Paradigma Baru Pendidikan: Mengantarkan Anak Menemukan Fitrahnya
Selamat dan tahniah disampaikan kepada Ustadz Nur Khasbi, S.H.I., M.M. atas amanah baru sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 1 Purwojati. Amanah ini bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab peradaban: menuntun generasi muda agar tidak sekadar cerdas, tetapi menemukan jati dirinya sebagai manusia seutuhnya.
Hari ini, dunia berubah dengan kecepatan yang belum pernah dialami umat manusia sebelumnya. Perubahan tidak lagi linear, melainkan eksponensial. Teknologi berkembang melampaui imajinasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini bukan lagi alat bantu, tetapi telah menjadi “kompetitor” manusia itu sendiri.
Banyak kemampuan manusia—menghitung, menghafal, menganalisis data, bahkan membuat keputusan—mulai tergantikan oleh mesin. AI dapat bekerja tanpa lelah, tanpa emosi, tanpa batas waktu. Dalam banyak aspek, manusia kalah cepat, kalah presisi, kalah efisiensi.
Maka pertanyaan besar pendidikan hari ini bukan lagi:
bagaimana mencetak manusia paling pintar atau paling terampil,
karena di medan itu manusia akan selalu berhadapan dengan mesin.
Pertanyaan sejatinya adalah:
apa yang tidak pernah bisa dimiliki oleh AI?
Jawabannya sederhana sekaligus mendasar:
ruh, nurani, empati, makna, dan kesadaran spiritual.
Fitrah Manusia: Ruang yang Tak Tergantikan Mesin
AI tidak memiliki ruh.
Ia tidak mengenal makna.
Ia tidak merasakan kegelisahan, kasih sayang, keikhlasan, dan tanggung jawab moral.
Di sinilah letak keunggulan manusia—dan sekaligus tugas pendidikan.
Pendidikan tidak lagi cukup mengisi kepala, tetapi harus menyapa jiwa.
Tidak sekadar melatih keterampilan, tetapi menemukan fitrah.
Setiap anak lahir membawa potensi unik yang Allah titipkan.
Fitrah itu bukan untuk diseragamkan, apalagi dipaksa mengikuti standar dunia.
Fitrah itu untuk dikenali, ditumbuhkan, dan diarahkan agar anak menjalani hidupnya dengan makna, bukan sekadar prestasi.
Inilah tantangan pendidikan hari ini:
mengantarkan anak menemukan siapa dirinya, sebelum dunia dan algoritma menentukannya.
Pelantikan Kepala Sekolah sebagai Peneguhan Tajdid
Dalam konteks itulah, Pelantikan Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati periode 2025–2029 yang digelar di Aula BMT Surya Mandiri Purwojati, Rabu (31/12/2025), menjadi peristiwa bermakna. Ia bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi peneguhan estafet tajdid—ikhtiar sadar Muhammadiyah agar dakwah pendidikan terus hidup, relevan, dan berakar kuat pada nilai.
Ustadz Nur Khasbi memaknai kepemimpinan sebagai ruang kaderisasi dan pengabdian. Penguatan akidah dan akhlak, sinergi lintas jenjang MI–SD–SMP Muhammadiyah, serta kolaborasi dengan seluruh elemen Persyarikatan menjadi pijakan. Tantangan digital, tegasnya, tidak cukup dijawab dengan adaptasi teknologi, tetapi dengan kepemimpinan kolektif dan karakter yang kokoh.
Pesan purnatugas dari Tri Murniati, S.Pd. mengingatkan bahwa keberhasilan kepemimpinan sekolah terletak pada keberanian menghadirkan pembeda. Inovasi pembelajaran, akselerasi digitalisasi, serta penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah ruh agar sekolah tetap the best, the first, and the different di tengah kompetisi yang kian keras.
Sekolah Muhammadiyah: Berakar Kuat, Menyapa Zaman
Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PDM Banyumas, H. Asep Saeful Anwar, S.P., M.M., menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan adalah momentum konsolidasi mutu. Tajdid, katanya, bukan memutus tradisi, tetapi memperbarui cara agar nilai tetap hidup dan relevan.
Ketua PDM Banyumas menegaskan peran kepala sekolah Muhammadiyah sebagai penjaga nilai dan penggerak perubahan. “Sekolah Muhammadiyah harus tumbuh seperti pohon jati—berakar kuat, berdiri kokoh, dan memberi manfaat,” ujarnya. Kekuatan sekolah, ditegaskan, bukan pada gemerlap prestasi, tetapi pada konsistensi nilai.
Pesan keikhlasan dan dakwah bil-hal juga ditekankan Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto, bahwa mutu layanan dan keteladanan nilai adalah wajah sejati sekolah unggul.
Prosesi pelantikan yang hikmat—dengan tilawah Al-Qur’an, Tari Saman, Lagu Indonesia Raya, dan Mars Sang Surya—menegaskan watak pendidikan Muhammadiyah: religius tanpa kehilangan nasionalisme, modern tanpa tercerabut dari akhlak, progresif tanpa menanggalkan adab.
Penutup: Pendidikan untuk Masa Depan yang Bermakna
Pelantikan ini menyampaikan satu pesan penting:
di tengah dunia yang dikuasai algoritma dan mesin, pendidikan harus kembali pada fitrah manusia.
Bukan sekadar mencetak lulusan yang siap kerja,
tetapi menumbuhkan manusia yang tahu perannya, memahami maknanya, dan sadar akan Tuhannya.
Dari ruang kelas hingga kehidupan nyata, Muhammadiyah terus menyalakan pelita—
mendidik generasi emas yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.
Oleh: SiS, Antarkita