikan pihak lain, maka umat berada pada posisi yang rentan dan mudah terombang-ambing oleh kepentingan pasar.
Muhammadiyah membaca persoalan ini sebagai tantangan peradaban. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak hanya hadir dalam dakwah lisan, pendidikan, dan pelayanan sosial, tetapi juga menjadikan kemandirian ekonomi sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan. Karena dakwah yang kuat membutuhkan fondasi ekonomi yang kokoh, dan peradaban yang berdaulat hanya mungkin terwujud jika umat mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.
Dari Dapur Umat Menuju Kedaulatan Pangan
Di tengah pesatnya inovasi dan persaingan industri mi instan, sebuah kesadaran baru lahir: pangan tidak boleh hanya dikuasai oleh logika pasar semata, tetapi harus berpihak pada kesehatan, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Dari kesadaran inilah Muhammadiyah melangkah lebih jauh.
Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surakarta meluncurkan MieMu, produk mi instan yang membawa misi lebih besar dari sekadar bisnis. MieMu hadir sebagai upaya nyata membangun kedaulatan pangan umat, dimulai dari produk dapur yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berbeda dengan mi instan pada umumnya, MieMu menggunakan bahan dasar tepung singkong atau modified cassava flour (mocaf). Pilihan ini mencerminkan keberpihakan pada pangan lokal dan kesehatan konsumen. Mocaf dikenal lebih rendah gula, bebas gluten, dan lebih ramah bagi tubuh, sekaligus menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor.
Ketua MEK PDM Surakarta, Umar Hasyim, menyampaikan bahwa kebutuhan akan mi sehat semakin luas seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. “Keinginan menyediakan pangan yang sehat, berkualitas, dan terjangkau untuk masyarakat inilah yang menjadi dasar pemikiran awal lahirnya MieMu,” ujarnya.
MieMu: Bisnis Bernilai, Dakwah Nyata
Sekretaris Pelaksana sekaligus PIC MieMu, Nurul Khawari, menjelaskan bahwa ide bisnis ini berangkat dari kegelisahan kolektif di masa pandemi COVID-19. Saat banyak sektor ekonomi melemah, Muhammadiyah justru memikirkan usaha produktif yang mampu menghidupkan jejaring ekonomi umat dan memberi harapan baru.
“Proses lahirnya MieMu cukup panjang, lebih dari enam bulan. Dimulai dari uji rasa bersama pimpinan Muhammadiyah, lalu perumusan model bisnis, produksi, hingga jaringan distribusi,” jelas Nurul. MieMu lahir bukan dari keputusan instan, melainkan dari proses kolektif yang matang dan terukur.
Respons pasar pun di luar dugaan. Meski masih dalam tahap soft launching, permintaan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Lebih dari 2.000 orang mendaftar sebagai agen, dan sekitar 1.500 di antaranya telah aktif. Minat juga datang dari Sudan, Amerika, Malaysia, dan beberapa negara Afrika.
Namun, MEK PDM Surakarta memilih langkah bertahap. Distribusi awal difokuskan di Solo Raya dan Jawa Tengah, kemudian diperluas ke Pulau Jawa sebelum menjangkau wilayah lain. Prinsipnya jelas: membangun fondasi produksi dan jaringan bisnis yang sehat, tertata, dan berkelanjutan.
Dari Mi Instan ke Ekosistem Kebutuhan Umat
Saat ini, MieMu tersedia dalam tiga varian—mi goreng, mi rebus rasa soto mi, dan mi rebus rasa ayam bawang—tanpa MSG, sehingga lebih aman dikonsumsi, termasuk oleh anak-anak. Namun MieMu sejatinya adalah pintu masuk menuju visi yang lebih besar.
Muhammadiyah berharap, ke depan akan lahir berbagai produk lain untuk memenuhi kebutuhan dapur, kebutuhan sumur dan sanitasi yang berkaitan dengan kamar mandi, hingga kebutuhan sekunder dan tersier umat. Semua dibangun dalam satu ekosistem ekonomi yang berkeadilan, sehat, dan berpihak pada kemaslahatan bersama.
MieMu bukan sekadar mi instan. Ia adalah simbol bahwa kemandirian itu mungkin, bahwa umat mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan bahwa dari dapur sederhana bisa tumbuh kekuatan ekonomi yang menopang dakwah dan peradaban.
Karena kedaulatan pangan bukan hanya tentang apa yang kita makan,
tetapi tentang siapa yang menguasai produksi,
dan untuk siapa kemakmuran itu diperjuangkan.
SiS, Antarkita