You are currently viewing RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA

RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA

RAHMAT YANG MEMBENTUK: IMAN, UJIAN, DAN EKSISTENSI MANUSIA

Waidi Akbar, MBA. CPC

Salah satu kritik yang kerap muncul dalam diskusi lintas iman—khususnya antara Islam dan Kristen—adalah pertanyaan tentang relasi antara kasih Tuhan dan realitas ujian hidup. Dalam sebagian wacana populer, Tuhan yang menguji dipersepsikan sebagai Tuhan yang kurang penuh kasih. Kasih direduksi menjadi kenyamanan, ketenangan, dan penghapusan penderitaan. Jika manusia menderita, maka Tuhan dianggap absen atau gagal menjalankan kasih-Nya.

Namun, jika ditelaah lebih dalam—baik secara teologis maupun filosofis—pandangan semacam ini justru mereduksi dua hal sekaligus: makna kasih ilahi dan kedalaman eksistensi manusia.

Filsafat eksistensial berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang hidup dalam keterbatasan, kecemasan, dan ketidakpastian. Hidup bukan ruang steril yang bebas dari konflik, melainkan medan pilihan, risiko, dan tanggung jawab. Karena itu, pertanyaan filosofis yang lebih jujur bukanlah “mengapa manusia menderita?”, melainkan “bagaimana manusia memaknai penderitaan itu?”

Di titik inilah konsep rahmat yang membentuk menjadi relevan. Rahmat tidak selalu hadir sebagai penghapusan kesulitan, tetapi sebagai daya transformatif yang memungkinkan manusia bertumbuh melalui kesulitan. Rahmat bukan anestesi eksistensial yang mematikan rasa sakit, melainkan energi pembentuk karakter, kesadaran, dan kedewasaan spiritual. Tanpa ujian, rahmat kehilangan fungsi pembentuknya; tanpa rahmat, ujian berubah menjadi kehancuran.

Søren Kierkegaard, tokoh utama eksistensialisme religius, menolak iman yang direduksi menjadi sekadar kenyamanan psikologis. Baginya, iman justru hadir di tengah kecemasan dan paradoks hidup. Iman adalah leap of faith—sebuah lompatan eksistensial yang tidak menghapus ketegangan hidup, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup secara otentik di dalamnya. Tanpa kecemasan, iman kehilangan kedalaman; tanpa risiko, iman berubah menjadi kebiasaan kosong. Dalam kerangka ini, rahmat yang membentuk bukan penghalang eksistensi, melainkan syarat bagi iman yang hidup.

Martin Heidegger, meski tidak berbicara dalam bahasa teologi, memberikan kontribusi penting melalui konsep Geworfenheit—keterlemparan manusia ke dunia. Manusia tidak memilih lahir di mana, kapan, dan dalam kondisi apa. Namun justru dari keterlemparan itulah muncul panggilan untuk hidup secara otentik. Hidup yang otentik bukan hidup yang paling nyaman, melainkan hidup yang sadar akan keterbatasan dan berani bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Jika diterjemahkan secara teologis, ujian bukanlah penyangkalan kasih Tuhan, melainkan cara Tuhan memanggil manusia untuk menyadari eksistensinya secara penuh.

Bahkan Jean-Paul Sartre, eksistensialis sekuler yang menolak konsep Tuhan, mengakui bahwa kebebasan manusia adalah beban yang berat. “Manusia dikutuk untuk bebas,” katanya. Kebebasan berarti tidak ada jalan pintas moral; setiap pilihan menciptakan diri. Dalam konteks ini, rahmat yang membentuk dapat dipahami sebagai orientasi etis yang mencegah kebebasan jatuh ke dalam nihilisme atau hedonisme. Tanpa orientasi nilai, kebebasan berubah menjadi pelarian; dengan rahmat, kebebasan menjadi amanah.

Dalam perspektif Islam, gagasan ini menemukan resonansi yang kuat. Al-Qur’an tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian, tetapi menjanjikan makna, arah, dan pertolongan di dalam ujian. Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk diuji—bukan untuk disiksa, melainkan untuk ditumbuhkan. Ujian menjadi medium pendidikan ilahi, tempat iman diuji keasliannya, bukan sekadar diucapkan, tetapi dihidupi.

Dengan demikian, rahmat dan ujian bukanlah dua hal yang bertentangan. Ujian adalah wadah, rahmat adalah isinya. Ujian membentuk struktur eksistensi manusia, rahmat memberi daya untuk menjalaninya. Kasih Tuhan tidak diukur dari seberapa sedikit penderitaan yang dialami manusia, melainkan dari seberapa besar kemampuan manusia untuk bertumbuh, bertahan, dan menemukan makna di tengah penderitaan.

Iman yang matang bukan iman yang menuntut hidup bebas masalah, melainkan iman yang sanggup berkata: “Di dalam ujian ini pun, Tuhan tetap hadir.” Di sanalah rahmat yang membentuk bekerja—diam, dalam, dan transformatif—menjadikan manusia bukan sekadar selamat, tetapi bermakna.

 

Tinggalkan Balasan